AI (No Air)

Title : AI

Author : Fina

Main Cast(s) : Kim Jong In, Oh Sehun, Park Chanyeol

Other Casts : Xi Luhan, Lay Zhang, Wu Yi Fan, Byun Baekhyun

Rate : nggak M banget sih … NC-17

Explanation : Latar pada keruntuhan pemerintahan joseon oleh penjajahan Jepang

WARNING : NO COPAS ! Yaoi, crack pair. (don't like don't read), TYPO(S)

Author ….. ?

Ini chapter puanjang. Minta maaf banget ya readers, pasti bosen pas baca ini #bowbowbow . Ini chapter 6, dan sebenernya nggak NC NC banget sih, soalnya latarnya kan pas zaman Joseon gitu. Jadi, aku ngeluarin adegannya gabisa segamblang kayak di FF lain. Itu alesan kedua sih, alesan pertamanya … kalo buat NC pasti bener-bener jelek deh TT . Mianhamnida readersdeul … Jeongmal mianhamnida … TT . Tapi … RCL ya ! ^_^ #BOWBOWBOW

No Air … Begin …

Hari itu, adalah hari di mana aku melalui musim gugur pertamaku di Jepang. Pemandangan musim gugur yang terlihat di halaman depan paviliunku. Harus kuakui, semua daun gugur yang berserakan itu tampak sangat indah. Bertahun-tahun aku tinggal di istana Joseon, keluar masuk dengan mudah sebagai seorang pemusik. Tapi aku tidak pernah menjadi seorang pejabat ataupun bangsawan yang tinggal dalam paviliun mewah di sana. Karena itu aku sangat tertarik melihat daun-daun yang berguguran di halaman paviliunku.

Sudah dua bulan ini aku berstatus menjadi istri Oh Sehun, jenderal muda yang sangat gagah dan tampan. Dan sudah dua bulan pula musuhku semakin bertambah. Oh Sehun termasuk dalam daftar lelaki yang sangat disegani oleh seluruh wanita dari kalangan kasta manapun. Setiap kali diadakan pertemuan di dalam lingkungan kerajaan, selalu ada wanita yang memandangku dengan tatapan sinis mereka. Apalagi saat Oh Sehun sedang tidak bersamaku.

Hari itupun sama, saat aku berada di luar paviliun sambil menikmati udara musim gugur. Seorang wanita yang berpakaian layaknya seorang bengsawan melewati halaman paviliunku. Dia sangat cantik, tubuhnya tinggi dan ramping, namun tatapannya padaku benar-benar sangat mengganggu.

"kau pasti Kim Jong In, istri Jenderal Oh yang berasal dari Joseon"

Tanpa rasa hormat, kata-kata itu diucapkan olehnya, dialek Tokyo yang sangat kental ditambah dengan nada suara ketusnya benar-benar sangat kentara mengatakan bahwa dia membenciku. Dia menatapku dengan tatapan ularnya, seakan-akan berharap bahwa matanya dapat membunuhku atau mengubahku menjadi batu.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya, namun sepertinya ia tidak menyukainya.

"aku selalu heran dan bertanya-tanya, kenapa lelaki semenawan Jenderal Oh mau menikahimu. Seorang lelaki bodoh, pemusik amatir, dan tidak mempunyai sopan santun untuk menjawab pertanyaan seseorang"

Hembusan nafas panjang lolos dari batang hidungku. Si wanita semakin geram menatapku dan memaki-makiku dengan kata-kata pedasnya. Tangannya sudah akan menamparku, jika saja Oh Sehun tidak datang saat itu.

Wajah wanita itu berubah, sangat berbeda saat Oh Sehun berdiri di sebelahku. Oh Sehun menatap wanita itu dengan penuh tanda tanya lalu berbalik menatapku. Aku hanya menunduk dan malas menatap wajahnya. Entahlah, setiap ada wanita penggemarnya yang menemuiku dengan cara seperti ini, aku malah ikut membenci Oh Sehun. Karena bagaimanapun, dialah yang menyeretku menjadi istrinya dan juga membuatku menyukainya dan juga membuat jumlah para wanita yang membenciku semakin bertambah tiap jamnya.

"Aoko-san pergilah, para menteri telah menunggumu di paviliun utama. Bawa serta anak buahmu, pertemuannya telah usai. Dan pastikan mereka mendapatkan kepuasan yang pantas"

Sontak wajahku terangkat dan menatap si wanita yang dipanggil Aoko oleh Oh Sehun. Aoko tampak sangat patuh pada Oh Sehun sebelum raut malunya terlihat oleh wajahku.

Bibirku terangakat, senyuman mengejek terukir jelas di wajahku dan terlihat jelas oleh matanya. Dadakupun kembali kubusungkan dengan penuh percaya diri sambil mengatakan sesuatu padanya.

"oh, rupanya kau seorang Geisha. Pantas kau terlihat sangat cantik dan pandai dalam berkata-kata"

Ucapku menyindirnya. Sedangakan Aoko pergi meninggalkanku setelah membungkuk sembilan puluh derajat dan meninggalkan umpatan dari mulutnya tanpa bersuara.

Senyumku pun terukir, dan tawa ringanku terdengar oleh telinga Oh Sehun. Namun dia hanya menatapku dengan senyuman indahnya. Senyuman yang selalu ia berikan untukku. Tangan kanannya menangkup lembut pipi kiriku dan kemudian mencium keningku cukup lama.

Tangannya kemudian menggandengku dan membawaku masuk ke dalam paviliun. Oh Sehun terlihat sangat tampan saat ia mengenakan baju samurai biru tuanya. Namun tidak bisa ia sembunyikan wajah berseri-serinya yang seperti anak kecil itu.

"kau terlihat sangat senang, suamiku …"

Kami memang belum duduk saat itu, dan dalam kebudayaan Jepang itu dinilai tidak sopan. Tetapi Oh Sehun mengatakan bahwa ia ingin menjalani hubungan kami tanpa peraturan yang mengikatnya.

"aku bisa bertemu istriku lagi setelah seminggu penuh bertugas di luar kota. Aku merindukanmu, dan sepertinya … kau semakin pintar dalam menggunakan kata-kata. Istriku ?"

Aku hanya mematrikan senyum termanisku pada Oh Sehun, menarik tangannya dan kemudian mendudukkan tubuhnya di sampingku. Di atas kasur gulung ini, semuanya terasa sangat indah jika Oh Sehun telah kembali padaku. Seminggu tanpa dirinya benar-benar terasa sangat aneh, aku harus memainkan music agar tidak merasa hampa. Namun haegeum yang diberikan oleh anak buah Oh Sehun jelas berbeda dengan haegeum yang biasa kumainkan, jadi aku tidak bisa memainkannya seperti biasanya. Karena itulah aku sangat merindukan suamiku, hanya dia yang dapat mengisi hari-hariku, entah hanya dengan bertatapan mata atau dengan ciuman-ciuman kecil yang biasa ia berikan.

Tangan kokohnya mengenggam hangat tanganku, sangat hangat. Hembusan udara musim gugur cukup membuat tubuhku bergidik kedinginan dalam pelukan Oh Sehun. Tapi Oh Sehun malah tertawa kecil sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajahku.

"kau kedinginan sayang ?"

Seringkali ia memanggilku seperti itu, namun semburat merah pada pipiku sepertinya menjadi efek otomatis ketika ia memanggilku seperti itu.

"denganmu di sisiku, tanganmu yang mengatup pada tanganku, dan lenganmu yang melingkar pada tubuhku ? tidak … jikapun masih terasa dingin, aku tetap menyukainya"

Oh Sehun tersenyum semakin lebar dan memelukku semakin erat. Selimut yang sudah terbaring di atas kami ia rapatkan pada tubuhku. Mungkin dua bulan yang lalu ia telah menjadi lelaki iblis yang sangat kasar dan kejam, dan bahkan membunuh Jenderal Park, lelaki yang sebelumnya kucintai. Namun, saat ini hampir setiap hari aku selalu ingin berada di sisinya, memeluknya saat ia berada dalam kesulitan, menciumnya saat dia menginginkanku.

Dua bulan mungkin bukanlah waktu yang lama, bahkan terlampau singkat bagi seseorang untuk melupakan segala citra buruk dan kenangan yang mengerikan. Tapi bagiku, dua bulan adalah waktu yang sangat berarti untuk melupakan segalanya dan memulai hidup baruku sebagai istri dari seorang Oh Sehun.

Kami tertidur di paviliun itu. Siang itu, adalah siang dengan udara terdingin dan pelukan terhangat yang diberikan oleh suamiku. Deru nafasnya yang berada persis di hadapanku masih dapat kurasakan hingga saat ini. Yang membuatku merindukannya kembali.

Mataku terbuka dan dengan spontan mengeluarkan cahaya senangnya saat melihat Oh Sehun yang masih tidur dengan lelapnya, badannya yang menghadap ke arah ku membuatku semakin mengagumi garis ketampanan yang terukir di wajahnya. Sejenak setelah memandanginya dengan berbagai pujian yang ada di kepalaku, bibirku beranjak untuk mencium keningnya. Saat tertidur, Oh Sehun lebih terlihat seperti seseorang yang rapuh dan rindu akan orang-orang terdekatnya ataupun keluarganya.

Mengingat tentang cerita keluarga Oh Sehun, dia selalu menolak untuk menceritakannya padaku. Satu petunjuk kecil yang kutahu tentang keluarganya adalah di saat aku mendengarkan secara sembunyi-sembunyi pembicaraannya dengan Panglima Xi tempo hari.

Sepahit itukah cerita hidupnya ? itukah yang membuatnya memihak Jepang dan berbalik melawan tanah jati dirinya di Joseon ? Bahkan sampai sekarang, aku tidak tahu apa jawabannya.

Suara kicau burung yang berasal dari jendela paviliun mengalihkan perhatianku. Tubuhku terduduk dan menatap burung itu seraya tersenyum. Berkata dalam senyuman bahwa itu burung terindah yang pernah kulihat di sekitar paviliunku.

Tubuh Oh Sehun bergeser dan lenguhannya terdengar olehku. Matanya mengerjap lalu tersenyum saat melihat istrinya yang juga menatapnya dengan tatapan cintanya. Suamiku benar-benar sangat ahli dalam membuat pipiku mengeluarkan semburat merah malu.

"kau harus tahu bahwa kau terlihat lebih indah jika dipandang seperti ini"

Ucapnya masih dengan suara mengantuknya.

Tawa kecilku tak bisa kutahan lagi. Sangat jarang melihat Oh Sehun tersipu saat mulutnya mengucapkan sesuatu yang sangat manis kepadaku.

"kalau begitu tetaplah terbaring seperti ini"

Mendengar ucapanku padanya, dia malah mendudukkan posisinya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Bibirnya menciumku sejenak lalu tangannya beranjak menyusuri punggung sempitku.

Sebenarnya, kami belum pernah melakukan hubungan intim bahkan semenjak kami menikah. Walaupun aku tahu Oh Sehun sangat menginginkannya, tapi aku tidak bisa memberikannya. Hanya saja, aku belum siap untuk melakukannya. Dan aku senang Oh Sehun mengerti dan menepis nafsunya untuk tidak memaksaku melakukan hubungan itu dengannya.

Kami menghentikan ciuman itu saat pelayan yang ada di luar mengabarkan bahwa ayah dan ibuku ingin bertemu denganku.

Sebenarnya, setelah insiden pernikahanku dengan Oh Sehun. Dia membebaskan kedua orang tuaku dan berjanji akan melindungiku. Orang tuaku sangat tidak percaya dengan kata-katanya, atau bahkan ketika ia bersumpah. Namun lama kelamaan mereka sadar bahwa tidak ada hal yang perlu dipertahankan lagi. Mereka adalah budak sekaligus mertua Jenderal Oh Sehun. Jadi pada akhirnya mereka menerima kebaikan Oh Sehun.

"aku tidak tahu bahwa kau sudah pulang, tuan"

Ucap ayahku dengan penuh rasa hormat dan membungkukkan badannya saat melihat Oh Sehun yang duduk di sampingku.

Terkadang melihatnya bersikap seperti itu kepada menantunya sendiri membuatku ingin memukul Oh Sehun karena ayahkulah yang harus menghormatinya. Tapi niat itu selalu kuurungkan saat Oh Sehun menatap ayah dan ibuku dengan tatapan yang sangat terlihat seperti anak kecil yang sedang melihat kedua orang tuanya.

Ia menitahkan orang tuaku untuk duduk di hadapan mereka sambil tersenyum sayang pada mereka. Ibuku menyukainya, tentu saja, ingat kan saat aku mengatakan bahwa Oh Sehun mampu menyihir seluruh kalangan wanita ? kurasa ibuku berada dalam pengaruh sihirnya. Sedangkan ayahku hanya tersenyum dan melihat Oh Sehun sebagai anaknya sendiri.

"apa ada yang bisa kubantu ? ayah ? ibu ?"

Kata-kata yang keluar dari mulut Oh Sehun saat itu adalah kata-kata terhalusnya yang pernah kudengar.

"ah … tidak … kami hanya ingin menemui Jong In setelah tiga hari tidak bertemu dengannya. Sebagai lelaki yang mencintainya, pasti anda tahu bagaimana rasanya … ahaha"

Kami berdua (aku dan Oh Sehun) sama-sama dibuat malu oleh perkataan ayahku. Tapi kurasa aku benar-benar sangat payah dalam menyembunyikan semburat merah pada pipi dan juga seluruh wajahku. Lain dengan Oh Sehun yang menanggapinya dengan tawa ringan dan kata-katanya yang membuatku rona merah pada kedua pipiku semakin menjadi-jadi.

"baiklah, kalau begitu silahkan berbicara dengan istriku. Sepertinya, Jong In juga sangat merindukan kalian. Baru saja dia memelukku dengan sangat erat, kurasa aku telah menjadi pelampiasan yang kurang sesuai untuk kerinduan Jong In pada kedua orang tuanya. Haha …"

Kemudian Oh Sehun meninggalkan kami bertiga dalam kamar kecil paviliun ini. Namun wajah ayahku berubah menjadi sangat tegang saat Oh Sehun menutup pintu paviliun dan meninggalkan kami bertiga.

Wajah ibuku juga senada dengan raut yang diperlihatkan oleh ayahku. Mereka berdua memandangku penuh dengan rasa sayang, namun … dari wajahnya aku bisa mencium berita buruk yang akan disampaikan oleh mereka.

"Jong In, aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kabar ini pada Jenderal Besar Oh. Namun nyawanya telah berada dalam ambang bahaya yang sangat besar"

Pikiranku kalut saat itu, ayah mengatakannya dengan nada yang sangat tegang dan raut wajah panic. Suaranya membisik dan berkali-kali melihat ke belakang dan sekitar seakan takut ada yang mengawasinya.

"tunggu, ayah … apa maksudmu ?"

"Jenderal Oh sedang diincar nak, suamimu … kau harus menyelamatkannya"

Suara ibu yang juga membisik semakin memperparah keadaan. Jika ibuku telah memperingatkanku tentang sesuatu, maka persoalan besar memang sedang terjadi di antara penduduk Joseon.

"ceritakan padaku apa yang kalian dengar"

"kami sedang memasuki sel pagi tadi saat sekelompok pengawal sedang beristirahat. Para tahanan Joseon membicarakan sesuatu mengenai Jenderal Besar Oh, mereka merencanakan pembunuhan, penyergapan dan pemberontakan. Kami tidak tahu apalagi yang mereka bicarakan karena kami bergegas keluar saat mendengar semua itu. Namun, mereka menyebutkan satu nama yang membuat ayah dan ibu ketakutan. Jenderal Park Chanyeol"

Mulutku menganga lebar dan mataku seakan hampir keluar dari kelopaknya. Tubuhku bergetar ketakutan saat mendengar cerita orang tuaku, jika itu semua menyangkut Jenderal Park yang juga rival dan lawan sepadan Oh Sehun, maka ini adalah persoalan yang gawat.

"tapi Jenderal Park … dia …"

"mati, ibu tahu itu … Salah satu sumber mengatakan bahwa dia masih hidup, saat mayatnya dihanyutkan di sungai, salah satu pengawal Joseon yang masih hidup menemukannya. Dia berhasil bertahan hidup … dan dia mengatakan … dia mengatakan bahwa … dia harus mendapatkanmu kembali setelah menghabisi nyawa Oh Sehun"

Kenyataan bahwa Jenderal Park telah dibunuh oleh Oh Sehun saat itu benar-benar tidak terbantahkan. Namun ketika kemunculannya terdengar oleh telingaku, hal itu menjadi ketakutan terbesarku saat itu.

Perasaan itu muncul saat aku tidak sengaja beberapa kali melihat Oh Sehun yang berendam di danau yang tidak jauh dari sana. Bekas cambukan dan sabetan pedang yang menyayat panjang di seluruh punggungnya terlihat jelas oleh mataku saat itu. Bahkan saat itu orang tuaku juga melihatnya. Saat aku bertanya tentang luka itu, dia tidak mau menjawab namun hanya menatap kosong pada arah lain. Karena semakin penasaran, ibuku pun juga bertanya hal yang sama pada Oh Sehun, bukan hal mudah butuh beberapa cara untuk mendesaknya untuk mengatakan seluruh ceritanya pada ibu. Namun pada hari di mana Oh Sehun berendam air panas, entahlah tapi ibu mengatakan padaku bahwa dia terlihat sangat pusing seakan memikirkan sesuatu, ibuku pun mendekat dan bertanya padanya, tetapi Oh Sehun malah menangis dalam pelukan ibu dan kemudian menceritakan seluruh kejadiannya di masa lalu. Ibuku berkata, saat melihat Oh Sehun menangis dia terlihat sangat menyedihkan dan rapuh hingga ibu bersumpah tidak ingin melihat atau bahkan hanya mendengar suara Jenderal Park. Saat aku bertanya kenapa Oh Sehun menangis, ayah dan ibu menolak bercerita padaku karena mereka sudah bersumpah pada Oh Sehun untuk tidak menceritakannya padaku.

Ibuku tidak kuat menahan tangis saat menyelesaikan perkataannya padaku. Ayahku tampak sangat kacau sambil memeluk ibu yang sudah tersedu-sedu. Sedangkan tubuhku masih bergertar ketakutan sambil memikirkan cara, bagaimana menyampaikan berita ini kepada Oh Sehun.

"lelaki biadab itu … aku tidak akan pernah membiarkannya menyentuh menantuku ! ataupun mendapatkan putraku !"

Penuturan ibuku seakan penuh akan sarat dendam di dalamnya. Aku tidak tahu apa sebabnya dia dan ayah membenci Jenderal Park. Dulu dia sangat menghormati jenderal tampan itu.

Malam itu, Oh Sehun kembali datang ke paviliunku dengan memakai kimono biru tuanya. Dia terlihat sangat tampan, namun hatiku seakan menjerit saat mengingat seluruh berita buruk yang dibawa oleh kedua orang tuaku. Bayangan Oh Sehun dengan tubuh yang bersimbah darah tiba-tiba hadir dalam penglihatanku, tubuhku bergidik ngeri. Aku tidak mau suamiku mengalami hal mengerikan seperti itu.

Oh Sehun melihatku dengan tatapan tajamnya. Tapi bibirnya sedikit tersenyum saat melihatku yang menggerai rambut hitam sebahuku. Tubuhku masih terbungkus oleh kimono dalam yang berwarna putih (sedikit transparan) karena aku memang sudah bersiap-siap untuk tidur. Mungkin, di matanya aku terlihat sangat cantik dan menawan.

Bukannya terlalu percaya diri, tapi hal itu jelas sangat tampak pada kedua bola matanya.

Langkah kakinya berakhir saat berada tepat di sebelahku, lalu kemudian dia melepas kimono birunya dan menjatuhkannya tepat di sebelah dirinya berdiri. Dan kemudian, hanya kimono putih yang melekat pada tubuhnya, ia duduk di sebelahku lalu membelai pipiku halus.

Sejujurnya, darahku berdesir sangat cepat saat Oh Sehun membuka kimono birunya. Dengan kimono dalam itu, bentuk tubuh atletisnya semakin tercetak jelas. Bahunya yang sangat lebar dan perutnya yang berotot, bayangan saat melihat tubuh Oh Sehun beberapa waktu sebelumya terlintas di pikiranku.

Tangannya kokohnya ia lingkarkan pada pinggang kecilku, dia selalu mengatakan bahwa pinggangku rapuh, bahkan sebuah batu kerikil yang dilempar asal saja dapat mematahkannya. Namun saat itu ia malah memeluk pinggangku dengan sangat erat dan mendekap tubuhku dalam pelukan hangatnya.

Rambut Oh Sehun yang dipangkas cepak, memang berbeda dari jenderal-jenderal di Jepang pada umumnya. Dia memberitahuku bahwa rambutnya menjadi cepak dikarenakan upacara pegabdian pada Yamato Kuresai, sebagai prajuritnya ia harus memangkas pendek rambutnya bahkan bisa dibilang sedikit botak. Itu adalah cerita yang sudah bertahun-tahun sebelumnya terjadi, dan rambut Oh Sehun kini tumbuh semakin panjang. Namun tetap saja, masih jauh untuk dikatakan rambut yang panjang untuk seorang lelaki.

Tapi aku suka, itu membuatnya terlihat lebih berkarisma dan tampan di mataku.

"kau pasti kedinginan, musim gugur di sini berbeda dengan di Joseon. Lebih dingin, dan angin lebih sering berhembus. Apa karena itu kau datang ke paviliunku ? mencari kehangatan, suamiku ?"

Oh Sehun memamerkan gigi taring kecilnya saat aku menggodanya. Mati-matian aku berusaha untuk tidak terlihat tegang di matanya karena berita yang telah kudengar. Untungnya, Oh Sehun tidak dapat mencium ketakutanku dan membalas perkataanku dengan senyuman manisnya.

"jika memang angin berhembus adalah alasanku untuk datang ke sini, maka kau tidak akan pernah merindukanku sayang"

Oh Sehun mendekatkan bibirnya pada pipiku, menciumya sekilas lalu beranjak mencium hidungku. Kami berdua mengeluarkan tawa ringan kami, merasa bahagia atas kebersamaan yang menyelimuti paviliun itu.

Saat tawa kami berhenti, Oh Sehun menatapku dengan tatapan sayangnya. Namun lama kurasa matanya seakan menghipnotis jiwaku, tubuhnya bergeser mendekat padaku. Aku tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya, namun tubuhku menurut dengan apa yang akan dilakukannya padaku. Sekalipun itu adalah hal yang dulunya tidak kusukai.

Gambaran Oh Sehun saat ia menindih tubuhku masih sangat jelas terekam dalam setiap kepingan memori otakku. Dikulumnya bibirku dengan sangat lembut namun dengan tempo yang seakan-akan mengatakan bahwa dia sangat menginginkanku dan ingin mendapatku seutuhnya di malam itu. Dada kami yang berkuran sama terasa membentur saat helaan dan hembusan nafas sama-sama terdengar dalam naungan paviliun kecil itu. Tangan kokoh Oh Sehun mulai membuka kimono putihku dan ciumannya beralih menuju leherku, dia menyesapnya dengan sangat bernafsu. Aku merasa wajar karena seorang lelaki memang akan mengalami fase ini setelah menikah sekalipun pernikahan mereka adalah pernikahan sesama jenis, dan yang kutahu, fase Oh Sehun dimulai di malam itu.

Tubuhku serasa terbakar oleh api yang begitu nikmat, itulah yang kurasakan saat Oh Sehun menciumi seluruh bagian tubuhku dan menyesap beberapa bagian sensitifku, meniup-niup bagian bawahku dan sedikit memijatnya. Aku tidak ingat berapa banyak desahan yang kukeluarkan di malam itu, dan aku tidak akan menulis tentang bagaimana suara desahan terdengar. Intinya, itu adalah malam pertama kami berdua, dan hanya beberapa bagian saja yang akan kutulis di kertas ini.

Tubuh Oh Sehun memasuki tubuhku dalam sekali hentakan, dan itu lebih sakit ketimbang ditusuk dengan belati perak sekalipun. Atau perasaan itu ada karena memang ini adalah kali pertamaku melakukannya.

Temperatur yang ada di paviliun itu terasa semakin meninggi saat suara Oh Sehun dan suaraku beradu menggema di seluruh ruangan paviliun. Keringatku bercucuran, cairan putihku telah keluar beberapa kali dan tubuhku benar-benar penat. Tetapi Oh Sehun masih tidak mau menghentikan gerakan tubuhnya, seolah-olah ia sangat menikmati aktifitas malam mini dengan seluruh jiwanya karena aku tidak pernah melihat Oh Sehun lebih bersemangat dibandingkan malam itu.

Aku tidak tahu berapa lama tepatnya kami melakukan aktifitas yang melelahkan itu, walaupun .. ya .. jujur saja, aku sangat menyukainya dan sangat menikmatinya. Tapi di pagi hari saat kami berdua masih tertidur dalam paviliun, angina dingin kembali menyeruak dan mulai membekukan tubuh telanjangku kembali.

Selimut yang ada di atasku kuangkat hingga menyingkap penuh seluruh tubuhku, namun tangan Oh Sehun lebih cepat, dia memeluk tubuhku dengan sangat erat. Sadar atau tidak dia melakukannya, pipiku pasti sudah semerah buah apel saat Oh Sehun melakukannya.

Sejenak kemudian, aku mencoba setenang mungkin untuk tidak membangunkan suamiku dari tidurnya. Tetapi tubuhku terasa terlalu dingin jika terus dibiarkan telanjang seperti ini. Baru saja kakiku akan menggapai kimono putih yang ada di bawah kasur, Oh Sehun terbangun. Dia menatapku penuh keheranan saat melihat posisiku yang aneh dengan kaki kanan yang mengangkat dan kepala yang tak sepenuhnya berada di atas bantal.

Oh Sehun menguap tanpa peduli ada aku di sisinya, lalu memelukku kembali. Mendekapku dengan sayang dan mencium keningku sebagai pelengkapnya.

"selamat pagi, istriku. Pasti kau sangat lelah, maaf, kau tidak menunjukkan perlawanan jadi aku melanjutkannya"

Menurutmu nada apa yang digunakannya ? Jika kau berfikir nada romantislah yang diucapkan oleh Oh Sehun pada saat ia mengatakan itu, salah. Dia mengucapkannya dengan sangat angkuh dengan wajahnya yang juga menunjukkan bahwa ia telah berhasil menaklukanku.

"lebih dari lelah sayang, aku kedinginan"

Ucapku dengan sarkas padanya, namun hal itu malah membuatnya tertawa dan bangkit dari tidurnya. Akupun mengikutinya sambil menyilangkan tanganku dan menatap sebal pada suamiku itu.

Oh Sehun berhenti tertawa, namun senyumannya masih terlukis di bibir tipisnya. Dia kemudian mengambil kimono putih yang ada di bawahnya lalu ditangkupnya tubuhku dengan kain itu. Sebagai seorang istri, ini memang perlakuan yang wajar dari seorang suami. Namun tidak wajar juga jika kau tidak merona akan perlakuannya yang seperti itu.

Oh Sehun menatapku dalam-dalam dan mengusap rambut panjangku dengan sayang. Matanya semakin menerawang ke dalam mataku dan menemukan sebuah kenyamanan di sana, tatapannya tidak berpaling dariku selama beberapa saat. Kepalanya mendekat pada kepalaku yang sudah membantur dinding paviliun. Bibirnya kembali mengunciku dalam permainan indahnya. Sebelum …

"Sehun-sama ! terjadi pemberontakan di antara tawanan Joseon !"

Suara seorang pengawal dari luar paviliun jelas membuat Oh Sehun memalingkan perhatiannya dariku. Jantungku berdebar sangat kencang, ketakutan menjalar di seluruh nadiku. Tanpa sadar air mataku jatuh begitu saja dan membuat Oh Sehun khawatir padaku.

Dia dengan sigap memakai kimono putihnya dan segera melapisinya dengan kimono biru tuanya. Seolah melupakanku yang masih dalam ketakutan, dia melangkah pergi meninggalkanku, namun tanganku mencegahnya. Kau pasti tahu kenapa, aku takut Jenderal Park ada di liar sana.

Aku tidak peduli dengan tubuhku yang hanya tertutup dengan selembar kimono putih yang belum tertutup sempurna. Aku hanya ingin suamiku selamat.

"Jong In, kau harus di sini … jangan keluar. Aku akan membawa kedua orang tuamu ke sini. Jangan keluar, terlalu berbahaya"

"Sehun-sama … kau … berjanjilah kau akan kembali …"

Oh Sehun menatapku penuh tanda tanya. Dia memelukku dan mendekapku sangat erat. Mengelus rambut hitamku dengan jemari kokohnya. Mataku sembab karena air mata, dan dia menciumnya, mencium bibirku dan keningku.

"ini hanya pemberontakan kecil istriku, jangan menangis …"

"tapi jika Jenderal park ada di sana …"

Mulutku memang tidak bisa menjaga rahasia dalam waktu yang lama, terlebih jika itu menyangkut jiwa seseorang yang sangat kucintai. Tubuh Oh Sehun membeku, dia menatapku dengan tatapan tajamnya. Di carinya sesuatu yang kusembunyikan darinya.

"ka .. kau … apa maksudmu ? Park Chanyeol ? apa dia …"

"aku mendengar kabar dia masih hidup, Tolong berhati-hatilah … aku sangat mencintaimu"

Oh Sehun mengenggam tanganku kuat-kuat. Mataku masih sembab dengan air mata ketakutan yang masih trus mengalir dari kelopak mataku.

Ciuman Oh Sehun kembali terasa di atas kulit bibirku.

"seorang samurai akan selalu melindungi apa yang berharga baginya. Dan kau adalah hal yang paling berharga bagiku. Aku mencintaimu Kim Jong In"

Kalimat terakhir itu ia ucapkan sebelum ia bergegas pergi keluar dari paviliun itu. Tubuh kecilku meringkuk sendirian dalam kerapuhan di setiap bagiannya, tangisanku belum juga reda, dan ketakutanku semakin menjadi setiap nama Park Chanyeol muncul dalam ingatanku.

No Air … End …

Capek ? iya Bosen ? iya … Kepanjangan ? sangat .. TT chapter depan kuusahain lebih ringkas lagi ya, dan nggak terlalu bertele-tele kayak gini. Chapter depan kayaknya puncak klimaksnya. Amin deh, semoga dapat inspirasi … Ini dibuat barengan sama streaming Showcasenya EXO. Jadi, ya … cukup menderita juga TT . terima kasih banyak bagi readers yang udah RCL dari chapter 1 … LOVE YOU … :* 3 Maaf Cuma ini inspirasi yang bisa kutumpahkan di chapter ini #Bowbow . Itu aja sih dari aku, RCL juseyo …