chapter 7

Watashi No Onii-san

By Ameyukio2

Naruto by Masashi Kishimoto

[SasuHina—SasuSaku & NaruHina]

Romance, Family, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc

...

Previous Chap :

" Lalu apa yang harus aku lakukan? Bersikap biasa? Seolah-olah tidak terjadi apa-apa seperti yang kau dan ayah lakukan? Melupakan bahwa ibu dan Hinata memang pergi meninggalkan rumah? Meninggalkan aku dan kakak. Aku sudah muak! Aku muak melihat kalian bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa, seakan perpisahan ayah dan ibu 5 tahun lalu tidak pernah terjadi. Aku tidak ingin melihat ibu, aku juga tidak ingin melihat Hinata. Selama ini mereka bahkan tidak pernah ingin tau keadaan ku. Dulu mereka pergi seenaknya, seharusnya mereka tidak perlu kembali lagi."

Hancur sudah. Diding pertahanan yang sudah di bangung Sasuke hancur. Sasuke yang biasannya menghadapi masalah dengan kepala dingin kini meledak seperti bom waktu. Wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal erat. Itachi tau selama ini adiknya selalu menyembunyikan perasaannya, tapi ia tidak tau jika Sasuke akan meledak seperti ini. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Itachi dengar keluar dari mulut Sasuke. Itachi ingin menghampiri Sasuke dan menjelaskan yang sebenarnya saat tiba-tiba tangan kanannya di pegang oleh seseorang. Itachi menoleh dan melihat ibunya yang sudah menangis sambil memegang Itachi.

' ah, sial.'

...

Sasuke tersentak. Ia tidak menyangka jika ibunya akan muncul tiba-tiba, Sasuke yakin ibunya pasti mendengar semua pembicaran mereka tadi. Dengan cepat Sasuke menyambar kunci mobli dan pergi dari sana, tidak memperdulikan suara Itachi yang memanggil-manggil namanya. Yang dia butuhkan saat ini adalah tempat yang tenang, jauh dari keluarganya.

Sasuke menghentikan mobilnya dan berjalan keluar menuju taman yang sepi. Sasuke duduk di kursi panjang taman dan memandang kosong danau yang ada didepannya. Segala pikiran berkecamuk di kepalanya, ingatan masa lalu terekam jelas dalam benaknya. Bagaimana Sasuke kecil yang selalu memohon agar ayahnya memberi tau dimana ibu dan adiknya. Karna yang ia tau hanya mereka yang pindah ke Kyoto kota kelahiran Mikoto , bagaimana ia yang selalu melihat kotak pos berharap mendapatkan surat dari kembarannya.

Tidak ada yang tau sebenarnya saat ia berumur 14 tahun Sasuke dengan nekat pergi ke Kyoto seorang diri, menempuh 6 jam perjalanan menggunakan kereta api. Hanya berbekal selembar kertas yang berisikan alamat tempat ibunya bekerja, yang ia dapat dari salah satu pamannya. Saat itu yang ada dipikiran Sasuke adalah kembali bersama ibu dan adiknya. Sasuke tidak perduli pada ayah dan itachi yang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

Sasuke hanya tinggal menyebrang saja untuk sampai di toko roti tempat Mikoto bekerja saat dia melihat ibu dan adiknya dengan orang pria. Sasuke tidak tau apa yang mereka bicarakan tapi yang sasuke lihat ibunya tersenyum lalu laki-laki itu mengusap kepala Hinata yang menunduk malu sebelum laki-laki itu pergi dari sana. Saat itu lah Sasuke sadar jika selama ini mungkin hanya dia yang memikirkan ibu dan adiknya, buktinya ibu dan adiknya terlihat sehat dan bahagia bahkan mungkin ibunya sudah menemukan pengganti ayahnya. Sasuke terdiam, tidak meperdulikan dorongan-dorongan dari para penyebrang jalan, matanya masih mengawasi hinata dan mikoto yang sudah berjalan menjauh.

...

" Brengsek!." Sasuke mengacak rambutnya prustasi. Mengingat kejadian itu selalu membuat perasaanya campur aduk.

Kejadian itu lah yang membuat Uchiha Sasuke menjadi seperti sekarang, menjadi seorang anak brandalan dan pembangkang yang kadang tidak punya hati. Cukup sekali hatinya hancur karena ibu dan adiknya, ia tidak ingin lagi merasakan hal yang sama namun bagaimana pun Sasuke mencoba membenci kedua orang itu. Sasuke tetap tidak pernah bisa benara-benar membenci kedua orang itu. Setiap dia mengabaikan ibunya dirumah hatinya akan terasa semakin sakit. Setiap ia melihat Hinata yang diganggu di sekolah hatinya menjadi panas, ingin rasanya ia memukul Naruto karna sudah mengganggu adiknya namun egonya menahan Sasuke melalukan itu.

" Sasuke-kun?"

Sasuke mendongak dan melihat Sakura yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Gadis itu membawa satu kantong belanja di tangan kanannya, wajah gadis itu terlihat sedikit pucat. Sakura berjalan mendekati Sasuke.

" Kau tidak apa-apa? Kenapa kau bisa disini?."

" Bukan urusan mu, pergilah aku tidak ingin diganggu." Sakura tersenyum sedih saat mendengar nada dingin Sasuke tapi itu tidak akan membuatnya menyerah.

" Kau terlihat pucat. Sebentar lagi sudah memasuki bulan desember seharusnya kau menggunakan pakaian hangat jika ingin keluar rumah." Sakura melepaskan syal berwarna biru dongker di lehernya dan melingkarkan syal itu di leher Sasuke. Sasuke melihat apa yang di lakukan Sakura dengan ekpresi datar, lalu ia tepis tangan Sakura.

" Pergilah, aku sedang tidak ingin di ganggu." ekpresi kecewa terlihat jelas di wajah Sakura karna perlakuan Sasuke.

" Baiklah, aku harap permasalahan mu cepat selesai Sasuke." Sakura berbalik dan berjalan menjauh.

" hey Haruno!." Sakura berhenti saat mendengar namanya di panggil.

" Kau menyukaiku kan." Sakura berbalik menghadap sasuke, wajahnya memerah.

" ah a-a itu ano bagaimana-." Sakura sedikit berjalan mundur dengan gugup saat melihat Sasuke yang sudah berjalan mendekatinya.

" baiklah, kalau begitu ayo kita berkencan." Dan yang Sakura tau sekarang bibir Sasuke sudah menicum bibirnya.

...

Kini di meja makan hanya ada Itachi dan Mikoto. Setelah Sasuke pergi tadi, Itachi membawa Mikoto ke meja makan dan berusaha menenangkan tangisan ibunya. Ibunya memang sudah berhenti menangis. Namun sekarang ibunya hanya menatap makanannya dengan kosong. itachi menaruh sumpitnya.

" ibu."

" Maafkan ibu Itachi, ibu bukan ibu yang baik." Itachi menatap mikoto yg duduk di sebelahnya, ia memegang tangan ibunya berharap itu bisa membuat ibunya lebih baik.

" Tidak bu, jangan pikirkan ucapan Sasuke dia hanya sedang marah."

" Ini salah semua salah ibu. Seharusnya ibu lebih beruhasa lagi agar mendapat hak asuh Sasuke." Air mata mikoto kembali menetes ibu mana yang tidak sedih jika mendengar perkataan anaknya yang seperti itu. Tadi Mikoto baru keluar dari kamar Hinata untuk mengantarkan makan malam saat ia mendengar pembicaraan Sasuke dan Itachi.

" Tidak bu. Sasuke hanya salah paham, aku akan menjelaskan pada sasuke agar dia mengerti." Mikoto menatap putra bungsunya.

" bagaimana jika Sasuke tidak pernah memaafkan ibu?. Bagaimana jika dia membenci ibu dan Hinata?, tadi dia bilang tidak ingin melihat ibu dan Hinata bukan?. Ibu pikir sikapnya seperti ini karena pengaruh remaja tapi dia.."

" ibu tenanglah. Aku yang akan berbicara dengan Sasuke. Sasuke tidak seperti itu bu, bagaimana mungkin dia membenci ibu jika dia lah orang yang paling menantikan ini. Ibu tenanglah, ibu bisa sakit jika terlalu banyak pikiran. Sebaiknya ibu istirahat, apa ibu sudah selesai dengan makanannya? Biar aku menyuruh pelayan merapikan semuanya." Mikoto mengangguk dan berjalan menuju kamarnya yang di ikuti oleh itachi.

" Ibu beristirahatlah. Aku yang akan bicara pada Sasuke nanti jika dia sudah pulang, semua akan baik-baik saja bu." lalu Itachi keluar dari kamar orang tuanya.

Saat ia tiba di lantai satu, ia melihat Hinata yang sedang berdiri di dapur dengan membawa nampas bekas piring kotor. Itachi memanggil pelayan dan menyuruh agar segera merapikan meja makan.

" Apa yang sedang kau lakukan Hinata?."

" menaruh piring kotor."

" Nii-san tidak melihatmu tadi saat makan malam."

" Aku makan dikamar nii-san." Kening itachi mengerut saat melihat Hinata yang berjalan menuju kulkas dengan kaki yang sedikit pincang.

" Hinata ada apa dengan kakimu?" Hinata mengambil susu dan gelas lalu membawanya ruang tamu.

" Hinata?" Itachi mengikuti hinata yang sudah duduk di sambil menyalakan tv.

" tadi saat pulang sekolah aku terjatuh." Hinata meminum susunya dan kembali fokus pada acara tv yang ia tonton.

" Kamu tidak pulang dengan Sasuke?. Nii-san juga dengar kamu tidak mau menggunakan supir saat pergi kesekolah. Apa kamu juga ingin membawa mobil sendiri?."

" Nii-san." Hinata membalikan sedikit badannya menghadap itachi.

" Aku lebih suka pergi kesekolah dengan bus." Itachi mengertukan keningnya. Ia tidak setuju jika adiknya pergi menggunakan angkutan umum.

" Tidak, tidak. Kamu tau itu berbahaya. Besok nii-san akan menyuruh Satoki-san mengantarmu sekolah. Sekarang tingkat kejahatan di angkutan umum meningkat. Nii-san tidak setuju jika kamu pergi naik bus atau sejenisnya." Hinata merengut sebal.

" Tapi aku lebih suka berangkat menggunakan bus. Lagi pula aku bisa berangkat bersama dengan teman-teman ku nii-san."

" Nii-san baru tau jika sekarang siswa KIS juga berangkat menggunakan bus, biasanya mereka lebih memilih membawa kendaraan sendiri atau di antar sopir."

"Ck, yang nii-san maksud itu hanya anak-anak orang kaya yang suka memamerkan harta ayah mereka. Aku tidak ingin di samakan dengan mereka." Hinata membuang muka dengan kesal.

" Hinata?, apa terjadi sesuatu di sekolah?"

" tidak. Memangnya kenapa?"

" kau tidak di bully di sekolahkan?" Hinata terkejut dengan pertanyaan itachi namun segera ia tutupi dengan kembali meneguk minumannya.

" tentu saja tidak hahaha."

" seharusnya dengan mendengar kau menyandang nama uchiha saja mereka pasti akan mendekatimu untuk di jadikan teman Hinata."

" Ahh~ soal itu." Itachi menaikan sebelah alisnya.

" Ada yang kau sembunyikan dari nii-san bukan?." Hinata memandang kakaknya itu bersalah.

" Nii-san sebenarnya aku tidak menggunakan nama Uchiha."

" Kau apa?!" Hinata memejamkan matanya saat mendengar suara itachi yang sedikit keras. Seorang pelayan datang mengira telah terjadi sesuatu.

" Itachi-sama?" Itachi melihat pelayan yang lalu kembali menyuruh pelayan itu pergi.

" Kau bercanda? Bisa-bisanya kau." Itachi menghela nafas lalu memijit kepalanya.

" Nii-san maaf, lagi pula disekolah yang dulu aku terdaftar sebagai Hyuuga Hinata jadi tidak ada salahnya jika terus menggunakan nama itu. Hanya untuk tahun ajaran ini saja, tahun depan aku akan mengubah marganya Jadi nii-san tidak perlu khawati tolong jangan beri tau ayah dan ibu." Hinata memandang kakaknya dengan tatapan memohon, tidak mungkin dia bilang alasan sebenarnya bukan.

" Kamu dan Sasuke sama saja."

"Eh?"

" kalian sama-sama keras kepala. Tidak heran kalian adalah saudara kembar." Hinata tersenyum jail lalu memeluk lengan Itachi.

" Tapi Hinata lebih menyayangi Ita-nii dari pada Sasuke."

" Bukan Sasuke Hinata, Tapi Sasuke-nii. Walaupun kalian hanya beda 8 menit tapi dia tetap kakak mu juga." Hinata mengubah posisi nya menjadi berbaring dengan paha itachi yang menjadi bantal.

" Hmmm. Baiklah Hinata mengerti. Ahh nii-san jangan ganti filmnya." Hinata merebut remote tv dari tangan itachi.

" Kenapa kau suka sekali film romantis seperti ini. Akting mereka membuat nii-san mual. Lihat saja itu orang bodoh mana yang rela hujan-hujanan hanya agar dimaafkan oleh pacarnya, besok orang itu pasti akan sakit sungguh buang-buang tenaga, kalau nii-san sih lebih baik membiarkan saja tidak usah minta maaf-. Aduhh!" Itachi mengaduk kesakitan saat Hinata mencubit pinggangnya.

" Nii-san tidak asik. Huh!" Hinata berdiri lalu pergi meninggalkan Itachi yang sedang tertawa dengan wajah cemberut.

" Besok nii-san yang akan mengantarmu sekolah!." Teriak Itachi namun tidak di hiraukan Hinata.

...

Sasuke pulang pukul 2 dini hari, ia yakin semua penghuni rumah sudah. Tadi setelah Sasuke mengantar Sakura yang beberapa jam yang lalu menjadi kekasihnya pulang, Sasuke pergi rumah Naruto karena yang lain sedang berkumpul disana.

Sasuke mendengar namanya di sebut saat ia melewati ruang tamu.

" Kita perlu bicara." Itachi berdiri menarik tangan Sasuke untuk mengikutinya ke ruang kerjanya. Ia sengaja menunggu sasuke pulang dari tadi.

" Tidak ada yang perlu dibicarakan." Sasuke menghentakan tangannya.

" Kau seharusnya tidak berbicara seperti itu."

" Aku tidak ingin membicarakan itu." Sasuke ingin segera pergi meninggalkan Itachi namun langkahnya berhenti saat mendengar Itachi.

" Ibu bukannya tidak pernah mengirim kabar. Tapi tidak bisa." Sasuke berbalik menghdap Itachi.

" Kau tau dulu ayah memblokir semua surat ibu. Kau menyakiti hati ibu sasuke." Itachi melewati Sasuke begitu saja. Untuk hari ini cukup ini saja yang ia beritau kepada adiknya.

" Tunggu!" Sasuke mencekal tangan Itachi

" Apa maksud nii-san? Ayah memblokir surat dari ibu?" itachi melepaskan pegangan Sasuke.

" kau bisa tanya sendiri pada ayah agar kau tau jika selama ini kau hanya salah paham tentang ibu." Setelah mengatakan itu Itachi pergi meninggalkan Sasuke.

...

Pagi menjelang dan Sasuke sama sekali tidak bisa tidur memikirkan perkataan Itachi tadi. Melihat jam yang sudah menunjukan pukul 7 pagi Sasuke beranjak dari tempat tidurnya bersiap untuk pergi kesekolah.

Saat Sasuke sampai dimeja makan sudah ada keluarganya disana. Bukannya duduk Sasuke malah menghampiri Fugaku yang sedang membaca koran paginya.

" Ayah" Fugaku hanya melirik anaknya itu tampa memjawab panggilan Sasuke, namun Sasuke tau jika ayahnya itu menunggu ia melanjutkan perkataannya.

" Aku ingin bicara." Sasuke melihat sebentar ke arah Mikoto.

" Tidak sekarang. Duduklah kita sarapan bersama." Fugaku Melipat koran yang di bacanya dan memberikan kepada pelayan.

" Tidak!. Aku ingin berbicara dengan ayah sekarang. Hanya berdua." Sasuke masih tetap pada posisinya.

" Sasuke!" Tegur itachi.

" Jangan sekarang sasuke. Kau bisa berbicara dengan ayah nanti, duduk dan makan sarapanmu." Lanjut itachi.

" Kalau begitu aku tidak akan sarapan." Sasuke berjalan meninggalkan meja makan.

" Sasuke duduk dan makan sarapanmu." Kali ini suara dingin ayahnya lah yang terdengar namun Sasuke tetap tidak menghiraukannya.

" Sasuke, tidak apa-apa jika tidak ingin sarapan di rumah. Ibu sudah membuat bekal kamu bisa makan disekolah nanti." Sasuke melihat mikoto yang sedang menenteng kotak bekal yang sudah di bungkus dengan saput tangan. Mikoto mencoba tersenyum hangat namun senyum itu luntur saat Sasuke hanya melewatinya.

" Anak itu benar-benar tidak tau terimakasi." Suara fugaku geram.

" Tidak apa. Jangan marah pada Sasuke." Mikoto kembali duduk disebelah Fugaku dan mengelus pundak suaminya agar suaminya lebih tenang.

" Hinata, bawakan bekal sasuke juga ya."

" Baiklah bu. Aku selesai terimakasi makanannya." Hinata mengambil tas sekolahnya.

" itekimasu."

" Hinata tunggu nii-san. Ayo kita brangkat bersama. Aku selesai terimakasi untuk makanannya. Ibu aku berangkat dulu." Setelah mencium pipi Mikoto, Itachi bergegas mengejar Hinata.

" Hinata tunggu!. Ayo berangkat dengan nii-san." Kini Itachi sudah berjalan di samping Hinata.

" Tidak mau." Hinata tetap berjalan menuju pintu gerbang.

" Hei tunggu." itachi menarik tas Hinata hingga tas itu terlepas dari bahu Hinata.

" Nii-san!." Hinata memandang kakaknya itu dengan kesal dan mencoba merebut kembali tasnya namun di angkat tinggi-tinggi oleh Itachi, membuat Hinata yang memang lebih pendek dari Itachi tidak bisa menggapai tasnya.

" Nii-san kembalikan! Aku bisa terlambat!."

"Kalo begitu ayo berangkat bersama. Dengan kaki yang seperti itu bagaimana mungkin nii-san membiarkan mu berangkat menggunaan bus."

" Hah~ baiklah." Itachi tersenyum dan memberikan tas Hinata.

" Itu baru adikku." Itachi mengacak poni Hinata.

" Ahkk! Jangan mengacak poni ku." Ujar Hinata cemberut sambil merapikan poninya.

" Kalian belum pergi?." Suara dingin Fugaku terdengar membuat kakak beradik itu menoleh.

" kita akan berangkat sekarang, itakimasu." itachi dan Hinata bergegas memasuki mobil Itachi.

"Hmm,itterashai."

...

Tbc

Cuitan author

Haii WNO sekarang udah memasuki chapter 7 nih. Seneng deh kalo fic ini bisa ngehibur kalian. Setelah saya baca review kalian kayaknya banyak yang ngira fic ini incest dan untuk itu lah saya bikin cuitan ini. Jadi WNO tidak mengandung incest. sama sekali bukan incest karena saya sudah mempasangkan semua karakter sesuai dengan animenya. Mungkin akan ada beberapa adegan sasuhina atau narusakunya tapi saya pastikan kalo ini bukan crack pair. Sekian dulu deh untuk bocorannya. Saya harap kalian bisa terhibur baca fic ink walaupun ceritanya agak berat. Jangan lupa tinggalkan review sebagai apresiasi kalian yaaa.

Salam hangat

Si author manisssss ameyukio2

P. S akan saya usahakan update kilat jika otak saya sedang tidak buntu.