A/N:
Di cerita ini Hinata punya dua nama,
Nama sebelum ingatannya kembali dan sebelum Naruto menyadari kalau dia Hinata = Yuuki
Nama sesudah ingatannya kembali dan sesudah Naruto menyadari kalau dia adalah Hinata = Hyuuga Hinata
Jadi, kalau Kaze tulis nama Yuuki di chapter ini dan chapter selanjutnya berarti sama saja dengan Hinata.
Disini juga ada tokoh bernama Murasaki Hitomi, ibunya Hinata. Itu tokoh fiksi yang Kaze buat sendiri.
.
.
Harus mempersiapkan hati. Saat ini ia sedang bersiap untuk menemui Naruto. Seseorang yang ia duga tahu akan segalanya tentangnya. Setelah sekelebat ingatan itu muncul, Yuuki jadi semakin yakin kalau yang dikatakan Naruto benar. Ia harus bertemu pemuda itu. Atau, pertama-tama ia ke kedai ramen dulu? Selain mengucapkan terimakasih, sepertinya pemilik kedai kenal dekat dengan wanita yang ada di foto itu. Wanita yang hadir dalam ingatannya sebagai ibunya.
'Yosh, ganbare!' ucapnya dalam hati seraya meninggalkan rumah pemilik kedai ramen.
NARUTO FANFICTION
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning: TYPO and OOC
Pairing: NaruHina
goGatsu no kaze present
-DECEMBER-
Based from Disney Movie: Anastasia
"Dear God" Avenged Sevenfold - play
Pemuda bersurai blonde itu keluar motel dengan langkah tergesa-gesa. Matanya secara liar mencari dimana sosok Yuuki berada. Nihil. Ia tak menemukan gadis itu sejauh mata memandang. Apa Yuuki sudah meninggalkan kota ini? Tapi sepertinya tidak. Ia tidak membawa barang-barangnya. Jadi tak mungkin ia bisa pergi jauh.
Mata sapphirenya langsung tertuju ke kedai ramen. Walaupun belum buka, tapi sepertinya pemiliknya telah tiba. Itu terlihat dari kepulan asap yang berasal dari atapnya. Kakinya langsung bergerak menuju kedai tersebut. Entah mengapa ia memiliki firasat yang kuat bahwa pemilik kedai itu mengetahui sesuatu. Terutama tentang Yuuki.
"Summimasen," ucapnya seraya mengetuk pintu. Belum ada jawaban. Ia lalu memanggil lebih keras lagi, "Summimasen!"
Tak berapa lama kemudian terdengar suara kunci pintu yang sedang dibuka dari dalam. Pintu itu bergeser dan menampilkan sosok seorang wanita berapron yang tangannya kotor karena tepung, "Maaf, Tuan. Kedai kami buka dua jam lagi," ucapnya seraya kembali menutup pintu.
Namun Naruto menahannya agar tidak tertutup, "Chottomatte! Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan," tatapannya sungguh membuat orang merasa kasihan.
Menghela nafas sejenak, wanita berapron yang ternyata Ayame itu kembali membuka pintu yang sudah tertutup sebagian. Sebenarnya sudah tertutup sempurna jika saja pemuda didepannya ini tidak menahannya, "Baiklah, silahkan masuk."
Naruto lalu melangkah masuk, disusul dengan Kiba yang ternyata dari tadi dibelakangnya. Sebenarnya ia juga tidak mau bertanya di kedai ini karena merepotkan sang pemilik yang ternyata sedang sibuk mempersiapkan bahan-bahan hidangan untuk nanti. Naruto dan Kiba mengambil posisi duduk di salah satu sudut kedai yang paling dekat dengan dapur kedai tersebut.
Kedai itu bernuansa Jepang tradisional. Semua benda disini rata-rata terbuat dari kayu. Aroma ramen terasa sangat kuat menggoda siapa saja yang menghirupnya. Terutama perut-perut setiap orang yang lapar. Seperti Naruto dan Kiba. Tapi mereka harus fokus. Ini menyangkut keselamatan Yuuki.
"Ah, kau pemuda yang kemarin!" seru seorang pria yang baru saja keluar dari arah dapur.
"Yo, Teuchi-ojisan!" Kiba membalas sapaannya.
"Tou-san, para pemuda ini ingin menanyakan sesuatu. Sepertinya ingin bertanya padamu," ucap Ayame seraya membersihkan tepung yang menempel di tangannya. "Kalau begitu, aku kembali ke dapur dulu," Ayame pun meninggalkan mereka bertiga disana.
"Jadi," Teuchi mengambil posisi duduk di depan Naruto dan Kiba,"apa yang bisa aku bantu?"
Naruto menoleh ke arah Kiba sejenak, "Oji-san, apa kau pernah melihat seorang gadis dengan warna mata lain dari pada yang lain? Berwarna seperti batu amethyst," jelas pria bermata sapphire itu.
"Barmata amethyst?" gumam Teuchi sambil memasang gaya khas berpikir. "Sepertinya pernah. Mata seperti itu memang jarang. Makanya aku mengingatnya," jawabnya.
Harapan Naruto melambung. Semangatnya jadi meningkat. Mudah-mudahan saja paman ini benar-benar pernah bertemu Hinata –eh- Yuuki, maksudnya. "Oji-san pernah bertemu dengannya dimana? Gadis itu memiliki warna rambut indigo," Naruto mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya, "Seperti ini," ia menyerahkan foto itu pada Teuchi.
Teuchi tersentak kaget, matanya sedikit melebar, "Hi..Hitomi-sama!" pekiknya.
"Oji-san mengenalnya?" tanya Kiba. Dia yang dari tadi diam ikut jadi tidak sabar mendengar penjelasan dari Teuchi.
Teuchi menggangguk penuh semangat. Ia tersenyum lebar dan berkata, "Aku sangat mengenalnya. Hitomi-sama adalah penolong keluarga kami," ia mengembalikan foto tersebut pada Naruto. "Lalu, apa hubungan gadis ini dengan Hitomi-sama?"
Naruto memandang foto itu. Memandangi gadis kecil yang ada di gandengan wanita yang ada di foto, "Ini baru dugaan. Tapi aku yakin dia adalah anak Hitomi-sama yang hilang empat belas tahun yang lalu," ucapnya pelan.
Teuchi setengah tak percaya. Pasalnya, Hitomi yang ia kenal hanya memiliki seorang putri. Tidak ada berita lain mengenai putri yang hilang atau semacamnya. Tiba-tiba ia jadi teringat dengan gadis yang sedang menginap dirumahnya kini. Gadis itu sangat mirip dengan wanita penolongnya. Bahkan ketika pertama kali melihatnya, ia juga menganggap kalau gadis itu adalah Hitomi.
"Begini, Oji-san. Kami kehilangan gadis itu padahal hari ini gadis itu ingin kami pertemukan dengan ibunya," kata Kiba menggantikan Naruto yang kini pikirannya melayang entah kemana.
"Aku tahu dimana gadis itu berada," ucap Teuchi seraya tersenyum.
Perkataan itu sontak membuat kepala Naruto kembali tegak dengan senyuman menghias wajahnya, "Honto?"
Teuchi mengangguk, "Gadis itu semalam disini. Sekarang dia berada dirumahku."
Entah harus melompat kegirangan atau harus memeluk paman yang ada di hadapannya ini dengan erat. Perasaan Naruto saat ini tak bisa digambarkan. Percampuran antara rasa senang, gembira, lega, bahagia, semuanya jadi satu. Ia hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa. Sementara Kiba, ia juga turut senang walaupun tak sesenang teman yang ada disampingnya ini.
"Arigato, Oji-san. Hontoni, arigato," itulah kata pertama yang berhasil meluncur dimulut Naruto.
"Kalian bisa menunggunya disini. Aku bisa pastikan kalau gadis itu kesini nanti," Teuchi lalu bangun dan bersiap kembali ke dapur. Namun, ketika melihat ke luar toko dari pintu yang belum tertutup sempurna itu, ia berkata, "Bukankah itu gadis yang kalian maksud?" jarinya menunjuk ke arah luar.
Naruto dan Kiba langsung melihat ke arah yang ditunjuk Teuchi. Benar saja, itu Yuuki. Pakaiannya masih yang ia kenakan kemarin. Namun rambutnya sekarang berponytail. Gadis itu tampak menuju kearah mereka, ke kedai ramen. Ia sedang berada di seberang jalan dan bersiap untuk menyebrang. Namun ketika ia baru melangkahkan kaki untuk menyebrang, ada tiga orang berpakaian hitam yang dengan paksa menyeretnya masuk ke dalam mobil.
"Hinata-sama!" teriak Naruto seraya berdiri dari bangkunya.
-DECEMBER-
Yuuki sangat takut. Sebenarnya apa yang ia perbuat hingga dibawa paksa seperti ini? Padahal sebentar lagi ia sampai di kedai. Tinggal beberapa langkah lagi. Mengapa orang-orang berwajah menakutkan yang kini mengapit dirinya melakukan ini? Bahkan Yuuki belum lama ada di Kiri.
Ia melihat orang berpakaian hitam disebelah kirinya sedang menghubungi seseorang. Dilihat dari segi apapun ia tak mungkin bisa kabur. Orang-orang ini tampaknya sangat profesional dan sering melakukan tindak kejahatan. Yuuki harus hati-hati. Bisa-bisa nyawanya melayang sia-sia. Kami-sama, cobaan apalagi yang Kau berikan?
"Moshi-moshi, Orochimaru-sama. Gadis ini sudah ada ditangan kami," ucap pria berambut orange di sebelah kiri Yuuki.
Sementara orang yang disebelah kiri menelepon, orang yang disebelah kanannya justru terus-terusan memandangi Yuuki tanpa henti seraya mengeluarkan senyuman mesumnya. Walaupun orang di kanannya ini tampak lebih tidak menakutkan dibanding yang sebelah kirinya. Yuuki merasa lebih aman berada bersama orang yang di sebelah kirinya. Setidaknya orang di sebelah kirinya itu tidak mesum.
"Hai', kami akan segera kesana," kata orang di sebelah kiri Yuuki mengakhiri percakapannya dengan seseorang di telepon. Orang itu lalu menoleh ke arah Yuuki. Wajah stoicnya menyiratkan kalau ia jengah berada di dekat Yuuki dan ingin segera menyerahkan gadis itu ke orang lain.
"A..ano.." ucap Yuuki takut.
"Ada apa, Nona?" tanya pria yang ada disebelah kanannya.
"A..ano. A..apa yang a..aku lakukan sehingga a..aku diculik seperti ini?" sebisa mungkin Yuuki tidak menyulut kemarahan kedua orang yang mengapitnya.
Pria di sebelah kanannya itu tersenyum. Bukan senyuman mesum, melainkan senyuman licik yang membuat Yuuki bergidik takut, "Siapa yang tahu?" jawabnya asal.
Itu bukan jawaban yang diharapkan Yuuki. Apa ini semua ada hubungannya dengan wanita yang ia duga sebagai ibunya? Apakah pria-pria ini juga salah menduga kalau ia adalah Hitomi? Seperti paman pemilik kedai yang juga salah mengenalinya. Entah apa yang mereka pikirkan, Yuuki juga tidak tahu.
Mobil itu berbelok ke suatu tempat yang sama sekali belum Yuuki kenal. Sepertinya mereka mengarah ke sebuah mansion yang ukurannya sangat besar. Mansion itu terlihat sudah berumur lebih dari seabad namun tetap terjaga kebersihan dan kerapihannya. Yuuki sempat terpesona. Ia seakan diajak ke abad tujuh belas dimana para pendatang asing baru membuat pemukiman di negara ini.
"Tugas kami hanya untuk mengantarmu," ucap pria berambut orange yang dari tadi mengabaikannya.
"Dan sepertinya sudah hampir selesai," timpal si pemilik senyuman mesum. "Setelah ini, kau akan dibawa kepala pelayan untuk menemui orang yang sebenarnya ingin bertemu denganmu," lanjutnya.
Yuuki hanya bisa berdoa dalam hati. Ia berdoa agar tak terjadi sesuatu pada dirinya. Ia berharap agar ada yang menolongnya. Ia benar-benar takut. Apakah hidupnya akan berakhir di tempat ini? Tak ada yang tahu selain Kami-sama.
-DECEMBER-
"Hinata-sama!" teriak Naruto reflek. Tanpa sadar ia memanggil Yuuki dengan nama Hinata. Ia langsung berdiri sehingga membuat bangku yang ia duduki terjungkal. Kakinya langsung berlari ke arah Yuuki diculik oleh pria berpakaian hitam itu. Namun sia-sia, mereka sudah pergi ketika Naruto tiba.
Dengan kesal ia mengepalkan kedua tangannya. Lututnya terasa lemas hingga kini ia hanya bisa berjongkok. Ia menjambak surai blondenya dengan frustrasi. Gadis yang baru ia temukan kini hilang lagi. Dan kali ini adalah salahnya. Salahnya!
Kiba akhirnya tiba di pinggir jalan tersebut beberapa saat kemudian, "Kuso! Siapa mereka?" ucapnya dengan nafas tersengal karena berlari. Ia menoleh ke arah Naruto yang saat ini sedang merutuki nasibnya. "Apa kau akan terus berjongkok disitu tanpa berbuat apapun? Hey Baka! Kemungkinan besar Yuuki dalam bahaya! Bukan saatnya mengutuki diri," jelas Kiba kesal dengan kelakuan Naruto.
Naruto langsung tersadar. Ia langsung bangun dan memikirkan sesuatu. Tapi karena pikirannya yang runyam, ia tak mendapatkan satu solusi pun. Ia menggeram penuh emosi dan mengusap matanya dengan kasar.
"Sebaiknya kita kembali ke kedai," ajak Kiba. "Kita tanya Teuchi-ojisan yang telah lama berada di kota ini," lanjutnya.
Naruto menatap Kiba dengan kagum. Ternyata temannya yang satu ini bisa sangat berguna. Apalagi disaat dirinya sedang emosi. Kadang-kadang Kiba bisa jadi sangat pintar. Walaupun dalam kesehariannya ia sangat bodoh dan menyebalkan. Itulah pendapat pemuda yang memiliki tiga guratan kembar di masing-masing pipinya ini.
"Kenapa gadis itu dibawa oleh mereka?" tanya Teuchi ketika Naruto dan Kiba kembali ke kedainya.
"Entah," jawab Naruto.
Kiba kembali menatap Naruto yang memang benar-benar depresi melihat Yuuki diculik dihadapannya sendiri, "Oji-san, apa kau mengenali pria-pria tadi?" tanya Kiba.
"Tidak," jawabnya. "Tapi aku tahu dengan orang yang kemungkinan mengenal mereka," lanjutnya seraya berjalan ke arah dapur. Beberapa saat kemudia ia muncul dengan sehelai kertas kecil ditangannya, "Pergilah ke alamat ini. Kau akan menemukan mereka," katanya seraya menyerahkan kertas itu pada Kiba.
Alis mata Kiba bertaut. Bukan tidak percaya, namun ia takut kalau orang yang Teuchi maksud sama berbahayanya dengan yang menculik Yuuki.
"Tenang saja. Mereka adalah orang-orang Hitomi-sama. Mereka juga melindungi kota ini dari mafia luar," ucap Teuchi yang sepertinya mengerti dengan arti dari raut muka yang ditunjukkan Kiba.
Naruto membaca tulisan di kertas yang ada di tangan Kiba itu, "Akatsuki," gumamnya.
-DECEMBER-
Yuuki dibawa oleh kedua orang itu ke ruang tamu. Setelah itu kedua orang tersebut meninggalkan Yuuki disana sementara mereka menuju lantai dua. Mata amethystnya memandangi suasana di seluruh ruangan. Ternyata ruangan di dalamnya tak semenakutkan bagian luar. Ruangan ini terasa hangat, bukan karena pemanas ruangan, namun karena penataan yang ditata apik dan nyaman. Cocok ditempati oleh keluarga bahagia.
Ketika sedang menikmati keindahan ruangan itu, Yuuki dikejutkan oleh sesosok pemuda tinggi dan tampan dihadapannya. Pemuda yang kelihatannya seumuran dengan Naruto itu menatapnya datar. Rambut ravennya serta warna mata yang hitam pekat menambah aura misterius terpancar dari tubuh pemuda itu.
"Ikut aku," ucap pemuda itu singkat.
Yuuki menurut saja dengan perintah pemuda tersebut. Mungkin ia adalah kepala pelayan dari rumah ini seperti yang dikatakan orang yang membawanya kesini. Mereka berdua terdiam karena memang tak ada bahan yang harus mereka perbincangkan. Yuuki dibawa menuju lantai dua dimana dua orang yang tadi membawanya berada.
Pemuda itu mengetuk pintu, "Orochimaru-sama, ini aku. Sasuke," ucapnya. Ia lalu membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari dalam ruangan.
Yuuki menahan nafasnya. Tubuhnya dipenuhi keringat dingin. Ia sangat takut. Siapapun bisa menebaknya hanya dengan melihat ekspresi wajahnya. Dengan kaki yang gemetar, ia melangkah masuk mengekor si pemuda yang menyebutkan bahwa dirinya bernama Sasuke.
Tubuhnya merasa tak bisa digerakkan ketika mendapat tatapan dari orang di depannya. Orang yang sebenarnya ingin bertemu dengannya. Dalang dibalik penculikannya. Tapi, siapa dia? Yuuki tak mengenalnya sama sekali.
Orochimaru tersenyum, senyuman yang bisa membuat orang merinding tentunya, "Selamat datang di kediamanku, Hyuuga Hinata," ucapnya. Ia bangun dari tempatnya duduk dan menghampiri Yuuki yang ada di belakang Sasuke.
"Hyu..Hyuuga Hinata?" ucapnya ketakutan. Semakin Orochimaru mendekat, degup jantungnya semakin bertambah. Pria yang sedang menghampirinya ini bagaikan mimpi buruk di siang hari.
"Lupa ingatan, eh? Bagus sekali," katanya lagi seraya terawa terbahak-bahak. Wajahnya lalu mendekat ke Yuuki, "Kau mirip sekali dengan wanita jalang itu. Terlalu mirip hingga aku ingin menghancurkan wajahmu," lanjutnya sambil membelai pipi Yuuki dengan kasar lalu mengempaskannya kembali.
Yuuki seperti terjun dari bukit dengan ketinggian seribu meter. Sangat takut hingga ia ingin pingsan sekarang juga. Tubuhnya sangat kaku, lidahnya pun kelu. Setelah mendengar pernyataan yang dilontarkan Orochimaru. Dari situ saja ia sudah bisa menilai. Orochimaru ingin bertemu dengannya bukan dengan alasan yang baik.
-DECEMBER-
Naruto dan Kiba berada di depan sebuah bar dengan nuansa western yang begitu kentara. Di depan bar tersebut bertuliskan kata 'Killer!' seperti yang tertulis di kertas yang Teuchi berikan. Sebenarnya mereka berdua merasa ragu untuk masuk ke dalam. Nama barnya saja 'killer', bukankah kalau dalam bahasanya berarti pembunuh?
Namun mereka mengesampingkan rasa takut itu. Dengan tekad yang bulat, mereka masuk ke dalam bar tersebut. Ternyata benar, bar itu berisikan orang-orang dengan muka yang tidak bisa dibilang ramah. Mereka berwajah seperti pembunuh, seperti nama bar ini. Naruto menelan ludahnya, untuk mengurangi rasa gugup. Ia pun berjalan menuju sang pemilik kedai yang berada tak jauh dari pintu masuk.
Tidak hanya para pengunjungnya, pemiliknya pun membuat Naruto dan Kiba bergidik. Pria dihadapan mereka itu memiliki tubuh besar berotot dengan tinggi seratus delapan puluh senti dan memiliki tato bergambar seperti tanduk kembar di pipi sebelah kirinya serta tato bertuliskan tetsu di lengan kanannya yang terekspos karena ia mengenakan baju tanpa lengan.
"Summimasen," ucap Naruto.
Pemilik itu sepertinya sedang mendengarkan musik dari radio yang ada di atas meja bar. Mulutnya mengikuti irama tersebut. Irama cepat yang tidak biasanya orang kuasai. Namun, ia mendengar suara Naruto. Dengan langkah santainya ia menghampiri Naruto yang hanya dibatasi oleh meja bar.
"Yo, ada apa, yo? Apa aku bisa membantumu, oh yeah?" ucap pria itu dengan nada rap yang ia buat sendiri.
Naruto dan Kiba menautkan kedua alisnya. Satu kata untuk paman di depannya ini. Aneh. Mereka kira yang aneh hanya penampilannya saja, namun kepribadiannya juga aneh. Tapi itu patut disyukuri, setidaknya mereka tidak bertemu dengan orang yang haus darah.
"Ano, aku ingin mencari Akatsuki," Naruto menyerahkan kertas kecil pemberian Teuchi pada pria di depannya tersebut. "Ini diberikan oleh paman pemilik kedai ramen di perbatasan Kiri," lanjutnya.
Pria itu membaca kertas yang kini ada ditangannya, "Yo, ini dari Teuchi-ojisan, yo! Aku mengenalnya, yeah! Kau ingin mencari Akatsuki, mereka biasanya ada ditempat ini. Mereka mungkin akan kesini sebentar lagi, oh yeah!" jelas pria itu. Lagi-lagi dengan nada rapnya.
"Arigato, Oji-san!" ucap Naruto seraya mengeluarkan cengiran khasnya.
"Killer Bee," kata pria tersebut sambil menyodorkan tangannya yang mengepal ke arah Naruto.
Naruto yang langsung mengerti membalas 'salam tinju' yang ditujukan padanya, "Namikaze Naruto. Yoroshiku!"
"Yo, Bee-san!" sapa seorang pengunjung yang baru saja datang secara tiba-tiba. Ia mengenakan setelan berwarna putih dengan kemeja berwarna hitam. Pria dengan rambut hitam pendek itu melambai riang kearah Bee. Dibelakangnya diikuti oleh sepuluh orang berpakaian sama. Diantara mereka ada seorang wanita.
"Yo, Obito!" sapa Bee kembali. Ia lalu berkata pada Naruto, "Merekalah Akatsuki," ucapnya.
Naruto menoleh ke belakang. Di meja pengunjung di salah satu sudut bar tersebut berkumpulah sebelas orang dengan pakaian yang sama namun dengan gaya yang berbeda tiap orangnya. Sepertinya mereka memang pelanggan tetap disini. Akatsuki terlihat seperti perkumpulan para eksekutif muda yang sedang istirahat makan siang. Naruto mengira-ngira kalau umur mereka tidak ada yang mencapai tiga puluh tahun.
"Obito, kemarilah sebentar," panggil Bee.
Pria bermata hitam itu menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. Setelah melihat Bee mengangguk, ia berdiri meninggalkan meja dan menghampiri Bee, "Nani, Bee-san?"
Pria yang bernama Obito ini kelihatannya sangat baik. Wajahnya menunjukkan rasa persahabatan yang tinggi. Naruto dan Kiba tak merasa takut di dekatnya.
"Anak ini ingin bertemu dengan kalian, Akatsuki," Bee menunjuk ke arah Naruto dan Kiba.
Obito menoleh ke dua pemuda yang ada di sebelah kanannya. Raut wajahnya berubah serius, "Ada apa?" tanyanya pada Naruto dan Kiba.
Naruto lalu bergegas mengeluarkan foto yang tadi ia perlihatkan pada Teuchi, ia menyerahkan foto itu ke Obito, "Kalian kenal orang yang ada di dalam foto ini?"
Obito memperhatikan foto tersebut. Setelahnya ia melihat ke arah Naruto lagi, "Ya. Aku sangat mengenalnya. Kenapa?"
"Coba perhatikan gadis kecil dalam gandengannya," pinta Naruto. Ia melihat kalau Obito sekali lagi melihat foto itu, "Gadis itu adalah putri Hitomi-sama yang hilang."
Mata hitam Obito sedikit melebar. Ia terkejut karena Naruto ternyata juga kenal dengan Hitomi, "Apa hubunganmu dengan Hitomi-sama sehingga kau mengenalnya?"
Naruto menghela nafas sejenak, "Aku dulu pernah bekerja di kediamannya ketika Hitomi-sama masih tinggal di Konoha," jelas Naruto. Ia jadi teringat hal yang lebih penting dari ini, "Sebenarnya ada hal lain yang lebih penting yang harus aku tanyakan padamu, pada Akatsuki. Perkenalan diriku bisa ditunda."
"Apa yang membuatmu begitu terburu-buru," ucap seseorang yang ada di belakang Kiba. Pria berambut merah marun itu nampak penasaran hingga datang menghampiri mereka.
"Gadis yang ada di foto itu diculik beberapa saat yang lalu di depan kedai ramen di perbatasan kota Kiri," jawab Naruto. "Sekarang nyawanya dalam bahaya. Bisakah kau membantuku untuk menyelamatkannya?"
"Apa untungnya buat kami? Bahkan kami tak mengenal gadis itu," ucap pria berambut merah marun itu lagi.
Tangannya sudah mengepal karena kesal. Namun tak terlihat karena ia letakkan di bawah meja, "Kau mengenal baik Hitomi-sama, 'kan? Kemungkinan besar gadis yang ada di foto itu adalah putrinya yang hilang empat belas tahun yang lalu. Bukankah tadi aku sudah mengatakannya?" ucap Naruto seraya memandang Obito. "Kita tidak bisa mengkonfirmasi ulang pada Hitomi-sama. Waktunya sangat mendesak. Nyawa gadis itu bisa melayang!" ucap Naruto dengan nada yang setengah oktaf lebih tinggi namun tanpa emosi yang berlebihan.
"Yo sabarlah, Naruto," ucap Bee, "Obito, Sasori, pemuda ini tak mungkin jauh-jauh dari Konoha hanya untuk alasan sepele, yo. Bagaimana kalau kalian pecah jadi dua tim, yo? Pemuda bergigi taring disebelahmu ini akan ikut sebagian dari kalian untuk mengkorfirmasi benar atau tidaknya informasi yang dia bawa. Dan Naruto, dia akan ikut sisanya untuk menyelamatkan gadis itu. Bagaimana, brother?"
Obito dan Sasori saling lihat. Namun tiba-tiba muncul satu lagi pria dari anggota Akatsuki. Sepertinya pria ini tampak lebih berkepala dingin dibandingkan dua orang sebelumnya. Pria ini memiliki rambut hitam panjang yang diikat kebelakang. Mata hitamnyalah yang membuat semua orang merasa terintimidasi jika melihatnya.
"Sepertinya ada masalah, Obito-nii," ucap pria itu.
"Ah, Itachi. Orang ini membawa kabar yang mengejutkan. Bahkan kita yang sudah bekerja lama dengan Hitomi-sama tidak pernah mendengar ini sama sekali," ucap Obito seraya menyerahkan foto yang tadi Naruto berkan kepada Itachi.
Itachi melihat foto itu sekilas, lalu mengarahkan pandangannya pada Naruto yang kini telah berdiri. "Jadi, apa yang bisa kami bantu?"
Sasori terlihat terganggu karena Itachi ingin membantu Naruto, "Hey Itachi, tidakkah sebaiknya kita menyelidiki asal-usul orang ini dulu?"
"Kelihatannya orang ini sedang terburu-buru. Bagaimana kalau kita mendengar apa yang ia inginkan? Lagi pula, tadi aku sudah mendengar saran dari Bee-san. Kurasa itu saran yang baik," pandangannya beralih dari Sasori lalu Naruto dan Kiba. "Bagaimana kalau bergerak dari sekarang? Aku akan bertanya semua tentangmu di jalan. Tapi sebelumnya bisakah kau ceritakan sedikit kejadian yang menimpamu?" ucap Itachi.
Naruto merasa berterimakasih dengan pria ini. akhirnya ada juga orang dari Akatsuki yang mau mendengarkannya, "Kau sudah lihat gadis kecil yang ada di foto itu? Gadis itu diculik sekarang. Aku tak tahu siapa penculiknya. Tapi aku tahu ciri-cirinya," Naruto menelan ludahnya, lalu melanjutkan lagi. "Mereka semua memakai pakaian serba hitam. Orang yang menarik gadis itu hingga ke dalam mobil ada dua. Seorang pria berambut orange dengan postur tubuh tinggi besar sedangkan yang satunya lagi memiliki rambut berwarna putih keabu-abuan dengan badan yang sedikit lebih kecil dari yang pertama. Apa kau mengetahui siapa mereka?"
Itachi memejamkan matanya sejenak, "Sepertinya aku mengenal mereka," ucapnya.
"Eh?" pekik Obito kaget, "Kau mengenalnya, Itachi?"
Itachi mengangguk singkat, "Ya. Itu adalah ciri-ciri dari teman-teman adikku. Sasuke."
"Eh!" mata Obito membelalak lebar. Sasori yang dari tadi memasang tampang stoic sepertinya juga ikut terpancing. Ia bahkan sempat menoleh kaget. Sementara Naruto dan Kiba, mereka berdua hanya saling berpandangan tanda tak tahu apa-apa.
-DECEMBER-
-To Be Continued-
Holla, minna!
Seminggu telah berlalu, apakah kangen dengan Kaze?
Ahaha, udah ngaku aja
Gomen, Kaze ga update tepat waktu. Pulsa modem abis, jadi apa mau dikata
Akhir-akhir ini Kaze nggak sempet buat fict karena banyak tugas yang harus Kaze kerjakan
Untuk updatean selanjutnya Kaze nggak bisa janji kapan bisa dipublish
Tapi kalo ada waktu luang, akan Kaze usahakan publish
Sekalian publish fanfict Kaze yang BARU!
*Kyaa! spoiler*
Ehem, gomen. Kaze kelepasan
Terimakasih untuk para reader yang telah setia menunggu updatean Kaze
Yosh, minna! Dukung terus Kaze supaya bisa menelurkan karya yang lebih baik dan bagus lagi!
Adios!
