Secret

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

SasukexSakura alternate universe fanfiction for Nenek Immortal, Senju Airin Nagisa.

.

Romance, family, little bit humor, maybe?

.

OOC, typo(s), bad diction, failed humor, and etc. Please read summary first then-

.

-if you don't like, don't ever try to read.

.

Enjoy~

.

Chapter 7 : Love Her

.

.

.

"Sasuke …"

"…"

"Sasuke, ayolah, jangan seperti ini."

"…"

"Jangan merajuk seperti anak kecil, kau akan menjadi seorang ayah."

"…"

Uchiha Sakura menggembungkan kedua pipinya kesal. Lama-lama ia merasa gemas dengan tindakan suaminya yang sedari tadi mendiaminya hanya gara-gara hal sepele. Ia lirik penuh arti pada pria yang tengah fokus menyetir dengan kening yang mengerut, pertanda bahwa sang pria tengah berada pada kondisi di mana emosinya sedang ia tahan.

Merasa tak diperhatikan sama sekali, membuat Sakura mendengus. Pandangannya beralih pada perutnya yang sudah menunjukkan sedikit tanda kehamilan. Ia usap perutnya, di mana janin yang telah berumur dua bulan itu berada. "Ayahmu tukang ngambek, dasar menyebalkan," ucapnya seraya mendengus.

"Jangan mengatakan hal yang aneh pada anakku." Sasuke tiba-tiba membuka suara sembari melirik Sakura dengan tatapan tajam.

"Aku tidak mengatakan hal yang aneh!" sergah Sakura cepat. "Bisa-bisanya kau marah hanya gara-gara hal sepele seperti itu."

Sasuke kembali terdiam, tak menggubris perkataan istrinya sama sekali. Sakura mendesah frustasi, pandangannya ia lempar ke luar jendela. Daripada berhadapan dengan si tukang ngambek Uchiha Sasuke, lebih baik dia menyegarkan matanya dengan melihat pemandangan kota. Namun, pikirannya malah melayang pada kejadian tadi. Kejadian yang membuat Uchiha Sasuke mendiaminya sampai saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Flashback

"Berat badanmu naik. Apakah karena kau sudah pintar memasak, jadi kau banyak makan?" Anko bercanda seraya tertawa renyah, menegur berat badan Sakura yang memang terlihat lebih berisi dibanding sebelumnya.

Sedangkan wanita yang ditegur mengerucutkan bibirnya seraya berucap, "itu sedikit menyakitiku, Anko-san."

"Maaf, maaf," kata Anko disela-sela tawanya. "Kau sudah kelas tiga, 'kan? Aku hanya heran kenapa berat badanmu naik. Kau akan ujian, bukannya seharusnya kau banyak pikiran dan menjadi kurus?"

Sakura berpikir sejenak, "memang seharusnya seperti itu." Wanita itu memberi jeda pada ucapannya, kemudian ia melanjutkan, "tapi, sekarang aku hamil. Jadi—"

"—APA?! KAU HAMIL?!"

Teriakan Anko membuat para ibu-ibu yang tadinya sibuk memasak kini melihat Sakura dalam hening. Sasuke yang tadinya sedang mengutak-atik ponselnya di sudut ruangan dengan santai juga ikut menatap mereka berdua, tak terkecuali Neji.

Setelah sadar karena pekikannya terlalu keras, membuat Anko cengengesan. "Maaf, maaf. Aku terlalu kaget."

"Uchiha-san! Kau hamil? Selamat~" Para ibu-ibu mulai memberi ucapan selamat pada Sakura yang ingin sekali menimpuk Anko, walaupun Anko lebih tua darinya. Wajahnya kini memerah, diselamati seperti ini membuatnya terasa aneh. Kini semua orang yang berada di tempat les memasaknya sudah tahu, padahal mertua serta kakak iparnya sekalipun belum tahu tentang hal ini.

Sakura menyempatkan diri untuk melirik Sasuke. Tampak pria itu juga menatapnya dengan wajah yang memerah, sepertinya pria itu juga merasa malu dan aneh dengan hal ini.

"Uchiha-san, selamat yah!" Para ibu-ibu tadi juga memberi selamat pada Sasuke, yang disambut anggukan pelan olehnya.

"Terima kasih," ucapnya dengan nada pelan. Dalam hati ia menggerutu, kenapa Sakura harus kecoplosan di tempat yang ramai seperti ini?!

"Sakura, selamat." Sakura menoleh, menatap Neji yang berdiri di depannya dengan senyum tipisnya. Baru saja Sakura hendak mengucapkan kata terima kasih, Neji dengan cepat menyambung ucapannya, "aku pikir kau dan suamimu tak saling cinta. Aku pikir kalian akan segera bercerai, ternyata justru sebaliknya."

'Apa?!'

Sasuke berdiri dengan jengkel. Sepertinya mulut Neji belum pernah disumpal dengan ikan buntal.

"E—eh? Haha … mana mungkin … eh?" Sakura yang awalnya tertawa tiba-tiba memiringkan kepalanya dengan alis yang mengerut. Dia tiba-tiba kepikiran dengan ucapan Neji. Dia dan Sasuke tak saling cinta? Itu benar atau salah? Kalau benar, lalu mengapa mereka berdua masih bersama sampai sekarang? Tapi jika salah—

Emerald Sakura ia gulirkan pada Sasuke. Dirinya baru tersadar, bahwa ia dan Sasuke sama sekali tak pernah berkata 'cinta', 'sayang', atau 'suka'. Mereka terus saja bersama, tapi tak saling mengetahui perasaan masing-masing. Sasuke baik padanya, perhatian padanya, tapi ia tak tahu apakah itu adalah perasaan cinta atau hanya sekedar kewajiban yang berada di bawah tekanan ibunya.

"Hmm … kenapa? Apakah ucapanku benar? Kalian tak saling cinta?" Neji menaikkan sebelah alisnya, menatap Sakura dengan pandangan bertanya.

Kini Sakura bingung harus menjawab apa. Semua pandangan tertuju padanya. Karena melihat Sakura yang gelagapan, membuat Neji memasang wajah terkejutnya. "Jadi, benar?"

"Sakura, kita pulang." Ucapan dingin Sasuke terdengar. Dengan kasar, ia menarik tangan istrinya agar jauh-jauh dari pemuda menyebalkan bernama Hyuga Neji.

"E—eh? A—ayo." Sakura yang masih kebingungan akhirnya mengikuti Sasuke, meninggalkan tempat les mereka tanpa sepatah katapun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan beginilah mereka.

Sasuke terus saja mendiaminya. Jika dilihat kronologi kejadiannya, bukankah Sakura tak bersalah? Memangnya apa hal yang dia lakukan, sehingga membuat Sasuke marah padanya?

Sebenarnya wanita itu hendak berteriak bahwa semua yang terjadi tadi bukan salahnya, namun sepertinya Sasuke malah akan semakin mengabaikannya, atau bahkan menyuruhnya keluar dari mobil saat ini juga.

"Aku marah padamu sekarang," ucap Sakura tiba-tiba. Didiamkan seperti ini membuatnya terlihat menyedihkan dan itu menyebalkan baginya.

Sasuke memarkirkan mobilnya, mereka telah sampai di apartemen mereka. "Kau marah padaku?" tanya Sasuke memastikan dengan mata yang menyipit.

Sakura mengangguk yakin. "Aku sangat marah padamu. Kau menyebalkan."

"Baiklah. Maaf saja jika aku menyebalkan."

Tuh 'kan. Sasuke malah semakin marah dan dengan cepat keluar dari mobilnya. Sakura pun mengikutinya dengan cepat dan menarik lengan pria itu. "Maafkan aku! Aku tak bermaksud untuk menyinggungmu. Tapi kau mendiamiku sedari tadi dan itu menyakitkan."

Wanita itu menundukkan kepalanya, memasang wajah sedih. Bukan wajah sedih yang dibuat-buat, ekspresi itu tulus dari hatinya. Dan dia tidak bohong. Itu memang menyakitkan. Lebih baik jika Sasuke terang-terangan memarahinya jika pria itu benar-benar marah daripada mendiaminya seperti ini.

Sesuatu yang hangat menepuk pucuk kepalanya. Tangan Sasuke. Tangan itu mengusapnya dengan pelan, membuat Sakura mulai berani mendongakkan kepalanya dan menatap ekspresi pria itu.

"Maafkan aku," ucap Sasuke dengan nada bersalah yang tersirat. "Aku memang mendiamimu karena aku marah, tapi itu bukan padamu."

Senyum mulai mengembang di wajah Sakura. Akhirnya, pria di depannya kembali menjadi Sasuke yang biasanya. "Oh ya, Sakura," panggil pria itu tiba-tiba, seolah mengingat sesuatu. "Besok kita akan ke dokter kandungan untuk mengecek bayi kita. Usianya sudah dua bulan, bukan?"

Sakura nampak berpikir sejenak seraya bertanya kembali, "besok? Apakah besok libur?"

"Tidak." Sasuke menjawab dengan cepat. "Besok kita akan bolos."

Sakura membulatkan mata emerald-nya, menatap tak percaya pada suaminya yang kelihatan sedang tidak bercanda. "Apa?! Bolos? Kau yakin?" tanyanya tak percaya. Selama ini ia mengenal pria itu adalah pemuda yang tekun belajar, tekun ke kantor dan tidak pernah berpikir untuk bolos walau sehari. Tapi sekarang—

"Aku akan ke Paris besok lusa." Berita yang didengar selanjutnya malah lebih mengejutkan Sakura. "Maka dari itu, setelah ke dokter kandungan besok, kita akan berjalan-jalan."

Seraya menatap tak percaya pada suaminya, keringat sebesar jagung mengucur di pelipis wanita itu. "Berapa hari?" lirihnya dengan nada rendah.

"Dua minggu."

Sakura menggigit bibir bawahnya. Itu berarti selama dua minggu dia harus sendirian di apartemennya. Menunggu Sasuke pulang kerja saja sudah terasa sangat lama, apalagi jika menunggu Sasuke pulang kerja selama dua minggu. Sakura membayangkan hal itu dan pasti hari-harinya akan terasa sangat sepi.

"Ahh … dua minggu yah," lirihnya lagi dengan nada sedih. Nada sedih itu langsung tertangkap oleh Sasuke yang mengambil tindakan untuk merengkuhnya dengan lembut. "Aku pasti akan sangat kesepian."

"Aku juga akan kesepian di sana," ujar Sasuke seraya mengelus rambut belakang Sakura, membuat wanita itu membalas pelukan hangat Sasuke dengan melingkarkan tangannya pada tubuh pria itu. Hangat. Aroma Sasuke pun menguar dan menusuk indera penciumannya. Dia pasti akan merindukan segala kehangatan dan aroma ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bayi kalian tumbuh dengan normal. Sepertinya kalian sangat memerhatikan gizi dan kesehatannya yah." Sang dokter berucap ramah di sela tawanya. "Saranku masih sama, jaga kesehatan, perbanyak istirahat, jangan terlalu kelelahan, dan kontrollah emosimu."

Sakura mengangguk senang, emerald gadis itu berbinar cerah. Berita bahwa bayinya tumbuh normal sungguh membahagiakan baginya. Jika terus sehat seperti ini, maka kurang lebih tujuh bulan lagi, mereka berdua akan menggendong seorang bayi mungil. Hatinya sudah tak sabar untuk itu.

"Sasuke-san, jagalah istrimu semaksimal mungkin. Jangan biarkan dia banyak pikiran." Sasuke tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Setelah itu, mereka berterima kasih pada sang dokter dan keluar dari ruang periksa.

Sakura bersenandung kecil demi mengeluarkan rasa bahagianya. Wanita itu berjalan di depan Sasuke yang hanya bisa menatapnya dengan senyum maklum. Dirinya juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Sakura. Siapa sangka, bayi yang diperoleh dari ketidaksengajaan mereka malah bisa membuat mereka sesenang ini.

"Adakah tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Sasuke kemudian.

Sakura menghentikan langkahnya dan membalikkan dirinya pada Sasuke dengan tampang berpikir. Tak lama kemudian, ia berkata, "sebenarnya … ada. Aku sangat ingin ke sana."

"Oh ya? Di mana?"

Ditanya seperti itu, membuat Sakura menjawab dengan senyuman, "makam ayah dan ibuku."

Sasuke terdiam sejenak, tak menunjukkan pergerakan apapun. Namun beberapa saat kemudian, pria itu mengangguk, "kalau begitu, ayo ke sana."

Mereka menaiki mobil, menuju ke arah tempat peristirahatan terakhir ibu dan ayah Sakura. Tentu saja, Sakura yang memandu jalannya. Jika dipikir-pikir, Sasuke memang tak pernah mengunjungi makam kedua orang tua Sakura dan menurutnya ini waktu yang tepat untuk mengunjungi mereka.

Mereka tiba di area pemakaman. Mereka berdiri tepat di depan makam ayah dan ibu Sakura yang bersebelahan. Tak ada satupun yang berbicara, baik Sasuke dan Sakura tenggelam di khayalan masing-masing. Lama mereka terdiam, sampai Sakura menjongkokkan dirinya dan memanjatkan doa. Wanita itu menutup kedua matanya.

"Semoga kalian tenang di sana," ucapnya sungguh-sungguh. "Oh ya, perkenalkan. Ini menantu ayah dan ibu, Uchiha Sasuke. Kalian senang karena perjodohan kalian berhasil terwujudkan 'kan? Dan ini …" Sakura mengusap perutnya, setitik air mata membasahi sudut matanya. "… ucapkan salam pada kakek dan nenekmu, Nak."

Sasuke terdiam, menatap punggung wanitanya yang bergetar. Pria itu pun ikut menjongkokkan dirinya dan memanjatkan doa, membuat Sakura tersenyum lembut saat melihat hal itu.

"Oh ya, Sasuke, makam kakek dan nenekku juga di sekitar sini. Aku akan mencarinya. Tunggu sebentar yah!" Sakura menepuk pundak Sasuke yang disambut anggukan oleh pria itu. Setelah Sakura sudah agak jauh darinya, pandangan pria itu beralih pada kedua makam di depannya.

"Haruno Kizashi-san, Haruno Mebuki-san, salam kenal." Sasuke berucap dengan pandangan yang dalam. "Aku suami anak kesayangan kalian, Uchiha Sasuke. Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa mendidiknya sehingga menjadi seorang wanita tegar seperti itu."

"Aku berjanji akan membuatnya bahagia. Aku janji tak akan membuatnya merasa sedih lagi." Sasuke tersenyum tipis dan memberi jeda untuk perkataan yang dilontarkan selanjutnya, "aku mencintainya. Aku sangat mencintainya. Aku memohon restu kalian untuk hari-hari kami berikutnya."

Angin berhembus dengan kencang setelah Sasuke mengucapkan kalimat terakhir, seakan memberi tanda bahwa orang tua Sakura merespon apa yang diucapkannya.

"Sasukeeee! Kau sudah selesai?"

Suara Sakura terdengar dari jauh. Wanita itu melambai-lambaikan tangannya dengan senyum cerah. Sepertinya kesedihan yang tadi terpatri di wajahnya sudah hilang. Sasuke berdiri, mengambil langkah untuk mendekati Sakura.

"Sekarang, kau mau ke mana?" tanya Sasuke pada Sakura yang langsung menampilkan wajah bingung.

"Mmm … ke mana?" tanyanya kembali.

"Taman hiburan? Bioskop?" Sasuke menawarkan.

"Taman hiburaann!" Sakura menjawab dengan girang, yang disambut anggukan oleh Sasuke.

Sasuke mendekati Sakura, meraih sebelah tangan wanita itu dan menggenggamnya, membuat wajah Sakura merona merah. Walau senang, tapi tetap saja dia sangat malu untuk melakukan hal ini dengan Sasuke.

"Tapi, aku tidak mengizinkanmu untuk menaiki wahana yang berbahaya." Sasuke berucap dengan nada memerintah.

"Baiklah, baiklah! Aku juga tidak mau menaiki wahana berbahaya."

Mereka memasuki taman hiburan terdekat, taman hiburan tersebut sangat ramai, padahal jam seperti ini adalah jam kerja dan jam sekolah. Sebenarnya Sasuke tak terlalu suka ke tempat seperti ini, tapi apa boleh buat, taman hiburan adalah tempat yang dipilih Sakura. Lagipula, dia sendiri yang menawarkannya.

"Saat anak kita besar nanti—" Sakura menoleh pada Sasuke yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "—kita sekeluarga akan berjalan-jalan di sini, yah?"

"Tentu saja."

Mendengar jawaban Sasuke, membuat Sakura tersenyum puas. Ia mulai berpikir bahwa Sasuke terlalu memanjakannya selama ia hamil, dan ia yakin semua ini Sasuke lakukan untuk anak mereka. Emosi Sakura berpengaruh pada janin, maka dari itulah Sasuke pasti berusaha untuk menyenangkan hati Sakura.

Tanpa mereka sadari, dua siswi berseragam sekolah menatap mereka dengan pandangan tidak percaya. Kedua siswi tersebut melebarkan matanya dan saling melihat satu sama lain. "Bukannya itu—Sasuke dan Sakura?!"

"Mereka berpacaran?"

"Tentu! Lihat saja tangan mereka!"

"Tapi, sejak kapan-?"

Rasa penasaran membongkah pada diri kedua gadis tersebut. Demi mengatasi rasa penasaran yang menghantui mereka, kedua orang itu memutuskan untuk mengikuti Sasuke dan Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sasuke? Ada apa?"

Sasuke menoleh pada Sakura dan menggeleng pelan, "tidak apa-apa. Aku hanya merasakan firasat buruk."

Jawaban tersebut membuat Sakura menampilkan wajah khawatir. "Firasat buruk? Benarkah?"

"Mungkin hanya perasaanku saja."

"Mungkin kau kelelahan." Sakura mengeluarkan sapu tangannya, menyeka keringat yang mengucur di pelipis Sasuke. "Bagaimana kalau kita pulang saja?" ajak Sakura yang langsung disambut gelengan oleh Sasuke.

"Kita baru saja di sini. Sudahlah. Ayo." Pria itu kemudian menarik tangan Sakura dengan senyum tipisnya. "Lakukanlah apa yang kau mau. Beli lah apapun yang kau suka."

Senyum Sakura kembali mengembang. "Kalau begitu, bolehkah aku membeli gelang yang di sana?" tanya Sakura.

Sasuke memandang istrinya itu dengan pandangan heran. "Jika kau ingin gelang, aku akan membelinya di toko langganan ibuku."

Sakura menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Tidak! Aku tidak ingin barang yang mahal. Cukup itu saja, Sasuke. Asal itu darimu, maka benda apapun akan menjadi tak ternilai harganya!"

Sasuke terhenyak mendengar perkataan Sakura. Hanya dengan kata-kata seperti itu, sudah bisa membuat Sasuke senang. Dengan gerakan cepat, ia memberi kecupan singkat di bibir Sakura. "Baiklah. Terserah kau saja," ucapnya pada Sakura yang menampilkan wajah terkejut.

Jika Sasuke melakukan hal ini pada awal pernikahan mereka, mungkin Sakura akan menonjoknya dengan keras. Tapi kali ini berbeda, wanita itu malah tersenyum lembut dan mengangguk.

Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa mereka menghabiskan setengah hari mereka di taman hiburan. Mereka berdua pulang dengan berjalan kaki, hal ini tentu saja adalah keinginan Sakura karena berjalan kaki akan lebih menyenangkan dibanding menaiki mobil.

Tangan mereka masih menggenggam satu sama lain, dengan gelang pink berbentuk kelopak bunga sakura yang dikaitkan menghiasi tangan Sakura.

Tanpa mereka berdua sadari, kedua penguntit tadi masih senantiasa membuntuti mereka dengan wajah lebih penasaran. Keduanya terlihat kaget saat melihat Sasuke dan Sakura memasuki apartemen yang sama.

"Mereka … tinggal bersama?" ujar salah satunya dengan nada tak percaya.

"Sasuke … Sasuke tadi mengecupnya! Dan ditangan Sakura itu, bukannya itu—"

Mereka berdua tersentak dan saling menatap dengan pandangan kaget.

"—cincin pernikahan?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jangan memakan makanan instan di sana."

"Hn."

"Telpon aku jika kau sampai, yah."

"Hn."

"Jangan mencari wanita cantik di sana, yah."

"…"

"Kenapa kau hanya diam saja?!" Sakura mendengus sebal, membuat Sasuke segera menatap istrinya itu dengan pandangan malas.

"Bagaimana bisa aku mencari wanita lain, sedangkan aku sudah menanamkan benihku pada rahimmu."

Wajah Sakura memerah. "Jangan berkata vulgar seperti itu!" larangnya dengan pandangan yang dibuang ke arah lain. Rasa malu kini menjalar ke seluruh badannya akibat perkataan Sasuke.

Sasuke menghela napas. Ia sendiri heran kenapa kata-kata itu bisa meluncur begitu saja dari mulutnya. Pria itu kemudian mengusap kepala Sakura lagi dan berkata dengan nada pelan, "ajak Ino untuk menemanimu di sini."

Sakura mengangguk dan memeluk Sasuke tiba-tiba, menyandarkan wajahnya pada dada bidang Sasuke seraya memejamkan matanya. Sasuke awalnya terkejut, tapi lama-kelamaan dirinya membalas pelukan istrinya, mendekapnya dengan erat.

"Aku pasti akan merindukanmu," ujar Sakura sungguh-sungguh. Sasuke mengecup pucuk kepala Sakura dengan penuh kasih sayang.

"Ada hal yang ingin aku katakan padamu ketika aku pulang nanti."

"Oh ya? Apa?" tanya Sakura penasaran.

"Sekarang bukan waktu yang tepat. Akan kukatakan setelah pulang dari Paris." Sasuke melepas pelukannya dan memasang senyum tipisnya. "Ah, ini sudah waktunya."

Sakura menunduk sedih. Tangan wanita itu memegang jas Sasuke, seolah menahannya untuk pergi. Tapi beberapa saat kemudian, ia tersentak dan menatap Sasuke dengan senyuman paksa. "Ah … sudah waktunya yah? Hati-hati di jalan, Sasuke."

Dengan gerakan pelan, pria itu mencondongkan wajahnya, menekan bibir Sakura menggunakan bibir tipisnya, meninggalkan sensasi lembut pada bibir keduanya. Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi tetap saja sensasi luar biasa itu tetap ada. Mereka berciuman agak lama sampai mereka saling melepaskan dan saling tersenyum lembut.

"Aku pergi dulu," ucap Sasuke. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan menyentuh perut Sakura. "Ayah pergi dulu." Sasuke menatap Sakura lagi. "Jaga dia dengan baik, Sakura."

Kehangatan tiada tada kini menjalar kembali di hati Sakura saat Sasuke mengatakan tiga kalimat terakhir. "Selamat jalan," ucapnya pada Sasuke dengan senyum lembut yang masih terpatri bahkan setelah Sasuke sudah menghilang dari balik pintu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau lesu sekali." Ino menyipitkan matanya saat menatap sahabatnya yang menumpu dagunya di kotatsu ruang tamu. "Merindukan Sasuke, heh?" goda Ino.

"Hum."

Aquamarine Ino sedikit melebar saat Sakura menjawabnya dengan anggukan. Gadis itu mengira bahwa sahabatnya akan menyanggah dengan wajah malu-malu seperti biasanya, tapi ternyata kali ini sahabatnya sangat jujur, membuatnya terkejut.

"Ini sudah satu minggu." Sakura menatap gelang dan cincin pernikahannya. "Kira-kira apa yang dia lakukan di sana, yah?"

Daripada melihat wajah Sakura yang menerawang, Ino pun mengusulkan idenya, "telpon saja dia!"

"Mana bisa, Pig!" Sakura menolak dengan cepat dan memperbaiki posisi duduknya. "Dia bukan ke sana untuk berjalan-jalan. Pasti saat ini dia sedang kerja."

Ino mengangguk paham. "Dasar aneh. Untuk istri tercintanya, dia pasti punya waktu untuk mengangkat telponnya."

"Tercinta? Aku rasa aku bukan sesuatu seperti itu."

"Maksudmu?"

Sakura melengkungkan bibirnya ke bawah seraya berucap, "dia tak pernah berkata bahwa dia mencintaiku, meskipun sekarang kami sudah lebih akrab."

"Serius?!" Ino memekik kaget. "Aduh! Dasar Sasuke bodoh! Kenapa dia belum mengatakannya?!"

Mata Sakura menyipit, "itu bukan hal yang harus dipaksakan."

"Aku sangat yakin bahwa dia itu mencintaimu! Dia pasti hanya malu mengungkapkannya!" Tiba-tiba, sahabat Sakura itu menjadi heboh.

"Mana mungkin dia malu, jika menciumku saja dia tidak malu." Sakura memutar bola matanya, apalagi saat Ino memekik kaget sekali lagi.

"Ahhh … Uchiha itu! Sangat sulit dimengerti. Dengar, kenapa dia menciummu jika dia tidak mencintaimu?"

Perkataan Ino membuat Sakura berpikir keras. Benar juga. Jika tidak mencintai Sakura, kenapa Sasuke mencium, memeluk, mengelus kepalanya, dan melakukan segala hal-hal yang membuat Sakura senang?

Ah, Sakura lupa. Tentu saja untuk anaknya.

Drrttt … drrttt …

Pikiran Sakura buyar saat ponselnya bervibrasi. Dia segera mengambil ponselnya, senyumnya mengembang saat melihat nama yang tertera di layar. Dengan cepat, ia mengangkatnya dengan nada girang, "Sasuke!"

"Sakura." Suara Sasuke terdengar, suara yang sangat dirindukannya selama seminggu ini.

"Kau sedang sibuk? Apa yang kau lakukan saat ini?" tanya Sakura antusias, membuat Ino yang berada di sampingnya tersenyum maklum.

"Sebenarnya, ini jam makan siang. Tapi kupikir akan bagus jika menelponmu walau hanya lima menit. Kau baik-baik saja, bukan?"

"Hum! Aku baik-baik saja. Kalau kau?"

Sasuke tak langsung menjawab, suara ribut dari tempat Sasuke juga tak terdengar lagi, membuat Sakura mengernyit heran. "Halo? Sasuke?"

Suara ribut itu kembali terdengar. "Ah, maaf. Sinyalnya sedang tidak bagus. Aku akan menelponmu lagi jika aku punya waktu. Sampai jumpa."

Tutt … tuuuttt …

Setelah telpon putus, Sakura menunduk pundung. Sebentar sekali! Dasar sinyal jelek! Kenapa dia tidak bisa mendukung hubungan mereka?!

Melihat Sakura yang kembali bersedih ria, membuat Ino menghela napas. "Jangan seperti itu, Jidat. Jika Sai pergi ke luar negeri, dia bisa sampai sebulan dan aku akan tegar menghadapi hubungan jarak jauh itu."

"Tapi kau tidak tinggal serumah dengannya, Pig. Aku selalu bersama Sasuke. Di rumah, di sekolah, dan kadang aku menemaninya di kantor. Jadi, saat dia pergi seperti ini—" Ucapan Sakura terpotong. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "—ah! Sudahlah! Mau pergi berbelanja?" ajak Sakura dengan wajah yang sudah kembali ceria.

Ino mengangguk, "tentu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Di saat seperti ini, kenapa tangga berjalannya rusak sih?! Ahhh … kakiku pegal sekali!" Ino terus mengeluh seraya memegang pegangan tangga. Ia sangat lelah berkeliling dan sekarang menaiki tangga, namun Sakura terlihat baik-baik saja. Padahal seharusnya dia yang mengeluh karena kondisinya sedang hamil.

Spliittt!

"Aduh!" Ino hampir saja terpeleset, untung dia memegang pegangan tangga sedari tadi. "Tangganya licin sekali! Apakah ini baru saja dipel?" Ino terus mengumpat kesal.

Melihat Ino hampir terpeleset, membuat Sakura lebih berhati-hati dalam langkahnya. Dia mulai memperhatikan anak tangga yang dipijakinya satu-persatu. Kalau tetap berhati-hati seperti ini, dia rasa tak akan ada masalah.

"Keiichi-kuuunnn! Jangan lari-lari!"

Ino dan Sakura mendongak, menatap seorang anak berusia lima tahun berlari menuruni tangga dengan cepat sedangkan sang ibu mengejarnya dari belakang. Tiba-tiba, anak tersebut terpeleset di lantai yang licin dan tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.

"AWAS!" Ibu sang anak, Ino, serta sakura memekik kaget saat anak tersebut terpeleset. Sakura dengan cepat merentangkan tangannya, hendak menerima tubuh anak itu.

Hupp!

"Kyaa-!"

"Sakuraa!"

Karena tak tahan dengan tubrukan keras anak itu, badan Sakura pun ikut terhuyung ke belakang. Hanya beberapa detik sampai wanita itu jatuh dan menggelinding ke lantai dasar dengan anak yang masih ada di dalam pelukannya.

"Sakura!" Ino berteriak panik. "Haha! Dasar! Makanya jangan jadi sok pahlawan!" tawanya saat melihat kondisi sang anak baik-baik saja dan Sakura tampaknya juga masih sadar.

Namun tawa Ino seketika terhenti saat Sakura mengerang kesakitan. Anak yang tadi ditangkapnya berdiri dan menatap khawatir pada Sakura yang masih tergeletak. "Hei, Sakura? Ada apa? Tangganya kan masih belum terlalu tinggi." Ino mulai mendekati Sakura.

"I—Ino …. Akhh—sakit … sekali—tolong …" Sakura masih terus mengerang kesakitan. Wanita itu memegang dan meremas perutnya, peluh membanjiri wajahnya dan bulir-bulir air mata mulai tergenang di kelopak matanya.

Badan Ino mulai mendingin. "Sakura … ada ap—"

Aquamarine-nya membulat saat melihat darah yang mengucur deras di bagian bawah Sakura. Pupilnya mengecil, menatap Sakura dengan pandangan tidak percaya. "Sakura … kau—"

"Ino … selamatkan … ukh—bayiku … selamatkan dia …" Sakura berucap dengan susah payah. "… kumohon …" Tangis wanita itu tak bisa lagi ditahannya, antara rasa sakit yang amat sangat di bagian bawahnya, serta panik namun dirinya tak berdaya sama sekali.

Saat kesadaran Ino sudah kembali, gadis itu pun berteriak dengan kencang.

"SAKURAAAAA!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be Continued

Akhirnya bisa lanjutin fic ini jugaaa hahaha

Maaf telat yah xD maaf banget.

Gak tahu feel-nya dapat atau gak huhuhuhu

Yoo sampai jumpa next chapter!

Btw makasih yang udah review :*

.

.

Sign,

.

HanRiver