Sepertinya ada diriku kena kutukan yang namanya 'write block di chapter terakhir' semoga kali ini kutukannya bisa diriku tangkal.


Disclaimer : Masasshi Kishimoto


1

Sakoku. Atau negara tertutup adalah kebijakan luar negeri Jepang mengatur dengan ketat kedatangan orang luar ke dalam negeri dan larangan keluarnya orang lokal ke luar negri tanpa ijin khusus. Di saat itu jika seseorang memaksa keluar, saat dia pulang dia akan langsung dihukum mati.

Setelah menang dalam perang, Tokugawa Ieyasu memutuskan untuk menutup jepang dari dunia luar dan memfokuskan diri untuk membenahi masalah ekonomi internal dan mencegah munculnya kembali konflik. Di era pemerintahannya, mulai dari pertengahan tahun seribu tujuh ratusan sampai dua ratus lima puluh tahun kemudian bisa dibilang perkembangan di Jepang mengalami stgnansi.

Padahal di era sebelumnya, di era perang di mana para Daimyo dari berbagai daerah saling berebut kekuasaan perkembangan teknologi mereka berjalan dengan sangat pesat. Mereka dengan sigapnya menyerap pengetahuan dari dunia barat lalu mengaplikasikan dan memodifikasinya untuk kepentingan mereka sendiri.

Bahkan, meski senjata api pertama kali dibawa dari negara seperti spanyol dan portugal begitu mereka mendapatkan samplenya mereka bisa langsung melakukan produksi masal. Perang besar antara peluru dan peluru juga pertama kali terjadi di Jepang.

Di jaman perang, kreatifitas, kepintaran, kelicikan, taktik dan pengetahuan punya peran sangat besar dalam eksistensi sebuah provinsi.

Bisa dibilang, keputusan Ieyasu untuk menutup Jepang dari pengaruh luar menyebabkan jepang tertinggal dua ratus lima puluh tahun di belakang seluruh dunia. Dia juga mengubur talenta-talenta luar biasa yang harusnya bisa dipoles sampai bersinar. Bisa dibilang negara itu mengalami kemunduran.

Orang lain mungkin akan berpikir seperti itu. Dan meski aku memang juga punya pikiran yang tidak jauh berbeda, tapi aku akan tetap bilang.

Memangnya kenapa?

Memangnya kenapa kalau mereka tertinggal? memangnya kenapa kalau tidak bisa maju? lalu memangnya kenapa kalau semuanya stagnan?

Bukankah dengan mengorbankan semua itu mereka bisa mendapatkan masa damai yang mereka impikan dari sejak pecahnya perang Onin? Mereka bisa mengurangi interfensi orang luar pada masalah domestik mereka, dan juga bisa memberikan rasa aman pada orang-orang yang sudah bosan dengan perang.

Jadi, setelah panjang lebar membicarakan sejarah apa yang sebenarnya ingin kukatakan itu sangat sederhana.

Membuka diri pada orang lain, mencoba hal baru, dan melakukan apa yang belum pernah dilakukan sebelumnya mungkin adalah sebuah langkah untuk maju. Tapi kalau langkah untuk maju itu punya resiko besar lebih baik kau berhenti saja.

Sebagai seseorang yang sudah pernah menginjak kesalahan besar saat maju sambil membuat orang yang tidak ada hubungannya ikut merasakan akibatnya, aku bisa dengan yakin memberikan jawaban dari tugas bahasa ingrisku untuk menulis sebuah quotes original dengan kalimat . . ..

If the risk of your little progress is too big, it's not worth it.

"Um. . kurasa sudah bagus"

Aku bahkan merasa kalau aku hidup di jaman perang, kalimatku tadi akan dikutip sampai sepuluh generasi berikutnya.

"Naruto"

"Apa?"

"Jawab dengan jujur, apa kau merasa kalau esei penuh pikiran pesimis semacam ini akan akan diterima oleh guru bahasamu?"

"Maksudmu guru bahasa kita kan?"

"Sama saja!"

Aku sudah membaca tentang penelitian yang menyebutkan jika seorang gadis lebih cepat dewasa daripada seorang anak laki-laki. Tapi meski begitu, aku sama sekali bukan orang yang punya hobi diperlakukan seperti junior oleh teman sekelas perempuanku yang umurnya pada dasarnya tidak beda denganku.

"Hinata, kalau tidak salah, bukankah aku mengajakmu ke sini untuk membantuku mengerjakan tugas? tapi kenapa sekarang kau hanya mengerecokiku?"

Sekarang kami berdua sedang berada di dalam perpustakaan sekolah. Dan gadis cantik yang sedang duduk di hadapanku sambil memainkan game di S*itchnya adalah Hinata. Teman sekelas perempuanku yang umurnya sama sekali tidak dia tunjukan di penampilan fisiknya.

Maksudku, kami berdua harusnya sama-sama enam belas tahun. Tapi entah kenapa lekuk tubuhnya sudah mirip gitar sedangkan badanku seperti masih kurang sesuatu. Meski tidak seperti P*peye, setidaknya aku ingin kalau lenganku kelihatan sedikit berotot.

"Aku baru saja membantumu dengan mengingatkan kalau eseimu punya kesempatan untuk ditolak"

Bantuan yang kuminta bukan bantuan semacam itu. Bantuan yang kuinginkan darimu adalah bantuan untuk mencari tema, menyusun kalimat, dan menentukan arah dari esei yang kubuat. Bukannya memberikannya nilai lalu memutuskan nasibnya. Sebab seseorang yang punya tugas itu, adalah guru bahasaku.

Maksuduku guru bahasa kita.

"Hah. . . "

Mendengar seseorang yang tidak melakukan apa-apa menghela nafas di depanmu yang sudah bekerja keras melakukan tugasmu entah kenapa rasanya agak menyebalkan.

"Kalau begitu aku akan memberikan koreksi"

Dia menarik kertas yang kugunakan untuk menulis lalu mencoret bagian akhir dari esai yang kubuat dan mulai menulis kalimat-kalimat baru.

Don't go for a little progress, Go for the big one

"Bukankah artinya sama saja?"

Kalimatnya memang berbeda, tapi artinya dari keduanya pada dasarnya sama. Keduanya sama-sama punya arti kalau progress minim sama sekali tidak ada artinya dan lebih baik tidak usah diambil kalau resikonya terlalu tinggi. Hanya ambil resiko kalau progress yang akan bisa didapatkan jauh lebih besar.

"Artinya memang sama, tapi nuansanya berbeda!. kalimatku punya kesan positif"

"Kau punya bakat jadi politikus"

"Terima kasih"

Aku sangat yakin kalau dia paham jika aku tidak sedang memujinya, sebab kata-kata yang kulontarkan padanya punya arti kalau dia punya bakat memanipulasi seseorang. Apa dia tidak keberatan kusamakan dengan politikus korup?

"Dengarkan aku Naruto, untuk membuat esai yang bisa diterima dengan mudah yang kau perlu lakukan bukan menuliskan data, menjabarkan fakta, atau memperlihatkan realita tapi memberikan kata-kata manis penuh idealisme! kau masih ingat SQ test kemarin kan? kau dapat berapa?"

"40"

Kemarin, ada sekumpulan murid universitas terkemuka yang ke sekolahku ini. Dan mereka mencoba melakukan sesuatu bernama SQ test untuk 'katanya' mengetahui potensi seseorang. Dan berdasarkan test, itu sepertinya potensi yang kumiliki jauh di bawah rata-rata yang normanya ada di angka 72 sampai 76.

"Tugas bahasamu dan juga test itu pada dasarnya punya tujuan yang sama"

"Dan tujuan itu?"

"Memeriksa seberapa besar dan hebatnya idealismemu"

Tentu saja tidak ada yang secara terang-terangan bilang begitu. Tujuan dari pengetahuan tentang spiritual quotient adalah agar seseorang bisa mengetahui tentang dirinya sendiri lalu bertindak fleksibel sesuai lingkungan tanpa menentang nilai yang ada di luar dan dalam diri seseorang.

Sesuatu yang tidak bisa diberi level lalu dilabeli mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk.

Perintah dari Test SQ yang kami bicarakan kemarin adalah untuk memberikan jawaban jujur yang kau anggap paling baik. Saat itu aku mengira kalau perintah itu dibuat untuk membuat peta kepribadian seseorang. Sayang sekali perkiraanku salah besar.

Hampir semua orang berlomba-lomba untuk memberikan jawaban yang 'kedengaran' paling bagus dan ideal. Jawaban yang aku sangat yakin tidak akan pernah mereka bisa lakukan di dunia nyata. Dengan kata lain, semua orang hanya memberikan lip service dan tidak menuruti perintah yang ada.

Perintah untuk memberikan jawaban yang jujur.

Sebagai satu-satunya orang yang paling tidak suka dengan yang namanya lip service, aku mencoba menjawab dengan apa adanya sesuai dengan pikiran seseorang yang normal sambil berharap kalau pemberi testnya juga punya pikiran yang normal.

Tapi sayangnya, dalam test itu pemberi test ternyata memberikan nilai tertentu pada setiap jawaban. Selain, itu nilai itu didasarkan dari jawaban mana yang 'kedengaran' paling bagus. Dengan kata lain, keadaan seseorang, situasi lingkungan, maupun logika dan prioritas seseorang pemilih tidak pernah dihitung.

"Geh, aku tidak ingin mengingat-ingat test itu lagi!"

Maksudku, semua murid dengan entengnya berbohong, dan pengetesnya yang tahu kalau jawaban yang mereka terima cuma sekedar kebohongan sama sekali tidak keberatan mendapatkan jawaban palsu semacam itu. Jawaban yang sama sekali tidak ada nilainya untuk sesuatu yang mereka sebut 'penelitian' dan 'survey'.

Malah sebaliknya, mereka dengan bangganya menunjukan seberapa hebatnya mereka dalam berbohong dan menerima kebohongan.

"Aku paham kenapa kau merasa kesal Naruto"

Test itu hanya sebuah lelucon, sebuah permainan untuk membuat seseorang merasa seperti orang baik-baik.

"Hanya saja sekarang kau kedengaran seperti orang yang menolak komunitas sosial"

"Aku tidak menolak apa-apa, aku hanya orang normal yang mencoba bertindak normal di tengah-tengah orang yang ingin menganggap dirinya spesial"

Jika ada orang yang membuang peliharaannya di jalan, aku akan membiarkannya. Kenapa aku harus mengambil tanggung jawab yang orang lain buang dengan seenaknya? Jika ada orang yang dikeroyok preman di depanku, aku akan kabur dan menyelamatkan diri lalu lapor polisi. Bukannya mencoba jadi pahlawan dan maju sendiri. Jika ada bencana alam besar dan banyak orang terkena dampaknya, aku akan menyelamatkan keluargaku dulu sebelum memikirkan orang lain entah itu orang tua, anak kecil, atau wanita.

Dan semua itu, adalah sesuatu yang akan dilakukan lebih dari 90% populasi manusia di dunia. Manusia memang makhluk sosial, tapi sebelum jadi makhluk sosial setiap orang adalah makhluk individu.

Sayang sekali sebagian besar orang menolak untuk menerima fakta kalau sebenarnya mereka itu egois dan selalu mencoba mementingkan urusannya sendiri. Oleh sebab itulah, mereka mencoba terlihat baik dan dianggap baik tanpa sisi buruk.

"Ah sudah cukup. . . . aku akan mendengarkan pidato filosofimu kapan-kapan, sekarang kerjakan saja tugasmu lalu buat isinya secerah dan penuh impian mungkin! aku yakin mereka tidak ingin membaca isi pikiranmu tapi menuliskan apa yang mereka ingin kau pikirkan"

Dengan kata lain, esei idealistis penuh ambisi yang pada dasarnya tidak akan mungkin bisa dicapai.

"Aku paham"

"Kuharap kau benar-benar paham"

Aku mulai mengingat-ingat beberapa kalimat-kalimat orang terkenal yang pernah kubaca di buku sejarah. Dan tidak seperti sebelumnya, yang kucoba kuingat bukanlah kalimat-kalimat praktikal ataupun realistis dari orang-orang di masa lalu yang isinya mudah dicerna. Tapi kalimat-kalimat mirip propaganda yang digunakan untuk membuat pasukan di garis depan rela mati demi apapun.

"Naruto. . ."

"Kalau kau ingin menggangguku tolong tunggu sampai aku menyelesaikan tugasku!"

"Kau tidak punya niat untuk mengajukan beasiswamu lagi?"

"Jangan mengabaikanku begitu saja!"

Dan kenapa gadis ini membawa topik ini lagi? beasiswaku adalah beasiswa olahraga. Tidak seperti beasiswa akademik, aku perlu keajaiban untuk mendapatkan beasiswaku lagi. Jika seseorang kehilangan beasiswa akademiknya, mereka bisa belajar lagi untuk mendapat nilai yang lebih bagus. Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya. Meski aku bisa berlatih lagi, fisikku sudah tidak lagi cocok untuk kegiatan semacam itu.

Dengan kata lain, secara fisik mendapatkan beasiswa lamaku sudah tidak mungkin kulakukan.

"Tapi kau masih bisa berlari kan? seperti saat membantu Hanabi"

"Kenapa tiba-tiba kau membicarakan topik ini?"

"Dua bulan lagi ada olimpiade, jika mau kau masih bisa mengikutinya"

Memang benar aku masih berlari dengan kecepatan penuh, tapi hanya kalau jaraknya tidak sampai lima puluh meter. Setelah itu, rasa sakit di kakiku akan terlalu besar dan membuatku tidak bisa konsentrasi. Dengan kata lain, kemampuanku tidak lagi berguna dalam event kompetitif.

"Bukannya aku tidak mau ikut"

Aku tidak bisa mengikutinya.

Setelah itu kami berdua berhenti bicara dengan satu sama lain.

"Bagaimana denganmu? lain denganku kau mampu mengikutinya jika kau mau!"

Memang benar Hinata tidak punya rengking yang tinggi, tapi sudah jelas hal itu bukan karena dia bodoh. Instingku mengatakan dia lebih dari mampu untuk bisa berkompetisi dengan murid-murid dari sekolah lain dalam masalah akademik.

"Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu! selain itu Ibuku tidak akan mengijinkannya"

Dia tidak menunjukan ekspresi yang berarti saat menjawabnya, selain itu jawaban yang diberikan kedengaran logis. Tapi meski begitu, sebenarnya apa yang dia katakan sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Dia bilang dia tidak punya waktu dan Ibunya tidak mengijinkannya.

Dia tidak bilang kalau dia tidak mampu untuk ikut ataupun tidak mau berpartisipasi.

Jadi, apa aku bisa menganggap kalau secara tidak langsung dia baru bilang dia ingin ikut tapi tidak bisa?

"Mungkin kau tidak bisa melihatnya, tapi Ibuku itu lemah! dia itu mudah merasa kesepian"

"Apa Ayahmu menikah dua kali?"

Apa yang dia katakan tentang Ibunya sangat jauh dari apa yang kulihat dari Ibunya, karena itulah aku memastikan kalau dia tidak sedang membicarakan Ibunya yang lain. Hanya saja, Hinata sepertinya merasa tergarami ucapanku.

"Sebisa mungkin, aku tidak ingin meninggalkannya sendiri! sebab sekarang! yang ada di sisinya hanya aku saja"

Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi aku memutuskan untuk berhenti sebab aku merasa. Kalau aku maju lebih jauh aku akan mendengar sesuatu yang tidak seharusnya kudengar.

2

Dengan bantuan tidak langsung Hinata, akhirnya aku bisa menyelesaikan tugasku. Dan begitu selesai menyetorkannya pada guru bahasa kami, aku berniat mengajak Hinata untuk pulang bersamaku. Maksudku, mengajaknya ke rumahnya.

Mengingat aku sudah terlambat untuk datang ke tempat kerja, aku yakin kalau aku akan mendapatkan serangan verbal kelas profesional dari Ibu Hinata. Karena itulah aku ingin pulang bersama Hinata dan membagi kesusahanku dengannya.

Hanya saja sebelum aku sempat berbicara dengannya, tiba-tiba ada sebuah pengumuman yang mengatakan kalau Hinata dipanggil oleh kepala sekolah. Yang membuat Hinata punya alasan untuk menyuruhku pulang duluan dan menghindari omelan yang ingin kubagi dengannya.

Tentu saja aku tidak menyerah begitu saja dan mencoba tetap menunggunya, hanya saja ketika aku sedang berdiri di depan gerbang seperti orang tidak punya kerjaan. Sasuke, yang entah muncul dari mana tiba-tiba menyapaku dan dengan muka serius bilang.

"Aku perlu bicara denganmu"

Kata serius dan Sasuke itu bisa dibilang pada dasarnya adalah lawan dari satu sama lain. Pemuda yang ada di hadapanku adalah orang yang lumayan anti dengan sesuatu yang berbau serius. Itu artinya, dia ingin membawa topik yang tidak bisa dianggap main-main.

"Aku akan mendengar, tapi kau harus mau pulang bersamaku ke rumah Hinata"

"Ha?"

Yang kuperlukan hanyalah teman untuk menghadapi Ibunya Hinata, karena itulah aku tidak keberatan pulang duluan bersama Sasuke. Malah bisa dibilang kalau pergi dengannya lebih menguntungkan sebab dia bukan anggota keluarga Hinata. Kalau aku bersama Hinata, kemungkinan besar sebagian besar omelannya masih akan mengarah padaku. Tapi kalau yang bersamaku adalah Sasuke, kuharap kami bisa membagi omelan orang itu bisa kami bagi fifty-fifty.

"Bagaimana?"

"Tidak masalah"

Dengan begitu, aku pulang bersama Sasuke dengan pelan sambil berharap nanti Hinata akan bisa menyusul dan membagi omelan yang akan kudapatkan jadi hanya sepertiganya saja.

"Jadi hal macam apa yang kau ingin bicarakan?"

"Belakangan ini Hinata sering dipanggil oleh guru, kau tahu kenapa?"

Sekarang ketika dia mengatakannya, aku jadi ingat kalau dalam seminggu ini sepertinya Hinata sudah dipanggil untuk ke kantor guru sebanyak tiga kali. Aku tidak terlalu memikirkannya sebab aku sangat yakin kalau Hinata dipanggil bukan karena dia punya masalah. Mengesampingkan mulutnya yang sering mengeluarkan kata-kata menyakitkan, harusnya dia tidak pernah melakukan hal yang cukup besar untuk memancing perhatian guru.

Harusnya.

"Dari kalimatmu, kau tahu penyebabnya?"

"Um, dan kalau keadaannya tidak membaik kemungkinan Hinata akan keluar dari sekolah ini, tidak! dari sekolah"

Dia membuang kata 'ini'-nya, dengan kata lain apa yang dia bayangkan bukan hanya sekedar Hinata keluar dari sekolahnya yang sekarang. Tapi bahkan mungkin ada kesempatan kalau gadis itu akan berhenti bersekolah sekalian.

"Kenapa? sekolah punya masalah apa dengannya?"

Kalau kami berada dalam drama, karakter seperti Hinata mungkin akan dengan mudah memancing banyak flag masalah. Aku bahkan bisa dengan mudah membayangkan kalau ada anak orang yang punya banyak kekuasaan di sekolah ingin mengeluarkannya karena gadis itu bertingkah menyebalkan.

Hanya saja kami dia bukan pemeran utama dari manga shojou, lagipula sekolah ini adalah milik negara jadi tidak ada yang bisa sembarang meminta sekolah mengeluarkan muridnya begitu saja.

"Sebaliknya, yang punya masalah itu Hinata!"

Setelah itu, Sasuke menjelaskan kalau sekolah sudah tahu kalau Hinata hanya pura-pura bodoh. Yang disebabkan oleh nilainya yang selalu konsisten di bawah tapi soal yang berhasil dia jawab di setiap ulangan dan test sering dalam kategori yang berbeda-beda. Membuat para guru curiga kalau nilai buruk Hinata dia dapatkan dengan sengaja.

"Lalu apa hubungannya antara ektingnya ketahuan dan topik tentang Hinata keluar sekolah?"

Aku paham kenapa sekolah marah padanya, tapi harusnya sekolah tidak punya hak untuk mengeluarkan Hinata hanya karena gadis itu tidak mau mendapatkan nilai tinggi. Selain itu, meski dibilang rendah nilai Hinata tidaklah sejelek itu. Sebab sampai saat ini, aku tidak pernah melihatnya ikut remidial. Jadi, kalau semua orang bisa melupakan fakta kalau dia melakukannya dengan sengaja, kau bisa menggapnya sebagai murid biasa yang prestasinya kurang.

Dia bukan temannya Ayanok*ji, jadi, tidak ada alasan bagi sekolah untuk main-main dengannya.

"Sebab kau dari luar kota, mungkin kau tidak tahu kalau di sini Hinata lumayan terkenal"

"Terkenal?"

"Sama sepertimu, dia juga ditawari beasiswa"

Hanya saja Hinata tidak mengambilnya dan masuk lewat jalur reguler. Sebab alasannya masuk ke sekolahnya yang sekarang bukanlah karwna dia ingin menumpang pamor sekolahnya, tapi hanya karena lokasinya dekat dengan rumahnya.

Beasiswa hanya diterima oleh seorang siswa yang punya kemampuan jauh di atas rata-rata pada sebuah bidang. Setidaknya begitulah yang tertulis di selebaran yang kuterima dulu. Aku sendiri bisa menerima beasiswa karena aku pernah memenangkan kejuaraan lari tingkat provinsi. Jika Hinata menerima tawaran yang sama, itu berarti dia punya prestasi yang sama atau bahkan yang levelnya di atasku.

"Ngomong-ngomong rekomendasinya dia dapatkan dari mana?"

"Aku dengar bahasa, dan tulisannya sepertinya menang sebuah kompetisi besar"

"Kenapa semua infomu tidak jelas begitu"

"Aku tidak terlalu memperhatikan hal semacam itu"

Kukira kau teman masa kecilnya? lalu, sekarang aku paham kenapa aku tidak pernah menang adu argumen dengannya.

"Lalu, masalah utamanya?"

"Dua bulan lagi ada olimpiade, dan sekolah ingin Hinata mengikutinya! lalu. . ."

"Hinata tidak ingin berpartisipasi. . huh."

"Dan sekolah tidak mau mundur. . ."

Karena itulah Hinata mengancam akan keluar kalau sekolah terus memaksanya. Dan mengingat yang mengatakannya adalah Hinata, aku sangat yakin kalau apa yang dia katakan sama sekali bukan ancaman kosong. Kalau sekolah tetap maju, maka Hinata akan melompat.

"Kenapa sekolah sampai ngotot seperti itu?"

"Salah satu alasannya adalah kau!"

"Eh?"

Dalam angkatanku, harusnya ada dua siswa yang menerima beasiswa. Dan siswa itu adalah siswa yang ditujukan untuk mengikuti olimpiade dua bulan lagi. Hanya saja, yang bisa sekolah rekrut hanya satu orang dan satu orang itu tiba-tiba tidak bisa lagi diandalkan untuk mencari prestasi untuk bisa dicatat.

Dengan kata lain, sekolah tidak punya anak buah untuk dikirim ke medan perang.

Berhubung masalah yang kupunya adalah sesuatu yang tidak bisa diperbaiki kecuali dengan keajaiban. Sekolah memutuskan untuk merekrut Hinata sebagai prajuritnya meski dulu dia sudah menolak.

Jika tidak ada yang berpartisipasi maka kesempatan sekolah untuk mendapatkan tropi tahun ini akan hilang. Dan sebagai sekolah yang lumayan punya nama, tentu saja mereka tidak ingin pamor mereka turun.

Selain itu, jika ada seorang siswa hebat yang berubah jadi murid dengan prestasi buruk begitu masuk sekolah mereka. Bisa jadi citra mereka malah akan jadi negatif.

"Um. . .aku minta maaf"

Meski tidak secara langsung, sepertinya aku sudah ikut bertanggung jawab atas masalah yang ada sekarang.

"Jadi kau ingin minta tolong apa Sasuke?"

Sasuke berhenti berjalan lalu berbalik dan menatapku dengan serius. Kemudian, setelah menarik nafas dalam dia bilang. . .

"Tolong jangan biarkan Hinata sampai keluar!"

"Dia keluar atau tidaknya saja masih belum jelas"

"Kalau begitu aku ingin agar dia tidak sampai memikirkannya dengan serius!"

"Kalau dia keluar memangnya kenapa?"

Mengesampingkan apakah Hinata memang ingin keluar atau tidak, tidak ada yang punya hak untuk mengatur apa yang dia ingin lakukan. Dan meskipun ada yang bisa memaksakan keinginan mereka pada gadis itu, setidaknya orang-orang itu bukan aku maupun Sasuke. Kami berdua tidak punya hak untuk mengatur kehidupannya.

"Aku memang tidak punya hak atas keputusannya, tapi dia juga tidak punya hak atas keputusanku! dan keputusanku adalah tidak membiarkannya keluar atau pindah!"

Di depan umum, Sasuke dan Hinata mungkin kelihatan hanya sekedar kenalan. Tapi sebenarnya mereka berdua itu cukup dekat. Saat yang ada di sekitarnya hanya aku dan Sasuke, atau kenalan dekat kami seperti Hanabi dan Amaru. Hinata akan bertingkah lebih natural di dekat Sasuke. Layaknya dua orang yang benar-benar besar bersama.

"Percaya padaku Naruto! gadis itu sudah menganggap sekolah sebagai rumah keduanya!"

Dengan kata lain, ada kemungkinan kalau sebenarnya Hinata sama sekali tidak ingin pergi. Dan ketika yang mengatakannya adalah adalah seseorang yang sudah melihatnya sejak kecil, kredibilitas kata-katanya cukup besar untuk bisa kupercaya dengan mudah.

Tapi.

"Bisa saja dia mendapatkan teman yang lebih baik di luar sana"

Yang Sasuke bilang adalah 'sekolah' tapi tentu saja yang paling penting bukanlah sekolahnya sendiri. Bukan bangunannya, tapi orang-orang di dalamnya. Yang artinya, ketika Sasuke bilang sekolah sudah seperti rumah kedua Hinata. Yang dia maksud adalah di dalamnya ada orang-orang yang cukup dekat dengannya layaknya keluarga.

Mungkin yang Sasuke maksud adalah aku, Amaru, dan juga Hanabi mengingat tidak ada orang lain yang kelihatan dekat dengan gadis berlidah pedas itu. Tapi sayangnya, hubungan kami bertiga dengan Hinata tidaklah seerat itu. Jadi pada dasarnya, selain Sasuke tidak ada orang yang punya ikatan yang kuat dengan gadis itu.

"Hahaha. . . . kadang aku ingin memukul wajahmu!"

"Heh?"

"Kau tahu sendiri sifat Hinata kan? asalkan di sana tidak ada orang sepertimu! kurasa dia tidak akan mudah dapat teman! maksudku! Naruto itu hanya kau"

Sejak kapan aku jadi hewan langka?

Tapi apa yang Sasuke katakan memang benar, aku agak sulit membayangkan Hinata bisa dengan mudah bergaul dengan orang-orang baru di tempatnya yang baru. Bahkan sebaliknya, aku bisa dengan mudah membayangkan dia duduk sambil mengeluarkan aura 'jangan ganggu aku' yang membuat orang lain ingin menjauhinya karena takut kena masalah.

"Aku paham kalau permintaanku itu merepotkan, tapi aku hanya bisa bergantung padamu!"

"Baguslah kalau sadar!"

Sasuke bisa saja bicara langsung pada Hinata, tapi kekuatan persuasinya akan lebih rendah sebab dia adalah teman dekatnya dari kecil. Ke manapun Hinata pergi, ataupun misalkan Hinata memutuskan untuk berhenti bersekolah. Hubungannya dengan Sasuke tidak akan terlalu banyak berubah. Membuat Hinata mungkin merasa kalau dia tidak perlu memikirkan keinginan sasuke dengan serius.

"Aku akan mencoba"

"Terima kasih!"

"Tapi aku tidak janji!"

"Tidak masalah!"

"Dan ngomong-ngomong tentang janji, kau masih ingat berjanji akan menemaniku ke rumah Hinata kan?"

"Tentu saja"

Beberapa menit kemudian, aku dan Sasuke sampai di depan rumah Hinata. Dan seperti yang sudah kuduga, begitu kami masuk Ibu Hinata langsung memberikan sambutan kelas utama. Memaksa aku, dan Sasuke yang terus menggerutu padaku harus mendengarkan omelan wanita itu bahkan sampai Hinata yang kami tinggal akhirnya sampai di rumah.

3

"Aku ingin protes!"

"Pagi-pagi begini apa yang kau bicarakan? apa kau belum bangun dan masih bermimpi sambil bicara? kalau begitu aku akan membangunkanmu!"

Pagi ini, begitu aku membuka mata dengan tidak rela. Aku menemukan Amaru yang masih berpiyama duduk di samping badanku sambil menatapku dengan pandangan tajam. Setelah itu dia mangatakan hal di atas. Dan sebagai reaksinya, aku menggunakan tangan kananku untuk mencapai wajahnya lalu menjewer pipi kanannya yang terasa lembut dan kenyal seperti jeli.

"Aku seriuuuussss. . . "

Dia memaksa pipinya lepas dari jeweranku, setelah itu Amaru kembali menatapku dengan pandangan tadi. Sepertinya anak ini benar-benar serius ingin bicara. Normalnya Amaru adalah anak yang selalu mencoba bertingkah dewasa. Dia hanya akan menunjukan sifat kekanakannya kalau dia sedang terpojok atau sedang marah besar.

Aku bangun dan duduk menghadapnya.

". . . "

Geh. . . pemandangan ini tidak pernah berhenti membuatku susah bicara. Sedikit cahaya matahari yang bisa masuk ke kamarku jatuh tepat ke kepala bagian kiri Amaru, dengan begitu aku bisa melihat jelas mata besar beningnya, rambut kemerahannya juga jadi kelihatan sedikit transparan, setelah itu bibir kecilnya yang basah karena iler juga untuk suatu alasan jadi kelihatan bersinar.

Setiap kali aku melihatnya di bawah sinar matahari, dia selalu saja memberikan impresi cerah dan hangatnya musim panas. Dan di saat dingin-dingin begini aku jadi ingin segera memeluk tubuh lembut hangatnya itu.

"Kak Narutoooo!. . "

"Maaf, jadi kau ingin protes tentang apa?"

Amaru menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, setelah itu dia bilang.

"Aku merasa ditelantarkan"

"Hah? ditelantarkan?"

Aku tidak ingat sudah menelantarkannya. Aku memberikannya tempat tinggal, memberinya makan setiap hari, memberinya tempat untuk tidur yang nyaman, selain itu aku juga tidak lupa untuk mengelus-elus kepalanya satu atau dua kali setiap harinya. Dilihat dari manapun harusnya aku tidak bisa disebut menelantarkannya.

"Sebelum kita membahas masalah ini lebih jauh, kak Naruto harus berhenti dulu memperlakukanku seperti kucing peliharaan"

"Tapi kau kan memang imut?"

"Pujianmu sama sekali tidak membuatku senang! apa gunanya jadi imut kalau aku hanya selevel kucing peliharaan?"

Memangnya kau punya masalah apa dengan kucing. Kucing itu hebat, kau bahkan bisa membuat apapun kelihatan imut hanya dengan memberinya kuping kucing..

"Aku tahu kalau kak Naruto lebih suka NICE BODY seperti kak Hinata, tapi meski begitu tolong berikan aku sedikit lebih banyak perhatian"

"Kenapa kau membawa-bawa Hinata?"

Dan tolong jangan sembarangan membicarakan preferensi seseorang keras-keras seperti itu.

"Sebab akhir-akhir ini kau cuma memperhatikan kak Hinata"

"Aku kan bekerja dengannya ya mau bagaimana lagi"

Selama beberapa minggu ini aku mulai bekerja di tempat Hinata, dan karena hal itu setiap hari aku jadi bertemu dengan Hinata di sana. Dan sebab aku jadi rekan kerjanya, mau tidak mau aku harus melihatnya setiap hari.

"Kau bahkan tidak menyangkal kalau kau memperhatikannya"

Meski aku menyangkalpun kau tidak akan percaya. Selain itu aku memang benar-benar memperhatikannya jadi jika aku menyangkal aku sudah berbohong padamu. Aku sama sekali tidak percaya dengan yang namanya 'kebohongan yang baik'. Meskipun menyakitkan, kebenaran itu tetap lebih berharga dari kebohongan.

Dengan pengecualian tentu saja.

Kemudian, jika kau ini laki-laki dan kau tidak memperhatikan Hinata saat dia ada di dekatmu itu berarti mungkin kau tidak normal. Wajahnya, rambutnya, bentuk dan garis tubuhnya meski ditutup dengan penampilan biasa serta dibuat tidak menarik tetap saja pesonanya tetap keluar.

"Kak Naruto harusnya tahu kalau menjaga penampilan itu susah kan?"

Tentu saja aku tahu. Kakak perempuanku bahkan selalu mengeluh ketika disuruh untuk mengatur penampilannya karena dia menganggap kegiatan itu membuang-buang waktu, merepotkan, dan juga mahal.

Pakaian, kosmetik, dan perawatan lalu banyak hal-hal lain yang tidak kutahu lainnya adalah sesuatu yang diperlukan untuk menjaga penampilan seorang gadis agar selalu pada kondisi topnya.

"Dan tentu saja aku juga harus ikut bersusah-susah, sebab aku juga selalu ingin enak dilihat di depanmu"

"Apa kau yakin ingin membicarakan hal seperti ini denganku?"

Bukankah normalnya kau membicarakan hal semacam ini dengan sesama perempuan? Aku benar-benar tidak tahu harus merespon bagaimana. Membawa topik semacam ini padaku sama saja dengan menaruh ahli mesin di tengah-tengah koki.

"Kau tidak suka dengan orang yang berbelit-belit kan, karena itulah aku tidak ingin bicara berputar-putar"

Kebiasaannya mengaku-ngaku sebagai adik perempuanku benar-benar bukan hanya sekedar omong kosong. Dia benar-benar paham bagaimana cara otakku berpikir. Dia tidak berputar-putar dan langsung mengatakan apa yang dia katakan meski apa yang baru saja dia beritahukan padaku adalah sesuatu yang normalnya jadi sebuah rahasia.

Yang dia inginkan dariku sangat sederhana. Dia ingin aku lebih memperhatikannya karena dia sudah bekerja keras untuk menjaga penampilannya di depanku sudah jadi hampir sia-sia sebab aku terlalu sibuk mengurusi pekerjaanku.

Permintaanya lumayan menyusahkan dan aku juga tidak merasa ada logika antara kemarahannya padaku dengan usahanya sebab aku tidak pernah meminta apa yang dia ingin berikan padaku. Hanya saja, mengatakan kalau seseorang sudah egois pada seseorang yang sudah sadar kalau apa yang dia inginkan hanyalah sebuah keegoisan sama sekali tidak ada gunanya.

Selain itu. Seperti yang sudah dikatakan olehnya, aku tidak suka sesuatu yang berbelit-belit. Meski aku tidak menyukai permintaannya tapi aku benar-benar suka dengan kejujurannya. Dia tidak diam lalu minta dimengerti, dia tidak marah tanpa memberitahukan alasannya, dan dia tidak membuat situasi di mana aku harus main tebak-tebakan tentang apa yang sedang dia pikirkan dan mau.

"Maaf, tapi aku memang sibuk belakangan ini"

Pekerjaanku jadi semakin melelahkan dan ketika aku pulang aku sudah terlalu lelah untuk bisa menemaninya lebih lama. Biasanya setelah makan malam aku langsung tidur.

Semuanya bukan salahku, semua kesusahan yang dia alami adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Tapi untuk suatu alasan aku merasa bersalah. Persis seperti seorang ayah yang tiba-tiba melihat anaknya sedih dan entah kenapa ingin melakukan sesuatu untuk anaknya itu.

Dan sekarang aku juga jadi ingat wajah ayahku yang jadi seperti zombie saat kakakku bilang dia membenci ayahku.

Memang aku tidak memintanya untuk berpenampilan bagus di depanku, tapi disambut gadis manis saat kau pulang kerja dan kecapekan sama sekali bukan pengalaman yang buruk. Meski fisikku tetap lelah tapi setidaknya MP-ku sedikit pulih begitu melihatnya.

"Aku berjanji akan meluangkan waktu sedikit lebih banyak denganmu nanti"

Aku mengelus-elus rambut di puncak kepalanya yang terasa sangat halus.

Hal sekecil ini juga pasti adalah hasil dari kerja kerasnya. Kakakku bilang kalau merawat rambut panjang itu merepotkan dan tidak mudah, dan ngomong-ngomong tentang usaha untuk menjaga penampilan pasti Hinata dan Hanabi juga melakukan usaha yang sama kerasnya.

Usaha mereka mungkin tidak sampai ke taraf berlebihan seperti mengenakan make up mencolok atau melakukan olahraga dengan alat khusus. Tapi keduanya pasti menjaga penampilannya dengan caranya masing-masing.

Kalau tidak, mungkin saja Hinata tidak akan memiliki Nice Bodynya yang sekarang dan juga bibir pink mungil Hanabi tidak akan kelihatan lembab dan bersinar saat terkena cahaya.

"Jadi kapan kau ada libur kak Naruto?"

"Ha?"

Kenapa topiknya tiba-tiba berubah?

"Aku mau minta ganti rugi"

Jangan bicara sambil menunjukan muka cemberut seperti itu, apa kau ingin aku mencubit pipimu lagi?!

"Aku ingin kencan sebagai ganti rugi"

"Kencan ya?"

Dengan kata lain bermain berdua saja selama seharian.

"Apa kau tidak mau?"

Jika kau memintaku dengan memasang ekspresi penuh harapan seperti itu tidak mungkin aku bisa menolak. Jantung seorang laki-laki itu lemah terhadap keimutan. Dan aku tidak mau mati karena keimutanmu. Untuk permintaanku aku sama sekali tidak ada masalah, tapi ada hal lain yang mungkin jadi masalah.

"Apa budget bulan ini masih aman?"

Dan masalah itu adalah masalah klasik yang selalu kualami. Masalah ekonomi.

"Tenang saja suamiku, pasukan musuh sudah mundur dan sekarang aku bisa ikut bekerja, kau tidak perlu khawatir anak-anak kita tidak akan kelaparan"

"Jangan tiba-tiba mengubah setting pembicaraan ini ke jaman perang"

Aku menepuk kepalanya lalu mengangguk.

Kalau masalah itu sudah ditangani maka aku tidak punya alasan lagi untuk menolak ajakannya. Kurasa sesekali melakukan refreshing bukan ide yang buruk.

2

Seperti yang sudah kujanjikan, di akhir pekan aku pergi berdua dengan Amaru. Dan sebab aku sudah terbiasa ke mana-mana bersamanya, aku sama sekali tidak merasa canggung maupun grogi. Malah sebaliknya, aku merasakan sebuah nostalgia. Meski dia itu tidak punya hubungan darahku, tapi kedekatannya denganku sudah benar-benar seperti saudara sungguhan.

"Kak Naruto, jangan memikirkan gadis lain saat kau berdua denganku"

"Tidak, tidak, aku hanya berpikir kalau ternyata kita itu sangat dekat"

Ya, apa yang dia katakan sama sekali tidak salah. Rumahku dan rumahnya sangat dekat, dan kedekatan kami bukan hanya karena hal simple itu. Sejak dia membuka mata, aku sudah ada di sana dan melihatnya. Gara-gara aku ikut melihatnya dulu di rumah sakit bersama orang tuaku, mungkin secara tidak sengaja aku dan kedua orangtuaku juga dia registerkan sebagai keluarga karena proses imprinting.

"Jadi apa rencananya? meski tidak kukatakanpun harusnya kau tahu kalau aku sama sekali tidak punya rencana"

Jika yang mendengar ucapanku adalah Hinata dia pasti akan langsung menghinaku lalu membuat rencananya sendiri, jika Hanabi yang mendengarnya dia pasti akan bingung karena dia juga tidak punya persiapan. Hanya saja yang sekarang bersamaku adalah Amaru.

"He. . he. . .he. . jangan remehkan aku yang bisa diandalkan ini, tentu saja aku sudah persiapan jadwal"

Benar-benar bisa diandalkan. Tidak percuma kau mengaku-ngaku sebagai adikku lebih dari sepuluh tahun. Jika posisi kita dibalik pasti aku sudah jatuh cinta padamu Amaru. Tidak, mungkin saja aku sudah jatuh cinta padanya tapi belum menyadarinya.

"Untuk yang pertama bagaimana kalau kita keliling kota?"

Pilihan yang sangat praktikal. Dan aku menyukai jalan pikirannya.

Kegiatan itu bisa dijadikan sarana tour bagi Amaru yang masih baru di kota ini sehingga dia bisa lebih paham lingkungan tempatnya tinggal dan aku tidak perlu bingung memikirkan tempat apa yang bagus menurutnya. Aku hanya perlu membawanya ke tempat yang kutahu saja dengan alasan 'kau perlu tahu tentang tempat ini'.

"Serahkan padaku"

Rencana sudah ada, tujuan sudah ditentukan, yang tinggal kulakukan hanyalah eksekusinya. Jadi ke mana dulu kami harus berjalan? ke taman? ke taman kan ya? ke taman kan? um. . . pasti ke taman!.

"Geh. . "

Ternyata aku sendiri yang sudah tinggal di sini hampir dua tahun tidak terlalu hafal tentang tempat ini. Dari tadi yang bisa kupikirkan hanya taman saja, dan taman itupun adalah taman yang harus kulewati saat berangkat ke tempat kerja paruh waktuku di penyewaan komik. Dengan kata lain Amaru juga sudah tahu tentang tempat itu.

Aku sudah gagal sebagai seorang senior.

Kalau sudah begini aku tinggal punya satu jalan kabur. Mengajaknya ke taman bermain. Ok, meski aku harus mengorbankan uang tapi akan memulai kencan ini dengan kegagalan kedengaran sama sekali tidak keren.

"Aku mau ke rumah kak Hinata"

"Ha? . "

"Aku mau ke rumah kak Hinata"

"Kenapa kau ingin ke sana?"

"Tentu saja karena aku ingin tahu di mana tempatnya"

Mengetahui tempat tinggal orang yang dekat denganmu itu memang penting, sebab ketika kau mengalami kesusahan merekalah yang akan kau mintai tolong terlebih dahulu.

"Apa ada masalah kak Naruto?"

"Tidak juga"

Aku tidak terlalu ingin pergi ke sana. Selain tuan rumahnya tidak ramah, pada dasarnya setiap hari aku juga sudah ke sana jadi bisa dibilang tempat itu sudah jadi membosankan. Hanya saja, perjalanan ini bukan untukku tapi untuk Amaru.

"Aku sudah pernah ke rumah Hanabi, dan aku juga sempat mampir ke tempat kak Sasuke, hanya rumah kak Hinata saja yang tempatnya belum kutahu"

Eh. . . tunggu dulu. Kenapa aku mendengarkan informasi yang tidak enak didengar tadi?

"Kau mampir ke rumah Sasuke?"

"Um. . "

"Tolong jangan bilang kau ke sana hanya berdua saja"

"Hanya berdua saja"

"Amaruuuuu. . . . . dengarkan aku baik-baik!"

Meski kelihatannya seperti orang baik-baik, Sasuke itu sebenarnya sama sekali bukan orang baik. Setidaknya kalau yang jadi subyeknya adalah perempuan. Dia itu playboy mesum yang hobinya mengejar-ngejar rok banyak gadis. Dan tentu saja aku tidak rela kalau dia mengejar rokmu.

"Tenang saja, kak Sasuke memang playboy yang suka mengejar banyak perempuan untuk main-main tapi di saat yang sama dia juga adalah orang penakut yang tidak akan berani melakukan apa-apa saat ada kesempatan lalu menganggap semuanya hanya sekedar main-main! dengan kata lain dia akan mundur di saat dia hanya perlu menekan tombol fatality"

Kau pikir dia sedang main m*rtal kombat?

"Huh. . . "

Tapi kalau apa yang Amaru katakan itu memang benar semuanya jadi logis. Meski dia playboy kelas kakap tapi aku masih belum mendengar rumor kalau levelnya sudah turun dari playboy ke sampah masyarakat, selain itu fakta kalau dia belum pernah masuk rumah sakit karena ditusuk dari belakang menunjukan kalau korbannya tidak ada yang punya dendam kesumat dengan orang itu.

"Tapi tetap saja datang ke tempat laki-laki sendirian itu adalah sesuatu yang harus kau hindari"

"Kau tidak perlu khawatir kak Naruto, hatiku akan selalu jadi milikmu meski tubuhku tidak"

Kau malah membuatku semakin khawatir. Jangan mengatakan hal-hal yang implikasinya adalah akan ada sesuatu yang terjadi padamu. Entah itu luar atau dalam, aku sama sekali tidak ada niat untuk membiarkanmu memberikannya pada orang lain.

Dengan topik Sasuke sebagai pembukaannya, kami berdua terus mengobrolkan hal-hal tidak penting lainnya sambil terus berjalan menuju ke rumah Hinata. Tapi ketika kami berdua sudah hampir sampai ke area tempat tinggal gadis itu, tiba-tiba ada mobil yang datang dan berhenti tepat di samping kami.

"Kau mau ke mana Naruto?"

Dan dari dalam, Hinata mengeluarkan kepalanya lalu bertanya padaku. Dia berada di kursi supir dan di sampingnya ada Ibunya yang juga sedang melihat ke arahku dengan tatapan masam seperti biasa. Setelah itu di kursi baris kedua aku bisa melihat ada seseorang yang hampir tidak pernah kulihat. Ayahnya Hinata, yang saat inipun sedang tidur dengan lelap.

"Aku mau ke rumahmu"

"Kenapa? bukankah kau ini adalah tipe orang yang lebih suka berguling-guling di lantai kamar saat sedang hari libur!. sekarang tidak ada yang perlu kau kerjakan dan kami mau pergi! "

"Apa kau tidak bisa berbicara tanpa menghinaku?"

"Kau sudah tahu jawabannya"

"Maaf. . aku yang salah"

Dia tidak bisa melakukannya. Jika di depan orang tuanya saja dia masih melakukan kebiasaannya itu maka sudah dijamin tidak ada harapan kalau dia bisa berbicara denganku tanpa menyelipkan hinaan di dalamnya saat kami hanya berdua.

"Dasar tidak berguna!"

"Eh kalau yang ini untuk apa?"

Meski aku ini orang yang terbiasa dihina tapi dihina tanpa alasan tetap saja tidak mengenakan. Hinata melihat Amaru yang ada di sampingku lalu bilang.

"Aku tidak tahu detail masalahnya, tapi setidaknya aku tahu kalau kau ini benar-benar tidak berguna"

Kau tidak tahu masalahnya tapi tetap masih memutuskan untuk menghinaku. Aku benar-benar merasa perlu meragukan kemampuan pengambilan keputusanmu.

"Untuk suatu alasan aku benar-benar merasa terhina"

Dihina oleh Hinata adalah kegiatan sehari-hari. Tapi kali ini hinaannya benar-benar terasa menghina.

"Laki-laki macam apa yang mengajak seorang gadis jalan-jalan ke rumah gadis lain? apa kau ini idiot? kau ini idiot kan?"

"Tapi Amaru yang memintanya sendiri"

Amaru sendiri yang memintaku mengajaknya ke sini.

"Karena kau tidak punya rencana kan?"

Geh. . .semua ini memang gara-gara aku tidak punya rencana. Tugas laki-laki itu adalah menanggung beban dan menyelesaikan masalah sedangkan tugas perempuan adalah membantu laki-laki. Dan saat ini yang menanggung beban dan coba menyelesaikan masalahnya sambil membantuku adalah Amaru.

Dilihat dari manapun aku memang benar-benar orang tidak berguna.

"Maaf"

"Jangan minta maaf padaku, minta maaf pada Amaru!"

"Maafkan aku Amaru!"

"Kau tidak perlu minta maaf, aku sudah tahu kalau kau itu tidak bisa apa-apa tanpaku"

"Sekarang aku ingin kau yang minta maaf"

"Hehehe. . "

Jadi sekarang bagaimana? berhubung Hinata dan keluarganya akan pergi itu berarti rencana awal kami sudah gagal. Kalau begini bukankah satu-satunya pilihan yang kupunya tinggal mengajaknya ke taman bermain lalu menghabiskan uang yang susah-susah kami simpan?

Aku melihat ke arah Amaru berharap kalau dia punya ide lain, tapi dia balas menatapku dan menggelengkan kepalanya. Yang artinya, sama sepertiku dia juga belum memikirkan rencana pengganti.

"Baga. . . . "

"Apa bicaranya masih lama Hinata?"

Dari dalam mobil, tiba-tiba Ibu Hinata bicara dan menyambar Hinata yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu padaku dan Amaru. Dan seperti yang sudah sering terjadi dan kulihat di rumah, Hinata langsung diam dan mendahulukan Ibunya.

"Tidak. . . . aku akan segera jalan"

". . ?"

Amaru yang melihat hal itu langsung menunjukan wajah terkejut. Setelah itu dia melihat ke arahku dengan pandangan yang isinya mungkin adalah pertanyaan tentang apa yang baru saja terjadi tadi. Aku meletakan telapak tanganku di atas kepalanya lalu menariknya mendekat ke arahku, aku tahu kalau dia ingin tahu tapi sekarang bukan saatnya untuk memberikan penjelasan.

Hinata melihat langsung ke mataku, setelah itu aku menganggukan kepalaku ke untuk memberikan tanda kalau dia sudah bisa jalan. Kemudian dia memasukan kepalanya ke mobil dan mengecek Ibunya.

"Kalau begitu aku jalan dul. . "

"Siapa yang menyuruhmu jalan? . . kau geser sedikit"

"Um?"

Hinata memundurkan kursinya lalu Ibunya berganti menunjukan wajahnya pada kami. Setelah itu dia melihat ke arah kami seakan sedang memeriksa penampilan kami berdua, lalu beberapa saat kemudian dia menganggukan kepalanya dan bicara.

"Bagaimana kalau kau ikut saja gadis kecil? di belakang masih ada kursi kosong"

Nadanya sama sekali tidak enak didengar, tapi apa yang dikatakannya kedengaran seperti sesuatu yang akan dikatakan orang baik. Aku tidak akan bilang kalau dia itu orang jahat, tapi apa yang dikatakannya benar-benar sama sekali tidak cocok dengan ekspresi yang dia tempel di wajahnya.

Gadis tsundere memang punya daya tarik tersendiri, tapi kurasa kalau mereka sudah agak berumur ke-tsundere-an mereka malah hanya membuat mereka jadi kelihatan seram. Maksudku, saat melihat wajah Ibu Hinata entah kenapa aku langsung ingat dengan image Ibu tiri kejam.

"Bagaimana Amaru?"

"Kurasa itu ide bagus"

Aku juga berpikir begitu. Dengan begini Amaru tidak lagi harus jadi bingung, dan aku juga jadi lebih tenang karena tidak lagi perlu membuang-buang uang dan bisa memeriksa keadaannya dengan mudah sebab dia pergi dengan orang-orang yang kukenal dekat.

"Kalau begitu telpon aku saat kau pulang, aku akan menjemputmu"

"Kak . . "

"Kau mau meninggalkannya sendirian? kau ini laki-laki apa bukan?"

Eh? aku yang salah? kalau ingatanku benar bukankah dari tadi kau hanya mengajak Amaru? dan aku tidak meninggalkannya sendirian. Aku menitipkannya pada kalian. Menitipkannya pada keluarga teman sekelasku. Aku sama sekali tidak menelantarkannya.

"Jadi aku juga diajak?"

Aku punya banyak komplain, tapi tentu saja aku sama sekali tidak berani mengutarkannya. Aku sudah sering diancam akan dipecat, dan dengan kepribadian itu, aku yakin kalau dia tidak pernah mengatakannya dengan main-main.

"Tentu saja! kau kira pertolonganku itu gratis? memangnya kau ini siapa? kau harus membayar ganti rugi"

Kata menolong dan ganti rugi kurasa benar-benar bertolak belakang. Kalau kau meminta ganti rugi, bukankah itu namanya bukan menolong? tapi bisnis.

"Gajiku tidak akan dipotong lagi kan?"

Untuk sementara lupakan dulu semua itu, yang paling penting sekarang adalah memastikan dulu kalau masa depanku baik-baik saja.

"Kau kira aku ini orang macam apa? aku tidak akan memotong gajimu hanya karena masalah sepele semacam ini! sebagai ganti rugi kau akan ikut dan membantu membawakan barang"

Kau persis kelihatan seperti orang yang akan memotong gaji pekerjanya karena masalah sepele. Maaf, tapi tadi kau benar-benar kelihatan seram.

"Huf. . syukurlah. Aku sudah sempat tegang tadi"

". . . "

Ibu Hinata kembali melihatku dengan tajam.

"Maafkan aku. . aku akan ikut"

Sebab Ayah Hinata tidur di bagian tengah, aku dan Amaru masuk dari dua pintu yang berbeda. Aku dari kanan dan dia dari kiri. Setelah itu kami berdua duduk mengapit Ayah Hinata yang dengan lelapnya masih tertidur. Telinganya pasti sudah terbiasa dengan suara berisik sampai-sampai teriakan istrinya tidak bisa membangunkannya.

2

Hinata, jika kau melihat bagaimana dia memperlakukanku dan tingkahnya disekolah aku yakin kalau tidak ada satupun yang mengira kalau di rumah dia itu hanya anak ayam. Seekor anak ayam penakut yang tidak berani mengatakan tidak pada Ibunya dan selalu menuruti apapun yang wanita itu katakan.

Jika yang kita bicarakan adalah anak kecil yang mungkin kau akan menganggap kalau apa yang Hinata lakukan di rumah adalah hal yang baik. Menuruti apa yang dikatakan Ibunya, memilih membantu keluarganya daripada bermain, dan juga tidak banyak mengeluh meski diberi tugas yang normalnya tidak perlu dikerjakan oleh anak-anak seumurannya.

Hanya saja jika kau melihat umur Hinata sekarang, malah hal yang seperti itu kedengaran sangat aneh. Untuk standar seorang remaja, tingkahnya di depan keluarganya sangat tidak normal.

Bukan rahasia lagi kalau masa remaja itu adalah masa di mana seseorang selalu ingin melawan, merasa kalau mereka bisa melakukan apapun sendiri, tidak butuh siapapun, dan juga masa di mana mereka tidak mau lagi diikat oleh aturan kedua orang tuanya karena mereka menganggap dirinya sudah cukup dewasa.

Meski Hinata tidak bertindak seperti remaja pada umumnya dan malah benar-benar kelihatan dewasa sampai-sampai aku bisa membayangkan dia bilang "serahkan pada Onee-chan" sambil melipat lengan bajunya dengan natural seperti kakaknya Ch*no-chan. Tapi pada dasarnya dia tetaplah seorang remaja, dan bahkan kalau hanya bersamaku dan Sasuke kadang dia bertingkah seperti anak kecil yang selalu ingin menjahiliku.

Dan setinggi apapun level 'anak baik' yang dimiliki seseorang, pasti mereka punya batas yang rendah saat dihadapkan dengan yang namanya menahan diri dan menuruti keinginan orang lain saat dalam masa remaja.

Apalagi kalau yang dibicarakan adalah Hinata.

Dia tidak punya rengking tinggi, tapi tidak ada satu orangpun yang menganggapnya bodoh, dia tidak pernah sengaja memancing perhatian, tapi bukan berarti orang yang memperhatikannya jumlahnya sedikit, dia memang tidak pernah berebut jabatan, tapi semua orang yang ditemuinya merasa kalau gadis itu bisa diandalkan.

Yang jelas, dia punya image kalau dia itu seorang gadis yang bisa melakukan apapun sendiri jika dia mau. Seorang Unmotivated Hero.

Sayangnya dalam kasus ini julukan "Bleak Knight" jauh lebih tepat untuk dia pakai. Sebab kehidupannya didikte dan dia tidak bisa mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya.

Untuk alasan kenapa dia selalu menurut dan tidak pernah melawan Ibunya aku sudah tahu, dia hanya ingin melakukannya.

Meski aku tidak punya hubungan sosial dengan orang lain sebagai referensi, tapi aku bisa membedakan jenis-jenis orang yang mau melakukan hal yang sebenarnya mereka tidak ingin lakukan.

Tipe satu, orang yang merasa punya obligasi. Mereka merasa kalau mereka punya tugas yang harus mereka selesaikan karena hal itu adalah bagiannya.

Tipe dua, orang yang terpaksa dan dipaksa karena dia tidak punya pilihan dan keadaan tidak mengijinkannya kabur.

Tipe tiga, orang yang ingin melakukan sesuatu karena dia sudah memutuskan kalau dia ingin melakukan hal itu.

Orang tipe pertama adalah orang yang punya rasa tanggung jawab besar, tapi meski dia punya rasa tanggung jawab besar sebenarnya dia tidak terlalu peduli pada apa yang dilakukannya. Yang jadi fokus utamanya adalah mengerjakan apa yang jadi tugasnya dan menyelesaikannya secepat mungkin agar dia bisa melepas tugasnya.

Orang tipe dua sudah jelas dari namanya. Mereka melakukan sesuatu sebab mereka tidak bisa tidak melakukan sesuatu itu sebab jika mereka tidak melakukannya mereka akan menghadapi resiko yang tidak bisa mereka tidak pedulikan.

Dan yang terakhir. Meski kedengarannya mereka adalah orang yang patut dicontoh karena punya integritas tinggi yang selalu fokus pada tujuannya. Tapi pada dasarnya, kau bisa bilang kalau mereka itu hanya orang keras kepala.

Ya, persis seperti Hinata.

Aku sudah beberapa kali membicarakan masalah keadaannya dengan gadis itu. Tapi setiap kali aku membawa topik itu padanya dia selalu saja punya alasan untuk menghindar dari pembicaraan. Dan begitu aku langsung menyerang ke sumber masalahnya entah kenapa dia jadi tidak seperti dirinya sendiri dan melemparkan cacian yang jauh lebih intens dari biasanya.

Dan sebab aku ini ahli dalam membaca suasana, aku paham kalau aku tidak bisa maju lebih jauh lagi. Caciannya saat itu berisi kebencian, bukannya hinaan dengan maksud main-main seperti yang sering kudengar.

Selagi aku memikirkan semua itu, kami akhirnya sampai di sebuah department store besar. Aku dan Ayah Hinata menuju ke tempat parkir sedangkan tim perempuan langsung turun di pintu masuk dan mulai berbelanja duluan.

Aku mengambil keranjang dorong dari tempatnya lalu tim laki-lakipun menyusul untuk ikut berbelanja. Atau lebih tepatnya untuk jadi tukang bawa barang. Dan berhubung aku sudah berjanji akan membantu sebagai balasan karena sudah membiarkan Amaru ikut, aku tidak membiarkan Ayah Hinata untuk membantu dan memintanya untuk jadi penunjuk jalan saja.

Setelah beberapa menit berjalan ke sana-ke mari akhirnya kami menemukan tim perempuan yang sedang berada di area pakaian.

Aku bisa melihat Ibu Hinata sedang memilih pakaian dengan Hinata dan Amaru mengikutinya. Dan setelah beberapa kali memeriksa barang-barang yang ada di depannya akhirnya dia memutuskan mengambil sebuah pakaian dan menyuruh hinata masuk ke dalam ruang ganti.

Beberapa saat kemudian Hinata keluar dari ruang ganti dengan pakaian barunya. Yang meski sebenarnya tidak jelek tapi sama sekali tidak kelihatan serasi untuk Hinata. Meski aku bukan ahli tapi aku merasa kalau pakaian yang Ibunya pilihkan untuk Hinta sepertinya terlalu imut.

Ibuku pernah bilang kalau sedewasa apapun anak-anaknya, baginya mereka tetap saja anak kecil. Dan mungkin karena Ibunya Hinata punya pikiran yang sama, dia memutuskan untuk memberikan Hinata pakaian yang kurasa jauh lebih cocok dikenakan oleh Hanabi maupun Amaru. Yang notabene memang masih kecil, setidaknya secara fisik.

"Um. . . kurasa bagus. "

Entah selera fashionku yang ngawur sampai aku tidak tahu apa-apa tentang sesuatu yang bagus. Atau selera fashion Ibunya Hinata yang terlalu unik sampai aku tidak bisa paham. Wanita itu benar-benar serius memuji hasil pilihannya sendiri dengan muka bangga.

Aku punya pendapat kalau pilihannya itu salah, tapi sebab aku ini cuma orang luar yang kebetulan numpang jalan-jalan aku tidak mengatakan apa-apa. Selain karena pada dasarnya pendapatku tidak akan didengar, aku juga takut kalau wanita itu akan menerkamku kalau aku berani bilang kalau pilihannya salah.

Yang bisa kulakukan hanya diam, membawakan barangnya, dan menelan semua pendapatku sampai habis.

"Pakaian ini sama sekali tidak cocok untuk kak Hinata!. . "

Atau membiarkan Amaru yang protest menggantikanku.

"Apa kau bilang? . "

Sambil menerima omelan Ibunya.

"Aku bilang pakaian ini tidak cocok untuk kak Hinata. . . "

"Jangan sok tahu! pakaian ini imut dan cocok untuk Hinata"

"Ya, tapi hanya kalau kak Hinata masih sepuluh tahun"

"Kau berani. . "

"Aku berani!. . "

Kau benar-benar berani Amaru. Jika aku ada di posisimu mungkin aku akan langsung diam dan berlari ke pojok ruangan setelah Ibunya Hinata memelototiku sambil mengeluarkan aura 'aku ingin membunuh seseorang' yang sekuat itu.

"Warnanya terlalu cerah, aksesorisnya terlalu kekanakan, rendanya terlalu banyak, dan pita-pitanya mengganggu, selain itu desainya membuat lekuk tubuhnya jadi tidak kelihatan"

Ibu Hinata mundur beberapa langkah setelah mendengar review ala majalah teknis yang Amaru lontarkan. Sepertinya Ibu Hinata juga sadar akan hal itu sehingga dia tidak bisa langsung membalas omongan Amaru.

"Tapi. . "

"Tapi apa? . . . "

Dan sekarang malah Amaru menyudutkan Ibunya Hinata. Malam ini aku harus berkonsultasi pada gadis itu untuk belajar darinya cara membuat Ibu Hinata jadi sedikit lebih jinak.

"Amaru. . . sepertinya kau sudah keterlaluan. . sekarang minta maaf. . "

Sebelum Amaru sempat melanjutkan kalimatnya, Hinata memegang puncak kepalanya dan memutarnya dengan paksa untuk menghadapkan wajah gadis itu ke arahnya. Setelah itu dengan tatapan dingin dia mencoba memaksa Amaru untuk menunduk pada Ibunya dan minta maaf.

"Tunggu-tunggu-tunggu!, kami hanya sedang berdiskus. . "

Amaru mencoba membela diri sambil melawan.

"Minta maaf. . "

Dan Hinata menekan kepala Amaru dengan lebih keras.

"Punya pendapat yang berbeda saat belanja itu norm. . "

Amaru tidak menyerah dan mencoba memberikan alasan logis dari tindakannya.

"Minta maaf!"

Tapi Hinata tidak peduli dan tetap memaksa Amaru untuk meminta maaf.

"Aku hanya ingwii. . .

Sekarang bahkan Hinata mulai menjewer pipi Amaru seperti Ibu yang anaknya baru saja memecahkan kaca jendela tetangga tapi tidak mau minta maaf.

Maafkan aku Amaru, aku tidak bisa membantumu. Pasrah saja dan ikuti aku jadi penonton lalu minta maaf pada Ibunya Hinata. Kau tidak bisa memaksakan nilaimu pada orang lain, karena itu mengalah saja dan mundur.

"Awu minta maaww. . . "

Bagus, aku bangga padamu Amaru. Sekarang kau sudah jadi lebih dewasa, sebab hanya orang dewasa saja yang mau menunduk pada orang yang sebenarnya tahu kalau dia salah tapi tetap ngeyel.

"Sudah Hinata, lepaskan dia. . . kau tidak perlu berlebihan begitu"

"Tapi. "

"Dia cuma anak kecil"

Dengan begitu, Hinata langsung melepaskan Amaru menuruti perintah Ibunya seperti robot. Setelah itu Amaru memisahkan diri Hanabi dan mulai mendekati Ibunya Hinata. Kemudian, dengan muka yang kelihatan seperti anak kecil yang akan menangis karena kebanyakan dibully. Amaru menatap Ibunya Hinata dan bilang. . .

"Aku hanya ingin membuat kak Hinata kelihatan cantik. "

"Um. .. aku tahu. "

"Maafkan aku karena sudah menyusahkan. "

Ah. . . checkmate!. . . Seharusnya aku sudah tahu kalau Amaru bukan seseorang yang mau menyerah begitu saja. Dia masih belum mau mundur dan ingin berhenti mengajukan pilihannya sendiri pada Ibunya Hinata.

Orang jahatpun tahu tahu mereka berbuat jahat, dan orang yang sebenarnya bersalah akan tetap merasa bersalah meski mereka mencoba memperlihatkan diri sebagai orang yang benar. Dengan kedua hal itu sebagai basis, Amaru menggunakan interaksinya dengan Hinata untuk memposisikan dirinya sebagai korban lalu memberikan emphasis kalau yang membuatnya jadi korban adalah Ibunya Hinata.

Menggunakan kedua hal itu dia bisa menarik simpati dan rasa bersalah yang dimiliki Ibu Hinata. Dan ketika seseorang sudah merasa bersalah, normalnya mereka akan merasa perlu untuk memberikan ganti rugi.

"Tidak apa-apa, kurasa aku memang perlu sedikit saran untuk memilihkan Hinata baju"

"Benarkah? "

"Tentu saja"

"Yaayy. . . "

Pro, aku harap saat besar nanti dia tidak akan jadi penipu. Sebab kalau sampai iya, aku khawatir kalau akan ada banyak orang yang tiba-tiba jadi jatuh miskin karena gadis itu.

Setelah itu, ketiganya kembali memilih-milih pakaian untuk Hinata. Dari jauh aku hanya bisa melihat Hinata yang sekarang sudah jadi boneka untuk Ibunya dan Amaru. Dan tentu saja, selama proses pilih memilih itu, Amaru dan Ibunya Hinata selalu terlibat dalam perdebatan panas. Hanya saja, perdebatan mereka itu kelihatan lebih mirip seperti Ibu dan anak yang punya pendapat berbeda.

Dari jauh, pemandangan itu malah kelihatan hangat.

Lain sekali dengan interaksi Hinata dengan Ibunya yang lebih kelihatan seperti anak buah dan atasan.

"Entah kenapa rasanya seperti punya anak lagi"

Ayahnya Hinata yang sedari tadi tidur di sampingku tiba-tiba memberikan komentar.

"Kurasa mereka memang kelihatan seperti keluarga"

Ya, aku juga berpikir sama. Keluarga itu adalah tempat kau bisa diomeli tanpa alasan yang logis, diberikan sesuatu yang tidak kau mau, dan juga diminta melakukan sesuatu yang tujuannya tidak jelas.

Ada banyak orang tua yang ingin kalau anaknya yang masih kecil itu jadi penurut, tidak banyak ulah, dan paham dengan keadaan mereka. Kalau ada anak yang seperti itu di sekitarmu, pasti kau akan dibanding-bandingan dengan anak itu dan dan disuruh untuk menirunya.

Tapi meski begitu, aku yakin kalau sebenarnya tidak banyak orang tua yang benar-benar ingin anak yang sempurna seperti itu. Sebab jauh di dalam sana mereka tahu, kalau menuntut semua itu dari anaknya yang masih kecil itu adalah tindakan bodoh. Menuntut hal semacam itu pada anak-anak mereka sama saja dengan menuntut mereka untuk jadi dewasa sebelum waktunya.

"Ngomong-ngomong, ketika aku bilang merasa seperti punya anak lagi kau juga kuhitung"

"..."

Jangan tersenyum padaku orang tua! apa kau tidak melihat anak gadismu sedang melihatku dengan tatapan setajam silet? kalau kau ingin bercanda tolong lihat situasi dan kondisi !. Kalau begini aku agak khawatir kalau aku harus pulang jalan kaki gara-gara putrimu menyimpan dendam padaku.

"Jadi apa hubunganmu dengan putriku?"

Kau serius? bukankah kau tadi bilang kalau aku sudah seperti keluargamu? Lalu kenapa kau malah mewawancaraiku sekarang? apa urutannya tidak salah? apa aku baik-baik saja pak tua?

"Kurasa, teman"

Jangan tanya kenapa aku memberikan jawaban ambigu semacam itu. Aku sendiri saja tidak yakin kalau hubungan kami bisa disebut dengan pertemanan.

"Baguslah kalau begitu, aku sempat khawatir kalau dia tidak punya teman"

Ok, sekarang aku tidak bisa bilang kalau Hinata hanya berhubungan dengan aku dan Sasuke. Aku tidak tahu reaksi macam apa yang akan orang tua ini berikan kalau sampai dia tahu putrinya bahkan tidak punya teman perempuan seumurannya di sekolah.

Di saat seperti ini aku harus memberikan impresi kalau dia tidak perlu khawatir tentang Hinata.

"Temannya mungkin sedikit, tapi kalau dia lebih bisa membuka diri aku yakin kalau dia bisa jadi populer"

Atau lebih tepatnya sebenarnya dia sudah populer, hanya saja tidak banyak orang mau mendekatinya.

"Syukurlah kalau begitu, aku sempat khawatir dia tidak punya teman di sekolah"

"Kau selalu bisa menghitung Sasuke"

"Sasuke ya. . daripada teman dia sudah seperti anaku sendiri sebab . . ."

Hanya imajinasiku saja atau jadi anakmu itu kedengaran terlalu mudah? jangan seenaknya menganggap anak orang lain adalah anakmu sendiri!

"Saat yang lainnya pergi, dia masih tetap bersama Hinata"

"Yang lain?"

"Ya, yang lain! kau mungkin susah membayangkannya sekarang! tapi dulu Hinata punya banyak sekali teman! mereka bahkan sering mampir ke rumah"

Persis seperti yang ayahnya Hinata katakan, aku benar-benar kesulitan membayangkannya. Membayangkan Hinata tersenyum dan tertawa dengan teman-teman seumurannya. Selain itu aku juga agak susah membayangkan orang macam apa yang mau sering bertamu ke rumahnya, mengingat tuan rumahnya sama sekali tidak bisa dibilang ramah.

"Sekali lagi, mungkin kau susah membayangkannya! tapi istriku tidak sekeras sekarang beberapa tahun yang lalu!"

"Ha?"

Bagiku, ekspresi marah yang selalu ditunjukan oleh Ibunya Hinata adalah penampilan defaultnya. Oleh sebab itulah aku tidak bisa membayangkan macam lain macam apa yang bisa dia buat di wajahnya.

"Penasaran?"

Aku tidak ingin menggali masa lalu orang lain sebab aku juga tidak mau orang lain menggali masa laluku. Tapi meski begitu, sejujurnya aku lumayan penasaran kenapa Hinata dan Ibunya bisa jadi orang yang seperti sekarang. Selain itu, mungkin dengan tahu masa lalu mereka aku bisa membantu Sasuke untuk mencegah Hinata untuk berpikir keluar sekolah.

"Mohon bantuannya!"

Ayah Hinata mengangguk dan mulai bercerita.


Thanks for coming back and reading this pieces of story.