If We Love Again :

B — Two

.

.

.

.

.

Baekhyun kembali memuntahkan isi perutnya pagi-pagi. Sudah beberapa hari ini ia tidak merasa sehat, namun ia hanya menganggapnya sebagai salah makan ataupun kelelahan. Setelah dirasa membaik, Baekhyun kembali mendudukkan tubuhnya di hadapan laptopnya.

Aku melangkahkan kakiku sejauh mungkin dan bertemu dengan orang-orang sebanyak mungkin. Tapi, hatiku masih ada bersamanya. Bersama dengan cinta pertama dalam hidupku|

Baekhyun terhenti ketika ia mendapat notifikasi pesan dari Sehun. Pemberitahuan bahwa hari ini mereka akan menyebar beberapa undangan pernikahan mereka, 2 bulan lagi. Dengan cepat Baekhyun membalas 'oke' dengan sebuah emoticon senyum. Setelah itu ia kembali menaruh ponselnya.

Beberapa saat kemudian ia kembali mengambil ponselnya, dan membuka sebuah aplikasi chat, KT.

.

To : Yeol

June, 13:19

Hey, Chanyeol? Apa kabar?

.

Baekhyun kembali merangkai kata-kata untuk dikirimkan ke Chanyeol dan menggigit kuku di tangannya ketika akan menekan tulisan SEND

.

To : Yeol

June, 13:19

Aku akan menikah 2 bulan lagi

.

Baekhyun kembali menghela nafasnya dan mengirimkan kata-kata lainnya.

.

To : Yeol

June, 13:19

Kuharap kau datang, Chanyeol

.

Setelah itu Baekhyun menaruh ponsel itu di samping laptopnya, kalau-kalau Chanyeol membalas pesan Baekhyun dan Baekhyun akan membalas pesan itu dengan cepat.

Namun hingga satu bulan sebelum pernikahannya pun Chanyeol tak membalas pesannya.

Kini ia dan Sehun berada di depan rumah keluarga Park. Sehun dan Baekhyun berdiri di depan pintu itu, menanti Ibu Chanyeol membukakan pintu untuk mereka. "Baekhyun! Sehun! Ada apa kemari?"

Baekhyun menyerahkan sebuah undangan kepada Ibu Chanyeol. Setelah melihat itu, tangan Ibu Chanyeol menggapai pipi Baekhyun dan mengusapnya lembut, "Wah, anak ibu akan segera menikah…" dan tangannya berpindah pada dagu Sehun dan tersenyum, "…dengan lelaki tampan ini"

"Ibu, bolehkah aku menginap disini lagi untuk beberapa waktu? Paling tidak sampai beberapa hari sebelum pernikahan" pinta Baekhyun.

"Tentu saja! Tapi tanyakan pada Sehun, sayang"

"Ah! Tidak apa-apa, bu! Tentu saja aku akan mengizinkan Baekhyun"

"Ah, lucunya love birds ini. Sehun ingin masuk terlebih dahulu?"

Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku akan pergi, bu. Dan Baekhyun, KT miliknya sudah tidak aktif. Selamat malam!"

Baekhyun mengganggukan kepalanya sebagai tanggapan pada Sehun, "Terima kasih sudah menanyakan itu padanya, Sehun"

"Baekhyun, kau ingin memasukkan sesuatu ke dalam mulutmu?"

"Tidak, bu. Sebelum kemari aku sudah melakukannya dengan Sehun"

Ibu Chanyeol mengangguk, "Kau ingin Ibu ajarkan memasak tidak? Terlebih memasak donkkaseu"

"Donkkaseu? Favorit Chanyeol?"

"Ya"

"Entahlah bu, ku rasa aku tidak akan pernah bisa memasakkan makanan untuknya"

"Kau harus mencoba, Baekhyun"

"Baiklah-baik—" tiba-tiba Baekhyun berlari menuju kamar mandi, mengeluarkan makanan yang ia makan tadi. Air wajah Ibu Chanyeol terlihat khawatir dengan Baekhyun yang terus memasukkan kepalanya ke dalam kloset.

"Kau baik-baik saja, Baekhyun?" dengan telaten Ibu Chanyeol mengusap punggung Baekhyun.

Dan malam itu Baekhyun membuat Ibu Chanyeol menangis.

Baekhyun menyampaikan rahasia yang hanya ia, dokter, dan Tuhan yang tahu. Well, sekarang Ibu Chanyeol juga mengetahuinya.

Kanker.

"Bisakah Ibu merahasiakannya? Terlebih pada Chanyeol" tangan Baekhyun mengusap lembut air mata Ibu Chanyeol yang mengalir melalui sudut matanya. Ibu Chanyeol mengangguk dan memeluk tubuh Baekhyun lebih erat.

"Jika kau tidak memiliki seseorang untuk bersandar, bersandarlah pada Ibu. Jika kau tidak memiliki seseorang untuk berbicara, bicaralah pada Ibu. Jika kau tidak memiliki seseorang untuk menemanimu untuk pergi ke rumah sakit, ajaklah Ibu. Ibu ada di sini untukmu, Baekhyunku, sayangku"

Baekhyun tersenyum dan mengangguk.

Ibu Chanyeol selalu bisa di andalkan.

Malam itu, sebelum Baekhyun menutup matanya untuk tidur, ia sempatkan kembali untuk membuka KT miliknya.

Baekhyun terlihat gelisah malam itu, dengan menggigit jarinya ia memulai merangkai kata-kata.

.

To : Yeol

July, 21:28

Chanyeol? Ku dengar dari Sehun jika KT milikmu tidaklah aktif. Apa itu benar?

.

To : Yeol

July, 21:29

Satu bulan lagi aku akan menikah, well, dengan Sehun. Dan tebak siapa yang malam ini tidur di ranjangmu? Aku! Hahaha

.

To : Yeol

July, 21:29

Apakah bintang di Kanada indah? Dahulu kita sering melihat bintang bersama-sama, kau ingat?

.

To : Yeol

July, 21:30

Oke, aku akan membuang segala gurauan dan menjadi serius saat ini. Aku benar-benar berharap kau akan datang ke pernikahanku bulan depan, Chanyeol. Pastikan kau datang! Aku tidak ingin hidangan di pernikahanku bersisa karena ketidak hadiranmu, okay?

.

To : Yeol

July, 21:35

Aku putus asa, Yeol

.

To : Yeol

July, 21:35

Chanyeol

.

.

.

To : Yeol

August, 16:40

Chanyeol, aku sangat mengharapkan kehadiranmu di pernikahan yang akan terjadi dua hari lagi. Sangat-sangat mengharapkannya, Chanyeol.

.

To : Yeol

August, 16:40

Aku ingin saat aku berada di altar dengan Sehun di sampingku, kau akan memasuki ruangan itu dan berkata 'aku keberatan' dengan lantang dan menghentikan pernikahanku. Sungguh!

.

To : Yeol

August, 16:42

Apakah aneh jika aku mengharapkan hal itu terjadi di pernikahanku? Kkkkk.

.

To : Yeol

August, 16:43

Aku sangat berharap kau akan datang, berteriak dengan lantang 'aku keberatan' dan membawaku lari dan keluar dari gedung pernikahan itu. Apakah aku aneh, Yeol?

.

To : Yeol

August, 16:44

Aku ingin kau membantu mewujudkan harapanku itu, Yeol

.

To : Yeol

August, 16:44

Kau pasti akan datang, bukan? Kau harus datang dan membawaku pergi, Yeol!

.

To : Yeol

August, 16:45

Chanyeol

.

.

.

Baekhyun masih saja memindai para tamu undangan. Matanya tak henti-hentinya mencari pria dengan tubuh tinggi di antara tamu-tamunya. Meskipun begitu, ia akan terus tersenyum. Bagaimana pun juga ini adalah hari pernikahannya, setidaknya ia harus terlihat bahagia.

"Maafkan Ibu, Baekhyun. Ibu tidak bisa membawa Chanyeol pulang" ucap wanita itu ketika Baekhyun menemuinya. Baekhyun tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Ibu. Seharusnya aku tahu ia tidak akan datang"

Tangan Ibu Chanyeol mengusap lembut pipi Baekhyun, "Kau terlihat manis, sayang. Chanyeol akan menyesali ini seumur hidupnya. Ia akan menyesal karena tidak melihatmu semanis ini di pesta pernikahanmu"

"Ibu, jangan berlebihan seperti itu. Bukankah kita harus bahagia di hari pernikahan?" Baekhyun tersenyum. Namun senyum itu memiliki arti yang lain, dan Ibu Chanyeol mengetahui itu. "Kau adalah pria yang kuat, Baekhyun. Ibu tahu itu"

Kemudian Baekhyun kembali berdampingan dengan Sehun. "Masih mengharap kehadiran Chanyeol?" bisik Sehun di telinga Baekhyun. "Ya, aku selalu mengharap kehadirannya, Sehun"

"Aku melihat Luhan, dan kekasihnya. Mereka sedang makan di pojok sana"

"Hampirilah mereka, tiger"

Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku senang melihat Luhan bahagia. Bukankah seharusnya seperti itu, Baekhyun?"

"Sehun, aku harus mengatakan ini. Aku tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi, aku tidak akan pernah melupakan Chanyeol, ataupun berhenti mencintai Chanyeol. Sulit bagiku melepas Chanyeol, Sehun"

Sehun mengangguk, "Dan untuk menghindari salah paham ini, aku juga masih mencintai Luhan, dengan sepenuh hatiku. Namun aku turut berbahagia ia bertemu dengan pria yang akan selalu berada di sampingnya. Bukan pengecut sepertiku"

Baekhyun mengusap punggung Sehun. "Dasar anak patah hati, kau harus kuat"

"Apa-apaan dengan julukan itu? Anak patah hati? Hah! Lihat siapa yang berbicara"

"Apa yang salah dengan kita, hn? Kenapa kau dan aku hanya dapat melihat orang yang kita sukai dari jauh?"

"Sshh! Kalian tidak boleh berkata seperti itu di hari pernikahan kalian!" kini suara dari Jongin menginterupsi mereka.

"Jongin! Wow, dude! Aku merindukanmu" Sehun membuka tangannya sangat lebar untuk memeluk erat tubuh Jongin. "Kau akan membunuhku, sialan"

.

.

.

"Baekhyun, hari ini kau memiliki jadwal untuk bertemu dengan dokter, bukan?" tanya Sehun pada Baekhyun yang masih menduduk tubuhnya di hadapan laptopnya. "Hey, Baekhyun. Kau mendengarkanku?"

"Baekhyun?" Sehun menepuk pundak Baekhyun beberapa saat hingga akhirnya Baekhyun tersadar dari lamunannya. "A-ada apa?"

"Kau harus bertemu dengan doktermu, aku akan mengantarmu"

Kini Sehun mengetahui mengenai penyakit Baekhyun, itu semua karena obat-obatan yang berada di laci ditemukan oleh Sehun. Jadi tanpa mengelak, Baekhyun menjelaskan semuanya pada Sehun.

"Kau tidak memiliki jadwal untuk bertemu dengan klien?"

"Tidak, tidak ada jadwal bertemu klien"

"Kau tidak memiliki jadwal?" tanya Baekhyun.

"Hanya bertemu dengan beberapa teman, tapi mereka dapat menunggu"

"Siapa?" tanya Baekhyun mengingat teman-teman Sehun tidaklah banyak.

"Jika ku katakan, kau harus pergi ke dokter, bagaimana?"

"Baiklah-baiklah, aku akan ke dokter"

"Hanya Jongin, Kyungsoo, dan... Chanyeol"

Baekhyun tersenyum bersemangat, "Chanyeol?!"

Sehun mengangguk. "Chanyeol kembali?!" dan sekali lagi Sehun mengangguk.

"Sekarang bersiaplah, kita akan pergi ke dokter, okay? Kau sudah berjanji akan menemui dokter Yang"

Baekhyun mendengus dan segera bersiap; memakai celana jeans dan hoodie.

.

.

.

"Baekhyun, aku akan bertemu dengan Chanyeol sore ini" ucap Sehun pada Baekhyun yang kala itu tengah membaca buku di atas ranjangnya.

"Se-sehun, bolehkah jika aku saja yang pergi?" Sehun sudah mengetahui Baekhyun akan meminta hal tersebut darinya. Terlebih Baekhyun terlihat sangat bersemangat kemarin siang. Tidak akan ada salahnya bukan?

"Tentu"

Dan di sinilah Baekhyun, berada di hadapan Chanyeol di sebuah kedai kopi di dekat kawasan dimana Baekhyun dan Chanyeol tinggal; rumah mereka hanya berjarak dua blok.

"Kau pergi tanpa memberitahuku, dan kau kembali tanpa memberitahuku juga? Kau tidak benar-benar menganggapku sebagai teman ya, Chanyeol?" tanya Baekhyun sedikit memojokkan Chanyeol.

"Uh, Sehun tidak datang?" Baekhyun menghela nafasnya dan mengambil sebotol air putih di meja. "Sehun sedang sibuk sekarang ini, jadi tidak bisa datang"

Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah masam, "Kita ini berteman bukan?"

"Y-ya, kupikir"

"Aku juga berpikir seperti itu… atau hanyaaku yang berpikir seperti itu?"

"Uhm, selamat atas pernikahanmu omong-omong" Baekhyun tersenyum dan terus memandangi cinta pertama di hadapannya yang tak kunjung menatapnya. "Terima kasih, aku sangat mengharapkan kehadiranmu. Tapi kau tidak datang" Baekhyun memberikan penekanan pada kata sangat.

Kali ini Chanyeol mengangkat kepalanya saat mendengar nada kecewa dalam suara Baekhyun, "Aku tidak sempat kembali ke Korea saat itu, tugasku banyak dan menumpuk. Aku juga tidak sempat menelfon Sehun, takut mengganggu kalian"

"Bagaimana kabarmu di Kanada?"

"Kupikir aku cukup baik tinggal di Kanada, bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?"

"Uhm… aku tidak apa-apa, kupikir"

Baekhyun sangat ingin mengatakan betapa ia merindukan giant di hadapannya ini. Ia tidak ingin giant itu pergi meninggalkannya lagi. Oh Tuhan, Baekhyun sangat merindukannya.

"Jadi bagaimana dengan pernikahanmu?" Chanyeol menatap Baekhyun dengan sebuah senyum. "Maaf aku tidak bisa datang" lanjutnya.

Baekhyun tersenyum lebar mendengar Chanyeol, "Cukup menyenangkan, mungkin. Tapi bagaimanapun juga kau harus terlihat bahagia di hari pernikahanmu. Agar orang-orang tidak bertanya-tanya apa yang terjadi padamu, pikiran orang sangat mengerikan"

"Kudengar kau menjadi penulis terkenal, kau hebat"

"Kau sudah baca?"

Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Sebenarnya, belum. Tapi saat aku longgar aku akan membacanya, aku janji"

"Tidak usah dibaca jika kau tidak ingin, aku malu sebenarnya"

"Mengapa harus malu? Kau memimpikan ini dari kelas 1 SMA, Baekhyun!" Baekhyun tersenyum mendengar Chanyeol. Ini terasa seperti Chanyeol yang dulu telah kembali.

"Bagaimana 'perkantoran'mu? Kau sukses?" Baekhyun memang sengaja menekankan pada kata perkantorannya. "Aku masih kuliah, semester depan aku akan mengikuti ujian akhir dan mencari 'perkantoran' yang membutuhkan tenagaku"

"Kau ingin mencari di Kanada atau Korea?"

"Kurasa aku ingin di Kanada saja"

"Kenapa? Bukankah perkantoran di Korea juga bagus dan cukup menjanjikan?"

Chanyeol terlihat berpikir, "Aku belum terlalu memikirkannya sampai situ sebenarnya"

"Kau pasti bisa Chanyeol! Aku tahu itu"

"Thanks, Baek"

Baekhyun mengerutkan keningnya, "Baek?"

"Uh? Kau tidak suka? Teman-temanku di Kanada suka menyingkat nama, jadi—"

"Tidak apa, terdengar lucu" Baekhyun tersenyum dan kembali meneguk air putihnya. Ia mengusap pelan bibirnya, menghilangkan sisa air yang berada di bibirnya. "Kapan kau akan kembali ke Kanada?"

"Uh, minggu depan"

"Cepat sekali kau kembali ke Kanada"

"Well, aku pulang karena natal dan ibuku meminta. Aku hanya membawa keajaiban desember untuk Ibuku"

Baekhyun tersenyum dan mengangguk. Chanyeol menyesap the hangatnya dan tersenyum, "Aku tidak tahu apakah saat natal kita bisa bertemu atau tidak, jadi, Merry Chirstmas"

"Merry Christmas, Chanyeol"

"Karena ini musim dingin, jangan lupa kau harus membawa jaketmu, jangan sampai kau kedinginan hanya karena kau melupakan jaketmu"

"Aku akan mengingatnya, terima kasih sudah mengingatkan. Tapi, kurasa aku melupakan jaketku, lagi" Baekhyun menggigit bibirnya canggung.

"Benarkah? Kau benar-benar pelupa ya. Jaket yang mana yang kau tinggalkan di rumah kali ini? Jaket musim dingin?" Baekhyun mengangguk ketika Chanyeol menebak dengan benar. "Kau masih sama saja, Baekhyun"

Baekhyun tersenyum kecil dan menunduk.

"Bawa ini" Chanyeol menyerahkan jaket musim dinginnya pada Baekhyun.

"T-terima kasih, Chanyeol"

.

.

.

"Sehun! Sehun! Sehun!" teriak Baekhyun girang. "Ada apa?" Sehun muncul dari balik pintu kamar mandi dengan handuk di sekeliling pinggangnya. "Aku sudah menyelesaikan tulisanku! Semua tulisanku! Bisakah kita ke Kanada? Dan kalau bisa, berkeliling dunia. Aku tidak tahu apakah aku akan memiliki waktu untuk itu"

"Benarkah? Semuanya?"

"Ya! Dan kau harus melunasi janjimu waktu itu! Kita harus pergi ke Kanada!"

"Setelah kita bertemu dengan doktermu, tentu saja"

"Dokter Yang pasti akan mengizinkanku pergi, Sehun"

"Baiklah baiklah, akan ku siapkan perjalanan untuk ke Kanada"

"Terima kasih, Sehun! Kau memang terbaik!" Baekhyun terduduk di kursinya kembali setelah memeluk tubuh Sehun.

Sehun tersenyum melihat Baekhyun terlihat begitu hidup sekarang, tidak seperti beberapa hari yang lalu yang terlihat tertekan akan pekerjaan menulisnya. Beberapa kali Sehun menyuruh Baekhyun untuk mengambil waktunya dan tidak terlalu terburu-buru.

"Semakin cepat tulisan ini selesai, semakin cepat aku akan ke Kanada, bukan?" itulah yang keluar dari bibir Baekhyun ketika Sehun menyuruhnya beristirahat.

"Bisakah kita berangkat minggu depan, Sehun?" tanya Baekhyun ketika Sehun sedang memakai kemeja putihnya.

"Hn, tentu. Akan ku atur keberangkatan kita. Sebutkan kau ingin pergi kemana dan aku akan segera mengurusnya"

Baekhyun tersenyum dan menunduk, "Sudah jelas aku ingin ke Kanada. Dan aku ingin pergi ke California, Chanyeol pernah berjanji untuk mengajakku pergi ke California. Oh! Bolehkah kita berkunjung ke China? Aku merindukan Luhan"

Sehun tersenyum dan mengusap kepala Baekhyun, "Kita akan pergi kemanapun yang kau mau, Baekhyun. Kau pantas menerimanya"

.

.

.

"Sehun"

"Hn?"

Mereka berdua telah berada di depan pintu apartemen Chanyeol, menunggu hingga pemiliknya untuk membukakan pintu untuk mereka.

"Bagaimana jika aku kembali muntah-muntah ataupun kesakitan? Maka Chanyeol akan mengetahui penyakitku"

"Aku akan menutupinya, jangan permasalahkan itu. Cinta pertamamu berada di balik pintu ini, dan ia akan membuatmu lupa akan segala penyakitmu"

"Kau benar, Sehun" Baekhyun tersenyum.

"Baekhyun? Sehun? Astaga! Kalian di sini! Astaga! Ya Tuhan! Kalian di Kanada?! Sungguh?!" itulah yang dikatakan oleh Chanyeol setelah ia membuka pintu rumahnya dan menemukan Sehun dan Baekhyun berada di depan rumahnya.

"Kalian bisa menggunakan kamar ini" tunjuk Chanyeol pada sebuah kamar setelah Chanyeol menyuruh Sehun dan Baekhyun menetap di rumahnya.

Baekhyun memasuki kamar itu, mengamati setiap sudut kamar yang akan ia gunakan dan mempelajari interior-interior yang ada di sana. "Kamar ini bagus, Chanyeol"

"Well, terima kasih. Omong-omong, kalian lebih baik beristirahat terlebih dahulu. Seoul Kanada membutuhkan waktu yang banyak" dan kemudian Chanyeol meninggalkan mereka berdua.

Baekhyun mendudukkan tubuhnya di atas ranjang itu. Ia mengambil sebuah foto yang tergeletak tertutup dan kemudian ia tersenyum setelah membukanya.

"Chanyeol tidak mempersiapkan kamar ini dengan baik" ucapnya sembari menatap foto terbingkai itu. Sebuah foto kelulusannya, foto kelulusan Chanyeol dan Baekhyun.

Ketika pagi mulai muncul, Sehun sudah tidak berada di sofa. Ya, sofa.

Baekhyun dan Sehun tidak pernah tidur dalam satu ranjang yang sama. Pernah suatu kali Ayah Baekhyun memergokinya dan Sehun berkata "Baekhyun terlalu menguasai satu ranjang, aku tidak tega untuk membangunkannya hanya untuk memintanya sedikit berpindah".

Di rumah? Di kamarnya tersedia dua ranjang single yang berdekatan sehingga terlihat lebar.

Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali dan meregangkan otot kakunya. "Dimana Sehun?" gumam Baekhyun kemudian Baekhyun menguap.

"Aku merindukanmu, Chanyeol!"

Baekhyun mengangguk begitu mendengar suara Sehun dari luar kamar mereka, "Ah, Sehun sedang sarapan dengan Chanyeol"

Beberapa saat kemudian rasa pusing memasuki kepalanya. Dunia seolah berputar, dan diri Baekhyun ikut berputar. Baekhyun paling tidak suka rasa pusing ini, ia paling tidak suka jika ia merasa ikut berputar.

"Se-Sehun… Sehun… Sehun!" panggilnya, dan beberapa saat kemudian Sehun menghampirinya.

Sehun melepas kedua tangan Baekhyun yang menekan kepalanya dan menggantikannya dengan kedua tangannya, kemudian ia memeluk kepala Baekhyun di dadanya. "Sshh sshh, tenang Baekhyun. Rasa pusing itu akan segera berhenti"

Sudah lebih dari sering Sehun melihat Baekhyun seperti ini.

.

.

.

Baekhyun terbangun ketika masih pagi, pukul 5 pagi. Pagi itu Baekhyun sudah memasukkan kepalanya ke dalam kloset. Beberapa kali ia mengeluarkan isi perutnya hingga air mata mulai berkumpul di ujung matanya.

Ketika ia membuka pintu kamar mandi, Chanyeol tengah mendudukkan dirinya di sofa dengan laptop di hadapannya. Baekhyun mengusap mulutnya dengan kaus panjang yang ia pakai.

"H-hey, selamat pagi"

"Selamat pagi, kau sakit?"

"Hanya mual biasa, tidak terlalu membahayakan"

"Perlu kucarikan bubur?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Tidak usah, terima kasih. Aku akan meminta Sehun untuk membuatkanku bubur. Bubur buatan Sehun lumayan, kau harus mencobanya"

"B-benarkah?"

Baekhyun mengangguk, "Aku akan beristirahat kembali, dah!"

"O-okay"

Baekhyun mengguncang tubuh Sehun pelan, "Sehun… Sehun" dan ketika Sehun membuka kedua matanya, Baekhyun mundur untuk beberapa langkah.

"Bolehkah kau membuatkan ku bubur? Perutku tidak baik"

"Hn, okay? Beberapa menit menunggu tidak apa?"

"Well, ya"

"Sehun, Chanyeol mendengarku muntah" lanjut Baekhyun.

"Kau bersedih akan hal itu?" dan Baekhyun mengangguk.

Pukul dua lewat duapuluhtiga.

"Chanyeol" panggil Baekhyun ketika ia keluar dari kamarnya dengan mengusap matanya. "Ohh, tuan putri baru saja bangun ternyata" Chanyeol bersuara.

"Jangan memanggilku tuan putri" Baekhyun melangkahkan kakinya menuju Chanyeol yang berada di sofa. "Kau masih suka menonton film ini?"

"Tentu, mengapa tidak?"

Baekhyun mendudukkan tubuhnya di samping Chanyeol dan kemudian merebahkan tubuhnya, menaruh kepalanya pada paha Chanyeol. "B-Baekhyun—"

"Sshhh, aku masih mengantuk, aku mimpi buruk di dalam, aku ingin tidur lagi"

"B-baiklah"

Baekhyun kembali menutup kedua matanya, ia tersenyum senang ketika Chanyeol tidak menolak untuk menggunakan paha Chanyeol sebagai bantal untuk Baekhyun. Ia senang hingga ia tertidur.

"Baekhyun, aku harus pergi" Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun erat. "Pergi? Kemana? Aku baru mendapatkanmu dan kau akan pergi lagi?"

"Maafkan aku, tapi aku harus pergi, Baek. Kau harus tahu, jika aku tidak dapat hidup tanpamu"

Chanyeol melepas tangan Baekhyun pergi menjauh. Semakin berjalan menuju kegelapan tak berhujung.

"Chanyeol! Jangan pergi! Chanyeol!" Baekhyun berteriak dan air matanya mengalir begitu saja.

"C-chanyeol… Chanyeol!"

"C-chanyeol"

"Y-ya?" suaranya terdengar samar di telinga Baekhyun. Chanyeol?

"Chanyeol!" Baekhyun terbangun dan nafasnya tiba-tiba menjadi tidak teratur.

"H-hey, Baekhyun. Aku di sini, tenanglah" Chanyeol mengusap punggung Baekhyun yang berkeringat. "Oh? Oh? Maaf, aku mengejutkanmu ya?"

Chanyeol tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, tenang saja. Akan ku ambilkan air, okay?" Baekhyun mengangguk menerima tawaran Chanyeol.

"Kau sudah makan? perlu kubuatkan mi instan?"

Baekhyun menegak segelas air putih dari Chanyeol, "Tentu! Terima kasih, Chanyeol!" kemudian ia tersenyum.

Baekhyun mengabaikan suara-suara Dokter Yang di kepalanya yang mengingatkan Baekhyun agar tidak memakan mi instan atau apapun yang instan karena itu akan melemahkan perutnya.

Sekali ini saja, kumohon.

Baekhyun berdiri di samping Chanyeol yang sedang tersenyum ketika ia tengah memasak. Tanpa sadar ia tersenyum, kemudian ia menatap panci karena takut-takut Chanyeol akan menyadari tatapan Baekhyun.

"Ada apa, Baek—hyun?"

"Panggil aku Baek, aku senang mendengarnya"

"Baiklah, tapi apa yang kau lakukan disini? Kau sudah membaik?"

"Ya, aku sudah membaik. Dan sepertinya kau tidak memiliki banyak bahan ya? Ingin ke supermarket?" tawar Baekhyun sembari menatap Chanyeol yang juga menatapnya. "Aku akan ke supermarket nanti saja"

"Aku akan menemanimu, aku bosan hanya disini. Sehun pergi tanpa mengajakku" Baekhyun mengerucutkan bibirnya gemas. "Baiklah-baiklah, kita akan ke supermarket setelah kau memakan makan siangmu, okay?"

"Okay!" seru Baekhyun sembari tersenyum.

Baekhyun memakan mi instan itu cukup lama. Dan ketika ia sudah menghabiskan semangkuk mi instan, Baekhyun berseru senang untuk berangkat. "Okay, apa tidak masalah kita naik bus saja? Aku tidak memiliki mobil disini"

"Tidak apa, Chanyeol"

Mereka pergi ke supermarket, dan Chanyeol menawarkan untuk pergi menonton karnaval tahunan di taman kota yang tidak jauh. Baekhyun tidak menolak, tentu saja. Ini adalah kesempatan emas bagi Baekhyun untuk memuaskan rasa rindunya pada Chanyeol.

"Wah! Ramai sekali" Baekhyun sedikit berbicara lebih keras agar Chanyeol mendengar suaranya. "Kau benar, kalau begitu ikut aku, Baek" Chanyeol menarik tangan Baekhyun.

"Agar kau tidak menghilang" kata Chanyeol ketika Baekhyun menatap Chanyeol penuh tanda tanya.

Mereka masih berada di taman kota, namun jauh dari keramaian. "Kau masih tak suka keramaian?" Baekhyun mengangguk. "Sini, duduk di sini bersamaku. Sebentar lagi akan ada kembang api" Chanyeol mendudukkan tubuhnya di atas rumput, dengan barang belanjaan di sampingnya.

Tanpa pikir panjang Baekhyun mendudukkan tubuhnya di samping Chanyeol. Mendekap lututnya dan tersenyum menatap langit, "Terima kasih, Chanyeol"

"Hm? Untuk apa?"

"Untuk semua"

"Apapun itu, aku juga berterima kasih, Baek"

Dana kemudian letusan kembang api memenuhi langit di atas mereka. "Wah, indahnya" Baekhyun tengah tersenyum sangat lebar.

"Baek" panggil Chanyeol.

Dan tanpa peringatan apapun, Chanyeol menekan bibirnya di atas bibir manis Baekhyun. Baekhyun terkejut, tentu saja, namun rasa terkejut itu menghilang seketika.

Dan Baekhyun memilih untuk menutup kedua matanya dan merasakan gejolak kembang api dari dalam dirinya.

Ciuman itu cukup lama terjadi, hingga mereka berdua menarik bibir mereka untuk mengambil nafas. "M-maaf Baek… aku ti-tidak sengaja, sungguh"

Baekhyun tersenyum samar dan masih tidak menjawab Chanyeol. Matanya yang awalnya tertuju pada Chanyeol kini tertuju pada langit di atas yang menunjukkan bintang-bintang yang terlihat semakin terang.

"Chanyeol, kau ingat tidak? Saat kita tengah memandang bintang-bintang di rumahmu, kita membicarakan mengenai kehidupan setelah kehidupan, bukan?"

"Ya, aku ingat"

"Aku tidak percaya kau masih mengingatnya" Baekhyun tertawa kecil kemudian ia berdeham.

Chanyeol. Ya Tuhan, Chanyeol

"Chanyeol" panggilnya lagi.

"Hm?" Chanyeol menatapnya.

"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" kini Baekhyun menatap Chanyeol. Ia sedikit terkejut ketika Chanyeol masih menatapnya. "Tentu"

"Bolehkah kau menciumku lagi? Sekali saja"

"Tapi Baek, yang tadi itu… aku hanya… hanya—"

"Kumohon"

Pada akhirnya Chanyeol kembali mencium bibir Baekhyun. Bahkan ciuman itu lebih lama dari ciuman sebelumnya. Bukan ciuman yang bernafsu, namun ciuman yang menyalurkan rasa rindu.

Well, selamat.

Ini ciuman kedua mereka berdua.

Sehun tidak benar-benar mencium Baekhyun ketika mereka berada di altar.

"Terima kasih, Chanyeol"

"Kita mengingkari janji kita, Chanyeol. Kau ingat?" lanjut Baekhyun sembari menatap Chanyeol. Yang ia tatap hanya menunduk dan tersenyum kecil padanya.

"Well, kurasa Sehun sudah pulang sekarang, kita juga harus segera pulang" Baekhyun menganggukkan kepalanya patuh.

Chanyeol mengalihkan pembicaraan mereka.

Baekhyun mengerjapkan beberapa kali matanya yang terasa berat. Tak dapat menahannya lagi, Baekhyun menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol dan tertidur dengan nyenyak.

Ini sangat sulit, Chanyeol.

Baekhyun merasakan tubuhnya bergerak saat seseorang menarik tubuhnya lembut keluar dari taksi. Namun matanya terlalu berat untuk dibuka. Ia dapat merasakan aroma Chanyeol ketika Chanyeol membawanya di punggung.

Baekhyun tersenyum kecil. Ia merasa lemas sekarang, bahkan untuk membuka kedua matanya saja sudah terasa berat.

Semakin lama perutnya semakin terasa sakit, dan dari dalam tubuhnya ia merasakan dorongan agar makanan dari dalam terdorong keluar. Kening Baekhyun terkerut, "Se… se…hun"

"—lovebirds"

"M… mu… tah" kening Baekhyun semakin berkerut, "Mu… tah"

Baekhyun dapat merasakan gerakan cepat dari Chanyeol. Ia mengeratkan pegangannya pada tubuh Chanyeol. Ia sedikit tersenyum dan kemudian senyum itu menghilang bersamaan dengan dorongan dari dalam yang semakin kuat.

"Sehun… mu… tah" gumam Baekhyun lagi.

"Sehun cepat!" panggil Chanyeol keras.

"Tunggu, Baekhyun, jangan muntahkan sekarang" ucap Sehun.

Baekhyun merasakan kantung plastik menutupi mulut Baekhyun, "Keluarkan sekarang, Baekhyun, pelan-pelan" Baekhyun dapat merasakan pula Sehun mengusap punggungnya. Dan akhirnya Baekhyun memuntahkan makanannya di dalam plastik.

Setelah itu Chanyeol menaruhnya di sofa. Bukan maksud Baekhyun untuk berpura-pura tidur, namun sungguh, matanya terasa berat untuk dibuka.

Baekhyun menyerah untuk membuka kedua matanya dan memilih untuk tidur. Mungkin itu yang diinginkan Tuhan untuknya, beristirahat.

.

.

.

Baekhyun terbangun pagi-pagi, ia berniat untuk memasakkan sebuah makanan yang diajarkan oleh Ibu Chanyeol beberapa tahun lalu. Donkkaseu, makanan favorit Chanyeol.

Ia berusaha mengingat-ingat apa saja yang Ibu suruh masukkan dan berapa takaran yang harus ia pakai.

Chanyeol belum bangun saat itu, dan Sehun masih tidur nyenyak di ranjang setelah Baekhyun menyuruh Sehun untuk tidur di ranjang selama Baekhyun memasak.

Baekhyun mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Ia menekan sebuah nama dan menaruh ponselnya di telinganya.

"Hallo? Ada apa, sayang?"

"Ah, Ibu. Maafkan aku mengganggu waktu Ibu"

"Tidak apa, Baekhyun. Nah, sekarang ada apa hingga kau menelfon Ibu, hn?"

"Erm, begini bu. Aku berada di Kanada dan akan melanjutkan perjalanan menuju California pagi ini. Jadi aku berpikir untuk memasakkan Chanyeol Donkkaseu seperti yang pernah ibu ajarkan padaku. Tapi aku tidak terlalu ingat bagaimana cara membuatnya"

"Ah, sarapan dengan Donkkaseu?"

"Aku tahu terdengar aneh, namun paling tidak sekali ini saja aku memasakkan sebuah makanan untuk Chanyeol. Paling tidak sekali saja dalam hidupku, Bu"

"Baiklah, ibu akan tuliskan melalui pesan, okay?"

"Terima kasih, Bu"

Baekhyun memutuskan panggilan dan menanti pesan dari Ibu Chanyeol. Ia tersenyum dan segera memasakkan Donkkaseu untuk sarapan mereka.

Tiba-tiba ia teringat pada sebuah janjinya pada Dokter Yang. Operasi.

"Baekhyun, jangan lupakan operasimu pada 27 November, okay?"

Ia segera mengusir pemikiran itu dan melanjutkan memasak Donkkaseu dengan penuh senyum. Setelah membuat tiga porsi Donkkaseu. Baekhyun sempatkan untuk mengambil dua carik kertas berbeda warna yang berada di kamarnya.

Sehun masih tertidur di ranjang itu, maka Baekhyun memilih untuk menuliskan surat itu di sofa. Baekhyun mengambil kertas berwarna merah dan menulisnya dengan sebuah senyuman.

.

Teruntuk, Yeol.

Chanyeol, aku takut. Aku takut aku akan kalah dari kanker ini. Hari ini aku akan melaksanakan operasiku yang kesekian. Apabila aku hidup, aku ingin melihatmu selamanya, Yeol. Hanya kau di hidupku, tapi aku tahu kau akan sibuk dengan segala perkantoranmu itu. Dan apabila nyatanya aku menyerah dan gagal untuk hidup, ketahuilah aku mencintaimu selalu. Maafkan aku karena sudah melepasmu.

Selamanya milikmu, Baek.

.

Setelah itu Baekhyun melipatnya rapih dan memasukkan ke dalam amplop. Kemudian ia beralih pada kertas biru dan masih menuliskan kata demi kata dengan senyuman. Kali ini senyuman nakal muncul dari bibirnya.

.

Teruntuk, Cintaku Baek.

Terima kasih sudah berjuang untukku, Baek. Aku tahu kau pasti dapat melewatinya. Aku yakin kau adalah pria tangguh. Aku ada di sini hanya untukmu selalu, Baek. Seperti janjiku padamu. Kau tahu betapa aku mengkhawatirkanmu bukan? Jangan pernah sakit lagi untukku, kumohon. Aku tak dapat hidup dengan baik jika kau terus sakit-sakitan. Aku mencintaimu, selalu. Kau tahu itu, Baek.

Selamanya milikmu, Yeol.

.

Ia terkekeh setelah membaca akhir kalimat, Selamanya milkmu, Yeol. Tentu Baekhyun akan senang jika kata-kata itu keluar dari bibir Chanyeol. Baekhyun mengecupnya sebentar dan kemudian memasukkan surat itu ke dalam amplop. "Oh Tuhan, aku tak akan bisa melepaskan pria ini lagi"

Setelah itu Chanyeol muncul dari kamarnya, dengan rambut sarang burung miliknya. "Oh, selamat pagi, Baek"

"Selamat pagi, Chanyeol. Aku buatkan sarapan kali ini, ku harap kau menyukainya"

"Sarapan? Apa?"

"Donkkaseu"

"Donkkaseu? Sungguh?" suara Chanyeol terdengar bersemangat. Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Untuk apa aku berbohong? Kita bisa sarapan bersama untuk terakhir kalinya"

"Call! Setuju! Apa Sehun sudah bangun?" Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu"

"Erm, jadi… setelah ini kau akan berkeliling dunia?"

Baekhyun menyunggingkan senyumnya masam, "Ya, pada akhirnya aku dapat berkeliling dunia"

Pada saat sarapan, Chanyeol tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf karena ia tidak dapat menemani Sehun dan Baekhyun ke bandara. Ia ada kelas ketika Sehun dan Baekhyun berangkat ke bandara.

"Apa kalian akan datang lagi?" tanya Chanyeol.

"Uhm, ya. Tapi mengapa kau tidak kau saja yang mengunjungi kami? Kau bisa mengunjungiku kapan saja. Hanya kunjungan biasa seperti kami mengunjungimu" tanya Baekhyun setelah memakan Donkkaseunya.

"Uhm, well, tentu. Saat aku menyelesaikan kuliahku di sini"

"Janji?" tanya Baekhyun.

Chanyeol terlihat ragu, "O-okay, janji"

"Taksi kalian sudah berada di bawah" ucap Chanyeol setelah ia menutup sambungan telfon.

"Okay, aku sudah selesai makan, akan ku bawa turun koperku dan milik Baekhyun" Sehun berjalan menuju koper mereka yang berada di dekat pintu. "Jangan terburu-buru, Baekhyun. Kau bisa tersedak" Baekhyun mengangguk dan kembali memakan Donkkaseunya.

Sehun pergi, menyisakan Chanyeol dan Baekhyun.

Chanyeol berdeham, "Donkkaseunya terasa enak, seperti buatan Ibuku"

Baekhyun tersenyum mendengarnya, "Well, memang Ibumu yang mengajariku memasak. Terlebih ia senang mengajariku memasak Donkkaseu. Kau suka?"

"Sangat!"

"Syukurlah"

"…"

"Hey" panggil Baekhyun.

"Hm?"

"Kau benar-benar berjanji akan mengunjungiku bukan?"

"Tentu, mengapa tidak?"

"Apa kau bisa kembali sebelum 27 November?"

"Akan ku usahakan, Baek"

"Kalau begitu aku memiliki sebuah permintaan untukmu" Baekhyun tersenyum dan mengeluarkan amplop dari saku celananya. "Ini, untukmu"

"Apa ini?" Chanyeol bertanya sembari memindai amplop di tangannya. "Bukan cek, tentu saja" kemudian mereka berdua tertawa kecil.

"Di dalam amplop itu terdapat 2 surat, kalau kau tidak sempat kembali saat 27 November, bukalah surat yang berwarna merah. Tapi jika kau kembali saat 27 November, kembalikan surat berwarna biru padaku, Okay?"

"Okay"

Baekhyun tersenyum sekali lagi, "Chanyeol"

"Hm?" Chanyeol menatap Baekhyun, tepat di matanya.

"Terima kasih"

"Tentu"

"Aku benar-benar berterima kasih"

"Untuk?"

"Semua"

"Baek?"

"Kau sudah menjagaku dengan baik"

"Semua sudah siap" ucap Sehun ketika ia memasuki rumah. "Kalau begitu ini waktunya untuk pergi" Baekhyun segera membawa piring kotor itu ke dapur. Ia mengusap wajahnya kasar untuk menghapus air matanya.

"Sampai jumpa, Chanyeol!"

"Hati-hati di jalan, Sehun" Chanyeol memeluk tubuh Sehun sebelum pria itu memasuki taksi. "Okay, sampai jumpa di Seoul, benar? Brother?"

"Okay okay, sampai jumpa di Seoul"

"Sampai jumpa, Chanyeol" Baekhyun tersenyum kecil dari dalam mobil. "Aku berharap kita dapat bertemu lagi"

"Tentu, kita akan bertemu lagi" Baekhyun tersenyum sekali lagi.

"Dah, Yeol"

Akhirnya taksi itu pergi.

Tangan Sehun menggenggam erat tangan Baekhyun ketika tubuh Baekhyun bergetar, pria itu menangis. Ia bersedih harus meninggalkan Chanyeol, lagi. Maka yang ia harapkan hanyalah kehadiran Chanyeol setelah ia menjalani operasi.

"Kau kuat, Baekhyun. Kau bisa"

Kata-kata penyemangat dari Sehun tidak membantunya sedikit pun. Baekhyun mulai jarang tersenyum dan itu membuat Sehun gusar.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Note :

Aku berterima kasih pada kalian yang masih mengikuti cerita ini, semoga kalian 'terhibur' meskipun cerita ini memiliki ending yang sedih.

xoxo,