Couple : HunHan
Main Cast :
Female (Luhan, Kyungsoo, Baekhyun, Shiraishi Mai, Itano Tomomi, Kojima Haruna, Takahashi Minami, Maeda Atsuko, Oshima Yuko, Shinoda Mariko, Watanabe Mayu, Matsui Jurina, Kashiwagi Yuki, Yoona, Krystal) - Member idol grup
Male (Sehun, Kris, Suho, Chanyeol, Hoya, Minho, Taeyong, Yonghwa, Minhyuk, Siwon, Yunho)
"Hahh... Untung saja" Sehun bernapas lega karena tidak terlambat memasuki gerbang sekolah. Kalau tidak hancur reputasinya dibuat guru botak yang galak plus jelek lagi
"Sehun, kau darimana saja" Chanyeol menyapa Sehun ketika Sehun memasuki ruang kelas dengan buru - buru
"Aku terlambat bangun" Sehun jujur pada sahabat - sahabatnya tetapi respon yang diterimanya berbeda
"Hahaha... Kau terlambat bangun Hun, apa kata fansmu bila kau terlambat dan dihukum oleh guru jelek" Chanyeol ketawa puas setelah mendengar pengakuan sahabatnya yang paling tampan diantara mereka mengakui alasan keterlambatan datangnya
"Aduh perutku... Kau lucu sekali tampan" Baekhyun ketawa puas sambil memegang perutnya karena geli mendengar candaan Chanyeol
"Ketawa sepuas kalian. BUGH" Sehun kesal dan memukul kepala Chanyeol agar dia berhenti ketawa seperti orang gila
"AKH... SAKIT HUN" Chanyeol kesal karena dia kena pukulan Sehun sementara bukan hanya dia yang menertawakan Sehun, masih banyak yang lain tetapi kenapa dia jadi korbannya
Sehun tidak peduli, dia duduk dikursinya dan menghiraukan ucapan sahabat - sahabat gilanya. Dia sedang tidak dalam mood yang baik, sehingga tidak terlalu suka diganggu.
"Hun, kau kenapa" Kyungsoo mencoba bertanya mana tahu dia bisa membaantu Sehun, dia sudah menganggap Sehun sebagai adiknya yang tampan
"Aku kesulitan tidur Kyung" Sehun menjawab sambil tiduran, dia sungguh lelah tetapi tidak mungkin dia tidak masuk sekolah
"Apa karena memikirkan Luhan" Kyungsoo to the point, Sehun yang tiduran langsung bangun karena terkejut tebakan Kyungsoo sungguh tepat
"Iya, tetapi aku bingung. Apa yang harus kupikirkan tentang Luhan" Sehun jujur tentang halusiansinya yang selalu membayangkan Luhan, tetapi dia bingung dengan halusinansinya
"Kurasa kau menyukai Luhan, cobalah jujur pada hatimu jika kau semakin menyangkalnya makla beban dihatimu akan semakin besar" Kyungsoo berbalik badan dan kembali menulis catatannya
"Apakah aku menyukainya" Sehun berbicara dalam hati mengenai perkataan Kyungsoo tetapi bukan Kyungsoo saja yang mengatakannya seperti itu, kedua orang tuanya juga mengatakan hal yang sama
.
.
.
.
.
"Sehun" Baekhyun memanggil Sehun untuk bergegas pulang tetapi Sehun tidak mengindahkan perkataan Baekhyun
"AKH!..." Sehun kesakitan karena perbuatan jahil Baekhyun yang tidak bermoral mencubit pinggang Sehun dengan kencang
"Aku sudah memanggilmu berulang - ulang tetapi kau tidak mendengarku" Baekhyun melipat kedua tangannya didepan dada sambil mengerucutkan bibirnya
"Tapi tidak perlu sampai mencubitku kan..." Sehun mengelus pinggangnya yang kena cubit mesra dari Baekhyun
"Sorry Hun. Hehehe..." Baekhyun ketawa malu karena memang dia berlebihan menyadarkan Sehun dari lamunannya
"Ada apa Baek" Sehun bertanya setelah sakit dipinggangnya menghilang
"Sudah waktunya pulang, kau mau menginap disini Hun"
"Ah.." Sehun baru sadar ketika Baekhyun mengatakan waktunya pulang dan melirik ke sekeliling kelas yang ternyata sudah kosong tinggal mereka berdua didalam kelas
"Ayo" Baekhyun memaksa Sehun agar cepat karena Baekhyun memang penakut hantu
"Sabar cerewet" Sehun sungguh risih dengan kecerewetan sahabatnya yang satu ini, melebihi mamanya sendiri dan mama sedunia
"Ish.. Untung saja kau bukan anakku, kalau kau anakku habis kuhajar kau" Baekhyun kesal dengan perkataan Sehun yang mengatakan dirinya cerewet walaupun dia menyadari dirinya sungguh cerewet
"Tidak mungkin kau menghajarku, apa kau rela menghajar anakmu yang tampan ini" Sehun melakukan mata innocentnya agar Baekhyun tidak marah lagi padanya
"Aku tidak bisa menghajarmu karena kau sungguh tampan dan imut" Baekhyun luluh dengan keimutan Sehun dan mencubit pipi Sehun tanpa perasaan
"Argh.. Sakit Baek, kau gila" Sehun pasrah pipinya dicubit Baekhyun dan mencoba melepaskan tangan Baekhyun dari pipinya yang mulus
"Hah..." Sehun menghela nafas setelah tangan Baekhyun lepas dari pipinya
"Lain kali kalau mau punya anak sepertiku yang tampan dan imut, buatlah dia dengan perasaan agar dia tercipta dengan sempurna" Sehun meninggalkan Baekhyun sendirian didalam kelas sambil mengejek Baekhyun
"YAK! SEHUN TUNGGU AKU... YAK!" Baekhyun berteriak seperti orang kesurupan dan mencoba mengejar Sehun yang sudah duluan meninggalkannya didalam kelas sendirian
"Sehun" Chanyeol dan yang lainnya menunggu Sehun dan Baekhyun diparkiran, Chanyeol yang melihat Sehun berjalan kearah mereka langsung meneriaki namanya
"Apa?" Sehun membalas sapaan Chanyeol setelah sampai didekat mereka
"Baekhyun mana?" Chanyeol yang tidak melihat Baekhyun langsung bertanya pada sahabatnya yang berwajah datar itu
"Itu dibelakang" Sehun menunjuk arah belakang dan muncul Baekhyun yang berlarian dengan kencang
"Hah.. Hah.. Kau albino gila" Baekhyun kesal pada Sehun karena meninggalkannya sendirian diruang kelas, padahal mereka semua tahu kalau Baekhyun itu penakut. Baekhyun mengambil nafas dan memarahi albino gila yang sayangnya tampan
"Sudahlah Baek" Chanyeol mendekati Baekhyun dan mengusap punggung Baekhyun agar tidak emosi pada Sehun yang sedang dalam mood yang buruk
"Aku duluan" Sehun memasuki mobil setelah pamit pada semua sahabtanya dan keluar dari parkiran dengan cepat agar tidak kena amukan Baekhyun
"Ish... Aku kesal padanya Chan" Baekhyun mengadu pada kekasih dumbonya
"Sabar sayang" Chanyeol memeluk Baekhyun agar Baekhyun tidak kesal lagi pada sahabat mereka yang memang terkadang baik dan terkadang membuat kesal
"Kita pulang yuk" Kyungsoo mengajak mereka semua untuk meninggalkan sekolah, mereka adalah penghuni terakhir
"Ya" Mereka memasuki mobil masing - masing dan meninggalkan sekolah untuk kembali kerumah masing - masing
.
.
.
.
.
"LU.." Sehun berteriak frustasi karena mimpi buruknya tentang Luhan disiang hari, Sehun bangun dan menjambak rambutnya dengan kesal. Kenapa selalu Luhan kenapa tidak Shiraishi Mai atau Yoona yang kecantikannya sama dengan Luhan
TOK TOK TOK
"Sehun kau kenapa nak" Mama Sehun terkejut ketika anaknya berteriak dari arah kamar dan menghampiri anaknya sambil mengetuk pintu anaknya
"Aku hanya mimpi buruk ma" Sehun bangun dari ranjang dan membukakan pintu untuk mamanya
CLECK
"Sehun" Mama Sehun memeluk anaknya agar anaknya tenang dan tidak ketakutan dengan mimpi buruknya dan membawa anaknya duduk di ranjang Sehun
"Kau mimpi apa nak" Mama Sehun ingin menjadi penguat anaknya, seorang ibu punya jawaban atas kejadian yang menimpa anaknya karena seorang ibu memiliki keterikatan batin dengan sang anak
"Aku... Aku..." Sehun kesulitan bicara karena dia sungguh risih dengan mimpinya dan setiap saat selalu membayangkan orang yang sama dengan mimpinya
"Minum dulu Sehun baru bicara pelan - pelan" Mama Sehun mengambil segelas air dari nakas yang disamping tempat tidur dan memberikannya pada Sehun. Sang anak mengambil gelas tersebut dan menenguk air dengan pelan - pelan hingga habis dan menyerahkan pada sang mama
"Ma, aku mimpi buruk tentang Luhan. Aku bermimpi bahwa Luhan mengalami kecelakaan dan hilang ingatan, dia tidak mengingat kita semua termasuk orang tuanya ma" Sehun menjelaskan apa yang dimimpikannya tadi pada sang mama. Sehun walaupun tegar diluar tetapi dia adalah anak yang manja dan baik
"Ok mama mengerti tetapi kenapa kau harus berteriak Sehun. Luhan hanya sahabatmu" Mama Sehun berusaha menjebak Sehun agar Sehun lebih terbuka dan mengakui perasaan yang dimilikinya pada Luhan
"Aku juga tidak tahu ma, aku selalu terbayang Luhan sejak dia pergi ke Amerika hingga saat ini. Aku menganggapnya sebagai sahabat tetapi aku tidak mencintainya dan aku paling benci jika Luhan dekat dengan pria lain ma" Sehun menjawab pertanyaan mamanya dengan cepat karena dia juga binggung dengan perasaannya sendiri
"Kau tidak boleh egois Sehun. Kalau memang menyukai Luhan maka kejarlah Luhan tetapi jika kau tidak menyukainya maka jangan mengekang pergerakan Luhan untuk berdekatan dengan pria lain" Mama Sehun berbicara lembut agar sang anak mengerti dengan perkataannya
"Aku ragu ma, aku menyukai Luhan tetapi dia sungguh kekanakan ma" Sehun jujur pada mamanya dan dia mengakui menyukai Luhan setelah stres memikirkan Luhan. Sehun sudah mendapat jawaban atas hatinya tetapi keburukan Luhan selalu dijadikan tameng untuk tidak menyadari perasaannya
"Anak ini" Mama Sehun memukul kepala anaknya dengan tenaga lumayan kuat
"Sakit ma..." Sehun merengek pada mamanya karena kepalanya yang sakit dipukul sang mama
"Sehun kau sudah besar tentukan pacarmu sendiri, masa harus mama yang tentukan pacarmu. Luhan itu sudah sempurna, kau kira kau tidak kekanakan hanya karena mama pukul kau merengek kayak anak kecil. Sadarilah perasaanmu pada Luhan sebelum Luhan memiliki kekasih yang lebih tampan darimu" Mama Sehun keluar dari kamar Sehun dan meninggalkan Sehun yang sedang merenung ucapan mamanya
"Apakah aku memang sudah jatuh cinta padanya" Sehun berbicara sendiri setelah mamanya keluar dari kamarnya
.
.
.
.
.
Malam harinya keluarga Sehun makan bersama tetapi Sehun belum keluar dari kamar sejak tadi siang. Sang papa sebagai kepala keluarga menghampiri anaknya untuk mengajak makan malam.
TOK TOK TOK
"Sehun ayo makan" Papa Sehun memanggil anaknya setelah sampai didepan pintu kamar Sehun
"..." Sehun tidak menjawab papanya, sang papa yang heran dengan anaknya yang tidak seperti biasa hanya mengambil kunci cadangan dan masuk kekamar anaknya dan menemukan Sehun yang sedang menatap lurus kedepan tanpa ekspresi
"Kau kenapa Sehun" Papa Sehun menghampiri Sehun dan menepuk bahu anaknya
"Pa" Sehun terkejut karena papanya menepuk bahunya tiba - tiba dan menemukan papanya yang bisa memasuki kamarnya yang dikunci
"Kau sedang memikirkan apa Sehun" Papa Sehun berusaha membujuk anaknya agar tidak depresi
"Aku memikirkan Luhan pa" Sehun jujur tetapi matanya tidak menatap sang papa
"Apa yang harus kau pikirkan tentang Luhan bila kau tidak mencintainya"
"Aku mencintainya tetapi dia kekanakan pa" Sehun ingin berbagi pada papanya mana tahu sang papa punya solusi untuknya
"Hahaha..." Papa Sehun ketawa mendengar penuturan sang anak
"Kenapa ketawa pa?" Sehun heran dengan papanya yang ketawa bukannya memberikan arahan
"Kau lucu Sehun, kau sama seperti papa. Dulu papa dan mama adalah musuh abadi, tetapi sekarang apa kami jadi suami istri" Papa Sehun sungguh lucu melihat Sehun yang mengalami hal yang sama dengan dirinya dulu
"Hah? Papa serius? Tidak berbohong kan pa?" Sehun terkejut mendengar perkataan papanya, rasanya sungguh heran melihat sepasang musuh yang menjadi suami istri
"Papa serius, mamamu dulu adalah orang yang paling kasar papa kenal. Dia selalu menendang selangkangan pria apabila ada pria yang menghalangi jalannya, papa dulu tidak sengaja berpas - pasan dengan mamamu dikoridor sekolah dan papa yang tidak tahu apa - apa harus kesakitan diselangkangan papa"
"Pasti sakit pa" Sehun bergedik ngeri mendengar cerita papa mengenai mama yang suka menendang selangkangan pria apabila ada pria yang menggangu jalannya
"Sakit sekali Hun, sejak saat itu papa menjadikannya sebagai musuh abadi. Tetapi lama - lama papa menyadari bahwa papa jatuh cinta pada mamamu walaupun dia orangnya kasar. Cinta itu buta, sahabat papa juga jatuh cinta pada kriminal. Tidak ada yang tidak mungkin bila cinta sudah mempersatukan kita, yang perlu kau lakukan apabila kau mencintai Luhan maka nyatakan secara langsung sebelum Luhan diambil orang lain"
"Iya pa" tekad Sehun sudah bulat, dia memang mencintai Luhan hanya masih belum bisa menerima kekurangan Luhan. Mulai saat ini dia mencoba untuk menerima Luhan dengan kelebihan dan kekurangannya
"Ayo makan, nanti mama marah" Papa Sehun tetap masih takut pada sang istri walaupun sekarang sang istri sudah tidak pernah menyiksa selangkangannya
"Iya, aku takut selangkangan kita jadi korbannya" Sehun menarik tangan sang papa agar menuju ruang makan
Sesampainya diruang makan, mereka menemukan sang mama yang sedang menata makanan diatas meja. Mama Sehun heran dengan keadaan Sehun yang menarik tangan sang papa.
"Kalian kenapa" Mama Sehun bertanya pada dua orang yang paling dicintainya
"tidak ada" Papa Sehun menjawab cepat tetapi respon Sehun berbeda
"Kami tidak mau selangkangan kami jadi korban mama" Sehun terlalu polos jadi orang, sehingga sang mama hanya ketawa mendengarnya
"Itu kan masa lalu, sekarang sudah tidak lagi" Mama Sehun tetap maish ketawa karena lucu mendengar penuturan sang anak yang takut selangkangannya ditendang
Mereka makan dengan santai dan sesekali sang mama menceritakan masa lalunya pada sang anak karena papanya yang sudah menceritakan setengah. Mama Sehun memang galak pada zaman dulu tetapi sekarang dia sudah berubah menjadi ibu yang pengertian pada anaknya dan istri yang baik untuk sang suami.
~TBC~
