I Hate Him, But I Love Him!
Kamichama Karin©Koge-Donbo
T/Romance & H/C
Warning: Typo(s), OOC!
-KazuRin-
Haruka Hitomi 12 proudly presents...
-Chapter 7-
.
Menurut Kazune, Hanazono Karin menjadi dua kali lebih hiperaktif dari biasanya sejak mereka menginjakkan kaki di bandara internasional Icheon—Korea. Gadis itu sudah menunjuk-nunjuk peta mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi—padahal semua orang tahu, mereka hanya akan disana selama syuting. Sepuluh hari—waktu yang singkat. Bisa lebih, bisa kurang. Tergantung. Namun gadis itu tak peduli.
"Jin-kun! Aku ingin ke Istana Gyeongbok!" seru Karin sambil menunjuk sebuah tempat di petanya.
Jin mengerutkan dahinya, "Istana Gye—apa tadi?"
"Gyeongbok!" seru Karin, "Oh ayolah! Aku ingin memakai hanbok!"
Jin tampak tertawa kaku sambil mengusap tengkuknya diiringi bujukan-bujukan Karin untuk kabur dari syuting dan berkeliling di negeri ginseng ini.
Tapi, Kazune harus jujur. Ia tak bisa melepaskan safirnya dari gadis itu. Ekspresinya, ucapannya, gesturnya, semua unik. Sejak kapan ia merasa seperti ini?—Ah, sejak ia yakin akan perasaannya. Jujur, kalau saja ia masih menjadi kekasih Karin, ia pasti akan langsung memenuhi permintaan gadis itu walau mereka harus meninggalkan tujuan utama mereka kesini. Toh, dia produ—
Tunggu dulu. Benar juga! Dia adalah produser disini. Ia bisa minta perpanjangan waktu! Yah, apapun agar dia senang, pikir Kazune sambil tersenyum simpul dan menyilangkan tangannya menatap Karin yang masih berjuang membujuk Jin untuk kabur dari syuting. Tampak Rika ikut bergabung dengan keduanya dan terlihat antusias dengan tempat-tempat yang Karin tunjuk lalu keduanya berusaha membujuk Jin bersama. Oh, astaga.
.
Karena waktu yang padat dan tuntutan deadline, setelah meletakkan barang di hotel seluruh kru The Love Tone langsung menuju lokasi syuting yang pertama. Lelah memang, namun siapa yang tak bersemangat berada di tempat baru?
Karin menjerit senang mengetahui lokasi syuting mereka yang pertama. Namsan Seoul Tower. Beberapa kru juga sangat mengagumi tempat yang bisa melihat pemandangan indah seluruh Seoul dari atas sini. Ditambah, dalam naskah ada adegan didalam kereta kabel, membuat Karin semakin memekik kegirangan.
Gadis itu berlari kesana-kemari. Sesekali ia membaca tulisan di gembok-gembok cinta yang terpasang disana. Bahkan beberapa kru juga tengah memasang gembok dengan pasangan mereka—yah, hitung-hitung dapat istirahat dan waktu senggang untuk bermesraan ditempat seindah ini.
"Ah, kenapa memasang gembok cinta seperti ini?" gumam Karin sambil menyentuh sebuah gembok dan membaca tulisannya. Ia lalu menoleh menyadari tepukan ringan di bahunya, "Miyon-san," ucapnya sambil tersenyum.
"Panggil Miyon saja," ucap gadis berambut tosca itu. Setahu Karin, ia penulis naskah, "Ehem, apa kau tahu kepercayaan disini?"
"Eh? Kepercayaan apa?"
Miyon terkekeh lalu ikut berjongkok sambil memandang gembok lainnya, "Sepasang kekasih, akan memasang gembok cinta disini, menuliskan pesan dengan kata-kata romantis didalamnya, lalu membuang kuncinya. Tahu kenapa? Hehe... kalau memasang gembok cinta lalu membuang kuncinya jauh-jauh, mereka punya kepercayaan bahwa cinta mereka akan abadi. Mereka menyebut ini Love Lock. Romantis bukan?"
Karin mengangguk-angguk, "Aah... romantis sekali. Kenapa Miyon-san bisa tahu?"
"Aku ini ada campuran darah Korea. Aku pernah tinggal di Korea sepuluh tahun. Setelahnya, aku ke Jepang dan bekerja di Kujyo Pictures sampai sekarang."
"Wow, itu keren! Aku harap, saat kesini lagi suatu hari nanti, aku dan pasanganku akan memasang love lock juga. Ah, ya, kumohon, ajari aku bahasa Korea!" seru Karin, "Miyoon! Onegaiii?"
Miyon tertawa, "Tentu saja~!"
.
.
Karin mereggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Tadi memang ia merasa mengantuk. Namun begitu masuk kamar hotel, rasa mengantuknya hilang tiba-tiba sehingga ia memutuskan untuk berada di balkon yang ada di lounge diluar kamarnya sampai ia merasa mengantuk lagi.
Karin tersenyum melihat pemandangan yang disuguhkan hotel itu. Lantai 37 saja sudah menghadirkan seperempat panorama Seoul. Apalagi lantai teratas! Lantai 63!
"Kau belum tidur?"
Gadis itu menoleh mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya, "Ah, kau. Kenapa diantara puluhan orang dalam kru, aku harus selalu bertemu denganmu, Kazune-kun?"
Kazune mengendikkan bahu lalu ikut berdiri disamping gadis itu. Mereka lama terdiam sampai Karin kembali buka suara, "Seoul itu keren. Indah sekali..." Kazune hanya bergumam malas. Masa bodoh. Ia sudah bolak-balik Seoul-Jepang puluhan kali sampai bulan ini dalam setahun ini.
"Ah ya, karena kita baru bertemu, annyeonghaseyo, oppa~!" Karin tertawa ringan disambut pandangan heran Kazune.
Lelaki itu mengangkat alisnya, "Kau terdengar aneh," tukasnya.
Karin memutar bola matanya, "Maaf saja. Aku baru belajar hari ini. Itupun baru beberapa kosakata!"
Mereka terdiam lagi. Kali ini, Kazune yang mencoba membuka percakapan, "Kau dan Kuga... kalian tak pernah kencan?"
Karin tertawa, "Tak ada waktu. Rencananya mau akhir pekan ini. Tapi, yah, jadwal kita ke Korea dipercepat. Ya sudah, tak ada pilihan bukan? Lagipula, syuting ini penting."
Dalam hati Kazune berpikir, gadis itu terdengar seperti benar-benar ingin menyingkirkan dirinya dari memori gadis itu. Benar-benar melupakannya dengan usaha gadis itu sendiri. Sejak kemarin ia memastikan perasaannya, ia bertekad takkan melupakan perasaannya pada Karin. Cukup sudah ia bersikap munafik, benar kata Rika. Mungkin ini plin-plan, tapi, kenyataan pada faktanya berkata bahwa ia memang tak pernah berniat menghilangkan sosok gadis bermanik emerald teduh itu dari memorinya. Ia tak tahu apa yang dirasakan gadis itu. Tapi ia tahu sesuatu sekarang, melihat gadis itu selalu tersenyum dan bahagia seperti ini walau bersama orang lain... ia rela.
Kepingan hijau zamrud Karin sesekali melirik kearah Kazune dengan perasaan gelisah. Walau tubuh atasnya terlihat biasa saja, tak ada yang tahu kalau dibawah sana kakinya gemetar. Memori masa lalunya itu menyiksanya. Sungguh ia ingin memutar balik waktu agar tidak jadi menemui Rika hari itu dan mengetahui semua tentang masa lalunya. Karena sekarang, hatinya bergejolak—memberi perintah untuk mendekat pada lelaki itu dan memohon untuk mengulangi segalanya dari awal. Lelaki yang dulu pernah mencintainya dan ia cintai pula. Kenapa semua harus berubah begitu cepat? Padahal tujuh tahun berlalu. Lama—tapi bagi Karin, itu kelewat cepat. Ia tak habis pikir kenapa Kazune bisa memintanya untuk melupakan segala hal tentang mereka. Tapi tak pernah terlintas ia membenci Kazune atau Jin karena taruhan itu. Ia kira, semua ini bisa kembali—ternyata tidak. Tapi ia tahu satu hal, ia tak mampu menghilangkan memorinya dengan Kujyo Kazune untuk kedua kalinya. "Aku sudah berpikir," suara Kazune membuatnya menoleh cepat kearah pemuda itu—karena sepertinya pembicaraan ini menjurus pada sesuatu yang entah kenapa menjadi tabu bagi mereka—masa lalu, "Dan aku sudah mencoba. Tapi ternyata aku tak bisa."
"Katakan saja Kazune-kun," sergah Karin cepat, "Jangan berbelit."
Kazune menghela nafas, "Entahlah. Aku aneh kalau didekatmu akhir-akhir ini. Menurutmu apa penyebabnya? Hati berdebar dan tubuh gemetar juga gelisah. Aku tak pernah bisa melepaskan mataku darimu."
Karin terkesiap, "A-apa maksudmu?"
Memang terkadang Kazune bisa membuatnya merasa senang, marah ataupun kelimpungan seperti ini.
"Menurutmu itu ciri-ciri apa?"
Karin bukan gadis bodoh. Wajahnya merona dan ia menundukkan kepalanya. Otak berkapasitas standarnya berusaha mengulang-ngulang kalimat itu di pikirannya serta mencernanya perlahan. Sebetulnya ia sudah mendapat hasil analisisnya yang mengarah pada satu hal yang paling mustahil yang pernah ia pikirkan. Setelah lelaki itu melakukan semua ini padanya, apa ia masih sanggup berkata kata 'suka' lagi? Sudah terlambat—menurut Karin. Tapi hatinya, mulai menoleh sedikit demi sedikit.
"Aku yakin kau sudah dapat jawabannya," ujar Kazune membuat Karin mendongak menatap wajah lelaki itu, "Dan aku tak perlu memastikannya lagi. Itu benar."
"Kau bercan—"
"Tidak," tukas Kazune. Lelaki itu meraih bahu gadis itu lalu menatapnya dalam, "Aku serius. Dulu Kuga menggunakan cara kotor untuk memisahkan kita. Tapi—tenang saja, aku takkan menggunakan cara bodoh itu—aku juga akan membuatmu kembali padaku. Kita akan kembali seperti dulu dan kita lakukan dengan caraku. Tak peduli kalau aku harus merebutmu paksa dari tangan lelaki itu."
.
.
Jin Kuga tetap tak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua sosok itu. Mereka tertawa lagi. Bersama, seperti dulu. Dan bagi Jin, itu menyakitkan. Kenapa ia tak pernah bisa membuat gadis itu berpaling padanya? Mereka kekasih tapi hubungan mereka tetap terlihat sebagai teman. Sedang kedua orang itu? Jangan tanya.
Pemuda itu meremas naskahnya lalu akhirnya ia meraih ponselnya,
.
To: Hanazono Karin
Sub: -
Syuting selesai lebih awal sore ini. Aku ingin kita bicara, Karin.
.
.
Lonceng kecil berdentang ketika Karin berjalan memasuki pintu. Dibelakangnya, Jin tersenyum kecil. Ia tersenyum melihat penampilan Karin yang begitu manis di matanya. Sebuah blus putih dengan vest biru muda tak berlengan dan celana berwarna khaki yang melekat begitu pas di kakinya. Celana panjang, tapi begitu memperlihatkan kakinya yang jenjang. Satu kata, manis. Mereka tak mengenakan penyamaran karena ini bukan Jepang jadi tak ada yang mengenal mereka.
Karin memilih duduk disamping kaca blok besar yang menghadap jalan. Posisi strategis yang sangat nyaman. Seorang pelayan datang dan berbicara dalam bahasa inggris—mengetahui mereka bukan warga negara Korea.
"Kau mau pesan apa?" tanya Jin. Belum sempat Karin membuka mulut dengan wajah heran, Jin menyelanya, "Kita bicara setelah makan."
Karin mengangguk lalu mengambil buku menunya, "Aku selalu ingin mencoba kimchi dan jjajangmyeon. Em, dan lemon tea satu. Itu saja."
"You heard her," ucap Jin pada pelayan itu. Wanita itu mengangguk sambil mencatat, "Macchiato for me," sambung pemuda itu.
"Kau hanya pesan minum?" tanya Karin.
Jin terkekeh, "Tadi Sakurai Yuuki-san memberiku sekotak besar kentang."
Karin mengangguk-angguk. Sesaat kemudian, suasana hening. Jin sibuk berpikir bagaimana ia memulai pembicaraan agar tak memancing pertengkaran sedang Karin, masih memikirkan ucapan Kazune semalam, 'aku juga akan membuatmu kembali. Kita akan kembali seperti dulu dan kita lakukan dengan caraku. Tak peduli kalau aku harus merebutmu paksa dari tangan lelaki itu'Astaga, hal itu kembali membuat wajahnya merona. Entah kenapa, satu bagian hatinya senang sekali. Karena ucapan Kazune, sejak tadi pagi, ia tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum didekat lelaki itu.
Benar-benar. Setelah beberapa hari lalu bertengkar dibawah hujan, hari ini mereka seakan memulai awal yang baru dibawah langit Korea. Laki-laki itu, beberapa kali ini mampu membuatnya lepas kendali. Karin bisa saja membiarkan imajinasinya bergerak liar kalau sudah menyangkut Kazune.
Lima belas menit kemudian, pesanan mereka datang. Karin tampak begitu semangat melahap makanannya. Sesekali gadis itu bergumam kata 'lezat' dan sebagsanya. Jin sesekali menggulum senyum tipisnya melihat ekspresi gadis itu saat makan. Terlihat unik dan lucu baginya.
"Haha, kalau ke Korea lagi, aku takkan kapok mencoba ini lagi. Bahkan aku mungkin akan coba minum soju~!" seru Karin sambil membersihkan tangannya dengan tissue.
Jin terkekeh, "Jangan bercanda. Kau mabuk, aku yang sulit."
"Oke, ada apa Jin?" tanya Karin hati-hati. Siapa tahu ini hal serius. Alih-alih menjawab pertanyaan gadis itu, Jin malah meraih tangannya.
"Kenapa kau tak pernah bisa memandangku?"
Gadis itu mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar tak mengerti maksud pria ini. Walau tadi Jin berbisik dengan volume rendah, telinga Karin bisa mendengar jauh lebih tajam, "Katakan lagi. Apa tadi?" tanyanya memastikan.
"Kenapa kau tak pernah bisa memandangku sepenuhnya? Jawab. Seberapa besar peran Kujyo Kazune dalam pikiranmu itu?" tanya Jin dengan suara dalam, "Kau tersenyum terus sejak tadi. Karena Kujyo, bukan?"
Karin merasa bulu kuduknya meremang. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Jin lalu meraih gelas tehnya dan memutar-mutar jemarinya disana takut-takut.
"A-apa maksudmu?"
"Kau tahu apa yang dirasakan seorang kekasih ketika pacarnya mulai merenggang dengannya dan mendekati orang lain?"
Karin terkesiap. Ia menatap Jin tak percaya, "Kenapa kau sampai bisa berpikiran sependek itu?!"
Jin memalingkan wajahnya kearah jalan, "Memang kau tak sadar? Ah ya, Kujyo membutakanmu lagi. Untuk yang kedua kalinya."
"Jangan berbicara aneh-aneh! Kazune tak ada hubungannya dengan ini. Setahuku kita berdua baik-baik saja seperti ini! Fokus dengan diri sendiri sambil tetap menjaga rasa saling percaya. Aku percaya padamu, kenapa kau tak pernah percaya padaku dan mudah sekali curiga? Sudah kubilang, aku dan Kazune tak ada hubungan apapun!"
Pemuda itu terlihat memasang sebuah seringai tipis, "Apa benar begitu?"
"Kau ini kenapa, Jin Kuga?!" seru Karin akhirnya, "Kita belum terikat janji. Dan artinya, aku masih punya hak bersosialisasi! Kau tak bisa mengekangku seperti ini!"
Keduanya terdiam. Suara Karin yang cukup keras membuat beberapa pengunjung menoleh kearah keduanya—walau tentunya para warga negara Korea itu tak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi mereka dapat satu kesimpulan. Pasangan itu tengah dalam situasi buruk.
"Kenapa setiap kita bertemu, kita selalu bertengkar Jin-kun?" ucap Karin lirih, "Kenapa kau tak pernah bisa percaya padaku? Dulu, Kazune tetap mempercayaiku bahkan saat aku pergi berdua denganmu seka—"
"Sekarang kau membandingkanku dengannya hah?! Kau menyangkut-pautkan masa lalu itu lagi!" teriak Jin emosi, "Kenapa yang ada di kepalamu selalu Kujyo, Kujyo, dan Kujyo?! Aku mencintaimu bertahun-tahun! Tak bisakah kau berhenti memikirkannya sedikit?!"
"Aku tahu..." Karin mengusap setetes air mata yang mengalir di sudut matanya, "Kalau kau menganggap aku yang salah, aku minta maaf. Tapi tak perlu sampai separah ini kan? Lebih baik kita kembali ke hotel dan bicara lain kali dengan kepala dingin..."
.
.
.
Miyon baru saja memesan segelas kopi panas untuk menemani malamnya. Syuting yang selesai sore tadi membuatnya begitu lelah dan segera tertidur begitu saja di kamarnya dan hal itu membuatnya harus terjaga malam ini. Ia baru saja melewati lounge lantai 37 dan langkahnya terhenti mendapati seorang pemuda bersurai gelap dengan iris onyx nya yang terlihat redup—seakan sudah patah arang dan putus harapan.
Sifat mudah penasaran sudah mendarah daging dalam nadinya dan mengalir bersama darahnya membuat ia menghampiri pemuda yang juga merupakan rekan kerjanya kali ini walau mereka jelas berbeda profesi. Seorang aktor dan seorang penulis naskah.
"Kenapa belum tidur Jin-san?" sapanya ringan lalu menaruh kopinya diatas balkon, disamping pemuda itu—yang tengah berdiri dibelakang balkon.
"Kau sendiri, Miyon?" tanya Jin balik.
"Ah, aku terjaga karena tidur terlalu sore tadi. Kau ada masalah? Tahu, kau bisa cerita," tawar Miyon hati-hati, "Err... bukan bermaksud ikut campur tapi aku akan memberi saran sebisaku. Aku kan penulis naskah film romansa, jadi aku bisa memberi saran-saran seputar masalah percintaan berdasar naskah-naskah yang pernah kutulis. Apa ini tentang kau dan Karin? Hubungan kalian?"
Jin terkekeh, "Kau bisa tahu?"
"Apanya? Hubungan kalian? Itu sudah menjadi rahasia publik. Kau—"
"Tidak. Maksudku, kau tahu kalau ini tentang hubunganku."
Miyon sesaat melongo lalu terkekeh pelan, "Yah, itu masalah yang sering terjadi diantara sepasang kekasih..."
"Kau sendiri? Bagaimana denganmu dan Sakurai-san?" ucapan Jin membuat pipi Miyon merona.
"Kami tak ada masalah. Walau jarang bertemu, kami masih saling menyempatkan diri mengobrol lewat ponsel—yah, kami juga bekerja di bagian berbeda walau satu proyek," tukas gadis bersurai tosca itu sambil memainkan jarinya di tangkai cangkir kopi panasnya, "Mau?" tawarnya. Jin menggeleng sebelum Miyon menyesap kopi panas itu. Walau sedang musim panas, tapi kafein panas atau hangat selalu bisa menenangkannya dan membuatnya mudah mengantuk—berbeda dengan efek yang diterima orang biasanya.
"Kalian pasti saling percaya, benar kan?"
Miyon menoleh mendengar ucapan Jin. Ia mengernyit, "Memang kau dan Karin tidak?"
Jin mendengus pelan, "Kurasa akulah yang kurang percaya padanya. Ia terlihat begitu kesal saat aku membicarakan ini tadi sore. Hanya karena masalah sepele. Aku kesal melihat kedekatannya dengan Kujyo. Egois dan kekanakan bukan?"
Miyon melongo sebelum mengangguk-angguk, "Kazune-san, eh?" gumamnya, "Yah, sebenarnya egois itu boleh saja—istilahnya posesif. Tapi kalau keterlaluan, kau pasti membuat orang itu kesal. Begini saja, karena aku orang luar, kuberi saran yang umum saja. Pertama, percayalah padanya sepenuh hati. Kedua, kalau dia bahagia, berbahagialah juga untuknya walau itu akan menyakitimu. Cinta tak bisa dipaksakan. Bagaimanapun... sekuat apapun kau mencoba melawan arus, jika gadis itu bukan untukmu, dia takkan pernah jadi milikmu. Jadi, ada dua pilihan. Kalau dia memang untukmu, jaga dia baik-baik. Kalau ia memang bukan untukmu, lepaskan dia dengan sukarela agar ia bisa datang kepada orang yang tepat. Dan kalau itu terjadi, kau harus bahagia kalau ia juga bahagia."
Jin terdiam. Ia mencerna satu persatu ucapan Miyon. Dan otaknya mengambil sebuah kesimpulan analisis yang berupa pertanyaan—
Miyon mereggangkan tangannya sebelum beranjak pergi, "Ah, kafein memang bereaksi baik bagiku. Hehe... aku sudah mengantuk lagi. Duluan ya~!"
.
Bagaimana aku bisa tahu kalau Karin memang benar untukku atau tidak?
.
-TSUZUKU-
Muehehe... chap 7 kelar, hehe, gimana? Gimana? Kasih pendapat di kolom repiu ya! Ehem, dua chap ini, saya lagi males bacot, balas repiu aja! Hehe...
dci: ini dah lanjut, makasih banyak yaaa~! :)
Mila: ini dah lanjut, ganbatte mo, makasih banyak ya! ^^
Sun: Duh, belum tahu tuh, nanti ada konflik-konflik tambahan juga... hehe, makasih banyak ya!
Guest: waahh... makasih ya! Ni dah updated, makasih banyak~!
Guest: makasih banyak, ganbatte mo~! Hehe... ^^
devi yolanda: hai juga, hehe, saya usahain setiap hari ngetik min. 1000 kata dah, hehe... ehem, endingnya sih, rencananya begitu, hehe, ini chap 7 dah updated, makasih banyak ya~! ^^
Guest: hehe, oke~! Iya, Karin ama Kazune kok, kan couplenya KazuRin bukan JinRin (?) #apahini? Hehe, iya, semangat jugaa! Makasih banyak...!
KK LOVERS: wah, saya suka kalo banyak yg penasaran #PLAK! Ini dah updated, gak kelamaan dong ya? Hehe, ganbatte mo, KazuRin polepel and... arigato gozaimasu! ^^
yui: iya, ya, Rika kebanyakan main magnet kali -?- hehe, nanti deh, saya bikin ganti Jin yang menderita... MUEHEHEHE~! #PLAK! Haha... ganbatte mo, ini dah lanjut, makasih banyak ya~!
Maria-chan: Oke, ini dah lanjuutt~~! Hehe, ini dah updated kilat belum? Makasih banyak ya!
AnandaPtrAbsri: oke, oke, ini dah lanjuuutt~! Makasih banyak~! *ojigi*
vivi srf: waahh~! Makasih banyak~! Ini dah lanjut, moga puas ya, dan terimakasih sekali lagi~!
.
Wah, makasih ya review2 nya... hehe, oke, maafkan segala kekurangan fic ini, chapter 7 'I Hate Him But I Love Him!' updated, mind to review?
