Previous Chap :

"Ah, apa kau tau ada dua sepupuku yang jadi anak baru di sekolahmu?"

Naruto menoleh kepadanya dengan alis yang sudah naik sebelah. "Siapa?"

"Mereka kembar dan kupikir cukup mencolok untuk diingat."

"Eh, kembar?" Mendadak terlintaslah kedua wajah Sasuke dan Hinata. Bisa saja mereka berdua adalah sepupu Sai, kan? Karena lumayan ragu, karena itu Naruto bertanya. "Memangnya nama mereka siapa?"

"Sasuke Uchiha dan Hinata Uchiha."

Kedua alis Naruto sontak saja bertautan. Ternyata benar. Inginnya sih senang karena ia baru tau kalau Hinata juga merupakan sepupu dari Sai, tapi ada sebuah perasaan dari dalam diri yang memaksanya untuk bereaksi datar. "Mereka ngga semenarik itu..."

Namun ia kembali mengingat-ingat beberapa perilaku menyebalkan yang kadang ditunjukan oleh si kembar tersebut. Terutama Hinata yang diawalnya selalu memunculkan kejadian-kejadian menyebalkan semenjak ia bertemu dengannya.

"Apa? Kau ngga tau, eh?"

"Tau apa?"

"Mereka kan punya eksistensi yang tinggi di sekolah sebelumnya. Mereka hanya berpura-pura baik di sekolahmu, terlebihnya... Sasuke."

Kali ini Naruto mengernyit. Tatapannya berubah menjadi serius. "Apa? Pura-pura baik?"

DIIN DIIN!

Suara klaksonan mobil yang terdengar dari belakang mengagetkan mereka berdua. Setelah Naruto mengumpat ke orang yang berani-beraninya seperti itu padanya, ia kembali memandang Sai yang juga belum maju.

"Ayo ke cafe yang itu dulu. Kau harus bercerita banyak tentang si Uchiha itu." Pintanya sambil meminggirkan motor besarnya.

Sai tersenyum kecil. "Seperti biasa, kau memang selalu membuatku susah, Naruto..."

"Ck, kau akan kutraktir rokok sama kopi di sana. Kurang baik apa lagi aku padamu, hah?"

Sai sedikit mengangguk, dan barulah ia mengikuti Naruto. "Tapi sayangnya aku mau yang lebih mahal dibandingkan rokok dan kopi."

Naruto sweatdrop. "Iya, Iya..."

.

.

Di dalam rumah keluarga Uchiha, permukaan sebuah meja makan dipenuhi oleh banyak piring besar berisi lauk pauk yang lezat. Di sekitarnya juga terdapat belasan kursi yang bisa menampung banyak orang. Namun sekarang hanya dua orang yang ada di keliling meja tersebut. Sasuke dan Hinata Uchiha.

Selesai dari sarapan paginya, Hinata mengelap permukaan bibirnya dengan serbet lalu mengatupkan kedua telapak tangannya—menggumamkan rasa syukur kepada tuhan atas makanan yang diberikan hari ini. Kemudian ia membuka kedua mata, menatap Sasuke yang tidak jauh di depannya.

Tapi, lain dari biasanya... hari ini ada yang berbeda dari raut wajah Sasuke, kakak sekaligus kembarannya. Ia sama sekali tidak makan. Di piring hanya ada garpu yang ditusukan ke daging, sesudahnya piring itu tidak tersentuh lagi.

Sasuke terlihat seperti orang yang sedang melamun.

"Sasuke-nii, kamu kenapa?" Tanya Hinata dengan nada cemas sembari mendatanginya.

"Ngga apa." Sasuke memberi jeda. Ia pun berdiri dan langsung berniat keluar rumah. "Ayo ke sekolah."

Ditahannya secara lembut tangan Sasuke sebelum pria itu akan berjalan melewatinya. "Tapi wajahmu pucat, Niisan... nggabiasanya Sasuke-nii seperti ini."

Sasuke terdiam, membiarkan adiknya menatap kedua matanya.

"Apa Sasuke-nii lagi sakit?" Hinata mengangkat telapak tangannya, lalu menyentuh dahi Sasuke—yang kulitnya nyaris berwarna sama dengan miliknya.

Lalu saat kedua kulit itu bersentuhan, Hinata terkesiap.

"Ah, pa-panas..." Gumamnya sambil kembali menarik tangannya. "Panas sekali.."

"..."

"Kamu sedang sakit, Niisan."

.

.

.

TWINS ALERT!

"Twins Alert!" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[SasuHina—SasuSaku & NaruHina]

Romance, Friendship, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

.

.

SEVENTH. Renggang

.

.

Suasana kelas memang selalu ribut, terutama ketika bel istirahat sudah berbunyi. Tidak sedikit siswa-siswi yang langsung keluar dari kelas untuk mencari pencerahan—tentu karena otaknya terasa penat oleh materi pembelajaran. Tapi, sekarang Sakura sedang tidak mood ke mana-mana. Setelah merapikan buku-bukunya, ia malah bertopang dagu di meja dan memalingkan pandangannya ke jendela.

Ia menjadi seperti ini karena masih memikirkan masalah kemarin bersama Sasuke. Ia belum tenang. Rasa bersalah terus menyelimuti hatinya.

Lima menit terdiam sendirian, Ino membawa Tenten ke kelas untuk menemaninya mendatangi Sakura. Awalnya Tenten datang dengan ceria. Namun saat ia melihat Sakura, Tenten langsung mengganti raut wajahnya.

"Psstt, Ino. Tumbenan Sakura lagi suram, jadi ngga heran kamu maksa aku ke sini. Tapi... memangnya dia kenapa sih?" Bisiknya heran.

"Ituu, yang kemarin aku jelasin ke kamu." Katanya sambil menunggu Tenten mengingat-ingat. "Pokoknya tentang mobil Sakura diberentiin sama orang asing di pinggir jalan. Kayaknya kerjaan cowok-cowok bandel deh."

Kedua mata Tenten terbelalak. "Ohh! Yang kamu cerita sambil panik, ya? Tapi waktu itu kamu ngga lengkap ceritainnya!"

"Soalnya aku juga masih bingung mau nyeritain gimana. Pas aku tanya ke Sakura, dia ngga mau jawab." Ino menghela nafas, lalu kembali melirik Sakura.

"Yaudah, ayo samperin."

Sesudah anggukan, Ino dan Tenten berjalan pelan ke meja Sakura.

"SAKURAA!" Bersama nada semangat mereka menyapa Sakura. Ino langsung menarik bangku agar dapat duduk di depan meja Sakura dan Tenten di sampingnya.

Sakura mengangkat wajah, dan memandangi keduanya. "Kalian?"

"Kamu kenapa sih? Kalo murung terus jadi jelek tau, dasar forehead." Kata Ino, ia berusaha memulai basa-basi.

Tenten mengangguk. "Iya, pasti kamu masih mikirin kejadian kemaren, ya? Emangnya ada apa sih? Cerita dong!"

"Eh?"

"Kenapa kamu cuma jawab 'eh'? Ayo jelasin gimana ceritanya sampai kamu bisa murung kayak gini!" Ino terus menambahkan.

Sakura menoleh dengan gerak lesu. "Cerita apa?"

"Yang kamu didempet sama dua mobil itu! Kukira aku tidak akan lagi bertemu denganmu setelah sambungan ponsel kita terputus, tau!"

"Kamu lebay, Ino." Sakura mendesah.

"Tapi serius loh. Ino cemas banget tuh kayaknya. Oh, ya... kamu luka, ngga?"

"Ngga sama sekali. Tenang aja."

"Yaudah, sekarang sesi cerita. Kamu kenapa bisa dikejar sama orang-orang aneh itu? Kamu seperti yang di drama-drama, ya. bedanya kalau di drama ada penolongnya." Tenten berusaha mencairkan suasana dengan candaannya. Ino memutar matanya, lalu menyenggol bahu gadis bercepol dua itu.

Sedangkan, Sakura serasa dicubit saat mendengar hal itu. Ia menelan ludahnya, lalu kembali membuka suara.

"Kalau di drama... ada 'penolongnya', ya?" Lirihnya sambil menunduk, bahkan nyaris berbisik.

"Kamu bilang apa, Sakura? Aku ngga denger..."

"Aa, ngga. Ngga apa-apa." Ia menggeleng, memilih untuk tidak menceritakan semuanya ke mereka. Entah karena malu, atau karena ada alasan lain yang tidak bisa dijelaskannya.

"Cerita aja, Forehead! Siapa tau kami bisa bantu..."

Ia pun menghela nafas, dan membiarkan pipinya tertidur di lipatan tangannya. "Aku sedang malas bercerita."

"Ayolaaah! Sakura payah."

"Iya, dasar pelit. Semoga saja jidatmu semakin lebar."

Sakura mengabaikan mereka dan memejamkan kedua matanya.

"Ah!" Tenten menyela. "Apa jangan-jangan mereka melakukan hal tidak senonoh padamu? Semacam... kamu kehilangan 'something' yang berharga?" Nada Tenten merendah, lalu ia nyengir saat pandangan tajam Sakura terarah kepadanya.

Oke, dan hal itu langsung membuat Ino melotot. "Be-Benarkah?"

"Pasti iya." Tenten melanjutkan dengan berbisik. "Liat aja, sampai-sampai Sakura kita jadi kayak gitu."

Brakh!

Suara meja yang dipukul itu bukan hanya memberhentikan omongan asal Tenten dan Ino, melainkan melainkan satu kelas. Karena awalnya suasana ramai yang cukup mendominasi kelas menjadi sedikit reda akibat mendengar pukulan keras Sakura.

"Tenanglah sedikit!" Geramnya dengan wajah tertekan. "Bicaranya jangan kencang-kencang. Aku ngga mau banyak orang yang tau tentang kemaren!"

"Jadi...? Apa yang kubilang tadi beneran, ya?" Sambil menutup mulutnya, Tenten berbisik pelan.

"Ngga." Sakura menjawab pelan, lalu menghela nafas pasrah. "Hanya saja... tanyakan semuanya ke Sasuke."

Kedua temannya itu hanya sanggup bertukar pandang dengan tatapan penuh kebingungan.

Tanyakan pada... Sasuke?

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Saat jam istirahat hanya tersisa 15 menit lagi, Ino dan Tenten berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Buru-buru mereka mendatangi kelas Sasuke yang berada di lab bahasa lantai satu, dan mengintip ke dalam dari sela pintu.

Dua pasang mata itu sibuk mencari Sasuke Uchiha. Setelah ketemu, Tenten segera mengguncang pelan bahu Ino.

"Eh, itu dia orangnya." Katanya sambil mengamati wajah Sasuke—yang sebenarnya tidak terlalu kelihatan akibat kacamata bulatnya. "Kok auranya sama-sama gelap gitu ya kayak Sakura?"

Ino menyipitkan matanya, mencoba mempertajam pandangannya ke Sasuke yang berada di bangku deretan belakang. Sontak saja, Ino menaikan salah satu alisnya. Dengan ragu ia menyimpulkan. "Apa jangan-jangan orang yang ngedempet mobil Sakura itu... Sasuke?"

Mata Tenten mengernyit. "Hei, jangan ngasal! Kalau itu beneran Sasuke, ya kali Sakura takut sama si kacamata tebal itu? Lagipula kamu nyimpulin dari mana, hah?"

"Abisnya aneh. Muka Sasuke dan Sakura sama-sama ngeluarin hawa mendung sih. Siapa tau udah terjadi sesuatu di antara mereka." Kali ini Ino mencoba berpikir.

"Maksudmu?" Tenten semakin heran. "Ehh, apa yang sekarang ada di otakmu, Ino! Aku kan juga pengen tau!"

Ino tersentak, pikirannya sudah melayang ke mana-mana. "GAWAT! Jangan-jangan... Sasuke..."

. . .

Buku Fisika Untuk Persiapan Ujian, itulah judul buku yang sedang dipegang oleh Sasuke. Walaupun lembaran buku itu terbuka di tangannya, Sasuke sama sekali tidak membaca. Pikiran pria itu tampaknya sedang kosong, atau lebih tepatnya bisa disebut melamun.

Perlahan-lahan Sasuke memejamkan mata sekaligus menghela nafas. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Tapi saat ia kembali membuka matanya, tiba-tiba saja sudah ada dua siswi yang berdiri di depan mejanya.

"Hei, kamu!" Ino yang berkacak pinggang segera berteriak. "Kamu apain teman kami, hah!?"

Sasuke mengernyit. Tatapannya terus memperhatikan mereka berdua yang melihatnya dengan tatapan menuntut.

"Siapa?"

"Jangan pura-pura ngga tau!"

"Aku ngga ngerti."

"Ck, siapa lagi kalau bukan Sakura!?"

"Iya, kamu pasti yang berbuat macam-macam pada Sakura! Jujur aja deh!" Tenten menimpali.

Karena kalimat tadi, ingatan Sasuke terputar ke kejadian kemarin. Sasuke berdecak dan kembali membuka lembaran bukunya, seolah-olah tidak mendengar.

"Kami nanyanya serius! Jawab dong!"

"Woy, Sasuke! Sasuke Uchiha!"

Sasuke sengaja mengabaikan teriakan mereka.

Kesal, Ino mendengus. "Dengar, ya! Karena kamu, Sakura yang biasanya dateng pagi jadi telat, penampilannya berantakan, dan bahkan dia ngga mau bicara! Dan kami yakin kamu lah yang membuat Sakura sampai seperti itu! Kamu apakan dia kemarin!?"

"Berisik. Keluar sana..."

Ino berdesis. Tidak heran Sakura sering lepas kendali saat berdebat dengan Sasuke. Pria itu menyebalkan. Karena perasaan marah yang tidak tertahankan lagi, akhirnya mulutnya berbicara sendiri. "Aku tau! Pasti kemarin kamu yang menyebabkan Sakura sampai kayak orang yang habis terkena pelecehan seksual, kan!"

Kini, hampir satu kelas menatap Ino. Tenten ikutan melongo—itu memang pemikiran awalnya, tapi ia sama sekali tidak berpikir Sasuke-lah yang dituduh Ino melakukannya ke Sakura.

"Apa?" Sasuke mendengus sinis. "Pelecehan?"

"Iya! Karena kejadian kemarin bersamamu!"

Mendengar tuduhan langsung dari mereka, Sasuke berpikir. Ia berusaha mengingat-ingat sesuatu. Lalu, secara mendadak kedua matanya sedikit terbelalak. Sasuke langsung menyimpulkan Sakura sudah 'diapa-apakan' oleh orang-orang itu sebelum ia datang.

Sasuke berdiri.

"Di mana dia sekarang?"

Ino tersentak, terutama karena nada Sasuke yang kali ini ia dengar... sedikit berbeda.

"Di-Dia... lagi di lab biologi."

. . .

Sakura yang ada di kelasnya itu hanya memainkan salah satu media praktek yang belum sempat dia bereskan. Tatapannya terfokus ke mikroskop, tapi pikirannya terasa penuh karena hal lain dan tidak terarah.

Srek!

Mendadak, suara pintu begeser itu membuatnya nyaris melemparkan media praktek tersebut.

"Sakura..."

Jantung Sakura terasa mau lompat saat mendengarnya.

Ia sudah hafal, bahkan sangat afal pemilik dari suara tadi. Itu punya Sasuke. Perlahan, Sakura menoleh dan menemukan Sasuke yang tampaknya baru saja berlari ke tempatnya.

"Kau..." Masih dengan menormalkan nafasnya, Sasuke bertanya. "Kau kenapa, hah?"

"A-Apa?"

"Kau kenapa?" Ia berdecak. Tampaknya tidak ingin berlama-lama. "Cepet jawab."

"Aku ngga kenapa-napa! Ada apa sih!?"

Ino dan Tenten menyusul ke dalam ruangan. Tenten langsung mengacungkan jari telunjuknya pas ke Sasuke. "Sakura, ini orang kemaren yang ngelakuin pelecehan kepadamu, kan?"

"Hah!? Ngga!" Wajah Sakura terlihat panik. Entah kenapa ia jadi terkejut sendiri saat mendengar kata 'pelecehan' yang dibawa-bawa lagi di depan kelas. "Dia sama sekali tidak menyentuhku, kok! Dia malah..." Lidah Sakura kelu. Ingin menceritakan hal sebenarnya—bahwa Sasuke yang menolongnya—tapi ia tidak mau. "Malahan... Sasuke ngga ada hubungannya dengan hal kemaren!"

Sasuke menatap Sakura. Coba saja dia masih Sasuke yang dulu, sudah pasti ia akan marah besar saat ada orang yang tidak tau diuntung seperti Haruno yang satu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sendiri yang mengaku tidak melindungi gadis itu saat Sakura menanyakannya.

Terlihatlah Ino yang semakin pusing dengan rangkaian cerita mereka. "Jadi... sebenarnya kamu itu kenapa, Sakura? Tadi kau bilang tanyakan aja ke Sasuke, kan?"

"Iya, tapi kan dia sama sekali ngga—"

"Ya, aku memang ngga menyelamatkanmu." Desisnya Sasuke, menyela pembicaraan mereka. "Kalaupun aku menyelamatkanmu, ngga ada untungnya buatku."

Mata Sakura terbelalak lebar. "Tu-Tunggu! Bagaimana kau tau!? Bukannya kemarin kamu bilang sama sekali tidak melihat ada orang-orang yang mengelilingi mobilku!? Lalu kenapa kamu bisa bilang 'ngga menyelamatkanku'!?"

Sasuke sedikit memejamkan matanya. Ia salah kata. Dia rutukki segala ucapan yang keluar dan membeberkan segalanya.

Memang benar, dialah yang menyelamatkannya. Dia yang menghajar orang-orang yang mengganggu Sakura sampai mereka pergi.

Tapi dibandingkan menjelaskan, Sasuke memilih langsung berjalan keluar kelas, meninggalkan Sakura yang masih terpaku melihatnya.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Di lain tempat, Naruto berjalan santai menelusuri koridor. Tangannya menenteng sebuah kotak bekal Hinata yang sudah ia cuci. Tapi, bukan hanya Sasuke dan Sakura saja yang berbeda hari ini, tentu karena Naruto juga menunjukan hal yang berlainan.

Naruto Uzumaki adalah pria idola Konoha International High yang gemar menebar senyum jahilnya. Namun sekarang tidak. Ia berjalan dengan bibir tidak menampakkan senyum—persis seperti orang yang sedang marah. Tatapannya datar dan malah bisa dikira sinis. Entahlah, Naruto sangat jarang menunjukan ekspresi seperti itu kepada umum.

Itu karena pembicaraannya kemarin dengan Sai. Tentang Sasuke dan Hinata. Tentang sifat-sifat asli mereka, dan tentang kenyataan bahwa mereka berdua hanya berakting untuk menutupi sifat aslinya.

Sai memang lebih banyak cerita mengenai Sasuke. Tapi Naruto tidak mau peduli. Ia hanya terlibat dengan Hinata.

Ia kecewa pada gadis itu. Terutama saat tau Hinata berpura-pura hanya untuk menutupi sifat aslinya semata.

Naruto... marah.

Lalu saat ia menuruni tangga menuju ke lantai dua, dia lihat sahabat-sahabatnya dari kelas lain yang sedang mengobrol. Mereka terlihat sibuk membahas sebuah acara yang sebentar lagi akan diadakan oleh pihak sekolah.

Kiba yang tidak sengaja melihat Naruto dari ekor matanya segera menoleh. "Oi, Naruto. Skorsing-mu udah selesai, ya?"

Naruto mengubah raut wajahnya, senyuman kembali menghiasi wajahnya dengan cepat—tapi tidak ada yang tau bahwa sebenarnya itu adalah senyum palsu.

"Iya, udah. Lagipula untuk apa aku di-skorsing lama hanya karena terlibat masalah sepele?"

"Makanya jangan berbuat hal mesum sama anak baru."

Naruto mendengus, lalu memalingkan wajah kesalnya. Iya, ya. Ia sempat lupa kemarin ia di-skorsing hanya karena kesalahpahaman yang mengiranya berbuat pelecehan ke Hinata.

"Iya, aku tau. Tapi kalau aku berbuat mesum beneran, aku ngga akan setengah-setengah kayak waktu itu." Ia menyeringai, mengabaikan tawa dari teman-temannya yang mengiranya ia bercanda. "Aku duluan, ya."

"Kau mau ke mana?"

Naruto menepuk pundak Kiba, dan berjalan mendahuluinya. Tapi setelah Kiba dan yang lainnya terlewat, cengirannya menghilang dan digantikan oleh tatapan sinis yang mematikan.

"Ada sesuatu yang harus kulakukan."

. . .

Jujur saja, Hinata tidak suka berada di kantin saat jam dinding menunjuk pukul 12.00 tepat. Habisnya terlalu ramai dan sumpek. Tapi karena ia juga bisa lapar, sekarang Hinata sedang berusaha membeli roti ke sebuah stand makanan yang dikerumuni belasan orang.

Setelah lama berdesak-desakan, Hinata dapat meraih roti melon kesukaannya. Niatnya ia langsung kembali ke kelas, sehingga dapat memakannya dalam ketenangan. Bersama tersenyum puas, ia berbalik lalu berusaha keluar dari daerah itu.

"Permisi..." Bisiknya saat hendak melewati seseorang siswa yang badannya jauh besar dibandingnya.

Orang itu tidak mendengar. Hinata mencari celah lain, tapi tidak ada. Ia mengulang kalimatnya, kali ini menggunakan suara yang lebih besar. Tapi lagi-lagi tidak ditanggapinya. Mungkin karena di sini sudah berisik, ucapan Hinata sama sekali tidak sampai ke gendang telinga mereka.

Jadi, Hinata hanya menunduk, menatap kedua sepatunya. Sambil menggigit bibirnya sendiri ia langsung menerobos orang-orang dengan kekuatan seadanya. Bisa dibilang itu cara nekat, yaitu menabrak orang-orang yang menghalanginya—walaupun pastinya tabrakan Hinata sama sekali tidak bertenaga.

Tiga menit terlewat, dan akhirnya Hinata terbebas. Ia hapus peluh di dahinya lalu memulai untuk melangkah. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang menghalangi jalannya.

Hinata mundur selangkah dan mengadah.

Itu Naruto.

"Hai, Hinata."

"N-Naruto-kun..." Menggunakan roti melon, Hinata menyembunyikan sebagian dari wajahnya dan tersenyum manis.

Naruto terdiam sesaat. Kalau saja ia tidak mendapatkan informasi dari Sai, dia memang akan terpaku oleh senyum manis yang saat ini terpatri di bibir Hinata. Tapi sayangnya sekarang tidak lagi. Ia sudah tau semua... tentang Hinata Uchiha yang sebenarnya.

Dengan senyum lebar yang dibuat-buat, Naruto menunjukkan kotak bekal Hinata yang ada padanya.

"Aku mau mengembalikan ini."

"I-Iya, terima kasih..." Jawabnya sambil mengambil kotak bekal yang disodorkan.

"Dan satu lagi..."

"Apa?" Hinata memberanikan diri menatap iris sapphire Naruto yang ada di depannya. Namun, saat melihat raut wajah yang terbingkai rambut pirang jabrik itu, senyuman Hinata mendadak hilang.

Wajah Naruto entah kenapa berubah mengerikan—terutama dari sudut pandang Hinata.

"Sebentar lagi bel berbunyi, aku harus segera ke kelas. Sa-Sampai jumpa—" Sebelum Naruto melanjutkan kalimatnya, Hinata keburu menyela.

Grep.

Tiba-tiba saja ada tangan Naruto yang sudah menggenggam pergelangan tangannya.

Hinata yang terkejut awalnya menoleh, hanya sekedar memberikan tatapan bingungnya ke pria itu. Namun bukannya melepaskan, Naruto malah menunggu reaksi Hinata.

"A-Ada perlu apa?" Tanyanya. Dengan gerak takut-takut, salah satu tangannya yang bebas berusaha melepaskan kelima jari milik Naruto yang menahannya. Naruto jelas menyadari sedikit dari perlawanan Hinata, tapi ia tidak mau peduli.

"Na-Naruto-kun, tolong lepaskan aku..."

Di saat Hinata mengulang kalimatnya, barulah Naruto memandang kedua iris lavendernya. Kali ini sambil memasang senyuman lebar.

"Bolos yuk, mumpung aku lagi bawa mobil."

Alis Hinata sontak mengernyit.

"Bo-Bolos?"

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Setelah mobil Naruto melaju sekitar 15 menitan, akhirnya kendaraan beroda empat itu berhenti di salah satu tempat. Hinata yang tidak tau dirinya sedang dibawa ke mana pun melirikkan matanya keluar, menatap sebuah bangunan.

Cklek.

"Mau sampai kapan kamu duduk di situ?"

Pintu di sisi Hinata sudah dibukakan oleh Naruto, membuat Hinata yang tidak enakan hanya bisa menurutinya untuk turun. Sesudah pintu mobil ditutup dan dikunci, Hinata kembali memandangi gedung tersebut. Besar, dan aneh...

Hinata menelan ludahnya, lalu melirik Naruto. Nyatanya pria itu sedari tadi tersenyum sambil memandangnya. "Kenapa? Gugup?"

Hinata menggeleng. "A-Aku tidak mengerti kenapa N-Naruto-kun mebawaku ke sini."

Ia tertawa pelan, lalu entah kenapa pria itu langsung berani merangkul Hinata agar semakin mendempet kepadanya.

"Masa tidak tau, sih? Tentu aja untuk minum-minum! Ayo..."

"M-Mi-Minum? A-Aku ngga mau..."

Hinata sebenarnya menggeleng dan menahan langkahnya, tapi Naruto keburu menariknya sampai ia sedikit terseret-seret ke dalam.

Saat Naruto membuka pintu gedung, Hinata harus sedikit mengernyit dan terkejut saat gendang telinganya ditusuk oleh lagu-lagu bernada seram yang diputarkan di sana. Sambil sedikit menunduk, ia memperhatikan sekelilingnya.

Apa mungkin Naruto membawanya ke sebuah klab?

Walaupun siang, tempat itu masih saja dipenuhi oleh orang-orang yang rata-rata remaja dan 20 tahunan ke atas. Dan bagi Hinata Uchiha, itu tentu saja mengerikan.

Tanpa sadar, Naruto membawanya ke sebuah meja panjang milik bar. Ia dipaksa duduk di salah satu kursi tingginya. Ketika ia sudah lebih tenang, Hinata pun bertanya ke Naruto yang duduk di sebelahnya. "Naruto-kun... di sini menyeramkan..."

"Udahlah, nikmatin saja. Kau mau nemenin aku, kan?" Kemudian Naruto mengangkat tangannya, meminta seorang bartender mendatangi mereka. Ia lihat lagi sosok Hinata. "Mau minum?"

Hinata menggeleng.

"Aku yang bayar. Pesen aja."

Hinata menjelajahkan padangannya ke meja bar yang luas ini—mengharapkan menemukan sebuah daftar menu, sehingga ia dapat memesan sesuatu yang tidak berbahaya. Tapi karena tidak tersedia, akhirnya Hinata berbicara cepat. "Jus..."

Naruto mengernyit, sedikit kaget. "Jus? Kenapa jus?"

"Karena... aku mau... jus?" Tanyanya balik. Hinata jadi pusing sendiri menjawabnya.

"Baiklah. Kalau aku yang biasa." Naruto mengangkat bahu dan membiarkan orang itu mengambil pesanannya. "Udah lama aku ngga ke sini—kira-kira tiga minggu yang lalu. Kau sendiri bagaimana?"

"Ba-Bagaimana apanya?"

"Kapan terakhir kali kau ke tempat kayak gini?"

"Aku... baru pertama kali."

Naruto tertawa. "Jangan bercanda."

"Tapi... aku serius." Bisik Hinata sambil menggenggam kedua tangannya sendiri. "Aku ngga terbiasa di sini..."

"Jangan begitu... ngga perlu bohong." Naruto terkekeh pelan. Ia ambil sesuatu dari saku celananya dan menyisipkan benda itu ke sela bibirnya.

Hinata terkejut ketika melihat Naruto yang akan menyalakan sesuatu—yang adalah rokok—dengan pemantiknya.

"Naruto-kun, k-kamu merokok?" Tanya Hinata kaget.

"Iya. Kau mau?" Tawarnya. Kemudian Naruto menghisap tembakau itu lalu menghembuskannya perlahan, tepat ke sisi wajah Hinata.

Hinata yang tidak suka bau asap itu hanya membuang muka dan berusaha menahan nafasnya.

Mendadak suasana kembali hening. Tidak ada satu pun yang berbicara sampai akhirnya bartender itu menaruh pesanan mereka ke atas meja.

Dua buah gelas berwarna berbeda. Kalau Hinata jus, kalau Naruto adalah gelas dan sebuah botol berisi cairan bening. Entahlah itu apa.

"Aneh ya kalau ada orang yang pura-pura ngga seneng pas lagi di tempat favoritnya." Katanya. "Menurutmu gimana?"

"M-Maksudmu?"

"Ah, aku capek bicara denganmu." Ia mengerang malas. "Kau kebanyakan sok ngga ngerti."

Hinata terkejut ketika mendengar suara Naruto yang agak mengeras, namun karena beberapa saat kemudian melihat Naruto yang tersenyum lagi, ia sempat ber-positif thinking—masih mengira Naruto cuma bercanda.

Tangan Naruto bergerak, mengangkat botol pesanannya dan menuangkan sedikit dari isinya ke gelas. Ia minum dan menghabiskan segelas dalam sekali tenggak. Ia mendesah lega dan menjilat sudut bibirnya. Dia tatap Hinata yang masih melihatnya. "Kau mau ini?"

"Ngga..."

"Ayolah..." Naruto menuangkan lagi ke gelas. Kali ini lebih banyak. Lalu ia sodorkan gelas itu ke Hinata, tepat ke permukaan bibir gadis berkacamata itu.

"Mm, aku ngga mau..." Hinata bersikeras menghindar. Ia tidak mau meminum cairan aneh tersebut, apa lagi di tempat menyeramkan seperti ini.

Naruto yang melihatnya langsung berdecak. "Ayolah, aku tau kok kalau dulu kau sering minum-minum juga."

Kali ini dengan sedikit kasar Naruto memeluk kepala Hinata dan memaksanya untuk minum. Ujung gelas itu ditekankannya ke sela bibir Hinata, tapi gadis itu sama sekali tidak mau membuka mulut dan malah semakin memberontak.

"Hmmmph!"

Sontak pun Hinata mendorong Naruto sampai cangkir itu terlepas dan pecah di lantai. Hinata menunduk, menyembunyikan wajah memerah dan juga matanya yang berkaca-kaca. Namun, walaupun misalnya ia menunjukannya kepada Naruto, ia tidak yakin Naruto akan menaruh peduli kepadanya.

Sambil mengelap bibirnya yang basah, Hinata memohon.

"Naruto-kun..."

"Apa?" Kata Naruto, masih dengan nada sinis.

"A-Aku ingin pulang..."

"Ngga boleh." Naruto memasang senyuman penuh maksud. "Tunggu aku sampai melihat sosok asli seseorang dulu di sini..."

"A-Aku ngga tau apa yang Naruto-kun maksud..." Lirihnya. "Dan aku juga... ngga tahan lagi berada di sini."

Melihat keadaan Hinata yang saat ini benar-benar terpuruk, Naruto langsung berdiri. "Baiklah, kita akan pulang. Tapi temani aku ke dance floor dulu."

Di detik itu juga Hinata menolehkan wajahnya ke belakang, tepat di mana ada sebuah daerah luas di bawah sana—yang menampung banyak orang-orang yang sedang menari. Rata-rata semuanya pada menari asal-asalan. Memang hanya menari, namun tidak tau kenapa Hinata takut melihat mereka. Terutama karena lagu ber-volume besar yang diputar sang DJ semakin membuat telinganya berdengung.

Hinata menelan ludah. Ketika ia akan menolak permintaan Naruto, tiba-tiba saja tangan Naruto keburu menariknya sampai ia bangkit dari tempat duduk.

"Na-Naru..." Bisiknya sambil dipaksa Naruto mengikutinya. "A-Aku ngga mau ke sana."

Naruto berpaling kepadanya dan memajang raut wajah seenaknya. "Aaa? Apa? Aku ngga denger."

"A-Aku ngga m-mau ke sana!" Dengan susah payah Hinata berteriak mengulang, agar suaranya dapat sedikit menyaingi lagu-lagu klab yang semakin keras.

Tanpa memikirkan Hinata yang mata di balik kacamata itu sudah berkaca-kaca, Naruto tetap menariknya.

Sampai akhirnya Hinata tidak bisa menahan rasa ingin memberontaknya. Ia tepis langsung tangan Naruto dan langsung berniat berlari ke luar klab. Namun, karena sontak saja seragam sekolahnya ditarik Naruto agar dapat menghentikan gerakannya, kali ini Hinata berusaha memukul Naruto.

Awalnya Naruto yakin Hinata sudah mulai akan menunjukan 'sisi sebenarnya', tapi tak disangkanya tangan mulus Hinata sempat mencakar wajahnya, tepat di bagian pipi sebelah kiri.

Naruto berdesis. Ada niatan untuk membalas gadis itu dengan sebuah tamparan, namun saat ia melihat Hinata yang sudah menunduk, ia pun urung.

Seingat Naruto, kemarin Sai mengatakan bahwa si Uchiha kembar itu dulu liar. Di dalam kalimatnya terdapat frasa 'Uchiha kembar', dan artinya Hinata juga, kan? Katanya, mereka hanya menampilkan sisi tertutupnya di sekolah barunya. Tapi kenapa dia malah seperti orang yang benar-benar ketakutan di sini?

Tapi, entahlah. Melihat Hinata yang begitu rapuh di saat ini, sedikit membuatnya kebingungan.

Naruto memandangnya, lama. Lalu ia memejamkan matanya. Sembari menghela nafas, ia mundur dua langkah dan berbalik mencari jalan keluar.

"Ayo pulang."

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Di dalam mobil yang sedang berjalan, Hinata meremas jemari dan juga seat belt yang melingkari tubuhnya. Ia merasa gelisah, terutama saat melirik Naruto. Sekarang pria itu menyetir dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya.

Tidak ada lagi senyuman, sinar mata yang cerah, dan candaannya yang selalu membuat Hinata nyaman berada di dekat pria itu. Tidak tau kenapa hari ini Naruto terasa lain, apa lagi sejak kejadian di klab tadi.

Naruto yang sadar akan tatapan Hinata, langsung menatapnya sekilas, membuat Hinata segera membuang muka ke arah jendela.

Lalu pria itu mendengus.

"Apa kau tau kenapa aku bawa kamu ke tempat tadi?"

Hinata menggeleng.

"Aku tanya serius."

"A-Aku ngga tau..."

Naruto menghela nafas keras-keras. "Ngga perlu berpura-pura."

Hinata menoleh. "Eh?"

"Kubilang tidak perlu berpura-pura polos. Aku sendiri capek ngebuat kamu tau apa maksudku mengajakmu bolos."

Ia benar-benar tidak mengerti.

Sejak Naruto mengajaknya pergi, pria itu terus saja mengatakan hal aneh. Ia seakan-akan menuduhnya sesuatu yang tidak jelas. Tapi Hinata tidak tau itu apa.

Kemudian mobil yang semula tengah berjalan di jalan tol ini berbelok secara mendadak ke pinggiran. Merasakan guncangan yang begitu tiba-tiba, Hinata memejamkan matanya. Dirasakannya alas ban yang menggilas rumput pinggir jalan yang tidak di lapisi aspal, lalu mobil pun berhenti.

Hinata yang wajahnya memucat mulai angkat suara. "Na-Naruto-kun... ke-kenapa berhenti di sini?"

Mendengar pertanyaan dari Hinata, Naruto membuat posisi duduknya menjadi menyamping, membuat punggungnya menyandar di sisi pintu. Kedua tangan pria itu terlipat di dada, dan pandangan yang dikeluarkan Naruto... seakan menusuk.

"Masih bertanya, eh?" Ia mendengus. "Awalnya aku maunya kamu sadar sendiri. Tapi karena kamu ngga sadar-sadar, kayaknya kamu memang butuh dipaksa mengaku."

Hinata semakin cemas. Ia ingin bertanya tentang apa maksud Naruto berbicara demikian, namun... ia takut Naruto malah marah.

"Ini semua... tentang apa?"

Naruto tertawa. Tawa meremehkan. Lalu ia terdiam, masih dengan senyum sinisnya pria jabrik itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata.

"Kubilang ngga usah pura-pura ngga tau! Sekarang aku sudah tau kedok aslimu yang sebenernya, Uchiha!"

Bentakan Naruto benar-benar tidak terasa bersahabat. Semakin menghadirkan perasaan tidak nyaman pada dirinya seorang.

"Kedok asli... siapa?"

Naruto berdecak. "Aku dapet info dari orang tentang siapa dirimu yang sebenarnya. Dia bilang kau yang dulu—sebelum masuk Konoha Internasional High—dengan sekarang adalah sosok yang berbeda!"

Di balik kacamatanya Hinata terbelalak. Naruto memang benar di saat ia menyebutkan tengah menyamar, tapi ia sama sekali tidak menyembunyikan sifatnya.

"Kau hanya menyamar menjadi anak baik!" Lama kelamaan, nada Naruto merendah. Pria itu memalingkan wajah, tidak mengizinkan wajah yang menanggung perasaan sesaknya dilihat oleh Hinata. "Padahal... aslinya kau busuk, kan?"

'Bukan' Dalam hati Hinata membatin.

Seperti kata Naruto yang tadi, ia memang menyamar. Tapi... ia sama sekali tidak berpura-pura.

Inilah kepribadiannya yang asli...

Apa jangan-jangan orang sebenarnya yang Naruto maksud 'berpura-pura'... adalah Sasuke—tapi Naruto malah mengira yang 'berpura-pura' itu adalah dirinya? Tentu saja karena memang Sasuke-lah yang paling mengubah sifatnya di sekolah.

Naruto pun kembali melanjutkan dengan suara lirih. "Iya, kan?"

"Na-Naru—"

"Dari dulu sampai sekarang, kau hanya berpura-pura menjadi orang lugu... bahkan sampai membuatku jatuh hati seperti ini."

Brakh!

Hinata memejamkan matanya rapat-rapat saat ia merasakan ada sebuah kepalan tangan yang memukul dasbor mobil. Sedikit demi sedikit, mata lavender Hinata terbuka dan melihat Naruto dengan pandangan nanar.

"Jadi, ngga usah pura-pura lagi kepadaku! Aku muak dengan orang muka dua!"

Hinata menggeleng. Ia takut. Dengan nekat Hinata langsung membuka pintu. Ia menurunkan kakinya dan berlari keluar mobil. Naruto dengan cepat tanggap menyeringai, lalu membuka pintunya juga agar dapat mengikuti Hinata yang tengah berlari. Tidak dipikirkannya mobilnya yang terparkir di pinggir jalan tol dan belum dikunci itu.

Karena langkah Hinata begitu pendek dan ia juga tidak bisa berlari terlalu lama, dengan mudah Naruto menyusulnya. Dicengkramnya tangan Hinata sehingga ia dapat menarik serta menabrakan punggung gadis itu ke salah satu tembok di pinggir jalan.

"Sa-Sakit..."

Naruto mendengus. "Apa? Dulu kau sering berantem, kan? Ngga usah ngeluh sakit!"

Hinata terkesiap mendengar bentakan kasar dari Naruto. Tapi, ia jauh lebih kaget karena tiba-tiba saja Naruto memaksanya mengadah dengan cara menjambak poninya.

"Liat aku! Ngaku aja kalo kau emang pura-pura!"

Hinata meringis, isakan mulai keluar saat ia merasakan sakit yang terasa di kepalanya.

Hinata sempat memberontak, tapi karena Naruto tidak mau diganggu, ia tahan kedua tangannya di atas kepala gadis itu.

Naruto memandangi kacamata Hinata, lalu tanpa berpikir lagi ia cepat-cepat membuang benda itu ke sembarang arah. Lalu saat ia menolehkan wajahnya lagi ke depan, ke hadapan Hinata, kedua mata Naruto terbuka lebar.

Dimulai dari poninya, rambut gadis itu berantakan karena sempat dia jambak tanpa adanya perasaan baik sama sekali. Kulit putihnya terlapisi oleh keringat yang senantiasa mengalir dari pelipisnya ke dagu.

Dan yang membuatnya terpana sekaligus membatu adalah...

Mata lavendernya.

Pandangannya sayu. Indah. Tapi mata itu menangis, mengeluarkan bertetes-tetes air mata.

"He-Hentikan... hiks."

Naruto tak bisa berkata-kata. Wajah Hinata berbeda dengan apa yang ia pikirkan dari tadi. Ia kira gadis itu akan marah, dan membalas kalimatnya—bahkan ia sudah menyiapkan mentalnya apabila Hinata yang dikiranya liar itu akan mengajaknya baku hantam. Namun... nyatanya gadis itu ayu, sama sekali tidak menyiratkan kalau ia adaah gadis bersifat buruk.

Tangan Naruto mendadak terlepas, membuat kedua tangan Hinata yang tertahan menjadi jatuh tergantung. Ia melihat penampilan Hinata yang acak-acakan itu di depannya.

"Aku emang menyamar... hanya dengan kacamata tebal..."

"..."

"Selain itu, ngga ada lagi yang kuubah." Bisiknya. "T-Ta-Tapi... inilah aku. Dari dulu... m-maupun sekarang... ini... tetaplah aku..."

Tapi... mungkin saja dia benar-benar tidak muka dua. Dia sama sekali tidak merubah sifatnya.

Yang berubah drastis adalah Sasuke.

Bukan dia.

Dan dari detik itu, Naruto sadar akan kesalahannya. Mungkin ini semua karena ia terlalu terkejut mendengar kalimat dari Sai, sehingga ia bisa salah menyimpulkan sampai sefatal ini.

"A-Aku..." Hinata menatap matanya. Kali ini Naruto merinding saat memikirkan kalimat Hinata yang selanjutnya. "Aku ngga mau mengenalmu lagi..."

Naruto tersentak.

Sekarang... apa dia dibenci Hinata?

Ia tidak bisa berkata-kata lagi.

Semua ini... kesalahannya.

'Kuso!' Naruto meringis.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Masih dengan mata sembab, Hinata menatap gerbang depan rumahnya. Kini tepat jam 18.00 malam, dan ia baru saja sampai ke depan rumahnya. Tentu karena dia sempat turun dari mobil Naruto dan pulang sendiri. Berhubung Hinata tidak berani menggunakan kendaraan umum—dan juga karena dulu keluarganya melarangnya menaikinya—akhirnya ia pun memilih untuk berjalan kaki. Jarak yang ditempuhnya sekitar 10 km, dari tol ke depan rumahnya.

Sesaat menekan bel, Hinata menyandarkan punggungnya ke pagar sembari menghapus beberapa butiran-butiran keringatnya.

Beberapa detik kemudian, bel yang ada tempat suaranya itu berbunyi. "Dengan keluarga Uchiha. Ada perlu apa?"

"Ini aku... Hinata." Bisiknya susah payah.

"A-Ah! H-Hinata-sama! Tunggu sebentar! Kami akan membukakan gerbang!"

Terdengarlah suara panik dari sana. Hinata hanya maklum, mungkin itu karena baru pertama kalinya ia pulang sendiri—tanpa Sasuke, ataupun seorang supir. Apalagi ia sempat lupa bilang ke Sasuke perlihal Naruto yang mengajaknya bolos. Intinya, hari ini ia menghilang tanpa kabar. Tentu saja yang lain menjadi panik.

Lalu suara-suara langkah beberapa orang muncul dari dalam rumah, tampaknya mereka akan membukakan gerbang ini dengan terburu-buru.

"Hinata-sama, Anda ke mana saja? Sasuke-sama mencari Anda sejak pulang tadi."

"A-Aku..." Hinata hanya memandangnya, tidak berani menjelaskan. Ia berpikir, kira-kira alasan apa yang harus ia gunakan? "Tadi aku ke—"

"Biar aku yang bukain gerbang untuk dia."

Mendadak, sebuah suara membuat Hinata tidak meneruskan kalimatnya. Itu suara Sasuke yang bisa terbilang dingin. Sontak saja dia merasakan degup jantungnya berdegup kencang. Pasti dia akan dimarahi.

"Tapi Anda sedang sakit, Sasuke-sama."

"Diamlah..."

Jadi dengan menunduk, ia membiarkan Sasuke selesai membuka gerbang. Setelah selesai, Sasuke memberikan celah sempit. Tapi bukannya menyuruh Hinata masuk, Sasuke malah melipat kedua tangannya di dada dan memperhatikan adik kandungnya dengan tatapan tajam. Di belakang pria itu, terlihatlah para maid yang mengamati mereka menggunakan tatapan cemas.

Sasuke menatap Hinata. Rambutnya acak-acakan, dan tubuhnya bertabur keringat akibat kelelahan. Tapi yang lebih membuat Sasuke heran, kacamata Hinata hilang.

Hinata yang tidak bisa terlalu lama berdiri—karena ia tidak punya tenaga lagi—mulai memajukan badannya untuk memasuki rumah. Tapi Sasuke sengaja menghalanginya.

"Kau dari mana aja?"

"..."

"Hinata."

"Aku ada... tugas kelompok."

"Aku udah tau kalau kau pergi dari sekolah bersama Naruto. Cepat katakan kau dari mana."

Hinata terdiam lagi. Namun kali ini ia sedikit menahan ingatannya tentang Naruto yang semakin membuatnya sesak.

"Kau diapakan Naruto?"

Tanpa diminta air mata Hinata kembali berlinangan. Merasa Hinata sudah mulai terisak, Sasuke menghela nafas. Ia mundur dua langkah untuk mempersilahkan Hinata masuk.

"Masuk."

Sesaat Sasuke semakin melebarkan sela gerbang, mendadak Hinata langsung memeluknya dengan menangis. Sasuke terkejut melihat adiknya seperti ini.

"N-Niisan... Na-Naruto-kun jahat."

Sasuke memang tidak tau apa permasalahan yang terjadi di antara Naruto dan Hinata, tapi ia hanya bisa memeluk Hinata dan mengusap ubun-ubunnya secara perlahan.

"..."

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Tanpa menyadari tengah banyak kejadian buruk yang sedang terjadi, burung bercicit pelan. Pagi hari terus berjalan dengan normal. Di hari itu tidak ada satupun dari mereka berempat yang merasakan mood semangat untuk belajar di pagi hari.

Tidak Sasuke, tidak Sakura, tidak Naruto ataupun Hinata.

Tapi berlainan dengan keempat orang tadi, warga sekolah yang lain sedikit semangat.

Benar, banyak sekali yang menunjukan wajah bahagia saat melihat ada pengumuman yang baru saja di tempel di mading—majalah dinding. Setelah guru yang menempelkan sederet kertas itu pergi, semua orang mengerumuninya layaknya gula di sekumpulan semut.

"Ah, aku sekelompok sama dia lagiii!"

"KYAAA! Kelompokku tahun ini unpredictable banget!"

Dari kejauhan, Kiba yang masih menyedot susu kotaknya hanya mendengus malas. Ingin rasanya melihat apa yang tadi ditempel oleh guru sampai-sampai ramai seperti itu. Tapi malas juga kalau nantinya ia harus berdesak-desakan terlebih dulu seperti mereka.

"Ada apaan sih?" Tanyanya ke Matsuri, salah satu teman sekelasnya. Mereka berdua sedang berjalan ke kantin.

"Hah, kamu ngga tau?" Matsuri yang di sebelahnya menaikkan satu alis. "Outing dimulai Senen depan, dan itu daftar nama kelompoknya!"

Kiba mengangguk santai. "Oh... yaudah. Nanti aja aku liatnya."

Mereka berdua pun melewati pengumuman itu. Tapi, masih di sana tedengarlah sebuah pembicaraan kecil yang tidak sempat Kiba dengar...

"Eh, liat orang-orang kelompok 8 deh!"

"Iya, kok enak banget ya si kembar berkacamata itu bisa sekelompok sama Naruto dan Sakura? Apa lagi ada Gaara juga!"

"Kayaknya susunannya diatur! Curanggg!"

"Ngga mungkinlah. Semua susunan kelompok murni diacak kok. Terus pemilihan ketua didapet dari abjad nama teratas."

"Tapi kalo ngga salah kan mereka udah deket, terus kenapa bisa di satu kelompok kayak gitu?"

"Hah? Dekat apaan!? Kerjaan mereka itu malah buat rusuh di kelas, tau!" Jawab temannya keras-keras.

"Eh... Iya, apa? Kukira beberapa dari mereka malah udah pacaran!"

Orang tersebut tertawa meremehkan. "Mana mungkin!"

"Eh, Tsukimi Suma kan udah pindah sekolah, kenapa namanya masih ditulis?"

"Mana kutau."


Kelompok 8

Gaara Sabaku—leader. XI-C

Hinata Uchiha. XI-A

Naruto Uzumaki. XI-B

Sakura Haruno. XI-A

Sasuke Uchiha. XI-B

Tsukimi Suma. XI-C


.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Look! Aku buat banyak banget scene NaruHina di siniiii ahahaha #bangganyaselangit. Yosh, moga aja fans NH seneng ngeliat rikues mereka kukabulin di chap ini.

Dan... jgejes! Akhirnya fict ini pindah archive dari SasuHina ke SasuSaku. Rrgh, ngga taulah. Aku emang keukeh banget untuk tetep naro ini di archive SasuHina, tapi aku ngerasa kayak ada yang ngelempar aku pake bata pas ngebaca tulisan yang kurang lebih kayak gini di review: "Fict ini kok ditaronya di SasuHina? Padahal mereka berdua ngga terlalu menonjol. Justru yang paling menonjol itu interaksi NaruSaku-nya." Nah, pas baca itu aku langsung mikir, kayaknya emang aku yang salah #tatarata.

Jadinya... ini aku pindahin ke archive SasuSaku. Abis kata beberapa orang, SasuSaku-nya jauh lebih keliatan dibandingin NH-nya #sigh.

Btw, pada liat nama Gaara di daftar kelompok Sasu, Saku, Naru, Hina, ngga? Gaara dapet peran yang lumayan banyak loh di chap-chap depan. Oh, ya, maaf kalo fict ini makin lama makin bosenin...

Ng, bagi yang ngekritik pake bahasa inggris... maklum ya aku ngga baca review-mu yang panjang itu. Soalnya aku otakku ngga bisa nerima something yang berbahasa inggris gitu. Sumpah loh #nadapenuhpenekanan. Tapi aku ngerti kok, masalah penempatan archive, kan? Tuh, udah kuganti :)v

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

suzu aizawa, UQ, Minji-d'BlackJack, Guest, Bunga Sakura, NgalorNgidol12, TREK-TwinStrife, jerry-ekin, Baek dong syu, senayuki-chan, Guest, Princess Iceberg, suka snsd, sowon, Guest, nohiru hikari, kithara, fuyu-yuki-shiro, Ice Cream Blueberry, Neerval-Li, onyx sharingan, yamanaka putri, kiriko mahaera, Hiname Titania, Ayuzawa Shia, Nattually, Nara Kazuki, Scy Momo Cherry, miya-tan, EtMit-chan, ristia15, mysticahime, NaylaAlmira, skyesphantom, ryuki hyuuga, Hina chan, Winter Cherry, Ramen Panas, niazz, Violet7orange, Ribby-chan, UchihaJess SicaChu, cermin kecil, Hina chan.

.

.

Pojok Balas Review :

Apa Naruto bakalan ngasih tau rahasia SasuHina ke Sakura? Apa, ya? Pas SasuHina udah ketauan, mereka bakalan ganti penampilan, ngga? Liat aja chap-chap besok. Aku ngga terlalu suka Sasuke di sini, aku suka dia yang nakal. Sama sih, tapi ya emang beginilah ceritanya :" Shion di sini sifatnya rada mirip Hinata, ya? Iya, emang sengaja. Apa bakalan ada Itachi? Ngga ada. Banyakin interaksi NaruHina, ya? Ini udah banyak loh. IBWFY update dong. Hahah :'\ Scene SasuSaku-nya bikin deg-degan. Iya apa? Kok aku malah selalu ngerasa ngga bisa ya tiap buat interaksi SasuSaku? Hiks. Please bikin Sasuke cemburu. Sasuke cemburu... karena Sakura deket sama siapa, ya? ;| #buntuide. Perbanyak momen NaruSaku-nya dong. Chap depan, ya. Gimana bisa aku tau update-nya fict ini? Alert story, mungkin :)d Kapan SasuSaku ciuman lagi. Haha, cooming soon. Daripada Sasuke dibuat cemburu, mendingan buat Sasuke ngerasa bersalah aja. Hmmm, bisa diterima tuh sarannya. Pengennya ini jadi SasuHina incest. Kalo incest aku sukanya NejayHina ^^ Di chap 6, abis Sasuke nganter Sakura, dia pulang pake apa? Terbang #plak. Ngg... aku ngga mikir sampe sana. Aneh juga sih kalo mikir Sasuke naik ojek #dikemplang. Abaikan aja pemikiran itu :" Ending-nya SasuHina & NaruSaku! Kayaknya ngga bisa kalo di sana. Kapan-kapan aku mau buat fict NS & SH kok :) Kalo endingnya ngga SasuHina, nanti fans SH bakalan kecewa. Ini udah diubah archive-nya. Baru pertama kali mau baca fict SS. Terimakasih... Hinata kan udah ketauan Naru, terus Sasuke kapan ketauan Sakura? Cooming soon :)

.

.

Next Chap :

"Sepertinya Sasuke-nii masih sakit..."

"Gaara!? Ck, ngga usah ngagetin dong!"

"Masih marah... soal kemarin?"

"AAAH! Apa-apaan sih aku ini!? NORAK! NORAK! NORAAAAAK!"

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU