Chapter 5

Little Secret

Sea World Case

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

Sasuke sudah mulai menekuni rencana yang sudah disusunnya bersama dengan Kabuto yang merupakan partner bootloader dan Kimimaro yang agen CIA. Beberapa hari ini dia tampak sangat menekuni bidang komputer untuk meloloskan diri dari tes milik Fuuma Corp.

Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini dia sedang duduk dikelas sambil membuka sebuah buku tebal bersampul abstrak kemerahan dengan tulisan 'Matematika Diskrit' disampulnya. Disebelahnya duduk Hinata yang sedang memperhatikan pelajaran biologi waktu itu sambil sesekali melirik kearah Sasuke.

Hinata's POV

Namaku Hinata, Hyuuga Hinata. Pasti Sasuke-kun sudah cerita banyak pada kalian tentangku kan? Tentang betapa dia sangat menyukaiku, atau...

Betapa dia sangat tidak peduli padaku.

Lihat saja dia sekarang, persis seperti beberapa hari sebelumnya. Membaca sebuah buku tebal dengan ekspresi serius tanpa memperhatikan sekitarnya. Para sensei yang di depan pun nampaknya tidak sadar kalo buku yang dibaca Sasuke-kun itu gak ada nyangkut-nyangkutnya sama pelajaran.

Aku hanya menenggelamkan wajahku diatas mejaku sambil terus mendengarkan (secara terpaksa) pada sensei bermata merah didepan kelas yang menerangkan tentang teori evolusi yang membosankan. Dan Sasuke-kun nyuekin aku, jadi lengkaplah kebosanan yang kualami saat ini.

Apa dia marah sama aku ya? Kok dia jadi jarang bicara? Ah...! Sasuke-kun memang jarang bicara kok. Eh...! Tapi dia kan selalu berwajah girang saat menjelaskan analisisnya dan banyak bicara, kenapa sekarang diam ya? Kira-kira dia marah kenapa ya?

Mungkin dia cemburu kali. Kan aku sekarang menjadi manager Hebi band bareng Sakura yang akan tampil di Fuuma Corp. beberapa minggu kedepan. Dan, itu artinya aku bisa banyak bergaul dengan Kimimaro idolaku itu.

Tapi, kenapa dia cemburu sih? Bukannya dia yang nyuruh aku untuk menjadi manager Hebi? Ada apa sih? Kutanyakan atau tidak ya? Panggil dulu aja deh.

"Sasuke-kun" Panggilku sambil sedikit mendekat kearah Sasuke-kun.

"Hn" Jawabnya dengan ekspresi datar dengan tatapan mata yang tak lepas dari buku tebalnya tersebut. Nah...! Tuh kan, dia cuek lagi.

"Kau gak mau lihat Hebi latihan?" Tanyaku. Sasuke-kun masih membaca buku tersebut dengan tanpa ekspresi.

"Kau mau pulang bareng?" Tanyanya. Yap...! Itu maksudku. Lihat...! Sasuke-kun memang peka banget kan?

"Uhm" Kataku dengan sedikit gugup.

"Mungkin tidak bisa, aku sibuk sekali hari ini. Kau tidak lihat apa aku belajar keras setiap hari" Kata Sasuke-kun. Ih...! Belajar apanya?

"Belajar apanya? Itu bukan buku pelajaran kan?" Dengusku dengan nada kesal. Oke, fix...! Aku, ngambek sama Sasuke-kun. Aku pun menjauhkan diriku dengan wajah masam sambil menatap kearah sensei yang berada didepan. Kulirik sebentar Sasuke-kun yang nampaknya sekarang sedang menatapku dengan tatapan penasaran. Sudah terlambat, kalo aku ngambek ya ngambek.

"Kamu kenapa sih?" Tanyanya setelah dia mengubah ekspresinya menjadi datar.

"Gak papa" Kataku sambil menggembungkan pipiku, mungkin ini pertanda ngambek ya? Sasuke-kun pun mendirikan bukunya sambil masih tetap melihat kearahku dengan tatapan menyelidik. Tatapan yang selalu dia gunakan saat dia sedang menginterogasi tersangka. Beberapa saat kemudian dia mendesah pelan sambil mengalihkan pandangannya kembali pada bukunya.

"Oh...! Ya, sudah" Katanya santai. Aku pun menolehkan kepalaku kearah Sasuke-kun dengan tatapan kesal. Ingin rasanya aku tumpahkan semua kekesalanku pada cowok yang duduk disampingku ini.

"Hei...! Kalian berdua" Aku pun terkesiap sejenak mendengar suara tersebut. Itu suara yang mampu membuat Sasuke-kun mengalihkan pandangannya dari buku menuju ke depan kelas. Suara Kurenai-sensei yang sedang kesal.

"Sensei perhatikan dari tadi kalian berdua kok bicara terus sih. Sensei masih maklum waktu pertama, mungkin Hinata mau tanya pada Sasuke. Tapi, ini sudah yang ketiga kalinya dalam pelajaran sensei, jadi sensei menegur kalian. Apa yang kalian lakukan tadi?" Kata Kurenai-sensei dengan tatapan tajam dari mata merah miliknya. Seluruh kelas tampak takut-takut untuk menatap kami yang berada di barisan belakang, karena itu artinya mereka harus memindahkan arah pandangan mereka dari depan.

"Bukan apa-apa. Hanya saja, Hinata sedang mengingatkanku untuk tidak membaca buku lain saat pelajaran" Aku pun menoleh kearah suara tersebut. Sasuke-kun sekarang sedang berdiri sambil membaca buku yang berada ditangannya sebelum dia mengalihkan pandangannya pada Kurenai-sensei. Bodoh...! Apa yang dia lakukan? Apa yang dia pelajari selama setahun disini? Kurenai-sensei adalah orang yang sangat tegas, bahkan dengan Sasuke-kun yang genius sekalipun.

"Oh...! Lalu, buku apa yang kau pegang itu, Sasuke?" Tanya Kurenai-sensei.

"Matematika" Jawabnya datar sekali.

"Kau lupa mengerjakan PR matematika dan takut di lempar bakiak sama Anko ya?" Kata Kurenai-sensei.

"Tidak juga, Jika aku terlalu takut dengan Anko-sensei, aku tidak akan berbuat seperti ini didepan anda, Kurenai-sensei" Katanya. Kurenai-sensei tampak sedikit tersenyum, senyum yang mengerikan. Sasuke-kun memang ahli soal beginian.

"Baiklah, baiklah, lalu apa alasanmu membuka buku matematika saat pelajaran biologi? Apakah kau sudah merasa bisa dengan pelajaran ini?" Kata Kurenai-sensei.

"Saya hanya berani bertaruh jika saya bisa menjawab apa pun yang sensei berikan pada saya tentang materi hari ini" Kata Sasuke-kun. Kenapa dia melakukan sesuatu yang gila seperti ini sih? Apa untungnya bagi dia? Ini justru menguntungkanku kan? Eh...!

"Baiklah, aku akan bertanya padamu sesuatu tentang Teori milik Oparin dan Urey? Kau tahu teori itu?" Kata Kurenai-sensei. Heh...! Dia menanyakan hal itu? Bukannya tadi dia masih menerangkan soal Louis Pasteur? Sensei curang ah...!

Tapi, aku yakin Sasuke-kun sudah tahu teori itu. Ini hanya sekedar teori tentang asal usul kehidupan. Dalam teori, Louis Pasteur hanya mengemukakan bahwa kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya sehingga Oparin dan Urey mencoba menjawab tentang asal usul kehidupan.

Sebenernya itu bukan teori yang ruwet. Secara sederhana, bahan-bahan dari atmosfer bereaksi menjadi sebuah sel yang hidup, mulai dari sintesis asam amino sampai sintesis protein.

"Sensei belum menerangkan hal itu kan? Tapi, baiklah, aku tidak begitu mengerti teorinya, tapi itu tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi" Kata Sasuke-kun dengan nada datar. Wajah Kurenai-sensei tampak merah menahan marah mendengar ucapan Sasuke-kun.

"Maksudmu?" Kata Kurenai-sensei.

"Sintesis asam amino memang mungkin, tetapi tidak mungkin untuk mereaksikan asam amino tersebut menjadi protein tanpa cetak biru dari DNA" Kata Sasuke-kun. Yah...! Hal itu tidak terlalu kupikirkan sih, aku cuman tahu teorinya aja.

"Percobaannya kan berhasil? Apa kau mau meragukan mereka?" Kata Kurenai-sensei dengan sengit.

"Huh...! Nampaknya para ilmuwan itu hanya ingin memaksakan kehendak saja. Bahkan ilmuwan sekarang pun susah untuk menggabungkan asam amino tersebut menjadi protein di laboratorium" Kata Sasuke-kun. Eh...! Bener juga yah?

"Kebetulan yang menguntungkan mungkin" Kata Kurenai-sensei dengan ngotot.

"Jika dihitung dengan teori peluang, terbentuknya protein itu satu dibanding satu zillion. Dan dalam matematika, itu berarti impossible" Hah...! Dia berhasil mematahkan argumen Kurenai-sensei dengan wajah datar semacam itu dalam pelajaran biologi? Dan, apa itu zillion?

"Lalu? Kau punya teori lain?" Kata Kurenai dengan nada menantang kearah Sasuke-kun. Cowok yang sedang berdiri itu pun cuman angkat bahu.

"Tidak, bahkan jika teori tersebut ditemukan, tidak ada manfaatnya bagi hidupku. Yang aku pikirkan sekarang adalah kenapa pelajaran Evolusi itu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dengan bukti yang masih samar, dan kemudian teori itu diterima secara luas tanpa ada kritik dan lain sebagainya" Kata Sasuke-kun enteng. Sekelas hanya memandang kearah mereka berdua secara bergantian tanpa menyahut. Debat macam apa ini?

"Sasuke, pintu keluarnya ada disana" Kata Kurenai-sensei. Inilah hal yang selalu dkatakan apabila ada seorang murid yang membuat Kurenai-sensei kesal dengan melanggar tata tertib. Tapi, tampaknya bukan cuman itu saja yang membuat Kurenai-sensei kesal.

"Baiklah, Kurenai-sensei. Kau boleh mencatat poin yang satu ini. Poin pelanggaranku adalah 30 poin. Aku selalu mencatat sesuatu saat aku diperingatkan oleh guru" Kata Sasuke-kun sambil beranjak dari mejanya. Kurenai-sensei tampak dongkol dengan ucapan Sasuke saat itu.

KRINGGGG...!

"Are?" Aku pun terkejut begitu mendengar bel yang berbunyi nyaring tersebut. Dan tiba-tiba saja, tangan Sasuke-kun langsung menggenggam tanganku. Aku yang terkejut pun hanya menoleh kearah Sasuke-kun yang saat itu sedang tersenyum kearahk. Aku pun langsung mengambil buku dan tas ku dan kemudian berlari bersama Sasuke-kun keluar kelas.

"Hei...! Kembali kalian" Teriak Kurenai-sensei.

"Sensei yang menyuruh kami keluar" Kata Sasuke-kun sambil berlari menuju ke tempat parkir dan langsung melajukan mobilnya. Dan...! Kami berdua pulang bareng.

-0-

"Are? Darimana kau tahu itu?" Kataku dengan nada sedikit terkejut. Sasuke-kun baru saja mengatakan bahwa dia tidak marah padaku, dia hanya perlu waktu untuk serius sebelum tes itu.

"Terlihat jelas dari ekspresimu tahu" Kata Sasuke-kun. Sekali lagi, betul kan, dia cowok yang peka?

"Uhm...! Arigatou, Sasuke-kun. Ngomong-omong, kita akan pergi kemana?" Tanyaku ketika aku sadar bahwa ini bukan jalan menuju rumah. Suasana menjadi lebih gelap karena bayangan hijau menutupi sebagian sinar matahari yang sudah condong ke barat. Nampaknya, ini sebuah hutan, atau taman. Eh...! Ngapain Sasuke-kun mengajakku ke hutan? Jangan-jangan...

"Hentikan pemikiran bodohmu itu. Aku hanya punya sedikit kejutan untukmu" Kata Sasuke-kun. Aku memandangnya dengan tatapan heran. Beberapa saat kemudian aku pun sedikit menjauh dari Sasuke-kun.

"Eh...! Apa yang kau maksudkan dengan pemikiran bodoh itu, baka" Semprotku. Sasuke-kun hanya memutar bola matanya dengan tatapan tak tertarik.

"Jangan membuatku mengulangi perkataanku lagi" Katanya yang langsung membuatku bingkam dan kemudian duduk seperti biasa sambil menggembungkan pipiku. Sudah jelas kan? Dia tahu kalo aku pecinta hentai, jadi dia tahu jalan pemikiranku. Aku pun menengokkan kepalaku ke luar jendela. Pohon yang lebat menutupi cahaya matahari dengan warna hijau segar dari daunnya. Tiba-tiba, mobil yang dikendarai Sasuke-kun pun berhenti.

"Hei...!" Kataku mencoba untuk protes pada Sasuke-kun. Sebelum aku sempat menoleh kearah kursi kemudi, penglihatanku menjadi gelap.

"Hei...! Apa-apaan ini?" Protesku makin keras.

"Sudah, tenanglah sebentar Hinata. Aku akan menunjukkan sesuatu yang sangat indah untukmu" Bisik Sasuke-kun. Sesuatu yang indah? Otakku kemudian berpikir keras untuk memikirkan sesuatu yang positif. Tapi, aku gak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Sasuke-kun saat ini. Pandanganku sudah tertutup oleh kain karena 'kejutan' yang dikatakan oleh Sasuke-kun.

"Baiklah. Turun dengan hati-hati ya" Kata Sasuke-kun sambil menggandeng sebuah tanganku.

"Eh...! Eh...!" Kataku mengeluh begitu Sasuke-kun tiba-tiba menarik sebuah tanganku untuk keluar dari mobil. Udara segar dan basah langsung menyambutku begitu aku menginjakkan kakiku di tanah sebelum Sasuke-kun menarik sebelah tanganku lagi dan menarikku pelan-pelan entah kemana. Kan mataku ditutup.

"Hati-hati jalannya. Kabarnya disini banyak ular lho...!" Kata Sasuke-kun. Tampaknya nadanya berubah, biasanya Sasuke-kun selalu bernada dingin dan cuek. Tetapi untuk yang satu ini, dia agak ceria dan sedikit menahan tertawa saat menggodaku. Jadi pengen lihat ekspresi wajah Sasuke-kun saat ini.

"Baiklah, mungkin kau bisa membuka penutup matanya sekarang" Katanya sambil melepaskan kedua tanganku dan beberapa saat kemudian, kurasakan sentuhan lembut di pundak kiriku. Aku pun melepaskan penutup kepalaku dan kemudian terbelalak terkejut melihat apa yang berada didepanku.

"I...Ini" Kataku dengan nada takjub. Sebuah padang bunga dengan warna yang cerah dan ceria dan dipenuhi dengan bunga yang sangat banyak sekali. Kulihat kesebelah kananku dimana Sasuke-kun sedang berdiri sambil memandang kearah padang bunga tersebut dengan tatapan tak kalah takjubnya denganku.

"Aku sudah berulang kali kesini, tetapi aku masih takjub dengan pemandangan yang satu ini" Kata Sasuke-kun sambil sedikit tersenyum kearahku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum dan mendekat kearah Sasuke-kun.

"Hei...! Aku punya sedikit tantangan padamu. Mau coba?" Kata Sasuke-kun sambil melepaskan rangkulan tangannya dariku. Aku hanya mengangguk pelan sambil memandang kearah Sasuke-kun.

"Kita berdua berjalan dari sini kesana dan kemudian memetik bunga yang paling indah. Kita bandingkan kedua bunga kita. Tapi, jalannya lurus dan gak boleh balik" Kata Sasuke-kun sambil menunjuk rute yang bakalan kami berdua lewati.

"Setuju" Kataku sambil berlari mendahului Sasuke-kun kearah padang bunga tersebut. Bau harum semerbak langsung menyerbu hidungku, bau harum khas alam yang sudah lama tidak kucium. Maklum, aku kan anak rumahan. Kutolehkan kebelakang dimana Sasuke-kun tampak masih dengan santainya berjalan kearah padang bunga tersebut.

Setelah sampai dipadang bunga tersebut. Aku pun berhenti dan mulai mengobservasi bunga-bunga tersebut. Kelihatannya sih mudah, hanya mencari bunga yang paling indah di padang bunga tersebut. Tapi dengan banyak bunga yang disini (dan semuanya indah-indah) terasa sangat sulit untuk menemukan bunga yang terindah. Ditambah lagi Sasuke-kun mengemukakan peraturan untuk tidak boleh kembali lagi. Aku harus benar-benar teliti untuk mencari bunga yang terindah.

Bunga warna merah itu tampaknya indah, ah tapi jangan terlalu tergesa-gesa deh. Aku pun terus berjalan sambil melihat berbagai warna yang indah ini. Bunga kuning itu, ah...! Tampaknya ada yang lebih bagus di depan sana.

"Eh...!" Gumamku ketika aku kepikiran sesuatu. Jadi, ini rasanya menyesal. Aku sudah sampai hampir di ujung padang yang di katakan oleh Sasuke dan kemudian aku menyadari sesuatu. Bunga yang disini tak seindah dengan yang sudah kulewati tadi. Mungkin karena disini banyak sekali parasit yang tumbuh sehingga bunganya tidak mekar dengan sempurna.

Dan, yang jadi masalahku, aku belum memetik apa-apa.

"Hei...! Hinata, sudah kau pilih bunga yang terindah?" Kudengar suara Sasuke-kun dari belakangku. Jadi, ini maksud dari Sasuke-kun jika peraturannya tidak boleh kembali. Aku pun berbalik kearah Sasuke-kun untuk menjelaskan semuanya dan kemudian kembali ke awal lagi.

"Ano..." Aku terdiam sejenak begitu melihat wajah dari Sasuke-kun. Sebuah jari sudah terletak di depan bibirku sebelum aku sempat mengucapkan apa-apa. Jari tersebut memegang sebuah bunga berwarna merah muda. Aku pun menatap seseorang yang memegang bunga tersebut, Sasuke-kun yang saat itu sedang menatapku dengan lembut.

"Kau sudah mengerti kan, apa yang disebut cinta?" Kata Sasuke-kun. Hah...! Cinta? Oh...! Aku mengerti. Huh...! Bagus sekali. Kau tidak akan bisa mendefinisikan hal itu sampai kau mengalaminya sendiri.

Ketika kau memilih manakah bunga yang terindah, kau memang harus memilih dengan sepenuh hati bunga tersebut. Tidak mencari adakah bunga yang lebih baik darinya atau lebih indah. Itulah yang dinamakan cinta. Aku pun mengangguk mengerti. Beberapa saat kemudian Sasuke-kun menarik sudut bibirnya untuk menyunggingkan seulas senyum.

"Jadi, kau memilih bunga itu?" Tanyaku pada Sasuke-kun yang hanya dijawab dengan anggukan pelan. Bunga itu adalah bunga Cherry Blossom, bunga merah yang kutemui waktu aku berjalan di padang bunga tadi. Tak kusangka aku melewatkannya.

"Yah...! Kombinasi warna yang feminim sangat menarik" Kata Sasuke-kun. Dia kemudian menyibakkan rambut di telinga kiriku dan meletakkan bunga tersebut diatas telingaku. Aku hanya tersenyum gugup dan menahan geli ketika tangan Sasuke-kun menyentuh bagian belakang telingaku. Jantungku berdebar-debar, meskipun aku tidak tahu karena apa.

Aku belum pernah pacaran sebelumnya dan Sasuke-kun juga belum pernah melakukan ini sebelumnya. Kalo aku gugup itu wajar kan? Tapi kelihatannya Sasuke-kun tidak begitu gugup tuh, terlihat seperti sebuah adegan biasa dimatanya. Eh...! Tunggu dulu, jika ini memang adegan biasa baginya, maka...

"Bunga itu adalah salah satu bunga terindah di dunia. Hanya orang yang tahu ilmu bunga yang mengetahuinya" Kata Sasuke-kun sambil memindahkan tangannya ke pipiku. Aku pun memegang tangan Sasuke-kun dengan lembut dan menurunkannya sambil menyunggingkan seulas senyuman lembut. Aku tahu apa maksudnya, hanya orang yang benar-benar mengerti tentang pasangannya lah yang bisa mencintai pasangan tersebut dengan sepenuh hati dan menerima segala kebaikan dan kekurangan pasangannya.

Kulihat ekspresi Sasuke-kun saat mengatakan hal itu. Wajahnya tetap datar sambil menggenggam balik tanganku. Beberapa saat kemudian dia berbalik sambil tersenyum.

"Baiklah, kita pulang"

-0-

"Hei...! Ada masalah apa nih? Tumben diem" Seseorang menepukku dari belakang saat aku sedang berdiri di beranda atas. Aku pun menoleh kearah orang tersebut dan melihat seorang cowok berambut coklat yang sekarang berdiri disebelahku sambil melihat padang rumput taman bermain di bawah kami.

Cowok itu adalah Neji, Hyuuga Neji. Dia adalah kakak laki-lakiku. Dia sekarang kuliah semester 3, jadi dia dua tahun lebih tua daripada aku. Dan, sifatnya yang selalu siscon itu sungguh menganggu.

"Ngomong-ngomong, udah lama gak lihat si ayam itu nganterin kamu. Ada apa-apa?" Tuh, kan. Dia selalu mencampuri urusanku kalo soal cowok dan memarahiku kalo aku pulang malam, meskipun Tou-chan bilang 'gak papa' ketika aku bilang kalo aku keluar bareng Sasuke-kun. Kelihatannya Tou-chan suka banget sama Sasuke-kun, tidak seperti Nii-chan yang selalu curiga kalo ada apa-apa.

Padahal Nii-chan sendiri juga sering gonta-ganti cewek tuh. Mungkin itu kali ya yang membuat dia jadi siscon. Dia gak rela adiknya yang imut dan manis ini dipermainkan oleh cowok seperti dirinya mempermainkan hati cewek. Maklumlah, Nii-chan memang keren, tampan, tajir, dan juga cerdas (tapi lebih keren, tampan dan cerdas Sasuke-kun dong)

"Gak ada apa-apa kok" Kataku dengan tenang. Yah...! Sebenernya aku masih kepikiran dengan sikap Sasuke-kun yang sama sekali tidak gugup tadi siang, seolah dia sudah biasa melakukannya. Apakah dia memang sudah biasa melakukannya ya?

"Itu apaan sih?" Kata Nii-chan sambil menunjuk kearah telinga kiriku.

"Cherry Blossom. Dari Sasuke-kun" Kataku singkat.

"Oh...! Dapet darimana dia? Kok cuman setangkai?" Nah, dia mencampuri urusan orang kan?

"Aku gak tahu tempatnya. Tapi, itu sebuah padang bunga yang indah dan sejuk karena dikelilingi oleh hutan" Wajah Nii-chan langsung berubah asem saat mendengar ucapanku tersebut.

"Si ayam itu mengajakmu ke hutan? Kalian ngapain aja disana? Kamu gak diapa-apain kan?" Katanya dengan nada marah. Yah...! Mulai lagi deh sifat sisconnya itu.

"Enggak"

"Yang bener?"

"Enggak"

"Kamu diancam supaya jangan ngomong ya?" Nii-chan pun mulai ngelantur bicaranya. Aku hanya memutar bola mataku mendengar ucapan Nii-chan tadi.

"Sudahlah, Neji. Jangan terlalu mencurigainya" Kata seseorang. Aku pun langsung menoleh dan melihat seseorang denganrambut coklat yang senada dengan Nii-chan sedang berdiri dengan pose khas dewasa miliknya. Dia adalah Tou-chan, Hiashi, Hyuuga Hiashi.

"Tapi, Tou-chan..."

"Ssssttt...! Sasuke itu tidak sepertimu" Kata Tou-chan sambil berjalan dan kemudian berhenti di sampingku.

"Bagaimana Tou-chan tahu?"

TBC

Sementara Sasuke sibuk menyiapkan rencananya untuk menyelidiki Firmware AMI, Hinata sibuk sendiri dengan perasaannya pada Sasuke.

Untuk chapter selanjutnya, kisah dari Hiashi.

Happy Read