Chapter 7 : Zebra Cross ka?
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid (c) Yamaha Corp., Internet Co., dan lain-lain
Warning : Sama seperti chapter yang lain (*slaped)
Happy Reading, nano desu!~
.
.
.
Malam itu juga, wanita yang diketahui bernama Galaco Kuzuyo, blasteran Spanyol-Jepang, dibawa ke kantor polisi pusat. Dua puluh tiga korban langsung dikirim ke unit paramedis untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Rin mencoba mengeringkan dirinya dengan handuk yang diberikan oleh petugas sambil menunggu Len mengambil baju gantinya di mobil.
Sesekali dia melihat keadaan di sekitarnya. Yah, dia kurang mengenal orang-orang disini. Cuma mengenal nama, tak lebih dari itu. Lui ikut ke kantor polisi bersama ayahnya. Ibu Rin juga sedang mengantar suaminya, ayah Rin, ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama yang maksimal.
Ngomong-ngomong dimana Kaito?
Pemuda berambut biru yang baru saja menyelamatkannya agar tak tercebur dan tenggelam hilang entah kemana. Rin yakin bahwa dia melihat semua korban dibawa ke rumah sakit atau mobil gandeng yang merupakan ambulance itu.
"Mencari seseorang?" Len datang sambil menyerahkan sebuah jaket tebal yang lumayan besar. 'Hanya itu yang kutemukan. Maaf."
Rin tersenyum dan segera mengenakan jaket tersebut.
"Rin, kau lihat dimana si Shion itu?" tanya Len.
"Itu yang kucari sedari tadi, Len," jawab Rin. "Coba kita tanya petugas itu."
Rin menarik tangan Len menuju seorang petugas yang sibuk dengan clipboard-nya.
"Ano, shitsurei shimasu," ucap Rin. Petugas itu melongok ke arah Rin. "Ada apa?" tanya petugas itu.
"Begini, saya mau tanya apa Bapak melihat cowok, usianya 16 tahun, berambut biru berpakaian pelayan?"
Petugas itu mencoba mengingat-ingat.
"Tingginya sekitar segini," Rin mengangkat tangannya 20 centi lebih tinggi dari atas kepalanya.
"Oh, pemuda itu ya," petugas itu mengangguk-angguk. "Dia yang pertama kali di bawa ke rumah sakit. Dia kehilangan banyak darah, makanya langsung di bawa."
Rin terlihat kaget. "So-sou ka. Terima kasih ka-kalau begitu. Saya pamit dulu,"
"Hei, Rin," Len menyikut lengan Rin sambil menariknya menjauh dari polisi itu. "Kau sepertinya punya hubungan dengan si Shion itu,"
Hei, Len kau cemburu?
Rin menghela nafas. "Dengar ya, Len. Aku dan Kaito cuma teman. Dia temanku saat SD di Hokkaido. Cuma itu kok,"
Len mendengus. "Jika sudah kenal dia sejak saat itu kenapa kau tak beritahu aku?"
"Heh, kenapa menyalahkan aku? Aku tidak tahu perubahan suaranya! Waktu SD dia tak begitu banyak bicara, jadi, aku kurang tahu soal suaranya."
Len menatap Rin curiga. "Huh, sudahlah!" Rin berbalik. "Ikut aku ke rumah sakit!"
"Untuk apa?"
"Lho, bukannya kau yang ingin tahu alasan kenapa Kaito mempermainkan kita 2 minggu ini?"
Len mendecih dan tersenyum miring. "Dasar kau ini!" Len menjitak kepala Rin pelan.
Rin tertawa kecil. "Kau itu mudah ditebak, Len,"
.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Rin dan Len cuma bisa terduduk pasrah di bangku tunggu di depan ruang UGD. Rin agak menggigil kedinginan sementara Len sudah lima kali bersin dalam jangka waktu setengah jam.
"Kau kedinginan?" tanya Rin.
"Gara-gara AC, lebih tepatnya." Len mengusap hidungnya.
Rin meraih tangan Len dan memasukkannya ke saku jaketnya. "Setidaknya, tanganmu hangat, 'kan?"
Len melongo. Mukanya bersemu merah. "HATSYIIII!" Len bersin, dibuat-buat.
Len merasa dirinya tak berguna. Dia menarik tangannya dari saku jaket Rin dan menggenggam tangan Rin. "Aku pingin pegang tanganmu, itu saja." Len pasang muka tak acuh.
Rin cengo. Len.. Len tsundere? (Author : *dikasih soal grafik pertidaksamaan* /muntah kejang/)
"Hoo," Rin menahan tawanya.
"Apa?" Len bertanya. Rin melihat perubahan-perubahan microexpression di wajah Len yang sangat kentara di wajah Len.
"Aku baru tahu kalau Len itu lebih bodoh dari yang kukira," Rin meledek Len.
"Apa maksudmu?!"
"Tidak. Aku menyimpan alasan ini untuk kepentingan pribadi,"
"Dasar!" Len menjitak kepala Len.
Seorang dokter keluar dari ruang UGD dan memimpin jalan saat sebuah tandu dorong dengan berbagai alat yang mengantung.
Len berdiri dan melihat bahwa yang terbaring di tandu itu adalah orang yang sudah membahayakan nyawanya selama empat hari terakhir, Kaito.
Len menarik tangan Rin dan mengejar tandu dorong itu. Seorang perawat yang berjalan paling belakang berhasil disusul Len.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Len menyela Rin.
"Kalian keluarganya?" perawat itu bertanya balik buru-buru.
Len menatap Rin.
"Dia tak punya keluarga, maksudku, di yatim-piatu. Kami temannya." jawab Rin.
"Tak banyak yang bisa kujelaskan," perawat itu masuk ke dalam ruang ICU. "Teman kalian ini kehilangan banyak darah dan kami tak punya persendiaan darah yang sesuai dengan golongan darahnya. Saya permisi dulu,"
Pintu ruang ICU ditutup.
"Memang golongan darah-"
Rin memotong ucapan Len. "AB-."
"Hah?"
"Golongan darahnya AB-. Cukup langka."
"Oh, shit," rutuk Len. "Padahal aku punya cukup banyak pertanyaan untuknya."
"Kagamine-san," seseorang menepuk bahu Rin.
"Oh, Hibiki-sama," Rin membungkuk. "Ada apa?"
"Aku ingin bertemu ayahmu, kau tahu dimana ruang rawatnya, 'kan?"
Untungnya Rin sempat menanyakan dimana ayahnya dirawat. "Oh, tentu. Mari saya antar."
"Kousaragi-kun, kau mau ikut?" tanya Komandan Hibiki. Len menggeleng. "Tidak, terima kasih. Saya rasa, saya harus pulang karena ada beberapa hal yang harus saya urus untuk besok."
"Uhm, baiklah."
Len melemparkan tatapan 'jangan khawatirkan aku' pada Rin. Rin mengangguk.
"Saya permisi dulu. Selamat malam, Hibiki-sama, Rin." pamit Len sambil membungkuk.
Komandan Hibiki dan Rin balas membungkuk. Len langsung pergi keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumahnya.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Len melepas sepatu pentofel-nya dan melepas jasnya. Rumahnya sudah tak bau minuman keras lagi, bahkan rokok pun tidak. Len menginjakkan kakinya ke dalam rumah. Botol-botol minuman masih berserakan, belum sempat dibereskan oleh Len. Len sudah cukup sibuk dengan sekolah, kegiatan klub yang cuma dua kali seminggu, dan kerja sambilan di hari libur. Belum lagi dua minggu terakhir dia diganggu oleh Urban Legend Tricks yang dibuat Kaito.
Entah apa maksud laki-laki yang mengaku kerja di biro keamanan level nasional itu (author : Kau masih meragukannya Len? Dia jujur (mungkin)). Lagipula, dia baru 16 tahun, sama seperti dirinya. Len saja yang jabatan di kepolisian cuma jadi 'pembantu illegal', yang untungnya digaji oleh pemimpin yang bersangkutan, cukup was-was dalam menjalankan misi. Meskipun baru beberapa kali, yah, setidaknya Len sudah pengalaman, 'kan?
Len sudah selesai mengganti bajunya dengan T-shirt hitam dan celana pendek selutut, ketika sebuah telepon masuk.
Len mengangkat panggilan tersebut.
"Moshimoshi," sapa Len.
"..."
"Moshimoshi," ulang Len.
"Shi-"
"Ha-hah? Sumimasen, dare desu ka?"
"Ne.."
"Da-dare desu ka?"
"..."
TUTT.. TUTT.. TUT..
Panggilan terputus.
Len kembali menaruh gagang teleponnya pada pesawatnya. Lagipula, jarang-jarang orang menelepon dengan telepon rumahnya.
'Kimi wa koroshite~ Kowashite~ Gushagusha ni shite~ Oreta hari de me wo tsuranuite~'
Gantian sekarang handphone yang berdering. Dalam pikiran Len pasti orang itu lagi!
"APA MAUMU, HAH?" teriak Len setelah dia mengangkat panggilan teleponnya.
"Uh, calm down, boy," ucap orang di seberang sana. Len kenal dan tahu siapa pemilik suara baritone itu.
"Oh, Mr Will, I'm sorry,"
"Depressed, huh?"
"Hahh, maybe," jawab Len sambil menghela nafas. "What happen? Well, can you speak in Japanese? I can't speak English fluently. You can Japanese, right?"
"Haha," Will tertawa. "Maafkan aku. Hanya mengetes,"
Len mendengus.
"Jadi, ada apa?" tanya Len lagi.
"Kau belum tidur, 'kan?"
"Kalau aku sudah tidur, aku tak akan mengangkat teleponmu, sungguh."
Will tertawa lagi. "Kau bisa bantu aku? Pegawaiku kelelahan semua hari ini. Entah ada apa, tapi restoranku sangat padat hari ini, maksudku, malam ini!"
"Lalu?"
"HAYAKU TASUKETE YOO!" Will menjerit. "Aku sudah tak sanggup. Roda rollerblade-ku juga sudah copot satu! Tak mungkin 'kan aku mengusir pelanggan. Kugaji kau dua kali lipat deh!"
Len menghintung di dalam kepala dan menyeringai.
"I'll be there in 20 minutes."
"Okay. See you!"
Sambungan terputus. Len kembali ke kamarnya, merangkap bajunya dengan kemeja dan celana bahan yang merupakan seragam pelayan restorannya. Selesai dengan pakaiannya di mengambil sepatu rodanya berikut dengan pengamannya. Dengan cepat, dia mengenakan sepatu rodanya dan melesat keluar rumah.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Will, pemilik restoran, sudah tepar di meja. Sementara Len dan beberapa pegawai yang tersisa mulai bersih-bersih restoran.
"OTSUKARE!~" teriak Will tiba-tiba sambil mengangkat tangannya tinggi.
"Otsukaresama deshita~" balas Len dan pegawai lainnya.
"Len-kun," panggil Will lemas. "Besok kau libur, 'kan?"
"Hmm, mungkin iya."
"Kenapa 'mungkin'?"
"Takutnya ada lagi polisi yang minta bantuanku,"
"Sombong," Will mendengus.
"Hehe," Len cengengesan. "Ayah Will-san sendiri 'kan kerja di kepolisian di Amerika, kenapa tak mengikuti jejak ayah saja?"
"Aku nggak bakat," Will berdiri. "Pulanglah, mungkin kau akan kupanggil besok. Oh ya, gajimu kutransfer saja, oke? Nggak ada cash,"
"Baiklah," Len melepas apronnya dan melipatnya. "Jaa mata ashita," pamit Len sambil membungkuk. Will balas membungkuk. Len mengambil helm dan keluar dengan melucur menggunakan sepatu rodanya.
.
.
.
.
Ketika mau masuk ke salah satu jalan yang cukup besar, Len merasakan hawa yang berbeda. Lebih dingin dan mencekam. Memang jalan tersebut besar, namun di tengah malam seperti ini, jalan tersebut sangat sepi. Benar-benar sepi. Tanpa satu pun mobil yang lewat. Jangan mobil, kucing pun tidak ada (nah, loh?).
Len mengusap tengkuknya dan kembali konsentrasi pada sepatu rodanya. Len segera berbelok dan berhenti sejenak untuk menyebrang. Jalan sepi-sepi begini, kadang-kadang sudah berubah menjadi lintasan F1 (hah?), maksudnya, arena balapan liar.
Ketika menyebrang, Len mendengar suara klakson mobil menjerit-jerit memekakkan telinga.
Len berpaling menuju sumber suara dan...
BRUKK! Len menabrak sesuatu sambil dia terjungkal lalu bersalto dan mendarat dengan pantat duluan.
Dia bukan ditabrak oleh kendaraan tapi dia menabrak sesuatu sampai terjungkal salto(?) seperti itu. Sambil mencoba berdiri diatas sepatu rodanya, Len berbalik ke ke belakang dan melihat apa yang ditabraknya.
"AAAAARRGGHHHH!" jerit Len dan segera meluncur ke sembarang arah.
Setelah cukup jauh dan sanggup menenangkan nafasnya, Len meraih ponselnya menekan tiga digit angka.
"ADA... MAYAT-" tanpa sanggup meneruskan kalimatnya seseorang membekap Len dari belakang. Sempat meronta sedikit tapi rupanya sapu tangan yang digunakan untuk membekap Len telah dibasahi dengan..
... kloroform...
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Yosh, ketemu lagi sama author. Nee nee, gimana nih awal case-nya? Iya, iya, memang basi kalo protagonist-nya diculik. But I never reluctant (what?) my promise (*slaped). Thanatology examination (maybe) in the next chapter #brokengrammar.
Oh ya, Will itu bagian dari ZOLA Project, 'kan?
Review-nya bales lain kali aja, oke? /jduagh!/
.
.
.
.
Ada pesan nih dari Len!
.
Len : Can you break the case? Or guess the urband legend?
.
.
.
.
Still mind to REVIEW! Bash, flame, or blame are received!
.
.
.
Shintaro Arisa, out!
