Disclaimer: Milik Kishimoto
Warning : OOC, lemon, penganiaan anak, pembunuhan dan adegan kekerasan lain
Genre : Hurt/conforn & angst
Pairing: NaruHinaMen(Naruto, Hinata dan Menma), GaaSakuSasu,NejiTen, InoSai
Rated : M
Chapter 7: Love
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu saat Menma diserang, keluarga Uzumaki telah memasang beberapa bodyguard untuk mengawasi si adik kembar Uzumaki yang masih berada dirumah sakit. Naruto yang hanya mendapat luka ringan dari kecelakaan plus tonjokan Sasuke beruntung tidak berlama-lama menetap ditempat itu, yang tersisa hanya Menma yang lukanya cukup serius, ditambah insiden penyerangan malam hari masih belum boleh meninggalkan rumah sakit.
Kenapa keluarga Uzumaki tetap mempertahankan Menma dirumah sakit Konoha? Bukan karena yakuza Uzumaki itu menyombongkan akan kemampuan mereka dan meremehkan musuh tapi karena mereka merasa bergantung akan rumah sakit terkenal ini untuk kesembuhan bisa mereka lakukan ya tapi, memasang bodyguard dan memindahkan Menma keruangan lain yang lebih privat dan tersembunyi.
Tentang insiden penyerangan malam hari itu masih diperiksa siapa jati diri orang yang terbunuh diruangan Menma, atau tepatnya pembunuh yang gagal menjalankan tugasnya itu karena diganggu seseorang yang identitasnya pun masih teka-teki. Menma memang sedikit tersadar pada waktu itu, tapi didalam ruangan yang gelap ia hanya bisa mengenali bahwa ada dua orang dikamarnya pada malam hari, si pria berusaha membunuhnya dengan pisau tapi sosok lain dengan jas hujan bertudung menghentikan aksi itu dan membunuh si pria. Tidak diketahui jenis kelamin si penyelamat tapi Menma hanya bisa mengira dari tubuh mungil sosok itu dan suaranya, lalu aksinya padanya yang menunjukan bahwa jenis kelamin sosok misterius itu adalah…
Flash back
Menma melihat sosok bertudung itu menusuk perut pria dihadapannya, pria itu mengeluarkan erangan kesakitan kecil karena mulutnya masih dibungkam. Ketika dirasanya sudah sangat dalam, tangannya menarik pisau yang tertancap tadi, darah keluar deras dari luka yang terbuka, pria itu menggenggam perutnya dengan kedua tangan. Rasa sakit tidak tertahankan membuat lututnya lemas, tubuhnya merosot kebawah dengan dua dengkul menyentuh lantai duluan, lepas dari bungkaman pelaku yang menusuknya ini. Dia menatap sosok dihadapannya dengan tatapan memelas, mengiba agar melepaskannya. Sosok itu hanya membungkam mulut pria itu lagi, seringaian terhias dibibirnya, pria itu melotot dengan tatapan tidak percaya, dengan satu gerakan cepat kepala pria itu terpisah dari badannya.
Mata Menma membelakak setelah melihat adegan pembunuhan tadi tanpa berkedip sedikitpun, ia terus menatap sosok yang sekarang sedang menunduk dan mengirik-iris bagian perut milik pria yang tergeletal tidak bernyawa dilantai. Serene bahaya dirasakannya berbunyi dikepalanya, apalagi saat menyadari sosok itu mendekati dirinya sambil menutup kedua tangannya dibagian perut, seperti menyimpan sesuatu disana. Langkah kaki itu berhenti dan tepat disamping Menma. Menma yang masih berkondisi lemah tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya pasrah dan menutup rapat matanya.
Tes.. tes.. tes..
Tubuhnya terasa ada sesuatu basah yang menyelimutinya, dibagian dada sampai perut, ia merasa aneh karena tidak menemukan perasaan sakit atau benda tajam yang akan mengakhiri hidupnya, tapi matanya tetap terpejam. Dilain pihak telinganyalah yang bekerja, bahkan semakin tajam berkat matanya yang beristirahat. Telinga Menma mendengar bunyi langkah kaki yang menjauh, berhenti dan kemudian suara kecil seperti genangan air, lalu bunyi langkah kaki itu kembali mendekat dan kulitnya merasakan sesuatu yang terasa lembab, basah semakin menyelimutinya, setelah itu langkah kaki tadi kembali menjauh dan terus seperti tadi. Menma semakin heran, ia mengintip dengan satu mata, dilihatnya sosok tadi sedang menuangkan beberapa percikan air dari tengah-tengah kedua tangannya yang merapat. Rasa penasaran membutakannya, begitu sosok itu menjauh, Menma menggerakan satu tangannya yang dirasa tidak begitu sakit, tangan itu menyentuh noda yang terasa seperti genangan air diwajahnya. Noda itu ia dekatkan dihidung, mengendusnya, bau anyir tertangkap penciuman Menma.
Cairan itu…
….darah.
"Suatu saat kau dan kakakmu akan seperti ini" sosok itu sudah berada disamping Menma, kedua tangannya yang terkunci terangkat keatas, kemudian terbuka. Darah turun bertebaran kebawah, bagaikan tujan, kembali menyelimuti tubuh Menma. "Dengan tubuh yang tidak bernyawa, diselimuti oleh darah kalian sendiri… hihihihi…" sosok itu terkiki kecil, suaranya terdengar lembut dan riang ditelinga Menma. "Kalian harus merasakan pembalasan atas perbuatan kalian sendi-" kata-katanya terhenti, ia seperti membeku saat matanya terbuka dan menatap mata Menma, mata yang dipenuhi dengan tatapan sangar, tajam, seakan tidak ada yang ditakuti, malah mata itu terasa kembali menantang. Bola mata yang tadi berwarna biru berubah menjadi merah, seakan mata yang merah itu menular.
"Kau boleh melakukan apapun padaku, tapi jika kau menyentuh si idiot itu…." Sosok itu memiringkan wajahnya, bingung, siapa si idiot itu? Kakak kembarnya? "Aku tidak akan tinggal diam!"
Sosok itu mematung akibat ancaman Menma, Ingatan-ingatan masa lalu memasuki kepalanya.
'Suatu saat kita akan menjadi kuat! Lalu kita akan melindungi orang-orang barharga bagi kita' bocah kecil berambut merah muda mengatakan hal ini dengan nada riang dan semangat.
Ucapannya dijawab dengan anggukan setuju oleh bocah lain dihadapannya.
'Itu termasuk kau juga, loh! Kau sahabat berhargaku'
'Kau juga sahabat berharga berharga bagiku' sahabat bocah berambut pink didepannya tersenyum
Gadis kecil berambut bunga sakura tadi mengacungkan jari kelingkingnya, mengerti apa maksudnya, bocah lain mengikutinya. Mereka saling mengaitkan jari.
'Janji?'
'Janji!'
Menma menggerakan tubuhnya yang terasa mati rasa dan nyeri, mencoba bangun. Begitu dia berhasil terduduk, satu tangan menerjang kuat dibagian dadanya, memaksa usaha Menma yang baru saja berhasil menjadi sia-sia, tubuh pria berambut hitam itu kembali disambut oleh empuknya ranjang. Kulitnya yang masih belum sembuh merasa semakin nyeri akibat tubuhnya menerjang ranjang dengan kasar, Menma tidak menyerah, ia berusaha berdiri lagi, tapi otot-ototnya tidak mendukung, tubuhnya kembali terbaring.
Tanpa Menma sadari, sosok itu telah berada diatasnya dengan posisi mengangkang, menindih tubuh Menma agar tidak bergerak. Jari-jari yang berlumuran darah mendarat dibibir Menma, melumuri bibirnya dengan warna merah. Menma tidak pernah memikirkan adegan ini, ia mematung dan membelalak ketika sosok itu mendekatkan mukanya pada wajahnya, bibir mungil nan ranum menyerang bibirnya.
Hanya satu yang Menma rasakan diciuman itu… rasa darah.
Ciuman itu tidak berlangsung lama, sosok diatasnya kembali turun dari ranjang, menjauhi Menma dan berjalan mendekati mayat dilantai yang tadi mereka acuhkan Pisau yang masih digengganggamnya ditusukan kebagian jantung yang sudah tidak berdetak lagi. Setelah itu ia pergi menuju pintu.
Menyadari hal itu, Menma pulih dari kekagetannya. Ia mencoba untuk duduk walaupun tubuhnya memprotes tindakannya itu, tapi usahanya ternyata tidak sia-sia. "Tunggu!" kata-katanya menghentikan sosok yang telah membuka pintu dan akan meninggalkannya. Menma tidak menerima hal ini, pertama sosok itu menyelamatkan hidupnya, lalu berusaha mengancam akan membunuh dia dan kakak kembarnya, kemudian menciumnya.. lalu dia akan pergi begitu saja? Jangan harap! Menma benar-benar menuntut penjelasan sekarang juga! "Beritahu aku apa maksudmu melakukan i-"
Sosok itu menempelkan tangannya yang masih dinodai darah kearah mulutnya, jari telunjuk ditempatkan didepan bibir mungilnya. "Shhhst~" suara bisikan lembut keluar, bagaikan memohon agar tidak melanjutkan percakapan. Entah kenapa Menma merasa tenang akan suara itu, suara yang terdengar merdu, sangat nyaman ditelinganya. "Dilain waktu, kita pasti akan bertemu lagi." Bibir mungil itu melebar, kali bukan seringaian buas yang biasa ia ciptakan, melainkan senyuman lembut yang membuat Menma tidak bisa melepaskan pandangannya dari senyuman itu. Setelah mengatakan hal tadi, sosok itu keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Menma mematung, tidak lama setelah itu tubuhnya kembali bereaksi akan rasa sakit. Tubuhnya terasa lemas dan ia pasrah terjatuh kembari keranjang. Rasa sakit menyerangnya berkali-kali lipat, sepertinya ada beberapa luka sayatan akibat kecelakaan itu yang kembali terbuka, ia bisa merasakan darahnya keluar dari dalam luka-luka itu. Rasanya tidak tertahankan, dan itulah alasan kenapa ia mengerang kesakitan disaat Naruto, saudara kembarnya menemukan ia dikondisi yang buruk pada lima hari yang lalu.
END FLASH BACK
Pria berambut hitam yang menjadi tokoh utama saat ini melamun menatap langit, tubuhnya dilemaskan kedinding yang menahan berat badannya. Sekarang dia berada diatap rumah sakit setelah berhasil kabur tanpa ketahuan dari penjagaan kedua bodyguar-nya yang dianggapnya mengganggu. Dahinya dibalut oleh perban putih, kedua tongkat yang menbantunya berjalan tergeletak disamping kanan, kedua tangan disilangkan kebelakang kepala sebagai bantalan. Pikirannya sibuk akan kejadian yang menimpanya dirumah sakit ini, mencoba memecahkan misteri yang tidak terpecahkan karena kekurangan bukti.
"Menma-kun" suara kecil memanggil namanya. Menma melirik asal suara itu tanpa meruvbah posisinya. Disana ia melihat seorang gadis berambut indigo panjang dengan tubuhnya yang dibalut baju pasien rumah sakit, sama seperti dirinya. Gadis yang bertabrakan dengan mobilnya beberapa hari lalu.
"Hinata" Menma balas menjawab, ia sudah tidak heran lagi melihat gadis itu disini. Tempat ini justru gadis itu yang paling dulu tempati, Menma hanya mengikutinya karena ia anggap tempat ini cukup tenang dan nyaman berkat angin sepoi-sepoi-nya. Dan setelah itu mereka selalu bedua ditempat ini, kadang-kadang mereka bercakap-cakap kecil, yah bisa dibilang mereka menjadi berteman.
"Bodyguard-mu mencari lagi, kasihan mereka" Hinata mengatakannya dengan tatapan iba sekaligus geli. Walaupun ia merasa kasihan tapi Hinata tidak pernah membocorkan bahwa Menma ada disini, diam-diam ia memihak Menma yang merasa ingin bebas dari tekanan dan tidak bisa merasa santai karena terus dikawal. Hinata tersenyum kecil saat mengingat bodyguard Menma kalang kabut mencari lelaki itu ketika menghilang.
" Biarkan saja, aku malas dikawal" Melihat senyuman Hinata, tiba-tiba ada sesuatu perasaan aneh yang membuatnya ingin membalas senyuman itu dengan senyuman lain. Senyumannya. "Lagipula kondisiku sudah membaik, aku ini kuat, aku bisa menjaga diriku sendiri seperti sebelumnya sekarang" Menma memamerkan tinjunya pada Hinata.
Hinata merasakan kesenangan sekaligus kesedihan saat ia mengetahui fakta bahwa kondisi teman yang akhirnya ia dapatkan ini pasti akan meninggalkan rumah sakit. Kepalanya menunduk, matanya menatap lantai dengan murung, membuat Menma bingung akan perubahan emosi mendadak dari gadis disampingnya.
"Aku… akan kembali sendiri setelah Menma pergi" Hinata menjelaskan tatapan bingung Menma dengan pelan.
"Tidak juga, kita bisa sesekali bertemu. Kau bersekolah dimana?" Menma mencoba menghibur Hinata.
Hinata semakin menunduk akan pertanyaan Menma "Aku bersekolah di Konoha Highschool.. kelas XII-2.."
Menma merasa semakin bersalah, bagaimana ia tidak tahu akan hal ini jika mereka satu sekolah, bahkan sekelas? 'Apa ketelmian si idiot itu melulari ingatanku?' Ia harus antipati akan hal ini jika didekat Naruto dan mungkin jaga jarak sementara?
"A-aku pemurung dan pendiam, jadi sangat tidak terkenal. Apalagi tidak mempunyai teman satupun, tidak ada yang mau berteman dengan cewek payah sepertiku dan juga-" suara Hinata terdengar bergetar saat mengatakannya, matanya berair hendak menangis, tapi ia menahan air mata itu agar tidak tumpah.
"Aku temanmu sekarang!" Menma menyela dengan cepat. Hinata melirik Menma tidak percaya akan apa yang barusan ia dengar. "Kau tidak sendirian lagi!" Menma mengatakan kata-kata terakhir itu dengan mantap, matanya menatap bola mata perak hinata dengan penuh ketulusan, senyuman lebar tertata dibibirnya.
Air mata Hinata jebol juga, bukan karena sedih melainkan terharu. Ini kedua kalinya ada sesorang yang mengatakan ingin berteman dengannya. Selama ini ia hanya mempunyai Sakura, sahabatnya sejak kecil yang tinggal dikota lain mengikuti ayahnya setelah orang tuanya bercerai. Walau mereka bisa surat menyurat, tapi setelah Hinata berumur empat belas tahun, Hiashi ayah Hinata menyuruhnya untuk focus pada tugasnya sebagai penerus keluarga Hyuuga.
Hiashi bahkan membakar semua surat dan barang-barang kenangan dia bersama Sakura, dan memutuskan segala komunikasi mereka. Yang Hinata punya hanyalah ikan mas pemberian sahabatnya itu saat memenangkan disebuh festifal, tapi sayangnya ikan mas tidak mempunyai umur manjang, setelah ikan itu mati, hampalah kehidupan Hinata. Didikan keras dan cemooh orang-orang sekitar membuat gadis ini rendah diri, pemurung dan tidak bisa bergaul. Akhirnya orang-orang hanya mengacuhkannya, tidak menganggap keberadaannya.
"Sih.. Terimakasih.." Hinata menatap Menma penuh haru, ia mengatakan ucapan itu disela-sela sesenggukannya. Tangan Menma menyentuh kedua mata Hinata yang berair, menghapus air mata itu.
"Senyum dong!" Menma me-request. Ia menunjukan senyumannya yang hampir mirip dengan cengiran Naruto, kakak kembarnya.
Air mata Hinata berhenti ketika melihat senyum Menma, bibirnya sedikit demi sedikit tertarik kesamping. Ia membalas senyuman dari teman barunya ini.
Setelah Hinata tenang mereka sama-sama memandang langit, satu tangan Menma tempatkan dipundak Hinata, merangkul kepala gadis itu. Posisi mereka sangat dekat, Hinata tidak berhenti merona begitu pipinya merasakan nafas Menma yang mengenainya. Tapi Menma bersikap biasa, baginya ini hal wajar untuk sesama teman saling merangkul, sebab ini kebiasaan Naruto yang tertular kepadanya.
"Hei, Hinata.." Menma berbicara, ia berniat curhat akan apa yang terus membayang pikirannya sejak insiden penyerangan tadi malam. Hinata menatap Menma dengan pandangan penuh tanya. Tapi kemudian Menma hanya menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa" pandangannya kembali ke langit yang tenang.
Hinata sebenarnya penasaran, tapi ia tidak mau menuntut jawaban, 'jika Menma ingin bercerita ia akan bercerita, mungkin tidak sekarang' ia kembali menatap langit. Hinata melihat seekor burung terbang, ia menatapnya dengan pandangan iri. 'burung itu enak sekali bisa bebas terbang dilangit, seperti tanpa beban' pikiran Hinata melayang kepada beberapa keganjilan yang ia alami sejak dirumah sakit 'aneh, aku tidak mengingat apa yang terjadi padaku selama dirumah sakit sebelum insiden serangan malam hari yang dialami Menma, mimpi-mimpi burukpun tidak lagi menghantui tidurku, hanya saja… aku merasa tubuhku bergerak tanpa berpikir dan melakukan sesuatu yang tidak kutahui' tangan Hinata menempel dibibir 'ada sesuatu yang aneh dibibirku sejak beberapa hari lalu. Tidak buruk, sih, malah baik, hanya saja… sebenarnya apa yang bibirku sebenarnya lakukan? Aneh' gadis berambut indigo ini hanya bisa menghela nafas, ia merasapercuma berpikir panjang karena ia tahu jawabannya selalu buntu. Tapi ada satu lagi keganjilan yang ia heran, tentang Hiashi Hyuuga, ayahnya.
'Kenapa tangan kanan ayah patah, ya?'
Pria berambut blonde memandang pasangan pemuda-mudi yang duduk kursi pada atap rumah sakit. Kehadirannya tidak dirasakan oleh kedua orang yang terlalu terfokus pada lamunan dan ia pun berdiri ditempat yang tidak terkena sinar matahari, dengan tertutup bayangan, well intinya tempat itu lumayan tersembunyi. Pemuda itu, Naruto Uzumaki telah menemukan adik kembarnya yang mengendap-endap lagi hari ini untuk menjenguknya. Kenapa dia bisa menemukan Menma? Mereka kembar, isi kepalanya hampir sama jadi ia bisa dengan mudah menebak mengingat mereka berdua sangat suka ketinggian.
'Lagi-lagi bersama cewek itu, apa bagusnya sih cewek pemurung seperti Hinata?'
Naruto mengenal Hinata, bahkan ia tahu kalau mereka sekelas. Tapi baginya cewek pemurung itu malas ia tanggapi karena membosankan, jadi ia acuhkan. Pemuda itu trekejut ketika Menma, adik kembarnya mengungkapkan bahwa ia dan Hinata menjadi teman sesama pasien rumah sakit.
Naruto benar-benar tidak mengerti pola pikir adiknya jika soal cewek, baginya dan sahabat-sahabatnya, cewek hanya sebagai pemuas nafsu. Tapi Menma tidak pernah menyentuh cewek, ia lebih suka menghabikan waktunya berkelahi atau hal-hal seperti martial art. Sontak saja ia suntuk begitu masuk rumah sakit apalagi dilarang melakukan aktifitasnya beserta dikawal beberapa bodyguard, lagipula Naruto tidak bisa setiap saat menemani Menma karena sekolah. 'Yah, selama Menma tidak kesepian saja, aku harus berterima kasih pada cewek itu nanti'
"Cewek, ya?" pandangan Naruto menerawang kelangit, mengingat sebenarnya ada cewek yang mengusik kepalanya.
Insiden hari munggu pada waktu subuh itu mengusiknya, hatinya benar-benar penasaran pada pelaku yang menantangnya itu. Seringaian pelaku itu tidak pernah lepas dibenaknya. Naruto sudah mencari berbagai informasi tentang sipelaku, beberapa kasus ia selidiki, mulai dari membaca koran tentang pembunuhan itu, menganalisis, bahkan menghack dokumen di kepolisian untuk bukti-bukti yang lebih mendukung. Dari observasi yang ia dapatkan, pelaku selalu memakai jas hujan bertudung, pisau kecil selalu menjadi alat pembunuhan dan ditinggalkan begitu saja.
Para korban akan memiliki luka cabikan atau sayatan dan tusukan, badan mereka pasti tidak pernah utuh, selalu terpisah, dan… korban yang ia bunuh semuanya punya kriteria kejahatan. Mulai dari pecandu ganja, pemerkosa, atau para preman-preman. Lokasi kebanyakan adalah dijalan dan aksinya selalu malam hari. Dari hasil itu, sipelaku tidak membunuh dengan alasan enteng, korbannya harus memiliki dosa terlebih dahulu. Tapi kenapa? Kelihatannya para korban tidak mempunyai kaitan satu sama lain, jadi sipelaku kemungkinan membunuh dengan acak.
Naruto mengeluarkan Hp-nya yang telihat cukup besar, mahal tentunya. Ia melihat-lihat sebuah gambar, semuanya keadaan diTKP pembunuhan yang ia ambil dari data-data dikomputer kepolisian. Dari hasil meng-hack didokumen polisi, ada beberapa pesan yang ditulis oleh darah para korban sendiri yang ditinggalkan dilokasi, seperti:
Darah
Mereka iblis berwijud manusia
Tulisan itu ditulis didinding pada dua pembunuhan yang menghabiskan nyawa lima korban. Kemudian pesan berikutnya adalah:
Tidak adil!
Pesan tergeletak di TKP pada pembunuhan ketiga, korbanya adalah para geng motor yang dikabarkan dikoran telah menjadi pelaku tabrak lari. Geng itu menabrak tiga orang yang semuanya gadis remaja berseragam SMA. Total geng itu ada sepuluh orang, mereka mati dengan lebih menggenaskan dari pada pembunuhan pertama dan kedua.
Ini bukan salahku
Pembunuhan ke-empat, korbannya adalah para preman yang telah memaksa anak-anak jalanan untuk mencuri, mengamen bahkan mencekoki mereka narkoba.
Siapa..dia?
Pembunuhan kelima ini adalah pada subuh hari setelah Naruto, Neji dan Sasuke melakukan permainannya dengan Matsuri dihotel. Naruto dan lainnya tidak menemukan pesan disaat mereka memeriksa dan yakin bahwa pesan itu memang tidak ada, menurut tebakan Naruto, sipelaku mungkin kembali lagi ke TKP setelah mereka bertiga pergi.
Pesan inilah yang membuat Naruto semakin memutarkan otaknya yang dulu beku,
''dia?' siapa yang sipelaku itu maksud?' Naruto jengkel akan rasa penasaran.
Pembunuhan ke-enam dan terakhir, (terakhir? Ya sipelaku belum melakukan pembunuhan lagi setelah itu) adalah beberapa hari yang lalu dan tumben pelaku itu membiarkan ada saksi mata dan membatalkan niatnya membunuh target (saksi mata) yang seharusnya ia bunuh. Saksi mata itu adalah Menma, adik kembarnya.
Pesan yang ditinggalkan kali ini adalah:
Untuk Akamaru
'Akamaru? Apa 'dia' yang sipelaku tulis pada permbunuhan kelima itu orang yang sama?'
Otak Naruto kembali berputar pada kilas balik data Menma menceritakan peristiwa yang dialaminya sampai detail. Naruto mendengarkannya sambil memakan ramen, walaupun begitu, ia serius mendengarkannya.
Ramen dimulut Naruto sempat jatuh kemangkuknya saat Menma menceritakan adegan ciuman dirinya dengan sipelaku.
'Jadi sipelaku itu cewek' Ia bisa mengetahuinya dari cerita adik kembarnya bahwa pelaku itu bertubuh mungil, suara kecil nan anggun dan ketika mereka berciuman, Menma bisa merasakan dua gundukan besar mengenai dada bidangnya.
Naruto merasa ada yang ada ketika mengetahui fakta sipelaku itu mencium Menma, perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, rasanya kesal, dan ia tidak suka. Perasaannya itu seperti… iri?
'Padahal aku duluan yang mengenalnya, tapi kenapa Menma bisa…' Naruto cepat-cepat menggelengkan muka 'apa yang kupikirkan! Bodoh! Bodoh!' dipukulinya kepala sendiri dengan kedua tangan.
Naruto memandang langit, pikirannya terus melamun, masih memikirkan orang yang sama. Lima hari setelah terakhir kali ia bertemu dengan pelaku itu, ia merasa kosong. Hidupnya yang selalu datar baginya terasa membosankan, maka pada insiden subuh hari itulah penyemangat baginya. Pikirannya selalu merasa tertarik ketika memikirkan pembunuh yang ia incar. Dia berharap mendapat tantangan tapi… cewek itu/sipelaku tidak juga menunjukan tanda-tanda apapun seakan hilang tanpa jejak. Hatinya merasa jenuh jika cewek itu tidak ada, hati Naruto seakan menuntut kehadirannya.
'Apa ini, ya? Aneh…' Naruto menggenggam hatinya 'Rasanya disini tidak enak, apa… rindu?'
Pemuda berambut pirang hanya menghela nafas.
'Langit itu terasa indah sekali' Menma menundukan wajahnya. 'Cih, aku bukan tipe yang suka mengagumi keindahan alam, aku memandangi langit karena pikiranku sedang kusut'
Menma melirik HInata, mumpung ada seseorang disampingnya, lebih baik ia keluarkan unek-unek dihatinya saja. Lagipula Hinata bukan tipe berisik dan tidak peka seperti Naruto, Temannya ini mungkin bisa member solusi akan problem-nya.
"Hei, Hinata.." Hinata menatap pemuda berambut hitam jabrik yang duduk disebelahnya, gadis itu tesenyum.
"Ya?"
Jawaban Hinata hanya disambut oleh suasana hening dan tatapan yang merawang menuju lantai dari Menma. Kemudian ia mulai berkata..
"Apa bisa…" dan langsung dilanjutkan oleh gelengan kepala "Tidak ada apa-apa" Pandangan Menma kembali kearas, menatap awan-awan putih. Hinata hanya bisa tersenyum kecil. Naruto yang mencoba menguping menjadi kesal.
'Apa sih, kenapa si Menma itu sampai main rahasiaan? Begitu sampai kamar kuintrogasi kau!' keluar ancaman dari pemuda berambut kuning itu
Mata Menma terpejam, kepalanya terus menerus dibayangi oleh ingatan-ingatan flash back, tapi disisi lain ia merasa tenang akan hal itu.
"Suatu saat kau dan kakakmu akan seperti ini, dengan tubuh yang tidak bernyawa, diselimuti oleh darah kalian sendiri…"
'Psiko?'
"Kalian harus merasakan pembalasan atas perbuatan kalian sendiri.."
'Balas dendam?'
Sosok itu telah berada diatasnya dengan posisi mengangkang, menindih tubuh Menma agar tidak bergerak. Jari-jari yang berlumuran darah mendarat dibibir Menma, melumuri bibirnya dengan warna merah. Menma tidak pernah memikirkan adegan ini, ia mematung dan membelalak ketika sosok itu mendekatkan mukanya pada wajahnya, bibir mungil nan ranum menyerang bibirnya.
Menma menempelkan tangan ke bibirnya.
'Ciuman itu..'
"Shhhst~"
'bisikanya…. membuatku tenang'
"Dilain waktu, kita pasti akan bertemu lagi."
'Aku… menantikannya'
Mata Menma terbuka, pandangannya disambut oleh langit biru yang telah berganti warna menjadi orange kemerahan. Siang berganti sore.
'Apa bisa…'
Perasaan Menmapun.. telah berganti dengan perasaan baru yang masuk tanpa diundang.
'Apa bisa aku jatuh cinta pada orang yang hampir membunuhku?'
Ditempat lain di rumah sakit, pemuda berambut coklat panjang memasuki sebuah kamar pasien yang hanya berisi satu ranjang disana tertidur seorang gadis dengan baju pasien rumah kait, beberapa alat menempel ditubuhnya. Gadis yang telah jatuh koma akibat kecelakaan itu terus menutup matanya.
Pemuda berambut coklat panjang itu menaruh bunga anggrek merah di pot yang terletak dijendela, jendela itu terbuka, angin sepoi membuat gordennya bergerak-gerak.
"Sudah tiga tahun ya, Tenten" Neji menggenggam lengan dari gadis bernama Tenten dan menciumnya, Matanya tertutup menghirup aroma gadis yang dicintainya itu.
"Maafkan aku tidak bisa melindungimu.." suaranya berubah menjadi sedih, peristiwa tiga tahun lalu kembali memasuki ingatan Neji, saat Tenten menolongnya dari sebuah mobil yang dikendarai pemabuk dijalan, mobil itu ingin mengenai mereka berdua saat mereka sedang berjalan dizebra cross di acara kencan mereka.
Seharusnya mereka berdua terkena mobil itu tapi Tenten mendorong Neji agar selamat, sehingga mobil itu hanya mengenai gadis malang ini. "Ini salahku.." selama tiga tahun Neji selalu menyalahkan dirinya, ia tidak puas walaupun sang supir iru telah diberi pelajaran yang sangat buruk olehnya, walaupun sahabat-sahabatnya selalu menghiburnya, memperingatinya bahwa itu bukan salahnya. Tapi ia tetap tidak terima, seandainya ia bisa membalikan waktu pemuda itu lebih memilih menggantikan apa yang Tenten lakukan, dialah yang harus berada diranjang ini, bukan kekasihnya.
"Lemah.." Neji berdecih akan luka dipunggungnya, luka yang ia dapatkan saat berjalan-jalan dimalam hari setelah ia, Sasuke dan Naruto melihat peristiwa pembunuhan diwaktu subuh. Neji tidak mengira bahwa sipelaku mengincarnya setelah itu, ia tenang saj berjalan-jalan pada malam hari untuk menjernihkan pikirannya.
Neji kadang-kadang menyadari ada suara langkah kaki yang selalu dibelakangnya menikutinya. Iapun menyempatkan diri menoleh kebelakang untuk memastikan. Kosong, tidak ada seorangpun dipandangannya. Tentu saja karena….
…orang itu ada dibelakangnya.
Pisau menusuk punggung pemuda berambut coklat panjang, Neji berteriak kesakitan, Dengan gerakan antipati, pemuda itu melayangkan tendangan memutar kebelakang, tapi serangan itu tidak mengenai lawannya.
Si penyerang dan Neji saling berhadapan, ada sedikit jarak diantara mereka, bocah Hyuuga itubisa melihat sosok dihadapannya, matanya tanpa buang waktu lagi menganalisa sipelaku. Dia bertubuh mungil, memakai jas hujan beserta tudung jas hujan itu menyelimuti tubuhnya sampai dibawah lutut. Pisau yang dipakai untuk melukai punggungnya tergenggam ditangan kanan. Tangan. Neji menyentuh bagian tubuh yang terluka ia bisa merasakan ada cairan disana. Neji melihat tanganya, ada darah menodainya.
Bocah hyuuga memasang tatapan amarah. "apa maumu?" nadanya masih sedikit tenang, tapi tercampur geraman kecil.
Sipelaku hanya menyeringai pisaunya diacungkan ke depan, ke arah jantung Neji. "Melakukan ini" setelah menyeringai, sosok itu bergerak maju. Neji mesang pose bertahan. Perkelahian tidak terelakan, Neji mencoba menggunakan keahliannya dalam martial, tonjokan dan tendangan diluncurkannya.
Pertarungan sedikit tidak seimbang karena tangan kosong melawan senjata tajam, tapi Neji tidak perduli. Disela-sela pertarunganya, ia menganalisa sipelaku, analisisnya tidak sia-sia ia mendapat sesuatu. Sipelaku itu memang terkesan lincah, ia menghindari serangan Neji dengan mudah, tubuhnya yang kecil dan gerakannya lebih cepat, berkali-kali ia menerobos zona pertahanan bocah hyuuga itu, Neji perlu bersusah payah menghindari sabetan pisau sebagai alat penyerang. Tinju Neji yang seperti tapak budha diluncurkan, tinju lain yang sama menahannya, sehingga mereka terlihat seperti bertepuk tangan. Saat itulah pemuda berambut coklat itu menyadari.
"Kau dari Hyuuga" itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
Neji bisa mendengar suara gaps kecil dari jarak mereka yang berdekatan. Sosok misterius ertudung itu langsung melompat mundur dengan cepat.
"Aku tahu style bertarung itu, aku juga Hyuuga. Katakan saja siapa kau!" sosok itu hanya terdiam. "aku bisa memeriksa kediaman Hyuuga dan menemukanmu" Neji mengancam.
"Kau takkan bisa.." sosok bertudung itu mulai berbicara.
"Dan.. kenapa?"
Sosok itu menggenggam erat pisaunya. "Karena kau akan mati sebelum itu!" ia kembali menyerang. Pukulan, tendangan, kuncian, bantingan, semua mereka kerahkan. Pertarungan ini telah myetakan hasil ketika stau tendangan melayang keperut Neji pemuda itu tersentak kesakitan tapi musuh malah mendesak lebih jauh. Diujung pertarungan, Neji terjatuh dalam berbaring dijalan. Dia terbatuk saat dirasanya ada satu kaki dihentakan dengan kencang didada. Sosok misterius itu berdiri di atas tubuh Neji, pisau diacungkanya tinggi-tingi. Pemuda itu tahu apa artinya. Sejenak saat pemuda itu mulai pasrah, ia mendengar suara, memanggil namanya.
'Neji…'
Suara itu, pemuda itu hapal dengan benar.
"Tenten…"
Dengan cepat Neji membuka matanya. Ia menggerakan tubuhnya, sosok diatasnya kaget, ia hampir kehlangan keseimbangan dan jatuh, tapi kereflekan tubuh miliknya menolongnya. Neji berusaha berdiri.
"Belum…" pemuda berambut coklat itu mengatakannya dengan nafas tertatih. "Tenten pasti akan bangun… kami akan menikah suatu hari nanti.. kami telah berjanji,.. kami akan terus bersama…" Neji mengatakannya dengan penuh keyakinan.
Perkataan Neji disambut oleh pandangan menerawang dari orang yang dihadapannya.
"Kita pasti akan bertemu lagi?"
'Tentu saja! Dan setelah itu kita akan terus bersama tanpa bisa dipisahkan!"
"Benarkah?"
"Ya, aku janji!"
"Aku…" lamunannya buyar saat Neji mulai kembali berbicara. "aku belum boleh mati!" sosok itu melihat Neji kembali memasang kuda-kuda, style Hyuuga tentu saja. Tapi ia justru membalikan badannya.
Neji tersentak saat sosok dihadapannya membalikan badan.
'Apa? Apa dia hendak pergi begitu saja'
Ia merasa tidak terima, harga dirinya terasa tercoreng. "TUNG-"
"Dengan luka itu kau tidak akan bisa mengejarku.." sosok itu menyela ucapan neji, ia mulai berjalan dengan langkah-langkah kecil. "Tapi kau masih bisa bertahan hidup dan menyembuhkannya" Neji memandang tidak percaya, ujung alisnya naik, bingung. Sosok itu mulai mempercepat langkahnya"Ja ne~" dan hilang dari hadapannya.
Neji mengepalkan tangan akan ingatan itu. Peritiwa itu masih baru luka dipunggungnya masih terasa, darah masih sering keluar dari balutan perban yang ia pakai. Neji tidak memperdulikannya.
"Kuat.." ia membuat janji baru "AKU AKAN JADI KUAT! Tidak akan kubiarkan dia meremehkanku dipertemuan kedua kami nanti!"
Neji melirik Tenten.
'Untukmu juga, Tenten. Aku akan melindungimu dari bahaya apapun yang mengancam….' Mata perak ditutupnya, menucapkan janji dengan khidmat 'disaat kau tertidur ataupun terbangun!'
Angin sepoi terus saja menggerakan gorden jendela, mengenai bunga anggrek yang diletakan dijendela, menggerakan juga kelopak-kelopak dari sang bunga itu. Bunga anggrek merah.. arti dari semangat, daya energi, dan kekuatan cinta.
TO BE CONTINUED
