Bisakah?
Disclaimer:: Naruto © Masashi.K
Warnuing :: Rape! Alur lambat
Flashback
Keberangkatannya yang lebih awal beberapa jam lebih awal menuju Indonesia membuat Kakashi sedikit merasa berat hati. Penerbangan yang cukup lama terasa sangat melelahkan. Apalagi dia harus mampir ke beberapa tempat sebelum datang dan beristirahat di hotel.
Setibanya di kamar hotel dia segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Sesekali Kakashi mencoba untuk memejamkan matanya, namun beberapa menit kemudian matanya kembali terbuka.
Jika bukan demi pekerjaan yang sangat penting sudah barang pasti dia tidak ada di sini. Fisik yang lelah dan otak yang tak bisa berhenti memikirkan masalah antara dia dan kekasihnya membuat situasi semakin berat bagi Kakashi.
'Aku harus menghubungi Rin saat ini juga. Masalah ini hanya akan semakin buruk jika tidak diselesaikan sekarang.' pikir Kakashi.
Kakashi segera mengambil ponsel pintarnya yang tergeletak di atas bantal. Dia mencoba menghubungi Rin dengan sambungan video call. Beberapa kali Kakashi mencoba tapi Rin mengacuhkan panggilannya.
'Ayolah Rin, ini bukan saatnya untuk saling diam.'
Ajaib, seperti mendengar apa yang Kakashi fikirkan. Akhirnya Rin menyerah dan mau berbicara dengan Kakashi.
'Hai, Kakashi. Kau sudah sampai?' Rin yang sedang berada di ruang tv rumahnya menjawab dengan nada yang lembut.
'Iya, aku sudah sampai. Rin, aku ingin kita untuk membicarkan masalah kemarin lagi.' Kakashi langsung saja berbicara tentang apa yang sebenarnya ingin dia katakan.
"Dengar Rin, aku ingin kita tetap bersama. Aku tidak ingin semua yang kita bina selama ini menjadi tidak berarti."
" . . . . ."
"Aku berharap kita bisa menjalani hari-hari seperti yang kita bayangkan dulu." Kakashi mencoba meyakinkan Rin agar mau merubah keputusannya kembali.
"Kakashi aku mohon hentikan. Bukan sekali saja aku memikirkan semua ini." Beberapa tetes air mata membasahi wajah perempuan berambut coklat yang sangat Kakashi cintai.
"Jika kita bersama apa yang akan kita dapatkan? Kita tidak akan bahagia, Kakashi. Kehidupan kita hanya akan terasa kosong"
Mendengar perkataan Rin membuat hatinya terasa perih.
"Aku tidak peduli dengan itu. Aku bisa membuatmu bahagia"
Rin menggelengkan kepalanya. "Tidak Kakashi, apa kau fikir aku akan bisa bahagia menjalani kehidupan seperti itu? Aku bukan perempuan yang sempurna lagi. Aku pengidap AIDS. Mengertilah keadaanku juga." Rin menghapus air mata yang turun semakin banyak dari kedua matanya.
"Kakashi jadilah realistis. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Cerita hidup kita tidak semudah alur cerita twilight. Aku tidak bisa melayanimu sepenuhnya. Aku juga tidak bisa memberimu anak. Apa kau fikir aku tidak akan tersiksa jika kita bersama?"
Kakashi hanya bisa mendengarkan semua kepahitan yang selama ini Rin fikirkan seorang diri. Sungguh dia tidak pernah memikirkan masalah ini dengan sudut pandang Rin sebagai pengidap AIDS.
Mandengarkan kenyataan itu membuat Kakashi menyadari betapa egois dirinya selama ini.
"Rin, maafkan aku."
"Aku tau kau merasa bersalah, Kakashi. Tapi semua ini adalah kekuranganku. Aku yang harusnya minta maaf. Seharusnya dari awal aku tidak memberikan harapan kosong padamu, pada kita berdua. Apa yang kita lakukan dulu hanya membuat kita terluka."
"Kakashi, carilah wanita yang lebih baik dari pada aku, yang bisa memberimu segalanya. Karena aku yakin takdirmu bukanlah aku. Cepat atau lambat kita juga akan berpisah. Jaga dirimu baik-baik. Dan tolong hiduplah dengan bahagia."
"Kau juga. Apakah ini yang terakhir? Setidaknya bisakah kita tetap menjaga hubungan baik?"
"Tidak, Kakashi. Kau tetap bisa menghubungiku. Kau adalah salah satu orang yang paling berharga untukku. Aku tidak ingin kehilangan teman sepertimu.'
"Selamat tinggal." Kata terakhir Rin kepada Kakashi saat menutup percakapan via telepon mereka. Meninggalkan Kakashi yang merana di kamar hotelnya yang sepi.
Sepi, sekali lagi Kakashi hidup dalam kesepian. Satu-satunya orang yang selalu berada di sisihnya kini telah memilih untuk pergi.
Dia telah kehilangan seorang Rin. Wanita itu seperti sebuah peti harta karun yang tersegel. Seorang wanita yang tegar menghadapi segala hambatan dalam hidupnya. Seorang wanita yang selalu bisa mendampingginya selama bertahun-tahun.
Kakashi memijit kepalanya yang terasa begitu pusing. Emosi dan keadaan ini begitu berat baginya. Dia ingin sekali untuk berteriak dan menghancurkan barang-barang di sekelilingnya, namun dia memendam semua rasa itu. Kakashi menyadari dengan melakukan hal seperti itu dapat menyelesaikan apapun.
'Tok..tok..tok..' Kakashi bangkit dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamar. Kakashi berjalan kearah pintu. Sambil berjalan dia juga mengenakan sebuah masker steril yang selalu dibawanya. Jujur saja dia tidak ingin ada orang yang melihat keadaan atau lebih tepatnya membaca perasaanya sekarang.
Dia membuka pintu kamar dan hanya menemukan beberapa kru yang ikut berangkat bersamanya. Mereka semua memasang senyuman yang sangat lebar di wajah mereka masing-masing.
"Sutradara, ayo kita bersantai dulu. Besok kita masih libur, jadi tidak masalah jika kita jalan-jalan dulu." ajak salah satu dari mereka mengajak Kakashi untuk menikmati kehidupan malam di kota ini.
"Hey Kakashi ada apa denganmu?" Sepertinya Genma menyadari ada yang berbeda dengan Kakashi malam ini. Tak heran, mereka memang telah mengenal cukup baik satu sama lain dan sering bekerja sama dalam berbagai project film. Sehingga Genma mengetahui kebiasaan Kakashi untuk memakai masker saat dia merasa tidak nyaman.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah." Kakashi berbohong. Tidak mungkin juga dia mengatakan yang sebenarnya karena masalah itu terlalu pribadi untuk diceritakan kepada siapapun.
"Kalau begitu, ayo Kakashi, ikut kami saja. Sebelum kita menjadi sangat sibuk sebulan mendatang, kita nikmati saja malam ini." Genma membujuk Kakashi dengan kata-katanya. Sebenarnya dia juga tau jika Kakashi tidak berminat untuk ikut.
"Sutradara, kau masih muda, usiamu masih 33 atau 34 tahun saja bukan? Jangan seperti orang tua, menghabiskan waktu di kamar saja." Kata salah satu kru yang berpenampilan nyentrik walaupun usianya terbilang sudah lanjut.
"Kakashi, dengarkan nasihat 'pamanmu'. Jangan menjadi tua sebelum waktunya, tapi jangan merasa selalu muda saat kau memang sudah tua." Genma menyindir pria lanjut usia yang berdiri di sebelahnya. Butuh beberapa saat bagi 'paman' untuk mencerna perkataan Genma.
"Brengsek! Siapa yang kau panggil paman?" Genma menerima sebuah pukulan keras yang mendarat di kepalnya. Semua orang tertawa karena melihat ekspresi marah si 'paman'.
"Baiklah, aku ikut. Genma, paman, sudah berhentilah." Kakashi merasa sedikit lega setelah tertawa bersama kru-kru lainnya.
"Kau juga Kakashi! Jangan memanggilku paman!" Mereka pergi meninggalkan hotel menuju tempat tujuan yang mereka.
#Fanfiction#
Kakashi duduk sendiran di tengah ruangan bercahaya redup. Di sini banyak sekali orang namun dia tetap merasa sendirian. Musik terus saja bergema hingga memekakkan gendang telinganya.
Telah banyak gelas-gelas kosong yang berjajar di hadapan Kakashi, menunjukkan sudah banyak alkohol yang masuk kedalam sistem tubuhnya. Setiap gelas minuman beralkohol yang dia minum semakin menenggelamkan Kakashi pada kesedihan. Tapi dia tidak bisa berhenti, entah mengapa ia menikmati kesedihan ini.
Semua kenangan buruk masa kecilnya, kesepian di masa remajanya terasa membuatnya merasa tercekik. Kematian ibunya, melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa bunuh diri ayahnya, penculikan Rin oleh sindikat perdagangan manusia, hingga yang terkini, perpisahannya dengan Rin. Astaga! Rasa sakit ini terasa menyenangkan. Lagi, lagi, lagi, dan lagi Kakashi semakin banyak menenggak minuman sampai dia tak bisa menghitung berapa gelas yang telah ia habiskan.
"Kakashi kau minum seperti orang yang tidak waras." Kakashi tidak lagi memperdulikan siapa saja yang berbicara padanya.
"Kau sudah minum terlalu banyak. Ayo kita kembali." Tangan Genma yang hendak menyentuhnya pun di tampik oleh Kakashi.
"Em..pergilah sana. Aku bisa mengurus diriku sendiri." Kata Kakashi seenak hatinya.
"Baiklah, jika kau masih mau berada di sini. Jangan kemana-mana, nanti kita pulang bersama-sama."
"Hm." Kakashi menjawab sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Menyuruh semua orang yang berbicara dengannya untuk pergi meninggalkannya sendiri.
Beberapa menit kemudian...
Kakashi merogoh-rogoh saku celananya. 'Hm..kosong, kosong, dompet, tidak ada?' Ekspresi. Kakashi semakin terlihat out of character saat mabuk. Bibirnya manyun dan kedua alis matanya bertautan.
"Ponselku mana ya?" Kakashi berkata dengan sangat keras sehingga bartender menghampirinya.
"Tuan, sepertinya ada sudah minum terlalu banyak. Lebih baik anda berhenti." Kakashi mengangguk kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar minumannya dan uang tip untuk si bartender.
"Apa ini cukup?" Kakashi bertanya dengan pandangan polos.
"Cukup. Terima kasih." Kakashi melangkah pergi dari tempat duduknya. Langkahnya tak limbung sama sekali. Sepertinya alkohol sama sekali tidak memberikan efek pada tubuhnya dan hanya mempengaruhi kesadaran otaknya.
End Of Flashback
Sakura menuntun Kakashi kembali ke kamarnya. Ia terus saja menerka-nerka apa yang membuat lelaki ini minum terlalu banyak. Dari luar Kakashi sama sekali tidak terlihat seperti orang yang suka mabuk-mabukan. Tapi kenapa dia bisa seperti ini?
"Kakashi? Kenapa kau mabuk?" Sakura bertanya.
"Karena aku minum terlalu banyak?" Kakashi menjawab dengan entengnya.
"Bukan itu maksudku. Alasannya kau minum, kenapa?" Sakura mengulangi pertanyaanya dengan lebih jelas.
Tanpa sadar Kakashi mengeratkan genggaman tangannya di lengan Sakura.
"Kenapa? Kenapa... aku minum.. sampai aku mabuk... kenapa?" Mendengar jawaban Kakashi yang hanya mengulang-ulang pertanyaan membuat Sakura sedikit sebal. 'Bicara dengan orang mabuk memang menyebalkan.' Fikir Sakura sambil membuang nafas panjang.
Mereka terus berjalan hingga sampai di depan kamar Kakashi. Syukurlah orang itu masih dapat mengingat nomor kamarnya sendiri, kalau tidak mungkin dia akan terlunta-lunta di gedung ini. Kemudian Sakura meminta Kakashi untuk membuka pintu kamarnya.
"Aku pulang!" Kakashi memberi salam seolah-olah dia sedang pulang ke rumahnya sendiri.
Ruangan itu cukup luas, nyaman, dan berfasilitas lengkap. Semua barang masih tertata rapi, hanya ada koper milik Kakashi yang belum sempat dikeluarkan isinya dan sebiah jaket berwarna hitam yang tergeletak di atasnya.
"Ayah! Aku pulang! Ayah ada dimana?" Kata Kakashi yang langsung berlari membuka pintu balkon. Sakura secara reflek menyusul Kakashi. Ia khawatir Kakashi akan melompat dari balkon.
"Kakashi, tidak ada siapapun di sini." Sakura berkata sambil berusaha menenangkan Kakashi yang terus saja meneriakkan 'Ayah kau dimana?' Dia menarik lengan Kakashi yang semakin lama malah berteriak semakin histeris.
"Kakashi tenangkan dirimu! Hey, duduk dulu dan dengarkan aku!" Sakura menarik turun kedua lengan Kakashi.
Kakashi hanya terduduk dalam posisi jongkok sedangkan Sakura berada di depannya. Tangan mungil Sakura mengusap-usap pundak Kakashi.
"Kakashi tenanglah. Kita tidak sedang berada di rumahmu. Jadi ayahmu juga tidak ada di sini." Penjelasan Sakura menjadikan Kakashi semakin bingung karena yang ia dengar hanya 'ayahmu tidak ada'. Otaknya sudah berkabut akibat kadar alkohol dalam darahnya yang sudah jauh meninggalkan garis batas normal sehingga tidak lagi dapat memproses informasi dengan waras.
"Rin, ayahku sudah meniggalkanku ya?" Sekejap kemudian laki-laki itu berubah menjadi sedih. Kedua matanya yang sedikit sayu menjadi berkaca-kaca dan beberapa otot wajahnya mengeras. Kakashi duduk bersandar pada kaca balkon dan menarik Sakura kedalam pelukannya.
'Siapa lagi orang yang bernama Rin itu? Ternyata berurusan dengan Kakashi saat dia seperti ini sangat melelahkan.' Keluhan hati Sakura. Sakura menggunakan kedua tangannya untuk menjauhkan diri dari Kakashi.
"Kakashi lepaskan aku!" Seolah tidak mendengarnya, Kakashi sama sekali tidak mengubah posisi duduk mereka. Dia tetap saja mendekap Sakura layaknya benda berharga yang akan hilang jika terlepas satu detik pun.
"Kakashi, aku harus pergi." Sakura meronta lebih keras lagi namun tetap tidak memberikan efek apapun pada dekapan Kakashi. Laki-laki itu jauh lebih kuat dari pada otot-otot lengan Sakura yang sedang berjuang keras.
Kakashi mengeratkan dekapannya pada Sakura dengan cara mengunci pergerakan pinggul Sakura menggunalan kedua paha kakinya. "Aku tidak akan melepaskanmu, tidak! Aku tidak mau kehilanganmu lagi, Rin."
Tanpa memberi Sakura kesempatan untuk menjawab, kedua tangan Kakashi telah menerkam pergelanggan tangan Sakura. Gadis itu tersentak kaget dengan pergerakan Kakashi yang tiba-tiba berubah menjadi agresif.
Kakashi mendorong tubuh mereka berdua, sehingga Sakura menjadi terlentang dengan kedua tangan tertahan di samping kanan-kiri kepalanya. Untunglah Sakura masih sempat membuat sebuah gerakan reflek menahan kepalanya sehingga dia tidak terbentur lantai kayu yang keras.
"Kakashi, sadarlah! Aku ini bukan Rin!" Ucap Sakura yang semakin panik saat Kakashi menindih tubuh mungilnya hingga dia tidak mampu lagi untuk bergerak.
Kakashi tidak mengatakan apapun lagi. Dia malah berusaha untuk mencium bibir Sakura. Dengan kepalahnya yang masih bisa bergerak bebas, Sakura menghindari seluruh ciuman Kakashi.
Laki-laki berambut perak yang tengah mabuk berat itu tidak kehilangan akal untuk mengunci pergerakan kepala Sakura. Dengan kasar dia menyeret kedua pergelangan tangan yang ia cengkram menuju datas kepala Sakura.
Mau tak mau Sakura tak bisa melawan lagi saat kepalanya tertahan oleh kedua lengan Kakashi. Bibirnya telah saling menempel dengan laki-laki mabuk ini.
Sentuhan-sentuhan nista Kakashi di bibir bawahnya tidak membuat Sakura goyah untuk tetap mengunci rapat bibirnya. Namun hal ini malah membuat Kakashi mengalihkan perhatiannya kepada rahang, daun telinga, dan leher Sakura.
Gadis malang itu hanya bisa menangis saat bibir Kakashi menjelajahi lebih jauh bagian-bagian tubuhnya. Seperti biasa, serangan panik membuat tubuh Sakura lemas tak berdaya. Telapak tangan dan kakinya menjadi sangat dingin. Dan ia dapat merasakan tubuhnya gemetar tak karuan.
Tamatlah riwayatnya hari ini. Sakura benar-benar putus asa dengan reaksi tubuhnya yang tidak berdaya di saat-saat krisis seperti ini. Sakura mencoba untuk berteriak meminta pertolangan, namun tetap nihil. Suaranya sama sekali tidak keluar, bahkan walaupun dia telah mengerahkan seluruh upayanya tetap saja tidak bisa keluar. Dan di saat Sakura membuka mulutnya untuk berteriak, Kakashi memanfaatkan keadaan untuk dapat menjelajahi rongga mulut Sakura.
Saat tangan Kakashi mulai menjamah kulit di balik pakaiannya, Sakura hanya bisa berdoa agar semua siksaan ini berakhir dengan cepat.
Sebuah hal yang harusnya berbuah kenikmatan malah menjadi sebuah neraka baginya. Belum pernah Sakura membiarkan siapapun menyentuhnya seperti ini. Bahkan dia melarang Taka, walaupun Taka adalah pacarnya. Sakura telah bertekat untuk memberikan tubuhnya hanya pada pria yang sudah terbukti mencintainya dengan sangat dalam. Sungguh dia selalu dihantui dengan ketakutan-ketakutan akan melakukan kesalahan yang sama dengan yang dulu pernah diperbuat oleh kedua orang tuanya.
Kakashi mengeluarkan sebilah pisau lipat dari dalam saku celananya. Sebuah pisau lipat buatan salah satu negara eropa yang selalu membantunya untuk melakukan hal-hal kecil seperti memotong kertas, sekarang dia manfaatkan untuk memotong kain pakaian yang Sakura kenakan. Tak lupa dia juga memotong bra milik gadis yang sedang ia gagahi, lalu membuangnya secara sembarangan.
"Aku mencintaimu, Rin." Bisik Kakashi di telinga Sakura sebelum ia menikmati seluruh kenikmatan yang ditawarkan oleh tubuh Sakura. Sedangkan gadis di bawahnya menangis semakin menjadi-jadi.
Ingin sekali Sakura meneriakkan 'Aku bukan Rin! Lepaskan aku!' Tapi apa daya, tubuhnya telah ter-shut down secara otomatis.
Tangan kiri dan mulut Kalashi tak henti-hentinya menjelajahi tubuh Sakura yang dalam keadaan telanjang dada. Saat tangannya merabah-rabah, mulut Kakashi memberikan ciuman-ciuman basah di sekujur bagian dada dan perut Sakura. Sentuhan itu membuat si gadis malang semakin menangis histeris.
Hampir saja jantung Sakura berhenti saat kedua tangan Kakashi melepaskan pakaian pembungkus bagian bawah tubuhnya yang Ia kenakan. Sakura merasa sangat terekspos kepada laki-laki yang baru saja ia kenal ini.
Tanpa menghiraukan Sakura, Kakashi melancarkan puncak agresinya di tubuh Sakura. Ia meludah di telapak tangannya dan kemudian menggunakan cairan itu sebagai pelumas dalam organ paling pribadi Sakura yang masih kering.
Setelah merasa cukup, Kakashi menempatkan dirinya di depan liang kewanitaan Sakura. Kemudian Kakashi mendorong tubuhnya untuk memasuki Sakura lebih dalam lagi. Laki-laki itu tak berhenti meskipun melihat ekspresi kesakitan Sakura saat dia merobek sesuatu yang ada di dalam sana.
Gadis itu menderita dalam level tak terkira. Sakura sama sekali tidak bisa rileks dengan benda asing berukuran besar yang memaksa masuk. Tapi Kakashi sama sekali tak peduli dengan keadaan gadis ini. Dia tetap menghajar apapun itu yang menghalanginya untuk bisa masuk lebih dalam. Belum lagi keadaan dinding-dinding Sakura yang jauh dari kata terlumasi dengan sempurna, membuat rasa sakit yang gadis itu derita semakin bertambah.
Rasa sakit ini sudah tidak terbendung lagi. Sakura merasa seolah dirinya terbelah menjadi dua. Rasa perih yang tidak tertahankan membuat kesadarannya menipis.
"Rin, aku menyakitimu? Maafkan aku. Tolong jangan tinggalkan aku lagi" Kakashi baru menyadari penderitaan Sakura. Dia menghapus air mata di pipi Sakura. Namun dia tetap berusah menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang malah semakin kencang. Bahkan dia masih bisa mengerang saat Sakura terisak namun tak menghiraukannya.
"Semua orang telah meninggalkanku, ayah, ibu, mereka sudah pergi. Aku sendirian, jangan tinggalkan aku lagi!" di tengah suara dengingan yang menulikan telingganya untuk sesaat samar-samar Sakura mendengar curahan hati Kakashi yang melukiskan kepedihnya dalam menjalani kehidupan yang sebatangkara.
Tindak perkosaan yang dilakukan Kakashi tak berhenti, malah bertambah brutal hingga akhirnya dia menyiramkan benih-benih pada rahim Sakura. Tepat setelah itu, Sakura kehilangan kesadarannya.
Keberuntungan memang sedang tidak bersama Sakura. Seorang penyelamat datang di saat yang kurang tepat. Genma yang sedang mencari Kakashi, memergoki pristiwa mengerikan yang terjadi di dalam kamar hotel ini. Mengapa pahlawan selalu datang kesiangan?
Dia berlari secepat mungkin untuk menolong Sakura. Tapi dia terlambat, semuannya telah terjadi. Genma mendorong tubuh Kakashi untuk menjauh. Dia melihat ada darah dan cairan semen yang mengalir saat tubuh Kakashi dan Sakura terpisah.
"Astaga Kakashi! Kau, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Genma mengacak rambutnya sendiri karena bingung untuk melakukan apa. Namun saat ia melihat kembali keadaan Sakura, Genma berinisiatif untuk mengangkat tubuh Sakura.
"Genma, jangan sentuh dia!" perintah Kakashi dengan suara bernada tinggi.
"Terus aku harus bagaiman? Membiarkan dia pingsan di sini? Yang benar saja, Kakashi!" Genma menjawab sambil menunjuk tubuh Sakura yang tergeletak dilantai.
"Kalau begitu cepat bawa Sakura ke tempat tidur!"
"Dia Rin, bukan Sakura!" Jawab Kakashi sambil mengangkat Sakura dengan menuju tempat tidurnya. Tanpa risih Kakashi berjalan di hadapan Genma walaupun tidak ada celana yang menutupi bagian tubuh bawahnya.
Setelah Sakura direbahkan di atas tempat tidur yang nyaman, Genma dengan segera menutupi tubuh gadis itu menggunakan selimut.
"Lihat dia baik-baik, Kakashi. Dia adalah Sakura. Gadis yang merayakan ulang tahunnya benerapa hari lalu di lokasi shooting. Kau ingat?" Suasana menjadi hening, Genma berfikir tentang cara mengatasi kekacauan ini, sedangkan Kakashi mencoba mengenali siapa gadis itu sebenarnya.
Kakashi mencoba fokus, namun sakit kepala yang berdenyut hebat menyerang kepalanya. Perlahan-lahan dapat dia bedakan jika warna rambut gadis itu adalah merah jambu bukan coklat.
Perutnya menjadi mual seketika. Kakashi pun berlari menuju kamar mandi. Dia memuntahkan seluruh isi lambungnya.
"Kakashi kau mandilah dulu dengan air hangat. Aku akan mencarikan aspirin untukmu." Genma mengecek daftar kontak dalam ponselnya. Untuk pertama kalinya dalam dini hari itu dia bersyukur 'Syukurlah aku masih menyimpan ini.'
Dia menempelkan ponsel miliknya pada telinga kanan. Setelah beberapa saat dia berkata "Hallo?"
TBC
Satu bulan baru update lagi, aku tau aku menyebalka, maaf ya. (Maaf juga aku belum mampu bikin lemon)
Terima kasih pada semua yang sudah mereview di chapter sebelumnya ::
dekdes
Namikaze Asyifa
YutaUke
