Title: Damaged
Author: AquariusLover
Rating: R
Pairing: Yunjae
Genre: Friendship, Romance, Future AU, Angst
Beta: Motty123
Team Translator : anemone_sea & ClownFish
a/n
Disclaimer: This is a work of fiction. I own nothing and know even less. This story is a stand alone, but it does take place in the TFAN universe, where Yunho played a crucial role.
Summary: Pada suatu hari di musim dingin, ia membuang cinta mereka berdua demi keluarganya. Musim gugur berikutnya, sebuah aksi balas dendam meninggalkan cinta mereka di luar batas ampunan. Dua musim panas kemudian, kemarahan penggemar dan tindakan akhir dari pengorbanan diri akan menegaskan kembali segala sesuatu yang mereka ketahui tentang cinta, kesombongan, keegoisan, dan pengampunan.
T/N
Terjemahan ini telah memiliki izin dan disetujui oleh Aquariuslover, pemilik asli sekaligus penulis Damaged. Hal-hal terkait penyebaran hasil terjemahan dan penggandaan (copying) harus atas seizin tim translator.
CHAPTER 6
"Kenapa televisinya?" tanya Ryeowook, melihat-lihat ke sekeliling ruangan. "Aku tak ingat apakah tadi malam ada tv di sini atau tidak."
"Kita di sini untuk menengok Yunho, bukan supaya kau bisa menonton drama bodohmu," Kyuhyun menjawab jengkel dari kasur Yunho dimana dia terlentang memainkan game di ponselnya.
Ryeowook melotot ke arah Kyuhyun. "Aku pikir kau tidak ingin beradu mulut denganku... Tuan Aku-Belum-Berhenti-Memainkan-Permainan-Bodoh sejak aku tiba di sini."
Kyuhyun cepat-cepat melompat ke sisi kasur menyimpan ponselnya "Dia sedang makan! Dia tidak ingin berbicara dengan kita, dia sedang makan."
Yunho, yang duduk di recliner mengecap ayam panggang paling indah dan udang bumbu yang belum pernah dia rasakan, hanya mengangguk setuju bersama Kyuhyun. Masakan Ryeowook memang bukan main... luar biasa.
"Jadi kau bisa bermain game bodoh tapi aku tidak bisa menonton pertunjukanku?" Ryeowook menuduh, matanya menyipit ke arah Kyuhyun.
"Kau ingin aku melakukan apa? Membelikanmu TV?" bentak Kyuhyun.
"Kau seharusnya melakukan itu untuk Yunho... mengingat Yunho mungkin muak menonton ke dinding di sekitarnya," Ryeowook membentak balik.
"Yunho, jika kau tersedak daging ayam, Ryeowook mungkin tidak akan pernah memasak lagi," Jelas Heechul. Heechul duduk di kursi di sebelah Yunho, menonton percekcokan maknae-maknae-nya sementara Yunho sendiri kalap menyuap makanan.
Yunho berhenti makan untuk berkata, "itu akan sangat mengerikan." Kemudian Yunho merespon dengan menjejalkan udang bumbu besar ke mulutnya.
Kyuhyun yang teramat kesal, dengan dramatis memukul lampu panggilan darurat membuat Ryeowook bertanya, "apa yang kau lakukan?"
"Aku akan menanyai mereka ada apa dengan televisi sialan ini," Kyuhyun melipat kedua tangannya marah.
"Bagus," kata Ryeowook, ikut melipat tangan menyamakan Kyuhyun.
"Ada yang bisa saya bantu?" kata Hana seraya masuk ke ruangan.
"Ada apa dengan televisinya?" kata Ryeowook dan Kyuhyun bebarengan.
"Jae yang mengeluarkannya?" jawab Heechul sebelum Hana bisa mengeluarkan kata-kata. Hana mengangguk mengiyakan.
"Kenapa?" tanya Ryeowook, mereka berdua―Kyuhyun dan Ryeowook― terkejut.
"Dia tidak bilang. Dia hanya menyuruh kami mengeluarkannya. Kami tidak bertanya. Perawatan mesinnya baru dilakukan dan tvnya dibongkar sesuai intruksi." Jawab Hana.
"Kapan?" tanya Yunho, menaruh makanannya, tiba-tiba merasa penasaran.
"Saya rasa di hari yang sama ketika kau memberitahukan kabar baik kepada kami tentang kepulihanmu." Hana terlihat bingung terhadap dirinya sendiri. "Kau tidak ingin TV-mu diambil?"
"Bukan, aku hanya tidak sadar di sini ada TV." Jawab Yunho jujur. Pikirannya belum benar-benar berjalan baik.
"Jae tidak suka berbagi sesuatu denganmu, bahkan sebuah televisi," Heechul berusaha mengingatkan Yunho.
"Aku tahu tipe orang seperti itu," Ryeowook menggerutu membuat Kyuhyun tersentak memperingatkan Ryeowook.
"Aku ingin TV itu kembali," kata Yunho sambil menatap makanannya penuh hasrat. Rasa cemburu Jae memang bukan hal baru baginya.
"Aku akan memberitahu pihak pemeliharaan TV dan mereka akan membawanya kemari. Apa kau membutuhkan hal lainnya?" kata perawat muda tersebut.
"Tidak ada," kata Yunho, mengambil sepotong daging ayam. Hana hanya tersenyum melihat nafsu makan Yunho, kemudian pergi meninggalkan ruangan, menutup pintu di belakangnya rapat-rapat.
"Aku tak percaya kau membandingkan aku dengan Jae!" kata Kyuhyun, merosot turun dari kasur dan melipat kedua tangannya. "Aku tidak cemburu karena drama-dramamu!"
Ryeowook mengerlingkan mata, mengambil alih tempat duduk Kyuhyun di kasur Yunho. "Yeah, benar."
"Aku memang tidak seperti dia." Kyuhyun bersi keras menolak. "Bodoh sekali."
"No comment," kata Ryeowook, menggeliat di kasur kemudian berguling menonton mulut Yunho yang dijejali makanan.
"Kalian berdua diamlah. Aku janji, nanti pulang aku akan menyewakan sebuah kamar hotel untuk kalian berdua selama sejam." Kata Heechul yang merebut salah satu udang Yunho dan membuat Yunho melotot.
"Sungguh?" kata Kyuhyun, menurunkan lipatan tangannya dan berubah riang menghadap Heechul.
"Yaa.. selama ada televisi, okelah untukku! Akan lebih baik jika Kyuhyun menunggu denganmu," kata Ryeowook kepada Heechul lalu tersenyum licik ke arah Kyuhyun.
Kyuhyun mengernyit, menghampiri kasur dan menatap Ryeowook. "Berhenti jahat kepadaku."
"Tentu... sesegera kau setuju pergi ke Inggris!" kata Ryeowook, menatap balik.
"Inggris?" Yunho berhenti makan cukup lama hanya untuk bertanya.
"Itu alasan sesungguhnya kenapa kelinci kecilku begitu rewel. Kyuhyun merencanakan liburan ke... Amazon." Kata Heechul kepada Yunho, tak bisa menyembunyikan rasa terhiburnya.
"Amazon?" Yunho terang-terangan memperlihatkan ketidakpercayaannya.
"Aku ingin pergi ke Amerika Selatan dan melihat reruntuhan suku Maya kuno... aku sudah merencanakan semuanya. Itu akan menjadi perjalanan yang luar biasa. Situs ini yang baru saja digali... dan banyak sekali kota yang hilang. Ini akan menjadi wisata seumur hidup yang luar biasa dan apa yang kudapatkan Cuma suka duka." Kyuhyun menjelaskan panjang lebar sambil berkacak pinggang mendelik Ryeowook.
"Wisata seumur hidup? Lebih seperti mimpi buruk seumur hidupku!" Ryeowook mengeluh, duduk di kasur menghadap Yunho. "Kau harus mengendarai bagal... bagal selama dua hari sebelum kau bisa ke situs wisata karena tidak ada jalan lain! Belum lagi kau perlu mengendarai bagal ini melewati hutan, kan? Hutan! Ada ular-ular raksasa di sana yang cukup besar untuk menelan pria dewasa! Dan jangan lupakan soal serangga, juga piranha!"
"Kita tidak akan berenang," Kyuhyun menghela nafas, terlihat kesal.
Ryeowook berbalik ke arah Kyuhyun. "Aku tidak akan pergi ke hutan bersamamu! Aku ingin pergi jalan-jalan dimana ada layanan kamar, tempat tidur empuk, internet, layanan telepon, jalan, dan peradaban manusia!"
"Kita bakal punya sleeping bag... yaa.. satu." Kata Kyuhyun, menyeringai membayangkan berbagai satu sleeping bag dengan Ryewook.
"Aku tidak akan pergi ke hutan!" Ryeowook mendesis.
"Ryeowook," Kyuhyun memulai seraya menarik tangan kekasihnya yang marah, "Orang-orang yang lebih tua memilih tur ini. Bagi kita, ini cuma hal sepele... dan tidak akan ada penggemar. Wisata bebas penggemar dan hanya ada kita berdua, bukankah itu sesuatu luar biasa? Aku lebih memilih sedikit ular besar ketimbang para penggemar menguntit kita."
"Aku tak akan pergi bersamamu! Aku tidak bisa tidur di ruangan tebuka di benua yang sama tempat ular-ular besar berada bisa memakanku!" Ryeowook bersikukuh, meremas tangan Kyuhyun.
"Pintu terbuka. Siapa itu?" kata Heechul lantang. Sontak Ryeowook dan Kyuhyun memisahkan diri, Kyuhyun segera berdiri di belakang Yunho sementara Ryeowook tetap duduk di atas kasur.
"Kami diperintahkan untuk memasang TV." Dua laki-laki dari pihak pemeliharaan TV membawa sebuah layar datar besar.
"Oh sial, tadinya aku berharap yang datang adalah Jae." Kata Heechul, tiba-tiba nampak depresi.
"Kenapa?" tanya Yunho.
"Dua kelinci ini benar-benar membuatku jengkel dan aku harap bisa menyerahkan mereka kepada seseorang," jawab Heechul dengan jujur sambil menyilangkan kedua kakinya saling tumpang.
"Aku harap dia tidak kembali ke sini sampai kau pergi kalau begitu," bisi Yunho, menyuap kembali sepotong daging ayam.
"Tapi kau berharap dia kembali?" tanya Heechul, terlihat kecewa berat.
Yunho menghela nafas panjang. "Ya," Yunho merindukan Jae lebih dari yang dia duga. Yunho benci melewati hari tanpa dukungan Jae. Malam-malam berlalu dengan buruk, tidur menjadi sesuatu hal yang sulit dan pikirannya berlarian jauh tanpa kehadiran Jae untuk menstabilkannya dan menjadikan Jae sebagai tempat berlabuh.
Heechul mengernyit dan Kyuhyun bersandar lebih dekat ke telinga Yunho dan berbisik sampai hanya mereka berempat yang bisa dengar, "yang mana amat tidak bisa dimengerti, masa lalu itu sendiri akan membuatmu sangat nyaman bersamanya. Jika aku berada di posisimu, aku ingin Ryeowook merawatku."
"Jika kau sakit, kau ingin aku merawatmu." Ryeowook mendesis dari tempatnya duduk.
Heechul tersenyum licik, melipat kakinya ke bawah kursi lalu berkata, "sebenarnya tidak sama... singkatnya, kelinci-kelinci baru saling membuat kebisingan dan bertengkar, tapi selalu berakhir saling bergelayut di leher dan menyatakan cinta mati satu sama lain. Kelinci-kelinci baru ini punya dukungan dari keluarga kelinci dan belum lagi perlindungan dari diktator kelinci agung. Kelinci-kelinci tua yang tidak pernah memiliki dukungan siapapun... mereka Cuma punya ambisi orang lain dan harga diri memainkan permainan untuk menipu dan menghancurkan mereka. Kemudian suatu hari semua permainan licik berhasil dilakukan dan kelinci-kelinci tua berpisah dan saling merobek jiwa masing-masing... dan salah satu dari kelinci tua menjadi kelinci bungkuk agung Jepang."
"Apa maksudmu?" tanya Yunho, menatap Heechul seolah-olah dia sudah kehilangan akal sehat.
"Kau dan analogi kelinci gilamu!" Kyuhyun menggerutu.
"Yunho, aku rasa kita akan memanggilnya sehari hari ini," kata Bill, menatap pria yang nampak jelas kelelahan. Mereka hanya berdua di ruangan dan Yunho terlihat mengkhawatirkan dengan latihan bebannya.
"Tidak. Terlaluuu pagi," kata Yunho. Dia tahu dia libur hari ini. Pengurangan jam tidur selama 6 malam terakhir ini telah berefek padanya, tapi dia harus jalan.
"Tidak, kau terlalu lelah. Kapan suamimu kembali?" tanya Bill seraya melepas beban dari kaki Yunho.
"Aaappanya akuu?!" tanya Yunho, benar-benar merasa dipermainkan. Jika Bill pikir Jae adalah seorang suami, itu artinya Yunho adalah... istri. Yunho sadar, matanya tiba-tiba terasa berkedut.
Bill menatapnya ramah. "Tidak usah repot-repot menolak. Sangat tidak perlu. Apa yang aku katakan padamu tetap rahasia diantara kita. Aku dari Vermont, blue state...*kami sangat berpikiran terbuka. Bahkan pernikahan sesama jenis legal di sana."
"Legal?" Yunho kembali tersadar begitu rasa syok dari pernyataan Bill sebelumnya pergi. Dia tidak bisa membayangkan sebuah tempat dimana dua laki-laki secara sah menikah. Tidak dapat dipercaya.
"Ya, aku punya sepupu gay yang baru saja cerai. Sejujurnya, aku tidak yakin dia benar-benar mencintai suaminya. Aku rasa dia menikahinya hanya karena dia bisa melakukannya. Bukan karena sesuatu seperti yang kau dan Tuan Kim miliki bersama. Dedikasi Tuan Kim kepadamu benar-benar menggugah perasaan." Kata Bill sambil memindahkan Yunho ke kursi roda.
"Gaaaakkkgaakkiiii jiii."Yunho bahkan tidak bisa mengerti kata-katanya sendiri ketika matanya tak henti-hentinya berkedut.
"Aku tidak mengerti, tapi besok adalah hari baru." Kata Bill, mendorong Yunho ke pintu.
Yunho membuka mulutnya hendak menolak disangka gay dan lebih penting lagi menolak menjadi seorang istri ketika Bong Cha muncul di depan pintu. "Bagaimana kabarnya?"
"Bukan hari terbaiknya. Dia kelelahan. Otot-otot dan kata-katanya tidak singkron." Kata Bill, menyerahkan Yunho kepada Bong Cha.
"Baiklah, dia perlu tidur, karena jika Soo Jin tidak memberinya pil tidur, Soo Jin akan memberiku masalah." Kata Bong Cha, membuat Bill tertawa.
"Aku tidak ingin menjadi Soo Jin," kata Bill saat Bong Cha mulai mendorong Yunho kembali ke ruangannya.
"Yunho, kau harus minum pil ini. Kau tidak punya pilihan lain." Soo Jin mencoba memberi alasan kepada pria yang menentangnya tengah di kasur mengganti-ganti saluran televisi menggunakan remote.
Yunho menggelengkan kepala dan menatapnya jengkel. Dia tidak akan minum obat apapun. Ketika dia cukup lelah, dia akan tidur. Bukan berarti dia tidak akan tidur nanti malam. Dia akan tidur sekurang-kurangnya 3 jam. Selama bertahun-tahun lalu, mendapat tidur 3 jam itu sudah sangat beruntung, jadi jika So Jin pikir Yunho akan meminum pil tidur, dia salah.
Soo Jin mendesah, merebut remote dari Yunho lalu mematikan TV. "Kumohon?"
Yunho menggelengkan kepala, mengulurkan tangannya meminta remote-nya kembali. Ini bukan penjara dan Yunho mengutuk kata-kata yang tak mau keluar sekarang ini.
"Kau Cuma punya dua pilihan. Dokter meminta supaya aku memberimu obat ini. Kau bisa menelannya selayaknya anak baik, atau aku akan menembakkannya ke kerongkonganmu. Terserah padamu, tapi kau harus tidur malam ini," katanya, berusaha keras menyembunyikan rasa frustasi.
"Gaaak.. kuumohooon," Yunho berusaha memohon. Dia benci hidupnya, terjebak di kasur dan memelas asih orang lain.
"Maafkan aku, tapi aku tidak punya pilihan."
"Tentu kau punya," kata Jae dari ambang pintu. Dia bersandar ke pintu mendengarkan semuanya.
Soo Jin berbalik cepat-cepat. "Jae, kau kembali!"
"Ya," kata Jae, tapi tersenyum kepada Yunho yang nampak lega bisa bertemu dengannya lagi. Jae kembali menghadap Soo Jin. "Kau bisa pergi sekarang."
"Tidak Bisa. Dokter Lee meminta keras memberi pil ini kepada Yunho," Soo Jin menjelaskan, melawan laki-laki yang dikaguminya.
"Beritahu Dokter Lee, peduli setan apa yang dimintanya. Ingatkan dia bahwa selama Nyonya Jung tidak ada di negara ini, aku punya hak berbicara, jadi ambil pilmu dan pergi." Jae nampak selelah Yunho dan lebih tersinggung.
"Aku tidak bermaksud begitu... aku hanya melakukan pekerjaanku." Kata Soo Jin, terhempas oleh atmosfer dingin Jae.
"Aku tahu. Aku capek. Aku minta maaf, tapi tolong pergi." Jae berusaha nampak pengertian. Soo Jin menganggukkan kepalanya kemudian berlalu dari ruangan. Jae mengikutinya di belakang, menutup pintu.
Lalu kembali ke ruangan untuk menemukan Yunho yang dilanda raut horor tengah menatap ke arahnya. "Ayyyyaahhkuuu?" Yunho berusaha menghindar menanyai tentang keluarganya, karena kenyataan Jae berada di sini bersamanya sudah cukup bagi Yunho untuk memecahkannya. Tapi Jae yang memiliki kontrol terhadap Dokter yang menanganinya? Ayah Yunho pasti mati, tidak mungkin ayahnya akan mengizinkan Jae memiliki kontrol semacam ini... dan bagaimana soal ibunya? Yunho tak bisa percaya, ibunya mengizinkan Jae? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Jae menatap Yunho sendu, berjalan mendekat dengan tangan terangkat, menyibak rambut dari wajah Yunho. "Kita bisa bicarakan ini besok pagi. Soo Jin tidak salah. Kau terlihat kelelahan dan kau perlu tidur."
"Matiii?" tanya Yunho, mulai panik. Ayahnya telah mati dan selama ini dia tidak pernah bertanya. Dia baru saja menerima kehadiran Jae tanpa menanyakan kenapa kehadiran itu sendiri bisa menjadi mungkin.
"Tidak. Dia tidak mati. Dia baik-baik saja," Jae merangkak naik ke kasur, bersebelahan dengan Yunho dan melingkarkan tangannya di lengan Yunho.
Yunho menggelengkan kepala sebab dia tahu itu Cuma kebohongan, karena tidak mungkin ayahnya akan memberi Jae kuasa atas keputusan medis Yunho.
"Kenapa matamu berkedut?" tanya Jae yang teralihkan oleh mata Yunho yang berkedut-kedut.
"Capeekk. Kasiiih tahuuu!" pinta Yunho. Dia harus tahu sekarang, dia bisa merasakan seluruh tubuhnya terguncang.
"Baik, baik. Aku akan memberitahukanmu tapi kau harus tenang. Lebih baik kau capek, karena aku tidak suka dengan apa yang aku lihat." Jae duduk dan menatap Yunho dalam rasa peduli.
"Kumohoon," Yunho memohon saat Jae berpindah dan mencium keningnya, tak bisa menghentikan dirinya sendiri.
Nampak jelas sekali ini bukan percakapan yang ingin Jae bicarakan, tapi dia melakukannya demi Yunho. "Setelah kau di tembak... Dokter bilang tidak ada lagi aktifitas otak. Kau dibebaskan dari alat bantuan pernafasan dan kau menjadi donator organ, jadi mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan dan mendonasikan organ-organmu. Semua keluargamu, teman-teman dan partner kerjamu berkumpul di rumah sakit untuk menyampaikan salam perpisahan."
Jeda sesaat, Jae menyeka setetes air yang bergulir jatuh dari mata Yunho. "Aku sedang bermain ski di Eropa ketika aku mendapat berita kau kena tembak. Aku terbang kembali secepat yang aku bisa untuk menemuimu... semua acara berita membicarakan bagaimana otakmu mati... dan aku tidak bisa mempercayainya. Aku tahu aku bisa membuktinya bahwa itu salah, aku tahu kau tidak benar-benar meninggal. Aku tahu itu."
"Pihak rumah sakit menggila. Kacau, para penggemar menghalangi jalan, tapi aku harus menemuimu. Semua orang berkata aku tidak waras, keluargamu memberitahu semua orang bahwa Junsu, Yoochun dan aku tidak ada di dekatmu. Aku menggunakan semua koneksi yang aku punya untuk bisa mencapai lantai dimana ruanganmu berada... tapi sekali aku di sana, aku memukul bata dinding. Orang-orang yang dulunya aku cintai dan berkerja bersamaku, mereka melirikku seolah aku satu-satunya orang yang menembakmu. Tapi aku tak peduli. Aku sudah seperti robot. Aku harus menemuimu."
Yunho menatapnya terkesima, Jae lanjut bercerita, "Ibumu... muncul dan menghampiriku. Dia membawaku ke ruanganmu dan memberitahu orang-orang supaya pergi. Ayahmu sama sekali tidak senang. Mereka bertengkar. Ibumu mengancam, jika ayahmu tidak pergi, dia akan memberitahu dunia tentang hubungan masa lalu kita. Memang bukan sesuatu yang indah, dan bahkan aku pada waktu itu tidak sadar apa yang ibumu korbankan untukkku. Aku hanya ingat melihatmu di atas kasur terikat dengan semua mesin. Changmin berada di sisimu, melekat padamu, dan dia benci aku..."
Yunho meraih wajah Jae, mengusap air mata dengan lengan kirinya, kemudian Jae tersenyum melanjutkan cerita, "dia sangat membenciku.. sebanyak dia mencintaimu. Dia tak punya ampun kepadaku, karena pada dasarnya kau telah mati deminya. Aku seperti sebuah robot dengan satu tujuan di kepala... tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang dia katakan padaku, bagaimana aku harus muncul di depannya." Jae menggelengkan kepala, membuang ingatan kebencian Changmin.
"Aku berhasil menemuimu. Ibumu memintaku supaya bergegas. Kemudian aku berjanji padamu, jika kau mati..." Jae berhenti ketika dia memperhatikan mata Yunho berpaling cepat darinya. "Kau ingat?"
Yunho memutar kepalanya kembali, mengangguk. Jae meraih tangan kiri Yunho dan menempatkannya di dada. "Aku akan melakukan itu. Sekalipun kita tidak lagi saling bicara lebih dari setahun, sekalipun kita bukan lagi kekasih, sesama anggota grup, atau bahkan teman, kau tetap ada dan itu cukup bagiku. Kau selalu menjadi segalanya bagiku sejak pertama aku melihatmu. Aku mengikuti apapun yang kau lakukan. Ketika kau hendak akan memasuki periode terselubung dimana tak ada berita apapun tentangmu.. aku akan menggila. Aku tahu aku melukaimu dan aku melakukannya dengan maksud... lagi dan lagi.."
Jae berhenti sesaat, menarik tangan Yunho mendekat ke bibirnya lalu...
tadaa~~ akhirnya muncul haha
terjemahan chapter ini sudah selesai semua. hanya untuk mengingatkan pembaca, chapter ke depannya hanya akan dipublish di kohan44 titik wordpress titik com
