Desclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance and Fantasy
Note : anggep aja monsternya kaya hollow yang ada di bleach, atau sesuai imajinasi kalian.
.
.
.
.
.
''Seraaaaangggg!''
Mendengar aba-aba itu semua langsung maju dan mulai menggunakan senjata yang mereka punya, suara dentuman senjata terdengar jelas dan suara mengerikan monster yang telah tumbang. Sakura terus mengarahkan senjatanya kearah Naruto.
''Hey! Jangan Naruto terus! aku dalam bahaya nih!'' Shikamaru mulai protes, dia mulai di kerubungi monster-monster yang terus berusaha menerkamnya.
Di sisi lain Sasuke mulai kewalahan menghadapi mereka. Sasuke merupakan kelemahan karena hanya dia seorang yang tidak memakai senjata. Sasuke melihat kearah Sakura, matanya terbelalak dan berlari cepat dan langsung menebas kepala monster yang ada di belakangnya. Darah ungu mulai berjatuhan, Sakura melebarkan matanya.
''S-sasuke''
Gaara bergabung dengan Shikamaru.
''Biar aku saja yang melawan mereka! Jauh di depan sana masih banyak lagi!'' Shikamaru kaget.
''Tidak! Kami tidak akan membiarkan siapapun tumbang di sini!'' Shikamaru mencengkram baju Gaara, tapi dia menepisnya.
''Aku bisa! Cepat sebelum terlambat!'' Shikamaru sangat bingung, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Dia menepuk bahu Gaara.
''Kami percayakan padamu'' Gaara menyeringai.
''Tenang saja! Aku akan membuat kejutan kalian'' Shikamaru tersenyum, dan mulai memanggil yang lain dan meninggalkan tempat itu. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu sekali lagi dia melihat ke belakang.
''Kembalilah setelah selesai, Gaara.''
bbr
''Kenapa kita harus meninggalkannya sendiri!''
Sudah setengah jam berlalu mereka meninggalkan Gaara. Mereka berjalan melewati hutang gelap yang hanya terdapat pohon beranting lebat tanpa daun. Kakashi memimpin paling depan.
''Aku yakin dia bisa''
''Tunggu!'' Sasuke maju mengahalangi Kakashi di depan.
''Apa kalian tidak Sadar, sepertinya kita terkena ilusi. kita sudah 5 kali melewati jalan ini, lihat batu itu!'' Sasuke menunjuk batu dekat pohon yang bentuknya serupa dengan batu nisan.
''Dan tiba-tiba monsternya hilang begitu saja!''
Sasuke mulai menyadari keanehan teman-temannya ini, mereka tidak bergerak sama sekali, diam layaknya patung. Senjata yang mereka bawa pun mulai lepas dari genggaman mereka. Sasuke mencengkram kerah baju Naruto.
''Hey! Aku sedang tidak bercanda!'' Naruto tidak merespon, dia mencoba menurunkan tangannya yang mengambang diatas udara, namun bagaikan patung tangan itu sama sekali tidak bisa di gerakkan, jika di paksa mungkin tangan itu akan patah.
Pohon-pohon mulai menghilang satu persatu dan berganti batu nisan, langit yang semula putih tertutup kabut berganti hitam dan tak jauh dari tempatnya berdiri mulai muncul sebuah kastil besar dari tanah menyebabkan bumi yang ia pijak terguncang teman-temannya jatuh akibat guncangan itu. Sasuke mulai frustasi.
''Ada apa ini?''
bbr
Mata Hinata perlahan mengerjap rasa sakit luka lecet ia rasakan di pergelangan tangan dan kakinya itu, perlahan sesuatu menusuk di lehernya ia dapat merasakan cairan masuk dari lehernya. Hinata mulai berontak pelan.
''Apa yang kau lakukan?! Dimana ini?!'' Hinata dapat melihat tangan dan kakinya terikat kencang diatas batu persegi. Dia melihat mereka yang berjubah hitam mengelilinginya, salah satu dari mereka menarik sebuah suntikan dari lehernya.
''Apa itu! Apa yang kalian suntikan di tubuhku! Aaarrrggghhh!'' Hinata mulai memberontak kuat. ia dapat merasakan sesuatu yang seperti membakar seluruh organ tubuhnya.
''Aaarrrggghhh!'' Setitik air mata keluar dari sudut matanya bergantikan aliran air mata yang deras. Sakitnya tak tertahankan tubuhnya bergerak terus menerus. Ikatannya itu membuat ia tidak bisa meredakan sakitnya itu namun rasa sakitnya semakin bertambah. Derap langkah samar ia dengar mendekat.
''Bagaimana ya Jika Sasuke melihat ini?'' lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Pandangannya Hinata tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas ditambah cahaya lilin yang remang. Punggung terasa sakit akibat terbentur dengan batu yang ia tiduri saat berontak tadi namun rasa yang membakar itu hilang. Ia masih bisa melihat pria itu membukakan ikatannya, ia sudah terlalu lemah perlahan pandangannya kabur.
''Sasuke'' lirihnya sebelum semua gelap.
Madara menyeringai ketika rambut Hinata perlahan-lahan menghitam dan kuku-kukunya memanjang. Lalu ia membelai luka pada pergelangan Hinata dan mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata.
''Sekarang kau iblis sepenuhnya'' bisiknya lalu pada saat itu pula Hinata membuka matanya lagi, membuat Madara mencengkram tangannya, Hinata seperti mendapat kekuatan lebih pada tubuhnya semua indranya mulai menajam. Hinata mencengkram tangan Madara dengan sangat kuat, kuku panjangnya menancap di tangannya membuat Madara menggeram kesakitan.
''Kabuto! Cepat langsung ke intinya!''
bbr
Sasuke melihat pintu kastil itu terbuka, menampilkan sosok yang ia rindukan. Matanya terlihat sedih sekaligus terkejut melihat rambut hitamnya dan rantai yang mengikat lehernya. Dia menatap benci kearah Madara.
''Apa yang kau lakukan pada Hinata!'' suaranya menggelagar amarah aura hitam menguar dari tubuhnya.
''Sasuke'' Hinata memegang erat rantai yang mengalungi lehernya, dia bisa saja menghancurkan rantai itu atau membunuh Madara, namun seseorang menahannya dari belakang, seseorang yang berada di balik pintu yang memegang rantai yang mengikatnya.
''Bukankah, kau sudah mengetahui rencanaku? Ia kan cucuku? teman-temanmu yang beku itu pun sudah tau bukan?''
Sasuke bersiap maju dan menerkam Madara, sejenak ia melihat ke belakan, ke arah temannya yang masih terbujur kaku di tanah.
''Jangan ceroboh! Kau bisa membunuh iblismu'' Madara menyeringai, semakin menikmati permainan ini. Sasuke berdecih.
''Bahkan kau pun tidak bisa memegang pisau itu!'' Madara tertawa mendengar penuturannya.
''Tentu saja bukan aku yang membunuhnya'' Madara menepuk tangannya, dan munculah orang yang berada di balik pintu sambil memutar pisau suci itu dan tangan yang satu lagi memegang rantai Hinata.
Mata Sasuke melebar, melihat orang itu rahangnya mengeras tangannya mengepal kuat. Aura hitam itu kini bercampur dengan merah seperti api. Perlahan ia menyebutkan nama orang itu dengan penuh penekanan.
.
.
.
.
''Gaara''
.
.
.
.
.
Tbc
akhirnya dikit lagi selesai, mungkin satu atau dua chapter lagi selesai. Saya lagi penuh kebimbangan tentang fic koizora, semua orang tau film itu, pasti banyak yg ga suka kalo saya copy film itu ke fic, mungkin saya akan hapus fic itu. Pendek bgt ya? Kasih tau dong cara buat fic yg panjang, soalnya kalo saya buat tuh langsung to the pointnya aja
Reveiwwww!
