~Balasan Review~

ASAKURA AYAKA : aya-chan~
Sasuke emang galauan kok... xD *dicidori*
hehe peace...
tp ntar Sakura yang ngajarin dy bwt ngambil keputusan, meski itu berat.

RAN MURASAKI SS : wew makasih... Q.Q ( terharu dibilang bagus )
Sasori-nii jadi karakter penjelas di akhir nanti... xD he he

ok sekian balasan dari saia...

Sebelumnya saia mengatakan kalau ini mungkin akan banyak melencong dr EYD,.. bagi yang berkenan membaca, saia ucapkan terima kasih..

~Happy Reading~


"Karna satu-satunya yang bisa mengobati kutukan itu… hanyalah benih bunga Qin dalam diri Sakura"

.

.

"Sa…suke…"

.

.

"Aaaakkkhh…!"

.

.

"Aku… tak sanggup mengatakannya"

.

.

"Sayonara…"

Chapter 7 : Stupidity

SASUKE POV

Konohagakure. Mansion Uchiha.

.Tap.

Akhirnya aku sampai juga di mansionku. Langkahku disusul oleh gadis dibelakangku. Tatapannya tak berpaling barang sedetikpun setelah kami meninggalkan desa Sunagakure itu.

"Sasuke…" kudengar suaranya makin mendekatiku. Aku tak bergeming. Kubiarkan jemarinya membelai tubuhku dari belakang. "Kau masih mencintaiku kan, Sasuke?"

Aku tak menjawab. Buat apa? jujur saja, aku mungkin sudah benar-benar melupakanmu kalau saja kau tak muncul lagi sekarang. Menghancurkan semuanya. Mengingatkanku pada dosa yang telah kubuat. Membangunkanku dari mimpi yang tenang.

Yang ada dipikiranku saat ini hanyalah sosok Sakura yang terakhir kali kulihat tadi. Wajahnya… emeraldnya… senyumnya…

"Kau bodoh, Sasuke."

.Srek.

Aku langsung menjauh ketika kurasa pundakku berdenyut. Dan benar saja, darah segar mengalir keluar dari tengkukku dimana ada tanda kutukan dari gadis jalang ini. Sial! aku lengah!

"Kau…sungguh bodoh," Sahut Ino sambil menerka sebagian darah yang mengalir di sudut bibirnya. "Kau telah melukai Sakura-hime yang tak berdosa. Sungguh malang nasibnya."

"Sebenarnya apa niatmu?" kutegakkan kembali tubuhku setelah aku merasa telah cukup kuat lagi. "Kau sengaja memisahkanku dan Sakura."

"Tentu saja. Karna kau milikku."

'akh!'

Seketika tubuhku menegang setelah saat Ino memancarkan seutas tali chakra yang terhubung ke tubuhku. Kurasa ia mencoba mengendalikanku.

"Kau tahu, Sasuke… Kau telah membuang kesempatan untuk menghilangkan kutukanmu," seringai terukir jelas di wajah Ino saat ini. "Karna satu-satunya yang bisa mengobati kutukan itu… hanyalah benih bunga Qin dalam diri Sakura."

.Dheg.

Apa? Benih bunga Qin dapat mengobatiku?

"Sungguh bodoh." cibirnya menyadari perubahan ekspresiku.

"Benih bunga Qin?" ulangku.

"Benih Qin dapat mengobati segala macam penyakit. Termasuk kutukanmu. Benih itu dapat menyerap seluruh chakra kutukan di tubuhmu dan akan membawanya lenyap bersama dengan benih bunga itu."

Benarkah… itu artinya… aku bisa sembuh…? Tapi.. bila benih Qin diambil dari tubuh Sakura… maka itu artinya… Sakura akan… mati?

"Sakura sungguh malang. Orang tuanya mati ditangannya sendiri, kekuatan besar telah menggerogoti separuh tubuhnya, orang-orang desa telah menganggapnya pembawa sial, dan… Lelaki yang dicintainya membutuhkan benih itu untuk hidup."

Jadi… selama ini itu kehidupan yang dijalaninya? itulah sebabnya Gaara menyembunyikan hampir seluruh kenyataan yang terjadi dan mengurung Sakura di gedung Kage?

Maafkan aku, Sakura…

Sungguh…aku merasa sangat berdosa telah melukaimu.

Karna disini… di dunia ini… kaulah satu-satunya yang melakukan hal benar. Mungkin.

.Dheg.

Rasa ini…

Chakra ini…aku mengenalnya…

Ini…Chakra Sakura!

"Ini…Sakura datang kemari?!" pekik Ino. Ia segera berbalik arah menghadap ke luar jendela mansionku.

"Bagus, aku akan memainkan peranmu untuk mengambil benih bunga Qin itu!"

Tiba-tiba saja tubuhku bergerak mendekati balkon kamar mansionku. Ino telah sepenuhnya memegang kendali atas tubuhku rupanya. Sial! sial! sial! aku harus melawan!

"Sasuke…" suara itu..

"Sakura…" kulihat tubuh Sakura yang kini terbalut oleh cakra hijaunya yang pekat dan auranya yang dingin. Tidak. Ini bukan Sakura yang kukenal. Sakura! kendalikan dirimu!

Sial! percuma. Tubuhku malah meloncat mendekati Sakura dengan kunai di kedua tanganku.

Hentikan! aku tak ingin menyakitinya!

"Percuma, Sasuke. Jangan melawanku!" bantah Ino.

.Trang.

Banteng chakra itu tak bisa kutembus. Bahkan tergorespun tidak. Chakra Sakura makin terasa membesar. Bukan. Ini bukan chakra Sakura. Ini chakra lain. Apakah ini chakra dari benih bunga Qin itu?

"Sa…suke…" Sakura mengangkat tangan kanannya, mengarahkannya tepat kepada Ino.

.Whush.

Sebuah gumpalan angin langsung menerjang tubuh Ino.

"Aaaakkkhh… !" tubuhnya terpental jauh dan terhenti saat ia menabrak sebuah pohon besar. Ino nampak tak sadarkan diri, tubuhnya lunglai ke tanah.

Saat itu juga aku langsung tersentak. Kulihat Sakura telah berada di depan Ino. Tangannya masih mengarah ke Ino.

"Tidak! Sakura!"

Terlambat.

Gaara dan seorang lagi entah siapa-yang memiliki rambut merah yang sama seperti Gaara- datang menyusul. Mereka nampak terpaku melihat Sakura yang saat ini telah lepas kendali.

.Whush.

Sekali lagi sebuah angin besar menerpa tubuh Ino. Kali ini cahaya ikut muncul dari diri Sakura.

Selagi tubuhku dapat kukontrol kembali, aku segera berlari menuju ke arah Sakura dan merengkuh tubuhnya.

"Sakura!" kueratkan pelukanku sesaat sebelum cahaya terang menenggelamkan kami semua.

~'~

'Sasuke, kelak jadilah lelaki yang hebat.'

'Lelaki yang hebat itu seperti apa, ayah?'

'Lelaki hebat adalah ia yang bisa melindungi orang yang disayanginya.'

Ayah… maafkan aku. Aku tak bisa melindungi orang yang kusayangi.

"Kau sudah sadar?"

Perlahan aku mulai mengerjapkan mata. Dapat kulihat Gaara tengah memeluk Sakura yang terlelap dan disampingku ada pemuda berambut merah tadi.

"Namaku, Sasori. Aku kakak dari Sakura dan Gaara. Ah, sebenarnya hanya Gaara." Urainya dengan nada santainya.

Aku hanya dapat menatap pemandangan mesra-Gaara memeluk Sakura- di depanku. Aku tahu betul itu. Aku sudah menyelidikinya. Meski Sakura memanggil Gaara dengan embel-embel 'nii', tapi mereka sama sekali tak memiliki hubungan darah.

Dan lagi aku telah mengetahui bahwa Gaara sangat mencintai Sakura. Sang Kazekage ini bahkan meninggalkan desanya demi mengejar Sakura, bukan?

"Aku akan membawa Sakura pulang." tiba-tiba Gaara bangkit dari tempatnya sambil menggendong Sakura. Ia menatapku tajam seolah menyalahkanku atas segala kejadian yang menimpa Sakura.

.Syut.

Segera tubuh mereka menghilang dari hadapanku.

Kulirik sosok pria merah-Sasori- yang masih berdiri di sampingku.

"Kurasa kau butuh penjelasan, bukan?" ucapnya sambil tersenyum. Yeah… banyak hal yang perlu diperjelas. Tapi saat ini aku sudah sangat lelah.

"Tapi mungkin kau sudah mengetahui semuanya. Kalau ada yang ingin kau tanyakan katakan saja padaku."

Aku terdiam sejenak. Memang sebagian besar telah kuketahui.

"Aku hanya ingin minta tolong." sahutku.

Sasori, atau haruskah kupanggil Sasori-nii, menatapku meminta penjelasan.

"Aku ingin memberi tahu Sakura semuanya, kuharap kau bisa menjadi orang ketiga."

". . . . . dengan kata lain aku yang akan menjelaskan semuanya?" ulangnya. "Kurasa Gaara akan membantaiku kalau aku melakukan itu."

"Lantas sampai kapan kalian berniat menyembunyikannya?"

"Kenapa tak kau saja yang melakukannya?"

"Aku… tak sanggup mengatakannya."

Ya… mana mungkin aku mengatakan tepat di hadapan Sakura bahwa aku memiliki misi utama yaitu membunuhnya. Aku tak ingin menyakitinya… lagi.

"Oh… baiklah. Setidaknya aku akan dapat peran disini." candanya. Orang ini… mungkin bisa mencairkan suasana, ketika ia sedang mengatakannya pada Sakura nanti. Kuharap kali ini aku tak mempercayai orang yang salah.

"Eh tunggu!" sahutnya tiba-tiba. "Kalau kau mencari si rambut pirang itu, maaf kami tak menemukannya dimanapun tadi. Dugaanku mengatakan kalau ia telah 'diserap' oleh Sakura. Kau paham maksudku kan?"

Aku menjawabnya dengan anggukan kilat dan ia segera menghilang pergi.

Aku menghempaskan diriku ke ranjang.

"Haaaahh…."

Hidup ini sungguh kejam..

Tuhan, apakah dosa menjadi menu utama di zaman ini?

Sakura…

Apa yang akan terjadi kalau ia mengetahui mengenai kematian orang tuanya dan bunga Qin itu?

Apa yang akan terjadi kalau ia menyadari sikap sebenarnya para warga desa?

Apa yang akan terjadi kalau ia tahu misi utama ku?

Apa yang akan terjadi kalau ia tahu kutukanku dan cara penyembuhannya?

Apa yang akan terjadi…bla…bla…bla…

Sungguh…

Begitu banyak hal yang disembunyikan darimu, Sakura.

Tapi menutupi kenyataan bukanlah jalan yang terbaik.

Suatu saat kau pasti akan mengetahui dengan sendirinya. Dan saat itu kau justru malah akan makin terluka.

Aku ingin membukakan matamu, Sakura…

Meski akhirnya kau akan membenciku…

Dan aku harus meninggalkanmu…

"Sayonara…"

TBC


Bagaimana?

Sebelumnya telah saia peringatkan kalau EYD-nya buruk bukan?
Kritik, saran, request, keluhan, -yang membangun- saia terima...

Mind to Review?

Keep trying my best!

~Shera~