Ini saya update karena saya balas budi ke pertolongan seseorang yang tidak ingin disebut namanya. Sebut saja dia Zoccshan ._.v Juga untuk para readers. Sorry telat (atau kecepetan?) update. This is for you~
Naruto (c) Masashi Kishimoto
I don't own the picture
Pairing: SasoSaku, other slight pairings included
Warning: AU, OoC, drama, nyinet, dan super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura Haruno.
Happy reading~
Alam pada saat musim semi masih tampak begitu tipikal. Kicauan burung yang hinggap di pohon dan atap gereja, nyiur angin yang melambaikan dedaunan pohon dan semak, sekaligus menerbangkan dedaunan yang telah kehilangan kehidupannya. Matahari bersinar begitu cerah, seolah tersenyum dan turut bersuka cita atas rahmat Tuhan yang masih memberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi bagi kebanyakan manusia. Langit tampak begitu polos dengan warna biru muda murninya, tergurat oleh semburat tipis awan putih bagai helai-helai benang panjang yang tergeletak pasrah di atas lautan.
Indahnya musim semi tampak semakin indah saja ketika kita menyaksikan paras beberapa manusia yang ada di depan sana. Tampak hanya raut wajah bahagia dan suka cita. O, tak ada satupun yang menampakkan wajah duka, setidaknya mungkin mereka berusaha memendamnya agar tidak menodai suasana gembira dan bahagia yang tengah melanda. Tiap wanita tampil begitu cantik, dan tiap pria begitu gagah dengan balutan jas maupun pakaian formalnya. Mereka berbaris rapi di sepanjang jalan kecil yang terlapisi merahnya karpet yang salah satu ujungnya mengarah pada altar yang ada di depan sana, sebuah jalan yang menghantarkan seorang berbalut gaun putih di ujung karpet yang lain, pada sebuah ikatan suci sehidup semati.
Ah ya, sekalipun tertutupi oleh kerudung transparan yang khas dipakai oleh seorang wanita yang hendak melepas status lajangnya, tapi senyum bahagia itu tak bisa tersembunyi dari pandangan tiap orang yang menatapnya. Ah, bukan bahagia lagi. Gembira, bersyukur, euforia, dan semua kata atau ungkapan lain yang bisa menggambarkan perasaan yang hanya bisa dirasakan oleh seorang insan yang akan mengucap sumpah setia bersama sang tercinta di hadapan Tuhan. Jika kau belum pernah berada pada posisi gadis itu sekarang, maka kau tak akan mengerti bagaimana menjelaskan indahnya perasaannya.
Sebuah lagu mengalun lembut, mengisi tiap lorong gereja dengan alunan merdunya. Sebuah nada yang mengisyaratkan pertemuan dua orang insan di depan gereja. Sebuah senandung tanda awal sumpah setia akan diucapkan.
Dan sang gadis, melangkah begitu anggun di samping seorang pria paruh baya yang melangkah tegap di sampingnya. Membusungkan dada, seolah ia merasa menjadi pria yang paling hebat di dunia karena memiliki putri secantik gadis yang tengah merangkul sebelah lengannya. Sekaligus membusungkan dada karena ia bersyukur karena Tuhan masih memberikannya hidup di hari yang begitu sakral bagi putrinya, dan bagi dirinya pula.
Senyum terus terkembang dari bibir sang gadis. Sebelah tangannya menggenggam erat sebuket bunga tulip dan mawar putih di depan dadanya. Dan senyum itu semakin terkembang manis begitu si pria paruh baya yang berada di sampignya, menggenggam tangan kanannya untuk kemudian beliau sematkan pada tangan lain yang terulur padanya.
Tangan dari cinta pertama dan terakhirnya.
Dan saat kedua mata emerald itu menatap sang coklat ebony, ia tahu bahwa ini semua bukanlah sekedar mimpi belaka.
Akasuna Sasori, ah, tidak, Dokter Akasuna Sasori, sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya. Miliknya. Cintanya. Hanya dirinya.
Dan mereka menghadap pada sang Pendeta yang berdiri tegap di depan sana. Kedua tangan sang calon pengantin muda saling bergenggam, saling tertaut hangat, seolah saling menyalurkan semangat, peyakinan, dan ketenangan pada pujaan masing-masing.
Kalimat demi kalimat dibacakan, pertanyaan mengenai adakah sanggahan dan keberatan akan berlangsungnya pernikahan ini pun telah dilontarkan, dan tentu saja, siapa yang mampu menyangkal ikatan suci yang akan terjalin? Tak ada. Siapapun tahu bahwa mereka saling mencintai.
"Akasuna Sasori, apakah kau bersedia untuk mencintai dan setia pada istrimu, baik saat bahagia, duka, sakit, sehat, kaya, maupun miskin?"
"Aku bersedia," dan sang gadis tak mampu menahan perasaan haru yang menjalar di sekujur tubuhnya saat mendengar sumpah setia dari lelaki yang berdiri tegak di sampingnya.
Pendeta itu lalu mengarahkan pandangannya pada si gadis berambut merah muda, sang pengantin wanita, Haruno Sakura.
Namun, ada yang aneh. Sakura sama sekali tidak mendengar ucapan sang Pendeta. Suara-suara di sekelilingnya masih sama. Ia masih mampu mendengar bisikan-bisikan dan godaan-godaan yang dilontarkan oleh beberapa teman yang hadir. Ia masih bisa mendengar jelasnya kicauan burung gereja di luar sana. Bahkan ia masih bisa mendengar kata-kata penenangan yang dibisikkan oleh si pengantin pria, semacam 'Tenanglah. Rileks', tapi ia sama sekali tak mampu mendengar apapun yang diucapkan oleh sang Pendeta, sekalipun Sakura masih mampu melihat mulut Pendeta itu bergerak, seolah tengah mengucap sesuatu padanya.
"A-aku bersedia."
Dan Sakura membelalakkan matanya.
Bukan, itu tadi... siapa yang bilang?
Apa yang terjadi?
DEMI TUHAN, TADI ITU BUKANLAH SUARANYA!
Dan seolah semakin aneh, Sakura mendapati dirinya berada di barisan tamu. Berdiri bersama tamu yang lain di bangku-bangku di dekat altar. Dia menunduk, dan pekikan kecil dan kaget terlepas dari mulutnya kala melihat penampilannya.
Tak ada gaun, tak ada sepatu kaca, tak ada buket bunga. Bahkan saat ia meraba kepalanya, tak ada tudung ala pengantin wanita.
Tidak.
TIDAK!
Apa yang terjadi? Mengapa ia berada di sini dan tidak di samping—
Kepalanya sontak terangkat dan memandang ke depan. Dan sorot matanya yang semula panik, kini berubah menjadi sorot pandang tak percaya dan gentar yang membuat iris kehijauan itu tampak bergetar oleh rasa takut yang demikian hebat melanda.
Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin membasahi terusan merah muda selutut dan dahinya. Bibir bawahnya terasa sakit oleh gigitannya sendiri, mencoba meredam teriakan dan jeritan pilu yang ingin terucap keras. Air mata mulai menggenangi kedua bola matanya yang masih menatap tak percaya pada pemandangan di depan sana.
Kakinya... kakinya terasa lumpuh, tak kuat lagi menahan tubuhnya yang terlalu bergetar hebat, seolah diserang oleh terjangan rasa dingin dan beku yang mengalahkan Kutub Selatan.
Siapa itu? Siapa yang berdiri di depan sana, menggantikan tempat yang seharusnya hanya boleh dan berhak diisi oleh Sakura saja?
Bukan, itu bukan Sakura. Sakura tak akan memiliki rambut sepanjang itu. Helainya tidak berwarna segelap itu. Dan suaranya tadi...
Suara tadi... Sakura tak mungkin memiliki suara sekecil dan dengan nada gagap seperti itu!
ITU ORANG LAIN!
"Sekarang, kau boleh mencium pengantinmu," ujar sang Pendeta pada pria berambut merah.
Kedua mata Sakura semakin membelalak ngeri. Air matanya menetes untuk pertama kalinya hari itu. Kepalanya mulai ia gerakkan ke kiri dan kanan, sebuah gelengan kecil yang lambat laun berubah menjadi gelengan kuat, ungkapan penolakan akan fakta yang tengah terekspos di depannya.
Dan saat si pemuda berambut merah telah menangkupkan kedua telapak tangannya pada dua pipi putih bersih itu, saat dua bola coklat ebony-nya perlahan menutup sembari kepalanya bergerak pelan menuju kepala yang dihiasi helai gelap panjang sepunggung itu, barulah Sakura kehilangan kendali akan dirinya sendiri.
Matanya terpejam kuat, seolah tak ingin melihat apa yang akan terjadi di depan sana, sembari pekikan penyangkalan terteriakkan dengan kuat dari ujung paru-parunya.
"HENTIKAAANNN!"
-oOo-
Dengan gemas, Ino melempar boneka Teddy Bear kecil berwarna merah muda ke arah ranjang, tepatnya ke arah seorang gadis yang tengah berteriak-teriak tidak jelas di sana.
"Hentikan! Kumohon! Mereka tidak boleh menikah! Dia merebut calon suamiku! Tidak!"
Ino hanya memutar bola matanya muak pada pemandangan di depannya. Si gadis berambut merah muda itu, sekalipun sudah ia timpuk dengan boneka, tetap saja tidak tersadar dari mimpinya. Kalau sekedar mimpi saja sih tidak apa-apa, tapi dia ini sudah berteriak-teriak galau sembari memukul-mukul permukaan ranjang dengan kedua tangan kecilnya.
Seburuk apa sih mimpi Sakura?
Dan apa tadi dia bilang? Menikah?
Dengan perasaan malas, Ino berdiri dari lantai di samping ranjang sang sahabat. Ia memutuskan untuk meninggalkan sejenak kesibukannya dalam berkirim e-mail dengan temannya yang bersekolah di Jerman, untuk menghampiri sang sahabat yang masih terbuai dalam mimpi buruknya.
"Hei," Ino mencoba menyadarkan Sakura dengan mengguncang kecil pundak sang sahabat. Namun tak ada reaksi, "Hei. Bangun. Kau hanya bermimpi!" ujar Ino menenangkan, kali ini sembari menepuk-nepuk kecil kedua pipi gadis yang terbaring dengan keringat dingin yang membasahi sekujur wajahnya.
Ino menghela nafas berat dan kuat, pertanda bahwa dirinya mulai terganggu dan dongkol dengan kebiasaan jelek temannya yang susahnya minta ampun kalo dibangunin dari tidurnya. Dengan gemas, ia membuka paksa kedua kelopak mata Sakura, sehingga menampakkan iris emerald yang basah oleh air mata. Dalam hati, mau tak mau Ino penasaran juga, seburuk apakah mimpi gadis itu hingga ia menangis dalam tidurnya seperti ini?
"HEI HARUNO SAKURA! KAU LIHAT AKU, 'KAN? KAU LIHAT 'KAN, BAHWA KAU TENGAH BERMIMPI DAN APAPUN YANG TADI KAU LIHAT, ITU BUKAN KENYATAAN?" teriak Ino keras, peduli setan jika pelayan kediaman Haruno ada yang mendengar dan menghampiri mereka.
Dan berhasil, pandangan Sakura yang semula tak fokus dan seolah menerawang, kemudian menjadi terfokus pada iris aquamarine-nya. Igauan dan teriakan penyangkalan terhadap apapun yang ia lihat dalam mimpinya, terhenti seketika ketika kesadaran mulai menyentuh otaknya.
"Huh!" Ino melepaskan tangannya dari kedua kelopak mata Sakura, "Sekarang aku bisa melanjutkan mengirim e-mail pada Yuka," si pirang, tanpa menunggu reaksi lebih jauh lagi dari si gadis berambut merah muda, segera mendudukkan dirinya kembali di lantai, di depan laptop ungunya yang tergeletak di sana.
Setelah melihat Ino, mendengar suaranya, mendengar suara-suara beberapa pelayan yang terdengar dari luar sana, suara gongongan anjing di taman, membuat Sakura menghela nafas kuat-kuat, yang ia tak sadar telah ia tahan di ujung paru-parunya.
Terpejam kembali, ia mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih berdetak tak keruan. Tubuhnya pun masih bergetar kecil dan menggigil halus, tanda bahwa seolah baru saja ia mengalami atau melihat suatu hal yang amat buruk.
"Tadi itu mimpi. Tadi hanya mimpi," gumam Sakura kecil dan lirih, berusaha meyakinkan hatinya bahwa inilah kenyataan, ia telah keluar dari mimpi terburuk yang pernah ia alami, bahwa apapun yang baru saja ia lihat dan ia dengar, semuanya bukanlah kenyataan.
Tak ada pernikahan di sini.
Hah, bahkan Sasori-kun pun tidak ada di sini.
"Itu hanya mimpi," ulang Sakura bagai mengucap sebuah mantera, membuat Ino mengalihkan pandangan dari layar laptop-nya untuk melirik pada sang sahabat yang masih terbaring dengan nafas yang berhembus cepat dan kedua mata yang terpejam.
"Kau baru saja mimpi apa, sih, Jidat?" ujar Ino gusar, separuh karena terganggu dengan teriakan-teriakan mengigau Sakura tadi, juga separuh karena perasaannya mengatakan bahwa ada suatu hal yang tidak diceritakan oleh sang sahabat kepadanya.
Kedua kelopak Sakura perlahan membuka, sehingga warna sehijau dedaunan di musim semi itu kembali terlihat. Setelah sekali lagi ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya sekarang tak lagi terlingkupi oleh alam bawah tidurnya, ia perlahan bangkit dari posisi terbaringnya.
"Ino?" gumamnya pelan setelah sebelumnya memijat pelan pelipis kirinya. Rasa pusing tiba-tiba melanda.
Ino memutar bola mata, "Nah, kau baru menyadari keberadaanku, Nona."
Mendengar respon Ino yang penuh dengan sarkasme, Sakura hanya terdiam. Dia mengalihkan pandangannya pada kedua kakinya yang masih terbujur lurus.
"A-aku...," gumam Sakura dengan ragu dan suara makin memelan, lantas ia memejamkan mata sembari menggeleng-geleng kuat, berusaha mengusir apapun yang masih mengganggu pikirannya, tak peduli pada si rambut pirang yang semakin memicingkan mata tanda curiga padanya, "Sudahlah. Jam berapa sekarang? Apa Ayahku sudah pulang?"
-oOo-
"Ingat ya, jangan pikir sekarang aku pulang lalu itu berarti aku berhenti curiga padamu," telunjuk lentik dengan polesan kuteks warna biru muda itu mengarah pada hidung mancung Sakura, "Besok, kau harus ceritakan padaku apa yang kau rahasiakan, Jidat!"
Sakura merengut, lalu menepis halus telunjuk Ino dari depan hidungnya, "Ya, terserah. Cepatlah pulang, Pig. Bukankah sekarang malam minggu? Ayahmu pasti akan membunuhmu jika kau tidak membantunya di toko bunga," ujar Sakura sembari mengibas-kibaskan tangan kanannya, sebuah gestur menyuruh Ino segera berlalu.
Setelah mengucapkan kalimat ancamannya yang terakhir semacam 'Ingat pekataanku, Jidat!' maka si Pirang segera memasuki sebuah mobil hitam metalik yang baru saja terparkir di dekat halaman kediaman Haruno. Seorang pria paruh baya, supir Ino, membungkuk sopan pada Nona muda, lalu tersenyum hormat pada si Pewaris Haruno.
Sakura menghela nafas setelah kedua matanya mendapati mobil hitam itu menghilang di balik pagar menjulang di dekat taman di depan kediamannya. Gadis itu segera berbalik dan kembali memasuki rumahnya, menghiraukan satu dua pelayan yang membungkuk hormat padanya ketika mereka berpapasan.
"Ayah bilang ingin bicara padaku?" ujar Sakura saat mendapati Ayahnya terduduk tenang di meja makan. Gadis itu membuka lemari es, lalu mengambil sebuah minuman antibiotik dari sana.
"Hm, ya. Ke sini," Kizashi menepuk kursi di sebelah kirinya, mengindikasikan putrinya untuk mendudukkan diri di sana.
Sembari menenggak minuman berbotol kecil itu, Sakura melangkah dan langsung duduk di kursi berwarna keemasan itu, "Ada apa, Ayah?" tanyanya lagi.
Dan Sakura rasanya tak mampu mencegah rasa penasaran yang timbul ketika melihat bibir lelaki di depannya itu terkembang. Dan sorot matanya... Ah, kapan terakhir kali ia melihat Beliau tampak begitu bahagia? Seakan ia akan mengucapkan suatu rahasia terindah terbesar yang ada di dunia ini.
Sakura menyipitkan kedua matanya sembari sedikit memajukan bibirnya, sembari menggerutu ia berucap, "Apa-apaan sih? Ayah menang proyek lagi?" Sakura menenggak kembali minuman yang telah tersisa separuh dalam botol yang dipegangnya.
"Sakura-chan, tadi siang Paman Kakashi dan Akasuna-san datang kemari," kata Kizashi tenang dan ringan.
BRUSSSS!
Untunglah saat itu Sakura tidak sedang menghadap ke Kizashi, jika tidak, bisa dipastikan muka Beliau akan basah terkena semburan minuman yang tengah ditenggak Sakura.
Melhat reaksi putrinya, Kizashi merasa geli. Meski sedikit ada rasa kurang nyaman dengan sikap putrinya yang benar-benar unlady-like itu.
"A—Apa?!" tanya Sakura dengan kedua mata sedikit membelalak terkejut. Kini ia menghadap ke arah sang Ayah sepenuhnya, botol minumannya terlupakan di meja ketika kedua tangannya menggenggam erat lengan kanan Ayahnya, "A–Ayah tadi bilang... Sa–Sasori-kun...," gadis itu meneguk ludanya sendiri karena gugup, "...kemari?"
Kizashi tertawa lirih sembari mengangguk pelan, "Iya. Tadi siang, bersama Paman Kakashi, dia datang ke sini."
Sejenak, Sakura tertegun, menatap Ayahnya dengan terkejut layaknya di kepala Ayahnya tiba-tiba muncul dua buah tanduk. Namun itu hanya sementara karena di detik berikutnya, gadis itu menghela nafas besar sembari bibirnya melengkung lebar, "Hah! Ja–jadi begitu...," ia tersenyum lebar, membayangkan saat pemuda berambut merah itu berada di kediamannya, "Lalu, untuk apa dia ke sini? Kenapa Ayah tak bilang padaku? Aku 'kan bisa pulang sekolah saat itu juga Ayaaaaahhhh," Sakura merengut manja sembari mengguncang-guncang kecil lengan Ayahnya yang tengah ia pegang.
Kizashi tertawa lirih, merasa turut bisa merasakan kebahagiaan yang kini tengah melanda putrinya. Sejak kapan terakhir kali ia menyampaikan berita bagus bagi si gadis itu? Dan sejak kapan terakhir kalinya ia mampu melihat kilauan yang terpancar dari warna emerald itu, pertanda bahwa hatinya tengah bersuka cita dalam sebuah euforia?
"Ne, Sakura-chan, apa yang harus kujawab dulu?" tanya Kizashi sembari menepuk bahu kanan putrinya, "Ayah tidak bilang padamu karena kau sekolah," ujar Kizashi, "Dan tidak, Wali Kelasmu sudah melaporkan kau sudah lima kali membolos dalam tiga minggu terakhir ini," lanjut Kizashi ketika mulut Sakura sudah membuka, siap mengeluarkan kalimat bantahan atas ucapan Beliau.
Sakura menghembuskan napas kesal sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia memelototi meja di depannya, seolah semua sumber masalah hidupnya adalah akibat dari ulah meja tersebut, "Bagus! Hanya demi sekolahku, aku sekarang kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Sasori-kun yang, Oh Tuhan yang tahu, mungkin terakhir kalinya," ucapnya kesal.
Dasar Wali Kelas sialan! Ngapain coba dia ngadu-ngadu ke Ayahnya segala? Awas, ya!
"Kenapa bilang begitu, Sakura-chan?" tanya Kizashi, sedikit tidak suka pada ucapan putrinya barusan, "Kau terdengar seperti meremehkan pendidikanmu."
Sakura menghela napas lelah dan frustasi. Rasa senang yang tadi sempat melanda, kini hilang entah kemana tergantikan oleh rasa jengkel atas keputusan Ayahnya, "Ayah! Ayah membuatku kehilangan kesempatan untuk bertemu dan meminta maaf pada Sasori-kun!" Sakura menatap Ayahnya dengan pandangan putus asa, "Bagaimana lagi aku bisa bertemu dengannya? Aku tidak mungkin datang ke kampusnya karena di—"
"Ne, anak manja," Kizashi mengusap-usap kecil kepala Sakura, membuat helai merah muda itu tampak sedikit berantakan karenanya.
Sakura menghembuskan napas kesal sembari menepis pelan telapak Kizashi dari kepalanya, lalu dengan gemas ia merapikan rambutnya yang sempat tak tertata rapi seperti semula.
"Siapa bilang kau tidak bisa bertemu dengannya?"
Kegiatan Sakura merapikan rambutnya terhenti saat mendengar kalimat Ayahnya tersebut. Ia menoleh, menatap Ayahnya dengan pandangan heran, tap di detik berikutnya ia kembali melanjutkan kegiatannya tadi, "Ya, aku bisa bertemu dengannya tapi dia tidak akan pernah mau bertemu denganku."
"Siapa bilang? Toh besok pagi dia akan datang ke sini lagi," ujar Kizashi tersenyum.
Dan senyum beliau makin berkembang saat mendapati kedua bola putrinya sedikit terbelalak dan mulutnya sedikit membuka.
"Dan besok, dan besok, dan besok. Masih banyak waktu untukmu melihatnya, karena mulai besok, dia resmi bekerja pada keluarga kita, Sakura-chan."
Dan rasanya kedua mata Sakura tak bisa membelalak lebih jauh lagi dari ini.
"Tuhan..."
Entah, kapan terakhir kalinya asma suci itu terlontar dari bibir tipisnya.
-oOo-
Delapan lebih sepuluh menit.
Begitulah jam dinding yang tergantung di sana menyatakan secara tak lisan akan sudah selarut apakah malam mulai beranjak. Namun, bagi Kisame, satu hal yang tak bisa dilakukan oleh jam dinding kayu itu adalah mengatakan kapankah wanita di depannya ini akan hengkang dan melangkahkan kaki dari kosan ini.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, Hoshigaki-san. Kamu harus membayar uang kos bulan ini, sekarang juga!" wanita itu melotot sangar, membuat Kisame yang selama ini dicap sebagai The Sangar-est menjadi ketar-ketir. Maskara yang tebal dengan eyeshadow yang gelap itu, membuat tampang si wanita lebih parah ketimbang wajah drakula yang siap memangsa.
Kalo drakula ngisapnya sih darah, itu lebih manusiawi, daripada ngisep uang jatah bulanan anak kosan hingga ke tahap kritis alias bokek.
"Kagamaru-san," ucap Kisame setelah menghela napas lelah. Oh andai saja ini bukan kos milik wanita itu, pasti udah dari tadi ia tendang Ibu Kos itu. Peduli setan dengan sikap gentleman. Orang ini wanita juga gak bisa disebut lady-like juga kok, "Saya ada beberapa iuran angkatan mendadak yang harus saya bayar dan juga tadi baru saja meminjami uang saya pada teman saya yang membutuhkan," ujar Kisame yang terpaksa curcol. Dia tidak bohong kok, dia emang lagi ada iuran buat acara angkatan. Dan dia juga baru saja meminjamkan lima puluh ribu yen pada Deidara.
Dan sialnya, Kisame tak tahu kalo Deidara pinjam uang juga ujung-ujungnya buat bayar kos dan ngehindari dua jam non stop ceramah bersama Ibu Kos.
Biar nanti Kisame botakin itu anak.
"Itu 'kan urusan dan masalah situ, bukan saya," ujar Kagamaru-san dengan sangat tidak peduli dan simpatinya, membuat Kisame kini tahu mengapa kosan ini hanya ditinggali oleh mereka bertiga selama dua tahun berturut-turut, "Saya juga butuh uang, bukan teman situ doang."
"Ya elah, Bu, minggu depan saya bayar, janji lah," ujar Kisame tanpa repot-repot menyembunyikan rasa lelah dan sedikit jengkelnya. Emang susah sih kalo berhadapan ama Ibu-Ibu ngotot dan maksa banget dandan gothic gini, tak peduli pada beberapa helai uban yang udah tampak nongol di kepalanya, "Saya juga selama ini gak pernah nunggak, 'kan?"
"Tidak bisa," Ibu Kagamaru semakin melotot, "Saya sudah hapal taktik mahasiswa seperti kalian!"
Kisame mengatupkan rahangnya, merasa frustasi sekaligus empet pada sosok di depannya. Sumpah, sepelit-pelitnya orang, kayaknya Ibu ini pantas nyandang gelar The Pelit-est di dunia, dah. Karena demi apa, dia meragukan kemampuan Kisame untuk membayar kos? Dia beli juga sekalian ini kos entar!
"Kagamaru-sa—"
"Kagamaru-san," sebuah suara terdengar dan otomatis, membuat Kisame terpaksa menghentikan apa yang tengah ia ucapkan. Cowok dengan tubuh penuh dengan pigmen biru itu menoleh, bersama dengan Ibu Kos, dan mendapati Sasori tengah berdiri di pintu masuk kos.
Dan dapat ditebak lah, gimana reaksi si Ibu Kos dengan masa remaja suram itu.
"Sa-Sasori-kun," Kisame, sumpah, rasanya pengen muntah denger suara Kagamaru-san yang lembut dan beda banget sama suaranya yang nyaris nge-rock saat ngomong sama Kisame tadi.
Ini orang, ga sadar umur apa, ya? Sempet-sempetnya flirting ama remaja.
Sasori sedikit mengangguk sopan, "Kagamaru-san," sapanya, "Maafkan Hoshigaki-san. Semua ini karena salah saya yang meminjam uang padanya untuk keperluan iuran fakultas," ujar Sasori kalem dan tenang, membuat Kisame sedikit membelalakkan mata saat mendengarnya.
Itu cowok kenapa? Seingat Kisame, yang minjem duit Kisame adalah cowok-tampang-banci-rambut-pirang alias Deidara, deh.
"Tetapi," Sasori berhenti untuk memberi death glare sekilas ke Kisame, lalu mengalihkan pandangan kembali pada Ibu Kos yang masih aja ber-blushing ria di depannya, "Dalam waktu seminggu ini, saya berjanji akan mengembalikan uangnya," Sasori membungkuk sekilas di depan Ibu Kos, "Maafkan atas ketidaknyamanan ini."
"A–Aduh, Sasori-kun," si Ibu Kos mengibas-kibaskan kedua tangannya, sembari tersenyum ramah, "Tidak perlu terburu-buru. Justru Ibu senang sekali jika Hoshigaki-san bisa membantu temannya. Kenapa harus minta maaf? Jadi, jika memang masih perlu, jangan terburu-buru mengembalikan uang Hoshigaki-san, Sasori-kun."
Di belakang Kagamaru-san, Kisame rasanya pengen nelen bulet-bulet kepala itu Ibu. Pertama, dia mempraktekkan diskriminasi banget dengan menyebut nama kecil Sasori, sedangkan dengan Kisame dia memanggilnya dengan nama depan. Bukannya cemburu atau gimana, genitnya itu loh ga nahan banget. Kedua, apa dia bilang? 'Jangan terburu-buru'? Meski Sasori memang sama sekali tidak membawa uang Kisame, tapi tetap saja, Kagamaru-san berbicara seolah-olah dia adalah pemilik uang itu atau Ibunya Kisame.
Caper banget sih, ini orang.
Sasori tersenyum kecil, membuat Kagamaru-san makin memberi tatapan dreamy padanya, dan membuat Kisame kembali merutuki takdir yang membuat dirinya tidak dilahirkan dari rahim dan benih yang sama dengan pemuda di depannya itu.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Sasori-kun. Maklum, bentar lagi ada arisan berlian—"
Emang gue peduli, gitu? Pikir Kisame muak.
"—setengah jam lagi. Okeh deh, sampai jumpa, Sasori-kun," Ia tersenyum, yang dibalas dengan senyuman dan bungkukkan kecil oleh Sasori. Kagamaru-san menoleh ke arah Kisame, dan otomatis, senyuman yang sempat terkembang tadi hilang seketika, tergantikan oleh seraut wajah yang wajar ditampakkan oleh orang ketika lewat di dekat TPA, "Dah, Hoshigaki-san."
Terdengar sangaaaaattt tidak ikhlas.
Dan Kisame tak repot-repot untuk membalas salam perpisahan Ibu Kos.
"Untunglah kau datang Sasori," ujar Kisame sembari menghela napas berat dan menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu, sepeninggal Kagamaru-san, "Jika kau terlambat muncul semenit saja, rasanya aku sudah hendak mempraktekkan judo-ku pada dia. Persetan dia cewek, tua, ibu kos, atau apalah."
"Hn," gumam Sasori sembari ikut mendudukkan diri di sofa di seberang Kisame, "Mengantar dan mengambil cucian ke laundry besok kuanggap sebagai bentuk ucapan terimakasihmu," jawab Sasori tenang sembari melepas kedua sepatunya.
Kisame ternganga bagai ikan yang kejaring kait nelayan, "O–Oh. Kita berbicara tentang balas budi sesama teman, eh?" ujarnya sarkastis, dalam hati menarik kembali pujiannya pada pertolongan Sasori tadi.
Sasori menoleh pada Kisame dan memberinya tatapan datar, mulutnya telah setengah membuka, hendak mengatakan sesuatu namun sepertinya tengah ia pertimbangkan, "... Aku besok ada urusan," ujarnya singkat setelah terdiam sembari memandangi Kisame dengan agak lama.
Ya, sebaiknya lain kali saja Sasori bilang pada sahabatnya mengenai pekerjaannya yang baru saja ia peroleh pagi ini.
Kisame memutar bola mata, "Ya, Tuan Mawapres."
PLAK. Segulung koran yang tadi tergeletak di meja, kini berada di pangkuan Kisame setelah mendarat dengan lumayan tidak mulusnya pada wajah Kisame.
"Tak perlu sarkastis. Aku tidak akan meminta bantuanmu jika aku bisa mengerjakannya," jawab Sasori tenang sembari menaruh sepatunya di rak di dekat sana.
Kisame memijit-mijit hidungnya yang sedikit ngilu akibat lemparan koran tadi, "Memangnya ada urusan apa kau? Klub karate? Olimpiade?"
Sasori menghela napas pelan sembari menolehkan kepalanya kepada Kisame, dan dengan nada dan ekspresi datar, ia kembali berucap, "Aku tidak mau bicara dalam keadaan lapar. Nah, sudahkah kau memasak makan malam?"
-oOo-
Besok dia akan datang.
Mulai besok, aku akan mempunyai banyak waktu untuk bersamanya.
Dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi antara kami selanjutnya?
Ah, rasanya aku ingin matahari segera terbit kembali malam ini.
Bolpoin dengan tinta berwarna pink dengan glitter itu masih bergerak-gerak oleh tangan kecil itu, membentuk goresan-goresan tulisan rapi di atas lembaran-lembaran berwarna putih bersih itu.
Goresan-goresan yang didominasi oleh kata 'aku' dan 'dia' dan penuh dengan aksen gambar-gambar hati kecil di sekeliling tulisan yang baru mencapai satu paragraf itu.
Sejak awal meninggalkan ruang makan setelah berbicara dengan Ayah tadi, Sakura tak bisa berhenti atau setidaknya menahan senyumnya. Ia senantiasa melengkungkan bibirnya ke atas, pertanda bahwa hatinya tengah gembira. Dengan riang, ia sapa sopan tiap pelayan yang ia temui dalam perjalanan menuju kamarnya, membuat para pelayan yang menjumpainya mengerutkan kening bingung, ragu, namun ada juga yang turut tersenyum melihat bahwa Putri Kecil mereka ternyata tengah dilanda oleh rasa suka cita.
Senandung-senandung kecil tergumamkan dari mulutnya, mulai dari hanya gumaman nada tanpa lirik, hingga lagu-lagu bernuansa cinta dan kasih sayang. Kedua bola emerald-nya menatap sekelilingnya dengan riang, cerah, seolah terdapat sebuah sinar yang sebelumnya ini tak pernah ada di sana.
Tentu saja, siapa yang tak akan bahagia jika mengetahui akan mendapatkan apa yang selama ini telah begitu lama diimpikan?
Sakura menghembuskan napas lirih sembari memejamkan mata. Gerakan tangannya untuk menggores kata-kata di buku diary-nya terhenti kala ia melihat bayangan-bayangan karya imajinasi pikirannya, terlihat dalam kegelapan kelopak matanya yang tertutupi.
"Sasori-kun! Tolong aku!"
"Diam kau, bocah! Tak akan ada yang mendengarmu! Sehabis ini Ayahmu akan menyetujui penawaran kami hanya untuk membebaskanmu! Hahahaha."
"Tidak! Akan ada yang menolongku!"
"Hahahaha. Kau bermimpi? Di kota sesepi dan seterisolasi ini, kau mengharapkan bantuan? Siapa? Tuhan?!"
(BRAK. Suara pintu besi terobohkan dari luar.)
"Lepaskan Sakura atau kalian akan mati."
"Sasori-kun!"
"Siapa kau?! Dasar penganggu! Hei anak buahku, habisi dia!"
(Dan pertarunganpun dimulai. Dan tentu saja, pemenangnya adalah Sasori)
"Jika kalian berani menganggu Sakura lagi, aku tak akan mengampuni kalian. Paham?!"
(Dan para penjahat itu lari)
"Kau tak apa-apa?"
"Sasori-kun."
"Maafkan aku lalai menjagamu, Sakura. Aku mencintaimu."
"Aku tahu kau akan menolongku, Sasori-kun. Aku juga mencintaimu."
(Dan mereka akhirnya berciuma–
Putaran bayangan di pikirannya tersebut, terhenti ketika ia mendengar getaran yang berasal dari sisi ranjangnya. Dengan geram dan tidak ikhlas, Sakura menyambar HP-nya yang tengah bergerak-gerak kecil dan menampakkan layar yang berkedap-kedip dengan cahaya putih. Setelah dapat, dipelototinya benda elektronik yang tengah menampakkan nama 'Uchiha Sasuke' di layarnya.
'Padahal sedikit lagi aku akan berciuman dengan Sasori-kun, ih!' Begitulah kira-kira dia mengutuk benda berwarna pink yang masih memberikan getaran di telapak tangannya tersebut, 'Awas saja ya, kalau Sasuke-kun menggangguku dengan Sasori-kun hanya untuk bicara hal yang tidak penting!'
"Halo!" sapa Sakura sembari menghela napas kesal—tanpa repot-repot menyembunyikan nada judesnya.
"Halo, Sakura," terdengar suara berat Sasuke dari telepon, "Kau tidak apa-apa, 'kan? Sepertinya kau sedang ada… masalah…," lanjut Sasuke dengan nada ragu setelah mendengar suara helaan napas lelah Sakura tadi.
Menjatuhkan tubuh dengan kasar untuk telentang di ranjangnya, Sakura mengernyitkan dahi dan menatap nyinyir pada atap kamarnya, "Kau menelponku hanya untuk menanyakan keadaanku, Sasuke-kun?" protes Sakura yang masih kesal karena Sasuke, secara tidak langsung dan tidak sadar, menganggu acara berciuman(imajinasi)nya dengan Sasori.
Sedangkan Sasuke di sisi lain, terdiam sejenak tanpa merespon pertanyaan bernada terganggu dari Sakura. Namun siapapun bisa memastikan bahwa tatapan tajam Sasuke ke arah tembok kamarnya, seolah-olah menyatakan bahwa pemuda itu rasanya akan mencekik leher si gadis merah muda andaikan saja gadis itu berada tepat di depannya sekarang.
"…Tentu saja tidak," respon Sasuke segera sebelum Sakura memutuskan untuk mengakhiri perbincangan. Ditahannya sekuat mungkin emosinya agar tidak tampak dalam nada suaranya, "Aku hanya ingin bertanya, apakah besok kau ada waktu luang?"
"Memangnya kenapa?"
"Kebetulan besok ada acara grand opening apartemen yang dimiliki salah satu kolega bisnisku," terang Sasuke, "Jadi, apakah besok kau bisa pergi denganku untuk datang ke—"
"Tidak bisa, Sasuke-kun," potong Sakura sembari menggeleng-geleng kecil dan memejamkan matanya. Telunjuk tangannya ia gerakkan ke kiri dan ke kanan, sekalipun Sasuke tidak bisa melihatnya, "Aku besok ada acara."
"Oh..," Sasuke tak repot-repot menyembunyikan rasa kecewanya. Bukan karena ia ingin sekali pergi dengan Sakura, namun karena ia gagal dalam rencananya memperkenalkan Sakura kepada para koleganya, sebagai 'orang terdekatnya'—sekalian menghalau para rival lain untuk mendekati sang Pewaris Haruno nantinya, "Apakah akan lama?"
"Ya," jawab Sakura, "Karena besok ada hari yang sangat spesial untukku, Sasuke-kun."
Di detik inilah, rasa amarah dan dongkol yang dirasakan Sasuke, terhenti untuk kemudian merasa penasaran sekaligus curiga.
Nada suara Sakura barusan terdengar sangat… gembira?
"Apa Ayahmu memberimu hadiah lagi, Sakura?" tebak Sasuke dengan tebakan yang paling masuk akal dan paling logis. Selama ini, hal yang membuat Sakura begitu gembira hanya ada dua: hadiah dari Ayah, dan butik favoritnya mengeluarkan edisi fashion terbaru, limited edition, dan berkelas.
"Ini lebih dari itu, Sasuke-kun!" ujar Sakura antusias, dengan cepat melupakan semua kedongkolan dan kekesalannya pada Sasuke barusan. Cukup hanya dengan membayangkan bahwa besok pagi ia akan bertemu dan menghabiskan waktu dengan Sasori saja, membuatnya secara drastis merasa begini senang dan bahagia. Jadi, tanpa mampu ia tahan lagi, ia luapkan saja semua dengan mengatakan yang sebenarnya pada Sasuke, "Besok aku harus menyambut datangnya pengawal baruku!" diakhiri dengan senyuman lebar dan helaan napas bahagia dari Sakura.
Ketika tidak terdengar balasan apapun dari Sasuke, Sakura kembali berujar, "Jadi, besok adalah hari penting bagiku. Aku harus berada di rumah. Tidak lucu, 'kan, jika aku harus pergi keluar padahal ada pegawai baru di rumahku?"
Hhh… sejak kapan juga si Putri memperdulikan akan tata krama terhadap para pegawainya?
"…Pengawal…" akhirnya terdengar suara Sasuke, meski nada suara yang dipakainya membuat kata ucapannya lebih cocok sebagai pernyataan daripada sebagai pertanyaan.
"Iya, kau ingat dulu aku pernah bercerita tentang hal ini, Sasuke-kun?" lanjut Sakura dengan nada yang masih antusias, "Pengawal yang sangat kuinginkan untuk dia bekerja padaku, akhirnya mulai besok akan datang kemari dan memulai tugasnya. Ah~ tidakkah itu kejutan yang sangat menyenangkan?"
"…Hn. Dia menerima tawaran kerja darimu, akhirnya?"
Sakura mengangguk, "Iya. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa berubah pikiran—tapi itu bukan soal. Yang penting mulai besok dia bisa bekerja di sini."
Kembali tidak terdengar respon dari Sasuke, dan Sakura memutuskan untuk mengakhiri perbincangan. Lagipula hari juga mulai beranjak larut. Dan besok ia ingin menargetkan diri untuk bangun jauh lebih pagi untuk mempersiapkan dirinya menyambut Sasori-kun di rumahnya.
Ia besok harus tampil secantik dan semanis mungkin—ga jadi soal, deh, kalau harus bangun pagi-pagi buta.
Sembari menahan uap kantuknya, Sakura mengucapkan salam perpisahan pada Sasuke dan pada akhirnya, mengakhiri pembicaraan via ponsel mereka.
Menatap atap kamarnya, gadis itu kembali tersenyum lebar. Kedua matanya masih tampak berbinar sekalipun raut lelah dan mengantuk hadir di wajah putihnya. Kedua tangannya ia tangkupkan di depan dada sembari masih menggenggam ponsel miliknya.
Dan dari sini, ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras.
"Aku harap dia sudah memaafkanku," gumamnya penuh harap pada diri sendiri, "Dan aku harap aku tidak akan membuatnya kesal lagi."
Jika Sakura Haruno menghabiskan malamnya dengan perasaan berbunga-bunga dan antusias sekaligus gugup akan keesokan harinya, maka tidak dengan satu pemuda di tempat berbeda.
Sasuke Uchiha masih terduduk diam di kursi ruang kerja di rumahnya. Ponselnya pun masih tergenggam di tangannya. Tidak beranjak sama sekali sejak ia mengakhiri perbincangannya dengan gadis berambut pink yang baru saja diteleponnya.
Kedua onyx yang biasanya memandang datar itu, kini tampak sedikit menajam. Hitam kelamnya iris itu, tampak sedikit berkilat terkena oleh pantulan sinar bulan yang menerobos dari jendela kacanya.
Namun, justru tatapan dan ekspresi seperti itulah yang mencirikan sifat bahaya dari klan Uchiha saat mereka menemukan tantangan dan hambatan yang harus disingkirkannya.
Ya.
Permainan baru akan dimulai.
Jika tikus rendah itu berani menganggu kekuasaan singa, maka kita lihat sampai sejauh mana hewan rendahan itu bisa bertahan sebelum terkoyak oleh singa yang marah.
-oOo-
Ruang makan kecil yang terdiri dari satu meja dan empat kursi sederhana tersebut, tampak lebih ramai dari biasanya. Berbagai hidangan tampak tertata rapih di atas meja kayu tersebut. Sekalipun bukan hidangan mewah, namun cukup membangkitkan selera dari satu keluarga kecil yang jarang menghabiskan makan malam dengan kehadiran semua anggota, seperti sekarang ini.
Tentu saja, karena sekarang adalah, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, putra sulung dari keluarga ini, hadir bersama mereka.
"Tapi beneran, kalian jangan meremehkan aku, ya!" ujar anak kedua, Uzumaki Naruto, dengan raut kesal kepada Kakak dan Adiknya. Baru saja ia dikatai dan disindir oleh mereka akibat nilai ulangan bertinta merah, yang tak sengaja Adik perempuannya temukan dalam salah satu seragam yang hendak dicucinya, "Kalau aku lulus nanti, sebentar lagi, aku yang akan tertawa kepada kalian!"
"Daripada memikirkan lulus, tidakkah lebih baik kau pikirkan ujian remidialmu, Naruto?" bantah Uzumaki Karin, satu-satunya anak perempuan dalam keluarga kecil tersebut, "Boro-boro lulus, kau paling-paling dapat nilai jelek lagi dari ujian remidialmu."
"Hei, jaga ucapanmu, Karin!" Naruto menunjuk Adiknya, di mana telunjuknya langsung ditepis kasar oleh Sasori, putra tertua yang merasa tidak enak dengan tingkah tidak sopan adiknya tersebut, "Kau tuh, yang harus pikirkan sekolahmu juga. Bukan pacaran saja dengan Jugo—"
"Kata orang apes yang menjadi satu-satunya anak di keluarga ini, yang belum dapat pacar," ledek Karin kepada Kakaknya, sembari mulai mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Apa kau bila—"
"Sudah! Sudah! Kalian ini…," lerai Kushina, ibu dari ketiga remaja tersebut, sembari meletakkan satu hidangan terakhir di meja, "Bahkan di meja makanpun kalian masih ribut begini…"
"Salah siapa yang kurangkerjaan dengan mencampuri urusan pendidikanku!" bantah Naruto tidak terima. Sembari bersungut kesal, ia mengambil nasi untuk ia letakkan di mangkuknya.
Sedangkan Karin menjulurkan lidahnya tak acuh, Kushina hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Menjadi seorang single parent dari tiga remaja, memang bukanlah hal yang mudah baginya. Baru juga ia pulang kerja, ia harus menyiapkan makan malam, dan kini ia juga harus berhadapan dengan anak-anaknya yang tidak bisa menghabiskan sejenak waktu tanpa ribut.
Suasana menghening sejenak. Hanya terisi oleh benturan antara sumpit dan mangkuk masing-masing orang. Naruto memakan makan malamnya dengan lahap, hingga kedua pipi pemuda itu menggembung dengan besarnya. Sedangkan Karin hanya menatap kesal pada Kakak keduanya sembari menggumam 'Dasar babi' secara lirih. Dan Kushina hanya tersenyum, merasa senang jika melihat putra-putrinya menikmati apa yang dimasaknya untuk mereka—kecuali untuk putra sulungnya satu itu.
Wanita di awal pertengahan empat puluhan itu menatap heran ke arah Sasori yang memakan makanannya dengan sangat perlahan. Pandangan pemuda itu memang mengarah pada mangkuknya, namun Kushina bisa lihat bahwa pikiran pemuda itu tidak tengah tertuju pada apa yang dilihatnya. Jiwanya seolah berada di tempat lain. Sebagai Ibu, Kushina langsung saja paham bahwa ada sesuatu yang mengganggu putra tertuanya—membuat pemuda itu tampak lebih terdiam dari biasanya sekarang.
"Sasori-kun?" Kushina bersuara memanggil putra sulungnya tersebut, "Kenapa makan dengan begitu? Apa masakan Ibu tidak enak?" lanjut Kushina dengan nada khawatir bercampur pura-pura kecewa.
Naruto dan Karin menolehkan kepala mereka untuk menatap Kakak mereka. Sedangkan Sasori, nampaknya tersadar dari apapun yang tengah ia pikirkan, untuk kemudian menggeleng pelan dan memberi senyum kecil pada Ibunya, "Maaf, Ibu. Aku hanya… sedang ada pikiran sedikit—tidak apa-apa," tersenyum sekali lagi, ia mengarahkan sesumpit makanannya, pada mulutnya, "Dan masakan Ibu enak sekali. Beneran."
Namun jelas, seorang Ibu tak akan mudah diperdayai oleh anaknya sendiri, "Jika ada masalah, kau bisa bercerita pada kami."
Sasori mengunyah dan menelan makanannya, sebelum menggeleng pelan, "Bukan apa-apa. Hanya masalah biasa perkara kuliah, kok."
Sembari mengambil lagi lauk yang ada di nampan di depannya, Naruto menyela, "Masalah kuliah apa yang dihadapi oleh mahasiswa pandai sepertimu, Sasori? Kalaupun ada masalah, pasti itu dari pacarmu, 'kan?"
Dan pemuda berambut pirang itu sukses mendapatkan satu death glare gratis dari Ibu dan Karin. Tapi Naruto sama sekali tidak menghiraukan, dan kembali memakan makannya dengan lahap.
"Ngomong-ngomong, kapan lagi kau ajak Hinata-chan kemari, Sasori?" tanya Karin pada Kakaknya, "Udah lama, lho, kami ga bertemu."
"Aku juga jarang bertemu dengannya, Karin," jawab Sasori sekenanya.
Karin menghela napas berat, sembari menggeleng-geleng pelan, "Kau jangan terlalu sibuk. Hubungan long distance yang tidak diimbangi dengan kontak yang teratur, bisa membuat hubungan kalian renggang, lho."
"Apa masalahnya denganmu?" celetuk Naruto lagi, "Yang menjalani Sasori kok, kenapa kau yang repot, sih—Ouch!" dan pemuda itu mengaduh sakit saat kaki Karin menginjak kaki Naruto, sekuat tenaga, di bawah meja.
Kushina menghela napas, kali ini, pun Sasori. Terkadang mereka tak habis pikir akan bagaimana caranya membuat Karin dan Naruto bisa akur barang sebentar saja tanpa saling menghina dan menyindir.
Pada akhirnya, Sasori memutuskan untuk melap mulutnya dengan tisu yang ada di meja. Lantas berdiri dan sedikit menganggukkan kepala, "Aku menikmati masakannya. Terimakasih."
"Sasori-kun? Tapi kau belum makan banyak, lho," ujar Kushina sembari menatap makanan yang masih tersisa di mangkuk Sasori.
"Aku sudah kenyang, Ibu," ujarnya, lantas berlalu dari ruang makan tersebut untuk kemudian mendaki tangga dan menuju ke arah kamarnya.
"Ada apa sih, dengannya?" gumam Kushina khawatir sembari menatap punggung putranya yang semakin menjauh.
"Apa dia benar-benar sedang bertengkar dengan Hinata-chan?" tanya Karin kepada Ibunya, "Tapi mereka 'kan, sudah bersama selama nyaris tiga tahun. Masak tidak bisa membiasakan diri?"
Kushina tampak termenung, namun sejenak kemudian, kedua bola matanya sedikit terbelalak. Menoleh ke arah Karin, sang Ibu bercetus pelan, "Apa jangan-jangan kali ini mereka bertengkar lebih parah? Apa kali ini Hinata-chan selingkuh?"
Mendengar dugaan sang Ibu, Karin tampak terkejut dan sedikit membuka mulutnya, "A-atau lebih parah, Sasori sudah menyukai wanita lain di kampusnya? Bisa jadi, 'kan, Bu? Fakultas Kedokteran 'kan, terkenal dengan para mahasiswinya yang cantik!"
"Tapi masak Sasori seperti itu, Karin-chan?" Kushina tak percaya, "Sasori anak yang baik—"
"Aduh Ibu! Siapa yang bisa menduga hati lelaki? Bilangnya saja setia, padahal kalau dapat barang lebih bagus saja pasti juga sudah lupa pada yang lama!"
Sementara sang Ibu dan si Anak tengah berdiskusi layaknya Ibu-Ibu kompleks yang menggosipkan tetangga mereka, Naruto hanya terdiam.
Namun kali ini, pemuda itu tidak menghabiskan makanannya dengan lahap. Ia hanya mengunyah pelan, sembari tatapan matanya tampak merenung ke arah meja di depannya.
Dalam benaknya, ia merasa penasaran sekaligus khawatir akan apakah sikap Sasori malam ini ada hubungannya dengan janji yang dibuat Kakaknya tersebut untuk mengatasi permasalahan sekolahnya.
-oOo-
Sebuah buku terpegang di tangannya. Ia berada di atas ranjangnya, dengan punggung yang ia sandarkan pada punggung ranjang. Kedua matanya tampak mengamati kata demi kata yang ada di buku itu, namun setelah beberapa menit, tiada satu pun hal yang tercerna di otaknya. Tidak, Sasori bukanlah orang lamban dalam berpikir dan mencerna informasi. Hanya saja, sekarang ia rasa bahwa ia tidak bisa memaksa otaknya untuk berpikir hal lain, termasuk belajar, selain akan bagaimana hari esok harus diawali dan diakhirinya.
Apa yang harus ia lakukan, katakan, dan perbuat, saat besok ia kembali bertemu dengan gadis berambut pink tersebut?!
Sasori menyipitkan kedua matanya sembari kedua tangannya, menggenggam buku itu dengan sedikit lebih keras.
Setiap ia teringat pada gadis itu, ia tidak bisa menahan rasa jengkel dan kesalnya. Ia belum bisa memaafkan gadis tersebut—tak peduli jika gadis itu sudah meminta maaf dan juga, sudah tersakiti pula oleh kata-kata dan sikapnya di kampus waktu itu. Tapi Sasori pikir bahwa gadis manja itu pantas mendapatkannya. Seorang gadis yang tidak tahu tata krama, tidak kenal sopan santun seperti dirinya, membuat Sasori merasa kesal dan seharusnya, tidak ingin mencari urusan apapun lagi dengannya.
Dan ironisnya, gadis itulah yang mulai besok, Sasori akan bekerja padanya! Sasori harus melindunginya—entah bagaimana caranya!
Menggeram, pemuda itu meletakkan dengan kasar bukunya ke sisi ranjangnya, lantas mengacak-acak rambut merahnya. Ia merasa begitu kesal, sekaligus ia merasa begitu putus asa ketika rasanya, tidak ada pilihan lain yang tersedia baginya.
Menahan ego dan perasaan kesalnya pada si gadis, atau membiarkan Naruto benar-benar terancam untuk dikeluarkan dari sekolah?
Apalagi sebentar lagi adiknya tersebut akan lulus…
Andaikan bukan karena Naruto… Andaikan pula bukan karena Tuan Kizashi yang sangat baik dan pengertian padanya….
Pikiran Sasori terhenti oleh ketukan di pintu kamarnya. Menghela napas, pemuda itu mencoba menenangkan dirinya, "Masuk."
Dan tampaklah Naruto yang berada dari balik pintu tersebut.
"Yo, Sasori," sapa Naruto pelan sembari menutup pintu kamar Kakaknya. Ia tersenyum kecil, nampak begitu ragu, "Apakah sudah menjadi hobimu untuk belajar sebelum tidur?" kedua mata birunya memandang satu buku tebal yang berada di sisi ranjang Kakaknya.
"Tidak juga," jawab Sasori sekenanya. Ia tidak sedang berada dalam mood untuk berbincang dengan siapapun, termasuk adiknya sendiri.
Mendudukkan diri di ujung ranjang Sasori, Naruto kembali tersenyum kecil, "Tak heran, ya, jika kau mendapat gelar Mahasiswa Berprestasi di tahun ini. Aku sebagai adikmu, turut bangga, lho."
Sang Kakak hanya tersenyum kecil sebagai responnya.
"Kau pintar, tidak sia-sia Ibu bekerja keras dalam membiayai kuliahmu…," suara itu memelan, bersamaan dengan pandangan Naruto yang teralihkan pada lantai di bawah kakinya. Pemuda itu tampak menelan ludahnya, sebelum kembali bersuara lirih, "Tidak seperti aku yang tukang bolos dan selalu mendapat remidial di tiap ulangan."
"… Kau hanya malas. Belajarlah lebih giat," ujar Sasori setelah terdiam beberapa lama, "Dan juga, menurutku nilai seorang manusia tidak hanya dilihat dari kualitas IQ mereka."
Suasana menghening sejenak. Sasori hanya menatap heran ke arah adiknya yang kini terdiam sembari menunduk. Tidak biasanya Naruto akan seperti ini. Pasti ada yang tengah menganggu pikiran adiknya tersebut hingga kehilangan sikap cerewetnya seperti itu. Dan yang lebih membuat Sasori yakin bahwa ada yang salah adalah, tidak biasanya Naruto akan datang ke kamarnya hanya untuk duduk dan ngobrol dengannya—tidak untuk melihat-lihat, menyentuh, dan mengomentari benda-benda di kamar Kakaknya tersebut.
"Dengar…" pada akhirnya, Naruto berucap, "Aku tahu aku telah bercerita padamu akan semua… masalah sekolahku. Tapi itu bukan berarti bahwa aku meminta atau memaksamu untuk mencarikan solusi untukku," ujar Naruto pada akhirnya.
Mendengarnya, Sasori seketika tahu kemana pembicaraan ini akan mengarah.
"Aku Kakakmu, jadi, tidak masalah jika kau bercerita padaku," tukas Sasori, "Lagipula wajar jika aku, sebagai anak tertua, membantu Ibu dalam membahagikan adik-adikku."
Naruto menggeleng, "Tapi kau juga masih kuliah dan belum bekerja, Sasori—"
"Itu bukan kewajibanmu untuk memikirkan bagaimana aku akan membantumu," sela Sasori, "Dengar, apapun yang terjadi, jangan beritahu Ibu perkara hal ini, kau paham?"
"Aku memang belum memberitahu Beliau. Aku selama ini selalu bilang bahwa aku mendapat bantuan dari salah temanku untuk membiayai sekolahku," Naruto menghela napas berat, "Kau tahu… Kupikir, Ibu sudah cukup bingung dengan biaya kuliahmu dan sekolah Karin."
Sasori mengangguk kecil, "Kita biarkan Ibu tidak tahu akan semua ini."
Kembali terdengar helaan napas berat dari Naruto. Namun kali ini, pemuda itu mendongak dan kemudian menatap kedua ebony dari sang Kakak. Di saat itulah, Sasori melihat adanya raut lelah dan putus asa baik dari pandangan ataupun ekspresi adiknya, "Sasori, tidak bisakah kau biarkan semua saja?" cetus Naruto lelah, "Aku tidak berguna. Aku bukan sepertimu yang pandai, dan oleh sebab itu, wajib dipertahankan pendidikannya. Aku suka membolos, nilai ulanganku tidak pernah bagus. Aku tidak sepertimu dan Karin dan oleh sebab itu, biarkan saja aku berhenti dan bekerja—"
"Tidak akan," ujar Sasori tegas, membuat Naruto terdiam seketika dan menatap terkejut ke arah Kakaknya, "Jika kau berniat bekerja, kenapa tidak dari awal kau lakukan? Kenapa tidak dari kau lulus SMP? Kau hendak menyia-nyiakan keringat Ibu agar bisa membiayai sekolahmu?"
"Sasori—"
"Kau memang bodoh dalam hal sekolah, Naruto. Lantas kini apakah kau mau lebih menyakiti Ibu lagi dengan membuat harapan dan usahanya untukmu, terputus saat kau sebentar lagi, lulus sekolah?"
Naruto terdiam dan mengalihkan pandangannya dari kedua mata Kakaknya yang memandang tegas ke arahnya.
"… Selama ini kau tidak begitu menuai prestasi di sekolah. Setidaknya, buatlah Ibu bangga dengan bertahan dan lulus sebentar lagi, Naruto."
Ketika masih tidak terdengar respon dari sang adik, Sasori hanya menghela napas pelan lantas kembali berujar, "Pembicaraan ini sudah tidak ada gunanya. Aku tetap akan mencarikan cara agar kau tetap sekolah. Dan akan kubunuh kau jika setelah inipun, kau gagal untuk lulus dari sekolah."
'Karena demi dirimu, aku akan merendahkan egoku untuk menemui satu orang yang aku sebenarnya tidak ingin lagi berurusan apapun dengannya.'
"Sudah malam. Kembalilah ke kamarmu, Naruto. Tidakkah besok kau ada kelas intensif untuk ujian?"
-oOo-
Balesan Review~ (Baru kali ini ngebales #ngek)
Uchiha Itaara: Iya, sorry telat update. Suka SasoHina-nya? Wah, padahal SasoYukeh lebih oke lho #NO! Oke, makasih ya :)
dina sasosaku: Bisa ga ya Sakura tabah? Yang harusnya tabah itu Hinata :'D Hahaha. Thanks :*
Eysha 'CherryBlossom: Iyakah? Hehe. Thank you :* Ini udah update~
mimi terumi: At least, Sasuke ada yang ngefans di fic ini hehe :p Oke, thanks!
Bang ari: Ga usah deg2an, woi, kayak menanti keputusan Presiden untuk perang ama Australia atau engga aja #ngek #plak Oke, makasih :D
kiki: Amin (?). Makasih~
Zoccshan: Ga usah curhat disini, okay? #lempar. Haha, jadi bapak idaman. Biasanya kan suami idaman, ini bapak idaman -_- Aku bikin nyakitin banget, ampe ntar aku tulis warning ._.v Iya, ini fic panjang kok chapnya #tepar ngetik. Makasih Mbok Jo~
shawol21bangs: Makasih, makasih. Ini si heboh Sakura dah nongol di chapter ini~ :D Makasih~
Thank you and review~ :*
