Chapter Baru...
DISCLAIMER : Persona Series itu milik ATLUS CORP.

Mungkin ada perubahaan pada genre nya, bukan Tragedy-Drama, mungkin ke Tragedy-Angst...


HERE WHERE WE START

Shirakawa Boulevard, salah satu daerah gelap yang ada di sudut kota Gekkoukan. Seindah-indahnya dan sesempurna-sempurnanya, kota Gekkoukan, pasti memiliki sisi yang mengerikan. Shirakawa Boulevard adalah salah satu tempat yang 'gelap' di Gekkoukan, terletak disalah satu sudut Tatsumi Port Island. Semua orang yang senang dengan kehidupan malam, senang berkumpul ditempat tersebut. Tidak hanya itu, tempat itu juga bisa dibilang sebagai penampungan. Yah, penampungan bagi orang-orang yang sudah tidak berguna lagi, atau singkatnya sampah masyarakat.

Seorang laki-laki berwajah tua tampak sedang duduk di sebuah gedung yang sudah kosong dan tidak terpakai lagi, wajahnya seperti seorang psikopat yang siap membunuh orang kapan saja. Dia tidak terlihat seperti orang yang memperhatikan penampilannya, gaya berpakaiannya sangat aneh. Hanya mengenakan celana jeans yang sudah lusuh dan sedikit robek dan dia bertelanjang dada, tidak mengenakan atasan apapun. Anehnya, dia terlihat nyaman, walau angin menusuk di malam hari, tengah menusuk-nusuk dirinya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan cukup panjang untuk rambut laki-laki, dia juga mengenakan sebuah headband.

Tidak ada yang spesial dari diri laki-laki tersebut, namun yang menarik perhatian adalah dua buah tato yang ada di kedua lengannya dan menutupi seluruh bagian lengannya, serta sebuah pistol yang diselipkan di celananya. Bukan kegagahan yang nampak dari laki-laki tersebut. Justru kengerian, serta perasaan seram.

"Hey, aku punya info bagus Takaya."

Laki-laki yang ternyata bernama Takaya itu, menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya, dia lalu tersenyum picik, "Humph..kuharap ini adalah info yang bagus Jin." Katanya ke laki-laki berkacamata yang berpakaian nuansa hijau-hitam, dia menghampiri Takaya sambil membawa sebuah brief case berwarna perak.

"Sepertinya, Aragaki sudah mulai bergerak...dan itu membuat kita semakin mudah menjalankan rencana kita untuknya." Jin tersenyum culas ke arah Takaya.

"Lalu, apalagi?" tanya Takaya. Dia terlihat yakin kalau Jin memiliki banyak info bagus untuknya, walau dia menatap Jin dengan matanya yang agak sayu dan wajahnya sangat pucat sekali.

"Aku, menemukan gadis itu, dan kau tahu apa? Pencarianku selama empat hari ini ternyata memberikan hasil yang menarik." Jawab Jin.

"Apa itu?"

"Kita...bisa bermain-main dengan gadis itu dan juga mainan baru yang dia dapat..." kata Jin sambil memegang bom rakitan miliknya yang ia keluarkan dari brief case miliknya dan ia lempar-lempar ke udara.


Sungguh aneh untuk Minako, dia tidak ikut kegiatan klub setelah pulang sekolah. Dia langsung kearah gerbang sekolah tapi, dia tidak pulang langsung ke asrama. Justru dia malah pergi ke stasiun dan pergi ke tempat terlarang –yang memberikan momen buruk padanya- Shirakawa Boulevard. Cerobohnya, dia pergi ke tempat tersebut sendirian, tidak ditemani oleh teman-temannya termasuk oleh kakaknya, Minato. Tapi, dia tidak peduli, dia sudah membulatkan tekad di dalam dirinya kalau dia harus bertemu dengan orang itu, yang tak lain adalah seniornya sendiri, Shinjiro Aragaki.

Walaupun hari itu masih siang, jalan disekitar Shirakawa Boulevard bisa dibilang gelap walau tak segelap ketika malam hari. Jalanan yang becek, bangunan tua serta coretan-coretan di dinding, membuat suasana siang itu menjadi kelam dan menyeramkan bukan ceria, seperti yang seharusnya. Sebenarnya, Minako merasa takut, takut sekali apalagi dia tidak membawa naginata miliknya. Dia menarik napas panjang dan tetap menyusuri jalan setapak tersebut tanpa tahu arah dan dia akan kemana. Tapi, dia yakin dengan intuisisnya, yakin kalau dia akan bertemu dengan orang itu hari ini.

Lalu, sampailah dia di sebuah pelabuhan kecil, tempat para pelaut kecil menyimpan perahu-perahu miliknya. Sebuah pelabuhan tua, namun terlihat masih cukup diurus walau sedikit orang yang datang ke tempat sosok seseorang sedang duduk di pinggir pelabuhan, Minako tersenyum. Dia menghampiri orang itu, dan menepuk pundak orang itu, "Aku yakin bisa bertemu denganmu disini, Shinjiro-senpai..." katanya.

Pemuda itu terlihat kesal sekali, "Tch...kau ini sama saja seperti Aki. Sama-sama pekerjaan yang sangat merepotkan." Dia menoleh dan matanya yang tajam bertatapan dengan mata Minako yang berwarna merah seperti darah.

"Aku sama sekali tidak ingin dianggap seperti itu, Shinji..."


Hari ini adalah hari kelima Sara tinggal ditempat Akie bersaudara. Awalnya dia berniat untuk segera pergi, namun Maya yang bersikeras untuk bermain dengannya dan mengajaknya pergi membuat dia lupa dengan niatnya untuk segera pergi. Dia lupa bukan karena dia lupa, tapi karena tatapan Maya yang membuat dia susah untuk menolak permintaan gadis kecil tersebut. Tatapan anak kecil yang polos, penuh keingintahuan dan seperti seorang gadis kecil yang mendapatkan teman baru yang menyenangkan untuk diajak main setiap hari.

Siang itu, baik Sara dan Miyako sedang bersama di ruang keluarga. Sedangkan, Maya sedang tidur siang. Sara akhirnya memberanikan diri untuk menyakan sesuatu pada Miyako. "Miyako-san, kalau aku boleh tahu, kemana orang tua kalian berdua?" tanya Sara. Dari awal Sara curiga, kenapa apartemen yang cukup lega untuk sekitar empat hingga enam orang ini, hanya ditempati oleh dua orang gadis, tanpa ada yang mengawasi ataupun yang menjaga.

Wajah Miyako langsung menegang, cangkir teh yang digenggam olehnya, dia digenggam semakin erat. Dia menelan ludah dan memberanikan diri untuk menatap Sara. "Ce..ceritanya panjang." Katanya, "Orang tua kami sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, eh sebentar..." dia mencoba untukmengingat-ingat, "Ah, lebih tepatnya delapan tahun yang lalu."

"Kenapa?"

"Mereka...mereka terserang sebuah sindrom aneh yang memang sudah menjangkit kota ini selama sepuluh tahun terakhir..." nada suara Miyako terasa berat.

"Sindrom?" perasaaan Sara menjadi semakin tidak enak.

"Iya, Apathy Syndrom." Kata Miyako, "Ketika itu, mereka berdua baru saja kembali dari penelitian mereka di Tokyo, kedua orang tuaku peneliti kalau kau mau tahu." Dia menghela napas, "Pada saat itu, kebetulan mereka baru pulang tengah malam. Hanya berdua, dari stasiun. Tapi, kemudian semua terjadi dengan cepat sekali. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, pagi hari aku menerima telepon dari opsir kepolisian kalau mereka ada di rumah sakit."

Miyako lalu mematikan televisi yang sedari tadi ia tonton, walau sebenarnya ketika mereka memulai pembicaraan ini, dia sudah tidak fokus dengan acara yang ditayangkan di televisi. "Aku bergegas menuju ke rumah sakit. Aku, tidak membawa Maya karena aku tahu ini akan berat baginya. Ketika aku masuk ke kamar orang tuaku aku merasa seluruh diriku hancur. Orang tuaku terkujur lemas di tempat tidur pasien. Tatapan mereka kosong, tubuh mereka lemah dan kurus seperti sesuatu sudah mengambil daging -akan yang ada di hadapanku itu, hanyalah dua tengkorak manusia yang masih hidup, seperti mumi." Miyako mencoba menahan air matanya. "Aku, mendekati mereka dan memanggil nama mereka, namun mereka tidak menyahut malah menggumamkan kata-kata aneh seperti, Nyx..nyx..dan aku tidak tahu itu apa."

Sara mencoba menahan amarah yang muncul di dalam dirinya. Ini pasti hukuman, hukuman dari Tuhan karena dia telah melarikan diri. Melarikan diri dari kenyataan yang harus dia hadapi. Yah, memang sekarang dia sudah ingat siapa dia sebenarnya, tapi ternyata hal itu bukan membuat dia senang, justru dia tidak ingin mengakuinya. Tapi, sekarang yang ada dihadapannya adalah salah satu korban, korban dari kejahatan yang dihasilkan oleh ayahnya.

Akhirnya dia paham, kenapa setiap mereka pergi keluar. Maya selalu mengambil bahan makanan yang lebih. Dia selalu berkata, untuk ayah dan ibu. Walau pada akhirnya, diam-diam Miyako menaruh kembali bahan makanan tersebut dan beralasan kalau bahan yang sudah diambil sudah cukup. Karena, Miyako tidak ingin Maya merasa sedih dan tidak ceria lagi, suatu kesalahan besar membiarkan gadis kecil seperti Maya untuk tahu kejamnya dunia, di umur sekecil ini.

"Lalu apa yang terjadi pada mereka?" tanya Sara, "Maksudku...orang tuamu..."

Entah mengapa, isakan Miyako semakin keras. Dia berusaha menahan air matanya dan berusaha mengendalikan suaranya. "..euthanasia..."

"Apa?" seru Sara yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Aku...aku meminta dokter untuk menyuntik mati kedua orang tuaku. Aku...aku..tidak tahan melihat kondisi mereka seperti itu, dan..dan..." isak Miyako. "..aku tidak punya pilihan lain. Penyakit itu, belum ada obat untuk mengobatinya...aku tidak tahan melihat orang tuaku tersiksa..."

"Kau sendiri yang memutuskan suntikan tersebut?"

"IYA!" jawab Miyako tegas. "Aku yang memutuskannya! Aku yang menandatanganinya! Aku..aku...sudah membunuh orang tuaku Sara. Dengan tangan ini, coretan namaku dan cap keluarga yang aku hasilkan dengan tanganku ini, yang membunuh mereka..."

Sara tidak tahan mendengar cerita Miyako. Jelas-jelas keluarganya lah yang menyebabkan ini semua, seharusnya dia yang merasa terbebani dengan dosa hilangnya nyawa umat manusia. Bukan gadis manis yang masiih memilki masa depan yang cerah dihadapannya. Sara lalu duduk disebelah Miyako dan mengelus-elus punggung gadis itu. "Kau tahu...aku iri padamu...kau adalah gadis yang kuat..." katanya pada Miyako, "Maukah kau...dengar ceritaku?" tawar Sara.

"Cerita apa?" tanya Miyako.

"Cerita yang membuat aku tidak bisa menginjakkan kaki, ditempat ini lagi."


Shinjiro memeriksa dompet miliknya, wajahnya terlihat penuh dengan penyesalan. Dia lalu menatap gadis ceria yang ada disebelahnya, yang tengah asyik memakan takoyaki miliknya. "Kenapa?" tanya Minako.

"Lain kali ingatkan aku kalau kau perlu perhitungan gizi kalau kau ingin minta kutraktir." Kata Shinjiro dengan nada sebal.

Minako hanya tersenyum kecil, dan memberikan setusuk takoyaki kepada Shinjiro, "Ayolah senpai..lagi pula kan hanya seporsi takoyaki. Tak lebih..." ejek Minako sambil memaksa menyuapi Shinjiro.

"Seharusnya kau ingat tadi kau juga menyeretku ke toko kue..." balas Shinjiro, "dan aku bisa makan sendiri," dia mengambil tusukan tersebut dari tangan Minako dan memakan takoyaki itu, "tuh, sudah kumakan, puas?"

Minako hanya tertawa kecil "ini hukuman karena kau pergi dari asrama tidak bilang-bilang."

"Kenapa memang? Apa urusannya?"

"Karena..karena, aku khawatir padamu...Shinji..." kata Minako malu-malu. Pipinya yang berubah merona merah jelas-jelas terlihat oleh Shinjiro. "Apalagi...kau berubah ketika ada Sara-san..."

Oi..oi...yang benar saja dia cemburu...pikir Shinjiro. Yah, memang dia juga sebenarnya menyimpan perasaan khusu pada Minako. Apalagi, gadis ini sudah menyeret dia dengan paksa –menurut dia pribadi-untuk kembali ke SEES. Diantara si kembar, memang dia paling dekat dengan Minako. Keceriannya, kepolosan, kepeduliannya dengan orang lain serta kebaikan hatinya, membuat Shinjiro merasa dirinya merasakan perasaan yang tidak pantas dia rasakan. Gadis itu sudah mengubah hidupnya. Minako memang sering menemaninya akhir-akhir ini. Tapi semenjak ada Sara dan juga Amada Ken perhatiannya pun teralih. Tidak hanya itu, dia juga berpendapat perhatian Minako juga teralih, karena dia jadi lebih perhatian kepada Akihiko.

Melihat Akihiko yang menurut dia terlihat tolol karena tidak bisa menutup persaannya, membuat Shinjiro berpikir untuk melepaskan Minako. Karena sekali lagi, dia merasa tidak pantas merasakan perasaan itu dan Akihik berhak merasakannya karena ketololannya akan membawa dia ke kehidupan yang lebih baik bagi Shinjiro . Tapi, beberapa hari yang lalu, ketika dia sedang bertengkar dengan Akihiko. Dia merasa sakit, ketika Minako berlari ke arah Akihiko yang terjatuh dan raut wajah Minako terlihat sedih. Saat itu, Shinjiro merasa dirinya dihujam oleh ribuan pisau. Terlebih lagi, sekarang dia tidak menyangka Minako cemburu karena Sara. Yah Shinjiro sudah bisa menyadari kalau Sara juga menyukai dirinya –mungkin- apalagi karena dia sering mengejek Shinjiro, tapi dia bukan tipe pemuda yang mudah terbawa suasana apalagi perasaannya sendiri. Jadi, dia hanya menganggap Sara sebagai teman.

"Lalu, apakah senpai akan mencari Sara-san?" tanya Minako dan jelas sekali nada cemburu terdengar di ucapannya.

Shinjiro mengangkat sebelah alis, tumben sekali, benar-benar tumben sekali. Minako menunjukkan kecemburuannya. Padahal dia sendiri, tidak cemburu –mungkin menurutnya- kalau Minako sedang bersama dengan Akihiko. Tapi, yang sekarang dia bingung harus menjawab apa, "Yah...mau bagaimana lagi...dia temanku..." jawab Shinjiro dengan nada agak tidak yakin.

Minako menggigit bibir bawahnya. Dia yakin, pasti Shinjiro akan menjawab seperti itu. Dia sebenarnya mengerti, kalau Shinjiro dan Sara hanya sebatas teman dekat, mungkin. Dia ingin sekali tidak bersikap kekanak-kanakan seperti anak kecil yang sudah diambil mainan kesukaannya oleh temannya. Tapi, jujur saja melihat reaksi Shinjiro yang sampai memukul Akihiko dan cerita Akihiko tentang Shinjiro yang sepertinya mempunyai perhatian yang lebih kepada Sara, membuat dia mau tak mau merasa cemburu.

Teman, jawaban Shinjiro sangatlah sederhana, teman. Ingin sekali Minako tersenyum dan memeluk Shinjiro karena pengakuannya yang hanya sebatas teman dengan Sara. Tapi, dia harus menahan hal itu dahulu, dia sebenarnya tidak siap dengan perasaan ini. Tapi, mau bagaimana lagi, Shinjiro telah membawanya ke dunianya. Dia menunjukkan penderitaan yang tidak bisa Minako bayangkan dan dia, ingin sekali membantunya.

Membantu? Apakah kata itu tepat? Apakah dia benar-benar hanya sekedar ingin membantu? Kalau begitu, kenapa dia merasa sedih dan agak kesal ketika Sara dekat dengan Shinjiro, ketika Mitsuru ngobrol dengan Shinjiro, ketika Fuuka diajarkan masak oleh Shinjiro. Bagi seorang bintang kelas seperti Minako, mungkin cukup bodoh bila dia tidak dapat memahami perasaannya sendiri. Tapi, sayangnya itulah yang dialami oleh dirinya sekarang.

"Benar, hanya teman?" tanya Minako dengan nada sedikit kesal. Dia sendiri tidak percaya kalau dia bertanya seperti itu kepada Shinjiro.

Shinjiro hanya mengangguk dan dia mengelus-elus kepala Minako, "Yah...kau tak perlu khawatir..aku akan baik-baik saja..." lalu dia berdiri dari bangku taman dan mulai berjalan meninggalkan Minako.

"Mau kemana?" tanyanya.

"Sudah pasti, mencari Sara...dan STREGA..."

Minako tahu seharusnya dia lari mengejar dan mencegah sosok pemuda bermantel merah maroon itu, tapi itu bukan keputusan yang tepat. Apalagi di akhir kalimatnya, Shinjiro menyebutkan nama STREGA, dia yakin pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Dia mengepalkan tangannya dan berbalik berlawanan arah dengan Shinjiro, karena dia butuh bantuan seseorang saat ini, yang tak lain adalah Igor.


"Beritahu aku lagi, apa yang sebenarnya kita lakukan disini?" tanya Yukari kepada Minato yang sedang asyik mendengarkan musik, tapi Yukari yakin pasti 1000% Minato mendengar pertanyaannya. Tumben sekali bagi Yukari, Minato mengajaknya ke Strip Mall dekat Iwatodai Station.

Minato melepas headset miliknya, dan menoleh ke arah Yukari. "Aku butuh bantuanmu di toko Bookworm, aku janji pada Bunikichi-san dan istrinya kalau aku akan membantu mereka bersih-bersih."

Gadis bercardigan pink itu lalu menghela napas dan mengangkat bahu, "Lalu, kau meminta bantuanku sebagai tenaga tambahan?" duga Yukari.

Minato mengangguk, "Yap, karena semestinya aku kesana sama Minako. Tapi, seperti yang kau lihat dia sudah menghilang ketika jam pulang sekolah bunyi dan hanya kau yang sedang kosong..jadi, mau tak mau aku minta bantuan kepadamu." Jelas Minato langsung ke inti permasalahan.

Yukari menghela napas kembali, yah itulah Minato, Easy going person that will do everything to help people. Sebagai seorang pemegang arcana Lover, bagi Yukari mungkin Minato adalah seorang pemberi harapan palsu. Semenjak kejadian di Yakushima dan Shirakawa Boulevard, Yukari merasa ada yang mengganjal di hatinya. Terutama apabila menyangkut Minato. Yah bisa dibilang sedikit 'crush'. Mau bagaimana lagi, Minato yang khas dengan poker face nya jelas-jelas membuat orang jadi bingung apa yang ada dipikirannya dan itu hanya menghasilkan suatu harapan palsu.

Seperti sekarang, Yukari awalnya merasa kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya, menggelitiknya ketika Minato tiba-tiba saja mengajak dia pergi ke Iwatodai Station Strip Mall apalagi, tanpa ada pemberitahuan. Jelas, dia merasa berbunga-bunga. Tapi, untungnya dia tidak ingin merasa hidungnya terbang duluan, jadi dia tetap berusaha stay cool. Tapi, ketika Minato menjelaskan alasannya barusan, antara senang dan sedih. Senang bisa membantu orang, tapi sedih karena bukan seperti mimpi layaknya seorang gadis yang terkena virus merah jambu, yaitu love confession atau mungkin kencan.

Yukari langsung tersadar dari lamunannya, Duh...Yukari apa yang kau pikirkan, jangan Ge-er...Minato itu kan emang seperti itu...buat apa kau mengharapkan sebuah kejadian yang romantis...Yukari langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

Minato yang sedari tadi memperhatikan Yukari hanya bisa diam dan tersenyum geli. Jarang sekali dia melihat Yukari yang melamun di dalam pikirannya sendiri. Apalagi Yukari itu kan orangnya cukup serius menanggapi sesuatu. "Takeba-san, kita sudah sampai..." kata Minato berusaha menyadarkan Yukari dari lamunannya.

"Eh euh..iya.." kata Yukari agak salah tingkah. "Maaf...ada beberapa hal yang mengganjal pikiranku." Dia menjulurkan lidahnya sedikit, "hehehe..."

Minato membalasnya dengan senyuman, "Tak apa..lagipula aku yakin, Bunikichi-san dan istrinya akan senang apabila ada pengunjung baru ke tokonya. Ayo masuk." Ajak Minato sambil memegang tangan Yukari.

Yukari berusaha menyembunyikan wajahnya, -yang dia yakin- pasti sudah merona merah. Tapi, ketika dia menoleh ke arah salah satu toko di strip mall, yaitu kios takoyaki. Tiba-tiba langkahnya terhenti, "Arisato-kun..." kata Yukari yang tatapannya seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, "Itu...Minako-chan dan..Aragaki-senpai..." Yukari menunjuk ke arah Minako dan Shinjiro yang sepertinya sedang sedikit berdebat.

Langkah Minato pun juga terhenti, dia menoleh juga kearah yang sama dengan Yukari. Minato lalu terlihat terkejut. Ternyata, adik kembarnya yang tiba-tiba sudah tidak ada di sekolah ketika jam pulang, bertemu dan mengobrol dengan Shinjiro. "Mina..." kata Minato.

Melihat wajah Minako yang agak bingung dan sedih, Minato menjadi semakin penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Lalu, baik Minako dan Shinjiro, berpisah ke arah yang berlawanan. Merasa sangat penasaran. Minato segera melangkahkan kakinya, menjauh dari Bookworm, tanpa melepaskan pegangannya dengan tangan Yukari. Rupanya dia mencoba untuk mengikuti adik kembarnya itu. "Arisato?" kata Yukari dengan nada terkejut, dengan berubahnya tujuan dari si laki-laki emo berambut biru itu.


Minako sampai di salah satu sudut di Paulownia Mall, dia pergike sebuah ruangan yang ada di bawah karaoke club. Sebuah lorong yang cukup gelap dan sebenarnya lorong itu buntu. Tapi, tidak buntu bagi Minako. Di ujung ruangan itu, ada sebuah pintu berukiran antik berwarna biru. Dia menarik napas dalam-dalam, dan menarik kenop pintu tersebut.

Pintu itu terhubung ke sebuah ruangan bernuansa biru. Semuanya bernuansa biru. Hanya ada tiga orang di dalam ruangan itu. Satu, pria aneh yang berpenampilan rapih dengan jas hitam, namun raut wajahnya yang tua, matanya yang besar, senyumnya yang culas, bertubuh pendek dan kecil serta hidungnya yang panjang, membuat banyak orang mungkin berpikir, apakah dia itu manusia. Orang itu, napak dengan nyaman duduk di kursi yang ada meja besar dan panjang. Di sebelah pria itu ada dua orang laki-laki dan perempuan, yang berpenampilan serba biru dan hitam, kecuali warna kulit dan rambut mereka yang sama-sama putih pucat serta mata mereka yang berwarna emas, bentuk dan ukuran tubuh mereka justru lebih proporsional dibandingkan dengan pria tua kecil itu.

Tanpa basa basi, Minako segera duduk di kursi yang telah disediakan. "Khukhukhukhukhu..." tawa pria tua itu, "..apakah yang membawa sang pemilik takdir kemari?" tanyanya. Pria tua itu sepertinya sudah tahu, kalau Minako datang ke ruangan ini dengan suatu tujuan.

Minako hanya menghela napas, "Aku..ingin bertanya sesuatu padamu, Igor." Kata Minako kepada pria tua yang ternyata bernama Igor itu.

"Khukhukhukhu..." lagi-lagi Igor mengeluarkan suara tawanya yang aneh dan terdengar cukup menyeramkan, "Hmmm...ini menarik, apakah kau butuh bantuan Elizabeth?" tanyanya sambil menunjuk wanita yang berdiri di salah satu sisinya, "Atau Theodore,sebagai servant mu?" tanyanya lagi sambil menunjuk ke pemuda yang ada di sisi berlawanan dengan wanita bernama Elizabeth.

"Aku ke sini, bukan untuk main-main Igor," kata Minako dengan nada serius, "Aku butuh bantuanmu. Kau bisa memprediksi masa depan kan?" tanya Minako. "Aku, aku ingin kau memprediksi, apakah yang akan terjadi pada Shinjiro Aragaki dan Sara?" tanya Minako. Dia merasa, bertanya kepada Igor bukanlah hal yang salah. Toh, sebelumnya Igor pernah menyamar sebagi seorang peramal di Tokyo, walau pada saat itu mungkin Minako sama sekali tidak mengenalnya.

"Khukhu..." Igor malah mengeluarkan suara tawa khas nya lagi. Minako jadi agak kesal mendengarnya, dia pun menggertakkan gigi dan mengeluarkan evoker miliknya. Mungkin aneh, karena dia membawa evoker di siang hari. Tapi, Minako memang sudah berencana untuk datang ke velvet room dan meminta bantuan Igor. Dia tahu si mahluk tua aneh ini, tidak akan dengan mudah memberikan jawaban untuknya, maka, ia memutuskan untuk membawa evoker miliknya diam-diam.

"Master..tenanglah..." kata Theodore yang berusaha untuk menenangkan Minako.

"Maaf Theo, tapi aku sudah tidak tahan mendengar bualan dan tawanya itu. Aku kesini untuk serius meminta bantuan, bukan untuk mendengar tawanya yang sumbang itu!" bentak Minako, "Orpheus!"

Sosok Orpheus pun muncul dan mendekat ke arah Igor. Theodore hanya bisa diam, sedangkan Elizabeth mengambil posisi siaga dan mulai membuka compendium book miliknya, "Walaupun Anda adalah master dari adikku, aku tidak akan membiarkan Anda seenaknya, Minako-sama." Kata Elizabeth.

Sebelum Elizabeth mengeluarkan Persona miliknya dan sebelum Minako memerintah Orpheus untuk menyerang, tiba-tiba ada yang mendobrak pintu velvet room, dan orang itu hampir jatuh tersungkur. Minako yang kaget segera berbalik dan terkejut melihat orang itu, "Minato-nii!" serunya.

"Minato-sama!" Elizabeth sangat terkejut dan segera pergi ke sisi Minato. "Master, Anda tak apa-apa?" tanyanya.

Minato mengelus-elus pinggangnya dan mencoba untuk berdiri, "Yah, Elizabeth aku tak apa." Katanya santai. "Duh, sejak kapan disini jadi ramai begini, sampai-sampai kalian tidak tahu ada tamu di depan pintu..." katanya lagi sambil membersihkan dan merapikan pakaiannya. "Hai Igor! Kau nampak sehat." Sapanya ke Igor dengan nada sedikit sakrasme.

"Minato-nii..." kata Minako dengan tatapan terkejut dan agak takut.

Minato tersenyum ke arah Minako, "tenang, aku punya tujuan yang sama denganmu." Dia lalu menatap Igor yang tidak bosan menunjukkan senyum piciknya itu. "Igor, aku mau minta di ramal." Pinta Minato santai sambil duduk disalah satu kursi berwarna biru yang sudah disediakan oleh Elizabeth. Dia duduk dengan gaya khasnya, kedua tangan dimasukkan ke saku dan menatap Igor dengan poker face andalannya.

"Sepertinya, para tamu kita ini, benar-benar tipe yang tidak sabaran ya..." kata Igor yang kemudian dia langsung menjentikkan jarinya dan muncul tiga buah kartu the Moon, the Hierophant dan the Death. "Berdasarkan peramalan kartu Tarot dan takdir yang akan mendatangkan kalian, ketiga kartu ini..." Minako dan Minato menelan ludah dan wajah mereka tampak tegang.

"..memberikan sebuah prolog yang indah namun juga memberikan sebuah epilog yang menyedihkan..."


Minato mundur beberapa langkah dan kemudian berlari lalu menendang sampah kaleng minuman yang dari tadi memang sudah ia rencanakan untuk ditendang, "SIAL!" serunya. "DASAR MAHLUK TUA JELEK!" serunya lagi.

"Kebiasaan deh, selalu memberi teka-teki...duh sampai kapan otak kita mau diperas terus..." kata Minako lemas.

Yukari hanya bisa menghela napas melihat kelakuan aneh si kembar. Sudah Minato menyeretnya ke Bookworm tapi ternyata tidak jadi. Lalu membuntuti Minako dengan alasan ingin ke Chagall Cafe, lalu di Chagall Cafe, Minato pergi ke toilet selama satu jam. Setelah itu dia kembali bersama Minako dengan muka masam. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan si kembar kalau mereka sudah main rahasia-rahasiaan.


Sara sedang duduk sendirian di sebuah bangku taman. Sudah sekitar sepuluh jam dia duduk diam di kursi itu. Benar dugaan Sara, setelah dia menceritakan semua tentang masa lalunya kepada Miyako. Miyako hanya bisa berdiam diri. Tanpa menunggu basa-basi dari Miyako, Sara sesegera mungkin meninggalkan apartemen dan duduk diam di bangku taman dekat stasiun.

"Hhh...sekarang baiknya aku kemana ya...?" tanya Sara dengan nada yang cukup pilu, "..aku sudah tidak mungkin pergi ke tempat itu dan juga asrama Iwatodai...sudah tidak ada lagi tempat untukku..."

Tiba-tiba ponsel milik Sara bergetar, dia mengambil ponselnya dari saku jasnya dan kemudian melihat nama penelpon, UNKNOWN. "Siapa?" kata Sara sambil menekan tombol terima dan menempelkan ponselnya ditelinga. Sara pun terkejut mendengar suara sinis yang sudah lama tak didengarnya.

Hai...Emillia-sama...

"TAKAYA!" seru Sara dengan nada kesal, "Mau apa kau tiba-tiba menelponku?"

Sudah lama kita tidak mengobrol, tidak baik apabila engkau membentakku...

"Apa urusanmu Takaya! Sudah, tidak usah basa-basi mengenai masa lalu!"

Hmmm...kami kangen sekali denganmu, bagaimana kalau kita sedikit bermain-main denganmu dan juga beberapa temanmu...

Sara terkejut dengan maksud Takaya 'beberapa temanmy' dia dapat mendengar jeritan serta tangisan yang sepertinya berada tepat di belakang Takaya. Lebih terkejutnya lagi,Sara mengenali suara itu, itu usara Miyako dan Maya. Bagaimana Takaya bisa tahu tentang mereka, apakah Jin memata-matai. Sial...batin Sara, hal yang tidak dia inginkan benar-benar terjadi.

Kenal suara itu?

"Takaya, apa yang mau kau lakukan? Lepaskan mereka. Mereka tidak ada hubungannya dengan masalah kita." Kata Sara dengan nada tegas.

Oh..jelas ada...mereka adalah orang-orang bodoh yang dengan naifnya mendekatimu. Mendekati iblis sama dengan kita...iya kan?

"Hentikan! Aku beda dengan kalian! Dan lepaskan kedua orang itu!"

Oh...kalau begitu, bagaiman kalau kita bermain-main sedikit...kami tunggu kedatanganmu di Tartarus malam ini...kalau kau tidak ingin mereka jadi The Lost Ones...jangan beritahu para SEES ya...

Takaya mematikan ponsel dan berakhirlah percakapan mereka. Sara mengepalkan tangannya dan memukul bangku taman tempat ia duduk. "Sial!" serunya. Kenapa..kenapa hal ini terjadi...Dia segera bangkit dari duduknya dan pergi menuju Gekkoukan.


Minato sedang duduk di Lounge asramasambil menahan kantuk bersama Yukari yang sedang asyik membahas majalah fashion dengan Minako dan Fuuka, juga Amada Ken yang sedang asyik mengobrol dengan Akihiko. Minato merasa ada yang mengganjal malam itu, walau sebenarnya dia sempat berpikir, damainya malam ini...

I'll Burn My Dread...

Ponsel Minato pun berdering dan dia sendiri terkejut, hampir lompat dari tempat duduknya. Sesegera mungkin dia mengambil ponselnya dan meninggal Lounge untuk sementara. Dia pergi ke ruang makan dan melihat nama penelpon, Elizabeth. Ada apa malam-malam begini... pikir Minato. Ia menekan tombol 'angkat'.

"Moshi-moshi.." kata Minato.

Minato-sama, maafkan saya apabila saya mengubungi Anda terlalu larut. Tapi, saya merasakan keberadaan manusia di Tartarus. Dua orang, dan aura keberadaan mereka semakin lama semakin lemah. Tidak hanya itu, saya juga merasakan keberdaan para 'penyihir' yang Anda cari dan juga 'sang kematian'.

Elizabeth memutuskan pembicaraan tanpa membiarkan Minato mengatakan satu kata pun. Tapi, Minato memang tidak dapat berkata apa-apa. Wajahnya pucat. Penyihir, apakah itu STREGA? Lalu sang kematian, apakah yang dimaksud Elizabeth itu adalah Sara...pikir Minato. Jadi benar, STREGA sudah mulai bergerak...padahal aku belum menemukan pola gerakan mereka serta tujuan mereka...

Minato lalu melihat kalendar, delapan Oktober. Sebenarnya dia berniat untuk tidak pergi ke Tartarus malam ini, karena dua hari lagi baru Shadow yang muncul setiap saat Full Moon akan tiba. Jadi, dia ingin menghemat tenaga. Tapi, sepertinya Dewi Fortuna dari Wheel of Fortune tidak memberikannya kesempatan untuk memeluk kelembutan kasur dikamarnya untuk waktu yang lama.

Minako yang sama-sama habis menerima telepon dari Theodore, segera menghampiri Minato yang wajahnya terlihat sangat pucat. "Minato-nii..tadi itu..." Minato melihat kearah Minako dan raut wajahnya langsung berubah menjadi sangat serius yang kemudian juga diikuti oleh Minako.

"Malam ini, kita HARUS ke Tartarus. Ada misi penting yang harus kita penuhi!" perintah Minato.


Yap...chapter 7 beres. Review ya!

Regards,

Fuyu Aki