presents
…..
Baekhyun mempercepat langkahnya untuk keluar dari kamar, meraih kunci mobilnya sebelum benar-benar lenyap dari ruangan apartemen minimalis itu. Mulutnya tak berhenti untuk terus berdoa jika saja sesuatu yang dia tinggalkan dirumah Chanyeol bisa meledak bila-bila waktu
Kelajuan mobil dinaikkan hingga jarum didalam kaca depan stirnya menegak 180 darjah sebaik saja kakinya menjejak ke pedal gas. Fikirannya sibuk dengan sesuatu yang ada dirumah Chanyeol. Dirinya mengendara tidak lain seperti seorang pembalap handal sampai dia lupa sejak kapan dia bisa membawa mobil dengan begitu hebat
Jari-jarinya segera membuka sabuk pengaman ketika lima belas menit telah dia tempuhi untuk benar-benar barada di bagasi rumah Chanyeol. Kakinya ia bawa dengan cepat untuk menemui dapur dirumah itu dengan harapan tidak ada kepulan asap
"Untung saja"
Helaan nafas terdengar begitu lega, Baekhyun tersenyum bangga untuk mengingat betapa baiknya dia dalam mengatasi masalah-yang dia rasa besar-nya barusan. Tangannya mencapai sebatang sendok untuk mencicipi masakan yang ada didalam panci berkepul itu
"Tidak buruk"
Setelah mematikan kompor, dirinya pula disibukkan untuk melihat jam tangan di lengannya, meneka-neka sesuatu yang membuatnya tiba-tiba bersemangat
"Masih ada 15 menit"
Matanya berkedip beberapa kali sebelum tersenyum mendapat sebuah ide. Fikirnya omelette yang dicampur dengan wortel juga tidak buruk, dan mungkin dengan campuran sedikit mayonnaise bisa membuat anak-anak itu berselara makan. Jadi Baekhyun segera melakukan apa yang dia fikirkan sebelum menyimpannya didalam kotak bekal
"Selesai"
…..
"Kau agak sedikit terlambat, Baek"
"Aku baru saja menghantar bekal kesekolah, untuk anak-anakmu"
Chanyeol terkekeh, mencubit hidung Baekhyun tanpa permisi yang berhasil menghadirkan keluhan lucu dari si mungil. Mata indah itu melekuk, menghasilkan sebuah puppy eyes yang membuat pria berbadan besar diseberangnya hampir saja meleleh, bahkan mungkin sudah cair
"Calon istri yang baik"
"Sialan"
Baekhyun memukul bahu kiri Chanyeol main-main sebelum seorang pelayan datang untuk mengambil pesanan
"Kau akan pulang atau ikut aku ke kantor?"
"Kurasa aku pernah menjelaskan bahwa aku tidak mau ke kantormu"
"Siapa tau saja kau sudah mengubah fikiranmu. Dan lagi, apa kau tidak rindu padaku?"
"Aku bahkan ada dirumah setiap hari, Chan"
"Itu benar, tapi apa kau benar tidak rindu padaku?"
"Bagaimana jika aku katakan tidak?"
"Maka aku akan membuatmu rindu padaku"
"Bagaimana caranya?"
"Kau akan rindu padaku"
"Karena?"
"Aku akan menghadiri sebuah meeting di Bangkok besok"
"Kau tidak memberitahuku"
Nada kecewa cukup kentara dilontarkan oleh Baekhyun, sebelumnya Chanyeol telah menduga bahwa Baekhyun akan kesal padanya. Dan benar saja, kini lelaki mungil itu tengah membuang muka sambil melipat kedua lengannya. Kekanakan sekali
"Baekhyun. Hei"
Chanyeol menjulurkan tangannya guna menggapai bahu yang tengah merosot itu lalu meraih ke sisi wajah si mungil untuk membuatnya menatap kearah dirinya
"Aku tau ini mendadak. Aku baru mendapat mailnya tadi pagi"
Baekhyun mendengus sebelum memutar bola matanya menatap wajah idiot itu dengan kesal
"Kau berbicara seolah-olah aku sedang marah"
"Kau sedang kesal karena kau tau kau akan merindukanku dan juga kau tidak mau berpisah denganku makanya kau memang marah padaku"
"Bodoh sekali sih! Aku tidak mengatakannya"
"Kau mengatakannya"
"Tidak"
Chanyeol terkekeh akhirnya. Menghadapi Baekhyun yang tengah merajuk itu memang agak susah. Hal tersebut secara tak langsung membuatnya teringat akan memori-memori saat pertama kali mereka bertemu, Baekhyun adalah seorang guru disiplin. Demi Tuhan, guru disiplin dan sekarang dia bahkan lebih menggemaskan berbanding bocah-bocah tengik yang sering menagih mainan baru padanya
Sekali lagi tangan besar Chanyeol merayap ke sisi wajah Baekhyun, membuat lelaki mungil itu mau tak mau menghadap kearahnya dengan bibir mencebik. Chanyeol tersenyum untuk memikirkan betapa beruntungnya dia untuk bisa sedekat ini dengan Baekhyun
"Jangan marah, aku tidak akan lama disana"
Terakhir sebelum keduanya benar-benar selesai dengan makanan, Chanyeol mengusap belahan bibir Baekhyun untuk mengecupnya sesaat
"Jangan marah"
…..
"Jadi, apa yang akan kita pelajari hari ini paman Baekhyun?"
"Tidak banyak. Hanya saja kau telah memahami semuanya kan Sehun? Jadi tinggal prakteknya saja"
Kai mendengus melihat interaksi Sehun dengan pamannya. Untuk beberapa hari belakangan, dia disibukkan dengan perasaan-perasaan tidak enak apalagi ketika pulang sekolah dia harus melihat pamannya bersama dengan Sehun. Hal yang menjadi masalahnya adalah dia tidak tau apa yang harus dia lakukan agar dia tidak berasa sesdeih ini dan satu lagi, kepada siapa dia harus menceritakan perasaannya jika yang biasanya duduk dan mendengar masalahnya adalah pamannya
Memang benar semenjak pamannya mengajar Sehun tentang etika-etika yang menjadi anak baik, Sehun sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bahkan dia juga sudah jarang dipanggil oleh guru disiplin disekolah. Yang menjadi masalahnya sekarang adalah dirinya kehilangan sosok paman yang sering memanjakannya. Bagaimana tidak jika pamannya sibuk dengan si Oh itu. Benar-benar menjengkelkan
Chanyeol juga sekarang sudah tidak marah-marah lagi seperti dulu. Bahkan sekarang lebih sering tersenyum sambil mengelus rambut Sehun. Jangan lupakan ucapan 'anak baik' yang sering terlontar untuk Sehun
Katakan saja untuk anak ukuran sekolah dasar sepertinya cemburu. Seolah sekarang tidak ada yang memperdulikan kewujudannya. Terlebih sekarang mereka lebih sering berada dirumah Chanyeol dengan alasan Sehun harus mendapat pendidikan moral agar kedepannya dia tidak menjadi berandal. Tapi Kai sering menyebutnya sebagai pemberian kasih sayang yang berlebihan
"Kai. Apa yang kau lakukan disini"
Dia mendongak untuk mendapati Chanyeol sedang berdiri disebelahnya dengan memegang pucuk kepalanya, sedikit mengelusnya. Perasaan yang Kai permasalahkan sekarang mendorongnya untuk lebih sedikit berbicara seolah mood-nya sedang tidak ada. Jadi untuk tidak menunjukkan bahwa dia sedang patah hati, Kai hanya menggeleng pasrah
"Kau baik-baik saja, Kai?"
Kai mengangguk
"Tapi kau terlihat tidak. Katakan pada paman apakah kau ada masalah?"
Pria besar itu kini bahkan sudah melutut disisi tubuhnya, memegang kedua lengannya seperti orang yang sedang bermohon. Kai jadi tak sampai hati
"Paman, aku sudah terbiasa menjadi anak pengadu. Tapi sekarang paman Baekhyun sedang tidak ada waktu untukku. Apa kau mau mendengar ceritaku, paman?"
"Tentu saja"
Chanyeol mengangguk sambil tersenyum tipis, membuat sebuah lesung pipi di sisi pipinya timbul. Chanyeol membawa lengan Kai untuk berjalan ke kamarnya. Dia membuat Kai duduk disisi ranjangnya sebelum menyodorkan sebotol minuman yogurt
"Mulai saja Kai"
Itu terdengar asing. Biasanya pamannya akan memulakan sesi bercerita dengan beberapa humor tidak lucu yang terdengar menggemaskan. Tapi rasanya terlalu kontras jika bersama Chanyeol
"Aku rasa suatu perasaan asing tumbuh didalam diriku"
"Kau jatuh cinta?"
Kai hampir saja mendengus sebelum dirinya ingat bahwa Chanyeol telah baik hati untuk mendengar keluhan hatinya
"Tidak. Ini sering muncul kebelakangan hari. Apalagi saat aku melihat paman Baekhyun semakin dekat dengan Sehun. Sehun juga sekarang sering dipuji oleg guru-guru disekolah. Itu membuat hatiku sedikit terluka"
Chanyeol memaklumi hal itu, tidak juga terkejut dengan pengakuan Kai yang sedang iri terhadap keponakannya. Dia bersetuju tentang Sehun yang merampas separuh dari hak Kai termasuk perhatian pamannya sendiri. Sekarang masalah barunya adalah bagaimana dia akan merespon curhatan Kai sedangkan sebelumnya dia tidak pernah sekalipun mendengar curhatan orang lain
"Aku sangat buruk dalam memujuk, apalagi aku tidak ada pengalaman seperti pamanmu yang pastinya sering memujukmu. Jadi, Kai apa kau ingin sesuatu?"
Lihat kan? Rasanya benar-benar asing. Seperti seseorang yang tidak berpengalaman dalam memujuk. Benar saja karna Chanyeol baru saja mengakuinya
"Sesuatu seperti apa paman?"
"Aku tidak keberatan apapun itu selagi ianya masih bisa diterima akal"
"Kau serius paman?"
Chanyeol mengangguk
"Bagaimana jika aku meminta satu dari koleksi video game-mu?"
"Tidak masalah"
Satu binar kebahagiaan muncul dikedua mata itu membuat Chanyeol merasa berhasil. Sepertinya tidak buruk juga mendengar curhatan Kai. Dia anak baik yang bisa dibahagiakan dengan beberapa barangan material. Meskipun pujukan berupa ucapan-ucapan manis masih dia perlukan. Seperti dia harus berbicara dengan Baekhyun tentang ini
…..
Baekhyun melongo kedalam kamar Chanyeol dan melihat pria itu sedang berkemas dengan bagasi bajunya. Mengingat tentang jadwal tiba-tiba Chanyeol membuatnya sedikit geram. Tapi bersikap kekanakan bukanlah jalan yang baik, jadi dia memasuki kamar pria itu setelah mengetuk pintu kamarnya yang tak tertutup
"Hei Baek"
"Aku pamit pulang"
"Kau pulang? Selarut ini?"
"Ini bahkan baru jam 8"
"Bahaya mengendara mobil malam-malam, Baek"
"Tidak, siapa bilang?"
"Aku"
Chanyeol membuat gerakan dengan tangannya untuk menyuruh Baekhyun masuk semakin dalam kekamarnya. Memasukkan pakaian terakhir kedalam koper lalu menutupnya sebelum tangannya menepuk-nepuk bahagian kosong kasurnya. Baekhyun mendekat dan duduk disebelah Chanyeol
"Bermalam disini juga tidak buruk Baek"
"Bagaimana dengan Kai?"
"Dia pasti akan gembira untuk bisa bermalam bersama Sehun. Lagipula aku akan berada di Bangkok selama 3 hari"
Baekhyun mengangguk, Chanyeol tidak berkata tentang bermalam disana selama tiga hari tadi, itu membuat emosinya sedikit naik, tapi ia menghiraukan perasaannya demi menjaga situasi yang sedang baik
"Kau tidak keberatan untuk mengurus Sehun?"
Baekhyun menggeleng
"Baek, kau baik-baik saja kan?"
Baekhyun mengangguk. Sekali lagi tanpa mengeluarkan suara
"Hei. Apa kau keberatan bermalam disini? Apa aku memaksamu?"
Baekhyun menggeleng. Untuk kesekian kalinya lidah Baekhyun kelu. Sebenarnya dia juga tidak mau bersikap kekanakan seperti ini. Hanya saja sesuatu begitu mengganjal dihatinya. Jangan ditanya karena dia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya yang tidak tentram semenjak Chanyeol berkata tentang pergi ke Bangkok
Chanyeol memiringkan sedikit badannya, mengecup hujung hidung itu sebelum menelitkan kedua kangannya dibawah paha Baekhyun untuk mengangkat anak itu keatas pangkuannya. Daritadi rasanya terlalu gemas untuk melihat Baekhyun seperti ini, hendaknya dia meletakkan Baekhyun dalam pangkuannya sejak siang tadi tapi keadaan benar-benar tak mengizinkan
Tangannya merayap untuk merengkuh pinggang ramping itu tanpa sedikitpun tentangan dari si pemilik. Chanyeol mentafsirkan sebagai tanda setuju. Setelah beberapa detik tidak akan pergerakan dari si mungil, akhirnya Chanyeol bertindak dengan membawa lengan pria yang ada dipangkuannya untuk melingkar disekitar lehernya. Sekali lagi, tanpa adanya penolakan
"Baby, katakan saja padaku"
"Baekhyun, katakan"
Chanyeol tau bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Baekhyun, pria itu hanya terlalu sensi untuk menberitahunya. Jadi jalan terbaiknya hanya memujuknya dengan pelan karena malam semakin larut dan dia tidak akan membiarkan Baekhyun tidur larut
Detik berlalu dengan pelan seolah apa yang mereka sedang lakukan sekarang adalah editan dalam sebuah drama. Chanyeol tetap merengkuh pinggang itu sehingga sebuah isakan terdengar ditelinganya. Matanya membesar lalu bergerak untuk memastikan apa yang didengarnya tapi si mungil malah masuk kedalam ceruk lehernya lalu kembali terisak
Terkejut adalah hal yang dirasakan Chanyeol dengan begitu kentara. Dia menjadi sungguh panik tapi rengkuhan Baekhyun dilehernya semakin kuat. Hatinya mencelos ketika isakan itu kembali terdengar. Jadi yang bisa dia lakukan hanya mengusap punggung Baekhyun pelan
"Katakan, Baek"
"Hari sialku"
"Hei. Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Biarkan seperti ini dulu. Peluk saja sampai aku bosan"
"Tentu. Tapi kujamin kau tak akan pernah bosan dengan pelukanku. Dan mungkin saja kita akan terbangun dengan posisi yang sama"
Terakhir yang didapat oleh Chanyeol ialah sebuah pukulan didada kirinya. Chanyeol jadi semakin gemas saja
"Baek, kau itu kecil sekali ya. Enak saat dipeluk seperti ini"
"Kau mengejek. Aku akan semakin marah padamu"
"Kenyataan memang kadang menyakitkan. Tapi kau membuatku gemas"
"Diam saja kau raksasa"
"Baiklah baby smurf" adalah kata terakhir sebelum sebuah kecupan mendarat di sebelah mata Baekhyun
…..
"Kau tidak ada baju lain, Chan?"
Chanyeol menggeleng sambil tetap memerhati makhluk mungil yang sedang tenggelam didalam pakaiannya, sibuk memperhatikan cermin besar yang menangkap seluruh tubuhnya
"Apa Sehun dan Kai sudah tidur?"
Baekhyun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin
"Baiklah, sekarang kau yang harus tidur"
"Tapi aku belum ngantuk"
"Kau pasti kelelahan dan ketika kau berbaring kau akan langsung tidur"
"Baiklah"
Baekhyun mendengus sebelum memutar badannya, berjalan kearah pintu lalu memutar knob tersebut
"Mau kemana?"
"Tidur"
"Di?"
"Kamar sebelah"
"Untuk apa?"
"Jadi, aku tidur dimana?"
Chanyeol tidak menjawab malah bangkit dari posisi berbaringnya untuk meraih lengan si mungil dan membawanya berebah diatas kasur
"Kau tidur disini, bersamaku"
Bersamaan dengan penjelasan Chanyeol, lengan besar itu ikut naik untuk membawa selimut hingga kebawah dagu Baekhyun. Chanyeol tersenyum ketika Baekhyun menatapnya seolah meminta sebuah penjelasan
Lengan besarnya dia posisikan agar bisa menampung kepalanya untuk memehati betapa indahnya makhluk mungil yang masih tetap menatapnya. Matanya tak pernah berkedip seolah jika dia berkedip sekali, sosok mungil disebelahnya akan hilang
Chanyeol membawa jarinya untuk membersihkan beberapa helai rambut si mungil yang menutupi sebahagian wajah cantiknya, membawa helai rambut itu untuk dia selipkan disisi telinganya
"Cantik"
Baekhyun tidak membalas pujiannya tapi Chanyeol sempat melihat pipi itu memerah sebelum Baekhyun memutar badannyau untuk membelakanginya. Chanyeol sempat hampir protes karna Baekhyun seperti baru saja merusak pemandangan indahnya walaupun kalau dilihat dari belakang juga sudah kelihatan cantiknya, tapi lengan si mungil malah merambat untuk meraih lengan kirinya dan diposisikan di sekitar pinggangnya
"Aku ingat bahwa aku berkata aku suka dipeluk"
"olehmu"
"Sialan Baek, kau manis sekali"
Chanyeol menggeram, memberi beratus kecupan dileher si mungil selagi yang mendapat kecupan menutup matanya geli. Pelukan disekitar pinggangnya menguat sebelum Chanyeol mengangkat kepala Baekhyun lalu meletakkan lengannya sebagai bantalan untuk si mungil
"Chanyeol"
"Hm"
"Maafkan sikap kekanakanku tadi. Aku menjalani hari yang buruk sepanjang hari ini. Aku tidak pernah merasa seburuk ini"
Chanyeol mengangguk seolah menyetujui ucapan si mungil. Tidak berniat untuk mengeluarkan pendapatnya karena Baekhyun sudah menemui waktu itu dia mengeluarkan segala apa yang dia rasakan, dan Chanyeol tidak mau untuk mengganggunya
"Aku sungguh bahwa aku terkejut saat tau kau akan pergi ke Bangkok. Aku tidak ingin kau pergi dan ketika aku sadar, aku tidak ada alasan untuk itu. Itu membuatku semakin buruk. Kenapa juga aku tidak mau kau pergi sedangkan aku hanya akan bekerja disana"
"Aku merasa buruk karena aku gagal menemukan alasan mengapa aku tidak mau kau pergi. Aku benci fakta itu"
"Aku mencoba untuk menenangkan diri dan mencari sesuatu lain yang mungkin bisa menghilangkan rasa aneh didalam hatiku. Tapi aku tetap tak menemukannya"
"Dan terakhir aku melihat Kai mengadu padamu. Anak itu bahkan tidak pernah mau bercerita dengan orang lain selain diriku semenjak aku menjaganya. Tapi tadi dia baru saja mengadu padamu, kenapa bukan padaku"
"Dan saat aku mendengar alasannya, aku benar-benar mengerti kenapa dia bisa berani mengadu kepada orang lain sementara aku ada disekitarnya. Aku mulai gagal menjadi paman yang baik, aku membuat kepercayaan keponakanku sendiri hilang. Bagaimana dia akan menyayangiku lagi nantinya?"
"Baek,"
"Aku gagal"
"Baekhyun,"
"Kai sudah tidak mau curhat padaku"
"Hei,"
"Dia lebih memilihmu"
"Baby,"
"Hiks"
Chanyeol menutup matanya geram. Dia tidak suka isakan itu keluar dari pria mungil didekapnya. Tidak karena dia ikut merasa kesakitan yang so mungil rasakan. Chanyeol memutar badan Baekhyun dengan sekali tarikan dan mendapati hidung anak itu sudah merah bersama dengan cairan yang terus meleleh dari kedua matanya
"Hei, jangan menangis sayang. Kau membuatku sakit"
"Tentang Kai, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia hanya sedang cemburu pada Sehun karena sekarang Sehun sedang diperhatikan, dia sudah bukan anak nakal. Maka seharusnya aku berterima kasih padamu Baek"
"Kau sungguh tak perlu berfikir tentang apa Kai sudah tidak menyayangimu. Hei, siapa yang merawatnya sejak kecil sehingga dia tidak lagi mau menyayangi orang yang mengasuhnya. Itu tidak akan terjadi Baek"
Lama setelah Chanyeol menenagkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya, Baekhyun mereda, membuat rasa syukur didalam hati Chanyeol merekah
"Hari buruk juga karna menurutku, kenapa kau bersikap seperti ini padaku bahkan tanpa hubungan yang jelas. Terkadang kau membuatku sakit, Chan"
Itu barisan kalimat terakhirnya sebelum Baekhyun benar-benar jatuh kedalam alam tidurnya. Dia pastu kelelahan. Dan sekarang adalah saat-saat terburuk bagi Chanyeol untuk tidak berfikir tentang perasaan Baekhyun selama ini. Tentang sikap manis yang sering dia tujukan pada Baekhyun, tanpa sebarang hubungan
Tentu saja Baekhyun marah. Ironisnya, dia yang pengecut
…..
"Hei Baek"
Chanyeol menepuk pipi Baekhyun beberapa kali sebelum mata seindah hazel itu terbuka perlahan
"Aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu dan, anak-anak"
Lucunya Chanyeol merasa seperti seoarang ayah yang akan pamit untuk bekerja
"Sepagi ini, Chan?"
Chanyeol mengangguk lalu tersenyum. Tangannya terulur untuk mengusap dahi Baekhyun untuk dia kecup lalu turun ke belahan bibirnya
"Aku akan merindukanmu. Tidurlah, Hari ini libur, pastikan kau mendapat istirahat yang cukup"
Baekhyun mengangguk sebelum matanya kembali tertutup
…..
"Paman, kemana perginya paman Chanyeol?"
Sehun datang dengan rambut yang masih seperti sarang burung. Baekhyun tersenyum hampir terkekeh melihat penampilan Sehun sekarang. Baginya itu lucu mengingat ini kali pertama dia bermalam dirumah Chanyeol
"Dia sedang bertugas di Thailand selama tia hari. Jadi selama tida hari kau akan tinggal bersama paman. Setuju?"
Sehun mengangguk bersamaan dengan datangnya seorang lagi bocah yang sedang menggosok matanya dengan tangan yang merambat ke sekitar punggung dengan gerakan menggaru
"Kalian ingin sarapan apa?"
"Sepertinya aku ingin nasi goreng bersama sosis"
Itu adalah saran Kai dan disetujui oleh Sehun dan diri Baekhyun sendiri. Setelah menyuruh anak-anak itu untuk mandi, Baekhyun bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan
"Apa kalian ingin jalan-jalan hari ini? Paman akan menghantar kalian"
Itu adalah pertanyaan pertama yangbkeluar dari mulut Baekhyun semenjak mereka mengunyah makanan masing-masing. Rasa bangga sedikit menggerogoti hatinya saat melihat bocah-bocah itu bersemangat saat memakan masakannya
"Sepertinya menonton bioskop 4D tidak buruk, paman"
Baekhyun befikir sejenak lalu mengangguk, membuat kedua bocah didepannya melengking bahagia
"Kita akan pergi saat sore"
Sehun dan Kai bersetuju adlah suatu yang ajaib pasalnya selalunya kedua anak itu tidak pernah mempunyai kesepakatan bersama. Jadi terkadang Baekhyun harus kewalahan dalam memenuhi dua kehendak sekaligus. Tapi barusan, anak-anak itu menjadi begitu baik dan penurut
"Hei! Paman Chanyeol menelpon, apa kalian ingin berbicara?"
Baekhyun berteriak dari dapur untuk menberitahu kedua bocah yang sedang asik menonton animasi Larva diruang menonton. Dia mengelap tangannya sebeum meraih ponsel untuk menyentuh tombol hijau pada permukaan ponselnya
Berjalan dengan terburu-buru, Baekhyun sampai pada Sehun dan Kai dimana kedua bocah itu benar-benar sedang fokus tertawa akibat aksi lucu yang ditayangkan oleh animasi berwarna kuning dan merah itu
"Hei kalian, paman kalian menelpon"
Kedua kepala itu menoleh secepat kilat, termasuk Kai yang notabenenya adalah keponakannya sendiri. Dia merasa terkhianati tiba-tiba. Sehun menjadi orang pertama yang merampas ponsel dari tangannya dan mengajak Baekhyun untuk duduk diantara dirinya dan Kai
"Paman payah sekali sih. Kenapa menelpon disaat kita sedang menonton Larva"
"Karena paman memang sengaja ingin mengganggu kalian"
Terdengar kekehan dari arah sana dan Sehun juga itu terkekeh lalu sedetik setelah dia kembali cemberut. Tapi Kai lebih cemberut dari Sehun pasalnya daritadi dia tidak mendengar suara Chanyeol
"Paman, tukar mode-nya jadi video call saja"
Sehun bersetuju tanpa anggukan dari Baekhyun dan langsung memberi orang yang paling tua itu ponselnya. Baekhyun meraihnya dengan cepat lalu menekan beberapa tombol sebelum sebuah wajah muncul dilayar ponselnya. Tangannya dia jauhkan agar Sehun dan Kai bisa masuk ke dalam layar
"Paman! Kita akan ke bioskop hari ini"
Chanyeol terkekeh melihat betapa bahagianya Kai, juga Sehun yang ikut mengangguk antusias
"Itu bagus. Apa kalian sudah bersarapan?"
"Sudah! Kita makan nasi goreng buatan paman Baekhyun tadi"
"Paman Baekhyun menyiapkan sarapan untuk kalian? Benarkah? Apa dia tidak menghancurkan dapur?"
Chanyeol bertanya dengan nada menggoda sebelum orang yang disindir mengeluarkan decakan dan kedua bocah disisinya malah tertawa
"Wow wow, lihat siapa yang paling imut diantara kalian"
"Aku!"
Itu adalah teriakan serentak dari Sehun dan Kai sementara Chanyeol menggeleng sebagai jawaban atas prtanyaannya sendiri
"Baekhyun"
"Ish! Paman curang. Bagaimana paman Baekhyun yang menjadi pemenang sedangkan aku yang paling imut"
Chanyeol hanya terkekeh dengan keluhan Sehun barusan. Dia benar-benar berubah semenjak Baekhyun mengajarnya. Dia melirik jam dilengannya sebelum pamit untuk menutup panggilan
"Aku akan menelpon lagi nanti sore. Bye"
Baekhyun menyimpan ponselnya dimeja yang ada disisi sofa sebelum menyandarkan tubuhnya
"Paman, apa kalian berpacaran?"
Baekhyun menggeleng. Badannya kaku seketika, bagaimana anak-anak ini bisa bertanya tentang hal yang menurutnya tidak masuk akal?
"Serius? Kupikir kalian berpacaran"
"Tadi saja paman Chanyeol berkata bahwa paman Chanyeol yang paling imut"
"Tidak Kai, yang benar itu, semalam saja paman duduk diatas pangkuan paman Chanyeol kan? Bahkan kalian saling berpelukan"
Skak mat
…..
tbc
AN:
Hi! Sorry membuat kalian menunggu. Ini adalah tahun terakhir sekoah jadi aku agak sedikit sibuk. Maaf ya. dan TERIMA KASIH BANYAAKKKKKK SEKALI UNTUK KALIAN YANG SUDI MARATHON BACA FF ku ini . astaga aku terharu sekali TT
kahi19 : umurnya mereka, hmm coba tebak deh XD
xiaobee97 : perkembangan Chanbaek masih harus diperkembangkan deh XD makanya masih harus ditunggu
septianaditya1997 : aku juga seru loh baca review kamu :D
kykykykykyk : makasih ya reviewnya panjang sekali TT aku jagi gatau mau reply apa TT huhuhu
