E
N
I
G
M
A
.
.
Drowns in Jyficia
A world of forever and never
2010
By: Alicera
Disclaimer : Masashi-san owns Naruto story ever after.
Rated : T+ (For slight gore)
Genre : Fantasy/Romance/Slight Horror
Warning : OOC, AU, OC, So many strange words, etc.
Pairing : SasuSaku, NaruHina, ShikaTema, SaiIno, NejiTen
Chapter 7
Cowards
.
.
.
Let me be your sinful knight
Use me to your own heart's content
You are the only reason, I shed blood tonight
Sunyi senyap. Sama sekali tidak ada lampu menyala. Aku memandangi sofa, kursi-kursi dan perabotan dengan was-was. Satu-satunya sumber cahaya adalah dari jendela, cahaya samar-samar redup, menimbulkan kesan kelabu dan suram di ruangan yang kami lewati. Anehnya, semua jendela terbuka, gorden putih dan biru tua melambai-lambai semakin memberikan kesan suram.
Aku terus memandangi punggung tegap Sasuke di depanku, oke, aku takut jika tiba-tiba ia lenyap dan meninggalkanku sendirian. Aku benar-benar telah berubah sebagai seorang penakut—jangan salahkan aku, aku seharusnya bersyukur tidak terkena trauma setelah menghadapi kejadian-kejadian gila hari ini.
"Sakura," suara dalam dan pelan Sasuke menyentakkanku dari lamunan.
"Ya?" balasku sepelan mungkin, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar karena ketakutan.
"Di mana dapurnya?"
"Eh, uh, sebenarnya aku sedikit khawatir dengan paman dan bibiku," jawabku, berhenti berjalan dan menggosok lenganku pelan—hanya perasaanku saja atau udara bertambah dingin?
"Di mana kamar mereka?" Sasuke berhenti dan memandangku sesaat.
"Di tingkat atas, kamar paling ujung selatan."
Sasuke mengangguk pelan. "Kau pergilah ke dapur dan makan, aku akan melihat keadaan paman dan bibimu." Sasuke memandangku lama lagi seakan masih menimbang-nimbang tindakan selanjutnya. Sekarang, bisa kulihat konflik berkecamuk di mata hitamnya, bisa kulihat bibirnya menipis membentuk garis lurus, tangannya terkepal erat. Aku seakan bisa merasakan ketegangan di udara dan matanya yang sesekali mengawasi kegelapan di sekelilingku—mata elang tajam yang siap mencabik bahaya yang mendekat.
"Tidak apa-apa kau meninggalkanku sendirian, toh ini di rumahku sendiri, walaupun sebenarnya aku ingin ke atas juga, tapi dengan kecerobohanku bisa-bisa aku membangunkan paman dan bibiku," sahutku dengan kikuk.
"Kau pergilah ke dapur, biar aku saja yang memeriksa keadaan mereka," kata Sasuke lagi, ada sekelebat ekspresi ganjil di matanya yang membuat dahiku mengerut, ada sesuatu yang salah. Menyadari ekspresiku, Sasuke memalingkan muka dan mengarahkan pandangannya ke tangga. Perasaan tidak enak menggumpal di perutku.
"Oke," kataku akhirnya. Aku berusaha menemukan jalan menuju dapur dengan susah payah.
"Oh dan Sakura," suara pelan Sasuke memecah kesunyian lagi. Aku berbalik memandangi sosoknya yang hanya berupa bayangan hitam di tangga.
"Ya?" jawabku.
"Sebaiknya kau mencari semacam senjata di dapur untuk berjaga-jaga, dan kumohon untuk berhati-hati."
Aku mengangguk. "Oke, kau juga." Dan bayangannya sudah lenyap dari pandanganku.
Baiklah, tokoh cerita di film-film seram bertindak bodoh jika mereka mau ditinggal sendirian oleh tokoh yang lain—sekarang aku memaklumi kebodohan mereka. Aku masuk ke dapur dengan langkah pelan, mengawasi sekeliling dengan cermat, bernapas sepelan mungkin. Setelah yakin keadaan aman, aku berjalan menuju kulkas, dengan sedikit susah payah, aku menemukan sekardus susu dan pie yang tinggal setengahnya serta satu bungkus coklat hitam yang menggiurkan.
Aku duduk dengan tubuh mengarah ke pintu masuk. Memandangi ruangan remang-remang di seberang sedikit mengurangi selera makanku. Kulahap makananku satu persatu dan aku masih lapar. Aku memeriksa lemari maupun panci di kompor dan tidak ada sisa makan malam, di dalam kulkas pun tidak ada sisa makanan apa pun. Aneh.
Merasa bosan, aku kembali duduk dan mengawasi ruangan di seberang. Keadaan sunyi senyap, aku hanya mendengar suara napasku dan detak jantungku yang mulai berpacu. Bahkan tubuhku yang bergeser pun menimbulkan suara yang jelas.
Tunggu, kenapa Sasuke tidak kembali juga?
Saat aku bangkit hendak menyusulnya terdengar suara langkah kaki. Pelan. Kemudian berhenti. Aku memincingkan mata berusaha menembus kegelapan. Kosong.
Kemudian suara langkah kaki lagi. Aku menarik napas berusaha menenangkan diri. Aku meraih pisau di meja dan menggenggamnya erat-erat. Baiklah, aku muak dengan kegelapan ini. Aku berjalan pelan, meraih saklar lampu.
Klik.
Tidak ada cahaya sama sekali.
Oh, sial.
"Sasuke? Kaukah itu?"
Suara langkah kaki itu mendekat.
Sial. Sial. Seharusnya kututup mulutku saja.
"Sasuke? Ini tidak lucu." Aku bahkan bisa mendengar kepanikan dalam suaraku. Aku mendengus frustasi dan segera mengobrak-abrik semua laci di dapur. Akhirnya menemukan sebuah senter. Berbekal sebilah pisau dan senter aku menceburkan diri ke lautan remang-remang di depanku. Apa pun yang berjalan itu, lebih baik aku menghadapinya langsung daripada dipojokkan di sebuah dapur penuh dengan alat-alat berbahaya.
Aku melangkah satu-satu, sepelan mungkin. Aku belum berani menyalakan senterku, lebih baik dua pihak sama-sama tidak tahu pihak yang lain di mana. Aku memandang nyalang ke sekeliling. Kosong dan kosong. Suara langkah kaki itu tidak terdengar lagi.
Oh, Sasuke, di mana kau? Cepatlah kembali. Aku tersentak dengan pikiranku sendiri. Kenapa sekarang aku begitu tergantung padanya? Walaupun aku cukup ngeri pada kekuatannya tapi aku tidak benar-benar takut padanya. Bahkan, aku merasa sedikit aman ketika bersamanya. Hanya sedikit.
Kemudian suara langkah kaki itu terdengar lagi, lebih jelas. Aku mempertajam pendengaranku. Suara itu seperti langkah diseret-seret dan suara napas berat. Darahku membeku ketika melihat bayangan itu hanya berjarak-jarak sekitar 10 meter dariku, jalannya sempoyongan seperti orang terluka parah. Aku meyalakan senterku dan berteriak nyaring, "Mr. Fuller!"
Wajahnya putih pucat. Mata birunya redup dengan ekspresi menahan rasa sakit yang amat sangat. Aku berlari ke arahnya tepat ketika tubuhnya ambruk ke depan. Aku menopang tubuhnya dan mendudukkannya di lantai. "Sa-sakura," bisiknya serak. Kepanikan melandaku bagai gelombang dingin samudera. "Apa yang terjadi dengan Anda?"
"Sa-sakura," suaranya begitu lemah.
"Anda harus dibawa ke rumah sakit. Saya akan…."
"Saku…ra," ulangnya dengan susah payah. "Ya?" jawabku kebingungan.
"Lari."
Kemudian kudengar suara logam diseret berbenturan dengan lantai dan suara langkah kaki yang lain. Darahku membeku ketika tanganku telah basah oleh darah. Punggung Mr. Fuller telah terkoyak dengan begitu mengerikan. Keringat dingin telah menutupi seluruh tubuhku.
Oh, tidak lagi.
Ketiga bayangan itu mendekat, terdengar suara tawa kering seorang laki-laki. Tawa lembut yang membuat bulu tengkukku berdiri semua.
"Nah, ketemu." Ketiga bayangan itu semakin mendekat. Aku mengarahkan senterku dengan panik ke arah ketiga sosok itu dan memekik sekeras-kerasnya. Mrs. Fuller dengan ekspresi gila dan pandangan mata nyalang menyeret sebuah kapak berlumuran darah. Paman Ben dengan revolver di tangannya, gemetar dengan wajah penuh kegilaan yang sama. Dan bibi Keiko, bibi Keiko. Wajahnya tenang dan kejam. Ada senyum lebar ganjil yang menghiasi bibirnya. Dan matanya, kekuningan layaknya mata seekor ular kejam dari dasar neraka.
Tiba-tiba bayangan Mrs. Fuller melesat maju, mengayunkan kapaknya tinggi-tinggi. Terdengar bunyi mengerikan ketika logam itu menabrak dan merobek punggung Mr. Fuller lebih lebar. Terdengar erangan berat Mr. Fuller, tubuhnya bergerak, menggeliat pelan di pangkuanku.
Aku berteriak lagi.
Rok dan bajuku sekarang telah terkena darah, bau serta rasanya di kulitku membuatku mual lagi. Tanganku gemetar melepaskan tubuh Mr. Fuller, beringsut menjauh. Bisa kurasakan airmata sudah menggenang di pelupuk mataku. Dengan kekuatan terakhirku aku beranjak dan berlari menjauh.
Pengecut. Heh.
Diam!
Dengan jantung berdentum-dentum yang hampir merobek rongga dadaku, aku terus berlari menuju pintu keluar. Air mataku tidak bisa kutahan lagi, dadaku begolak hebat. Dengan nyalang aku mencari pintu keluar. Aku berlari sekuat tenaga.
Lari dan lari lagi. Hahaha.
Kubilang diam!
Aku berusaha menjerit sekuat tenaga ketika sebuah tangan menyambar lenganku dan mulutku dibekap dengan erat. Aku meronta-ronta sekuat tenaga. Berusaha menusukkan pisau ke tubuh penyerangku. "Hmm…mm, ummm..."
"Ssst…tenang, Sakura, ini aku."
Tubuhku segera berhenti meronta ketika kudengar suara itu. Setelah aku tenang, Sasuke meyeretku untuk merunduk di belakang sofa ruang tamu. Napasnya berat dan terengah-engah. Wajahnya tegang, samar-samar bisa kulihat keringat menutupi wajahnya. Tangan kirinya memegangi lehernya dengan gemetar.
"Sasuke, apa yang terjadi, apa kau terluka?" Aku berusaha berbisik sepelan mungkin.
Sasuke hanya menggeleng samar. "Kita harus segera keluar dari sini," ucap Sasuke di antara deru napasnya yang berat.
Aku hanya memandang tidak mengerti. "Sasuke, paman dan bibiku…mereka, kita harus menyelamatkan mereka," kataku hampir terisak. Aku tidak boleh menangis.
Sasuke menggeleng lagi, matanya terpejam dengan tubuh semakin gemetar. "Tidak ada gunanya, Sakura, pikiran mereka telah dikuasai, mereka tidak lebih dari boneka."
"Tidak," sentakku marah. "Pasti ada cara, dan, dan siapa yang melakukan semua ini, Sasuke? Siapa?" Aku berusaha mencari jawaban di mata hitamnya, tapi Sasuke masih tidak mau memandang mataku. "Sasuke," desakku lagi.
"Tidak, Sakura, prioritas utamaku hanya menyelamatkanmu."
Aku hanya memandangnya dengan frustasi. "Jadi kau berharap aku akan pergi begitu saja, meninggalkan paman dan bibiku…dan menyelamatkanku kau bilang? Menyelamatkanku dengan bersembunyi seperti tikus," ucapku dengan suara meninggi. Sasuke hanya terdiam, jika ia merasa tersinggung atau harga dirinya terusik, ia tidak menunjukkannya sama sekali.
Bertingkah sok pahlawan padahal tadi kau juga kabur seperti tikus. Hahaha.
Diam! Diam!
"Kumohon…Sakura."
"Tidak, pasti ada cara bukan Sasuke? Aku, aku, tidak mungkin meninggalkan mereka seperti itu."
"Kau tidak mengerti, Sakura." Kali ini suara Sasuke berubah dingin. "Berhenti keras kepala dan ayo kita pergi dari sini."
"Baiklah, jika kau tidak mau menolongku, aku akan pergi sendiri."
Memangnya kau bisa apa?
"Sakura," geram Sasuke, mencengkeram erat lenganku lagi. Sekarang bisa kulihat lambang seperti tattoo hitam yang menyebar itu menggeliat di leher Sasuke. Berdenyut liar bercampur dengan tubuh gemetar Sasuke.
"Tidak apa-apa jika kau ingin kabur, tapi aku tidak mau bersembunyi sedangkan keluargaku dalam bahaya," balasku dengan dingin juga. "Lepaskan aku, Sasuke."
"Sakura," desis Sasuke lagi, kali ini hampir putus asa.
Hihihi. Gadis jahat, kau tahu ia tak mungkin meninggalkanmu sendirian.
Suara langkah kaki dan suara kapak diseret terdengar lagi. Kesunyian telah terpecah oleh suara tawa itu lagi. Tubuhku semakin gemetar.
Aku memang tidak terlalu mencintai paman dan bibiku, tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka, mereka satu-satunya keluargaku.
Aku menarik napas panjang dan menggenggam pisauku semakin erat. Mengingat-ingat isi bukuku tentang mantera penyadar pikiran. Tiba-tiba Sasuke meraih tubuhku mendekat, kurasakan kedua telapak tangannya yang dingin di kedua pipiku yang basah. "Pandang mataku, Sakura." Aku terkejut dengan sikapnya yang cukup emosional ini. Bisa kulihat lagi, konflik luar biasa di mata hitamnya. Mata dalam dan gelap itu mengamati dengan seksama ke dalam mataku seakan mencari-cari sesuatu. Samar-samar bisa kulihat bayangan ketakutan di matanya. Tapi takut akan apa?
"Ada apa, Sasuke?" bisikku pelan, sedikit kehabisan napas melihat ke dalam mata tak berdasarnya.
"Sakura…apa kau takut padaku?"
Aku cukup terkejut dengan pertanyaannya. Dahiku mengerut bingung. "Tentu saja tidak, ada apa, Sasuke?"
Sasuke melepaskan kedua tangannya dan mengangkat tubuhku untuk berdiri. Kami berjalan keluar dari persembunyian kami. Tiga sosok itu ternyata telah menunggu di ujung ruangan. Wajah ganjil bibi Keiko tersenyum lebar lagi, rambut hitam panjangnya tegerai indah. Namun, tidak ada yang membuatku lebih membuatku gemetar daripada mata kuning kejam itu.
"Nah, nah, sudah selesai bicaranya, aku cukup baik bukan memberikan kalian waktu, bukan begitu Sasuke-kun?" tawa lembut mengerikan terdengar. Lidah basah dan panjang mengusap bibir yang dihiasi senyum mengerikan itu. Mata kuningnya berpindah dari mata Sasuke ke arahku. "Ah, Sakura, bukan?"
"Siapa kau?!" Aku memasang wajah sedingin mungkin. "Kenapa kau mengenal kami?"
"Khukhukhu, kasar sekali, tuan puteri-mu ini Sasuke-kun." Dia tergelak lagi. Tawanya membawa rasa dingin yang amat sangat.
"Apa maumu?" tanya Sasuke tanpa emosi. Seringai entah makhluk apa yang ada di dalam bibi Keiko semakin lebar. "Lepaskan mereka, dan mari kita rundingkan apa maumu."
"Kau selalu berbicara ke pokok permasalahan, Sasuke-kun." Tawa mengerikan itu hampir membuatku berjengit lagi. "Singkatnya begini, kita punya dua pilihan di sini untukmu, Sakura."
Aku merasa mual hanya mendengar namaku diucapkan olehnya. "Apa maksudmu?"
"Tentu saja alasan kau tidak kabur adalah karena paman dan bibimu. Jadi akan kutukarkan paman dan bibimu dan juga satu tetanggamu—maaf tetanggamu yang lain sudah mati, dengan buku spesialmu."
"Langkahi dulu mayatku!" geramku penuh emosi.
Makhluk itu menarik napas panjang. "Kurasa kau tidak sepintar kelihatannya, pikirkan dulu baik-baik, jika kau tidak mau memberikan buku itu, akan kubuat—kami," katanya merentangkan kedua tangannya,"membunuhmu."
Aku menggenggam pisauku erat-erat. Masih berpikir mantera apa yang dapat digunakan.
"Dan sebenarnya, kau hanya punya satu pilihan karena ketika kubuat tiga orang zombie ini menyerangmu dan melukaimu, maka Sasuke-kun akan mencabik mereka hingga berkeping-keping, jadi hasilnya tetap sama—mereka akan mati."
Aku gemetar menahan marah. "Dan jika kuserahkan buku itu?"
"Sakura," suara Sasuke memperingatkanku.
"Akan kulepaskan mereka dan kalian bisa pergi bersama dengan selamat."
Aku menggigit bibir bawahku dengan frustasi. Sebenarnya aku tidak terlalu tahu seberapa berharga buku itu, apakah cukup berharga hingga harus mengorbanku nyawa tiga—empat orang. Aku memandang Sasuke sesaat—wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Tapi apakah makhluk ini bisa dipercaya?
"Aku tidak akan mengingkari janjiku. Dan cepat, aku tidak suka membuang-buang waktu."
Aku menarik napas lagi. Menegakkan tubuhku. "Sasuke," kataku pelan.
Sasuke menoleh padaku.
"Kau tidak boleh menyentuh tiga orang itu."
Sasuke menyipitkan matanya. "Apa yang kau bicarakan, Sakura?"
"Pokoknya, jangan sakiti mereka, apa pun yang terjadi."
Sasuke hanya terdiam memandangku dengan tajam.
"Apakah kau mau berjanji?"
"Tidak."
Aku memandangnya dengan marah. Sasuke hanya balas memandangku dengan sorot mata dingin tanpa emosi. "Jika mereka menyakitimu, akan kubunuh mereka semua," kata Sasuke tenang.
Aku berjuang menjaga ekspresiku tetap marah, bukannya bergidik ngeri—mendengar Sasuke mengucapkan kata-kata sekejam itu tanpa emosi sama sekali—seakan ia sedang berkata bahwa ia akan berlibur ke rumah neneknya akhir minggu ini.
"Aku bukan bayi yang harus selalu kau lindungi, Sasuke," tukasku tajam.
"Dan aku bukan anak kecil yang bisa kau atur-atur."
Aku berusaha tetap tenang memandang matanya yang seperti pembunuh berdarah dingin itu.
"Khukhukhu, menarik sekali, kalau begitu akan ada banyak darah malam ini, banyak darah, kau suka darah bukan, Sasuke-kun?" Lidah menjijikkan itu menyapu bibirnya dengan pelan, mata kekuningan itu menari-nari gembira oleh kegilaan. "Nah, mari kita mulai."
Mrs. Fuller dan paman Ben berjalan pelan ke arah kami. Tubuh Sasuke menegang, mata hitamnya telah berubah merah. Tubuhnya siap menerjang dua sosok di depan kami.
"Sasuke!" teriakku, memandang tajam ke arahnya. "Jika kau menyentuh mereka aku tidak akan memaafkanmu." Rupanya kata-kataku memberikan pengaruh, Sasuke kembali berdiri tegak, rahangnya menegang dan tangannya mengepal kuat.
"Jangan—berani-beraninya kau mendekat," tambahku. "Kumohon percayalah padaku, aku bisa menyelesaikan ini," tambahku lagi.
Hahahaha. Benarkah?
"Khukhukhu, masih patuh seperti anjing, Sasuke-kun, hanya diancam dengan kata-kata seperti itu—ayo bergabunglah dengan pesta ini."
"Sasuke!" teriakku sambil mundur beberapa langkah. Aku mengingat semua mantera penyadar pikiran yang pernah kubaca. Merapalkannya hampir tanpa tahu sudah berapa mantera yang kuucapkan, tapi tetap tidak ada perubahan. Aku memandang dua sosok di depanku dengan hati-hati, ketika mereka dengan sempoyongan semakin mendesakku ke belakang.
Ayolah, ayolah.
"Sama sekali tidak menarik, kau sekarang berubah menjadi penakut, Sasuke-kun," kata makhluk itu sambil menyeringai semakin lebar. "Baiklah, untuk menambah semarak suasana, kau tetap harus bergabung, tunjukkan dirimu yang sebenarnya pada tuan puterimu ini."
Sasuke mengerang dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Lambang hitam di lehernya seakan tumbuh kembali. Napas Sasuke berat dan bergetar.
"Ayo, Sasuke-kun, akan ada banyak darah," dia tertawa kejam lagi.
Terdengar bunyi pelatuk revolver ditarik dan yang kusadari setelahnya adalah rasa panas yang amat sangat di kaki kiriku, air mata mengalir ke pipiku ketika tubuhku ambruk. Rasa sakit ini hampir membuatku pingsan. Sesaat kupikir aku memang pingsan ketika kudengar ledakan tawa makhluk gila itu.
Dan kuharap aku memang pingsan saja.
"Tidak! Sasuke!" teriakku sekuat tenaga. "Tidaaak!" raungku dengan air mata berlinangan. Tawa iblis itu masih terus bergema di ruangan ini.
"Tidaaak, kau tidak boleh…tidaaak!" aku menyeret tubuhku sekuat tenaga untuk menghentikannya. "Kumohon…tidaaak! Sasuke!"
Tapi ketika semua itu benar-benar dimulai, aku hanya bisa membeku, memandang dengan mata nanar dan air mata berlinangan. Semuanya seakan terjadi begitu pelan, semua gambar, warna seakan terpatri dalam ingatanku.
Lambang hitam itu telah benar-benar menyebar hingga menutupi wajahnya. Mengubah warna kulitnya menjadi benar-benar jelek, walaupun tidak seluruh tubuhnya berubah. Rambutnya menjadi lebih panjang dan ikut berubah warna, matanya hanyalah sepasang manik kejam tanpa emosi. Bibirnya berubah biru dengan seringai keji. Tidak ada sama sekali sisa-sisa ketampanannya. Tidak ada sisa-sisa dari mata hitam misterius yang biasanya menenggelamkan setiap gadis yang melihatnya. Tangan kanannya telah berubah warna menjadi warna jelek dengan bentuk aneh seperti hasil mutasi gagal, kuku-kukunya meruncing. Dan dia melesat dengan begitu anggunnya.
Suara tawa makhluk di dalam bibi Keiko masih terus terdengar. "Tunjukkan padanya Sasuke-kun, begitu indahnya dirimu sekarang, lihat wajah tuan puterimu, Sasuke-kun. Hahahaha."
Aku ingin memejamkan mata tapi tidak bisa. Revolver dan pergelangan tangan Paman Ben telah terpisah dari tubuhnya. Tapi seakan tanpa merasakan rasa sakit di tubuhnya, paman Ben dengan membabi buta tetap menyerang makhluk itu—maksudku Sasuke, kuku-kuku jarinya yang runcing mengoyak tubuh Paman Ben. Mematahkan tulang-tulangnya dengan begitu brutal.
Darah. Darah. Terlalu banyak darah.
Darah di mana-mana. Aku hanya memandang nanar dengan tubuh gemetar.
"Hahahaha, indah sekali, Sasuke-kun."
Mrs. Fuller mengayunkan kapaknya, dan menebas lengan Sasuke, darah mengucur keluar. Segera, Sasuke membuang tubuh Paman Ben ke lantai dan mematahkan lengan Mrs. Fuller, merebut kapaknya dan menebasnya berkali-kali hingga teronggok di lantai tak bergerak, namun Sasuke tetap mengayunkan kapaknya tanpa henti. Darah meleleh di lantai.
"Hahahaha, sudah, Sasuke-kun, dia sudah mati, hahahaha…."
Tiba-tiba tawa mengerikan itu berhenti ketika kepala bibi Keiko jatuh dan menggelinding di lantai. Tubuh tanpa kepala itu ambruk.
Aku harus memeluk diriku sendiri ketika aku tidak bisa menghentikan tubuhku yang gemetar, mataku nanar memandang lantai di bawahku. Air mataku menetes satu-satu di lantai.
Semuanya hening.
Aku menggigil oleh rasa takut dan amarah.
"Sakura," suara pelan Sasuke semakin membuatku beringsut mundur.
Tangis sudah mencekat di tenggorokanku. Tubuhku menggigil dan gemetar. Semua bayangan itu. Mata itu. Darah. Aku tidak mungkin bisa melupakannya.
Darah. Banyak sekali darah.
"Sakura," kata Sasuke lagi. "Sebenarnya aku tidak mau kau melihatku dalam keadaan seperti itu. Tapi semua sudah selesai. Ayo kita obati lukamu dan bersihkan dirimu juga," suara Sasuke yang lembut membuatku ragu apakah itu memang benar Sasuke.
Ketika tangannya menyentuh lenganku, tubuhku membeku oleh rasa takut, jijik dan marah. Aku menepis tangannya dengan keras.
"Jangan sentuh aku," desisku penuh kebencian dan rasa jijik. Tangisku pecah, tubuhku semakin gemetar hebat. "Kau membunuh mereka. Kau membunuh mereka. Kau membunuh mereka," bisikku di tengah usahaku menahan air mata.
"Sakura, lukamu harus—"
"Kubilang jangan sentuh aku! Dasar monster."
Bisa kurasakan tubuh Sasuke membeku di depanku.
"Baiklah, kalau begitu." Jika tidak dalam kondisi setengah gila aku akan menyadari betapa dingin dan tanpa emosi suara Sasuke. "Betapa pun kau takut dan jijik padaku, setidaknya pandanglah aku, Sakura."
Aku mengangkat kepalaku perlahan bersiap melihat makhluk itu. Tapi yang ada hanya Sasuke yang kukenal, dengan ekspresi luar biasa dingin. Pupil mata merahnya berputar menjerat mataku. Kemudian yang kulihat setelahnya adalah kegelapan hangat dan nyaman yang menyelimutiku—membuatku merasa semua kejadian ini hanya mimpi.
.
We have been surviving on lies.
.
.
Big thanks for un-login readers chapter 6 kemarin c:
Ma Simba. HarunoZuka. Vvvv. mayu akira. Kikyo Fujikazu. Hikari Shinju. MisakiA7X. Sasusaku. Ai Nakamura . lolycuka' pink . SyahdunyamembacaFF. NaJlamalia. Sakusasu. kyuhyun lophe. Sei. Ney-chan . SONE BiSha Uchiha. uciha sakura .
Yang login saya bales pake PM yaa :D
So jreng jreng jreng~ I am back! Hohoho. Hai semuanyaaa~ Do you miss me? XD
Okay, absolutely no, I know. Setelah berjuang dengan writer's block, akhirnya saya berhasil keluar, hahahaha. Maafkan atas ketidakjelasan saya. Dan terimakasih untuk teman-teman yang masih bertanya dan nagih fic-fic saya. :D *ngasih kado satu-satu*
Dan okay, ngomong-ngomong soal cerita ini. Kenapa jadi dark romance gini, hah? *head bang* Maaf ini harusnya dark fantasy. Dan kenapa dari kemaren ini cerita muter-muter di Sasuke dan Sakura doang? Dan kenapa ga sampe-sampe juga di negeri ga jelas itu? Dan menurut saya deskrip di chap ini minim sekali, hohoho. Dan ga usah pada protes kalau Sakura di chapter ini nyebelin, keras kepala, jahat de el el. Saya ingin membuat perkembangan karakter, dan rencananya memang dari awal karakter Sakura seperti ini hingga nanti ada perkembangan. Maaf bagi yang kecewa, ohohoho *dibakar* ;D
Saya mohon untuk bersabar ya. Ini bukan akan jadi kisah cinta lebay, dengan makhluk keren super posesif pada tokoh wanitanya, err…sebenarnya agak sih, tapi ini lebih gelap dan muter-muter (iklan?) Walaupun di chapter ini agak lebay dan kurang tujuannya (?) maksudku heloo, terus kenapa kalau diserang oleh 3 zombie dan endingnya mereka juga kalah. Okee, sudahlah, semoga semuanya suka chapter ini, walaupun saya agak ragu. LOL XD Maaf atas bacotan kepanjangan ini. Terimakasih semuanya. Berikan kritik dan saran juga yaa. :D
Ganbatte. Stay tuned. :D
Sincerely
Fading fairytale
