Married ?
.
.
.
Chapter 7
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Indonesian
Genre : Friendship, Romance, Drama, Sacrifical & Married-life
Cast : Sakura H., Shikamaru N., Ino Y., Sasuke U., and other.
.
.
Semua karakter yang ada disini milik MK.
Saya cuma minjem bentar.
.
WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).
.
.
Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya mengucapkan terimakasih buat para readers yang mau membaca dan mereview fic gaje ini. Dan Author juga mau minta maaf sebesar-besarnya apabila author melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja sampai membuat readers tersinggung ataupun marah. Gomennasai Minna.
Sekarang waktunya menanggapi review :
Guest chapter 6 : saya tebak itu yang datang SASUKE mwuehehehehehahahaha
Jawab : Dari pada senpai penasaran, langsung ke cerita . Gemennasai senpai #bungkukbungkuk.
Myosotis sylvatica chapter 6 : pendek amattapi gapapa lah, yang penting udah update *nyengirditimpuk bantal* ditunggu kelanjutannya
Jawab : Hehehehe, gomenne senpai, sip (y) .
dara093 chapter 6 : wah wah siapa yg dateng tuh *jangan2ino. apa kata dunia. mungkin shikasaku bakal bikin alasan lagi atau orang lain? shika mantepin hati dong, masa pnya dua cewek hwaiting next chap :)
Jawab : Hahaha... iya Shika lagi bingung mungkin senpai #Plaaak.
TitaniaGirl chapter 6 : kok aku ngerasanya shika sama saku jadi jahat banget y sama ino? oke ditunggu next chap
Jawab : Saya juga kadang berpikir seperti itu senpai /ditimpuk Ino pake sendal/ Arigatou.
CherrySand1 chapter 6 : Lanjutt! Penasaran siapa orang depan pintu apartement shika.. Ino kah? .-.
Jawab : Iya senpai. Arigatou udah mau review.
aaaa chapter 6 :next
Jawab : Sip (y) , makasih senpai udah mau review.
gapunya akun chapter 5 : aw pas di mobil shika sweeeeet3 lopelopelah pokoknyamah xD gomen baru baca chap 5:)
Jawab : Benarkah? arigatou. Ngak papa, malah author makasih sama senpai yang udah nyempatin buat baca.
HAPPY READING ^_^ .
.
.
.
.
.
Angin malam berembus sangat kencang membuat siapa pun bisa kedinginan dibuatnya. Keadaan terlalu sepi saat ini sampai hanya terdengar suara angin. Helaian-helaian rambut mulai bergerak-gerak sesuai dengan arahnya berembus. Membuat suasana bertambah menegangkan.
Kami hanya diam terpaku, asyik berkutat dengan pikiran masing-masing. Oh, ayolah alasan apa lagi yang harus keluar dari mulutku. Kenapa tadi bukan Shikamaru saja yang membukakan pintu. Ini salahku sendiri karena tidak mengeceknya terlebih dahulu, begitu cerobohnya aku.
"Kenapa kau bisa berada di sini?"tanyanya dengan nada terkejut, tak menyangka hal ini. Aku mulai kebingungan dibuatnya.
Tenanglah Sakura dan jawablah sekarang. Jangan sampai dia curiga terhadapmu, mengerti.
"Aku melupakan sesuatu di sini dan sekarang aku akan kembali pulang."jawabku mantap, untung saja aku tak tergagap ketika mengatakannya.
"Hahahaha, kenapa suasana tegang sekali, aku tak mungkin curiga terhadapmu Forehead."iya benar. Dia adalah Ino Yamanaka, sahabatku.
Aku sangat bingung kenapa dia bisa berada di sini. Bukankah tadi dia pergi bersama teman-temannya. Kenapa ini harus terjadi, mengejutkan sekali. Mebuat jantungku berdetak begitu cepat.
"Bukankah kau tahu password apartemen pangeranmu, kenapa harus memencet bel?"tanyaku heran, sebenarnya hanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Shikamaru melarangku melakukannya. Dia bilang untuk memencet bel terlebih dahulu baru boleh menekan password apartemennya."katanya dengan nada kesal.
"Dan tunggu, kenapa kau berada di sini? bukankah kau sedang berjalan-jalan tadi?"
"Hanya mampir, bukankah jarak ke sini tak terlalu jauh. Lagi pula rumahku melewati arah yang sama. Karena kau telah di sini Forehead, jadi nanti pulang bareng yuk."senyum lebar terlihat di wajah Ino. Dia begitu senang entah karena apa.
"Ah, aku hanya mengambil handphoneku yang ketinggalan Ino. Bukankah aku harus belajar."untungnya aku masih bisa mengelak. Entah kenapa perasaan bersalah mulai terngiang di telingaku.
"Ah, benar. Kau harus belajar."kata Ino sedikit kecewa.
"Siapa?"tanya Shikamaru tiba-tiba, yang telah berdiri tak jauh dari tempat kami berada.
"Ah, Shika."Ino langsung pergi ke arah Shikamaru. "Kenapa dengan pipimu?"tanyanya sambil menyentuh pipi lebam Shikamaru.
Melihat hal tersebut membuatku langsung menutup pintu apartemen Shikamaru dan berjalan keluar. Jika aku terus berada di sini bisa-bisa Ino curiga, lebih baik aku pergi keluar saja.
Terus berjalan dan berjalan, tak terasa aku telah berada di sebuah taman. Duduk di salah satu ayunan, menggerakkannya naik turun. Aku mulai menunduk menenggelamkan kepalaku lalu termenung. Tak tahu kenapa aku mulai merasa sangat bersalah. Tak curiga ya? Ino bahkan tak terbersit kata-kata itu di kepalanya. Kenapa dia harus terlalu percaya. Aku takut dia akan sangat terluka jika mengetahui kebenarannya. Aku tak sanggup kehilangan sahabat terbaikku. Terlalu asing jika dia harus pergi dari sisiku. Ino maafkan aku, aku benar-benar minta maaf.
Sudah 20 menit aku menunggu di luar. Tubuhku rasanya hampir membeku karena cuaca yang semakin dingin. Tapi ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebohonganku kepada Ino. Aku mulai tersenyum kecut.
"Kau kedinginan?"kudengar suara seseorang. Hangat, dia bahkan menyentuh tanganku. Perlahan aku mengangkat kepalaku, melihat siapakah dia.
"Sasuke."
Terkejut, ya aku benar-benar terkejut. Sejak kapan dia ada di sini? Kenapa juga dia bisa berada di sini. Aku bahkan tak mendengar suara langkah kaki seseorang. Apa itu terjadi karena aku terlalu khusuk termenung? Berbagai pertanyaan mulai memenuhi otakku.
"Kau..."kataku terpotong. Namun detik berikutnya aku benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukannya kepadaku. Dia...
...menciumku.
Dia benar-benar menciumku. Aku membelalakkan mataku tak percaya. Saking kagetnya aku hanya mematung, bahkan kerja otakku menjadi melamban, benar-benar lamban.
Tapi detik berikutnya lagi, aku dibuat semakin terkejut dengan kedatangan seseorang. Dia terpaku ketika melihat kami dalam keadaan seperti ini. Aku melihat kilat kemarahan yang terpancar dari matanya, benar-benar sangat menakutkan. Dan dia mulai berjalan menjauh dariku.
Ketika melihatnya pergi, tubuhku benar-benar ingin memberontak. Aku tak tahu kenapa tanganku bergerak mendorong Sasuke yang masih mencium bibirku dan menamparnya. Lalu mulai mengejar punggung yang telah menghilang dari penglihatanku. Mengabaikan Sasuke yang terjatuh di tanah dengan pipi yang memerah.
Sekarang pikiranku hanya terfokus pada sesuatu, yaitu mengejarnya dan menjelaskan semuanya. Aku tak ingin dia salah paham, aku tak ingin dia marah apalagi sampai menjauhiku. Aku sendiri tak tahu kenapa aku menginginkan semua itu. Yang jelas sekarang aku harus menemukannya. Berlari sekuat tenaga menuju apartemennya.
Setelah berada di depan pintu apartemennya aku langsung memencet bel beberapa kali dan terus menggedor-gedor pintunya tak sabaran. Menunnggu seseorang yang ada di dalam membukakan pintu untukku. Tolonglah buka. Namun tak ada respon dari dalam,tak ada yang membukakan pintu. Apa dia sangat marah kepadaku?
Tes.
Tes.
Tes.
Tak terasa air mataku jatuh dengan derasnya tanpa bisa kutahan.
"Shika buka..hiks..hiks..."
"Shika buka...hiks.. Tolong buka."
Kalimat itu yang terus kuucapkan berulang-ulang sambil menggedor-gedor pintu apartemennya.
"Aku tahu kau di dalam. Tolong buka...hiks...hiks..."
"Aku bisa menjelaskan semuanya.. Tolong buka hiks..hiks...buka."
Terus berusaha membuat seseorang di dalam membukakan pintu tapi tetap tak ada respon. Aku mulai menyerah dan terduduk di depan pintu apartemennya. Meringkuk di lantai yang dingin, memeluk kedua lututku dan menenggelamkan kepalaku sambil terus menangis berharap Shikamaru membukakan pintu.
"Kenapa kau di sini?"tanya seseorang dengan nada datar serta dingin.
Kutolehkan wajahku menatapnya. Shikamaru. Kulihat dia mulai berjongkok menyejajarkan tubuhnya denganku. Menghapus air mata yang mengalir di mataku dengan ibu jarinya. Aku ingat dia pernah bilang tak ingin melihatku menangis lagi, karena aku terlalu jelek dipenglihatannya. Aku mulai menundukkan kepalaku dalam, tak ingin memperlihatkan wajah jelekku kepadanya.
"Ja...jangan melihatku."kataku masih dengan sedikit sesegukan.
"Kau tak kedinginan?"
Tiba-tiba air mata mulai mengalir lagi. Bahkan dia masih bisa mencemaskanku di saat seperti ini, di saat dia sedang marah kepadaku.
"Jangan hiks..hiks...terlalu mencemaskanku begitu...hiks...hiks...aku yang salah...hiks...hikss maafkan aku...hiks..."kataku masih tetap tak mengubah posisi.
Benar-benar jika begini aku orang yang tak berguna hanya bisa menyusahkan dia saja. Padahal aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi orang yang kuat. Aku tak ingin membuat seseorang repot karenaku. Dan bertahun-tahun aku telah melakukan hal itu. Tak membutuhkan pertolongan orang lain, tak meminta sesuatu bahkan tak menangis hanya untuk tak menyusahkan orang di sekelilingku. Tapi kenapa? Kenapa aku sangat lemah ketika di hadapannya? Kenapa aku terlihat sangat rapuh, selalu saja menyusahkannya bahkan menangis di hadapannya?
"Jangan menangis."katanya sembari menepuk-nepus kepalaku.
Ketika mendengar perkataannya aku mulai menghapus air mataku kasar. Ah, lagi-lagi dia menepuk kepalaku dan seperti biasa rasanya sakit. Bahkan ketika di keadaan seperti ini, dia masih tidak bisa sedikit romantis.
Aku mulai mengangkat kepalaku perlahan lalu menatapnya. Ekspresinya sungguh tak bisa kutebak. Tapi hanya satu yang kutahu, aku tak suka ketika melihatnya seperti ini.
"Kau bisa membeku jika terus duduk di sini Nona Haruno."katanya dengan nada dingin lalu menggendongku ala bridal style.
"Lepasakan aku Shika."kataku sembari sedikit memberontak.
"Diam, kau tambah mempersulitku."reflek aku langsung diam. Ah, sekali lagi aku menyusahkannya.
Lalu dia menurunkanku di kasur yang kutempati, dengan cara melemparku. Sekali lagi aku bilang dia benar-benar tak romantis, bahkan di keadaan seperti ini dia bersikap begini. Seharusnya dia menurunkanku perlahan bukannya melemparku.
"Dasar, sakit tahu."dengusku sebal sambil melemparinya bantal.
"Itu hukuman karena membuatku marah. Dan kita akan bicarakan semuanya besok. Sekarang kau tidur."katanya sangat dingin bahkan aku sampai terdiam dibuatnya sambil menangkap bantal yang kulempar lalu melemparkannya lagi ke arahku.
"Aw, Shika sialan."teriakku karena bantal yang dia lempar mengenai wajahku.
Blam...
Bunyi pintu ditutup agak keras.
Aku kemudian menghela napas. Dia bilang akan membicarakannya besok. Seperti dia akan melepaskanku sekarang dan akan melahapku hidup-hidup saja besok. Ya, mungkin sekarang aku harus menyiapkan mental untuk besok menghadapinya. Tapi tetap saja aku sangat berterima kasih, dia selalu tahu bagaimana caranya bersikap. Membuat perasaanku cepat berubah. Dari sedih ke senang bahkan marah.
Tapi tunggu, kenapa Shikamaru marah kepadaku? Padahal aku tak berbuat salah. Bukankah tadi aku hanya berciuman dengan Sasuke. Reflek aku memegang bibirku. Aaaahh, dasar Sasuke sialan. Dia sedang gila atau mungkin dia sedang mabuk. Berani-beraninya dia menciumku. Apalagi itu ciuman pertamaku, dia telah mengambil my first kiss.
Ketika mengingatnya aku cepat-cepat pergi menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar ini. Mencuci mulutku dengan air walau sedikit kasar ketika melakukannya. Lalu melihat pantulan wajahku di cermin.
Tapi benar-benar aneh sikap Shikamaru dan juga Sasuke. Apa mereka sama-sama sedang PMS ya? Atau jangan-jangan mereka berdua menyukaiku. Hahahaha, benar-benar pemikiran yang konyol. Mana mungkin, lagi pula Shikamaru sudah punya Ino dan Sasuke tak pernah berinteraksi denganku. Aku hanya ingin mengalahkannya, tak berarti bicara dengannya.
Hah, aku benar-benar bingung. Tapi besok mereka harus menjelaskan semuanya kepadaku. Dasar tuan nanas dan tuan pantat ayam menyebalkan. Mereka berdua sama-sama menyebalkan.
Aku mulai membersihkan jejak air mata dengan membasuh mukaku. Dan melihat sekali lagi pantulan wajahku di cermin. Tapi tadi kenapa aku tiba-tiba menangis? Bahkan sepertinya air mata turun dengan sendirinya. Dan alasanku menangis tadi karena apa? Mungkin aku hanya tak ingin Shikamaru marah kepadaku seperti halnya Ino. Bisa jadi sekarang aku mulai menganggapnya sahabat. Ya benar, hanya sebatas sahabat tak lebih.
Setelah selesai aku kembali lagi ke kasur, merebahkah tubuhku pelan.
'"Hah."menghela napas panjang.
Mungkin aku butuh istirahat sekarang.
Mulai memejamkan mataku perlahan.
"Oyasumi."setelah mengatakan hal tersebuti, aku benar-benar terlelap dan beralih kehidupan di alam mimpi.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Terima kasih yang telah membaca dan menyukai fic saya ini.
