You've Got Me From Hello
Remake by Santhy Agatha's Novel
with the same title
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
Previous Chap:
Siang itu Luhan sedang berjalan ke minimarket di ujung jalan dari apartemennya ketika dia melihat Sehan di dalam minimarket yang ia tuju. Lelaki itu sedang membeli rokok, dan langsung menoleh ketika pintu terbuka lalu tersenyum lebar ketika melihat Luhan.
"Hai kita bertemu lagi."
Luhan tersenyum menatap wajah yang sama persis dengan Sehun namun dalam versi yang berbeda ini.
"Halo Sehan, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku membeli rokok." Sehan tergelak.
Luhan melirik ke arah cafe di ujung jalan, bukankah di sana juga ada rokok? Kenapa Sehan malahan berkeliaran di tempat ini?
"Kau mau membeli apa?"
"Hanya beberapa bahan makanan." Luhan mengangguk sambil tersenyum lalu melangkah menuju rak-rak tempat penjualan mie instant.
Dia mengira Sehan akan pergi dari supermarket itu setelah mendapatkan rokoknya, tetapi rupanya tidak, lelaki itu mengikutinya.
"Setelah ini, maukah kau jalan denganku? Kita bisa duduk, minum bersama, dan mengobrol."
Luhan mengernyit, Sehan tidak sedang berusaha mendekatinya bukan? Karena Luhan sama sekali tidak melihat ada hal yang lebih dari pertemanan di mata Sehan.
"Kita bisa berbicara di cafe." Gumam Luhan akhirnya, memilih tempat yang paling aman.
"Jangan di cafe." Sehan langsung menyela. "Sehun akan membunuhku."
"Apa?"
Sehan mengangkat bahunya. "Kalau kau belum sadar, Sehun kan sudah mengincarmu untuk menjadi miliknya, dan kalau sampai dia tahu aku mendekatimu, dia akan membunuhku."
Namun setelah itu Sehan tergelak. "Meskipun rasanya pasti menyenangkan untuk membuat Sehun jengkel dan memancing kemarahannya keluar."
"Apa?"
Luhan menatap Sehan dengan bingung, ada apa di antara dua saudara ini? Kenapa mereka tampak tidak akur?
"Aku tahu Sehun sedang mengejarmu, dan biasanya kalau dia mengejar seseorang dia akan melakukannya dengan kekuatan penuh. Dan aku tertarik kepadamu karena tidak pernah sebelumnya Sehun bertindak begitu intens pada seorang perempuan." Sehan mengedipkan matanya menggoda.
"Kau pasti perempuan yang istimewa, jadi maukah kau melewatkan sedikit waktumu untuk makan siang denganku, dan mungkin kita bisa berbagi cerita. Aku ingin lebih mengenal calon kakak iparku dan kau mungkin bisa tahu kisah-kisah tentang Sehun yang hanya kami yang tahu, seperti kisah masa kecil kami misalnya."
Chapter 7
"Luhan merenung, rasanya tidak ada ruginya kalau dia menerima ajakan makan siang Sehan, meski tampaknya selalu bersikap sesukanya, Sehan tampak baik hati. Lagipula dari siapa lagi dia bisa lebih mengenal Sehun kalau bukan dari orang terdekatnya, saudara kembarnya?
Tempat yang dipilih Sehan adalah rumah makan sederhana di belokan perempatan, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari apartemen Luhan. Kompleks apartemennya adalah kompleks perkantoran yang menjadi satu dengan kompleks perbelanjaan, karena itulah suasana cukup ramai di waktu makan siang itu.
Luhan memesan kue-kue kecil yang tampak menarik berada di etalase ditemani oleh lemon squash yang menyegarkan. Sementara Sehan memesan seporsi besar nasi goreng dan langsung menyantapnya dengan lahap.
"Aku lapar." Sehan tertawa melihat senyum geli Luhan ketika melihatnya makan dengan begitu lahap.
"Kau bisa makan di Garden Cafe, bukankah itu milikmu juga?"
Dari cerita Sehun dulu, dia mengatakan bahwa Garden Cafe adalah warisan dari orangtua mereka beserta perusahaan lain-lain. Jadi Luhan menyimpulkan bahwa perusahaan itu pasti dimiliki Sehun dan Sehan bersama.
Luhan entah kenapa merasa bisa mudah akrab dengan Sehan. Tidak seperti Sehun yang lembut, tenang dan menyimpan aura misterius di dalam dirinya, Sehan lebih ceria, mudah tertawa dan menguarkan aura yang cerah. Sama seperti ketika bersama Sehun, beberapa perempuan banyak yang tidak mampu menahan diri untuk menoleh dua kali sambil mengagumi ketampanan Sehan.
"Garden Cafe bukan milikku." Sehan menelan suapan terakhirnya dan meneguk sodanya dengan bahagia. "Semuanya
sudah menjadi milik Sehun."
"Bagaimana bisa?"
Sehan tertawa.
"Ayah kami mewariskan semuanya kepada kami berdua, tetapi tentu saja aku tidak mau melanjutkan usaha ayah kami sebagai bisnisman. Aku tidak mau leherku tercekik dasi dan badanku gatal karena kepanasan seharian harus memakai jas yang kaku itu. Karena itulah, begitu Sehun memutuskan untuk mengambil alih tanggung jawab, aku meminta pencairan seluruh bagianku di warisan ayah dan melepaskan seluruh kepemilikanku di semua perusahaan ayah."
Sehan mengangkat bahu. "Jadi Sehun membantuku, mengambil alih seluruh perusahaan atas namanya dan mencairkan uangku dalam bentuk dana di bank. Untuk selanjutnya seluruh perusahaan itu tidak ada urusannya lagi denganku, termasuk cafe itu."
Termasuk cafe itu? Luhan merenung.
Sehun mengatakan bahwa warisan utama ayah mereka adalah cafe itu dan beberapa hal lain. Tapi dari nada bicara Sehan, seperti juga yang dikatakan Albert, sepertinya ada sesuatu yang lebih besar di sini entah apa.
"Kau tidak tahu ya?" Sehan dengan cepat membaca ekspresi Luhan.
"Apakah Sehun mengatakan bahwa warisan orang tua kami hanya cafe itu?"
Luhan mengangguk menatap Sehan bingung ketika lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
"Oh Astaga! Dasar Sehun, mungkin dia takut kau lari terbirit-birit ketakutan ketika tahu bahwa dia sangat kaya dan berkuasa. Luhan, perlu kau tahu, Garden Cafe itu hanyalah setitik kecil dari warisan ayah kami. Di luar itu, Sehun memimpin jaringan besar bisnis kuliner dan perhotelan serta resor-resor mewah di semua lokasi strategis yang tersebar hampir di seluruh negara ini."
Sehan mengangkat bahu.
"Dari warisan yang dicairkan Sehun dalam bentuk uang untukku, sebagai ganti penyerahan hak kepemilikan perusahaan saja aku sudah bisa hidup mewah seumur hidupku tanpa harus memikirkan bekerja." Senyumnya melebar.
"Bayangkan apa yang dimiliki Sehun, sejak memegang perusahaan itu, dia telah mengembangkannya dengan kejeniusannya dan nilai seluruh perusahaan itu sudah menjadi berkali-kali lipat."
Luhan ternganga, dia sama sekali tidak menyangka informasi ini.
Sehun...
Sehun yang dikenalnya itu ternyata adalah seorang miliarder kaya?
Tiba-tiba Luhan merasa gugup. Selama ini dia mau menjalin hubungan dengan Sehun karena mereka sama. Sama-sama orang biasa, yang menjalani hidup dengan biasa pula. Tetapi Luhan tidak pernah menyangka kalau Sehun adalah bisnisman jenius dengan kehidupan yang kompleks dan kekayaan yang terdengar menakutkan.
Luhan masih mengernyit, menyisakan satu pertanyaan di benaknya.
Kenapa Sehun seolah menutupi keadaannya? Apakah dia takut bahwa Luhan adalah perempuan gila harta? Yang hanya ingin mengincar hartanya?
"Mungkin kau lihat hubunganku dengan Sehun tidak begitu baik." Sehan bergumam lagi, tidak menyadari pikiran
kalut yang berkecamuk di benak Luhan.
"Kami sebenarnya saling menyayangi, hanya saja kadangkala aku merasa bahwa Sehun menyimpan kemarahan kepadaku."
"Kemarahan?"
"Ya. Dia baik kepadaku, selalu ada setiap aku membutuhkan selayaknya seorang kakak. Tetapi ada kalanya aku merasakan dia marah kepadaku, tetapi menyimpannya dalam-dalam."
"Kenapa Sehun menyimpan kemarahan kepadamu?"
"Karena aku menolak tanggung jawab atas perusahaan itu dengan egois." Sehan tersenyum malu. "Mau bagaimana lagi, perusahaan itu bukanlah impianku, aku seorang seniman, aku memiliki hasrat yang mendalam sebagai pelukis. Jadi aku mengusulkan kepada Sehun supaya menjual saja seluruh perusahaan kami dan kemudian mengambil mimpi kami masing-masing."
"Sehun menolaknya." Gumam Luhan.
"Ya tentu saja Sehun menolaknya, kakakku itu terlalu senang memikul tanggung jawab. Dia saat itu bersekolah untuk menjadi koki profesional sesuai impiannya, dan dengan bodohnya dia meninggalkannya, demi memikul tanggung jawab di perusahaan itu. Dia menjalaninya dengan kesadaran tentu saja, tetapi tetap saja aku merasa dia marah kepadaku." Sehan
mengangkat bahunya.
"Mungkin dia melihat betapa bahagianya aku karena meninggalkan tanggung jawabku dan memilih mengejar mimpiku, mungkin dia berandai-andai seandainya saja dia bisa melakukan hal yang sama denganku."
"Tetapi Sehun tidak akan pernah bisa." Luhan memahami bagaimana kepribadian Sehun, lelaki itu tidak mungkin bisa melakukannya.
"Ya, dia tidak pernah bisa, karena itulah jauh di dalam dirinya ada kemarahan. Kemarahan karena dia yang harus memikul seluruh beban dan tanggung jawab."
Mata Sehan tampak melembut. "Salah satu kelemahan Sehun adalah ketika dia dihadapkan pada posisi di mana dia harus bertanggung jawab, dia pasti akan mengambilnya tanpa ampun dan kemudian merusak dirinya sendiri."
Luhan sedang duduk di sofa di dalam apartemennya masih memikirkan kata-kata Sehan tadi.
Setelah makan siang Sehan harus langsung pergi karena ada janji dengan salah seorang temannya, jadi mereka berpisah, setelah Sehan sempat meminta nomor ponselnya.
Ponselnya berbunyi, Luhan meliriknya dan mengangkatnya ketika melihat nama Baekhyun di sana.
"Kenapa Baek, bukankah naskah terakhirnya sudah aku serahkan kepadamu?"
"Hei tidak bolehkah aku menelepon sahabatku dan tidak membahas masalah pekerjaan?"
Baekhyun tertawa di seberang sana. "Aku ada di dekat-dekat sini, aku mau mampir ke sana."
Setengah jam kemudian, Baekhyun sudah ada di dalam apartemennya. Dia membawa dvd terbaru dan dua cup besar popcorn, itu adalah DVD komedi romantis yang dibintangi Adam Sandler dan Jennifer Aniston. Mereka duduk di sofa itu, dan terpesona dengan kisahnya yang lucu dan romantis. Dan ketika film itu selesai dengan ending yang manis dan membahagiakan, tiba-tiba saja Luhan mengingat Sehun dan bergumam,
"Pemilik café itu..."
Baekhyun langsung menatapnya dengan tertarik. "Hmmm, Sehun? Aku masih penasaran dengan wajahnya, mengingat
saudara kembarnya luar biasa tampannya, aku yakin dia pasti tak kalah tampan."
Luhan sudah bercerita kepada Baekhyun tentang kedekatannya dengan Sehun dan Baekhyun mendorongnya dengan
penuh semangat untuk mencoba membuka hatinya. Kalaupun tidak berhasil, toh Luhan sudah mencoba menyembuhkan luka
lamanya, kata Baekhyun waktu itu.
"Yah." Luhan mengangguk. "Dia ternyata seorang miliarder?"
"Apa?" Kali ini Baekhyun hampir terlonjak dari duduknya. "Dan kau tahu itu bukan dari dirinya sepertinya?"
"Ya. Sehun tidak pernah menceritakan kepadaku, dia bilang dia memiliki cafe itu dan yang lain-lain. Aku bingung kenapa dia tidak mengatakan apapun kepadaku. Apakah dia tidak percaya kepadaku atau dia hanyalah orang kaya yang paranoid mendekati perempuan karena takut perempuan itu akan mengincar hartanya?"
"Mungkin Sehun akan menjelaskannya nanti kepadamu, mungkin waktunya belum tepat."
Baekhyun membuka laptopnya dengan bersemangat. "Sejak adanya mesin pencari ini kau hanya perlu memasukkan namanya dan semua berita tentangnya akan keluar. Kalau dia memang seorang miliarder, dia pasti akan muncul di salah satu berita."
Dengan cekatan Baekhyun mengetikkan nama "Sehun" dengan keyword tambahan "Garden Cafe."
Dan sederet berita langsung keluar ketika tombil 'search' ditekan. Berita itu kebanyakan dari kolom bisnis dan keuangan,
yang memberitakan tentang resort dan hotel-hotel berbintang lima yang tersebar di negara ini. Yang semuanya dimiliki oleh
seorang miliarder muda bernama "Oh Sehun".
Luhan dan Baekhyun ternganga membaca semua informasi itu. Lalu saling berpandangan dengan takjub.
"Luhan." Baekhyun akhirnya yang bisa bergumam.
"Kalau memilih laki-laki, kau benar-benar tidak tanggung-tanggung."
Setelah Baekhyun pulang. Luhan memutuskan untuk mandi air panas di bawah pancuran dan bersantai. Naskahnya sudah
selesai, dan dia bisa tenang sebentar sebelum Baekhyun menyerahkan beberapa koreksian editan yang harus ia revisi.
Dia merasakan nikmatnya mandi air panas yang menyenangkan di tubuhnya dan melemaskan badannya yang lelah. Meskipun benaknya masih bertanya-tanya, tetapi Baekhyun berusaha menenangkan dirinya.
"Kau menemui Luhan bukan?"
Sehun langsung bergumam ketika Sehan membuka pintu tempat tinggalnya. Lalu Sehun langsung melangkah masuk dengan marah ke dalam rumah. Sementara itu Sehan masih memasang wajah santai dan tersenyum mengejek.
"Oh Astaga hyung, apakah kau menyuruh orang untuk mengikutiku?"
"Bukan kamu." Wajah Sehun tampak datar. "Aku menyuruh pengawalku untuk mengikuti Luhan, dan dia bilang Luhan makan siang bersama saudara kembarku. Apa maksudmu mengajaknya makan siang bersama? Apa yang kau katakan padanya?"
"Whoa tunggu... akan kujawab satu-satu."
Tetapi kemudian Sehan mengangkat alisnya. "Kalau boleh aku tahu, kenapa kau menyuruh pengawal untuk mengikuti Luhan?"
"Bukan urusanmu."
"Kalau begitu aku tidak akan mengatakan informasi apapun menyangkut tadi siang." Sehan bersedekap, menantang.
Lama Sehun menatap Sehan dengan pandangan tajam, kemudian dia menghela napas panjang.
"Luhan punya seorang mantan tunangan yang mengejarnya, dan aku sudah membereskannya agar berada di tempat yang jauh dan tidak bisa mengganggu Luhan lagi. Tetapi tentu saja aku tidak mau mengambil resiko, jadi aku menyuruh pengawalku untuk mengawasi Luhan sementara."
Sehan menatap Sehun dengan tajam, "Pastinya bukan untuk berjaga-jaga kalau-kalau Luhan menemui laki-laki lain selain dirimu bukan?"
Sehun tidak membantah, dia hanya menatap Sehan dengan tajam.
"Sekarang katakan kenapa kau menemui Luhan tadi siang."
"Aku tidak sengaja menemuinya, kami berpapasan di supermarket di ujung jalan."
"Supermarket?" Sehun menyipitkan matanya.
"Aku sedang berada di dekat-dekat situ dan membeli rokok." Gumam Sehan tanpa rasa bersalah.
Sehun langsung mencibir. "Rumahmu berada puluhan kilometer dari sana, dan kau membeli rokok di sana di dekat
apartemen Luhan, kau pasti punya rencana di otakmu."
Sehan tertawa. "Oh astaga hyung, kenapa kau dipenuhi rasa curiga? Aku benar-benar tidak sengaja berada di sana dan
kemudian berpapasan dengan Luhan di dalam supermarket itu. Jadi aku mengajaknya makan siang bersama."
"Dan apa saja yang kau katakan kepadanya selama makan siang itu?"
Sehan tersenyum. "Kalau kau takut aku mengatakan kepadanya tentang Irene, kau bisa tenang, aku tidak akan
mengatakan kepadanya."
Sebenarnya itulah yang paling ditakutkan oleh Sehun. Dia takut Luhan mengetahui tentang Irene sebelum dia sempat
membereskan semuanya. Kalau sampai itu terjadi, Luhan pasti akan menganggapnya sama seperti Kris, seorang lelaki
pengkhianat yang tega mengkhianati perempuan yang menjadi tunangannya. Luhan pasti akan benci setengah mati kepadanya kalau sampai dia tahu.
"Dan kalau kau sampai tidak bisa menjaga mulutmu, aku akan membuatmu menyesalinya Sehan. Meskipun kau adalah
adikku, aku tidak akan segan-segan."
"Aku takut." Sehan bergumam mengejek, karena tidak ada satupun ekspresi ketakutan di wajahnya, bertentangan
dengan kata-katanya.
"Hyung, kalau kau tidak memberitahukan tentang Irene, cepat atau lambat Luhan pasti tahu. Dia sudah tahu bahwa kau adalah miliarder kaya, dan kau terkenal. Berita tentang pertunanganmu yang diselenggarakan dengan begitu mewah waktu itu pasti ada, terselip di salah satu berita di internet."
"Kau memberitahukan kepadanya bahwa aku seorang miliarder?" suara Sehun meninggi, dia tampak benar-benar
marah sekarang.
Sehan memundurkan langkahnya, menjauhi Sehun yang kali ini tampak benar-benar berbahaya.
"Aku tidak tahu bahwa dia tidak tahu, kukira kau sudah mengatakan kepadanya, Lagipula kenapa kau merahasiakan statusmu kepadanya? Kenapa kau tidak mau dia tahu bahwa kau kaya raya? Apakah kau tidak percaya kepadanya?"
"Bukan karena itu!" Sehun berteriak. "Seperti yang kau bilang tadi, karena kalau sampai dia tahu aku kaya, dia akan mudah mencari informasi tentangku. Dan dia bisa menemukan info tentang Irene sebelum aku bisa membereskan semuanya!"
Sehan tertegun mendengar kata-kata Sehun yang terakhir. "Membereskan Irene? Apa maksudmu?"
"Bukan urusanmu."
Sehun menatap adiknya dengan dingin."Kau telah merusak seluruh rencanaku, dan kali ini aku masih memaafkanmu karena kau adalah adikku. Tetapi ingat ini Sehan, jangan pernah mencoba main-main sedikitpun dengan Luhan. Dia milikku, kau dengar itu? Dia milikku, dan aku akan menghancurkan siapapun yang mencoba mencurinya dariku."
Setelah mengucapkan ancamannya, Sehun membalikkan tubuhnya dan meninggalkan rumah Sehan dengan pintu berdebam di belakangnya. Sementara itu Sehan menatap kepergian Sehun dengan senyum simpul. Dia tahu bahwa Sehun tidak akan semarah itu kepadanya, dia tahu bahwa jauh di dalam hatinya kakaknya itu menyayanginya.
Sehan sama sekali tidak pernah tertarik kepada Luhan, mungkin dia suka, tetapi Luhan jelas bukan tipenya. Sehan sengaja berpura-pura tertarik kepada Luhan hanya agar Sehun tergerak untuk mengejar Luhan lalu berusaha melepaskan diri
dari Irene.
Sudah sejak awal Sehan tidak suka dengan Irene, perempuan itu dulu pernah mengejarnya, lalu entah kenapa dia kemudian mengejar Sehun dan berhasil memilikinya. Sehan merasa muak membayangkan pengkhianatan yang dilakukan Irene kepada kakaknya, dan kemudian merasa benci ketika tahu kakaknya terjebak ke dalam pertunangan itu, yang hanya disebabkan oleh rasa tanggung jawab.
Selama ini kakaknya hanya pasrah, dikalahkan oleh sikapnya yang begitu bertanggung jawab. Dan Sehan harus bisa melepaskan kakaknya dari pertunangan yang dia yakini akan menghancurkan hidup Sehun.
Luhan adalah kesempatan terbaik Sehun untuk melepaskan diri dan meraih apa yang diimpikannya. Tetapi Sehun terlalu
lambat dan penuh pertimbangan hingga Sehan takut semua akan terlambat. Jadi Sehan mendorongnya, dengan berpura-pura menyukai Luhan juga, lalu mengajak Sehun bersaing untuk mendapatkan Luhan.
Rencananya berhasil.
Sehun sekarang mengejar Luhan dengan kekuatan penuh. Sekarang Sehan hanya bisa berdoa, apapun rencana kakaknya untuk menyingkirkan Irene dari kehidupannya, semoga rencana itu berhasil.
"Kau membuka pagiku dan juga menutup malamku,
Sesederhana itulah aku menginginkanmu."
Ketika ponselnya berbunyi lagi, hampir jam sepuluh malam, Luhan yang sudah berada dalam posisi meringkuk di ranjang dan bersiap tidur mengernyit. Dia sedang tidak enakmbadan, hari ini adalah hari pertama dia datang bulan dan dia selalu sedikit merasakan nyeri di perut bawahnya ketika sedang haid.
Diangkatnya telepon itu,
"Halo?"
"Luhan?" suara Sehun yang dalam terdengar dari seberang
sana. "Kenapa kau tidak datang kemari?"
"Oh... maaf Sehun."
Dia lupa kalau sudah berjanji untuk ke cafe malam ini. "Aku... aku sedang tidak enak badan."
"Kau sakit?" suara Sehun terdengar cemas. "Kau sakit apa?"
"Eh tidak..." Luhan bingung, kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya kepada Sehun.
"Aku antar ke dokter ya?"
"Eh tidak usah..." Luhan menelan ludahnya. "Ini sakit perempuan.."
"Sakit perempuan?" Dari suaranya Luhan bisa membayangkan Sehun mengernyit di sana.
"Itu.. sakit perempuan setiap bulan."
Hening. Tampak Sehun berusaha menelaah kata-kata Luhan, tetapi kemudian dia sadar.
"Oh."
Tiba-tiba saja Luhan merasa geli karena sekarang Sehun yang salah tingkah.
"Maaf ya. Biasanya ini hanya berlangsung di hari pertama kok, mungkin kita bisa bertemu besok."
Hening, lalu Sehun bergumam. "Aku ke sana ya?"
"Jangan, aku tidak apa-apa kok."
"Aku akan kesana." Sehun bergumam dengan nada keras kepala, lalu menutup telepon.
Ketika pintu apartemennya terbuka, Sehun berdiri di sana sambil membawa kantong kertas makanan dari cafenya. Lelaki itu menatapnya dengan cemas.
"Kau tidak apa-apa?"
Luhan menggeleng lemah, memundurkan langkahnya dan mempersilahkan Sehun masuk.
"Sakit begini hanya bisa disembuhkan kalau berbaring."
"Kalau begitu duduklah berselonjor di sofa." Sehun mendahului Luhan duduk di sofa, dan menunggu Luhan datang. Dia
mengambil bantal kecil dan meletakkan di pangkuannya.
"Sini, berbaringlah di sini."
Sejenak Luhan ragu, tetapi senyuman Sehun tampak begitu menenangkan, dan perutnya sakit. Dia tidak punya siapa-siapa
di sini untuk mengeluh.
Sambil menghela napas panjang dia duduk di sofa, Sehun langsung menariknya, menjatuhkan tubuh Luhan supaya kepalanya berbaring di bantal di pangkuannya. Rasanya begitu nyaman, meringkuk di pangkuan Sehun dengan jemari ramping lelaki itu mengelus rambutnya pelan.
"Sudah makan tadi?"
Luhan menggelengkan kepalanya. "Tidak selera makan."
"Aku bawakan kentang goreng dan sosis dari cafe kalau kau lapar malam-malam." Jemari Sehun membelai rambutnya
lembut, membuat Luhan mengantuk.
"Terima kasih, Sehun." suara Luhan melemah, dia menguap.
"Tidurlah, aku akan menungguimu di sini."
"Terima kasih ya." Luhan mengulangi ucapan terimakasihnya, lalu menutup matanya, merasakan damai yang menenangkan. Dia memejamkan matanya dan terlelap.
Sehun duduk di sana, mengamati Luhan yang terbaring di pangkuannya. Hasratnya untuk memiliki perempuan ini begitu besar, tidak pernah dia rasakan sebelumnya pada perempuan manapun. Perempuan ini adalah hasratnya. Dan setiap kali pula Sehun rela melepaskan apa yang menjadi hasratnya, demi keharusan untuk memikul sebuah tanggung jawab.
Kali ini itu tidak akan terjadi. Sehun akan mempertahankan Luhan di sampingnya. Lelaki itu lalu menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Luhan yang telelap dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Luhan."
Luhan bangun di pagi hari dengan badan segar, dia membuka matanya dan menatap ruangan yang temaram. Masih sangat pagi sepertinya di luar, meskipun sinar matahari sudah menembus dengan malu-malu melalui gorden jendela.
Sejenak dia merasa bingung, kenapa dia tidur di ruang tamu. Tetapi dia lalu sadar.
Sehun...
Dengan gerakan pelan, Luhan melihat ke atas dan menyadari bahwa kepalanya ada di atas bantal kecil di pangkuan Sehun.
Lelaki itu tertidur pulas sambil terduduk, tubuhnya menyandar ke sofa dan kelihatannya sangat lelap. Luhan bergerak perlahan supaya tidak membangunkan Sehun. Tetapi rupanya Sehun terbiasa waspada ketika tidur karena dia langsung membuka matanya.
Mereka bertatapan, di pagi yang temaram dan udara dingin yang menguar sejuk dari jendela. Lalu Sehun tersenyum
lembut.
"Selamat pagi."
Tiba-tiba Luhan merasa malu. Lelaki itu baru bangun dari tidurnya dan tetap terlihat sempurna, sedangkan penampilannya sekarang pasti sudah amburadul.
"Aku baik-baik saja."
"Sakit perutmu?"
"Sudah mendingan."
Dengan gerakan canggung, Luhan duduk dan menjauh dari Sehun, menyadari bahwa semalaman mereka sudah tidur bersama.
"Izinkan aku membuatkan sarapan untukmu." Sehun melirik ke arah kantong kertas makanan yang dibawanya dari
cafe yang tidak tersentuh. "Mungkin makanan ini masih bisa diselamatkan."
Sehun kelihatan tidak canggung sama sekali, seolah-olah tempatnya memang di sini. Dia meraih kantong kertas itu, setengah bersenandung melangkah ke dapur Luhan, dan memasak.
Luhan sejenak termangu, menatap Sehun yang tampak begitu luwes dan santai memasak di dapur, lelaki itu tampak menikmatinya. Tiba-tiba Luhan merasa tersentuh. Lelaki ini ingin menjadi koki, tetapi dia meninggalkan impiannya demi rasa
tanggung jawabnya, dia pasti merasakan perasaan hampa di dalam dirinya. Luhan sendiri tidak akan bisa membayangkan
kalau dia tidak boleh menulis lagi.
"Aku akan ke kamar mandi dulu ya." Gumam Luhan pelan dari sofa.
Sehun yang sedang memasak omelet beraroma harum dari bahan-bahan yang dia temukan di kulkas Luhan, menoleh dan tersenyum lembut,
"Silahkan. Ketika kau kembali, makanan sudah siap."
Dan Sehun memang benar. Ketika dia selesai mandi, dapur itu beraroma harum dengan telur dan ham yang sudah digoreng, serta aroma kopi yang menguar memenuhi ruangan.
"Makanlah."
Sehun mengedipkan sebelah matanya."Sarapan spesial dari koki paling tampan di dunia." Gumamnya menggoda.
Luhan terkekeh geli, dan Sehun meninggalkannya sebentar untuk ke kamar mandi. Ketika kembali rambut Sehun basah dan dia tampak segar. Luhan sudah menyeruput kopinya dan mencicipi sedikit omelet yang luar biasa enaknya itu.
"Suka?" Tanya Sehun lembut.
Dia duduk di seberang Luhan di meja makan itu lalu menyesap kopinya yang masih mengepul panas.
Luhan menganggukkan kepalanya. "Aku tidak pernah memakan omelet yang begitu enaknya. Omelet buatanmu memang lezat." Gumam Luhan sambil tersenyum.
Tatapan Sehun di atas cangkir kopinya tampak begitu intens. "Kalau kau menikah denganku, aku berjanji akan membuatkan sarapan untukmu setiap pagi."
Hampir saja Luhan tersedak omeletnya, dia mendongak dan menatap Sehun terkejut.
"Apa?"
Sehun terkekeh dan barulah Luhan sadar bahwa Sehun sedang menggodanya. Pipinya langsung memerah karena malu.
"Tidak lucu, tahu." Gumamnya sambil cemberut.
Sehun masih terkekeh, tetapi matanya bersinar dengan serius.
"Aku tidak sedang melucu Luhan, bayangan itu ada di benakku. Kau dan aku menikah, lalu hidup bahagia selama-lamanya."
Luhan merasakan jantungnya berdebar keras akibat katakata Sehun. "Bukankah masih terlalu dini membicarakan ini?"
"Ya." Sehun menganggukkan kepalanya, tidak membantah kata-kata Luhan. "Tetapi aku tahu apa yang kurasakan, perasaan nyaman yang tidak pernah kurasakan sebelumnya kepada siapapun. Aku bisa saja duduk di sini berdua denganmu, tidak melakukan apa-apa dan tidak merasa bosan."
Lelaki itu menyentuh jemari Luhan dari seberang meja dan menggenggamnya sungguh-sungguh. "Beginilah yang kubayangkan akan kulalui bersama istriku nanti. Dudukbersama setiap pagi, mengawali hari dengan bahagia, lalu berpelukan ketika malam tiba."
Kata-kata Sehun terdengar luar biasa indah sehingga Luhan terpesona. Dia membiarkan tangannya dalam genggaman Sehun
dan menghela napas panjang.
"Tetapi kau tidak jujur kepadaku. Sehan berkata bahwa perusahaanmu tidak hanya mencakup cafe itu dan lain-lain. Kenapa Sehun? Apakah kau tidak mempercayaiku? Apakah kau berpikir bahwa aku mungkin hanya mengincar hartamu?"
Luhan tiba-tiba merasa terhina. "Kalau kau memang berpikir seperti itu, kau bisa tenang, aku tidak butuh hartamu. Aku bahkan bisa menghidupi diriku sendiri dan tidak perlu bergantung pada seorang lelaki hanya untuk menghidupiku."
"Aku tahu kau orang yang mandiri Luhan, aku tahu kau tidak mengincar harta dan kekayaan." Sehun menggenggam erat
jemari Luhan, mencegah ketika Luhan berusaha melepaskan diri.
"Aku merahasiakannya karena takut kau merasa canggung dan lari dariku. Aku hanya ingin kau memandangku sebagai pria
biasa, bukan sebagai seorang miliarder yang berkuasa."
Luhan tercenung, menerima betapa benarnya kata-kata Sehun. Kalau dari awal Sehun mengatakan bahwa dirinya sangat kaya, mungkin Luhan akan merasa ngeri dan tidak akan memberi kesempatan kepada mereka untuk lebih dekat.
Kedekatan ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Ada suatu ikatan yang sangat erat di antara mereka, membuat dunia mereka saling tarik menarik. Dan bahkan Luhan bisa membayangkan kata-kata Sehun itu, mereka bersama-sama di pagi hari, memulai hari dengan bahagia dan berakhir di pelukan satu sama lain.
"Apakah kita akan berakhir di sana? Di impianmu tentang hidup bahagia selama-lamanya?" tanya Luhan lemah.
Sehun tersenyum lebar. "Tentu saja Luhan, Happy Ending, seperti akhir dari setiap novel romantismu."
"Bagaimana?"
Sehun bertanya cepat ketika Kai memasuki ruangannya.
Kai memang sangat tampan, dia adalah sahabat Sehun ketika kuliah di luar negeri sebagai koki. Dan Kai adalah koki handal yang kemudian mengembangkan bisnis hiburan mencakup salon, butik, dan bakery serta rumah makan yang kebanyakan dibangunnya bekerjasama dengan Sehun.
"Dia terpesona kepadaku tentu saja." Kai terkekeh.
"Tetapi belum cukup untuk membuatnya berani mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan itu."
"Kau sudah melakukan semua yang kukatakan kepadamu bukan?"
"Tentu saja, dengan sempurna. Aku mengunjunginya ke rumahnya, membawakan bunga lily kesukaannya, dia terkejut karena aku bisa mengetahui kesukaannya. Lalu aku menceritakan tentang kucing, seperti yang kau informasikan bahwa Irene sangat menyukai kucing dan punya puluhan kucing di rumahnya. Dan sekali lagi dia terperangah karena aku mempunyai banyak sekali kesamaan dengan dirinya. Semuanya sempurna mulai dari makan malam, sikap lembut dan perhatian seratus persen. Aku yakin hatinya sudah berpaling, hanya saja belum ada sesuatu yang membuatnya mengambil keputusan penting itu. Seperti yang kau katakan, kau ingin membuktikan bahwa dia bisa mengkhianatimu bukan?"
Kai menatap Sehun tajam. "Dia tidak menolak ketika aku menciumnya semalam."
Sebuah bukti. Sebuah kenyataan akan pengkhianatan. Sehun sudah menduga bahwa Irene tidak akan mampu bertahan. Perempuan itu mengatakan sangat mencintainya. Tetapi kalau dia sungguh mencintai, dalam keadaan apapun cinta tidak akan semudah itu tergoda untuk berkhianat.
Mungkin sejak awal Irene tidak mencintainya, mungkin perempuan itu hanyalah terobsesi untuk memilikinya.
"Kalau begitu mungkin ini saatnya aku bertemu dengan Irene."
Ketika Sehun datang, Irene sangatlah gugup. Sehun sudah lama sekali tidak berkunjung. Dan Irene sudah terlalu sering
menghabiskan waktunya bersama Kai hingga sampai di titik dia sudah tidak peduli lagi apakah Sehun akan datang atau tidak.
Tetapi pernikahan mereka sudah dekat, pernikahan itu adalah puncak impian Irene untuk bisa memiliki Sehun pada akhirnya, dan dia tidak akan mundur. Irene hanya berharap dia masih bisa menghabiskan waktu bersama Kai, mereguk seluruh perhatian yang tidak didapatkannya dari Sehun sebelumnya, dan semoga saja Sehun tidak akan tahu tentang perselingkuhannya sehingga pernikahan mereka akan berjalan mulus.
"Kemana saja kau selama ini Sehun." Irene memasang wajah merajuk. "Aku sampai berpikir bahwa kau mungkin sudah melupakanku."
"Aku sangat sibuk Irene, kuharap kau mengerti."
Irene mendesah sedih, "Selalu begini Sehun, apakah nanti di kehidupan perkawinan kita juga akan seperti ini? Kau sibuk
dengan pekerjaanmu dan mengabaikan aku?"
Sehun mengangkat bahunya. "Itulah konsekuensi kau menikah denganku, tidak akan berubah meskipun kita menikah. Aku mempunyai tanggung jawab yang besar di perusahaan yang tidak mungkin aku abaikan begitu saja. Kalau kau tidak siap menghadapinya kau bisa mundur."
"Apa?" Wajah Irene langsung pucat pasi.
Sementara itu Sehun memasang wajah datarnya. "Aku tidak bisa menjadi suami yang perhatian seperti yang kau inginkan, tidak akan pernah bisa. Kalau kau tidak siap menanggung kesedihan karena tidak pernah mendapatkan perhatian dari seorang suami, kau bisa mundur sekarang Irene agar kau tidak menyesal. Kau tahu, aku tidak pernah memaksamu untuk menikahiku, untuk menjadi isteriku."
"Teganya kau!" Irene berteriak dan berurai air mata.
"Kau sengaja melakukannya bukan? Kau sengaja mengabaikanku agar aku merasa tidak kuat dan membatalkan pernikahan ini? Kau ingin aku meninggalkanmu bukan? Agar kau tidak perlu memiliki istri yang lumpuh dan cacat sepertiku. Cacat karena kau!"
Perkataan Irene itu membuat wajah Sehun memucat, tetapi dia mengendalikan diri dan berusaha membuat ekspresinya tetap datar.
"Well kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau! Karena aku tetap akan melanjutkan pernikahan ini! Apapun yang terjadi kau tetap akan menjadi suamiku dan aku akan menjadi istrimu!"
Luhan sedang tidak ada pekerjaan.
Revisian naskah dari editor belum diterimanya. Dia menghabiskan harinya dengan bermain game komputer sampai merasa bosan. Kemudian dia teringat perkataan Baekhyun pada hari itu, ketika mereka mencari data-data tentang Sehun di internet. Bahwa kita tinggal memasukkan sebuah nama saja di mesin pencari, dan kalau orang itu cukup terkenal, maka kita akan menemukan banyak informasi tentangnya.
Luhan teringat, bahwa Sehun selalu tampak tampan di foto-fotonya di setiap kolom berita keuangan dan bisnis yang ada di
internet. Lelaki itu memang berpenampilan berbeda, dengan jas resmi yang tampak sangat formal.
Dengan iseng, Luhan membuka mesin pencari di internetnya, dan memasukkan nama lengkap Sehun di sana.
Dalam beberapa detik, deretan hasil pencarian muncul. Luhan menelusurinya dengan sangat tertarik. Ada berita tentang merger hotel terbaru milik Sehun, pembukaan restoran bintang lima secara serentak, dan iklan tentang resor-resor mewah di kawasan pariwisata elit di beberapa kota.
Semua berita itu menyebut Sehun sebagai pemimpin perusahaan yang jenius dan kompeten.
Lalu mata Luhan tertuju kepada sebuah kolom gosip. Hey, ada kolom gosip di antara semua berita keuangan dan bisnis ini.
Dengan tertarik Luhan membuka kolom itu. Itu adalah wawancara dan berita tentang profil Sehun, pengusaha muda yang sangat sukses dalam mengembangkan bisnis perusahaannya.
Luhan membacanya dengan sangat tertarik, menelusuri kisah hidup Sehun dalam bentuk tulisan. Ternyata Sehun adalah
seorang yang cemerlang dalam prestasi pendidikannya, dan juga...
Mata Luhan berkerut pada sebuah berita bahwa Sehun sudah bertunangan dengan kekasih yang dipacarinya selama
empat tahun. Tunangannya adalah seorang mantan model pro yang berhenti setelah mengalami kecelakaan, bernama Irene.
Jantung Luhan berdebar keras, sebuah kejutan lagi.
Sehun sudah bertunangan?
Dan dari kolom berita itu, dikatakan bahwa tahun ini mereka akan menikah.
Dunia seakan runtuh di bawah kaki Luhan.
TBC
Sorry ya teman teman semua, gue tau pasti ini ff banyak yang udah lupa soalnya gue terlalu lama buat apdet, gue sadar kok. Tapi apalah daya ini yang baru bisa apdet sekarang u.u , tapi btw buat yang masih nungguin nih ff dengan begitu sabarnya gue bener bener makasi banget, terutama buat Guest yang meskipun dia gak sebut sebut nama tapi tetep jadi orang pertama yang nunggu apdet an gue {sorry gue nya gak tau diri :")}. Dan buat yang galau karena beritanya si mbak gentong hamil anaknya luhan, yang sabar aja yaaa... gue sebagai hunhan hard shipper juga kaget dengur tuh kabar, tapi gue cuman bisa turut berduka cita aja.
Gue bakal usahain selesein semua ff gue secepetnya, kali ini janji!.
So, please review nya jangan lupa yaaaaaa,
Sorry for typo (s)...
Big Thanks to:
misslah, OhBabyLu, oktafernanda666, Guest, sehunnyaluhan, Skyeilysma, knightwalker314, Arifahohse, KimaSL, almurfa, Neneng402, Park RinHyun-Uchiha, chanyeolsehun72 , hunhania, deerbee, park hye cha, gitaaorgee, Hannie , auliaMRQ , aitaetae13, xiHan.a-oh ,DearLu09, OhXiSeLu ,firdha arafah, hhnism, yhyera , KimaHunHan, 1220, aerislulu6194.
