Sehun menatap nanar lantai marmer dihadapannya, pikirannya masih blank akibat dari serangan Krystal tadi. Banyak pertanyaan berkeliaran dikepala Sehun, kenapa Krystal mengatakan hal seperti itu tadi? Apa Sehun pernah bertemu Krystal sebelumnya? Tapi kapan?
"Maafkan aku, aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun yang kau katakan." Ucap Sehun dengan nada menyesal.
Krystal tersenyum sinis, berusaha sekuat tenaga menahan emosinya yang memuncak. Bukan, Krystal tidak emosi karena Sehun yang membentaknya atau apalah itu, Krystal sakit hati karena Sehun sama sekali tidak mengingat Power Busters, geng ketika mereka kecil dulu.
"Krystal, aku tidak tahu apapun soal perkataanmu itu atau mungkin aku masih belum bisa mengingatnya, aku minta maaf. Ada banyak hal yang terjadi sebelum kita bertemu Krys, kamu harus paham hal itu." Sehun menatap kedua bola mata Krystal dengan tatapan terluka, Ia tahu pasti bahwa sesuatu yang bernama Power Busters itu pasti sangat bermakna untuk Krystal, terbukti dari tatapan kecewa yang diberikannya kepada Sehun.
"Terserah." Ucap Krystal, tidak mau memperpanjang masalah Krystal melangkah keluar dari ruang Osis.
Atap Seika
"Sialan! Harusnya kau mengatakannya dari kemarin! Tahu begini, aku tidak akan mengambil time capsule kita, Brengsek!" Jongin melempar tinju ke arah Jongdae, yang tentu saja berhasil dihindari oleh Jongdae.
"Aku tidak menemukan waktu yang tepat, Idiot." Jongdae mencibir Jongin.
"Oh ya? Apa waktu yang tepat itu ketika aku dan Sehun sudah putus?" Sindir Jongin.
"Diamlah, Idiot. Ada hal yang harus aku katakan padamu. Dan ini mengenai Sehun."
"Apa? Dia ken-"
"Jongin! Aku mencarimu kemana – mana! Ternyata kau di sini, mengobrol dengan si muka kotak ini." Krystal berlari mendekati kedua pemuda yang saat ini memandangnya kesal.
"Bagus, ada kau juga. Kemari kau nenek lampir, aku yakin kau masih mengingatku." Ucapan Jongdae sukses mendapat delikan dari Krystal.
"Apa maksudmu?" Tanya Krystal, berpura – pura tidak tahu.
"Hah, jangan belagak bodoh kau. Aku yakin kau pasti kau mengingat masa kecil kita kan? Kalau tidak, mana mungkin kau mau jadi selingkuhan Preman Pasar ini."
"Kau ingat!? Sudah kuduga! Memang hanya Nona Muda itu saja yang tidak mengenali kita!" Krystal mendengus kasar mengingat kejadian menyebalkan yang Ia alami tadi.
Jongdae menarik lengan Krystal, "Apa maksudmu?!" Tanyanya dengan nada yang dinaikan beberapa oktaf. "Astaga! Jangan bilang kau mengatakn kepada Sehun mengenai Power Busters?!" Pertanyaan Jongdae mendapat anggukan mantap dari Krystal.
"Ya ampun! Aku tahu kau itu idiot seperti Jongin, tapi apa sampai dititik ini? Kau gila!?" Jongdae menyuarakan isi hatinya kepada Krystal.
"Oi oi, aku tidak tahu kenapa kau kesal sampai sebegininya, tapi membentak perempuan itu tidak baik tahu!" Jongin melepas paksa tangan Jongdae yang mencengkram lengan Krystal.
"Cih, maafkan aku Krys, aku terbawa emosi..." Jongdae menghela nafasnya dengan berat "... Dengar, aku tidak ingin kalian membahas mengenai Power Busters dengan Sehun untuk saat ini. Sehun yang sekarang kita kenal bukanlah Sehun yang dulu kita kenal."
"Apa maksudmu!?" Kaget Krystal.
"Sehun kehilangan ingatannya 3 tahun yang lalu, akibat dari kecelakaan yang menimpa keluarganya. Dia trauma."
Ruang Osis Seika
"Hai, Sehun. Apa yang kau lakukan di sini?" Suho berbasa – basi kepada Sehun, entah kenapa ketua mereka terlihat kebingungan.
"Suho, apa kamu bisa mengantarku?" Bukan menjawab pertanyaan Suho, Sehun malah balik bertanya kepada Suho.
"Apa? Kemana? Kita bolos?"
"Iya, kita bolos. Ayo, ikut aku." Sehun menarik paksa lengan Suho dan membawanya ke parkiran mobil
"Kita mau kemana sih?" Suho menyalakan mesin mobilnya dengan tetap bertanya – tanya, kemana ketuanya ini akan menculiknya?
"Kau ikuti saja arahanku. Oke? No comment."
Suho hanya pasrah saja mengikuti arahan dari Sehun, pada awalnya Suho menerima dengan senang hati tapi sadar atau tidak Sehun membawa Suho hampir keperbatasan kota. Dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit tanpa macet, dan jarak yang hampir 40 km, Suho mulai curiga jangan – jangan ketuanya ini mau menculiknya lagi?
"Tikungan itu belok kanan. Bangunan kedua, itu adalah tujuan kita." Suho mengangguk dengan arahan terakhir Sehun.
Rumah Sakit Jiwa Sunshine.
Suho mendelik horror menatap bangunan besar dihadapannya itu, kenapa Sehun membawanya kemari?!
"Suho, kau adalah wakilku. Kau mungkin menyebalkan, tapi aku percaya padamu. Apapun yang kau lihat nanti, aku mohon, jangan sampai kau ceritakan kepada siapapun ya?" Pinta Sehun dan terus berajalan masuk ke dalan rumah sakit jiwa itu.
"Apapun untuk ketuaku." Jawab Suho mendapat kekehan halus Sehun. Suho sadar, apapun yang akan Ia lihat dan temui nanti adalah hal yang paling tidak ingin Sehun perlihatkan kepada orang lain selain dirinya.
"Sudah sampai. Ayo masuk." Ajak Sehun
Mereka berdua memasuki kamar bertuliskan Oh Sera, di dalam kamar itu terduduk seorang gadis dengan rambut sebahu yang menatap kosong kearah jendela, memberikan punggungnya kepada siapapun yang memasuki kamarnya.
"Namanya Oh Sera, dia kembaranku. Keluargaku yang masih tersisa hanya dia, 3 tahun yang lalu keluargaku mengalami kecelakaan parah. Asumsi dari pihak kepolisian ada campur tangan seseorang dalam kecelakaan itu, tapi tidak ada bukti kuat. Jadi, penyelidikannya dihentikan dan kasusnya ditutup. Akibat dari kecelakaan itu, ayahku meninggal ditempat, ibuku kritis selama sebulan yang akhirnya menyusul ayahku..." Sehun menghentikan ceritanya, mengeluarkan isakan pertamanya, tanpa disadarinya dari tadi Ia sudah mengucurkan air mata dengan deras "... Aku dan Sera koma selama beberapa bulan, ketika kami sadar dan mengetahui kenyataan pahit itu, Sera tidak kuat menahan kesedihannya kemudian mengamuk dan menyebabkan beberapa orang terluka.." Nafas Sehun mulai tersenggal menahan isakannya.
"Kau tidak perlu menceritakan semuanya, aku tidak mau memaksamu menggali lukamu." Suho mengelus pundak Sehun pelan, yang dibalas gelengan dari Sehun.
"Dianggap membahayakan sekitar karena mentalnya yang sangat hancur, dokter menyarankan Sera untuk dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa. Dan keluargaku menyetujuinya, saat ini aku tinggal dengan paman dan bibiku yang pamanku adalah seorang pemabuk yang kasar..."
"Kenapa harus dengan mereka?"
"Karena hanya mereka yang tidak mengincar harta orang tua kami, meskipun pemabuk dan kasar, pamanku tidak pernah membahas masalah warisanku.. berbeda dengan keluarga kami yang lain.."
"Oke, lanjutkan."
"Berbeda denganku, Sera adalah pribadi yang ceria dan aktif. Semua orang menyukainya, dan salah satunya adalah kelompok bermainnya yang dinamakan Power Busters. Power Busters dianggotai oleh Sera, Jongin, Jongdae, dan Krystal. Aku beberapa kali bertemu dengan mereka. Tapi mereka berpisah, karena urusan ayahku yang menyebabkan kami harus pindah ke luar negeri..." Sehun berjalan mendekati Sera "... Aku kira mereka sudah melupakannya, ternyata mereka masih mengingat kenangan masa kecil mereka." Sehun memposisikan dirinya dihadapan Sera, kemudian berlutut dihadapan kembarannya itu.
"Katakan kepadaku Sera, kenapa? Kenapa kamu dulu tidak membenarkan mereka yang memanggilmu Sehun? Kenapa kamu harus memakai namaku? Sakit, rasanya sakit sekali harus berbohong kepada mereka, sampai sejauh mana aku harus memainkan peran ini? Aku lelah Sera, aku lelah dicintai oleh Jongin sebagai dirimu, bukan diriku. Aku mohon, sebelum aku masuk semakin dalam, tolong bantu aku, beritahu aku apa yang harus aku lakukan? Maafkan aku yang juga mencintai laki – laki yang kau cintai, maafkan aku yang juga menyayangi laki – laki yang adalah sahabatmu, maafkan aku yang mengharapkan mendapat teman perempuan yang sangat cantik, maafkan aku yang berharap itu semua adalah milikku. Maafkan aku yang sudah masuk terlalu dalam kedalam peranku ini. Maafkan aku." Racau Sehun dalam isakannya.
Hei hei hei! Akhirnya aku next juga ini! Wah senangnya, aku harap kalian puas ya sama chapter ini. Untuk chapter 2 aku masih hilang ide, hahaha, tapi secepatnya akan aku up!
Last, xoxo!
Read and review, please?
