Seperti bukan dirimu saja.
Ketika sesuatu yang asing memasuki hatimu tanpa meminta ijin terlebih dahulu padamu.
Kau bahkan tak mengerti mengapa kau tetap membiarkannya tinggal disana dan menggeroggoti hatimu hingga hanya dia yang ada disana.
Kau hanya bisa tertawa sinis membayangkan betapa menggelikannya dirimu.
Cinta?
Sejenis makanan apa?
.
.
.
.
.
"Apa maksudnya ini?!"
"Hya! Astaga, kau membuatku kaget! Tidak bisakah kau sopan sedikit jika bertelefon denganku? Ucapkanlah salam terlebih dahulu padaku, dasar bocah stoic!" Dengusan keras dari seseorang yang baru saja Eunhyuk hubungi dengan ponselnya, sontak membuat Eunhyuk menjauhkan ponselnya dari telinganya yang bisa saja pecah jika ia tidak melakukan pencegahan seperti ini.
Ia menyandarkan punggungnya pada dinding yang berada di dekat tangga darurat dan memasukan tangan kirinya kedalam saku, sedangkan tangan kanannya kembali mendekatkan ponselnya pada telinga.
"Apa yang kau lakukan noona, apa kau sinting? Kau menerima kekonyolan ini tanpa persetujuan dariku?" Ujar Eunhyuk lagi dengan nada bicara yang terdengar berbahaya. Membuat sang penerima telefon dari Eunhyuk hanya mampu terdiam dengan helaan nafas berat yang terdengar dari sebrang sana.
"Aku akan jelaskan setelah kau pulang, disini sedang banyak client!" Sahut kakak ipar Eunhyuk pelan. Berusaha sebisa mungkin meredam rasa kesalnya, karena Eunhyuk mengatainya sinting tadi.
"Kau berniat bermain-main denganku rupanya?!" Eunhyuk menyeringai sinis meskipun tak dapat dilihat oleh kakak iparnya yang berada di Seoul.
"Aku tidak bermain denganmu bodoh! Lagipula ini bisnis! Mana mungkin aku menolaknya, sedangkan si orang kaya itu menjanjikan upah yang sangat menggiurkan!"
"Setelah kau melahirkan nanti, aku akan buat perhitungan denganmu." Ujar Eunhyuk datar. Sebelum ia benar-benar menutup sambungan telefonnya dengan sang kakak ipar, lengkingan mengerikan terdengar dari ponselnya. Petanda bahwa wanita yang kini tengah hamil muda itu, tampak kesal karena perkataan Eunhyuk yang memang menjengkelkan itu.
"Wanita itu benar-benar sudah lebih dari kata sinting." Dengusnya entah pada siapa, ia menghembuskan nafasnya berat seraya mengusak surainya yang menutupi keningnya.
Ini merepotkan.
.
.
.
.
.
Langkah teratur Eunhyuk sontak terhenti saat mendapati seorang pria tengah berdiri dihadapannya, pria itu membungkukan tubuhnya untuk memberikan penghormatan kepada Eunhyuk dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Selamat Pagi Tuan Lee." Sapa pria dengan jas hitam yang terlihat pas pada tubuh gagahnya. Eunhyuk terdiam dengan tatapan datar, siapa orang ini?
"Ah! Perkenalkan nama saya Kim YoungWoon, saya ditugaskan untuk menjadi asisten anda tuan Lee." Jelasnya setelah melihat tidak ada tanggapan apapun dari sosok dihadapannya.
"Sajangnim Lee telah menunggu anda di cafe dekat rest area tuan." Ucap pria bermarga Kim itu seraya menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan kepada Eunhyuk yang saat ini masih tidak bergeming pada tempatnya.
Eunhyuk berdecak, benar-benar misi yang sangat rapi dan terencana. Ia tidak menyangka bahwa dirinya benar-benar akan turut masuk dalam sebuah lumpur hidup yang akan menelan sekujur tubuhnya jika saja dia tidak bisa menyelamatkan dirinya kelak. Hancur sudah prinsip yang ia bangun selama ini, pekerjaan santai yang selalu ia idam-idamkan telah musnah sejak pertemuannya dengan pria pemegang saham terbesar saat ini.
"Persetan!" Umpat Eunhyuk datar. Ia menyeringai sinis, dan kemudian mengayunkan kedua kakinya menuju rest area yang berada didekat lobby hotel berbintang lima ini. Menghantarkan dirinya ke sebuah bencana yang sudah Eunhyuk bayangkan dampak negatif terhadap dirinya nanti.
'Kelak aku akan membunuhmu sajangnim yang terhormat'
.
.
.
.
.
"Anda Lee Eunhyuk? Senang berjumpa denganmu." Seringai tipis itu perlahan tercipta sempurna diwajah rupawan seorang pria yang kini tengah mengenakan kemeja putih berbahan sutera langka yang dipadukan dengan rompi berbahan kulit mewah dan jangan lupakan celana berbahan sutera yang membalut kakinya yang sedikit berisi.
Pria itu mengusap bibir bawahnya, enggan menyambut tamunya secara layak yang kini tengah berdiri dengan tatapan menusuk seperti biasa.
"Selamat pagi, saya adalah asisten dari Sajangnim Lee. Silahkan anda duduk." Eunhyuk melirik sejenak seorang wanita yang sejak tadi berdiri disamping pria terhormat itu, seorang asisten wanita yang Eunhyuk tidak pernah mau tahu namanya.
Ia segera mendudukan bokong sintalnya dan menyilangkan kedua kakinya dengan elegan. Pandangan tajamnya fokus menatap Donghae yang kini tengah menyeringai kepadanya.
Eunhyuk menggenggam kedua tangannya diatas pahanya, siap mendengarkan intruksi samar yang akan menjadi dialognya nanti. Bagaimanapun juga, ia harus terlihat profesional bukan? Setidaknya ingatkan dia jika kakak iparnya telah melahirkan, ia akan membuat perhitungan yang sangat spektakuler kepada wanita gila itu nanti.
"Pesankan aku kopi." Titah Eunhyuk kepada seorang pria yang kini tengah berdiri disampingnya. Membuat pria itu segera bergegas menuju counter cafe yang tidak begitu jauh dari pintu masuk.
Donghae tersenyum kecil saat melihat betapa hebatnya Eunhyuk yang dengan mudahnya berlagak seperti seorang pengusaha ulung. Menarik sekali, ingin rasanya Donghae bertepuk tangan dihadapan pria bersurai kecokelatan itu dan memberikannya hadiah mahal yang akan sangat disukai pria berpinggang ramping itu.
"Mengapa hanya kopi? Bagaimana kalau kita sarapan bersama? Tuan… Lee?" Donghae bersua, menawarkan sebuah tawaran yang mampu membuat Eunhyuk berdecak. Ia terdiam, dengan jemarinya yang perlahan menyingkirkan anak rambut yang mengganggu telinganya untuk mendengar. Hingga memperlihatkan tulang telinganya yang mampu membuat Donghae terkesima.
"Langsung saja pada intinya Sajangnim yang terhormat. Waktuku sangat padat." Ujar Eunhyuk dengan tatapan datar. Donghae berdecak senang sebenarnya, karena ia memilih orang yang tepat untuk menjalankan misi perlindungan hartanya yang dapat dikatakan besar itu.
Donghae menengadahkan tangannya kepada asistennya yang berdiri disampingnya. Membuat asisten wanita itu segera menyerahkan sebuah map cokelat diatas tangan Donghae dan sedikit membungkukan tubuhnya.
"Aku menerima tawaranmu untuk bekerja sama dengan perusahaan yang ku kelola tuan Lee, ini adalah nilai saham yang aku pegang sekarang. Kurasa ini akan cukup untuk membangun kerajaan bisnis yang sangat berpengaruh dalam dunia." Ucap Donghae seraya menyerahkan map cokelat yang kini ia letakkan diatas meja dihadapan Eunhyuk yang kini memfokuskan pandangannya pada map itu. Eunhyuk meraih map itu dan menyerahkannya kepada asisten palsunya yang baru saja menghampirinya setelah memesan kopi hangat di counter tadi.
"Kau… Tidak ingin melihatnya dahulu tuan Lee?" Tanya Donghae seraya mengusap bibir bawahnya dengan sangat sensual. Tatapan tajamnya seakan menelanjangi Eunhyuk yang kini tengah membalas tatapan Donghae dengan tajam juga.
Eunhyuk tersenyum miring seraya menopang dagunya dengan lengannya yang bertumpu pada meja berbahan kayu jati di cafe itu, ia mencondongkan tubuhnya sedikit dan meraih secangkir kopi hangat milik Donghae yang tertengger manis dihadapannya.
"Apa kau sudah menyesapinya?" Tanya Eunhyuk datar seraya memainkan bibir cangkir dengan jari telunjuknya yang lentik. Menanti reaksi Donghae yang kini semakin menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dan mengabaikan asisten wanitanya yang semakin berkeringat dingin karena tingkah laku keduanya yang tidak menyenangkan itu.
Donghae tertawa sinis mendengar pertanyaan Eunhyuk yang menyeleweng dari segala rencana yang telah ia susun dengan sangat singkat. Mungkin dia memang sedang ingin bermain dengan Donghae, siapa yang tidak senang jika sosok mengagumkan dihadapannya sedang mengajaknya bermain? Donghae sangat menyukainya.
"Apa boleh aku menyesapi segala rasa yang ada pada dirimu? Kau membuatku ingin tertawa tuan Lee." Sahut Donghae tak kalah menyebalkan dari Eunhyuk yang kini tengah memandang pria itu dengan tatapan merendahkan.
"Setelah kau menanda tangani kesepakatan ini, kapan kerja sama ini akan mulai kita jalankan sajangnim yang terhormat?" Mengabaikan semua pertanyaan biadab Donghae. Eunhyuk segera menyentuh ganggang cangkir putih itu dan mengarahkan bibir cangkir itu pada permukaan bibirnya yang merah merekah, kemudian menyesap cairan pahit yang perlahan mulai terasa dingin di dalam mulutnya.
Donghae menggeram tertahan. Ia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya kepada Eunhyuk yang masih menenggak cairan pahit yang sebenarnya tidak disukai olehnya dan matanya yang sempat terpejam, perlahan memandang Donghae dengan tatapan remehnya yang khas.
"Kita akan bertemu lagi pada saat rapat besar direksi dan juga para pemegang saham berlangsung besok, aku harap kau tidak terlambat tuan Lee. Karena jika sampai itu terjadi, tamat riwayatmu." Bisik Donghae pelan, jemarinya yang besar perlahan meraih cangkir kopi yang berada dalam genggaman Eunhyuk dan segera meneguk sisa cairan pekat itu kedalam tenggorokannya.
"Dengar, dan perhatikan." Gumam Donghae pelan, amat sangat pelan. Ia meletakkan cangkirnya dan menatap Eunhyuk dengan sorot mata kelamnya, hingga mata kecokelatan milik Eunhyuk bertubrukan langsung dengan miliknya.
"Kau melihatnya?" Donghae menggerakan kedua belah bibirnya tanpa mengeluarkan suara huskynya yang memabukan. Eunhyuk segera menjauhkan tubuhnya dan menubrukan punggungnya kepada sandaran kursi.l
"Sampai disini saja. Ah! Ada beberapa hal yang akan disampaikan asisten saya pada anda tuan Lee. Dengar dan perhatikan, ingat itu sampai kapanpun." Donghae segera beranjak dari tempatnya duduk saat ini. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya dan menatap Eunhyuk sebentar sebelum ia benar-benar pergi dari cafe itu.
Meninggalkan Eunhyuk yang perlahan memejamkan matanya untuk menenangkan diri.
'Pria brengsek itu benar-benar telah membawaku kedalam permainan tidak lucumu ini sajangnim yang terhormat. Apakah ini permainan yang kau maksud selama ini? Sial, disini banyak mata-mata.'
.
.
.
.
.
Eunhyuk melirik seorang pria gagah yang ia ingat bernama Kim Youngwoon yang notabenenya adalah suruhan Lee Donghae sebagai asistennya, mengamati pergerakan pria itu yang kini tengah meletakkan beberapa pakaian mahal yang entah milik siapa ke dalam lemari sebuah kamar hotel yang berbeda dari saat pagi hari ia membuka matanya.
Eunhyuk yang sejak tadi terduduk diatas pagar balkon, hanya menatap datar pemandangan yang entah mengapa tidak membuatnya senang. Ia perlahan memejamkan matanya untuk menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya dengan tenang.
"Tuan Lee." Sapaan berat dari seseorang, sontak membuat Eunhyuk kembali kedunia nyatanya yang sangat membosankan. Ia menoleh, menatap datar seorang pria berjas yang kini sedikit membungkukan tubuhnya tepat dihadapannya.
Eunhyuk menyilangkan kakinya dan menatap pria bermarga Kim itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Aku bukanlah bossmu, jadi berhentilah memanggilku dengan sebutan 'tuan'." Ujar Eunhyuk tak minat. Jemarinya yang sejak tadi terdiam, perlahan menyingkirkan surai halusnya yang sedikit mengganggu pandangannya untuk mengintimidasi pria yang kini tengah tersenyum manis kepadanya.
"Ini atas dasar perintah boss saya tuan Lee. Jadi dalam pekerjaan ini saya patut menuruti perkataan boss saya, maaf jika anda tidak berkenan." Sahut Youngwoon tenang. Ia memang adalah seorang kepercayaan Donghae yang sangat pria kaya itu banggakan, tidak jarang pria berbadan besar itu selalu diikut sertakan dalam urusan menjalankan misi perusahaan besar milik pria bermarga Lee itu. Seperti pada saat ini, ia menjadi orang yang berpengaruh besar untuk memperlancar misi besar yang bisa saja mengorbankan nyawanya demi mempertahankan aset milik Donghae. Jelas partner pria itu adalah Eunhyuk yang notabenenya sengaja disewa khusus untuk misi kali ini.
Eunhyuk berdecak pelan sebelum ia menurunkan tubuhnya dari atas pagar balkon dan kini tubuhnya ia sandarkan di pagar itu.
"Kali ini apa lagi?"Tanya Eunhyuk tak minat, seraya melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Saya akan jelaskan, silahkan masuk." Sahut Youngwoon. Ia membungkukan badannya sebelum menggeser tubuhnya untuk memberi jalan agar Eunhyuk segera memasuki kamar hotel dan membicarakan misi selanjutnya yang akan ia lakukan esok.
Eunhyuk mendengus tak suka. Dengan berat hati ia segera beranjak dari balkon dan berjalan menuju sebuah sofa, kemudian mendudukan dirinya disana. Ia melihat map cokelat yang diberikan pria kaya itu padanya tadi di atas meja dan setelahnya ia meraih map itu, lalu membukanya.
"Di sana tertera kontrak kerja anda dengan sajangnim Lee, dan dilembaran lainnya adalah adegan skenario anda untuk drama kamuflase ini tuan Lee."
Eunhyuk hanya terdiam dengan pandangan datarnya ketika mendengar penuturan yang terlontar dari mulut sang kaki tangan pria kaya itu. Tatapannya fokus pada setiap lembar yang kini ia genggam.
"Mengapa dia setakut itu? Sampai melakukan ini dengan penuh perhitungan?" Eunhyuk berdecak samar. Melempar map cokelat itu dengan sedikit kasar keatas meja yang berada dihadapannya.
Ia mendongakkan wajahnya kepada pria berbadan tegap itu, menunggu jawaban apa yang akan pria itu lontarkan untuk membela bossnya yang mungkin saja memberikannya penghasilan yang sangat besar, sehingga orang ini mau menjadi pengikut setia si Sajangnim yang terhormat berwajah brengsek itu.
"Anda akan paham ketika Sajangnim memberitahukan alasannya padamu." Timpal Youngwoon dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya yang tampan itu. Ia memutuskan untuk undur diri dari kamar Eunhyuk, namun perkataan Eunhyuk membuatnya mengurungkan niatnya pergi.
"Dan satu lagi, aku tidak mengerti mengapa dia begitu menpercayaiku… Orang sombong itu, apa dia sedang mempermainkanku?" Dengus Eunhyuk seraya tertawa tak minat. Ia menatap asisten palsunya itu dengan tatapan datar yang biasa ia lakukan kepada orang lain, tak terkecuali dengan kakak lelakinya, kakak iparnya yang cerewet itu, ayah dan ibunya pun tak segan ia berikan tatapan mematikan itu kepada mereka.
"Oh ayolah, orang gila itu harus membayar semua ini dengan sangat mahal." Lanjutnya. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang empuk dan mendongakan wajahnya kebelakang hingga leher bagian belakangnya bersandar pas pada kepala sofa yang berwarna merah maroon itu.
"Saya bahkan tidak mengerti jalan pikiran Sajangnim Lee." Sahut Youngwoon yang masih setia berdiri di samping sofa. Memandang wajah Eunhyuk yang kini tengah memejamkan matanya.
Eunhyuk yang mendengar penuturan itu hanya berdecak dan tertawa remeh. Ia mengusak surainya yang menutupi keningnya, menggerakan jemarinya untuk membuat helaian rambutnya teruntai kebelakang.
"Yang benar saja."
.
.
.
.
.
Donghae terdiam mengamati gerak-gerik asisten wanitanya yang kini tengah tergugup seraya meletakkan sebuah map diatas meja dihadapan bossnya dengan tangan bergetar.
"Sa, saya sudah menemukan tempat tinggalnya dan latar belakang keluarganya. Silahkan anda periksa terlebih dahulu Sajangnim Lee." Ujar asisten Donghae, ia menundukkan wajahnya enggan untuk menatap bossnya yang rupawan itu.
Donghae meraih map itu dan membukanya perlahan, membaca setiap detail laporan dari hasil kinerja asistennya yang menurutnya sangat pandai dalam memahami setiap rencananya.
"Kau harus merubah identitas tentang keluarga dari pria itu secara keseluruhan sebelum rapat esok berlangsung, ingat hati-hati dengan tanggal pengunduhan data dan status mereka, mengerti?" Titah Donghae setelah yakin laporan asistennya sesuai dengan keinginannya.
"Baik Sajangnim."
"Dan lagi, carikan apartemen mewah untuk Eunhyuk-ssi dan segala keperluannya dengan sangat apik. Jika saja ada setitik noda terlihat, maka hancur sudah sumber pekerjaanmu nona." Donghae menyeringai dengan tatapan tajam yang membuat asisten wanita bermarga Park itu menegang. Donghae segera beranjak dari tempatnya duduk, membalikan tubuhnya menghadap balkon hotel yang dapat memperlihatkan pemandangan laut yang sangat indah didepan matanya. Ia mengusap bibir bawahnya, dengan mata yang terpejam menikmati semilir angin yang menerobos masuk menuju kamar hotelnya yang terbuka.
"Datanglah kerumah orang tuanya, dan beritahu maksud tujuanmu kepada mereka. Aku akan menemui mereka, setelah semua masalah disini telah selesai." Donghae memalingkan wajahnya, menatap asistennya dengan tatapan sinis yang sangat mengerikan dan jangan lupakan seringainya yang tak kunjung memudar dari wajahnya yang rupawan.
"Ba, baiklah. Saya permisi sajangnim." Ucap asisten Donghae seraya mengundurkan diri dari ruangan itu, dan meninggalkan Donghae dalam keheningan.
Donghae terdiam, memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya dan melangkahkan kakinya menuju balkon hotel yang berada didepan matanya. Angin laut yang begitu kencang menyambut kedatangannya di atas balkon kamarnya, hingga membuat surai hitamnya tampak acak-acakkan tak beraturan mengikuti arah angin yang membawanya entah kemana.
Ia merogoh saku celananya dan meraih smartphonenya untuk menghubungi seseorang yang sejak tadi menjadi prioritas dalam pikirannya saat ini. Namun ia urungkan ketika ia justru mengingat sesuatu yang jauh lebih penting dari pria itu.
Ia menekan nomer yang lain untuk menghubungi seseorang yang telah menjadi kepercayaannya selama ini, salah satu yang paling membuat Donghae memberi gelar pada orang itu sebagai tangan kiri seorang pengusaha handal seperti dirinya.
"Aku butuh bantuanmu, untuk melindungi seseorang…" Seru Donghae ketika seseorang menerima panggilannya dengan cepat.
"Baik Sajangnim."
.
.
.
.
.
Eunhyuk menatap datar sosok tegap seorang pria yang kini tengah berdiri disampingnya untuk menanti pintu lift yang ditunggunya terbuka. Ia kembali memalingkan wajahnya, menatap pintu lift tanpa mempedulikan pria disampingnya yang kini tengah menyeringai.
Pintu lift akhirnya terbuka, dan hanya kekosongan yang terlihat didalam kotak bergerak itu. Eunhyuk segera memasuki ruangan sempit itu, diikuti oleh pria yang sejak tadi terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun pada Eunhyuk.
Eunhyuk menekan tombol dasar, dan pintu lift kembali tertutup. Menyisakan keheningan kelam diantara kedua pria dengan umur yang sama itu.
Hanya keheningan yang tercipta diantara keduanya, tak ada yang mau memulai pembicaraan ataupun sekedar bertegur sapa sama sekali. Kedua pria itu hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Eunhyuk memejamkan matanya, sedikit mendongakan wajahnya hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang sangat memukau. Ia tampak sempurna meskipun tubuhnya hanya dibalut dengan kemeja cream dengan sweater cokelat muda yang menjadi perpaduan sederhana namun terkesan menawan pada tubuhnya yang bisa dikatakan kecil itu.
"Indah sekali." Eunhyuk sontak membuka matanya ketika suara baritone itu menyeruak menembus gendang telinganya. Ia melirik seorang pria yang masih berdiri santai disampingnya, tanpa memandang Eunhyuk barang sedetikpun.
Eunhyuk kembali memejamkan matanya, menunggu pintu lift berhenti di lobby bawah. Cukup jauh memang, mengingat kamar hotelnya berada dilantai 15.
Suara tawa menggema memenuhi ruangan lift yang sempit itu, sosok pria bersurai hitam itu mengusap bibir bawahnya dengan penuh minat.
"Tuan Lee, acting mu sungguh luar biasa." Seru pria itu seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Punggungnya ia sandarkan pada dinding lift yang masih bergerak kebawah.
"Permainanmu sangat tidak menyenangkan Sajangnim yang terhormat." Sahut Eunhyuk tajam. Ia membuka matanya, kembali memandang lurus pintu lift yang tidak kunjung terbuka. Ia mengusak surainya yang kini semakin memanjang, memperlihatkan telinganya yang tampak sempurna jika dipandangi dari arah manapun.
Tak terkecuali dari pandangan seorang Lee Donghae yang kini tengah memusatkan perhatiannya pada pria dingin disampingnya.
"Ini tidak seberapa Eunhyuk-ssi." Ucap Donghae dengan senyum remeh yang menghiasi wajah tampannya. Ia berniat membalikkan tubuhnya untuk menatap penuh wajah Eunhyuk, namun pintu lift sontak terbuka dan membuat beberapa orang memasuki lift dengan membawa troli besar dengan alat-alat kebersihan didalamnya.
Hingga membuat kedua pria yang sejak tadi berselisih tegang, tampak terpojok dengan tubuh Donghae yang seakan memberi jarak supaya Eunhyuk yang berada didalam kungkungannya tidak merasa terjepit.
Donghae terdiam, dengan tatapan datarnya yang begitu menusuk diantara retina mata Eunhyuk yang kini juga menatap Donghae dengan tak kalah datarnya. Keduanya saling bertukar pandang, tanpa mau kembali membuka pembicaraan mereka lagi.
Eunhyuk tampak tak bergeming ketika pria dihadapannya perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah Eunhyuk, dan menyisakkan jarak yang begitu tipis diantara keduanya.
"Kau, sungguh pengganggu… Bagaimana bisa? Kau menatapku dengan tatapan keji seperti itu? Eunhyuk -ssi?" Ucap Donghae, sebelum ia penanamkan sebuah ciuman penuh hasrat tepat menyentuh bibir Eunhyuk yang memerah. Jemarinya yang besar perlahan terangkat menuju surai Eunhyuk yang selalu membuat Donghae penasaran seberapa halus surai itu jika disentuh olehnya lagi, seberapa lembut jika telinga itu tersentuh oleh jemarinya, dan bibir itu… Saat bibir tipis Donghae berhasil melumat penuh nikmat bibir ranum itu. Membuat akal sehatnya hilang seketika.
Eunhyuk yang menerima perlakuan Donghae, sontak mendorong tubuh Donghae agar menjauh darinya. Tanpa berusaha sekuat tenaga, sosok yang dengan seenaknya menciumnya kini telah melepaskan pagutan sederhana yang baru saja ia alami.
Dan kini jemari itu perlahan menyentuh bibir bawah Eunhyuk yang tampak merekah dan memerah, mengusap bibir bawah pria itu tanpa mempedulikan beberapa orang yang sejak tadi melihat perbuatan memabukan yang Donghae ciptakan sendiri.
"Lee Eunhyuk, kau benar-benar brengsek."
.
.
.
.
.
.
TBC
Sampai bertemu di chapter 8 :)
