Sudah hampir setengah hari Wonshik dan Yoongi berjalan tanpa mengistirahatkan tubuh mereka. Menghiraukan mata hari yang sudah terik tepat di atas kepala mereka. Yoongi yang sedari tadi diam dan berjalan di belakang Wonshik, sementara Wonshik yang seolah berjalan seorang diri.

"Ada apa dengannya? Apa aku baru saja berbuat kesalahan?" batin Yoongi tidak habis pikir. "Bukankah, dia tahu—aku baru saja menyelamatkan nyawanya?" membatin, membatin dan membatin hanya itu yang bisa dilakukan oleh namja bermarga Min sekarang ini. "Apa dia juga tidak lelah? Kenapa dia hanya diam saja?" dan yang Yoongi lakukan sedari tadi hanya menatap punggung manusia yang berjalan di depannya. Yoongi mengeryit saat tiba-tiba Wonshik menghentikan langkahnya. "Ada apa sekarang?" ingin sekali ia mendekatinya, namun ia urungkan karena ia merasa ada yang ganjal dengan perjalanannya saat ini. "Apa benar dia itu Wonshik?" entah pemikiran darimana tiba-tiba saja terbesit hal yang semakin jauh yang seharusnya tidak boleh Yoongi pikirkan. Wonshik diam di tempat begitu pula dengan Yoongi. "Sebenarnya racun apa ini?" Yoongi bertanya-tanya dalam hati seraya melihat jari tangannya yang juga terluka karena menolong Wonshik dua hari yang lalu.

Penasaran dengan ke-tidak-ada-an-nya pergerakan yang Wonshik lakukan sedari tadi, Yoongi berniat untuk mendekatinya. Perlahan Yoongi menepuk bahu Wonshik yang membuatnya langsung menoleh dengan lirikan tajamnya.

"Gwenchana?" tanya Yoongi. Wonshik mengerjapkan matanya, dan dengan kesar Yoongi membalikkan tubuh Wonshik untuk berhadapan dengan dirinya. Wonshik tetap menutup matanya. "Aish, apa yang dia lakukan? Coba saja jika aku ini Hyuk—chakkaman!" Yoongi memincingkan matanya saat melihat bekas luka Wonshik yang berbekas warna hitam membuat Yoongi teringat sesuatu, "Jangan-jangan ini racun yang sama saat Jin hyung dulu membunuh targetnya dan racun yang mengenai tubuhnya—" tebak Yoongi hanya membatin. Yoongi kembali menatap wajah Wonshik yang berekspresi datar itu.

BUAGH!

"Akh!" Wonshik memekik saat tiba-tiba Yoongi memukulnya dengan keras tepat dimana bagian tubuhnya yang terluka.

"Yak! Baboya!" umpat Yoongi pada Wonshik yang tersungkur di hadapannya dan seketika mengeluarkan cairan berwarna hitam yang bercampur dengan sedikit warna jingga dari dalam mulutnya. Sementara Yoongi memandang Wonshik dengan tatapan garangnya. "Yak, apa kau bodoh atau bagaimana-ha? Kau menahan racun itu keluar dari tubuhmu! Kau ingin mati disini?" tanya Yoongi dengan ketus tidak peduli dengan keadaan Wonshik sekarang tapi ia paling tidak suka mengkhawatirkan orang terdekatnya karena menurutnya rasa khawatir itu bertanda tidak baik.

"Akh, bukan begitu—racun ini selalu memberontak membuat kekuatanku naik dan ingin menyerang seseorang jika aku membuka mulutku! Argh! Kau memukulku tepat di lukanya!" lirih Wonshik dengan suara yang amat sangat pelan. Wonshik merentangkan tubuhnya di atas tanah hutan itu, ia kembali memejamkan matanya dan membiarkan angin menerpa wajah tampannya. Yoongi duduk bersila mendekatinya.

"Bahkan niatku ingin memukulmu tepat di jantungmu! Tapi, aku masih menyayangi Jaehwan hyung!" Wonshik membuka matanya.

"Yak! Yang kau pukul itu aku, bukan Jaehwan hyung!"

"Nde, setelah aku membunuhmu! Kau tahu nyawaku pasti akan terancam dari Jaehwan hyung! Aish, aku tidak habis pikir apa yang dia suka dari namja bodoh sepertimu?!"

"Aigoo! Kau mengatai-ku apa? Kau tahu aku baru saja menolongmu!"

"Tidak terbalik?" Wonshik bangkit dari acara tidurannya dan menatap Yoongi kesal.

"Bukankah kau tahu aku menahan racun itu agar tidak keluar dari tubuhku saat aku berbicara makanya aku diam saja. Aku tidak ingin karena racun sialan ini aku melukaimu dan terjadi apa-apa denganmu!"

"Nde, itulah yang membuatmu sangat bodoh Kim!" sembur Yoongi. "Kau tahu sedari tadi kau siuman, eh-ani! Sejak dua hari yang lalu, aku selalu membatin di dalam diriku. Mengutuk diriku sendiri, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkanmu! Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya diriku dengan kondisimu yang na'as itu?" Wonshik terkekeh. "Nde, jika sudah sembuh tertawa saja!" sindir Yoongi kesal. Wonshik kembali terkekeh dengan girangnya, ia sudah mulai membaik sekarang, tak masalah baginya mendapat pukulan dari namja yang seumuran dengannya itu yang penting ia masih bisa melihat kekesalan dan mendengar kata-kata pedas dari Yoongi.

"Aku merasa lebih baik sekarang! Tapi—apa racun itu?" Wonshik mulai berucap serius.

"Tanyakan saja pada Jaehwan hyung!" Yoongi memalingkan wajahnya dan menatap sinis namja di depannya itu.

"Yak, aku ini serius! Dari cairan yang aku keluarkan, aku merasa seperti pernah melihatnya!"

"Hm, entahlah tapi sepertinya cairan itu sama dengan racun pada tubuh Jin hyung, kau ingat? Saat Jin hyung berhasil membunuh targetnya, dan pulang dengan tubuh yang tidak pantas untuk dilihat? Tapi, aku tidak tahu pasti-nya!" jawab Yoongi ikut berpikir memecahkan masalah mereka saat ini.

"Jika itu benar, mungkin saja yang melempar benda itu padaku ataupun padamu adalah orang yang sama dengan orang-orang yang yang menyerang Jin hyung!"

"Nde, pasti Black Stab. Siapa lagi jika bukan mereka!" tebak Yoongi yakin.

"Min Yoongi!" panggil Wonshik tiba-tiba setelah keheningan beberapa menit di antara mereka. Yoongi mendongak dan menatap Wonshik penuh tanda tanya. "Aku rasa, mereka pasti mengikuti kita!" tebak Wonshik.

"Tentu saja, hutan ini juga bagian dari kekuasaan mereka. Apa pun bisa terjadi pada diri kita!" lanjut Yoongi.

"Hajiman, kita harus membuat siasat!" ujar Wonshik tiba-tiba.

"Mwoya?" Yoongi menatap Wonshik intens.

"Nde, agar mereka mengira salah satu dari kita ataupun kita sendiri sudah mati dengan racun sialan itu! Maka dari itu—"

"Nde, kau benar! Alangkah lebih baik jika kita berpencar!" potong Yoongi. Wonshik menatap Yoongi heran, sedangkan Yoongi tersenyum penuh arti pada Wonshik. Wonshik memincingkan kedua matanya, rencananya dan rencana Yoongi akan menjadi rencana yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

.

.

.

.

.

.

SET!

Taehyung membulatkan kedua matanya saat ia merasa sebuah tangan yang membungkam mulutnya. Taehyung mencoba berontak dan melawan rasa takutnya.

PYAR!

Taehyung menjatuhkan gelas yang berada di tangannya. Tangannya beralih memegang tangan yang membekap mulutnya itu.

"Diam! Atau kau ingin mati saat ini juga!" ancamnya seraya meletakkan belati yang ia bawa tepat di leher Taehyung. Taehyung meneguk ludahnya gusar. Seluruh badannya bergetar, apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa hidupnya akan berakhir sampai detik ini saja? Apa hidupnya harus berakhir dengan begitu mengenaskan? Taehyung mencoba untuk mengalahkan rasa takutnya. Ia diam, orang di belakangnya pun diam. "Jangan banyak bergerak jika kau tidak ingin pisau ini menembus kulitmu!" orang itu menggerakkan pisaunya di sekitar leher Taehyung yang membuat Taehyung mau tidak mau menahan nafasnya. "Apa kau takut sekarang?" tanyanya dengan suara meremeh. "Nde, tanpa aku mendengar jawabannya, aku rasa kau takut dengan hal apa-pun yang menghantuimu! Apa yang tidak kau takuti Kim Taehyung?" tanyanya menyeringai yang pasti tidak bisa Taehyung lihat dengan jelas.

Taehyung mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Taehyung menarik nafasnya perlahan.

"Aku harus berani!" batin Taehyung yakin. Tangan kiri Taehyung bergerak cepat meremas pisau yang menyentuh kulit lehernya. Cukup dengan satu tangan Taehyung dengan gesit membalikkan pisau itu ke pada orang yang berani mengancamnnya. Namun sayang, apa yang Taehyung lakukan ternyata di luar kendalinya.

"ARGH!" seru keduanya benar-benar keras.

BRUK!

Taehyung mengerjapkan kedua matanya, peluhnya semakin menjadi-jadi mengalir di sekitar wajahnya saat ia melihat darah di tangan kirinya. Jantungnya berdetak semakin cepat, bahkan lebih cepat dari biasa yang ia rasakan saat ia merasakan ketakutan seperti biasanya. Taehyung mendongak saat ia melihat seorang namja yang berdiri di depannya dan dengan segera menghapiri dirinya.

"Taehyung, gwenchana?"

"Hyung—hyung, aku—" Taehyung mencoba untuk menjelaskan namun dengan cepat namja yang tak lain Seok Jin itu menarik Taehyung ke belakang punggungnya.

"Tetaplah berada di belakangku, jangan bergerak-arra?" Seok Jin memotong ucapan Taehyung, sementara Taehyung hanya mengangguk.

Seok Jin memincingkan kedua matanya menatap orang yang tergeletak dengan darah di sekitar area lambungnya. Seok Jin yakin, orang itu masih hidup. Perlahan orang itu menggerakkan tangannya dan mencoba untuk membuka matanya, senyum kecil terkembang di bibirnya. Dengan sigap dan tanpa menunggu waktu lama, orang itu mencabut pisau yang tertancap di area lambungnya. Ia bangkit dengan tangan yang menutup darah yang mengalir dari luka yang dibuat Taehyung itu.

"Kau sungguh berani, Kim Taehyung!" ujarnya kembali dengan seringainya. Tubuh Taehyung mengigil hebat meskipun ia tetap diam bersembunyi di balik punggung Seok Jin. "Kim Seok Jin! Kita bertemu lagi rupanya! Apa kau ingin membunuhku sekarang?" tanyanya memincingkan kedua matanya.

"Nde!" Seok Jin membalas seringainya. "Dan, akan aku pastikan kau tidak akan bisa lari dariku lagi—Park Yoon Hwa!"

"Nde, tentu saja Kim Seok Jin!" orang yang dipanggil Park Yoon Hwa itu kembali menyeringai. Seok Jin menatap namja di depannya dengan tatapan membunuh berbeda dengan namja yang di depannya justru tanpa henti melirik Taehyung yang masih saja bersembunyi di balik punggung Seok Jin.

"Jangan mencoba untuk menyentuhnya satu jengkal-pun, jika kau tidak ingin mati dengan keadaan mengenaskan!" ancam Seok Jin yang tahu arti dari tatapan Park Yoon Hwa, yang membuatnya seketika terkekeh dengan penuturan Seok Jin itu.

"Kau membuatku takut Kim Seok Jin! Ah, eottokae? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" remehnya menyebalkan yang membuat Seok Jin mengepalkan kedua tangannya siap akan membunuh orang yang masih berdiri di depannya, jangan lupakan darah yang masih saja mengalir dari tubuh orang itu.

"Hyung!" tiba-tiba Taehyung mememgang lengan Seok Jin, yang membuat Seok Jin mau tak mau menoleh ke arahnya."Jangan hyung! Aku mohon!" lirih Taehyung yang sudah mulai tenang.

"Kau bisa melupakan kejadian ini Taehyung, tapi jika kau ingin biarkan ini juga menjadi pembelajaran bagimu untuk mencoba berani melawan rasa ketakutanmu!" perlahan Seok Jin melepaskan tangan Taehyung dari lengannya. Tanpa menunggu waktu lagi, kedua mata Seok Jin sudah berubah, mata kirinya berubah berwarna merah dan mata kanannya berwarna biru. Seok Jin menatap tajam orang yang berada di depannya.

"Kau, tahu? Aku sungguh iri padamu dan juga semua teman-temanmu! Kalian benar-benar diberi anugerah yang menakjubkan! Andaikan aku seperti kalian, tentu saja kau tahu apa saja yang akan aku lakukan bukan?" ujarnya saat melihat perubahan pada Seok Jin. "Tapi, tenang saja Kim Seok Jin, setelah ini kau tidak akan bertahan cukup lama! Hah, nikmati saja selagi bisa!" lanjutnya seraya mengeluarkan sebuah benda sepanjang pena hanya saja di ujungnya berbentuk kristal yang tajam.

Seok Jin menajamkan penglihatannya dan menatap mata irang brengsek di depannya. Dengan jelas ia bisa melihat di balik mata itu, kelemahan pada titik-titik tubuhnya selain pada luka di lambungnya. Jantungnya yang berdetak mulai melemah dan kapasitas darahnya yang terbatas, namun Seok Jin memincingkan matanya. Bagaimana mungkin dia masih bisa bertahan. Kedua mata Jin beralih pada benda di tangannya. Jin tahu betul apa benda di tangannya itu, Poill. Salah satu benda yang di buat mereka dengan racun yang bisa menyebabkan kehilangan kekuatan alami mereka.

"Nde, akan aku nikmati dengan senang hati!" Seok Jin menyeringai, begitu pula dengan orang yang berada di depannya itu. Seok Jin memejamkan kedua matanya, mengumpulkan energi kecil yang tersebar di seluruh tubuhnya dan menjadi satu energi yang siapa akan ia keluarkan. Seok Jin menajamkan pendengarannya guna untuk mendengar pergerakan musuh di depannya ataupun mendengar pergerakan Taehyung. Ia tak mau lengah sedikitpun karena salah mendengarkan gerak-gerik dua orang yang harus ia bunuh dan harus ia lindungi. Seok Jin menarik nafasnya, dan siap akan kembali mengeluarkan oksigen yang dihirupnya. Bersama dengan Seok Jin mengeluarkan sisa oksigen-nya, tiba-tiba saja saat Seok Jin membuka matanya muncul beberapa Seok Jin yang lain di hadapan namja itu dan juga di hadapan Taehyung. Taehyung membulatkan kedua matanya, fenomena apa lagi ini? Detak jantung Taehyung kembali berdetak tidak stabil.

"Hy-hyung..." lirih Taehyung yang entah berada di balik punggung asli dari namja tampan itu atau justru namja yang lain.

"Siapa yang akan kau bunuh?" tanya suara Seok Jin yang berasal dari mana saja. Mereka semua berjalan memenuhi dapur, ada yang mengelilingi Park Yoon Hwa, berdiri di belakang Taehyung, berada di dekat meja makan, bahkan tak terhitung ada berada di depan Taehyung maupun di sekitar namja Park itu.

"Ba-bagaimana bisa?" tanya Park Yoon Hwa tergagap.

"Kau tak bisa pergi lagi, Park Yoon Hwa!" ujar suara dari sosok Seok Jin yang lain. "Jangan mencoba untuk lari!" entah siapa saja dan mana saja yang bersuara, mereka semua benar-benar sama seperti Seok Jin yang asli tak ada sedikitpun perbedaan. Park Yoon Hwa memejamkan matanya dan melempar Poill yang satu-satunya ia bawa ke sembarang arah.

Namun, dengan sigap sosok Seok Jin yang lain dengan mudah menangkap Poill itu denga tangan kosongnya. "Jangan salahkan aku, justru benda ini yang akan membunuhmu!" salah satu dari puluhan Seok Jin itu melempar Poill tepat di jantung Park Yoon Hwa.

BRUK!

Seketika Park Yoon Hwa ambruk di tempatnya berdiri. Akan tetapi, Seok Jin tak menyangka jika orang brengsek itu masih tetap membuka matanya.

"G-go-ma—wo..." lirihnya yang membuat Seok Jin mendekatinya, bersamaan dengan puluhan Jin yang menghilang dengan sekejap mata. "A-aku tenang-argh! Sekarang!" Yoon Hwa berusaha untuk mengatakan sesuatu dan berusaha untuk menahan rasa sakitnya. "K-kau ha-harus ta-tahu—ba-bahwa, di-dia—" dengan tangan yang berlumuran darah, Yoon Hwa menunjuk Taehyung yang berdiri dengan badan gemetar. Park Yoon Hwa dan Taehyung saling bertatapan sedangkan Seok Jin tetap setia menunggu kelanjutan kalimat dari namja Park itu. Namun sayang, apa yang Seok Jin tunggu ternyata sia-sia dan selamanya tidak ada yang akan tahu apa kelanjutan dari kalimat terakhir yang diucapkan Yoon Hwa itu.

"Kita harus mengubur jenazahnya!" ujar Seok Jin menghela nafas setelah Yoon Hwa menutup matanya, ia mendekati Taehyung. Taehyung menatapnya. "Kau harus memilih antara aku, kau atau dia yang mati! Jika tidak begitu semua ini tidak akan selesai!" lanjut Seok Jin yang entah kenapa menucapkan hal itu pada Taehyung. Taehyung mendekati jenazah yang sudah tak bernyawa itu.

"Kau sungguh orang yang baik!" ujar Taehyung tepat di telinga jasad Yoon Hwa yang membuat Seok Jin tersenyum kecil.

.

.

.

.

.

.

"Kau sudah akan pulang?" tanya Ahn Rin setelah melihat Hongbin selesai mencuci tangannya dan hendak meeraih mantelnya. Hongbin menoleh dan menatap Ahn Rin yang berdiri di belakang tak jauh darinya.

"Nde! Semuanya, sudah selesai!" jawab Hongbin. Ahn Rin hanya mengangguk.

"Apa kau ada waktu?" tanya Ahn Rin.

"Eh! Waeyo?" tanya Hongbin memincingkan matanya heran.

"Hari ini, kedai tutup lebih awal! Apa kau mau menemaniku jalan-jalan?" pinta Ahn Rin dengan senyum palsunya. Hongbin berfikir sejenak.

"Mianhae, Ahn Rin! Mungkin kita bisa pergi lain kali saja. Aku benar-benar minta maaf!" jawab Hongbin dengan nada bersalah. Ahn Rin melengos menahan rasa kesalnya untuk kesekian kalinya.

"Nde, gwenchanayo Hongbin-ah! Kita bisa pergi lain kali!" ujar Ahn Rin kembali dengan senyum palsu.

"Mianhae, Ahn Rin! Jeongmal mianhae!"

"Gwenchanayo Hongbin-ah! Aku tahu kau pasti butuh istirahat! Kita bisa pergi lain kali, arraseo?" Hongbin tersenyum tampan.

"Kau memang yeoja yang baik, Ahn Rin! Kalau begitu, aku pergi sekarang!" pamit Hongbin.

"Nde, hati-hati Hongbin-ah!" seru Ahn Rin menatap kepergian Hongbin yang sudah keluar melangkahkan kakinya dari kedai dimana tempatnya bekerja.

"Kenapa susah sekali dekat dengannya? Sialnya, dia tidak seperti yang lain! Huft! Dia benar-benar pintar!" dengus Ahn Rin masih tetap menatap siluet Hongbin yang semakin jauh dari penglihatannya.

.

.

.

Hongbin berjalan dengan langkah terburu-buru menuju rumah sewaannya. Entah kenapa, hatinya benar-benar resah sejak ahjumma Shin yang sedari tadi membuatnya mau tidak mau bertanya pada diri sendiri, ada apa dengan atasannya itu?

BRUK!

Hongbin terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang tengah membawa seseorang di dekapannya tiba-tiba saja menabraknya. Hongbin mendongak.

"Mi-mianhae!" ujarnya dengan langkah tergesa-gesa menompang orang yang dibawanya. Hongbin menatap kedua orang itu heran. Dan lagi, ia berfikir ada apa dengannya? Siapa yang tak akan berfikiran seperti itu jika kau melihat orang yang baik-baik saja yang ditompang sedangkan orang yang tengah terluka dan darah di sekujur tubuhnya menompang orang yang terlihat baik-baik saja?

"Aish, aku terlalu banyak memikirkan orang lain!" dengus Hongbin kembali akan melanjutkan langkahnya. Namun, entah inisiatif dari mana tiba-tiba saja ia kembali menghentikan langkahnya dan langsung menengok ke belakang. "Aku—seperti melihat bayangan Ahn Rin!—ah! Atau mungkin firasatku saja!" Hongbin kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Tanpa Hongbin sadari, seorang yeoja yang sedari tadi membuntutinya tanpa sepengetahuannya, menarik nafas lega dan menyandarkan tubuhnya di balik dinding sebuah rumah, tempat dimana ia bersembunyi dari namja yang sengaja ia buntuti itu.

"Huft! Hampir saja mereka bertemu!" dengusnya, ia berbalik arah untuk berhenti membuntuti namja tampan berdimple itu.

Hongbin kembali menghentikan langkahnya saat sepasang netranya melihat kejadian yang tidak ingin ia lihat di saat seperti ini. Detak jantung Hongbin berdetak secara tidak wajar. Bahkan, Hongbin hanya mematung di tempatnya berdiri.

"A-apa yang terjadi?" gumam Hongbin, seluruh tubuhnya bergetar saat ia melihat seorang namja yang penuh darah, di dorong oleh kelima namja hingga punggungnya menabrak dinding. Ingin sekali Hongbin membantu, namun selangkah ia mengangkatkan kakinya ia kembali urungkan saat ia melihat beberapa menit kemudian namja yang di dorong hingga menabrak dinding itu langsung bergerak dan menghajar kelima namja di depannya dengan keadaan yang terlihat seolah-olah dia baik-baik saja. Hongbin memundurkan langkahnya dan bersembunyi di balik tumpukan sampah yang kebetulan berada di dekatnya itu.

"Ah, eottokae—apa yang harus aku lakukan?" tanya Hongbin yang pastinya ia tidak akan mendapatkan jawabannya. Hongbin masih saja memperhatikan kejadian langka yang jarang ia saksikan secara langsung itu. "Aku kira—hal seperti ini hanya ada di film saja!" lanjut Hongbin. Hongbin terperanjat, saat tiba-tiba tanpa ia sadari ada dua orang yang sama persis di depannya. "Ba-bagaimana bisa?" heran Hongbin, jujur saja ia tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang—tunggu! Apa yang baru saja ia pikirkan? Aish, tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting Hongbin-ah! Hongbin tetap diam di tempatnya, menunggu waktu yang tepat untuk memunculkan diri. Jangan bayangkan, dalam artian memunculkan diri ini, Hongbin muncul bukan sebagai seorang pahlawan melainkan dalam artian Hongbin sendiri, ia keluar dan segeran pergi menuju rumah sewaannya. Bersabarlah sedikit lagi, Hongbin-ah.

Hongbin kembali terperanjat untuk yang kedua kalinya saat ia melihat, entah siapa menginjak dada lawannya yang sudah terlihat sekarat itu. Hongbin mengepalkan kedua tangannya, ia ingin membantu tapi siapa yang harus ia bantu? Yang diinjak atau yang menginjak? Ia tidak mengenal keduanya meskipun berwajah sama. "Mungkin saja mereka anak kembar yang tengah merebutkan yeoja yang sama!" pikir Hongbin yang tidak mau berfikir negatif lebih dari itu. Hongbin menatap lurus namja yang menurutnya sedikit tampan itu, mulai merasa menang dengan melepaskan perlahan cekikannya dari leher sang lawan. Hongbin menatap iba namja yang ia kira kembarannya itu, tubuhnya benar-benar dalam keadaan mengenaskan. Tega sekali saudaranya melakukan hal sekeji itu pada saudara kandungnya. Oh, ayolah! Ini hanyalah pemikiran Lee Hongbin semata.

JLEB!

CROSS!

BRUK!

Hongbin membulatkan matanya, saat tiba-tiba entah apa yang terjadi begitu cepat saat itu. Hingga tak ada waktu untuknya melihat dengan detail dan jelas apa yang terjadi sekarang. Hongbin mengerjapkan matanya, saat ternyata sosok yang ia kira kembarannya itu lenyap begitu saja.

"A-apa yang terjadi?" tanya Hongbin yang entah meminta penjelasan pada siapa. Hongbin menatap namja yang seketika langsung ambruk di tempatnya. Tanpa menunggu waktu lagi, akhrinya Hongbin memunculkan diri dan menghampiri namja itu.

"Hey, gwenchana? Kau dengar aku?" tanya Hongbin seraya menggoyangkan tubuh namja yang sudah berlumuran darah itu. "Bagaimana ini?" ujarnya dengan suara yang tercekat dan terdengar bergetar. "Hey, buka matamu!" Hongbin menepuk pipi namja yang tidak dikenalinya bermaksud agar ia segera membuka matanya. Namun, sayang. Hongbin tidak mendapatkan reaksi apapun dari namja itu. "Apa aku harus menolongnya?" tanya Hongbin bimbang. Bernegosiasi dalam hati, akhirnya Hongbin memutuskan untuk menolong namja malang itu. dengan perlahan, Hongbin memapah tubuh namja itu ke dalam dekapannya. "Bertahanlah, aku akan segera menolongmu!" ujar Hongbin yang entah bisa di dengar oleh namja itu atau tidak.

.

.

.

"Untung saja, kau bertemu dengan orang baik!" ujar Hongbin memuji dirinya sendiri seraya membalutkan perban ke tangan namja asing itu, setelah sebelumnya ia selesai membalut bagian kepalanya. "Nah, akhirnya selesai!" Hongbin menghela nafas. Ia beranjak meninggalkan namja itu di kamarnya. Hongbin menghentikan langkahnya saat ia berada di ambang pintu, seketika ia memperhatikan kedua tangannya yang berlumuran darah. Tentu saja darah namja itu, siapa lagi jika bukan dia? Hongbin mengernyit saat di telapak tangannya terpancar cahaya merah yang dipadukan dengan warna orange terlebih seperti ada lambang seperti petir yang sekilas muncul di telapak tangannya. "Apa ini?" gumam Hongbin heran. Ia mengedikkan bahunya tidak peduli dan segera membasuh kedua tangannya di wastefel.

Hongbin kembali ke kamarnya setelah menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri dan melihat perkembangan namja yang ia tolong itu. hongbin mendudukkan dirinya di samping tempat tidurnya dan menatap iba wajah yang terbalut perban dengan rapi.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Hongbin yang entah kenapa mulai mengkhawatirkan namja itu. "Kenapa aku tidak berfikiran dia orang baik atau orang jahat-nde? Chakkaman!" Hongbin berfikir sejenak "Jika dia orang jahat sekalipun, karena sudah ku tolong tidak mungkin kan dia akan melakukan yang tidak-tidak padaku setelah dia sadar!" Hongbin mengangguk setelah menjawab pertanyaannya sendiri. Kedua mata Hongbin beralih pada tangan namja itu yang tiba-tiba saja melakukan pergerakan menandakan bahwa ia mulai siuman. "Kau sudah sadar?" tanya Hongbin, meskipun namja itu belum sepenuhnya membuka matanya.

"Urgh—" lenguhnya yang keluar dari belah bibirnya, dengan perlahan ia mulai membuka matanya.

"Gwenchana?" tanya Hongbin lagi. Namja yang baru saja siuman itu mengedarkan pandangannya ke sekitarnya dan menatap Hongbin yang duduk di samping tempatnya berbaring. Dengan mata sayu dan tahan tubuh yang benar-benar lemah, ia mencoba untuk bicara.

"D-dimana aku?" tanyanya dengan suara yang terdengar seperti suara yang tak pernah ia keluarkan sebelumnya.

"Kau dirumahku! Tenanglah, aku bukan orang jahat!" jawab Hongbin tenang.

"S-siapa kau?" tanyanya lagi. Hongbin tersenyum.

"Aku Lee Hongbin, orang yang menolongmu!" jawab Hongbin lagi, namja itu mengernyit.

"Lalu—siapa aku?"

.

.

.

.

.

.

"Siapa kalian?" seru ahjumma Sung saat ia menemui orang-orang asing yang masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Ahjumma Sung mencoba untuk menyembunyikan ketakutannya, ia tak mau saat ketakutannya muncul justru akan membuat orang-orang itu curiga dan mengambil anak semata-wayangnya.

"Cari dia!" ujar salahseorang dari mereka kepada anak buahnya.

"Siapa yang akan kalian cari? Tidak ada siapa-siapa di dalam rumah ini!" ahjumma Sung mencoba untuk menghalangi orang-orang itu yang tengah menggeledah rumahnya.

"Kebohongan tidak akan menutupi kebenaran, Sung Yoon Hi!" ujar seorang namja yang satu-satunya tidak mencari keberandaan orang yang mereka cari.

"Kebenaran? Kebenaran apa yang kalian maksud?" tanya ahjumma Sung berani.

"Jangan pikir aku bodoh! Aku kenal betul dengan suami-mu! Dia terbunuh—atau justru terbunuh?"

"Kau! Iblis brengsek!" umpat ahjumma Sung saat mengingat bagaimana jenazah suami tercintanya terbunuh karena melindungi anak mereka. Sekilas bayangan ahjumma Sung saat anaknya, Jeon Jungkook yang masih bayi itu menangis di dalam gendongannya. Tepat, di hari kejadian na'as itu.

"Nde, aku sudah mulai terbiasa dengan kata-kata itu! Jeon Kyu Jung, adalah rekan baikku yang juga sama-sama iblis sepertiku! Tapi, siapa yang menyangka dia lebih memilih mati untuk melindungi anaknya yang suatu saat pasti akan mati itu? sungguh, tidak ada gunanya!"

"Tutup mulutmu!" seru ahjumma Sung. Emosinya mulai memuncak.

"Tidak ada gunanya kau melindunginya disini! Karena, aku akan bisa menemukannya! Dan, juga tidak akan ada yang bisa melindunginya!" ujarnya dengan nada angkuh.

"Anya! Kau—"

"Aku tidak menyangka, kita bisa bertemu disini—tuan Choi Han yang terhormat!" potong sebuah suara yang berasal dari atas eternit yang kebetulan tidak tertutup. Keduanya mendongak dan mendapati seorang namja yang menyeringai di atas sana.

"Namjoon?" lirih ahjumma Sung tidak percaya.

BRUK!

Namja yang bertengger itu yang tak lain adalah Kim Namjoon menjatuhkan dirinya di depan namja yang ia panggil Choi Han dan berdiri di depan ahjumma Sung untuk melindunginya.

"Perkiraanku memang benar!" ujarnya tersenyum kecut. Namjoon membalas senyumannya yang tak enak dipandang itu.

"Nde, kau memang pintar mengira bukan? Seharusnya, kau tahu! Aku lebih cepat darimu!" ujar Namjoon. Kedua matanya mulai berubah, mata kanannya berubah menjadi cokelat dan mata kirinya berubah menjadi ungu. Namjoon menatap tajam Choi Han, dan Choi Han dengan berani membalas tatapan tajam itu. Sementara, ahjumma Sung tetap berdiam diri di balik punggung Namjoon.

"Lebih baik, kau urungkan diri untuk ikut campur dalam urusanku jika kau tidak ingin melihat orang yang mati kembali di tanganku di depan matamu!" ancam Choi Han, Namjoon menyeringai.

"Coba saja!" ujar Namjoon menantang, seketika itu barang-barang yang berada di dalam rumah ahjumma Sung seketika terangkat dan melingkar di antara mereka. Ahjumma Sung melihat takjub kejadian itu, sementara Choi Han mencoba untuk menghilangkan rasa takutnya. Siapa sangka, anak kecil yang tidak bisa apa-apa dan setelah bertemu selama sekian tahun lamanya sudah menjadi sehebat ini? "Aku tahu, kau tidak ingin mati sekarang! Aku hanya ingin bernegosiasi denganmu! Biarkan kami pergi dan aku tidak akan melukaimu dan juga anak buahmu!"

"Kau membuatku takut, Kim Namjoon!" remeh Choi Han. Namjoon tersenyum miring.

"Nde, dan kau membuatku ingin sekali membunuhmu, Choi Han!" lanjut Namjoon.

"Aigoo—apa yang harus aku lakukan sekarang?" Choi Han kembali meremeh, seketika membuat Namjoon kesal setengah mati.

"Kau akan menyesal, Choi Han-ssi!" geram Namjoon yang siap menyerang orang brengsek di depannya kapan saja.

"Kau benar! Tapi, kau harus tahu—kau tidak bisa apa-apa jika sendirian Kim Namjoon, dimana tim-mu itu?" Choi Han kembali memancing emosi Namjoon. Namjoon mengepalkan kedua tangannya membuat benda-benda yang melayang itu tiba-tiba bergerak dan siap akan menghantam siapa pun yang ada disana.

"Apa kau akan membunuhku sekarang?" tanya Choi Han datar. Namjoon menyeringai.

"Tenang saja, tidak akan secepa—"

BRUK!

DUG!

Keduanya membulatkan mata saat tiba-tiba dari lantai atas, tiga anak buah Choi Han jatuh begitu saja bagaikan kertas tak terpakai dan tak bernyawa. Choi Han mendongak begitu pula dengan ahjumma Sung. Sementara, Namjoon hanya menyeringai kecil.

"Ahjumma, lebih baik kau pergi dari sini, sekarang juga!" pinta Namjoon sedikit melirik pada ahjumma Sung yang masih berada di belakangnya.

"Ani! Bagaimana denganmu, Namjoon-ah? Dan juga, bagaimana dengan Hoseok?" tanya ahjumma Sung cemas.

"Jangan khawatirkan kami, gwenchana ahjumma! Ahjumma harus menyelamatkan diri!" pinta Namjoon lagi. Namun, ahjumma Sung tetap tidak bergeming dari posisinya. "Ahjumma, kenapa kau diam saja?" tanya Namjoon lagi meskipun tatapannya fokus pada Choi Han yang berada di depannya tengah menatap anak buahnya yang juga jatuh berada di dekat kakinya.

"Apa yang kau rencanakan?" tanya Choi Han menatap murka Namjoon. Namjoon mengedikkan bahu, berpura-pura tidak tahu.

"Bukankah, kau tahu sendiri jika aku berada di depanmu sedari tadi?" Namjoon berbalik bertanya.

"Kau akan menyesal Kim Namjoon!" Choi Han bergerak cepat mendekati Namjoon, namun dengan gerakan cepat juga Namjoon menghindar dari serangan Choi Han seraya melindungi ahjumma Sung yang berada di balik punggungnya.

"Kau—akan lebih menyesal dariku—Choi Han-ssi!"

.

.

.

"Percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu!" ujar Hoseok mencoba untuk tetap meyakinkan namja yang sekarang memojokkan dirinya di dinding.

"Eomma—eomma—" lirihnya seraya memeluk kedua lututnya.

"Aish, siapa namanya? Yak, apa kau tahu siapa namanya?" tanya Hoseok menendang anak buah Choi Han yang tergeletak di dekat kakinya dengan mata yang sedikit terbuka dan anggota tubuhnya yang kaku dan sulit untuk di gerakkan. Orang yang ditendang Hoseok itu tetap bungkam meskipun ia sepenuhnya mendengar apa yang Hoseok katakan. "Jika kau tidak menjawabnya, aku akan melemparmu seperti tiga temanmu tadi. Sudah tahu kalah, tetap saja mau menutup mulutmu! Kau tidak tahu, betapa lelahnya aku ini, hm? Mau membunuh orang hebat Jung Hoseok?" remeh sekaligus ancam Hoseok. Hoseok beralih menatap namja yang memeluk kedua lututnya itu. "Pasti, perasaan Jin hyung sama dengan perasaanku saat ini. Aigoo—ternyata memang benar-benar menyebalkan!" dengus Hoseok lelah. "Aigoo! Apa yang harus aku lakukan?" Hoseok mengacak surai rambutnya kesal. "Jika kesabaranku habis! Jangan salahkan aku, jika kalian mati dengan sangat mengenaskan!" ancam Hoseok pada ketiga namja yang tergeletak lemah dengan tatapan takut padanya. "Huft, aku masih terlalu baik!" dengus Hoseok lagi. Hoseok berjalan keluar dan mengintip dari lantai atas, mencari tahu apa yang sedang terjadi.

"Aku harus bisa membawanya keluar, sebelum iblis brengsek itu mendahuluinya!" gumam Hoseok kembali memasuki kamar itu. Hoseok mendekat pada salah seorang anak buah Choi Han yang sudah memiliki kesadaran minim.

"Dengar!" ujar Hoseok mendekatinya. "Cukup, kau menyebutkan siapa namanya—aku akan melepas kalian bertiga dan pergi dari sini begitu saja tentu saja dengan senang hati aku akan membuka pergerakan tubuh kalian dengan mudah! Tapi, jika kalian tidak mau jangan salahkan aku jika tidak ada yang bisa menolong kalian! Hanya aku yang bisa—kalian harus tahu, hanya aku!" ulang Hoseok memancing agar ketiganya tidak memiliki pilihan lain. "Aku hitung mundur—tiga—dua—sa—"

"J-Jeon Jungkook!" sela salah satu dari mereka menyebutkan nama dengan terbata, cepat namun cukup jelas. Hoseok menyeringai.

"Ah, kau benar!" ujar Hoseok seraya menjentikkan jari tangannya. "Go! Pergilah! Kalian bebas sekarang!" lanjut Hoseok mengusir ketiganya yang sudah beranjak duduk dan segera lari terbirit-birit meninggalkan Hoseok dan namja itu lewat jendela kamar. Hoseok mendekatinya, dan menatap halus ke dalam matanya.

"Jeon Jungkook—kau percaya padaku?" tanya Hoseok serius dan dengan tatapan kelembutan yang meyiratkan sebuah kehangatan. "Aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun!"

.

.

.

.

.

.

Taekwoon terengah dan mencoba untuk menstabilkan aliran pernafasannya. Ia menoleh dan menatap wajah damai Jaehwan yang terpejam sedari tadi.

"Sebenarnya, apa yang terjadi padanya?" batin Taekwoon tidak mengerti sama sekali. Melihat keadaan Jaehwan saat ini, jujur saja membuat Taekwoon lupa dengan luka dan darah yang mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Tapi, untung saja lukanya tidak separah Hyuk.

"Hyuk?" gumam Taekwoon lirih saat ia mengingat Hyuk yang berjuang di luar sana. "Kau baik-baik saja! Nde, kau pasti baik-baik saja!" Taekwoon mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Kemudian ia melanjutkan memapah Jaehwan dan mencari tempat penginapan.

Sudah sekitar enam jam lamanya, Taekwoon membawa tubuh Jaehwan kesana kemari. Bertanya pada setiap orang yang berpapasan dengannya, dimana kiranya ia bisa mendapatkan penginapan, rumah sewaan atau semacamnya. Taekwoon mendengus lelah, jujur saja ia sudah tidak kuat untuk bertahan lebih lama lagi. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri yang begitu lemah dan tidak berdaya di saat genting seperti ini. Bahkan, Taekwoon merasakan kakinya yang sudah tidak kuat untuk menompang seluruh tubuhnya ditambah lagi juga tubuh Jaehwan.

BRUK!

SET!

Hampir saja, Taekwoon terjatuh jika tidak ada dua orang namja yang entah datang darimana dan langsung menangkap tubuhnya dan tubuh Jaehwan.

"Gwenchana?" tanyanya. Taekwoon tersenyum kecil dan menatap namja tampan yang melingkarkan tangannya pada tubuhnya.

"Nu-gu?" tanya Taekwoon lemah sementara namja itu mendengus lemah.

"Tenang saja, aku bukan orang jahat! Hyung, kajja kita bawa mereka!" ajaknya pada namja yang menahan tubuh Jaehwan yang berdiri tak jauh dari keduanya.

"Kajja!" balasnya.

.

.

.

Taekwoon berlari dan mencari jalan keluar saat ia merasa dirinya di suatu tempat yang antara ia kenali atau tidak. Seperti deja vu, ia pernah berada di tempat itu tapi ia lupa kapan ia datang di tempat yang ia pijaki saat ini. Gemericik air yang berasal dari kaki gunung dan hamparan hutan yang berada di sekelilingnya. Belum lagi jalanan yang ia pijaki tidak berasal dari tanah melainkan bebatuan yang memang sengaja di buat karena seperti ditata dengan rapi. Taekwoon mengedarkan pandangannya, namun ia menghentikan langkahnya dan memeriksa seluruh tubuhnya. Tidak ada luka atau pun darah yang ada di beberapa bagian tubuhnya itu. Tanpa lecet dan tanpa gores sedikitpun.

"Taekwoon-ie..." Taekwoon memekik saat mendengar sebuah suara yang ia rindukan selama bertahun-tahun teringang di telinganya. Taekwoon membalikkan badannya dan melihat dengan jelas namja manis yang berdiri di hadapannya dengan senyum yang terkembang di bibirnya. "Aku menunggumu, tapi kau tidak pernah datang! Aku tidak menyangka, kau benar-benar membenciku!" ujarnya dengan senyum yang entah kenapa terlihat begitu manis menurut Taekwoon. "Nde, aku juga sadar. Aku memang pantas untuk di benci! Tapi, andai saja kau tahu—jika sampai kapanpun, hatiku akan tetap milikmu meskipun tidak dengan hatimu! Saranghae, Jung Taekwoon. Bisakah sekarang aku mendengar kau mengatakan 'nado Cha Hakyeon'? Aish, aku ini bicara apa—tapi aku merasa sangat sakit Taekwoon. Setiap hari, aku merasa kesakitan! Tapi, aku akan menahannya untukmu dan untuk dongsaeng-dongsaengmu yang nakal itu. Ah, bagaimana kabar mereka?" namja manis itu tetap tersenyum tenang. "Kau tahu? Aku seperti merasa sudah biasa dengan rasa sakit ini. Aku merasa seolah jika aku memang hidup dengan rasa sakit yang seperti menyetrum seluruh tubuhku. Apa ini, memang pantas untukku, Woon-ie? Yak! Kenapa kau diam saja?" tanyanya masih tersenyum tulus, sedangkan Taekwoon justru meneteskan air matanya. "Yak! Kenapa kau menangis?" tanyanya namun tidak mencoba bergerak untuk mendekati Taekwoon yang hanya berdiri berjarak sekitar 1,5 meter di depannya. "Kau tidak boleh menangis meskipun kau tidak bisa menyelamatkan dongsaengmu! Kau, harus bisa menjadi penompang bagi mereka bukan malah menjadi beban bagi mereka! Hwaiting, Taekwoon-ie—saranghae!"

Taekwoon melenguh, dan dengan perlahan ia membuka kedua matanya.

"Kau sudah sadar? Sepertinya, kau tidur dengan nyeyak-nde?" ujar seorang namja yang duduk di dekatnya. Taekwoon menoleh.

"S-siapa kau?" tanya Taekwoon dengan suara tercekat. Namja itu tersenyum lucu.

"Em, bagaimana ya mengatakannya—aku bukan orang yang membawamu kemari. tapi, hyungku yang membawamu kemari! Kedua hyungku, membawamu bersama temanmu itu!" jawabnya.

"J-Jaehwan?" lirih Taekwoon lagi.

"Eo, jadi namanya Jaehwan?" tanyanya dengan bibirnya yang mengerucut lucu.

"Ya, kau sudah sadar?" tanya seorang namja yang masuk ke kamar dimana Taekwoon berada dan memecahkan keheningan antara keduanya selama beberapa menit yang lalu. Taekwoon menatap namja yang baru saja memasuki kamarnya itu.

"Ah, Seungkwan-ah! Lebih baik, kau bantu Seokmin menyiapkan makan malam untuk kita!" ujarnya pada namja yang duduk menemani Taekwoon sedari tadi.

"Nde, hyung! Ah, jangan khawatirkan temanmu yang manis itu-nde! Selama ada kami, dia pasti akan baik-baik saja!" ujarnya kemudian berlalu begitu saja.

"Dimana ini?" tanya Taekwoon saat namja yang tidak ia kenali itu mendekatinya.

"Di rumah kami!" jawabnya seraya meletakkan sebuah kotak yang ia bawa di meja nakas di samping tempat tidur Taekwoon. Taekwoon mengeryit tak mengerti. "Sepertinya, kita belum berkenalan, bolehkah ku tahu siapa namamu?" lanjutnya menatap Taekwoon.

"Jung Taekwoon!" jawab Taekwoon singkat, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. "Kau, sendiri?" tanya Taekwoon menatap namja yang telah menolongnya itu.

"Kim Mingyu!" jawab Mingyu. Taekwoon hanya mengangguk paham. "Bolehkah, aku bertanya?" Taekwoon hanya mengangguk. "Apa yang terjadi padamu?"

"Panjang ceritanya, tapi bagaimana dengan keadaan Jaehwan?" Taekwoon balik bertanya.

"Jaehwan? Ah, namja yang bersamamu?" Taekwoon mengangguk. "Gwenchana, dia baik-baik saja. Jeonghan hyung sudah memberikan obat padanya!"

"Bolehkah aku menemuinya?" pinta Taekwoon. Namja yang bernama Mingyu itu berfikir sejenak.

"Tapi, keadaanmu belum benar-benar pulih!" ujar Mingyu. Taekwoon mencoba untuk bangun.

"Aku tidak akan pernah pulih jika belum melihat keadaannya. Aku mohon—" pinta Taekwoon. Mingyu berfikir sejenak.

"Geurae, aku akan mengantarmu! Biar ku bantu!" jawab Mingyu akhirnya kemudian membantu Taekwoon yang mencoba untuk berdiri.

"Kamsahamnida! Aku berhutang budi padamu!"

"Yak! Kau bisa memikirkan budi itu nanti. Kajja, aku antar!" Mingyu perlahan memapah Taekwoon yang hendak menuju kamar dimana Jaehwan berada.

"Hyung..." panggil Mingyu saat setelah keduanya memasuki sebuah kamar dan memanggil pada seorang namja yang masih setia menemani Jaehwan yang masih terpejam.

"Mingyu-ya—eh!" sentaknya saat melihat Mingyu tidak datang seorang diri.

"Bagaimana keadaannya, apa yang terjadi padanya?" tanya Taekwoon cemas. Namja manis yang berambut pendek hitam pekat itu menatap Taekwoon dengan senyum manis miliknya.

"Gwenchana, dia hanya alergi!"

"Alergi?" ulang Taekwoon.

"Nde, apa kau ingat dia memakan sesuatu atau melakukan sesuatu dan setelahnya dia seperti terlihat tidak semangat? Jika tidak alergi mungkin dia keracunan. Aku pernah melihat dampak yang terjadi pada tubuhnya sebelum ini!" Taekwoon berfikir sejenak. "Apa kau sudah membaik?" lanjut namja itu melihat seluruh tubuh Taekwoon yang lukanya mulai mengering.

"Nde!" jawab Taekwoon singkat.

"Tubuhmu memang cepat bereaksi. Itulah, sebabnya kau cepat pulih!" lanjutnya. Taekwoon hanya mengangguk.

"Apa—Jaehwan akan baik-baik saja?" tanya Taekwoon lagi.

"Nde, tentu saja! Kau tidak perlu khawatir! Dia akan baik-baik saja!" jawabnya.

"Em—hyung! Aku keluar dulu-nde! Aku harus pergi dengan Wonwoo hyung sekarang!" pamit Mingyu yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi hyungnya dengan namja yang baru ia tolong itu.

"Nde, jangan pulang malam-malam, Mingyu-ya!" pesannya, Minyu hanya mengangguk kemudian berbalik meninggalkan keduanya di kamar Jaehwan.

"Yak, kenapa kau berdiri saja sedari tadi, duduklah! Yah, memang begini tempatnya!" namja itu tersenyum manis dan menyuruh Taekwoon untuk duduk di atas lantai di sampingnya seraya menatap tubuh Jaehwan yang tergeletak diatas kasur tanpa ranjang. Taekwoon hanya diam, akan tetapi ia bergerak dan duduk di samping namja yang belum ia ketahui siapa namanya.

"Kamsahamnida sudah—"

"Ah, gwenchana! Tak perlu se-formal itu!" potongnya cepat, kini keduanya berhadapan. "Apa kalian berasal dari desa Halmount?" tanyanya. Taekwoon menatapnya intens. Kemudian ia mengangguk.

"Bagaimana kau bisa tahu, apa kita pernah bertemu?" tanya Taekwoon.

"Ani, aku hanya menebaknya terlebih aku juga melihat gelang yang melingkar di pergelangan tangan temanmu melambangkan kunci dan diamond. Lambang itu bukan lambang sembarangan!" jawabnya. Taekwoon kembali hanya mengangguk.

"Hajiman, siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa tahu mengenai lambang itu?" tanya Taekwoon. Namja itu kembali tersenyum.

"Namaku Yoon Jeonghan, aku lahir di Gamyeon, daerah barat di kaki gunung Halmount tepatnya tak jauh dari desa Halmount!" Taekwoon membulatkan kedua matanya saat mendengar penuturan dari namja tampan yang bernama Yoon Jeonghan itu.

"Kau berasal dari Gamyeon?" ulang Taekwoon memastikan. Jeonghan hanya mengangguk. "Hakyeon juga berasal dari Gamyeon!" batin Taekwoon kalut.

"Waeyo?" tanya Jeonghan yang melihat Taekwoon seperti terganggu pikirannya. Taekwoon menatap Jeonghan.

"Apa semua yang beradi disini berasal dari Gamyeon?" tanya Taekwoon.

"Aniya! Hanya aku dan Seungchol yang berasal dari Gamyeon. Seungchol itu, yang membawamu dengan temanmu kemari, waeyo? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"

"Nde, aku punya kenalan yang berasal dari Gamyeon. Cha Hakyeon, apa kau mengenalnya?" tanya Taekwoon entah kenapa ia merasa senang sekali.

"Apa maksudmu N-ie hyung? Dari keluarga Cha Yeob Won?" tanya Jeonghan.

"N-ie?" ulang Taekwoon mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Nde, itu hanya panggilan kecilnya. Tapi, aku tidak tahu siapa maksudmu karena yang aku sedikit lupa dengan kehidupan Gamyeon. Cha Hakyeon yang aku kenal, hanya N-ie hyung—putra bungsu dari keluarga Cha Yeob Won!" jelas Jeonghan. Taekwoon berfikir sejenak.

"Aku lupa siapa nama ayahnya, hanya saja keluarganya sudah meninggal selama 13 tahun yang lalu. Dan, maka dari itu dia hidup nomaden, sebentar di Gamyeon, sebentar di Halmount!" Jeonghan berfikir sejenak.

"13 tahun yang lalu? Chakkaman—" Jeonghan berfikir sejenak. "Aku tidak yakin jika keluarga Yeob Won ahjussi meninggal 13 tahun yang lalu. Tapi, jika bertanya soal meninggal, ya memang keluarga Yeob Won ahjussi sudah meninggal tentu saja kecuali N-ie hyung!" jelas Jeonghan. Taekwoon hanya diam, jawaban yang diberikan Jeonghan benar-benar di ambang keraguan. Antara orang yang mereka maksud sama ataupun berbeda. "Hajiman—" Jeonghan menarik nafasnya sebelum melanjutkan pembicaraannya membuat Taekwoon kembali menatapnya intens. "Aku sudah tidak bertemu dengannya enam tahun yang lalu!"

.

.

.

.

.

.

"Jimin-ie... apa kau masih terjaga?" tanya Hakyeon yang merasa tidak ada suara yang keluar dari Jimin maupun dirinya, sejak beberapa jam yang lalu keduanya diikat paksa oleh iblis tak berprimanusiaan itu.

"Nde, hyung! Aku kira kau sedang tidur, makanya aku diam saja!" jawab Jimin dengan suara yang terdengar tidak begitu jelas.

"Gwenchana? Apa luka-mu bertambah sakit?" tanya Hakyeon. Jimin meringis meskipun tidak dapat dilihat Hakyeon secara langsung.

"Ani, hyung! Lukanya mulai mengering, tapi rasanya kenapa sesak sekali disini?" Jimin menjawab dengan pertanyaan.

"Yak, apakah kau lupa jika kita sedang diikat?" Hakyeon justru balik bertanya. Jimin tersenyum kecil.

"Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini dan aku harus berterima kasih pada mereka!" ujar Jimin terkekeh. Membuat Hakyeon sedikit melirik meskipun tetap tidak dapat melihat wajah Jimin secara keseluruhan.

"Apa sekarang giliran psikis-mu yang sakit, Jimin-ie?" ejek Hakyeon sementara Jimin tertawa keras.

"Ani, hyung! Dengan begini, kau tidak akan pergi dariku. Aku tidak akan takut jika seorang diri!"

"Hm, jika begitu aku juga harus berterima kasih pada mereka!"

"Yak, hyung. Apa psikis-mu juga ikut terganggu?"

"Kau yang menularnya Jimin-ie—"

"Oh, hyung! Tiba-tiba saja aku ingin sesuatu..." Hakyeon membulatkan matanya lucu.

"Yak, apa kau kira aku tidak sedang diikat?"

"Hehe, anya hyung! Hajiman, ceritakan aku sesuatu..."

"Mwoya? Apa kau bercanda? Apa yang harus aku ceritakan? Aku tidak pandai bercerita!"

"Ceritakan apa saja hyung. Masa kecilmu, atau kekasihmu juga tidak apa-apa..." Hakyeon diam saat mendengar ucapan terakhir dari Jimin. "Kekasih—" batin Hakyeon entah kenapa langsung terbesit bayangan Taekwoon di pikirannya.

"Hyung, kau tidak mau cerita? Kenapa diam saja?" tanya Jimin menatap dinding yang lusuh di depannya sedari tadi.

"Bukan begitu, aku hanya sedang memikirkan cerita apa yang akan aku ceritakan padamu!" Hakyeon beralasan.

"Eoh, jinjjayo? Aku kira kau memikirkan soal ucapanku yang menyebut kekasihmu!"

"Nde, mem—aniya!" hampir saja Hakyeon keceplosan yang membuat Jimin kembali terkekeh saat mendengarnya.

"Kau memang tidak pandai berbohong hyung! Ceritalah, hyung! Aku ingin mendengar bagaimana rasanya jatuh cinta!" Hakyeon menarik nafas.

"Geurae, dengarkan cerita hyung-nde? Ini bukan dongeng, jadi jangan tidur!"

"Nde, hyung!"

"Aku berpacaran dengannya sekitar hampir 3 tahunan. Aku bertemu dengannya saat ia pergi ke kampung halamanku bersama dongsaengnya. Waktu itu, mereka sedang mengejar sesuatu dan menginap di rumahku karena memang rumahku aku gunakan untuk penginapan!"

"Lalu?" Hakyeon tampak mengingat sedangkan Jimin tetap menatap dinding lusuh di depannya tanpa berkedip.

"Saat itu, aku sangat tidak suka dengan wajahnya yang terlihat tidak ramah sama sekali. Aku menegurnya, karena dia seperti ada masalah denganku padahal sebelumnya sama sekali kita tidak pernah bertemu—"

"Dan, setelah kau menegurnya?"

"Ternyata, wajahnya memang seperti itu!" Hakyeon mengulas senyum kecil. "Tapi, aku tetap menjaga image-ku. Bagaimana-pun juga aku tidak mau jika dia bilang aku yang salah. Tentu saja, di depannya aku berpura-pura tidak tahu apa-apa. Jadi, aku berusaha bersikap se-biasa mungkin meskipun agak canggung!"

"Berapa hari mereka tinggal di rumahmu hyung?"

"Hanya enam hari!"

"Lalu, setelah itu?"

"Aku tidak tahu jika salah satu dari dongsaengnya, bisa membaca pikiranku hanya karena melihat mata-ku. Dan, lebih menyebalkannya lagi—ia mengatakan pada Taekwoon jika aku tertarik padanya, padahal itu tidak sama sekali! Aku benar-benar membenci Kim Seok Jin itu!" omel Hakyeon yang tak sadar karena telah menyebut sebuah nama.

"Jadi, namanya Taekwoon—" gumam Jimin mengerti.

"Taek—apa? Bagaimana kau tahu?" tanya Hakyeon yang masih berada di bawah kesadarannya.

"Baru saja kau mengatakannya hyung!" jawab Jimin tenang. Hakyeon mengeryit.

"Jinjjayo? Aigoo!" rutuk Hakyeon pada dirinya sendiri, sedangkan Jimin terkekeh.

"Hyung, apakah kita bisa keluar dari tempat ini?" tanya Jimin, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh gudang.

"Tentu saj—" Hakyeon menghentikan ucapannya, membuat Jimin ingin sekali menoleh pada hyung yang selalu menemaninya itu. Beberapa menit Jimin mengikuti Hakyeon yang hanya diam karena ia tidak tahu betul apa yang sedang terjadi saat ini.

"Hyung?" panggil Jimin lirih, namun ia tak kunjung mendapatkan sahutan yang keluar dari namja manis itu. "Hyung, gwenchana?" tanya Jimin lagi semakin cemas.

"Jimin-ie—"

"Ada apa hyung? Kau baik-baik saja?" tanya Jimin yang mendengar suara Hakyeon yang tidak seperti biasanya.

"Jimin-ah—"

TBC

Jika ada typo bertebaran, mohon maafkan author ini sebesar-besarnya. Saran, kritik, dll sangat diterima, and don't forget review after read. Follow and favourite to. And, jeongmal mianhae belum bisa jawab review.

Thank you.

See you in next chapter...

Anyeong—