Naruto belong to Masashi Kishimoto
.
Teratai putih
.
Mempersembahkan
.
Giniro Tsuki
.
Pair: Hyuuga Hiashi X Haruno Sakura
Genre: Family, hurt/comfort
Rate: M
WARNING : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s)
Summary: Pernikahan ini memang karena kesalahan. Tapi kesalahan itulah yang membuatku menemukan kebahagiaan.
.
Chapter 7
Harapan
.
Di tangannya tersampir haori yang biasa dikenakan Hiashi. Hampir di sekujur tubuh pria itu masih terluka, membuat Hiashi kesulitan memakai baju. Selain karena sudah menjadi rutinitasnya membantu Hiashi, Sakura tidak mau Hiashi menahan sakit hanya karena berpakaian.
"Hiashi-san." Panggil Sakura.
Hiashi memusatkan netranya pada sang istri. Menunggu kalimat yang akan keluar.
"Saya ingin meminta izin untuk berangkat lebih awal. Shizune-neesan membutuhkan bantuan. Jadi saya tidak bisa ikut sarapan nanti." Sakura berujar pelan serta menunduk memandang ujung haori Hiashi yang dipegangnya dengan kencang.
"Aa."
Hanya sebuah jawaban singkatlah yang keluar dari mulut suaminya. Sakura tersenyum lega.
"Jangan buat dirimu lelah," Hiashi kembali berujar, yang mana hal tersebut membuatnya terdiam tak percaya. "Jika kau pingsan lagi, Nona Hokage tak akan mengampuniku."
Sakura tersenyum. Menganggukkan kepalanya sedikit untuk menjawab perintah suaminya. Dia menyelesaikan pekerjaannya dengan merapikan beberapa bagian haori dan yukata yang dikenakan Hiashi.
Setelahnya, Hiashi melangkah ke luar kamar, diikuti Sakura yang menyusulnya di belakang. Menyusuri roka menuju ruang makan yang searah dengan pintu keluar. Di saat melewati dojo, mereka berpapasan dengan Neji dan Hanabi yang juga sedang berjalan bersama.
"Pagi, Tou-san. Tou-san sudah pulang."
Hanabi langsung berlari menyusul Ayahnya. Berjalan bersama tanpa peduli ada Sakura di belakang sang Ayah.
"Tou-san, kau dari mana saja?" Hanabi tampak merindukan Ayahnya.
"Itu bukan urusanmu, Hanabi," jawab Hiashi. "Pergilah ke ruang makan."
"Memangnya Tou-san tidak makan?" Tanyanya bingung.
"Aku akan menyusul. Pergilah dulu." Hiashi sempat memandang Sakura sejenak saat mereka mencapai persimpangan lorong. Mereka akan berbeda tujuan setelah ini.
"Baiklah, Tou-san. Ayo, Neji-nii."
Hanabi telah berlari duluan meninggalkan mereka.
"Saya pergi dulu, Hiashi-sama." Kata Neji sebelum menyusul Hanabi dengan berjalan santai.
Tertinggal mereka berdua sekarang. Sakura berdiri canggung saat Hiashi berbalik untuk melihatnya.
"Akan ada pertemuan klan nanti malam. Pulanglah sesegera mungkin dan jangan sampai terlambat."
"Saya mengerti, Hiashi-san," Sakura mengangguk. " Kalau begitu, saya pergi dulu"
Sakura melanjutkan perjalanannya dengan mendahului Hiashi yang masih berdiri di tempatnya hingga punggung kecilnya menghilang di belokan.
.
.
Chapter 7 : Harapan
.
.
Hari ini benar-benar melelahkan. Dia datang pagi sekali dan langsung melaksanakan operasi besar. Operasinya berlangsung tiga jam penuh, menghabiskan energinya. Sakura tak langsung beristirahat, ada pasien UGD yang membutuhkan penangannya. Rumah sakit kekurangan tenaga, banyak shinobi medis yang keluar menjalankan misi, membuat Sakura tetap bersikeras untuk membantu, meskipun Shizune sudah menyuruhnya istirahat. Dia bahkan sampai melewatkan sarapan dan makan siangnya.
Jadi, jelas tidak salah jika sekarang Sakura hanya bisa duduk sambil terus menunduk memandang tangannya yang terlipat di atas pangkuannya. Hiashi ada di sampingnya, namun pria itu seolah tak peduli dengan keadaan Sakura yang tampak pucat. Sakura merasa pusing dan dia ingin muntah lagi. Suara di sekitarnya seperti gumaman saja. Telinganya serasa tuli.
Sakura dengan lemas mencoba mengangkat cangkir ochanya, berharap beberapa teguk ocha dapat menambah tenaganya. Namun apa daya, tubuhnya seolah tak memiliki tenaga, cangkirnya bergetar seiring tangannya yang juga bergetar. Dia masih berusaha mengarahkan cangkirnya ke mulut, tapi cangkir itu tergelincir dan pecah. Membuat suara yang nyaring dan semua mata jelas tertuju padanya.
Berusaha untuk mengatur napasnya agar air mata tidak keluar disaat sang suami yang telah memberi isyarat pada pelayan untuk membersihkan pecahan cangkir dan memberinya ocha dan gelas baru. Tanpa diketahui Hanabi telah bersiap menjegal kaki pelayan yang membawakannya teko berisi ocha membuat ocha itu meluncur bebas mengguyur kepalanya.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak sengaja."
Si pelayan bersujud meminta maaf. Dia tahu, orang-orang di sekitarnya membicarakan dia, tapi Sakura tetap menunduk menahan tangis. Tubuhnya lengket dan basah karena tumpahan ocha.
Sebuah kain tiba-tiba menutupi tubuhnya. Sakura merasa ada yang menarik tubuhnya berdiri, namun tubuhnya serasa kaku dan membuatnya sulit mengangkat tubuhnya sendiri. Berikutnya tangan yang sama dengan yang menariknya berdiri berganti menaruh kedua tangan itu di lutut dan punggungnya, mengangkat tubuh Sakura ke dalam gendongannya. Membawa Sakura keluar dari ruang pertemuan menuju kamarnya dan Hiashi.
"Apa kau bisa berdiri?" Suara Hiashi masuk ke dalam indra pendengarannya.
Sakura mengangguk. Hiashi menurunkan tubuhnya. Dia masih memegangi tubuh Sakura saat perempuan itu oleng dan hampir jatuh. Hiashi menuju lemari pakaian dan mengambil pakaian bersih untuk Sakura.
"Bersihkan dirimu!" Perintah Hiashi mutlak dan Sakura menurutinya. Hiashi sempat melihat Sakura kembali oleng saat memasuki kamar mandi.
Sakura merutuki dirinya sendiri. Dia sudah mempermalukan Hiashi. Terus mempertanyakan bagaimana mungkin dia bisa menjatuhkan cangkir itu tadi? Terus saja merutuki kebodohannya.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, dia mendapati Hiashi telah duduk di depan makanan yang tiba-tiba ada di kamar mereka.
"Duduk!" Perintah suaminya. Sakura kembali patuh. "Apa kau makan hari ini?"
Sakura menggeleng pelan. Tak berani mengucapkan apapun.
"Apa kau begitu bodoh sampai membuat dirimu tak makan seharian? Tidakkah kau ingat kata-kataku pagi tadi? Dan lihat hasil perbuatanmu! Mengangkat gelas saja kau tak mampu. Berhentilah membuatku malu! Jangan hanya jadi parasit!" Sakura semakin merunduk takut. "Makan dan habiskan!"
Sakura meraih sumpit dan mulai menghabiskan makanannya. Hiashi tetap mengawasinya dengan tajam. Sakura merasa buruk sekali. Hiashi malu memiliki istri seperti dirinya. Istri yang bodoh, ceroboh dan tidak berguna. Yang hanya bisa menjadi parasit di kehidupan tenang seorang Hyuuga Hiashi.
.
.
chapter 7 : Harapan
.
.
Sakura sedang membaca buku ketika Hiashi masuk ke dalam kamar mereka. Pria itu berjalan menuju lemari berisi buku dan langsung mencari sesuatu. Mengobrak-abrik lemari yang tadinya sudah tertata rapi.
Sakura menghampiri Hiashi yang terlihat kesulitan. "Apa yang sedang Anda cari, Hiashi-san?"
"Buku."
"Buku apa?" Tanya Sakura lagi.
"Buku data shinobi dari klan Hyuuga."
"Ah, kalau buku itu, Anda tidak menaruhnya di lemari ini," Sakura berjalan mendekati nakas yang ada di sudut lain ruangan dan mengambil sebuah buku yang terletak di atasnya. Sakura kembali menghampiri Hiashi dan menyodorkan buku tadi pada sang suami. "Ini, Hiashi-san."
Hiashi memandang Sakura agak lama sebelum mengambil buku dari tangan Sakura dan mulai membacanya.
"Benar yang ini, Hiashi-san?"
Hiashi mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Istrinya.
"Hiashi-san...," Sakura memberi jeda. "Bagaimana dengan luka Anda? Apakah tidak apa-apa?" Sakura bertanya, mengingat semalam Hiashi menggendongnya.
"Aa."
Jawaban yang membuat Sakura dapat bernapas sedikit lega. Keheningan kembali menguasai kamar mereka.
"Aku akan pergi nanti malam," Hiashi berujar sambil terus membaca buku di tangannya. Sakura memusatkan perhatian pada Hiashi. "Yamanaka Inoichi mengajakku minum dengan yang lainnya."
Mendengar kata minum membuat Sakura menahan napasnya tanpa sadar. Tubuhnya membeku dan dia kesulitan menelan ludahnya. Ingatannya dipaksa kembali ke malam di mana Hiashi mabuk.
"Aku tak akan mabuk," Hiashi berujar seolah bisa membaca pikiran Sakura. Sakura menghela napas lega untuk kedua kalinya. "Jangan membuat masalah selama aku pergi!"
"Saya mengerti, Hiashi-san."
Hiashi mengangguk sebelum keluar. Sakura kembali pada bukunya yang tadi sempat ditinggalkannya.
.
.
chapter 7 : Harapan
.
.
"Sakura-san, kau mau apel?"
Suara Hinata mengusik pendengarannya.
"Terima kasih, Hinata." Sakura tidak perlu menoleh untuk melihat Hinata yang sekarang sedang duduk bertelut di sampingnya yang sedang menjulurkan kakinya di roka. Perempuan itu mengambil apel yang ada di tangan putri tirinya.
"Kau mau kemana, Hinata?" Sakura memperhatikan penampilan Hinata. Gadis itu membawa tas di punggungnya dengan mantel longgar yang menutupi tubuhnya.
"Aku ada misi," Hinata bahkan sudah tak gagap lagi padanya. "Tapi aku ingin pamit dulu pada adik kecilku," Hinata menunduk, menjajarkan wajahnya dengan perut Sakura. "Nee-san, pergi dulu ya. Kau harus baik-baik dengan Kaa-san," Hinata mengecup perut Sakura secara tiba-tiba, membuat Sakura tersenyum geli.
"Ada apa?" Tanya Sakura setelah Hinata kembali menegakkan tubuhnya dan tampak mengawasi sekitarnya.
"Aku hanya berpikir di mana Tou-san. Aku tak melihatnya. Padahal aku ingin pamit." Jawabnya.
"Hiashi-san sedang keluar. Dia pergi minum dengan teman-temannya." Sakura mengernyit heran dengan pandangan aneh dari Hinata. "Kenapa?"
Hinata tersenyum sambil menggeleng. "Tidak biasanya Tou-san berpamitan ketika dia ingin keluar, jadi aku agak heran ketika dia pamit padamu."
.
.
chapter 7 : Harapan
.
.
Benarkah apa yang dikatakan Hinata? Kalau itu benar, berarti Hiashi sudah mau menerimanya. Namun, berharap pria itu menerimanya adalah hal yang sulit. Hal yang sangat mustahil. Sama mustahilnya dengan berharap ada rebung tumbuh di musim dingin.
Ucapan pamitnya tadi hanyalah bentuk lain dari perintah agar ia segera tidur dan tidak membuat masalah. Jika Sakura tidur, dia akan diam dan tak akan membuat masalah.
Suatu kebodohan dengan mengharapkan imajinasinya bisa menjadi nyata. Klan Hyuuga adalah klan yang menjunjung tinggi adat dan kesopanan. Berisi orang-orang dengan pengendalian diri tinggi dan cerdas. Berbeda dengannya yang cenderung emosional. Cerdas? Apakah ninja medis dapat dikatakan cerdas? Sakura jadi membenarkan perkataan Neji. Dia tak pantas ada di klan ini. Apalagi sebagai istri Hyuuga Hiashi.
Sebuah suara jatuh menariknya keluar dari pikirannya. Menemukan Hanabi yang terjatuh di depan kamarnya sendiri.
"Hanabi."
Gadis itu tampak kesulitan untuk berdiri. Sakura sontak berlari, dan membantu Hanabi berdiri. Sakura cukup terkejut dengan suhu badan Hanabi yang panas.
Langsung saja Sakura memapah Hanabi masuk ke dalam kamar. Sesaat setelah sampai di dalam kamar, Hanabi menepis tangan Sakura, membuatnya jatuh tersungkur.
"JANGAN MENYENTUHKU!" Hanabi berteriak keras. Beruntung kediaman souke sedang kosong.
Teriakan Hanabi sukses membuat Sakura terpaku. "Hanabi, biarkan aku..."
"KAU BUKAN IBUKU! BAHKAN KAU INGIN MEREBUT TOU-SAN DARIKU! AKU TIDAK SUDI DISENTUH OLEH PEREMPUAN SEPERTIMU! PERGI!" Hanabi terus berteriak. "KAU HANYA PEREMPUAN PENGGODA. KELUAR DARI KAMARKU!"
Dada Sakura terasa sakit. Ini bukan pertama kalinya Hanabi menghinanya. Tapi teriakannya kali ini terdengar penuh kepedihan. Sakura merasa sedih dengan kepedihan Hanabi. Hal tersebut membuatnya melangkah dan duduk di depan Hanabi.
Berusaha mengambil tangan gemetar Hanabi yang masih ditepis dengan kasar. "Kau sakit. Biarkan aku memeriksamu."
"Pergi! PANGGIL SAJA PELAYAN. BIARKAN MEREKA YANG MERAWATKU!"
"Para pelayan sudah lelah bekerja seharian. Apa kau tak kasihan pada mereka?" Sakura masih bersabar.
"KENAPA KAU PEDULI?! TOU-SAN BAHKAN TAK PEDULI PADAKU."Hanabi meledak, gadis itu menangis sejadi-jadinya. "Aku selalu berusaha sebaik mungkin di hadapannya. Tapi itu tak pernah cukup. Selalu saja ada hal yang kurang. Ditambah dengan kehadiranmu, perhatian Tou-san akan hilang dariku."
Sakura paham sekarang. Hanabi takut perhatian ayahnya akan hilang karena keberadaannya. Putrinya masih kecil, tapi Hiashi sudah menekannya dengan keras. Sakura miris. Dia memeluk Hanabi. Awalnya Hanabi meronta, namun Sakura memeluknya semakin erat. Pada akhirnya Hanabi terdiam dalam pelukkannya.
Tangannya mengusap punggung Hanabi. Berusaha menenangkan putrinya seperti cara ibunya menenangkan dirinya kala dia menangis saat kecil.
"Tou-sanmu peduli padamu, Hanabi. Sangat peduli. Aku tak akan merebut Tou-sanmu." Sakura mengeluarkan cakra berpendar hijau. Mengalirkannya ke dalam tubuh kecil Hanabi.
Dia membiarkan Hanabi meremas yukatanya. Membiarkan Hanabi menangis hingga akhirnya tertidur karena lelah dan demam yang semakin tinggi.
Setelah menggelar futon dan membaringkan Hanabi, Sakura memandang wajah Hanabi yang penuh ai mata. Sakura mengalirkan cakra ke mata sang putri, mencegah bengkak yang akan membekas keesokan harinya.
Sakura baru keluar setelah membersihkan wajah Hanabi.
.
.
chapter 7 : Harapan
.
.
"Dari mana?"
Sakura menemukan Hiashi bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ada di atas pangkuannya begitu dia mencapai kamarnya.
"Hanabi sakit, Hiashi-san. Saya baru selesai merawatnya."
Hiashi mengangguk. "Segeralah tidur!"
"Baik, Hiashi-san. Saya akan segera tidur."
Suaminya meletakkan bukunya dan berbaring untuk menjemput mimpi. Sakura tersenyum. Dia mengambil futon, menggelarnya di samping Hiashi dan segera menyusul sang suami untuk tidur.
to be continued...
.
see you next chapter
.
a/n:
terima kasih aku ucapkan untuk silentreaders,yang telah meng-fav,meng-follow dan yang telah mereview….
Baiklah, yang pertama maafkan saya yang updetnya agak lama, habis ada UAS, gak bisa dipecah konsentrasinya...
yang kedua maafkan saya yang lupa bawa buku yang ada jalan cerita fic ini saat libur kemarin, jadi niat saya untuk updet harus tertunda...
yang ketiga, banyak adegan HiashiSaku nya, ah jadi senang ...
Real life banyak kejadian, dari hampir frustasi takut nilai turun, sampai disuruh berhenti berkhayal sama dosen...
yah meskipun begitu, akhirnya fic ini bisa updet juga... yokatta ...
ok mari kita balas review...
Rosachi-hime, aku akan menambah kosakata bahasa inggrisku kalau ada waktu, karena tampaknya UNCpanda bagus-bagus ficnya...mkasih ya
Febri593, sama-sama, cantik... ini udah updet lagi lo...
MinzakyaRsl, nanggung ya hahaha, chapter ini banyak HiashiSaku lo ...
Andromeda no Rei, waduh banyak banget pertanyaannya... soal Neji, itu nanti akan ada penjelasannya kq, scene yang terakhir itulah yang paling berat menurutku, dan ternyata ada yang suka... kalau aku jadi Saku, mgkn akan mempertimbangkan, tapi di sini aku ingin membuat Sakura yang teguh sama prinsipnya...btw, makasih semangatnya aka reviewnya...
AmmaAyden, Salam kenal juga Amma.. makasih udah suka sama ficku, aku memang suka crackpair sih... fic ini akan lanjut kq...
Serizawa Natsu, Aminnnnnnn... Sakura emang perempuan kuat hahaha... sibuk sih enggak, cuma ya itu tadi habis dapat teguran dari dosen sih... maaf ya...
Zue Watanabi, jadi pgn nyanyi lagu bang toyib nih... hahaha... soal luka, that the secret, honey, sabar ya hehehe ... kalau manjangin susah deh...
Oh Se Naa, hayo kenapa hayo itu Hiashinya...
mawarputih, mungkin karena dedek bayi kangen bapaknya... luka? himitsu ...
toshi mayo, pujianmu bikin melayang... masa sih Hiashi sesua karakter aslinya, aku kq radak bimbang... masih lanjut terus ...
Dekatria13, kurang... hmmm aku akan berpikir lagi kalau gitu, kamu juga semangat nulis ya...
yuri rahma, sama-sama, makasih ya...
Koalasabo, salam kenal dan makasih koala-chan... pujianmu membuatku terbang lo... aku suka crackpair, apalagi yang sama om om ganteng macam om Hiashi hahaha... ini sudah dilanjut loo...
yulia, ok bos... sudah dilanjut ... hehehe
ramsesjames05, terima kasih ya hehehe
shshsb, makasih lo udah suka, aku senang sekali...
Silverfield100, ini udah updet, makasih ya ...
Untuk semua, terima kasih sudah membaca ficku ini. Masih banyak yang kurang, jadi aku menerima koreksi, kritik dan saran dari para pembaca lewat kotak review…
Review yang masuk adalah penyemangat buat author pemula ini…
Arigatou minna-san…
Sign,
Teratai Putih
