Warn: AU, OOC, EYD gak bener.

Disclaimer: Chara belongs to Masashi Kishimoto.

.

.

My Lovely Teddy Sabaku

.

.

Sinopsis:

Ada satu hukum yang jelas-jelas berlaku dalam fic ini. Kalau Gaara sedang jatuh cinta, gak ada pembeda antara angan dan logika. Termasuk memimpikan gadis yang ia suka meski tak pernah mau mengakuinya.

.

-:- 7

Summer Sunshine

.

.

Matahari itu… sumber kehidupan utama buat bumi. Tanpa dia, dunia bakal kedinginan, tersembunyi dalam gelap dan membeku. Matahari itu… warnanya kuning cerah, persis banget kayak rambut jabrik Naruto yang pirang. Di pagi hari yang punya awan sedikit, matahari juga ngasih sinar hangat yang bikin setiap orang bersemangat. Sama kayak Naruto yang selalu tersenyum pada setiap orang.

Sayangnya, kalo di musim panas, matahari yang lebih bersemangat selalu ngasih rasa hangat yang berlebihan. Kebanyakan orang gak terlalu menyukai itu karena ngebikin mereka kepanasan. Kali ini, matahari yang ada di dunia Hinata juga sama. Dia mulai ngebikin Hinata kecewa, juga terluka.

"Kita ke rumah sakit."

"Gak usah."

"Tapi kamu harus diperiksa."

Selain matahari yang terik, musim panas juga indentik banget sama liburan dan pantai; pohon palem, pasir, juga angin yang sepoi. Cuacanya memang panas, tapi nyenengin. Mirip banget kayak sekarang; panas, angin lumayan kencang, duduk di bawah tenda bareng seorang cowok keren, dan gak ngelakuin apa-apa.

"Wajahmu pucat," lalu ada helaan nafas berat.

Suara bangku kayu yang berderit muncul begitu menerima beban tambahan. Cowok berambut merah itu ngambil tempat di sebelah Hinata. Di tangannya, kantung transparan berisi tomat masih menggantung. Hinata melirik benda itu sebentar, lalu melihat Gaara.

"Jangan nanyain hal itu," Gaara langsung bicara begitu menyadari arti tatapan bertanya cewek pujaannya, "Aku gak mau ngomongin itu."

"Oke…" sahutnya sambil menunduk malu.

"Itu melukai harga diriku," kata Sabaku junior.

Gaara dan harga dirinya…

Hinata menyembunyikan mulutnya yang tersenyum, sementara Gaara gak berniat buat gabung atau menghentikan kakaknya Hanabi. Dia cuma diam, menatap lekat sosok cewek yang sering banget bikin telapak tangannya kesemutan.

Kalo lagi senang kayak gini, Hinata terlihat lebih bersinar, sorot matanya juga lebih hidup. Beda benget sama Hinata yang tadi Gaara temuin –Hinata yang berduka sebelum akhirnya pingsan. Kalo aja Hinata bisa terus hepi kayak gini…

"Pesan apa, nak?" sang kakek penjual es muncul dan nyadarin Gaara dari lamunannya.

Mereka masih ada di pasar yang sama, namun di sisi yang berbeda. Sehabis nyaksiin adegan yang bikin Hinata sesak nafas, Gaara membawa Hinata jauh dari tempat kejadian. Jadi, di sinilah mereka; tempat ternyaman yang bisa di temuin di dalam pasar –kios kecil milik si kakek penjual es.

"Yakin gak papa?" Gaara bertanya pada cewek di depannya, mengabaikan pria tua yang tetap sabar menanti dengan penuh senyuman. Hinata menghentikan tawa kecilnya yang sempat lepas, menunduk sebentar, agak ragu sebelum akhirnya mengiyakan. Saat mengangkat kembali wajahnya, raut khawatir milik Gaara tetap gak berubah.

"Aku…" Hinata maksa senyumnya keluar, "… gak papa, kok."

"Tapi kamu sering banget pingsan."

Kalo aja Hinata bisa buka mata hatinya, dia pasti bisa ngelihat perhatian yang gak biasa Gaara bagi ke orang lain selain dia.

"Pesan apa, nak?"

Loh? Kakeknya masih ada?

"Es kelapa muda…" Gaara melihat ke arah Hinata, "Dua gelas," tambahnya cepat supaya si kakek penjual es pergi dan gak menginterupsi saat yang dia anggap menyenangkan itu. Sayangnya, belakangan Gaara nyesal; karena kakek itu udah pergi, gak ada suara lain lagi yang bisa didengar adiknya Kankuro yang cakep selain degup jantungnya yang terlalu keras, hingga ngebikin dia gak konsentrasi dan gak bisa bereaksi. Dia jadi manusia patung yang gak ngelakuin apa-apa selain terus ngebuka mata mantengin si Hyuuga.

Hinata yang gak –ngerasa –pernah dilihat seorang cowok sampai segitunya, milih ngelihatin sepatunya yang tertutup bayangan meja.

Karena gak ada yang buka mulut, suasananya canggung. Sampai Hinata yang jarang ngobrol mulai ngajak bicara.

"Ehm, cuacanya…" ada jeda sejenak karena Hinata yang ragu buat buka pembicaraan "…panas, ya?"

Gaara berkedip, seolah tersadar dari pikirannya yang terbang ke angkasa, dia kemudian mengangguk singkat, lalu melirik ke atas.

Di sana, ada langit biru, juga gumpalan awan kecil yang bergerombol, matahari yang terlalu terik, dan daun kering yang berterbangan entah dari mana. Ketika manik jade Gaara bersembunyi dan muncul kembali, sehelai daun telah mendarat di meja mereka. Tepat di antara dia dan Hinata.

Ini bukan musim panas. Di konoha gak ada musim panas. Jadi, kenapa Gaara tiba-tiba ngerasa seluruh tubuhnya gerah?

Di sudut seberang, Hinata yang ngintip Gaara dari balik poninya gak sengaja ngelihat jam tangan ber-merek yang melingkar manis di pergelangan tangan yang kelihatan kokoh dari orang di depannya.

Setengah empat sore.

Tadi, Hinata janji sama Hanabi dia gak bakal lama, tapi sekarang, dia jelas udah dua setengah jam keluar dari rumah dan belum balik. Hanabi pasti udah mulai gelisah nungguin kakaknya. Ngomong-ngomong soal nunggu, tadi Sasuke juga sempat nyuruh Hinata buat nunggu dia.

Hinata langsung berdiri.

Gaara ngerutin alis yang gak pernah dia punya, "Kemana?"

"Pulang," kata Hinata panik. Ngelihat ekspresi Hinata yang berlebihan dengan wajah ketakutan, Gaara ikut berdiri, "Ada apa? Aku antar."

"Gak usah," kata Hinata, lalu terburu-buru pergi ninggalin Gaara yang jelas kelihatan kecewa. Setelah bisa nguasain dirinya yang sempat terluka, Gaara langsung beranjak buat ngejar cewek itu. Tapi langkahnya berhenti ketika Hinata membungkuk minta maaf pada orang yang selalu punya potensi jadi musuhnya Gaara; si Uchiha.

Gaara ngerasa tenggelam dalam hiruk pikuk keramaian, menyatu dengan orang lain yang gak diperhatikan. Dirinya yang di awal terlihat begitu berbeda, mulai ikut terlihat serupa dengan yang lainnya. Gak ada lagi Gaara berambut merah, semua abu-abu dalam dunia di persepsinya. Yang berwarna tinggal dua orang itu, mereka yang sekarang menjauh dan ninggalin si Sabaku.

.

.

Dari balik jendela rumahnya, Hanabi ngintip kakaknya yang baru aja diantar pulang sama Sasuke. Dia nyengir bahagia karena mikir gak lama lagi, Hinata bakal bisa terbebas dari Naruto yang jadi cinta pertamanya.

Di luar, Hinata sekali lagi membungkuk buat ngucapin terima kasih, lalu menerima kantung belanjaannya, dan berbalik menuju rumah. Sasuke cuma berdehem singkat buat ngejawab, lalu diam hingga tubuh cewek incerannya menghilang di balik pintu coklat yang terlihat berat. Setelah itu, dia macu motornya buat pulang.

Sampai di rumah, Itachi tersedak ngelihat adiknya yang selalu jutek kini tersenyum dengan sinar kebaikan kayak para Dewa di khayangan.

"Ma! Sasuke gila!"

.

.

Saat kesepian dan gak punya kerjaan, kebanyakan orang bakal duduk dan mulai mikir tentang banyak hal; kegiatannya selama seharian, kesalahannya, hal-hal buruk yang gak dia inginkan… semuanya bakal ngebikin kepalanya penuh, dan berujung penat.

Di sudut kamar yang gelap karena lampunya padam, Hinata juga ngelakuin hal yang sama. Memandang bulan yang bersinar penuh malam itu dari balik jendela kaca yang lebar, tatapan matanya seolah ingin menangis. Pinginnya curhat, tapi bulan pasti gak bisa dengar.

Saat dia menutup mata, kilasan tragedi Naruto dan Sakura tadi siang kembali lagi terulang. Meski gak suka, dia gak punya pilihan. Pikirannya seolah punya pikiran sendiri, dan maksa Hinata buat menderita.

Hinata mulai ngerasa dadanya sakit banget. Denyut jantungnya semakin cepat dan ngebikin udara yang ada di hadapannya terlalu sulit buat dijangkau. Nafasnya sesak.

Selimut tebal berwarna hijau muda jatuh dari tempat tidur, menyingkap kaki yang berbalut piyama. Derit kecil juga muncul sebagai reaksi buat gerakan putri sulungnya Hiashi yang mencoba berdiri meski kepayahan.

Tangan mungil Hinata tergenggam erat. Meski pandangannya mengabur, meski kakinya susah berjalan, meski tubuhnya gak mau kompromi, dia harus bisa mencapai meja belajarnya dan ngambil bungkusan hitam berisi obat dari dokter. Ketika kemudian obat itu ada di tangannya, Hinata langsung mengambil beberapa –masing-masing satu tiap warna, dan meminumnya. Karena tangannya gemetaran, gelas kristal yang dia pegang jatuh, membentur marmer, dan pecah. Tapi Hinata yang gak punya tenaga lagi gak peduli, dia bersandar ke dinding, lalu merosot saat kesadarannya mulai pergi.

Kayaknya, kekhawatiran Gaara emang bener, deh.

.

.

"Gaara! Gaar! Gaara!" Kiba teriak-teriak manggil kesadaran temannya yang lagi serius banget ngehajar orang. Dengan pipi kanan yang membiru, dia maju menerobos kerumunan dan mencoba buat menghentikan Gaara dan sikap brutalnya. "Gaara! Hentikan!" Kiba mulai nunjukkin posisinya sebagai kapten yang punya wibawa ketika teriak pada rekan setimnya, "Gaar!" dia menarik sebelah tangan yang udah terkepal dan siap banget buat mendarat dengan manis di wajah siswa SMU yang tadi nyikut pipi si Inuzuka dan beberapa temannya yang lain, dengan bilang dia gak sengaja.

Sekilas Gaara melirik Kiba, dan dia jadi ingat tentang teman baik dadakannya.

Kiba, adalah orang yang penuh semangat, agak sombong, tapi suka berteman. Dia ramah dan kadang menyenangkan. Dia terlalu baik, dan sering banget kelihatan bodoh. Meski gitu, dia adalah orang pertama yang gak terintimidasi sama kesangaran Sabaku Gaara. Dia pantang menyerah, dan selalu berusaha buat mencapai tujuannya. Kegemarannya adalah sepak bola, dan mimpinya saat ini adalah buat menang kejuaraan nasional.

Adiknya Kankuro menghela nafas, lalu melepas si jabrik yang baru aja dia hajar.

Kejuaraan nasional bakal tinggal mimpi kalo saat ini mereka didiskualifikasi cuma gara-gara insiden pemukulan terang-terangan yang dilakukan Sabaku yang gak bisa ngontrol emosinya. Jadi, Gaara milih bangkit, berjalan keluar lapangan dan menghiraukan wasit yang terus-terusan niup peluit sambil melambaikan kartu merah.

Di lapangan, Kiba terus ngelihatin punggung Gaara yang majang nomor sebelas.

Pertandingan dilanjutkan, dan kemenangan hadir dengan mudah untuk tim Kiba. Entah karena kapok dihajar Gaara, atau emang udah kehilangan tenaga, yang pasti, tim lawan udah gak pernah lagi nginjek atau nyikut Kiba dan teman-temannya.

Timnya senang, tapi Kiba sama sekali gak tersenyum.

"Aku ngerasa gak menang," katanya saat Gaara bertanya.

Pertandingan selesai dan sekolah sepi. Di tepi lapangan, tinggal mereka berdua. Kiba terus muter-muter bolanya di udara dengan telunjuk sambil duduk bersila di sebelah Gaara yang fokus pada sesuatu di depan sana. "Kenapa?"

"…"

"Kan gak didiskualifikasi, bukannya itu yang terpenting?"

"Kadang, ada hal yang lebih penting dari ambisi," Gaara melirik, lalu teman masa kecilnya Hinata melanjutkan, "Mimpi itu terlalu panjang kalau dilalui sendiri, akan lebih baik kalau ada yang bisa diajak berbagi," katanya, "Aku justru lebih mengkhawatirkanmu."

"…"

"SMU Kyoto itu terkenal dengan gengnya. Dan lawan tadi…" Kiba gak lagi bisa nahan ucapannya, "Kamu gak takut kalau dia ngadu sama temannya dan kamu bakal dapat masalah?"

"Que sera-sera…" Gaara menyahut gak peduli, tapi sayangnya, omongan Kiba benar-benar terjadi.

Begitu keluar dari gerbang sekolah, belasan siswa berseragam SMU menghalangi Gaara juga Kiba. Salah seorang dari mereka maju, dan dengan aksen sombongnya mulai bicara, "Yang mana yang namanya Sabaku Gaara?"

"Lo siapa?" tantang Gaara.

Orang itu menyipitkan matanya, dia kelihatan gak suka. Tangan kanannya terangkat, mengisyaratkan teman-temannya di belakang buat ngepung dua siswa yang jelas kalah jumlah. "Tch! Jadi elo?"

Gaara tersenyum miring, meremehkan.

.

.

Kiba tertawa keras. Benar-benar tertawa. Rasa sakit yang ada di wajah dan tubuhnya gak dia peduliin. Ruangan yang seharusnya sepi menjadi gaduh. Berkat dia dan suara kerasnya, tempat yang seharusnya pengap dan dingin juga sunyi, berubah jadi lokasi yang menawarkan kehangatan.

Di kasur sebelah Kiba, Gaara mendengus, seolah bertanya 'Ngapain lo ketawa?'

"Ekstrim banget!" seru Sang Heboh Inuzuka, "Baru sekali ini…" dia masih kesulitan ngendaliin tawanya, "… baru sekali ini aku ngerasainnya… Haha… Gaara! Kita bisa aja mati tadi kalo polisi gak dateng."

Dari pada ngedengerin curhatan Kiba, Gaara lebih tertarik sama langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna putih. Cowok itu udah biasa menghadapi situasi kayak tadi, dan dia udah terbiasa. Gaara ngerasa kehidupannya yang selalu dekat dengan luka dan perkelahian mulai kembali, dan dia gak keberatan. Mungkin, dengan begitu, Hinata bakalan pergi dari pikirannya.

Kenapa jadi teringat Hinata?

"Eh, Gaar! Ngomong-ngomong, kok kamu bisa kenal Hinata, sih?"

Dan kenapa juga Kiba harus nanya-nanya soal itu sekarang?

Dengan perban membalut badan juga kepalanya, Gaara memejamkan mata.

Di ruangan lain dalam rumah sakit, Hinata berbaring dengan infus yang terpasang pada tubuhnya.

.

.

To be continued

.

.

A/n:

Well, kayaknya beberapa orang mulai menerka-nerka tentang saya ya? Saya kira semua orang udah tahu. XXD

Makasih juga salam kenal buat semua teman-teman yang rela ngasih saya asupan review buat jadi energi ngelanjutin fiksi ini. Makasih juga buat yang udah ngefave, ngealert, baik storynya maupun authornya. Ah… seneng banget karena masih ada beberapa orang yang peduli pada saya juga fiksi ini.

Big Hug for you, guys!

Terima kasih juga buat dorama korea yang sering saya lihat dan jadi inspirasi buat nulis fiksi ini:

Secret Garden

Greatest Love

Pasta

Dan sekali lagi, Makasih buat teman-teman tersayang…

Review?