ok, sesuai janji. KakaIru chp 2!
thanks buat yang uda review. *meskipun ga banyak tapi kazu senang uda ada yang baca fic ini, hehe*
Warning : OOC, yaoi
Disklemer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Royal fiance ini milik kazu
Enjoyy~
KakaIru chp 2
.
Kakashi's POV
"Iruka, a-aku menyuka-" belum sempat aku selesai mengutarakan perasaanku, sebuah suara mengagetkan kami.
"EHEM!". Saking terkejutnya, Iruka lalu mendorongku dan punggungku menabrak orang yang mengganggu kami tadi. Sial! Siapa yang berani merusak momen indah ini?
"Hei, kalau mau bermesraan, tutup pintunya." Aku menoleh dan melihat Asuma berdiri di depan pintu kamar Iruka yang terbuka lebar.
Argh! Sial kau Asuma. Mengganggu saja!
"U-umm, maaf Asuma-senpai." Iruka menjawab dengan gugup. Aku memandanginya. Wajahnya masih terlihat sangat merah. Aku menghela nafas, yah kurasa menundanya hingga besok tidak akan membunuhku. Sudah malam juga, besok kan kami ada kelas pagi, Iruka juga pasti lelah.
"Hmm, tidak apa-apa Iruka. Sepertinya aku mengganggu ya?" Tanya Asuma dengan nada menggoda dan cengiran mengesalkannya itu. Cih, kalau bukan di depan Iruka, sudah kuhajar kau Asuma!
"Ya! Kau mengganggu. Sudahlah. Sudah malam, sana kembali ke kamar!" Aku lalu mendorong Asuma menjauh. Lalu aku memandang Iruka.
"Iruka, sudah malam, kau tidurlah. Besok pagi kujemput ya, kita berangkat bersama. Ok?" Iruka hanya mengangguk.
"Ya sudah. Selamat malam." Aku lalu maju dan mengecup keningnya. Dia tertunduk malu, sementara Asuma bersiul dari luar. Sial, mengganggu saja dia.
"Bye."
"Bye Kakashi, dan terima kasih." Ucapnya. Aku hanya tersenyum lalu menarik Asuma bersamaku, kembali ke kamarku yang hanya bersebelahan dengan kamar Iruka.
.
Normal POV
Keesokan harinya, seperti janjinya semalam, Kakashi menjemput Iruka. Mereka berangkat bersama ke kampus. Namun entah kenapa terasa ada yang aneh. Sepanjang jalan menuju ke ruang kelas, mahasiswa-mahasiswa yang lain memandang mereka dengan tatapan yang aneh. Ada yang sambil berbisik-bisik, ada yang cekikikan, dan tidak sedikit yang memberikan tatapan tidak suka, terutama gadis-gadis fans Kakashi.
"Umm, Kakashi, apa kau tidak merasa aneh?" Iruka bertanya ketika tiba-tiba seorang gadis melihat mereka berdua lalu menangis dan pergi.
"Kurasa begitu. Entah kenapa aku merasa dibenci?" Kakashi menjawab dengan tidak yakin. Seorang gadis lagi lewat dan kali ini bahkan dengan sengaja menyenggol bahu Iruka sehingga buku bawaannya terlepas dari tangannya dan jatuh. Ketika Iruka bermaksud memungutnya, gadis-gadis yang lain malah menginjak bukunya. Melihat hal itu tentu saja Kakashi geram.
"Hei! Apa-apaan kau? Sudah menabrak, tidak minta maaf lagi." Gadis tadi terkejut dibentak oleh Kakashi. Kini terlihat dia memandang Iruka dengan tatapan benci.
"Ini semua gara-gara kau!" Gadis itu berteriak pada Iruka, lalu menangis dan berlari meninggalkan mereka.
"Iruka, kau tidak apa-apa?" Kakashi lalu menunduk dan membantu Iruka merapikan bukunya.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut saja. Ada apa dengan gadis-gadis itu yah?"
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan, mungkin-" belum selesai Kakashi menyelesaikan kalimatnya, seorang gadis berteriak padanya.
"Kakashi-kun! Apa maksud foto ini?" Gadis cantik berkacamata dengan seragam SMA itu tiba-tiba muncul dan memperlihatkan sebuah foto padanya.
Kakashi dan Iruka lalu memperhatikan foto itu. Di foto itu terlihat Kakashi dan Iruka sedang berciuman.
"I-itu? Ba-bagaimana bisa?" Iruka menatap foto, wajahnya tiba-tiba memucat dan tampak panik. Sementara Kakashi sepertinya tenang-tenang saja.
"Memangnya kenapa dengan foto itu? Dan lagi apa yang kau lakukan disini, umm, siapa namamu? Bukankah kau seharusnya sekolah?" Kakashi menjawab dengan tenang, seperti tidak ada apa-apa, padahal foto itu jelas-jelas mempertontonkan adegan ciumannya bersama Iruka semalam.
"Memangnya kenapa? Kau kan pacarku! Kenapa kau berciuman dengan orang lain? Dan lagi, jangan pura-pura lupa namaku deh! Aku bolos sekolah juga demi kamu! Jawab! Foto ini hanya rekayasa kan?" Gadis itu maju dan menarik lengan Kakashi. Kakashi yang tidak senang lalu mendorong gadis itu. Sementara Iruka Cuma bisa terdiam. Dalam pikirannya sedang berkecamuk banyak hal.
'Kenapa bisa ada foto itu? Siapa yang memotretnya? Lalu siapa gadis ini? Dia bilang dia pacar Kakashi? Jadi kakashi sudah punya pacar? Ta-tapi kenapa dia menciumku? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?'
"Pacar? Sejak kapan aku setuju berpacaran denganmu? Asal kau tahu saja ya, namamu saja tidak kuingat!" balas Kakashi kasar pada gadis itu.
"A-apa kau bilang?" Gadis itu kini terduduk di lantai. Dia terlihat terkejut dengan pernyataan Kakashi. Kini dia menangis.
"Sebegitu gampangnya kau lupa padaku? Bukankah dulu kau yang merayuku? Lalu setelah tidur denganku, seenaknya saja kau mencampakan aku?"
"Biar kuingatkan sekali lagi. Aku tidak pernah setuju berpacaran denganmu. Dan jika kau memang sudah lupa, kau lah yang memaksaku tidur denganmu, dan sebelum melakukannya aku juga sudah mengatakan padamu bahwa hubungan kita itu hanya one-night-stand dan kau setuju. Kenapa sekarang kau protes?" Kakashi menjawab dengan entengnya. Tidak melihat kalau Iruka sedang memandangnya tidak percaya.
'Ja-jadi apa yang sebenarnya terjadi?'
"Bohong! Jelas-jelas waktu itu kau yang merayu-rayu Karin. Kau jugalah yang mengatakan padanya kalau kau menyukainya dan akan melamarnya ketika dia lulus SMA." Kini seorang gadis lain dengan seragam SMA maju dan angkat bicara.
"Aku apa? Aku menyukai gadis sepertinya? Haha, jika kau memang ingin berbohong, lakukanlah dengan lebih baik." Kakashi membantah omongan gadis tadi.
"Sudahlah, aku sudah tidak ada urusan dengan kalian lagi. Iruka, ayo pergi." Kakashi lalu menarik lengan Iruka, bermaksud membawanya kabur dari kerumunan tadi. Iruka yang masih dalam keadaan bingung dan bimbang hanya mengikuti saja.
"Tunggu!" Kini gadis yang ternyata bernama Karin bangkit dan menarik lengan Iruka yang satunya.
"Apa lagi sih?" Kakashi menatapnya tidak senang. Namun gadis itu tidak peduli.
"Aku sudah tidak peduli padamu lagi." Bentak Karin pada Kakashi. Ia lalu menatap Iruka.
"Kuperingatkan padamu, jika kau tidak ingin mengalami hal yang sama denganku, dicampakan begitu saja, sebaiknya kau tinggalkan playboy itu. Kau tahu, yang diinginkannya hanyalah tubuhmu. Sekali dia mendapatkannya, kau akan dicampakan seperti sampah. Kau sudah lihat yang terjadi padaku kan? Bahkan namaku saja dia tidak ingat."
"A-apa?" Kakashi semakin tidak senang.
"Seenaknya saja kau memfitnahku!" Ia lalu maju dan bermaksud menampar Karin, namun Iruka menahannya. Kakashi lalu menoleh dan memandang Iruka, namun ia tidak senang dengan apa yang dilihatnya.
"A-apa itu benar Kakashi?" Iruka kini tertunduk dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Apa kau mendekatiku hanya untuk tidur denganku? Semuanya, selama ini hanya untuk itu?"
"A-apa maksudmu? Aku tidak akan melakukan hal seperti itu!"
"Tapi kau melakukannya pada gadis itu kan?" Iruka kini menatap Kakashi, wajahnya terlihat penuh dengan kekecewaan dan penyesalan.
" Ta-tapi itu karena dia yang-"
"Tapi kau memang melakukan hubungan one-night-stand seperti itu dengannya kan?" Kali ini Iruka terdengar semakin gusar.
"Ya! Aku memang tidur dengannya. Tapi kami tidak berpacaran dan dia pun setuju pada hubungan seperti itu."
"Lalu sekarang apa bedanya denganku? Apa beda aku dengan pacar-pacarmu itu? Bukankah pada akhirnya kau juga akan mencampakanku?"
"Apa maksudmu? Aku serius padamu! Dan asal kau tahu, gadis-gadis yang kukencani selama ini bukan pacarku. Dan tidak ada yang sama sepertimu!" Kakashi berusaha meyakinkan Iruka.
"Sudah! Cukup! Hentikan semua kebohongan ini!" Iruka semakin terlihat marah, sedih, gusar, dan kecewa. Dia tidak peduli bahwa sekarang hampir semua teman-temannya sedang melihat pertengkaran mereka.
"Kebohongan? Jadi kau anggap semua yang kita alami ini kebohongan? Semua yang kita lakukan bersama adalah kebohongan? Dan kau lebih percaya pada gadis tengik sepertinya daripada percaya padaku?" Kakashi kini marah, kecewa pada kata-kata Iruka.
"Aku sudah tidak tahu siapa lagi yang bisa kupercaya." Iruka berkata pelan dan menatap Kakashi. Ia kemudian keluar dari kerumunan dan berlari menuju asramanya. Kakashi berusaha mengejarnya. Sayang sekali Iruka tidak sempat melihat bagaimana ketika Karin tersenyum licik dan ber high five dengan temannya.
"Hehh, tidak kusangka dia mudah sekali dibohongi. Nah rasakan sekarang kau Kakashi, makanya, jangan berani macam-macam dengan Karin. Sekarang kita tinggal tunggu saja berita apa yang akan disiarkan oleh wartawan-wartawan bodoh itu." Ucap Karin penuh kemenangan sebelum akhirnya pergi meninggalkan kampus tersebut. Namun Karin juga sepertinya tidak melihat Kurenai dan Anko yang sedari tadi ada di kerumunan tersebut dan mendengar semua percakapakan mereka dari awal hingga akhir.
"Nah, senpai, sepertinya tugas kita sekarang adalah menyatukan kembali pasangan bodoh itu." ujar Anko dengan ringannya.
"Yah, kurasa kau benar. Akan kuajak Asuma sekalian." Balas Kurenai sebelum akhirnya berlari menuju ke gedung fakultas desain komunikasi visual untuk mencari Asuma.
.
"Iruka! Tunggu aku! Dengarkan aku dulu!" Kakashi masih berlari mengejar Iruka. Sementara di luar tidak disangka-sangka banyak pers yang menanti mereka.
"Kakashi-sama, Kakashi-sama benarkah anda berhubungan dengan pria di foto ini?" segerombolan wartawan nampak mengejar Kakashi, namun dia tidak memperdulikannya. Dia masih mengejar Iruka yang kini masuk ke dalam bangunan asrama.
.
"Iruka! Iruka buka pintunya! Iruka!" Kakashi kini menggedor pintu kamar Iruka yang tertutup rapat. Dari dalam Iruka hanya terdiam dan duduk di tempat tidurnya. Dari jendela ia dapat melihat dengan jelas kerumunan wartawan yang berusaha masuk ke gedung asrama namun dihalangi oleh petugas keamanan.
"Iruka, kumohon, dengarkan dulu penjelasanku, buka pintunya ya." Kakashi memohon, Iruka hanya diam.
"Baiklah, kalau kau memang tidak mau, aku akan menunggu disini sampai kau membuka pintunya." Kakashi lalu duduk di depan pintu kamar Iruka. Iruka lagi-lagi hanya diam.
'Apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa percaya padanya? Apa aku memang berbeda baginya?'
Kurang lebih 10 menit mereka berdua hanya terdiam, sementara kerumunan wartawan bukannya berkurang malah semakin banyak. Tiba-tiba, handphone Iruka bergetar, pertanda ada pesan.
"Dari Genma." gumam Iruka sambil membuka pesan tersebut dan membacanya.
'Iruka! Cepat nyalakan tv dan lihat siaran beritanya. Sekarang!'
Iruka lalu menyalakan televise kecil yang ada di kamarnya. Ketika melihat apa yang dimaksud oleh Genma, Iruka terdiam, tiba-tiba sebuah dia jatuh terduduk di tempat tidurnya, seolah seluruh tenaganya hilang karena siaran tv tadi.
"Ke-kenapa bisa? Ba-bagaimana ini?" Iruka semakin panik, setetes air mata mengalir ke pipinya. Sementara di televisi terpampang jelas foto yang tadi ditunjukan oleh Karin.
'Yah pemirsa, kini saya berada di depan gedung asrama tempat Kakashi-sama serta pria dalam foto ini tinggal. Pria tersebut diduga bernama Umino Iruka, salah seorang junior Kakashi-sama di fakultas hukum Universitas Suna. Menurut sumber yang memberikan foto itu, Kakashi-sama sekarang sedang berhubungan serius dengan pria tersebut. Namun sampai saat ini belum ada perkembangan apapun. Kakashi-sama maupun pria yang diduga kekasihnya juga tidak bisa ditemui. Baiklah, sekarang kita akan ke rekan saya di kediaman kerajaan Konoha di Suna untuk mewawancarai juru bicara kerajaan mengenai hal ini.'
'Jadi apa komentar keluarga kerajaan atas tersebarnya foto ini Ibiki-sama. Menurut pakar telematika kami foto itu asli, menurut anda sendiri bagaimana? Mengingat juga yang kita ketahui selama ini bahwa Kakashi-sama selalu berganti pasangan wanita, apakah kali ini dia juga berhubungan dengan pria lain?'
'Keluarga kerajaan sendiri belum mengkonfirmasi hal ini dengan Kakashi-sama, namun yang pasti kami yakin bahwa itu adalah foto palsu atau kalau memang asli, mungkin Kakashi-sama sudah dijebak karena sampai saat ini dia belum memberi keterangan apapun. Jika memang benar seperti yang diberitakan, saya yakin Kakashi-sama akan maju dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi nanti akan kami konfirmasi lagi. Kami sekarang sedang menyelidiki masalah ini juga.'
'Tapi pasangannya adalah seorang pria. Yang ingin kami tanyakan adalah, apakah keluarga kerajaan tidak menentang hubungan sesama jenis ini?'
'Di kerajaan Konoha, kami tidak mempermasalahkan hubungan apapun. Dalam undang-undang kami pun, kamu mengijinkan pernikahan sejenis. Lagian seperti yang sudah anda katakan juga, Kakashi-sama hanya tertarik pada wanita, dan kalau memang kali ini dia berhubungan dengan pria, kurasa ini bukan perkara besar, toh sebelumnya dia juga beberapa kali berganti pacar. Saya rasa ini hal yang biasa saja, tidak perlu dibesar-besarkan.'
'Baiklah, terima kasih Ibiki-san. Nah pemirsa, demikianlah wawancara kami dengan juru bicara Kerajaan Konoha, kita kembali ke rekan saya.'
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Iruka menangis sesenggukan. Mendengar tangisan Iruka, Kakashi kembali menggedor pintu.
"Iruka? Iruka kau kenapa? Kau menangis? Iruka buk-" belum sempat Kakashi menyelesaikan kalimatnya, pintu di hadapannya terbuka, memperlihatkan Iruka yang tertunduk sambil menangis. Melihat hal itu kakashi langsung maju dan memeluknya.
"Shh, Iruka, tenanglah. Ada apa? Ceritakan padaku." Sementara Iruka hanya menangis di bahu Kakashi, siaran di tv tadi terus berlanjut.
'Nah pemirsa, kini kami berada di depan rumah keluarga Umino, dan sekarang kami sudah bersama dengan Umino-san, bibi dari Umino Iruka. Nah, Umino-san, apa pendapat anda mengenai hubungan keponakan anda dengan Kakashi-sama?'
'Saya sudah tidak menganggap dia keponakan saya lagi! Menjijikan! Hei Iruka, kalau kau menonton acara televisi ini, aku ingin kau tahu kalau kami keluarga Umino sudah tidak membutuhkanmu lagi! Kami tidak pernah punya anggota keluarga sepertimu! Kau sama saja dengan kedua orangtuamu itu! Setelah mereka mati kini kaumau menggantikan peran mereka mempermalukan keluarga, Hah! Membawa aib saja! Sudah, saya tidak ingin diwawancarai lagi, kalian cari saja anak kurang ajar itu!' Bibi Iruka lalu masuk ke rumahnya dan menutup pintu dengan keras.
Iruka menangis semakin keras. Kakashi menatap benci pada acara tv itu. Dia lalu membawa Iruka ke dalam, menutup pintu, dan mematikan tv lalu mendudukan Iruka di tempat tidur.
"Iruka, tenanglah. Tidak usah pedulikan mereka. It's ok." Kakashi memeluk Iruka sambil sesekali mengusap punggungnya dengan lembut. Selama kurang lebih 5 menit mereka terdiam. Iruka lalu melepaskan diri dari pelukan Kakashi.
"Ka-Kakashi, aku ingin kau menjawabku dengan jujur. A-apa bagimu aku sama seperti gadis-gadis yang kau kencani selama ini?" Iruka bertanya dengan tegas, seolah mendapat keberanian yang besar entah dari mana.
"A-apa? Tentu saja tidak! Percayalah padaku Iruka, mana mungkin aku-"
"Sstt." Iruka meletakan jarinya di bibir Kakashi. "Iya atau tidak?"
Kakashi memandang Iruka dan menjawab dengan tegas. "Tidak." Iruka hanya tersenyum dan memeluk Kakashi sambil bergumam
"Terima kasih." Kakashi balas memeluknya.
"Ne Iruka. Aku benar-benar menyukaimu. Kau percaya padaku?" Iruka hanya mengangguk dalam pelukan Kakashi.
"Umm, jadi kau menerimaku?" Iruka mengangguk lagi. Kakashi tersenyum senang. Dia melepaskan pelukan mereka, lalu maju dan mencium Iruka. Iruka membalas ciumannya dan mereka berciuman selama beberapa menit sebelum akhirnya dihentikan oleh bunyi handphone Kakashi.
"Umm, ma-maaf" ujar Kakashi sambil mengambil handphonenya. Iruka hanya tertunduk malu.
"Halo? Ah, kak Hiashi, ada apa?" jawab Kakashi santai
"Ohh, jadi memang sudah ketahuan ya, baiklah, ya itu benar kok." Kakashi masih terus berbicara di telepon tanpa Iruka tahu siapa yang menelponnya.
"Begitu? Well, aku tidak peduli. Aku menyukainya, dia berbeda Kak. Meskipun yang lain tidak setuju pun aku tidak peduli." Kakashi kini terlihat tidak senang
"Jadi Kakak tidak marah? Baiklah. Jadi aku harus bagaimana?" Kakashi terdiam sebentar, mendengarkan omongan lawan bicaranya.
"Baiklah. Ya aku mengerti, tapi ijinkan aku bertanya padanya dulu, jika dia setuju maka aku akan menerima tawaran Kakak, tapi jika tidak, maaf saja, aku siap menerima semua konsekuensinya." Kakashi lalu menutup telepon. Ia menatap Iruka, lalu menghela nafas.
"Ada apa? Siapa yang menelpon?" Tanya Iruka lembut.
"Kakakku, Hiashi."
"Umm, Yang Mulia Hiashi?" Kakashi hanya mengangguk. Mereka sama-sama diam lagi.
"Ne, Kakashi, tidak apa-apa, aku mengerti." Ucap Iruka sambil menggenggam tangan Kakashi. Kakashi menatapnya, terlihat ekspresi sedih di sana.
"Mengerti?" Iruka mengangguk
"Keluarga kerajaan tidak bisa menerimaku kan?"
"Ka-kau tahu? Ke-kenapa bisa?"
"Tidak apa-apa, aku mengerti kok. Umm, jadi apa kau mau memutuskan hubungan kita sekarang?" Tanya Iruka ragu-ragu dan langsung dibantah Kakashi.
"Tidak! Tentu saja tidak! Mana mungkin aku melakukannya. Setelah berhasil mendapatkanmu, tidak! Aku tidak akan melepaskanmu."
"Ta-tapi-"
"Dengar Iruka, keluarga kerajaan memang tidak menyetujui hubungan kita, aku juga heran kenapa. Padahal selama ini aku tidak pernah dilarang berhubungan dengan siapapun dan Negara kami pun tidak mempermasalahkan masalah hubungan sesama jenis." Iruka kini tertunduk seperti mengetahui sesuatu.
"Tapi kau tidak perlu khawatir Iruka. Kak Hiashi setuju dan dia merestui hubungan kita, selama tidak ketahuan publik."
"Eh?" Iruka kini memandang Kakashi dengan ekspresi terkejut namun terlihat sedikit lega?
"Ya, dia setuju, namun dia memintaku mengadakan jumpa pers untuk mengatakan kalau foto itu palsu dan aku tidak berhubungan dengamu sehingga hubungan kita yang sebenarnya tidak diketahui publik." Kakashi diam, memandang Iruka, seolah mencari jawaban di matanya, namun Iruka hanya diam.
"Iruka, kalau kau tidak setuju dengan hubungan sembunyi-sembunyi seperti ini katakan saja. Tidak perlu khawatir. Aku sudah bilang pada Kak Hiashi, aku akan mengadakan jumpa pers hanya jika kau setuju. Kalau kau tidak setuju pun aku tidak masalah, aku tetap akan memilihmu."
"Ti-tidak!" jawab Iruka cepat
"A-aku tidak peduli kalau orang lain tidak tahu hubungan kita. Aku tidak peduli bagaimana keluargaku ataupun keluargamu menyetujui hubungan ini atau tidak. Selama aku bisa bersamamu aku tidak peduli. Aku juga tidak ingin kau mengalami hal yang sama denganku, dibuang dari keluarga sendiri. Karena itu Kakashi, aku setuju, lakukanlah jumpa persnya." Jawab Iruka tulus.
"Kau yakin?" Iruka mengangguk lagi.
"Baiklah, dan terima kasih Iruka." Iruka hanya tersenyum. Tiba-tiba handphone Kakashi berdering lagi.
"Dari Asuma." Kakashi membaca nama yang muncul di layar HPnya.
"Ya? Ada apa Asuma? Eh? Menyalakan tv? Tidak mau. Aku sudah tahu beritanya. Apa? Berbeda? Maksudnya? Oke, oke! Kunyalakan."
"Iruka, bisa tolong nyalakan tvnya?" Iruka hanya mengangguk. Siaran yang tadi masih berlangsung, namun kini terlihat salah seorang pembawa acaranya mewawancarai Karin yang terlihat ketakutan, di sampingnya berdiri Anko dengan wajah mengancam yang menyeramkan.
'Nah Karin-san, sebelumnya anda memberikan foto itu kepada kami dan mengatakan bahwa Kakashi-san dan Umino-san berhubungan.' Karin mengangguk. Anko lalu menyenggol Karin dengan sikutnya 'Katakan yang sebenarnya!' ujar Anko, Karin nampak ketakutan.
'Ja-jadi sebelumnya saya memang mengatakan demikian. Namun saya disini untuk memberitahukan bahwa semua pernyataan saya itu bohong. Kakashi-san dan Umino-san hanyalah berteman sebatas senior dan junior. Dan untuk Umino-san, aku minta maaf, semua yang kukatakan di lorong tadi pagi hanya kebohongan. Kami tidak punya hubungan apa-apa dan memang aku yang memaksanya melakukan hal itu denganku. Dan juga foto yang saya berikan hanyalah foto editan saja. Ini adalah foto yang sebenarnya.' Ujar Karin sambil menunjukan sebuah foto yang mirip dengan foto ciuman itu namun kali ini terlihat bahwa Kakashi dan Iruka hanya saling berhadapan seolah sedang mengobrol.
'Ini adalah foto aslinya. Ini aku yang memotretnya ketika kami, aku dan senpai-senpai ku beserta Kakashi-senpai menemui Iruka untuk mengajaknya makan. Tidak kusangka ada yang akan mengeditnya. Dan aku juga teman akrab Iruka serta Kakashi-senpai, aku tahu hubungan mereka tidak seperti yang diberitakan selama ini.' Jawab Anko meyakinkan.
'Jadi Karin-san, anda mencabut pernyataan anda? Dan sekarang anda mengatakan berita itu hanya berita palsu?' Karin mengangguk, Anko tersenyum puas.
'Baiklah, pemirsa-'
Kakashi sudah tidak mempedulikan berita tadi. Ia dan Iruka saling memandang dan mereka tertawa bersamaan.
"Hahaha. Hei Asuma, foto itu kerjaanmu ya?"
"Oke, oke, kutraktir kau makan selama seminggu!" jawab Kakashi senang
"Oh ya? Ok, ucapkan terima kasihku juga untuk mereka berdua yah. Ok, bye Asuma." Iruka kini memandang Kakashi, seolah meminta dia menceritakan semuanya.
"Itu kerjaan Asuma, Kurenai, dan Anko. Kurasa kita harus mentraktir mereka yah Iruka." Kakashi lalu maju.
"Ne Iruka, sekarang semua masalahnya sudah beres. Aku belum dengar jawaban pastimu. Jadi Umino Iruka, maukah kau menjadi kekasihku?" Iruka tersenyum lebar.
"Akan kujawab, tapi sebelumnya aku ingin bertanya." Kakashi memandangnya penasaran.
"Yang kutahu, kau itu seorang playboy, kenapa kau bisa tiba-tiba suka padaku yang seorang pria. Sejak kapan?" Kakashi tersenyum
"Sejak aku melihatmu pertama kali di kantin siang itu, ketika Anko mengenalkanmu padaku. Aku juga tidak percaya pada perasaanku saat itu. Tapi sejak seminggu yang lalu, setelah aku mengenalmu lebih baik, aku yakin, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu, dan well, aku biseksual, hanya saja selama ini aku selalu berhubungan dengan wanita karena di Suna sendiri hubungan sesama itu masih belum terlalu diterima." Iruka hanya mengangguk.
"Baiklah, jadi Kakashi, akan kujawab, aku-"
"Tunggu!" Kakashi menghentikan kalimat Iruka. "Kau sendiri bagaimana? Apa benar kau sudah menyukaiku sejak lomba cerdas cermat itu?" Iruka terdiam sebentar. Ia lalu memandang Kakashi.
"Janji pandanganmu tentangku tidak akan berubah setelah aku menceritakan ini padamu." Kakashi kebingungan, namun ia hanya mengangguk. Iruka menarik nafas perlahan, lalu mulai bercerita.
"Apa kau ingat kejadian tiga tahun yang lalu?" Kakashi berpikir sebentar, lalu menggeleng.
"Apa kau ingat persidangan terhadap suami istri tersangka pembunuhan Yang Mulia Hizashi?" Kakashi mengangguk.
Dia ingat benar kejadian itu. Semua berawal ketika sepasang suami istri yang dirahasiakan identitasnya mengaku telah melakukan pembunuhan terhadap Hizashi lima tahun yang lalu. Selama setahun lebih pihak kepolisian Suna dan Konoha berusaha mencari pembunuhnya, namun tidak pernah berhasil. Dan pasangan suami istri itu tiba-tiba datang dan mengaku serta menunjukan semua cara mereka melakukan pembunuhan itu beserta barang bukti. Tidak ada yang tahu apa motif mereka dan kenapa mereka tiba-tiba mengaku. Saat itu mereka hanya memohon agar identitas mereka dirahasiakan agar anak mereka satu-satunya tidak mendapat tekanan atas perbuatan orang tuanya. Tiba-tiba, Kakashi seperti menyadari sesuatu.
"Ja-jangan-jangan, ka-kau? Kau anak pasangan suami istri itu?"
"Yah." Iruka menunduk, tidak berani memandang wajah Kakashi. Seperti mengerti kesulitan Iruka, Kakashi menenangkannya.
"It's ok Iruka. Aku tidak marah kok. Ceritakanlah." Iruka menatap Kakashi sebentar, lalu melanjutkan.
"Aku memang anak dari pasangan suami istri itu. Aku juga tidak mengerti kenapa mereka bisa tiba-tiba mengaku demikian. Tapi aku memang tahu keluarga kami bukanlah keluarga baik-baik. Ayah dulunya seorang anggota yakuza, dan ibu tidak jelas asal-usulnya." Iruka berhenti sebentar untuk menarik nafas.
"Aku ingat benar, ketika persidangan waktu itu, permintaan kedua orangtuaku ditolak. Meskipun mereka pada akhirnya harus dijatuhi hukuman mati, namun pihak kerajaan menolak untuk mengampuniku. Mereka memutuskan menjadikan aku budak kerajaan untuk menebus kesalahan orangtuaku."
Yah, Kakashi juga ingat benar bagaimana kejamnya pihak kerajaan saat itu. Bahkan seorang remaja yang tidak bersalah pun ingin mereka hukum. Hal itu jugalah yang membuat Kakashi saat itu marah dan menggunakan haknya sebagai pangeran untuk membatalkan hukuman bagi Iruka.
"Kau tahu Kakashi, ketika melihatmu membelaku di hadapan semua orang, membelaku yang bahkan kau sendiripun tidak kenal. Padahal kedua orangtuaku sudah membunuh kakak kandungmu sendiri. Sejak saat itu aku jadi mengagumimu, dan, umm, jatuh hati padamu. Ya-yah, konyol memang, aku hanya seorang remaja 14 tahun saat itu, tidak sepantasnya aku mengatakan hal itu. Tapi, sejak itu juga aku jadi semangat kembali. Setidaknya aku tahu bahwa masih ada yang peduli padaku. Dan kau tahu, karena keberanianmu itu jugalah yang menginspirasiku untuk masuk fakultas hukum seperti sekarang ini."
Kakashi terdiam sebentar. Semuanya terasa jelas sekarang. Jadi karena itulah hubunganya dengan Iruka ditentang.
"Iruka, terima kasih."
"Eh?"
"Terima kasih sudah menceritakan semuanya. Aku bahagia karena saat itu aku berani membelamu, jika tidak, mungkin semuanya tidak akan berjalan seperti sekarang." Kakashi maju dan memeluk Iruka lagi.
"Yah. Terima kasih juga Kakashi." Ujar Iruka sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Kakashi.
.
Setelah semua keadaan tenang dan pers sudah mencabut berita mereka serta minta maaf secara resmi pada keluarga kerajaan, Iruka dan Kakashi kembali ke kampus. Semua terasa tidak nyata. Padahal baru tadi pagi semua kegaduhan itu terjadi, dan sekarang sudah sore dan semua sudah kembali seperti semula. Iruka kini berada di kamarnya seorang diri sambil membaca.
Iruka's POV
"Tok, tok, tok."
Siapa ya sore-sore begini?
"Iruka, kau di dalam?" Oh, Kakashi. Ah, mana tampangku berantakan lagi. Aku lalu berdiri cepat dan merapikan rambutku.
"Iruka?"
"Ah, sebentar Kakashi." Aku berlari kecil ke pintu dan segera membukanya. Di hadapanku sudah berdiri Kakashi dengan penampilan rapi dan menawan. Dia mengenakan kemaja putih lengan panjang dengan celana bahan berwarna hitam, rambutnya disisir rapi. Benar-benar berbeda dengan penampilan santainya selama ini.
"Ah, umm, anu, a-ada apa?" Ahh! Pasti wajahku sudah semerah tomat saat ini. Apa yang dilakukannya berdandan serapi ini?
"Aku datang menjemputmu Iruka. Kita akan kencan." Ujarnya ringan. Ken-kencan?
"Oh, dan satu lagi. Ini untukmu." Ia memberikan sekuntum mawar segar padaku. Wajahnya kemerahan dan dia memberikannya sambil memandang ke atap. Dia malu? Wow, ini jarang terjadi.
"Umm, kau tidak suka?" tanyanya
"Oh, tidak! Aku suka kok. Terima kasih Kakashi. Bunganya cantik." Yah, bunganya cantik sekali. Tu-tunggu, dia memberiku sekuntum mawar, ja-jangan-jangan setelah ini dia akan-
"Bagus! Nah, sekarang bersiaplah, kau akan menikmati candle light dinner terbaik dalam hidupmu." ujarnya setengah memerintah.
Nah kan! Apa kubilang. Sepertinya aku berbakat menjadi seorang cenanyang. Well, siapa yang peduli, pokoknya sekarang aku akan menikmati semua waktuku dengan Kakashi.
The End.
.
OMAKE
"Iruka? Kau tidak apa-apa?" Kakashi bertanya pada Iruka. Mereka berdua terbaring nyaman di tempat tidur Kakashi. Iruka menatap Kakashi sebentar, menggeleng, dan tersenyum.
"Aku senang. Kuharap Neji dan Gaara bisa saling mengerti." Ucapnya ringan. Dia lalu merapatkan diri ke pelukan Kakashi, berusaha menjahui dinginnya udara di luar selimut.
"Yah. Semoga saja." Kini mereka sama-sama terdiam. Menikmati kehangatan tubuh satu sama lain. Tiba-tiba jam di kamar itu berdentang dua belas kali. Menandakan sudah tengah malam, sekaligus menandakan bahwa hari kemarin sudah lewat dan hari baru telah menanti mereka.
Iruka dan Kakashi saling memandang dan tersenyum.
"Happy Aniversarry Kakashi."
"Happy Aniversarry My Love." Ujar Kakashi sambil maju dan merapatkan bibirnya dengan bibir kekasihnya itu.
.
Keesokan harinya Kakashi terbangun oleh aroma kopi favoritnya. Dia melihat tempat tidur yang kosong, lalu bangkit dan mencari keberadaan kekasihnya itu.
"Sudah bangun? Kau mau kopi Kakashi?" Iruka yang hanya mengenakan jubah tidur berjalan menuju tempat tidur sambil membawa dua cangkir kopi. Ia lalu memberikannya kepada Kakashi. Kakashi menerima gelas itu namun hanya terdiam.
"Kenapa?" Iruka terdengar khawatir.
"Aku bermimpi." Jawab Kakashi singkat. Dia menoleh kearah Iruka.
"Aku bermimpi tentang kejadian 9 tahun yang lalu." Lanjutnya sambil menyeruput kopinya. Iruka tersenyum.
"Maksudmu kehebohan 9 tahun yang lalu?" Kakashi membalas pertanyaan Iruka dengan cengirannya.
"Hmm, aku jadi ingat saat-saat itu. Kira-kira sekarang Anko dan yang lainnya sedang apa ya?" Iruka menerawang
"Kalau Anko si pasti sedang lembur di kantornya, kalau Kurenai dan Asuma kurasa mereka berdua sedang sibuk mengganti popok si kembar." Iruka memandang Kakashi, mereka lalu tertawa bersamaan.
"Hah, aku kangen mereka." Ujar Iruka.
"Bagaimana kalau hari minggu ini kita reunian?" ajak Kakashi, Iruka memandangnya penuh harap.
"Serius?" Kakashi mengangguk. "Kan urusan kerajaan sudah beres, lalu Gaara dan Neji juga-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Iruka tiba-tiba menghambur ke pelukannya.
"Terima kasih Kakashi." Ujarnya senang. Kakashi hanya tersenyum sambil membalas pelukan kekasihnya itu.
"Sama-sama Iruka."
yey! beres! haha. panjang ternyata. kazu smpat bpkir mo jadiin 3 chapter. tapi jangan deh, ntar kazu dijitak minna-san lagi.. hoho.
komen donk. oh ya, kazu si suka banget loh ama KakaIru. sayang ga banyak yang bikin ficnya. T.T
btw, NejiGaa akan kazu usahakan update secepatnya yah!
ya sudah, makasih uda sempetin baca fic ini. minta review donk, *wink wink* hihi
