Setelah kepergian Rin, Aomine melirik sekitarnya untuk memastikan bahwa tidak ada pengganggu yang akan menganggu tidur siang gantengnya. Setelah dirasa aman, Aomine memulai untuk tidur, tapi niatnya gagal karena—
"KYAAAAAAA!"
– terdengar suara teriakan yang diyakini adalah teriakan milik Rin.
Aomine bangkit dari tidurnya, tanpa pikir panjang Ia berlari, mencoba mencari tempat dimana Rin berada.
Pikiran Aomine mulai kalut. Sebenarnya... apa yang terjadi?!
7 Keys © LaChoco Latte
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Genre: Fantasy, Adventure, Romance, Friendship.
WARN: Typo(s), OOC, Many!OC, AU— AR?.
Cross-Over —Elsword game.
A/N: Kiseki no Sedai + Kagami berada disekolah yang sama. Kagami juga salah satu member Kiseki no Sedai. *wink*
Don't Like? Go back.
~ Happy Reading ~
Lari lari lari (lari lari lari) jalan dan berlarii! Dengan lari halilintar Aomine menemukan Rin!
"Rin!" panggil Aomine saat melihat Rin bersusah payah menghindari serangan serangan dari naga-naga mini yang sedang mengelilinginya. Aomine berlari menuju naga mini itu, melompat, lalu menendang naga mini itu sehingga naga itu menabrak tembok didekatnya. Saat ini mereka tengah berada di pusat kota.
"Aomine-kun! Berhati-hatilah, wyvern—naga mini— itu dapat mengeluarkan bola api dari mulutnya!"
Belum sempat membalas perkataan Rin, Aomine tiba-tiba saja ditubruk oleh salah satu wyvern sehingga membuat dia mundur beberapa langkah. Perutnya—yang menjadi korban tubrukan— terasa nyeri. Nyut.
Wyvern yang lainnya mulai mendekati Aomine, mulutnya terbuka lebar—sepertinya mereka akan mengeluarkan bola api dari mulut mereka. Aomine melompat menghindari bola-bola api itu. Salah satu Wyvern terlihat menurunkan ketinggiannya—sepertinya Wyvern itu ingin menubruk kembali Aomine. Tak mau kena trik yang sama, Aomine berlari menuju Wyvern itu, melompat, lalu meninju Wyvern sehingga Wyvern itu terpelanting dan mengerang kesakitan.
Selagi Aomine asik bertarung dengan para Wyvern, Rin mulai memperhatikan sekelilingnya—siapa tahu ada petunjuk mengenai tempat dimana salah satu kunci itu berada.
BUGH! DUAGH!
GRAAAAAWR!
Salah satu alis Rin terangkat saat Ia melihat makhluk berbaju besi tengah berbaris membundar. Apa mereka sengaja seperti itu agar tidak ada satupun sisi yang lolos dari pandangan mereka? Err... baiklah, mereka cukup pintar ternyata.
"Hhh~" Aomine merenggangkan otot-otot lengannya. Rin melirik Aomine yang tiba-tiba sudah berada disampingnya—kapan pemuda itu datang?!
"Sudah beres?" tanya Rin basa basi. Aomine hanya menganggukkan kepalanya dan menunjuk ke arah belakangnya— dimana para Wyvern berguguran dan tertidur dengan indahnya.
"Tak kusangka, ternyata makhluk itu sangat lemah. Sekali pukulan saja sudah sekarat, kheh." Aomine mencibir—buset, udah merasa kuat, bang item?
"Terserah apa katamu." Rin memutar bola matanya, lalu Ia menunjuk ke arah dimana para makhluk berbaju besi tadi berbaris. Aomine menatapnya bingun—maksudne opo to mba? Kok—
"Musuh baru," ucap Rin. Lalu dengan santainya Ia berjalan ke sana. Aomine yang emang darisananya Ah—lemot hanya mengikuti gerak kaki Rin. Heh, musuh katanya? Masa semut kecil macam itu dibilang musuh? Tinggal diinjak saja pasti sudah mati. – Matamu semut, bang! Ye kali ada semut pake baju besi?! –
Makhluk itu semakin terlihat jelas saat mereka sudah ada beberapa meter didepannya. Ternyata, mereka bukan hanya memakai baju besi saja, namun mereka juga membawa senjata rupanya. Panah dan Tongkat besi yang ujungnya runcing. Tongkat besi, bukan bambu runcing, oke?
"Halah. Ternyata bukan semut." – Ya emang bukan, bang! –
"Glitter, ya?" Rin berucap pelan. Para makhluk berbaju besi— Glitter itu menatap mereka. Rin dan Aomine sudah mengambil kuda-kuda bertahan. Namun... mengapa para Glitter itu masih diam ditempat? Bukankah seharusnya mereka bergerak? Heh, apa otak mereka bermasalah?
Tak tahan, Rin melangkahkan kakinya maju kedepan, bermaksud untuk menghampiri sang Glitter. Beberapa meter sebelum dirinya menyentuh sang Glitter, tiba-tiba reruntuhan batu kecil perlahan turun kebawah. Rin mendongakkan kepalanya keatas, dan melihat sesuatu yang besar akan jatuh kebawah, tepat ditempatnya berpijak.
BRUK!
Sesuatu yang besar itu pun terjatuh, membuat asap debu yang menghalangi pandangan mata.
"Daijoubu ka?" Aomine bertanya yang dijawab oleh anggukan oelan Rin dalam pelukannya. Untungnya Aomine tepat waktu. Sebelum sesuatu yang besar itu jatuh menimpa Rin, Aomine sudah mengambil langkah duluan dengan menar—memeluk Rin agar Ia tidak terkena serpihan-serpihan batu itu.
Sesuatu yang tadi terjatuh ternyata adalah Golem, sang monster batu. Cih, pantas saja para Glitter itu tidak menyerang saat mereka sudah ada didepan pandangan mereka. Ternyata, mereka punya pelindung.
Golem itu mengibaskan tangannya, lalu keluarlah batu-batu kecil yang siap untuk melukai tubuh Aomine dan Rin. Aomine melompat—dengan Rin masih berada didalam pelukannya. Mereka berlindung dibelakang bangunan. Untungnya pusat kota ini memiliki banyak bangunan tembok, sehingga mereka berdua bisa bertahan dari serangan musuh dengan berlindung dibalik bangunannya. Aomine melepaskan pelukannya.
"Rin," panggilnya pelan. "Kau tunggu disini, biar aku yang mengalahkan mereka."
"Chotto! Aku hanya berdiam diri disini dan melihatmu bertarung, begitu?" protes Rin.
"Ya, tentu saja. Kau kan perempuan."
"Lalu apa hubugannya?!"
"Perempuan tak pantas bertarung. Ini urusan laki-laki."
"Tapi—"
Aomine memotong perkataan Rin. "Kau ragu akan kekuatanku, heh? Maaf saja, tapi aku tidak lemah."
Rin terdiam saat mendengar perkataan Aomine. Ia tahu, Aomine memang kuat. Dan kekuatannya perlahan-lahan mulai bertambah.
"Saa, tunggu aku disini. Jadilah gadis manis yang penurut." Aomine menepuk pelan kepala Rin, lalu Ia berlari menuju sang Golem dan menendangnya.
Rin memegang kepalanya yang baru saja ditepuk pelan oleh Aomine. "Baka da..."
Aomine menangkis serangan-serangan dari sang Golem. Para Glitter masih tetap pada posisinya— melingkar. Sama sekali tidak merasa terganggu atau ingin masuk dalam lingkaran pertarungan antara sang Golem dan Aomine.
"Ugh!" Aomine mengerang saat Ia terkena pukulan dari telak dari sang Golem tepat pada saat Ia lengah— lebih memperhatikan para Glitter dibandingkan sang Golem yang saat ini adalah musuhnya. Aomine mengepalkan tangannya erat-erat, mencoba mengumpulkan seluruh kekuatannya. Lalu, dengan kekuatan penuh, Ia memukul sang Golem.
"Terimalah pukulanku ini, batu hidup!"
BUGH! KREK!
Dan Golem itu pun hancur berkeping-keping. Aomine menghapus peluh didahinya dengan punggung tangannya lalu tersenyum penuh kemeangan—oh, oh. Sepertinya kau harus menyimpan dahulu senyummu itu. Lihat, lihat! Sang Glitter sudah mengambil langkah!
SRET! SRET!
Tanpa diduga, salah satu Glitter itu menembakkan panah pada Aomine, Aomine yang tidak siap akan adanya serangan pun terluka oleh goresan yang dibuat oleh panah itu. Darah segar mengalir dari lengan kiri Aomine.
"Che." Aomine mendecih, lalu maju dan menendang Glitter yang berani melukainya. Glitter itu mundur beberapa langkah. Adegan baku hantam pun kembali terjadi.
Rin menatap cemas Aomine yang terluka. Matanya melirik-lirik gelisah.
'Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku hanya berdiam diri disini sedangkan Aomine terluka!'
PRANG.
Salah satu tombak—sepertinya milik salah satu Glitter— terlempar ke sebelah Rin. Sepertinya tombak ini terbang bebas saat sang pemilik tertendang oleh Aomine.
"Cih." Aomine lagi-lagi mendecih. Ia menggenggam erat lengan kirinya— mencoba untuk menahan darah yang keluar, mungkin?
SRET! SRET!
Lagi-lagi, sang Glitter mengeluarkan panahnya, Aomine menghindar ke kanan. Tanpa diduga, Glitter yang lain muncul dibelakang Aomine dengan sebuah tombak yang mengarah pada kepalanya. Apa... Aomine akan berakhir disini?
BRUK!
Aomine melihat ke arah belakang, disana terdapat Glitter yang terkapar ditanah karena luka tusuk dipunggungnya. Tunggu? Luka tusuk? Siapa yang—
"Rin!" Aomine berlari ke arah Rin yang memegang tombak berlumurkan darah. Tangan Rin gemetaran—baru pertama kali bertarung dengan tombak, eh?
"Sudah kubilang untuk menuggu saja 'kan?"
Rin menatap Aomine. "Mana mungkin aku bisa diam saja sementara kau terluka, Ahomine!"
Aomine terdiam. 'Jadi, dia peduli padaku, begitu?' Aomine tersenyum tipis.
Rin perlahan mendekati Glitter yang tadi Ia tusuk. Lalu, memeriksa denyut nadinya. Aomine yang melihat itu pun mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Kau mau apa?"
Perlahan, tangan Rin yang terbalut oleh sarung tangan hitam pun menyentuh dahi sang Glitter. "Membaca pikirannya. Untungnya, dia masih hidup."
Aomine mengangkat bahunya—tak peduli. Rin menutup matanya, mencoba fokus.
'Kunci... di tegah... mini Golem... lindungi.'
Rin bingung. Apa maksud dari isi pikiran Glitter itu?
"Rin! Abunai!"
Rin refleks membuka matanya saat Aomine berteriak.
JLEB!
Satu tombak sukses menusuk perut Glitter yang pikirannya baru saja dibaca oleh Rin.
"Sial! Aku belum selesai membaca pikirannya!"
"Kheh. Glitter ini tidak ada habisnya." Aomine memandang kesal para Glitter yang kembali berposisi memundar setelah tadi menyerang mereka.
'Di tengah bundaran...'
"Aomine! Apa kau pernah medekat pada Glitter yang berkumpul memundar itu?"
"Ya, untuk memencarkan mereka. Memangnya kenapa?"
Pasti ada alasan mengapa para Glitter itu selalu berkumpul begitu. Ya, pasti ada.
"Kau... melihat sesuatu yang berada ditengah-tengah mereka?"
"Hm... kalau aku tidak salah, ditengah-tengah mereka ada sebuah batu?"
Nah! Sekarang Rin sudah mengerti. Kunci, ditengah, mini Golem, lidungi. Para Glitter sengaja membuat lingkaran seperti itu untuk melidungi Mini Golem— yang Aomine sebut dengan batu— yang menyimpan kunci itu. Begitu, 'kan?
"Apakah kau bisa melompat dan menghancurkan batu itu, Aomine?"
"Haaa? Buat apa?"
"Lakukan saja."
"Ck. Baiklah."
Aomine berlari kedepan, lalu melompati para Glitter. Setelah menemukan sang batu—mini Golem—, Ia langsung memukulnya dengan tangan kanannya.
Rin memperhatikan pecahan-pecahan batu itu.
"Aomine! Apakah ada kunci disana?"
"Tidak."
'T-tidak ada? Apakah pemikiranku salah? Apak— tunggu! Itu apa?' Rin mengejar sesuatu yang bersinar yang melayang diudara. Selanjutnya, Ia melompat untuk menggapai sesuatu yang bersinar itu. Ia membuka telapak tangannya dan tersenyum senang saat melihat apa yang Ia tangkap. Ternyata, pemikirannya tepat.
Glitter yang melihat benda yang mereka lindungi telah hancur pun menyerbu Aomine. Baru saja Aomine akan menendang para Glitter, tangannya sudah ditarik duluan oleh Rin, menjauh dari tempat dimana para Glitter itu berada.
"H-hoy! Kenapa kau membawaku kabur, heh?" Aomine protes.
"Kau terluka. Lebih baik kita sudahi saja pertarungannya."
"Tapi—"
"Kuncinya sudah kita dapatkan. Untuk apa lagi bertarung?"
Aomine diam. Tidak tahu mau berkata apa lagi.
Mereka berhenti saat merasa sudah jauh dari jangkauan para Glitter. Rin dengan santainya memasuki salah satu rumah milik penduduk disana. Aomine yang memang cuek ikut memasuki rumah itu.
Rin mengelilingi rumah itu, sepertinya mencari sesuatu. Tak lama kemudian, Ia menuju ketempat dimana Aomine berada— sofa ruang tamu.
"Kemarikan lenganmu. Biar kuobati lukamu."
Aomine melirik sebentar ke arah Rin. "Tak usah. Sebentar lagi juga sembuh."
"Kubilang sini ya sini," ujar Rin menahan kesal. Dengan sedikit terpaksa, Aomine menyodorkan lengan kirinya pada Rin.
Perlahan, Rin membersihkan luka itu, lalu diperbannya lengan Aomine.
"Untuk sementara, kita istirahat dulu disini."
"Sesukamulah."
.
.
.
"Etto..." Kise berucap pelan. Mata sewarna madunya menatap Akaki. "Akakicchi. Sudah berapa kali kita berputar melewati hutan ini ssu?"
"Kau pikir aku tau, huh?"
"Ne~ Akakicchi, istirahat sebentar ssu yo~"
Akaki mendelik pada Kise. "Lemah sekali."
Kise mengembungkan pipinya, tidak terima dibilang lemah oleh wanita. Harga dirinya bisa turun kalau begini. – Memangnya harga dirimu berapa, Kis? –
"Mou! Aku tidak lemah ssu! Aku capeeek! Dari tadi kita selalu saja melewati tempat ini meskipun sudah berkeliling jauh ssu."
Akaki tertegun. Memang benar sih, setiap mereka berkeliling, pasti saja mereka melewati ini— tempat dimana bunga lily satu-satunya tumbuh dihutan ini.
Dan... sepertinya mereka benar-benar tersesat di Hutan Altera ini. Puk puk.
"Baiklah. Kita istirahat sebentar." Akaki meyederkan tubuhnya pada batang pohon didekatnya.
"Akhirnyaa ssu." Kise duduk menyender pada batang pohon, kakinya Ia luruskan.
"Lima menit."
"Kurang ssu!"
"Jangan protes."
"... hidoi ssu yo."
.
Kidesa, Kagami, Aomine, dan Rin berhasil menemukan kuncinya. Aomine terluka— untungnya hanya luka ringan. Kise dan Akaki tersesat di hutan— Berhasilkah mereka keluar dari hutan itu? Siapakah gadis berambut coklat yang bertemu dengan Kagami dan Kidesa? Bagaimana perjuangan para pasangan lain? Berjalan mulus— atau berliku-liku?
Dan... bagaimana kelanjutan cerita ini?
.
To Be Continue.
.
A/N: Huft. Akhirnya bisa update fict ini. Lebih ngaret dari biasanya, ya? Hihi, maafkan. Daku kena WB sih, jadi ya begitu... /jangan curhat kamu/
Yosh! Makasih buat yang udah baca, review, fav, follow~! Maafkan jika OOC. :'D
.
Balesan review yang ga log-in:
Guest: Kok terserah saya? :"D Wkwk, makasih. :"D
Hah, biasalah, abang item satu itu mah emang gitu, ngeselin. =w= ( Ao: Lu berani sama gue, author?)
Makasih udah rnr, ya! :D
.
Review?
V
