.
.
"The man with his desire"
.
.
.
.
Baekhyun berdiri di depan pintu apartemen Chanyeol.
Entah bagaimana ceritanya Baekhyun bisa sampai disini, karena niat awal Baekhyun adalah mengunjungi Kyungsoo karena kebetulan akhir pekan ini orangtuanya sedang pergi, dan Baekhyun yang sedang bosan memilih untuk menemani Kyungsoo, namun entahlah, kakinya seperti memiliki keinginan sendiri, sesaat setelah taksi yang dikendarai mulai berjalan, justru alamat Chanyeol-lah yang Baekhyun sebutkan.
Layar ponsel menunjukkan waktu jam sembilan malam. Bertamu di jam seperti ini bisa dikategorikan mengganggu memang, mungkin saja Chanyeol sedang beristirahat di dalam, dengan berselimut hangat dan didukung dengan suhu yang dingin karena di luar sedang hujan, namun entah dari kapan Baekhyun memiliki ego yang lebih tinggi dari pikiran logisnya, ia hanya ingin melihat wajah lelaki tinggi itu, hanya bercakap sebentar saja cukup, karena hampir seminggu ini ia sama sekali tak bertukar sapa dengan Chanyeol, bahkan lewat chat sekalipun.
Baekhyun mengirim pesan pada Chanyeol Aku di depan apartemenmu kemudian menunggu. Jika Chanyeol ternyata sudah tidur dia tinggal menelepon taksi saja lagi kemudian pulang. Baekhyun menghitung dalam hati, sambil menatap layar ponsel, kalau di menit kedua Chanyeol tak membuka pintu ia memutuskan pergi Satu… Dua….Dan pintu di hadapannya terbuka.
Baekhyun bisa menebak Chanyeol pasti baru selesai mandi, Baekhyun bisa lihat rambut yang basah dan aroma shampo yang menyeruak, dan… Melihat dada lelaki tinggi itu naik turun, dan nafas yang memburu, Apakah Chanyeol berlari menuju pintunya?
"Baekhyunee?" Chanyeol membuka pintunya sedikit lebih lebar, sehingga Baekhyun bisa melihat dengan jelas Chanyeol yang saat itu menggunakan kaus hitam dan celana pendek abu-abu. "Wow, aku baru saja akan mengirimkan pesan selamat tidur padamu dan tiba-tiba saja kau muncul disini." senyum Chanyeol merekah.
"Maaf mengganggumu malam-malam begini…"
"Tidak-tidak…. Tentu saja kau tidak mengganggu, ayo, masuklah…" Chanyeol merespon cepat, ia memimpin langkah memasuki apartemen, diikuti Baekhyun.
"Mau minum apa?" Chanyeol menanyai, sedangkan Baekhyun nampaknya sedari tadi masih belum sadar bahwa dirinya hanya mengekor si lelaki tinggi yang kini hanya bisa tertegun.
"Mau minum apa?" Chanyeol mengulangi, terkekeh karena Baekhyun nampaknya baru sadar dari lamunannya. Chanyeol kemudian membuka lemari pendingin, mengambil minuman rasa strawberry di antara jenis minuman yang tertata rapi. "Oh, apa kau mau minuman hangat?" tanyanya seakan baru mengingat bahwa suhu malam ini sedikit dingin.
"Tidak usah repot-repot, aku minum ini saja." Baekhyun berujar, menatap minuman di tangannya sembari berjalan menuju ruang tamu, mengikuti Chanyeol yang sudah terduduk di sofa. "Maaf mengganggumu malam-malam begini… Aku hanya ingin minta maaf… Karena membuatmu seakan melakukan kesalahan… Kemarin, aku mengacuhkan semua pesan, juga teleponmu, maafkan aku."
Chanyeol terkekeh. "Kau jauh-jauh datang kemari hanya mau mengatakan itu?"
"Aneh yah?"
"Yah… Aneh memang." Chanyeol bercanda, kemudian tersenyum.
"Tapi serius, aku rasa aku tak akan bisa tidur sampai aku bisa melihatmu, meminta maaf dengan benar karena terakhir kali kau ke rumahku aku bahkan tak mengatakan apapun- "
"Kau bahkan sekarang tak melihatku."
Baekhyun mendongak, ditatapnya dua bola mata yang memandangnya lembut.
Chanyeol tersenyum, menatap ke arah lain karena Baekhyun terlihat begitu tegang dan tak nyaman. "Kau tidak salah apa-apa, kalaupun ada yang salah itu pasti aku…" lelaki jangkung itu menggaruk tengkuknya sendiri.
"Iya, kau memang salah." Baekhyun mendengus, kemudian tersenyum saat tubuh Chanyeol mematung mendengar pernyataannya. "Kau terlalu baik…" Baekhyun terkekeh untuk menyembunyikan kenyataan dibalik kata-katanya. Chanyeol memang selalu baik, selalu keren, selalu sempurna hingga bisa mencuri apapun dari Baekhyun. Pertama perhatian, kemudian senyum, tawa Baekhyun, hingga nafas dan detak jantung, seperti sekarang ini, Chanyeol yang hanya tersenyum saja berhasil mencuri hatinya.
Chanyeol tertawa tanpa suara, berusaha mencairkan suasana saat tiba-tiba sesuatu melesat dan menabrak sofa. "Jay!" Chanyeol setengah berteriak.
Ternyata itu adalah seekor anjing, berlarian kemudian berputar-putar di sekitar kaki Chanyeol, Chanyeol sedikit menaikkan kaki, mengusir dengan mengibaskan tangan. "Ini Jay, kakak perempuanku menitipkannya sementara disini, uhh, aku alergi hewan berbulu sebenarnya… Hya! Jay! Bagaimana kau bisa keluar dari kandangmu huh!"
Baekhyun belum bisa membaca situasi, yang bisa ia lihat Chanyeol kemudian berlari mengejar anjing jenis Beagle yang dengan gesit melesat kesana kemari, Baekhyun hendak membantu, mulai bangkit berdiri ketika anjing coklat itu berlari ke arahnya dan menabraknya, Baekhyun sontak terkejut, minuman yang masih ia pegang sedari tadi terlempar, isinya tumpah membasahi pakaiannya.
"Ma-maaf Baekhyun—Oh.. Yah!" Chanyeol melompat, membuat gerakan seakan menerkam, anjing hiperaktif itu masih belum mau menyerah, menghindari terkaman majikannya, kemudian berlari sekencang mungkin menuju ruangan lain.
Baekhyun hanya bisa mendengar suara berlarian di ruang lain, kemudian suara barang yang tertabrak, jatuh, membuat Baekhyun sedikit khawatir, ia ikut menyusul pada akhirnya, berjalan takut-takut menuju ruang dimana Chanyeol terdengar masih sibuk mengejar anjingnya.
Ini pertama kalinya Baekhyun memasuki kamar Chanyeol, suasananya persis seperti ruang lain, simpel dan tak banyak warna, ruangan itu luas, dengan satu ranjang bersprei abu-abu, satu meja belajar, satu lemari, TV LCD terletak di dinding berhadapan dengan ranjang, suasananya nyaman, aromanya…
"Jay! Sini kau anak nakal! Hya!" suara Chanyeol menggema dari ruang sebelah, sepertinya kamar mandi, dan Baekhyun baru sadar suara air terdengar dari sana, kemudian pintu yang tertutup dengan suara keras, Baekhyun berjalan dengan hati-hati, sampai suara Chanyeol yeng mengomel mereda, dan pintu kamar mandi kembali terbuka.
Chanyeol terlihat basah kuyup, dengan Jay yang nampak tak bisa bergerak karena Chanyeol menahan tubuhnya dengan menjepit di bawah ketiak dan kakinya ditahan dengan kedua tangan.
Baekhyun terkikik menahan tawa.
"Jay tak pernah seliar ini sebelumnya, apa mungkin karena dia pertama kalinya melihat apartemen ini...?" Chanyeol menrka-nerka, kemudian memamerkan senyum lebarnya, dan Baekhyun sebenarnya tak begitu memikirkan soal itu karena yang lebih ia pikirkan adalah Chanyeol dan pakaiannya yang cukup basah.
"Kau ada handuk?"
"Oh, ada… Oh, iyah, maaf, Jay membuat bajumu basah? Sebentar, kuurus dia dulu…"
"Iya… Dan… Kau juga perlu handuk…" Baekhyun berusaha menjelaskan, namun Chanyeol sudah melesat pergi.
.
.
"Kau tak apa-apa? Maaf maaf… Yah, Jay memang benar-benar pembuat onar… Kau mau ganti?" Chanyeol bertanya, mengulurkan handuk sebelum melepas bajunya sendiri yang basah, dan Baekhyun seharusnya tak terlalu menaruh perhatiannya pada si jangkung yang kini dengan santainya melepas pakaiannya, hanya menyisakan celana pendek.
"Tidak apa-apa, santai saja…" Baekhyun menjawab, menerima dan mengusapkan handuk pada bagian bajunya yang basah, meskipun itu terlihat sangat tidak membantu.
Meminjam pakaian Chanyeol bukanlah ide bagus, Baekhyun membatin, setelah mengetahui kenyataan pahit baru-baru ini, Baekhyun berniat hanya akan meminta maaf pada lelaki tinggi itu, menjalin pertemanan seperti sedia kala, kalau bisa justru ia ingin sedikit demi sedikit tak lagi terlalu menyukai Chanyeol, itupun kalau bisa, maka dari itu Baekhyun berusaha menjaga jarak, namun entahlah kenapa takdir selalu tak berpihak padanya, Baekhyun memutuskan untuk melanjutkan mengeringkan pakaiannya pada akhirnya.
"Bajumu basah sekali, sini, kukeringkan di dekat pemanas ruangan saja bagaimana? Pengeringku sedang rusak…"
Baekhyun merasa wajahnya berubah menjadi pucat pasi, yah, ini berarti ia harus melepas pakaian juga, entah apa yang Baekhyun pikirkan di otaknya, yang jelas itu bukanlah hal bagus. Namun tak mungkin jika ia terus mengenakan pakaian basah, kulitnya mulai terasa lengket, bau strawberry menyeruak dan itu membuatnya tak nyaman.
Tak ada pilihan lain, Baekhyun melepas baju pada akhirnya, memberikan pada Chanyeol yang nampak santai dan seperti tak terganggu sama sekali.
Mereka mengeringkan badan masing-masing dalam diam, Chanyeol berdiri di depan cermin, menyalakan hair dryer karena rambutnya turut basah karena di kamar mandi tadi Jay melompat dan berhasil memutar shower yang membuat seisi kamar mandi basah, termasuk Chanyeol yang tepat berdiri di bath tub. Chanyeol dengan postur dan posisinya di depan cermin yang sedikit memiringkan kepala, terlihat sangat seksi, membuat Baekhyun yang masih terduduk di sisi ranjang sesekali mencuri pandang, meskipun ia berusaha keras menyembunyikannya, mencoba nampak normal sembari mengusap-usap dada polosnya dengan handuk.
"Seharusnya bajumu sudah kering…" Chanyeol memecah keheningan, membuat Baekhyun menoleh, dan memperhatikan pemanas ruangan yang terletak di ujung ruangan.
"Ah, iya…" Baekhyun sesegera mungkin berdiri, berjalan menuju pakaiannya yang tergantung di atas pemanas ruangan yang terletak cukup tinggi, ia sudah berjinjit namun tangannya belum bisa menggapai.
"Butuh bantuan?" entah dari kapan Chanyeol sudah berdiri saja di balik tubuhnya.
Badannya seakan terintimidasi dengan tubuh tinggi Chanyeol yang seakan membungkus figur-nya yang lebih kecil, Baekhyun berusaha mengatur nafas saat aroma Chanyeol begitu kuat menyapa indra penciumannya, belum lagi deru nafas Chanyeol yang bisa ia dengar dengan baik, tak seirama dengan detak jantungnya yang sudah tak terkontrol, Chanyeol menarik nafas dan mengeluarkan dengan ritme santai, tangannya yang panjang meraih ke atas, membuat pergerakan, membuat Baekhyun semakin tak bisa mengendalikan kupu-kupu yang seakan beterbangan memenuhi perut hingga paru-parunya. "Seharusnya sekarang sudah kering, tapi apa aku salah menaruh? Rasanya bagian sini masih agak basah…" Baekhyun tak bisa mendengar secara jelas apapun yang dikatakan lelaki tinggi di belakangnya, bagian tubuh belakangnya terlampau dekat dengan Chanyeol, dan demi apapun meskipun dengan ketebalan jeans yang ia kenakan ia bisa merasakan seberapa besar kejantanan Chanyeol yang tertekan di bagian pinggang bawahnya. "Kalau kutaruh sedikit menggantung disini tak apa-apa?" Suara bass Chanyeol menggema di rongga telinga kanannya, dan dagunya menekan bahu Baekhyun perlahan, dan kulit yang saling bersentuhan… "Baek?" Chanyeol menanyai, memiringkan kepala, bibir mereka rasanya terpaut jarak kurang dari satu centi...
Dan entah atas naluri darimana Baekhyun justru menghilangkan jarak tersebut.
Bibir keduanya tak sekedar bersentuhan, Baekhyun menekan, menghisap, lelaki yang lebih pendek tersebut tak tahu apakah pikirannya yang mengontrol ataukah badannya bergerak sesuai kemauan sendiri, Baekhyun mendengar Chanyeol mengerang, suara kain yang jatuh, dan... tubuhnya tiba-tiba terdorong hingga mendarat di ranjang empuk? Sejak kapan Chanyeol mendorongnya? Sejak kapan Chanyeol merengkuh tubuhnya? Membawanya ke tengah ranjang dan menindihnya?
Baekhyun menarik nafas, memisahkan tautan bibir yang sedari tadi belum terlepas, dipandangnya wajah Chanyeol yang juga memandangnya sayu, mata jernihnya berkilau, bibirnya memerah dan Baekhyun baru menyadari dialah pelaku dari semua kekacauan ini, ia segera mengontrol otaknya, badannya bergerak bangkit. "Baekhyun..." namun tangan kekar Chanyeol menahannya.
Seharusnya Baekhyun berontak, seharusnya ia mengelak, seharusnya ia tak menatap saat Chanyeol menatap lurus matanya, namun Baekhyun justru terdiam, merasakan Chanyeol perlahan menurunkan tubuh, menindihnya dengan badan jangkungnya yang lebih besar, hembusan nafas Chanyeol terasa hangat di kulit wajahnya, kemudian bibir yang mengusap lembut seluruh bagian lehernya.
Baekhyun menutup mata, rasanya hangat... hangat sekali.
"Baek? Haruskah aku berhenti?" Demi apapun, suara bass menggetarkan dadanya, entah dari kapan lelaki tinggi itu telah sampai disana, di dada polos Baekhyun, menghujani dengan kecupan, membuat Baekhyun menggelinjang, membuat celana jeans nya semakin terasa ketat, Chanyeol seakan tahu itu, tangannya menelisik, mengusap ikat yang melingkar di pinggang Barekhyun.
Baekhyun menggeleng, iapun tak mengerti ia hendak menggeleng untuk jawaban dari pertanyaan Chanyeol, atau menggeleng agar Chanyeol menghentikan kegiatannya, dan itu membuat Chanyeol terdiam, yang tinggi kini tak lagi bergerak, hanya menunggu, dengan deru nafas dan dada naik turun, Baekhyun meraih leher Chanyeol, menariknya dalam pelukan dan melumat bibirnya kasar.
Mereka berguling, seakan saling menyerang, Baekhyun tak mau mengalah, saat lidah Chanyeol memaksa masuk memenuhi tenggorokannya ia meremas erat rambut belakang Chanyeol, menarik kepalanya, hanya untuk kemudian menggigit leher si lelaki jangkung, membuatnya mengerang lagi, hingga belum selesai Baekhyun melampisakan nafsunya, keadaan terbalik kembali, Chanyeol menahan tubuhnya, menghisap lehernya, 'ahhhh...' hingga Baekhyun tak sengaja mendesah keras.
Keduanya sudah tak lagi bisa menahan, demi apapun semuanya tahu itu, dan Chanyeol tak membuang waktu saat Baekhyun menahan tubuhnya dengan melilitkan kedua kaki di pinggangnya.
"Biar.. kulepaskan..." Chanyeol berujar, sembari melepaskan celana yang pastinya menyiksa Baekhyun, ia tahu karena semenjak mereka jatuh ke ranjang ia bisa merasakan Baekhyun juga sudah menegang sama seperti dirinya.
"Ah..." Baekhyun meloloskan desahan lagi, Jiwanya seperti terbang, penisnya diremas, Chanyeol mengocok dan memanjakannya, memberi sedikit pijatan yang membuat Baekhyun melengkungkan punggung, darahnya seperti Berdesir sampai Ubun-ubun, belum lagi saat Chanyeol menuju ke bawah dan mengulum miliknya yang sudah basah, Baekhyun rasa sekujur tubuhnya bergetar hebat.
Chanyeol memainkan tubuhnya dengan lihai, seperti sudah ratusan kali melakukannya, apa, memang benar begitu? Baekhyun berusaha berpikir namun gagal lagi saat sebuah jari menerobos masuk lubangnya, perlahan dan lembut, "Chan-" tak bisa menahan tubuhnya, Baekhyun mencengkeram kepala yang kini tengah sibuk di bagian bawah perutnya.
"Kau takut?" Entah dari kapan wajah Chanyeol sudah sejajar dengan wajahnya, lelaki tinggi itu kini menekuk kedua lengan di sisi kanan kiri kepala Baekhyun, sesekali mengecup bibir Baekhyun yang masih terbuka.
"Um..." Baekhyun kesulitan mengatur nafas, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, ah tidak, tiga, empat, Baekhyun tak bisa menghitung lagi saat Chanyeol kembali mencium bibirnya, menghisap, dan dari pergerakan yang Chanyeol buat Baekhyun yakin giant itu kini tengah melepas pakaian terakhir yang menempel di tubuhnya.
"Kau ingin menghentikan ini?" Chanyeol berbisik, "tapi kuharap kau tidak.." Chanyeol langsung melanjutkan.
Bibir Baekhyun yang hampir membentuk senyum kembali dilumat, kini lebih lembut, namun penuh tekanan dan nafsu, Baekhyun memejamkan mata menikmati apa yang Chanyeol berikan saat tiba-tiba sentuhan hangat itu menghilang, Baekhyun melihat Chanyeol menuju tepi ranjang, mengambil sesuatu dari meja dekat ranjang,
Pelumas.
Tubuh Baekhyun menegang, membayangkan apa yang akan Chanyeol lakukan, ini pertama kalinya untuk Baekhyun dan menurutnya ini pasti sakit. Baekhyun memandang takut saat Chanyeol kembali merangkak ke atas tubuhnya, satu tangannya mengocok penisnya sendiri, satu lagi mengusap lembut rambut Baekhyun, memainkan dan bahkan menyisipkannya di belakang telinga kanan Baekhyun yang dingin.
"Rileks lah..." Chanyeol berkata, lembut.
Pergerakan mereka saling bersinkronasi, Baekhyun yang dengan otomatis membuka kedua kaki saat Chanyeol mengambil posisi di atasnya, yang kecil kemudian mengalungkan kedua tangan di leher Chanyeol, kedua mata mereka bertemu saat Chanyeol perlahan bergerak turun, memaksakan penis tegangnya memasuki lubang ketat Baekhyun, mendorong perlahan, memastikan Baekhyun telah merilekskan otot sebelum melesakkan kejantanannya lebih dalam, Chanyeol mencium bibir Baekhyun lembut, berusaha mengurangi rasa sakit yang ia mungkin rasakan.
Butuh waktu beberapa menit untuk Baekhyun bisa beradaptasi, untuk menerima sebesar apa ukuran lelaki yang kini telah berhasil memasukkan penisnya Secara sempurna ke dalam lubangnya, Baekhyun bernafas berat, dan dalam hati ia bersyukur karena Chanyeol begitu sabar, begitu lembut, begitu luar biasa memperlakukannya hingga Baekhyun merasa bersalah melihat Chanyeol yang tentunya sudah tak sabar untuk bergerak "Bergeraklah..." Baekhyun setengah memohon.
Pergerakan mereka pelan pada awalnya, Chanyeol menggerakkan pinggulnya, maju mundur yang tak secepat yang Baekhyun kira, Baekhyun yakin itu karena Chanyeol yang memikirkannya lebih dari apapun. "cepat... uhh... ahh... Chan-" Baekhyun merintih.
Suara penyatuan tubuh keduanya semakin terdengar keras memenuhi ruangan, diikuti suara derit ranjang, Baekhyun yang sekian lama melilitkan kaki tak lagi bisa menahan, kakinya gontai, dan Chanyeol tak lagi bisa mengendalikan pinggulnya yang kian meliar, Seharusnya ini menyakitkan, melelahkan, namun Baekhyun tak merasakan itu, yang bisa ia rasakan hanya kenikmatan, rasa sakitnya sepenuhnya menghilang, ia hanya ingin lagi, terjangan Chanyeol selalu tepat mengenai titik prostat terdalamnya, membuat Baekhyun ketagihan, membuatnya seperti melihat bintang-bintang.
Entah sudah berapa lama keduanya saling bertukar kenikmatan, peluh kian memenuhi wajah dan dahi keduanya, hingga rambut dan tengkuk, sekujur tubuh, namun tak ada satupun yang ingin berhenti. Baekhyun masih dengan setia melilitkan kedua tangan dan kaki, seakan nyawa dan jiwanya bergantung pada lelaki yang kini masih menerjang menyalurkan nafsu birahinya kepada Baekhyun, satu kecupan mendarat di kening Baekhyun, membuat Baekhyun sadar bahwa lelaki di atasnya memandangnya intens, seperti penuh cinta, seperti ia memandang dunianya, Baekhyun bersemu merah, jantungnya seakan terhenti, dan penisnya berkedut tak tertahankan.
Baekhyun mencapai klimaksanya.
Nafas Chanyeol semakin memburu, Baekhyun klimaks dan membuat ototnya semakin meremas erat penis Chanyeol yang sedari tadi masih keluar masuk, yang tinggi mengerang, merasakan darahnya seperti meluap, tepat menuju ujung kejantanan yang kini sudah siap menyemburkan jutaan sperma.
Dan tepat saat Baekhyun menarik tengkuk Chanyeol untuk mencium bibirnya, Chanyeol akhirnya mencapai klimaksanya.
"Luar biasa... sayang..." entah Chanyeol sedang bermimpi, atau sedang berada di alam setengah sadarnya, ia mengusap pipi basah Baekhyun. "Terimakasih..." ujarnya sebelum ia memejamkan mata dan terbawa ke alam mimpi.
Baekhyun memandang wajah Chanyeol yang tertidur,
jantung Baekhyun seakan berhenti berdetak.
.
.
.
Baekhyun turun dari taksi tepat di depan gerbang rumah Kyungsoo, ia tak peduli meskipun langit masih menurunkan rintik hujan, ia lihat layar ponsel saat mengirim pesan pada sahabatnya itu, ia menunggu, melihat Kyungsoo setengah berlari menuju gerbang dan membukanya.
"Ada apa lagi, Baek? Kau tidak lihat ini sudah jam 12-"
"Chanyeol tahu banyak tentangku." Baekhyun memotong, kepulan uap dingin keluar dari mulutnya. "Dia tahu saat aku sedang marah,sedang senang, sedang tak nyaman, gugup, dia tahu semuanya." Baekhyun menarik nafas, membaca reaksi Kyungsoo. "Dia tahu aku suka minuman rasa strawberry, bukan cokelat, bukan pisang, banyak macam minuman dengan rasa-rasa tapi dia memilihkan strawberry, dan aku yakin aku tak pernah memberitahu sebelumnya." Baekhyun sadar kini pipinya yang basah tak lagi hanya karena hujan. "Dia tahu bagaimana menciumku, bagaimana menghilangkan gugup ku, bagaimana bercinta denganku-"
"T-tunggu? Apa maksudmu?"
"Kyungsoo-yah, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Ada kan?"
"Baek, apa maksudmu? Dan .. dari mana kau ini sebenarnya? Kau dari apartemen Chanyeol? Apa yang kalian lakukan?"
"Siapa Chanyeol sebenarnya? Siapa dia?" Baekhyun setengah berteriak, kepalanya berdenyut sakit.
"Apa maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku berpikir, mungkin memang dia sering melakukannya, dia tahu bagaimana cara memuaskan pasangannya, tapi demi apapun Kyungsoo-yah, aku tahu benar tubuhnya, tubuhku tahu, aku tahu dia akan klimaks, tubuhku tahu bagaimana agar dia mengerang puas, tubuhku tahu itu, tubuhku bergerak sendiri dan aku tak mengerti ini, aku baru sadar saat aku melihat wajah tidurnya...kenapa Tubuhku tahu?"
"Baek, kau kedinginan, kau gemetar... masuklah dulu..." Kyungsoo meraih tangan Baekhyun, namun sahabatnya itu menampiknya.
"Ini bukan kali pertama aku melakukan dengannya kan? Kyungsoo-yah, katakan padaku... katakan..."
"Baek..."
"Kyungsoo-yah..." suara Baekhyun kian bergetar. "Aku tak ingat apapun tolong katakan padaku sebenarnya ada apa... Aku bisa saja diam disana, melihat wajah tidurnya selama berjam-jam dan berpikir, tapi aku tak bisa mengingat apapun, semuanya seperti tak asing, wajahnya,kamarnya, aromanya, semuanya, tapi aku tak tahu apa yang tak asing... Kyungsoo-yah, apa aku membentur kepalaku lalu aku gegar otak? Kyungsoo katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padaku.. aku bingung Kyungsoo-yah... Sebenarnya aku ini kenapa?"
"Baek, kita harus masuk dulu..." Kyungsoo mengusap wajahnya frustrasi, saat Baekhyun lagi-lagi menampik tangannya.
"Tidak! Katakan padaku sebenarnya ada apa-"
"Iya akan kukatakan tapi masuklah dulu, kau kedinginan, ini hujan, Baekhyun..."
"Katakan sekarang!"
Kyungsoo termangu, ia memejamkan mata sesaat sebelum memaksa meraih tangan dingin sahabatnya. "Baek... ibumu melarangku untuk mengatakan padamu.. ibumu melarang kita semua untuk memberitahumu tentang kecelakaan dan semua yang sudah hilang dari memorimu..."
"K-kecelakaan apa yang kau maksud? Dan... memang apa yang hilang dari memoriku?"
"Kau jatuh Baek... dan kau sempat melupakan semuanya... yang paling berharga dalam hidupmu... dan juga..
Park Chanyeol...
.
.
Kekasihmu..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Omg nyapa dulu yang baru kelihatan di reviews: restikadena90, rhmdhnhfzh, yunjavers (omg yunjaeee . I love em too!), rahmaindirawati (omg makasih King review nyaaa ), baoozislz, rmxffxo, incandescence7
thx all baik yg uda lama review, baru review, uda hampir mau review (?)
semoga terus semangat bacanya dan review ya yak hhe
actually ini cerita masih berlanjut ngga berhenti karena SPP uda kasi tau Baek ajasii
hhee
terus ikutin yaaa
gumawoooo^^
