Pandangan Arthur, Alfred, dan Matthew tampak kosong begitu mereka keluar dari gedung bioskop yang mereka kunjungi setelah Gilbert berhasil memaksa mereka menonton film yang bagi mereka bertiga, luar biasa jelek. Dibilang horror, tidak menakutkan. Komedi, tidak lucu. Drama, tidak jelas bagian mana yang menyentuh. Sebenarnya Gilbert bukan memaksa mereka tapi mereka sial, karena saat itu memang tidak ada pilihan. Hanya Gilbert saja yang masih cerah ceria sambil menghabiskan soft drink yang dibelinya.

"Ternyata penyiksaan yang membuat para hero menyerah di film-film itu bisa direalisasikan di dunia nyata" gumam Alfred setelah dia bisa menguasai diri. Arthur dan Matthew langsung mengangguk.

Gilbert tertawa. "Bagaimana? Film tragis komedi tadi?"

"Memang tragis" kata Arthur. "Karena membuat penontonnya ingin bunuh diri atau membunuh siapa pun yang membuatnya"

Gilbert semakin tertawa.

"Aku lapar…" kata Matthew, yang sejak tadi hanya diam, dengan pelan.

"Kita ke café Continent yuk!" usul Alfred yang disambut dengan anggukan teman-temannya. Mereka berjalan ke seberang gedung bioskop. Café continent adalah café remaja yang sangat terkenal di Inggris. Makanan mereka enak, harganya murah, tempatnya pun pun strategis. Satu-satunya kekurangannya adalah cafe itu hanya buka pada malam hari.

Seperti akhir minggu-akhir minggu biasanya, lapangan tersebut penuh dengan lautan manusia yang berlalu lalang. Karena badannya yang lumayan mungil, Arthur (-Author dirajam Arthur-) menjadi korban empuk untuk ditabrak sana-sini.

Gilbert menghela napas. "Dasar gak awesome!" gumamnya. "Sini!" dia pun menggenggam tangan Arthur dan menarik pemuda Inggris itu ke dekatnya supaya bisa melindunginya. Arthur hanya diam.

Matthew yang berada di belakang mereka hanya menatap mereka berdua dengan pandangan kosong.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alfred pelan.

Matthew tampak terkejut dan menatap kakaknya yang berjalan di sampingnya. Alfred hanya balas menatapnya dalam diam. Matthew menghela napas dan tersenyum.

"Seharusnya aku yang bertanya begitu" katanya. Tepat setelah itu, seseorang menabrak bahu Matthew lumayan keras hingga dia hampir saja terjungkal seandainya saja Alfred tidak segera menahannya. Dalam diam, Alfred menarik tangan Matthew dan melindunginya seperti yang dilakukan Gilbert pada Arthur.

"Aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun darimu. Kau terlalu pandai membaca orang" gumam Alfred. Matthew hanya tersenyum pada kakaknya itu.


"Mattie~!" pekik Gilbert yang masih bercucuran keringat sambil berlari menghampiri Matthew. Hari itu jadwal latihannya dan dia sudah melakukan latihan gaya Spartan gak awesome itu dengan komando langsung dari ayahnya.

"Kenapa kamu ada di sini?"tanya Gilbert heran, dadanya masih naik turun dan napasnya tersengal-sengal.

Matthew memandang pacarnya itu. "Nggak boleh ya?" katanya pelan.

"Bukan begitu, siapa yang memberitahumu kalau aku yang awesome ini ada di sini dan ada perlu apa kamu sama aku? Ada apa? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Gilbert dengan nada khawatir.

Matthew tersenyum, dalam hati dia senang mendapat perhatian Gilbert.

"Aku membuat ini untukmu" kata Matthew sambil menyodorkan kantong berisi dua kotak bekal yang dipegangnya. Gilbert menerimanya dengan bingung dan membukanya. Lalu dia memekik girang, berbagai cemilan yang tampak lezat berjubel di dua kotak itu, salah satunya adalah pancake berlapis sirup maple kesukaannya.

"Aku merasa bersalah saat aku tidak bisa memberimu kue cokelat yang kubuat karena kak Alfred menghabiskannya" jelas Matthew pelan. Matanya melirik ketakutan pada cewek-cewek dan cowok-cowok yang memandang mereka dengan kesal. "Jadi…kupikir aku bisa memberimu yang lain…"

Gilbert menyadari pandangan ketakutan Matthew pada para fansnya dan langsung memeluknya. "Kamu gak usah memikirkan orang-orang gak awesome itu" bisiknya di telinga Matthew. "Saat bersamaku, kau hanya boleh memikirkan aku yang awesome ini. Karena pacarmu itu aku, bukan mereka"

Sontak, wajah Matthew langsung merah padam mendengar perkataan Gilbert tadi.

Tiba-tiba terdengar teriakan menggema memanggil namanya.

"GIIILLLLLBBBBEEEERRRRTTTTTT! KAMU SEDANG APA DI SANA? KAMU HARUS BERLARI SATU PUTARAN LAGI!"

"Maaf, aku tinggal dulu" kata Gilbert yang dibalas anggukan oleh Matthew lalu berlari lagi ke lapangan. Ketika Gilbert hampir menyelesaikan satu putaran terakhirnya, ayah Gilbert menghampiri Matthew.

Matthew tersenyum dan membungkuk memberi hormat. "Selamat siang, om" katanya sopan.

Ayah Gilbert tersenyum. Pada dasarnya ayah Gilbert bukan orang yang jahat, dia tidak pernah bersikap buruk pada orang lain, apalagi pada teman anaknya. Dia hanya terlalu keras, itu saja.

"Apa itu?" tanyanya begitu melihat kotak yang dipegang Matthew.

"Ini bekal yang saya buat untuk Gilbert. Om mau coba?" tawar Matthew pada ayah Gilbert sambil menyodorkan kotak yang berisi makanan hasil buatannya. Ayah Gilbert mengambil schootel kornet keju dan memakannya dalam sekali suap.

"Enak sekali!" puji ayah Gilbert. "Ini schootel terenak yang pernah kumakan. Kamu benar-benar pandai memasak"

Matthew hanya tersenyum.

"Gilbert…sudah berlatih sepak bola sejak kecil, ya?" tanya Matthew pelan.

Ayah Gilbert mengangguk. "Dia memang sudah kupersiapkan untuk jadi pemain professional sejak kecil. Maklum, dia anak tertua"

"Apa hanya karena itu?" tanya Matthew lagi. "Apa hanya karena dia anak tertua?"

"Tidak, bukan hanya itu" jawab ayah Gilbert. "Aku tidak akan memaksanya seperti ini jika dia tidak punya bakat. Sejak kecil Gilbert sudah menunjukkan semua persyaratan untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat. Larinya cepat, tembakannya tajam, skill-nya bagus, ahli strategi di lapangan dan postur tubuhnya pun mendukung. Dan yang terpenting, berbeda dengan Ludwig maupun Antonio…dia suka olahraga"

Matthew tersenyum mendengarnya. Sejak dulu, memang Gilbert tidak menyukai pelajaran-pelajaran yang mengharuskannya memakai otak. Baginya pelajaran-pelajaran itu 'gak awesome'.

"Dia dilahirkan untuk menjadi pemain sepak bola"tambah ayahnya Gilbert sambil menatap Gilbert yang tengah berlari. Matthew melihat kalau itu adalah pandangan yang penuh dengan harapan dan impian.

Ayah Gilbert lalu menoleh ke arah Matthew dan tersenyum. "Jadi kamu harus mendukungnya juga. Datang ke pertandingannya minggu depan. Pokoknya kamu harus meyakinkannya agar dia menang!"

"Saya pasti mendukungnya, om!" kata Matthew sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada Gilbert. "Saya akan selalu mendukungnya. Saya akan meminta dia agar dia memberikan permainannya yang terbaik"

Ayah Gilbert tersenyum senang.

"Dan agar dia bermain lepas, tanpa beban dan tekanan apa pun" lanjut Matthew. Senyum di wajah ayah Gilbert perlahan memudar.

"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya ayah Gilbert tajam.

Matthew masih tersenyum. "Karena sudah lama saya tidak melihatnya bermain seperti itu"

Ayah Gilbert langsung terdiam.


"Kak Alfred…?" tanya Matthew sambil membuka pintu kamar kakaknya untuk membicarakan sesuatu. Dia baru saja ingin melangkah memasuki kamar kakaknya itu, tapi pemandangan yang dilihatnya membuatnya membeku.

Dia melihat kakaknya itu jatuh terduduk lemas di lantai kamarnya, di sekitarnya bertebaran kertas-kertas. Wajahnya tertutup oleh rambutnya, tapi Matthew bisa tahu kalau kakaknya itu sedang sedih.

"Ka…kak Alfred…?"

Kakaknya itu perlahan-lahan menoleh dan Matthew kembali membeku saat melihat air mata yang mengalir dari mata kakaknya itu. Kakaknya…menangis? Selama ini dia selalu tampak ceria, tampak bersemangat, tanpa beban. Membayangkan kakaknya itu meneteskan air mata dan memperlihatkan ekspresi sesedih itu…dia tidak pernah menyangkanya.

"Mau apa?" tanya Alfred. Matthew terkejut, nada bicara kakaknya sangat…dingin. Apa orang yang duduk di hadapannya ini benar-benar kakaknya? Kakaknya yang selalu hangat padanya? Selalu menyayanginya?

Matthew menggelengkan kepalanya. Semua kata-kata yang ingin dia katakan pada kakaknya…menguap begitu saja. "Er…tidak apa-apa, aku akan tinggalkan kau" katanya cepat sebelum berbalik dan bersiap berjalan keluar dari kamar kakaknya.

Tapi sebelum dia sempat berjalan, Alfred menggenggam tangan adiknya itu. "Jangan pergi…" gumamnya pelan, pelan sekali hingga untuk sesaat Matthew berpikir kalau dia salah dengar.

Matthew menatap kakaknya. Kakaknya terlihat hancur, terlihat hampa, dia terlihat…menyedihkan. Ada apa dengan kakaknya? Selama ini dia terlihat begitu sempurna, begitu tinggi, kenapa sekarang…

Matthew duduk di lantai di samping kakaknya dan memandang kakaknya. "Kak Alfred…ada apa?" tanya Matthew pelan.

Alfred membenamkan wajahnya ke kaos yang dipakai Matthew dan memeluk adiknya erat. "Kumohon, Matt, jangan tinggalkan aku…jangan pernah meninggalkanku…" gumam Alfred pelan.

"Eh?" tanya Matthew bingung.

"Aku hanya punya kamu, Matt…kalau kamu meninggalkanku, kalau kamu juga membenciku…aku…aku tidak bisa hidup lagi, Matt…"

"Kak Alfred! Apa yang kakak katakan?" seru Matthew. Dia bingung. Bukannya kakaknya adalah seseorang yang begitu disukai? Begitu disayangi? Kenapa…kenapa dia mengatakan kalau dia hanya punya Matthew? Bukannya banyak orang yang dimiliki kakaknya?

Alfred terdiam selama beberapa saat. Sebelum menggumamkan, "Matt…apa kau pikir…kehidupanku ini bahagia?"

Matthew membeku. "Ten…tentu saja. Kau begitu dicintai…begitu disayangi. Kau punya banyak teman…mama papa pun menyayangimu…kau pasti bahagia, kan?"

Alfred melepaskan pelukannya dari tubuh Matthew dan menatap adiknya dengan pandangan kosong. "Kau tidak mengerti apa-apa…soal teman-temanku…dan juga orang tua kita…" gumamnya.

"Hah?" tanya Matthew semakin bingung.

Alfred menggelengkan kepalanya, lalu membaringkan kepalanya di dada Matthew. "Asal ada kau…dan juga Iggy, mungkin. Aku bisa bertahan…tapi…Iggy…dia tidak bisa selalu ada di sini…karena itu…bisa kau berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku? Aku akan melakukan apa pun asalkan kau ada di sini…di sampingku…dan mendukungku" kata Alfred.

"Kak Alfred…apa maksud kakak sebenarnya?" tanya Matthew.

Tidak ada jawaban…

Matthew menunduk dan melihat kalau mata kakaknya telah tertutup. Kakaknya telah jatuh tertidur di pelukannya. Dia membopong kakaknya itu dan membaringkan kakaknya di ranjangnya. Dia melepaskan kacamata kakaknya, meletakkan kacamata itu di meja di samping ranjang kakaknya, dan menutupi tubuh kakaknya dengan selimut.

Matthew memunggut sebuah kertas dari lantai kamar kakaknya dan membaca isinya. Begitu dia membaca isi kertas itu, wajahnya langsung menjadi pucat. Kertas itu…berisi kata-kata teramat kejam yang ditunjukkan untuk kakaknya. Jadi selama ini…kakaknya menyembunyikan semua ini di balik sosok sempurnanya yang seolah tidak terjangkau itu? Sudah berapa lama dia menyembunyikan ini dan membiarkan hatinya hancur di balik topeng kesempurnaan yang selalu dipakainya?

Matthew kembali ke sisi ranjang kakaknya dan duduk di tepi ranjang kakaknya, memandang kakaknya dengan pandangan sedih dan mengangkat tangannya untuk menghapus air mata yang mulai mengering di pipi kakaknya.

"Kau selalu tampak begitu hebat…begitu sempurna…aku tidak menyangka kau ternyata serapuh ini, kak Alfred…" gumam Matthew pelan. "Aku tidak pernah mengetahui kau begitu terbebani dengan semua kesempurnaan yang ditimpakan padamu. Maaf…aku memang bukan adik yang baik untukmu…bukannya mencoba mengerti keadaanmu dan mendukungmu. Aku sibuk menyalahkanmu atas keadaanku dan membencimu atas semua yang terjadi padamu. Maaf…kak Alfred"

Matthew pun bangkit dari tepi ranjang kakaknya dan berjalan ke arah pintu kamar kakaknya. Sebelum melangkah keluar, dia memandang sosok kakaknya yang tertidur itu sekali lagi. "Aku akan berusaha…kak Alfred…untuk menjadi adik yang bisa kau jadikan tempat bersandar. Aku akan berusaha menjadi adik yang lebih baik untukmu" katanya sebelum mematikan lampu kamar kakaknya dan melangkah keluar. Dia kemudian menutup pintunya, membiarkan kakaknya terlelap dalam mimpi yang dia harapkan cukup indah untuk menghapus kesedihan kakaknya.


Author note:

ADA APA SEBENARNYA DENGAN SAYA? –plak!-. kemarin saya menulis adegan PrusUK dan sekarang malah adegan Americest (meski cuma sekedar brotherly love yang sedikit menyerempet…). Apakah ini tanda-tanda saya sedang stress sehingga pairing yang saya tulis juga mulai hancur-hancuran? Maklum, kesibukan kuliah membuat saya agak keteteran juga.

Tapi saya sudah berkomitmen kalau pairing yang saya pakai adalah USUK dan PruCan, jadi saya berharap kalau anda sekalian tidak salah paham dan menganggap kalau saya tiba-tiba seenaknya mengubah pairing saya.

Sekian saja yang saya katakan. Saya harap anda memaklumi fanfic saya yang sepertinya semakin lama semakin hancur ini.

SEKIAN. PLEASE READ AND REVIEW.