Sosok bayi yang mengenakan stelan jas hitam itu terlihat tengah berdiri di sebuah telfon umum. Ia menunduk hingga sebagian wajahnya tertutup topi fedora miliknya.
"Wakatta," ucap Reborn seraya mengangkat wajahnya. Menatap sekelilingnya dengan intens.
"Ya, kirimkan buku itu. Aku memerlukannya sekarang," Reborn mengangguk—mendengar seseorang yang tengah berbicara di sebrang telfon sana. "Ee, Doita," lalu mematikan sambugan telfonnya.
Sosok bayi itu menatap sekelilingnya kembali. Tidak ada wajah-wajah yang dikenalnya. Dengan lembut ia mengelus bunglon yang berada di tangannya. Memperlakukan partnernya dengan baik serya mulai melangkahkan kaki meninggalkan telfon umum itu.
.
.
.
A Dream About You
Diclaimer : Amano Akira
Genre : Romance, friendship,
Pairing: yang pasti 1827 :D
Rated: T
WARNIG! BL, YAOI, OOC, Typo(s), dll...
.
.
.
Ketenangan memenuhi ruangan berdinding beton itu. Ruangan yang hanya berisikan sebuah meja persegi panjang yang dikelilingi oleh beberapa kursi yang kini telah ditempati oleh wajah-wajah yang terlihat tegang. Atmosfer ruangan luas ini sungguh menekan. Semua mata tertuju kepada sosok yang berada dibalik kelambu transparan yang di depannya berdiri 5 orang lelaki dan 2 orang perempuan—para guardian yang melindungi sosok yang berada dibalik kelambu.
Sepasang mata coklat itu mengerjab. Tubuh mungil yang berbalut kimono tebal itu tengah duduk di lantai yang berlapis karpet bulu yang hangat. Dapat ia lihat beberapa pasang mata menatapnya dari meja yang berada di luar kelambu. Juga ada 7 orang yang tengah berdiri memunggunginya yang juga berada di luar kelambu.
Tsuna menunduk. Alisnya terpaut saat menyadari rambutnya coklatnya sangatlah panjang hingga menyapu lantai. Rambutnya dibiarkan terurai begitu saja. Membiarkan rambut lurus yang indah itu tak tersentuh satupun benda penghias karena tanpa benda-benda itupun rambut coklat itu sudah cukup indah.
"Kekuatan itu telah kami segel sejak lama," tiba-tiba bibir Tsuna membuka. Menyuarakan suara yang asing seorang wanita dipendengarannya. Aneh… tentu saja Tsuna sadar bahwa itu bukanlah suaranya. Suara wanita yang keluar dari bibirnya terdengar tegas dan penuh wibawa. "Kami tidak akan melepaskan segel itu kembali," lanjut Tsuna. Menekankan kembali apa yang ia tegaskan.
"Tetapi menurut ramalan Fuuta, kegelapan itu akan memusnahkan yang lain! Hanya kekuatan Arcobaleno saja—"
.
.
.
Sepasang mata coklat itu terbuka. Hal pertama yang pemuda bertubuh mungil itu lihat adalah langit-langit kamar yang gelap. Keringat membasahi tubuh mungil itu namun udara dingin membelai kulitnya. Ia mengerjabkan matanya seraya terus menatap hampa langit-langit kamarnya.
Tsuna menolehkan kepalanya ke samping. Menatap jam yang berdetik memecahkan keheningan di dalam ruangan kamarnya. Ah, pantas saja masih gelap. Sekarang jam 1 pagi. Masi terlalu dini untuk terbangun. Kembali Tsuna menatap langit-langit kamarnya. Ia terdiam. Memikirkan mimpinya yang aneh tadi.
"Aku… seorang perempuan?" gumam Tsuna kemudian. Lebih kepada dirinya sendiri. Dapat ia dengar suaranya yang agak serak—karena baru bangun—dan merasa bersyukur telah mendapati suaranya kembali. Tsuna menghela nafas lega, namun anehnya ia dapat merasakan sesuatu yang hangat secara berlahan berada di kening dan kedua tangannya. Dengan bingung Tsuna menatap kedua tangannya. Alisnya terpaut saat melihat bahwa tangannya bercahaya. Ah, bukan… bukan bercahaya namun lebih terlihat terbakar. Ya, terbakar dalam api berwarna orange yang menyelimuti tangannya dengan hangat. Seoah-olah… api itu adalah sebuah sarung tangan wol yang memang digunakan untuk menghangatkan tangannya. Kehangatan yang benar-benar terasa nyaman.
"Api… langit?" gumamnya kembali. Memperhatikan kedua tangannya yang terbakar oleh api asing itu. Ah, sekarang kamarnya jadi tidak terlalu gelap lagi. Api ini bagaikan sebuah cahaya di kegelapan. Cahaya yang melindungi hingga memberikan perasaan aman dan nyaman.
Sepasang manik coklat itu secara berlahan mulai terasa berat. Rasa nyaman dari api yang muncul itu membuat Tsuna mengantuk. Dan secara berlahan ia kembali ke alam mimpi. Menyebabkan api yang berada di kening juga kedua tangannya memadam dengan sendirinya.
Sepasang mata onix yang sedari tadi diam memperhatikan sosok yang tengah terbaring di atas kasur itu mengerjab. Ia tidak bergerak dari posisinya. Mematung. Sepasang mata onix itu masih fokus menatap pemuda yang kini tengah tersenyum di alam mimpinya.
Ia melihatnya. Ya, Reborn melihatnya dengan sangat jelas saat api orange yang murni itu muncul di kedua tangan dan juga kening Tsuna. Dan, Reborn benar-benar tahu apa arti dari kemunculan flame itu.
.
.
.
"Juudaime, Ohayou!"
"Ohayou Tsuna."
Tsuna mengerjab beberapa kali saat ia membuka pintu, kedua temannya telah ada di halaman rumahnya—menyambutnya dengan sapaan pagi yang ramah. Tsuna terdiam. Bingung kenapa kedua sahabatnya ini tahu bahwa ia akan berangkat ke sekolah di jam yang terbilang terlalu pagi—mengingat bahkan matahari pun belum menunjukan wujudnya—namun sebuah senyuman merekah di bibirnya. Entah bagaimana ia merasa senang dengan kehadiran Gokudera dan Yamamoto.
"Ohayou Takeshi-kun, Hayako," sapa balik Tsuna. Gokudera dan Yamamoto sama-sama terbelalak mendengarnya. Panggilan itu… mungkinkah Tsuna…
"Tsu… Tsunahime?" panggil Yamamoto dengan tidak percaya.
Alis Tsuna terpaut mendengarnya. "Tsunahime?" tanya Tsuna bingung. Ia menatap Gokudera dan juga Yamamoto yang masih menatapnya dengan syock. "Hey, kalian tidak apa-apa Gokudera-kun? Yamamoto?" tanya Tsuna khawatir seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Yamamoto dan Gokudera.
"Eh? A, ahahahaha… kami tidak apa-apa kok," ucap Yamamoto canggung. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebelah alis Tsuna terangkat mendengarnya. Ia masih menatap kedua temannya itu dengan khwatir.
"Juudaime, sebaiknya kita berangkat sekarang saja!" usul Gokudera tiba-tiba. Tsuna membuka mulut—hendak protes—namun Gokudera langsung menarik tangannya untuk melangkah lebih cepat meninggalkan halaman rumahnya.
"Eh? Ah!? Ka, Kaasan! Ittekimashu!" teriak Tsuna di depan pagar rumahnya. Yah, walau tahu Kaasannya mungkin tidak akan mendengarnya—karena Nana sedang berada di dapur—namun tidak apa-apa lah, toh itu sudah menjadi kebiasaannya sebelum berangkat ke sekolah.
"Ne, ngomong-ngomong kenapa kalian tahu aku akan berangkat se pagi ini?" tanya Tsuna bingung saat mereka mulai melangkah menuju Nami-chu. Gokudera dan Yamamoto sama-sama menoleh ke arah Tsuna.
"Ahahaha... hanya perkiraan saja," bohong Yamamoto seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya mereka sudah merencanakan hal ini. Yah... sejak kejadian flame Tsuna yang mendadak muncul, Reborn mentitahkan untuk lebih menjaga Tsuna. Entah kenapa. "Ah, Tsuna, hari senin nanti ada ulangan bukan?" ucap Yamamoto tiba-tiba, mengingatkan akan keberadaan Ulangan yang menyebalkan plus mengalihkan sedikit topik pembicaraan.
"Benar juga," gumam Tsuna. "Ulangan bahasa Inggris yang susah," lirihnya miris. Mengingat bahwa nila bahasa Inggrisnya tidaklah bagus. Well, bukan hanya nilai bahasa Inggris saja sebenarnya. Tetapi semua mata pelajaran juga nilainya selalu kecil. Dan bisa dibayangkan bagaimana Reborn dengan mudah mengubah nilainya yang selalu dibawah rata-rata itu menjadi… Yah, pas-pasan. Setidaknya meningkat. Namun tentu saja, dengan cara yang sangat menakutkan.
"Juudaime, bagaimana bila aku membantumu belajar?" usul Gokudera tiba-tiba. Teringat bahwa Juudaimenya selalu mendapatkan nilai yang di bawah rata-rata. Sungguh, sangat berbanding terbalik dengan Gokudera yang selalu mendapatkan nilai sempurna. "Aku akan mengajari Juudaime sampai Juudaime bisa!" ucapnya bersemangat.
"Wah… ide yang bagus, jadi kita bisa lebih konsentrasi bila belajar bersama!" setuju Yamamoto.
Persimpangan langsung muncul dikepala silver itu begitu mendengarnya. "Siapa yang mengajakmu Yakyuu-baka!? Aku hanya mengajak Juudaime!"
"Ahahaha… kalau Tsuna ikut, berarti aku juga ikut."
"Nani!? Kau kira kau siapa sampai-sampai berbicara seperti itu!?"
Sementara Gokudera dan Yamamoto mulai adu mulut, sebuah ide terlintas di kepala Tsuna. Senyumannya mengebang saat membayangkan bahwa ia akan berlajar bersama dengan kedua temannya. Hey, bukankah itu berarti ia tidak perlu belajar dengan Reborn?
"Kita belajar kelompok bersama-sama saja. Besok'kan Sabtu, jadi bagaiaman kalau sekalian menginap di rumahku?" tawar Tsuna.
Deg!
Bagaikan mendengar hadiah besar dari sebuah undian, mata Gokudera langsung berblink-blink ria. Baik Yamamoto maupun Tsuna, sama-sama bisa membayangkan ada sebuah ekor yang mengibas-ngibas senang di belakang pemuda yang mendadak sangat bahagia itu.
"Be, benarkah Juudaime!?" tanya Gokudera memastikan. Ia menatap Tsuna dengan puppy eyes yang kelewat menyilaukan—namun tentu saja, Tsuna sudah sangat terbiasa dengan hal itu.
"Te, tentu saja," jawab Tsuna. "Tetapi nanti kalian datang ke rumahku agak malam, sekitar jam 8."
Sebelah alis Yamamoto terangkat. "Kenapa malam?" tanya Yamamoto penasaran. "Bukankah akan lebih baik bila berkumpul sejak sore saja? Jadi bisa sekalian membeli beberapa cemilan dan jadi lebih banyak waktu untuk belajar," jelasnya.
"Iya, aku rasa akan lebih baik bila kita berkumpul di sore hari saja," setuju Gokudera. Ia menatap Tsuna dengan pandangan bertanya. Tsuna menelan liur paksa mendengarnya. Tentu saja Yamamoto dan Gokudera tidak tahu bahwa ia menjadi pelayannya Hibari. Yah… hanya Reborn yang tahu akan hal memalukan itu.
"Umn… A, aku ada urusan, jadi tidak bisa di rumah. Mungkin sekitar jam 6 baru pulang," akunya. Tsuna menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Well, Tsuna memang ada urusan di luar rumah kan? Jadi ia tidak berbohong. "Err… ngomong-ngomong Yamamoto tidak latihan pagi hari ini?" tanya Tsuna. Mencoba sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Karena sebentar lagi ujian, jadi kami mengurangi jadwal latihan kami," jawab Yamamoto. Ia menghela nafas berat seraya menggelengkan kepalanya. "Rasanya agak sedih bila harus lebih banyak di depan buku ketimbang latihan memukul," lirihnya pasrah.
"Yah… memang rasanya lebih menyenangkan membaca komik ketimbang membaca buku pelajaran yang membosankan," setuju Tsuna—benar-benar tipikal anak yang malas belajar. Yah, keduanya sama saja. Sama-sama malas belajar.
"Ah, tetapi kali ini aku akan mengajari Juudaime, aku jamin belajar nanti pasti jadi lebih menyenangkan!" ucap Gokudera dengan semangat. Berhubung Gokudera yang paling pintar diantara mereka bertiga, tentu saja sudah dipastikan ia yang menjadi 'sensei' nanti.
"Ahahaha… untung saja ada kau Gokudera, jadi kami tidak perlu repot menyewa guru private," canda Yamamoto. Alis Gokudera terpaut mendengarnya.
"Nani? Siapa yang akan mengajarimu? Aku hanya akan mengajari Juudaime!"
"Ah, tetapi aku juga ikut, jadi kau akan memiliki 2 murid."
"Aku tidak sudi punya murid sepertimu!"
"Ahahaha… kalau begitu aku juga sama."
"Na, nani!? Apa yang kau bilang Yakyuu-baka!? Jangan meniru ucapanku!"
"Tidak kok, aku tidak meniru."
"Grrr… Teme! Dasar Yakyuu-baka! Aho!"
"Ahahaha…"
Tsuna tersenyum kecil dengan pertengkaran kedua temannya. Suasana pagi yang sejuk dengan diiringi dengan pertengkaran kecil ala Yamamoto dan Gokudera entah bagaimana menghangatkan hatinya. Rasanya ia benar-benar rindu suasana ini. Ah, padahal baru sekitar 2 minggu ia selalu pergi sendiri ke sekolah dan seringkali dengan terburu-buru hingga tidak sempat menikmati suasana jalan menuju sekolahnya yang membosankan, namun sekarang semuanya entah bagaimana tidak terasa membosankan. Sebaliknya, ini sungguh menyenangkan.
"Pagi-pagi kalian sudah berisik."
Lamunan Tsuna langsung buyar begitu mendengar suara yang sangat ia hafal diluar kepala. 3 pasang mata itu sama-sama memandang sosok bayi yang berdiri di atas pagar yang berada di samping mereka.
"Reborn/Reborn-san!?" ucap Tsuna dan Gokudera bersamaan. Kaget dengan keberadaan sang bayi yang tiba-tiba muncul. Reborn mengangkat tangan kanannya seraya tersenyum menatap ke-3 pemuda yang ada di hadapannya.
"Ciaossu!" sapanya.
"Ohayou Reborn," balas Yamamoto ramah.
"Ohayou Takeshi," ucap Reborn. Lalu sepasang matanya menatap Tsuna dan Gokudera. "Kenapa memasang wajah seperti minta dipukul seperti itu?" tanya Reborn seraya mengeluarkan palunya.
"Hie!?" Tsuna langsung melangkah mundur begitu melihat Leon yang berubah menjadi palu. "Pa, pagi-pagi kau sudah membuat lelucon yang tidak lucu, Reborn!" ucapnya setengah ngeri.
Reborn tersenyum mendengarnya. "Hey, pagi-pagi seperti ini bagaimana bila kalian berlomba?" usulnya.
"Lomba?" beo Tsuna.
"Wah… ide yang bagus! Lomba apa?" ucap Gokuder semangat.
"Siapa yang lebih dulu sampai ke sekolah, dia akan mendapatkan hadiah, siapa yang terakhir kali sampai, akan mendapatkan hukuman," jelas Reborn. Alis Tsuna terpaut mendengarnya. Diantara Gokudera dan Yamamoto, sudah pasti dia lah yang akan kalah bukan?
"Tidak aku menol—"
"Wah… Menarik! Kalau begitu, aku tidak akan kalah!" ucap Yamamoto senang.
"Eh?" Tsuna langsung menatap Yamamoto dan Gokuder yang terlihat bersemangat mendengar usulan Reborn.
"Huh! Kau tidak akan menang selama ada aku, Yakyuu-baka!"
"Ahahaha… lihat saja, kau pasti akan kalah Gokudera."
"Grrrr… Teme! Akan kubuat kau berlutut di kakiku nanti!"
"Kalau begitu aku akan membuatmu mencium kakiku."
"Kau…." persimpangan muncul di kepala silver itu. tubuhnya gemetar menahan amarah. "AKAN KUBUNUH KAU—"
"Yak, mulai!" sela Reborn. Seketika ke-3 pemuda itu sama-sama menatap bayi yang tengah memegang pistol di tangannya. Ia mengarahkan pistol itu ke langit dan terdengar suara letusan pistol yang bertandakan, lomba dimulai. Tanpa menunggu aba-aba lagi—karena dengan seenaknya Reborn memulainya—Yamamoto dan Gokudera langsung melesat dengan cepat menuju sekolah mereka. Meninggalkan Tsuna yang masih mematung di tempatnya.
"Wah… mereka semangat sekali," gumam Tsuna kagum. Melihat kecepatan Yamamoto dan Gokudera berlari memang pantas untuk dikagumi bukan?
"Kau juga ikut, Dame-Tsuna," ucap Reborn tiba-tiba.
"Huh?"
"Bila kau kalah," Reborn langsung mengarahakan moncong pistolnya ke arah Tsuna. Sukses membuat pemuda berambut coklat itu ber-hie-ria. "Aku yakini kau akan menyesal."
"I, ini pemaksaan!" teriaknya tidak terima namun langsung berlari meninggalkan bayi menakutkan yang tengah menodongkan pistolnya ke arahnya. Ah sepertinya pagi ini sama saja dengan pagi-pagi penuh derita ala Tsuna bila ada Reborn yang senan tiasa menyiksanya tanpa sebab.
.
.
.
"Sa, sampai!" ucap Tsuna dengan nafas yang terengah. Ia membungkuk seraya menyentuh kedua lutunya dengan tangan. Peluh membasahi seragamnya. Membuatnya bermandikan keringat di pagi buta. Entah ini antara menyehatkan atau menyiksa. Mungkin bisa jadi dua-duanya.
"Kenapa kau mematikan ponselmu, Tsunayoshi?"
Sepasang manik coklat itu terbelalak mendengar suara barritone yang sangat ia kenal. Refleks Tsuna langsung mengangkat kepalanya. Menatap sosok senpai yang berdiri tepat di hadapannya.
"Hiba—hie!?" Tsuna langsung melangkah mundur. Menghindari sapaan manis sang tonfa. Hibari menyeringai melihat gerakan refleks Tsuna yang mulai membaik. Ia kembali mengayunkan tonfanya ke kepala Tsuna dan Tsuna refleks menunduk.
Duak!
"Ouch! Ittai!" rintih Tsuna saat ternyata Hibari menyerang bagian perutnya. Tidak keras, namun cukup membuat pemuda bermarga Sawada itu merintih kesakitan sambil memegang perutnya. "Go, gomenasai Kyoya-kun," lirih Tsuna. Ia mengusap perutnya yang masih terasa sakit. Kasihan sarapan pagi yang telah masuk ke dalam perutnya. Beruntung ia tidak sampai memuntahkan sarapan paginya karena sambutan Hibari. "Ponselku tertinggal di rumah," jelas Tsuna. Ia merintih saat mencoba menegabkan tubuhnya.
"Hn," ucap Hibari pendek sambil melemparkan tasnya ke arah Tsuan. Tsuna refleks menangkap tas Hibari namun naas. Ia lupa bahwa tas Hibari sangatlah berat dan itu sukses membuatnya malah jatuh mencium tanah. Hibari mendengus meihat tingkah konyol pelayannya. Ia kembali melangkah menuju gerbang sekolah. Memulai rutinitasnya sebagai seorang Ketua Komite Kedisiplinan.
Baiklah… jangan salahkan Tsuna kalau dia tidak bisa menopang tubuhnya dengan baik. Salahkan kenapa Reborn membuatnya maraton dadakan dan salahkan kenapa tonfa cantik itu melukai tubuhnya.
"Dame~ Dame~."
"…."
Plus hinaan indah dari sang burung kecil berbulu blonde yang dengan senang hati hinggab dirambut berantakan Tsuna. Entah sejak kapan burung itu mulai mempunyai kebiasaan baru. Hinggab di atas rambut coklat Tsuna dan mengejek si empunya kepala.
.
.
.
Sepasang manik safire itu menatap sekelilingnya dengan fokus. Kacamata persegi yang membingkai wajah pemuda itu menambah kesan tampan wajahnya. Sebelah tangan pemuda itu sedikit mengacak rambut pirangnya yang basah karena keringat. Terlihat sebuah tato yang tertutupi kerah baju pemuda itu.
"Aneh," gumam pemuda itu. Alisnya terpaut saat menatap sekelilingnya lalu ia menatap ponsel yang sedari tadi ia genggam. Memastikan posisinya dimana sekarang dengan GPS. "Aku berada di posisi yang tepat," ucapnya. "Tetapi kenapa masih tidak menemukannya? Hmn.. mungkin aku perlu bertanya—
Tap.
"Grrrr…."
"Eh?" sepasang manik biru itu menatap ke bawah. Matanya terbelalak saat melihat apa yang ia injak. Dengan ngeri sosok itu langsung mengangkat sebelah kakinya—melepaskan ekor anjing yang tidak sengaja ia injak. "A, ano… Gomena—"
"Guk! Guk!"
"Gyaaaaaa!" belum sempat permintaan maaf terucap dari pemuda asal Italia itu, sang anjing mungil ras Chihuahua itu lebih dahulu mengejarnya. Hendak menerkam sang pembuat penderitaan pada ekornya.
"Gyaaaa! To, tolong! Tolong!" teriak pemuda itu diiringi oleh gonggongan anjing kecil yang mengejarnya dari belakang. Namun orang-orang yang melewati sang pemuda tidak ada yang mau menolong. Mereka malah terkikik geli dengan tingkah—yang menurut mereka—lucu itu. Bagaimana bisa seorang pemuda bertubuh lebih besar dan terlihat dewasa itu justru takut dengan anjing kecil ras Chihuahua yang mengejarnya? Ah, pemandangan ini entah bagaimana terlihat sangat familier bagi beberapa warga yang tinggal di dekat sana.
.
.
.
"Aaah, payah, padahal sebentar lagi ujian," lirih pemuda bertubuh mungil itu seraya terus melangkah diantara labirin perumahan. Sebelah tangannya menjinjing sebungkus Teh hijau dan juga beberapa cemilan yang di tugasnya oleh sang Ketua Komite Kedisiplinan untuk dibelinya. Ah, ini sudah menjadi tugas Tsuna selain harus mengantar-jemput tas, makan siang dan juga membersihkan ruangan Komite Kedisiplinan. Belum lagi Hibari suka sekali mendadak menyerangnya hanya karena kesalahan-kesalahan kecil. Yah… lengah sedikit, maka nyawa melayang.
"Aaakh! Nilai ujianku hancur semua!" geram Tsuna frustasi. Kali ini ia benar-benar akan menyandang nama 'dame' seumur hidupnya bila nilainya bahkan tidak pernah di atas 30. Tsuna mengacak-acak rambut coklatnya. Dapat ia rasakan wajahnya memanas setiap kali mengingat betapa Nezu-Sensei selalu saja menyindir nilainya yang kecil di depan kelas. Benar-benar memalukan dan juga menyebalkan.
"To, tolong!"
"Eh?" Tsuna langsung menatap ke sekelilingnya begitu mendengar suara seseorang yang meminta tolong. Sepasang manik coklatnya terbelalak saat melihat seorang pemuda yang terlihat lebih tua darinya berlari ke arahnya dengan diikuti anjing Chihuahua yang terlihat siap menerkam siapa saja.
"HHIIIEEEE!?"
"Eeeeehhh!?"
Duak!
Tabrakan tidak terelakkan lagi. Kedua pemuda dengan berbeda ukuran tubuh itu saling menabrakkan diri mereka. Menciptakan suara bedebam yang sukses membuat semua orang meringis bila mendengarnya. Pemuda yang bertubuh lebih kecil jatuh tertimpa tubuh yang lebih besar darinya—kalah tenaga mempertahankan keseimbagan.
"Ittai!" rintih Tsuna. Ia memegang kepalanya yang mencium tanah. "Ah!" mata Tsuan terbelalak saat melihat cemilan yang ia beli untuk Hibari tahu-tahu saja sudah berada di mulut anjing Chihuahua. Sang anjing mungil itu membalikkan tubuhnya dan sedikit menggoyangkan pinggulnya—mengejek Tsuna—lalu berlari pergi dengan membawa cemilan yang berada di dalam kantong putih itu. "Gyaaaa! Belanjaanku!" teriak Tsuna frustasi. Ia mencoba bangkit namun tubuh yang lebih besar darinya masih menindihnya.
Alis Tsuna terpaut. "Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Tsuna. Ia benar-benar merasa keberatan dengan tubuh yang setengah menindihnya ini. Terlebih ia harus mengejar anjing Chihuahua menyebalkan yang sekarang mencuri belanjaannya!
Pemuda berambut pirang yang tengah menindih Tsuna mengangkat kepalanya. Sepasang mata safire itu menatap Tsuna dengan sayu. Wajah yang semula terlihat tampan menjadi tersamarkan berkat wajah yang kini terlihat kusut dan pucat.
"A, aku akan mengganti makanan… Uh…" dan sang pemuda asing tidak sadarkan diri begitu saja sebelum sempat menyelesaikan ucapannya.
"E, eh!? Cho, chottomate! Kau tidak apa-apa!? Hei! Hei!" ucap Tsuna panik seraya mengguncang tubuh yang kini nyawanya tengah keluar dari mulut yang terlihat terbuka itu. Oh bagus, sepertinya kau mendapatkan masalah baru Sawada Tsunayoshi. Mengingat sang perefect tidak suka menunggu lama, cemilan yang dibelipun dicuri oleh seekor anjing kurang ajar dan sekarang, ia harus mengurus orang pingsan—atau boleh disebut sekarat—yang tidak dikenalnya. Haah… poor Tsuna.
.
.
.
Sosok pemuda berambut coklat itu terlihat berjalan bolak-balik di koridor sekolahnya. Sepasang mata coklatnya menatap lantai dengan pikirannya yang tengah kalut. Langkahnya sesekali terhenti hanya untuk menatap sosok pemuda asing yang beberapa menit lalu ditabraknya lalu menatap tangga menuju ke lantai atas dengan perasaan was-was.
"Aaakkhh! Bagaimana ini!?" teriak Tsuna frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya—gemas dengan situasi yang saat ini ia hadapi. Tsuna dengan susah payah menyeret pemuda asing yang tidak sadarkan diri itu ke sekolah—tidak tega meninggalkannya di jalanan. Tetapi cemilan dan teh sang prefect telah dicuri seekor anjing Chihuahua. Bisa saja Tsuna membeli lagi, tetapi tidak mungkin ia meninggalkan orang yang tengah tidak sadarkan diri itu sendirian di sana bukan? Tetapi Hibari Kyoya TIDAK SUKA MENUNGGU!
Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tsuna menelan liurnya paksa. Ia langsung mengambil ponselnya dari dalam saku—sebelum membeli cemilan tadi ia sempat mampir ke rumah untuk megambil ponselnya yang tertinggal—dan dengan keringat dingin, ia mulai mengetik SMS. Pesan singkat untuk Hibari dari seorang pelayan yang tidak pernah digaji.
"Kyo, Kyoya-kun… Gomenasai, teh dan cemilan yang Kyoya-kun inginkan tidak ada," baca Tsuna. Ia menggigit bibirnya, berharap kebohongannya tidak akan diketahui sang prefect. Dengan ngeri ia mengirimkan pesannya. Berharap pesan itu pending dan nyangkut entah dimana di tengah jalan(?).
Bzzzztttt…
"Hhiieeee!?" Tsuna refleks brteriak saat ponselnya bergetar—tanda ada pesan masuk. Degan jantung yang hampir keluar dari rongganya ia langsung membuka pesan masuk itu. Ia menelan liur paksa saat tahu yang mengiriminya pesan adalah Hibari. Ah, kenapa sang senpai cepat sekali membalas pesannya sih?
Kamikorosu.
"HHHIIIEEEEE!?" Tsuna refleks langsung menjauhkan ponselnya. Perasaan ngeri langsun menjalar dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Hanya satu kata, namu sukses membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Oh bagus, sekarang ia tidak punya pilihan lain selain membeli ulang belanjaannya.
"Go, gomenasai! Aku akan segera kembali!" ucap Tsuna kepada sosok yang masih tidak sadarkan diri itu lalu berlari meninggalkan lingkungan sekolah dengan kecepatan maksimal tubuhnya berlari.
.
.
.
Keheningan memenuhi koridor sekolah yang tidak ada siapapun itu. Terlihat pemuda berambut blonde tengah terduduk dengan punggung yang bersandar pada dinding. Pemuda itu secara berlahan membuka kedua matanya. Ia mengerjab beberapa kali seraya merintih menahan sakit di perutnya. Sudah berapa lama ia tidak makan?
"Ugh… di mana aku?" gumamnya seraya menatap sekelilingnya. Pemuda asing yang bernama lengkap Dino Cavallone mengerutkan alisnya saat menyadari bahwa ia berada di tempat yang berbeda. Tempat asing yang mirip seperti… sebuah koridor sekolah? Alis Dino semakin terpaut. Ia mencoba mengingat-ingat hal terakhir yang ia lakukan sebelum berada di tengah mimpi indahnya yang dikeliling makanan.
Kriuk~
Dan perutnya kembali berbunyi. Menyuarakan apa yang seharusnya menjadi sebuah kewajibannya untuk menambah energi. Dengan miris Dino mengusap perutnya. Ia ingin berkata 'bersabarlah' namun pada kenyataannya kata 'sabar' sudah tidak bisa ditoleransi lagi di perutnya. Yah… terkadang rasa lapar sering kali memberikan ide atau bahkan pemikiran yang amat luar biasa bukan? Dan dengan memandang pintu-pintu kelas yang berada di sekelilingnya terbuka, senyuman Dino langsung mengembang. Ia bangkit dari posisinya dan berjalan menuju salah satu kelas. Melakukan apa yang diperintahkan otaknya atas nama mempertahankan kelangsungan hidup.
.
.
.
Tap.
Langkah Tsuna terhenti. Sepasang mata coklat itu menatap 3 orang berandalan yang berada di dekat gang yang akan ia lewati. Oh bagus… ini sangat buruk. 3 orang berandalan itu sudah dipastikan tidak akan melepaskannya. Syukur-syukur kalau mereka hanya meminta uang, bila mereka turut meminta belanjaannya? Ah, Tsuna tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Baiklah, sepertinya ia memang memerlukan jalan memutar.
Dengan segera Tsuna langsung berbalik. Hendak meninggalkan tempat itu dengan segera dan menghindari masalah.
"JUUDAIME~"
Oh bagus. Panggilan dan juga suara itu… tidak perlu dilihat Tsuna sudah sangat tahu siapa orang yang menggagalkan aksinya. Dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya ditambah dengan senyuman kaku, Tsuna berbalik kembali. Menatap Gokudera yang sekarang…
Berhadapan dengan ke-3 preman itu!
"Gokudera-kun!?" teriak Tsuna saat melihat Gokudera dihadang oleh ke-3 preman itu. Gokudera tersenyum menatap Tsuna. Wajahya terlihat berseri-seri seraya melambaikan tangannya ke arah Tsuna.
"Juudaime! Tunggu di sana, aku akan segera membereskan ke-3 serangga ini!" teriaknya. Menyuruh Tsuna untuk menunggu. Tsuna membeku mendengarnya. Ucapan Gokudera jelas sangat menyulut api ke marahan dari ke-3 preman itu. Oh tidak, sahabatanya itu dalam bahaya!
Dengan panik Tsuna menatap sekelilingnya—mencoba mencari bantuan—namun tidak ada siapapun di gang itu. Sungguh, rasanya Tsuna benar-benar ingin menangis ditempat saat ini juga. KENAPA TIDAK ADA SIAPAPUN DI SINI!? Ah, seandainya saja ia bisa meneriakkan hal itu…
Lalu sepasang mata coklat itu menatap sebuah balok kayu yang ada di dekat tiang listrik. Tanpa ba-bi-bu lagi, Tsuna langsung meraihnya. Ia tidak perduli bila ia akan babak belur. Toh, ia sudah biasa dengan hal itu selama berminggu-minggu ini bukan? Lagipula pukulan mereka pasti tidak akan sesakit salam manis dari tonfa kesayangan Hibari Ky—
Duar!
Sepasang manik coklat itu terbelalak saat sebuah ledakan yang disusul dengan debu-debu yang berterbangan hingga menghalangi pemandangan itu berada tepat di tempat Gokudera dicegat ke-3 preman itu.
"Gokudera-kun!?" teriak Tsuna panik. Ia langsung melangkah menuju ke tempat Gokudera namun langkahnya terhenti begitu seseorang menariknya dari belakang. Tsuna refleks menoleh menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
"Kau lihat dan perhatikan Sawada," ucap pemuda berambut silver cepak yang baru dikenal Tsuna—Sasagawa Ryouhei. Alis Tsuna terpaut mendengar ucapan senpainya. Bagaimana bisa ia membiarkan sahabatnya terluka di depan matanya? Tsuna kembali menatap ke depan. Matanya terbelalak saat melihat sebuah ledakan kembali tercipta. Namun perkiran Tsuna salah, yang membuat ledakan itu bukanlah ke-3 preman itu, namun Gokudera.
Gokudera menyerang ke-3 preman itu dengan dynamit kecil. Dynamit kecil itu mengeluarkan asap yang mengganggu pengelihatan dan saat asap itu menghilang, Gokuda berdiri diantara ke-3 preman yang jatuh tidak berdaya karena terkena pukulan dari Gokudera.
"Kau lihat? Ke-3 orang itu hanya serangga kecil baginya, Sawada," ucap Ryouhei. Ada rasa bangga dari nada suaranya. Tsuna hanya diam mendengarnya. Bahkan ketika Gokudera melambai kepadanya dan meneriakkan dirinya, ia tidak perduli. Tsuna teringat saat Yamamoto menahan serangan Hibari. Dan malihat Gokudera tadi… Hanya satu hal yang pasti ada dikepalanya.
Sejak kapan Yamamoto dan Gokudera begitu kuat?
"Yo, kepala gurita!" sapa Ryohei seraya tersenyum ke arah Gokudera. persimpangan langsung muncul di kepala perak itu.
"Apa katamu!?" geram Gokudera. Ia bersiap menghidupkan dynamitnya dan itu sukses membuat Tsuna bergidik ngeri.
"Gokudera-kun!" teriak Tsuna memperingatkan. Pandangan Gokudera terlihkan ke arah Tsuna. Matanya terbelalak saat menyadari apa yang akan ia lakukan.
"Juudaime! Gomenasai!" teriaknya seraya menyimpan semua dynamit yang ada di tangannya. "Aku benar-benar bodoh sudah membuat Anda menunggu lama dan membuat Anda jadi harus berdekatan dengan si penggila boxing ini!" ucapnya dengan air mata yang bercucuran dan tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya karena hampir membuat Juudaimenya terluka. Ah, Tsuna… ingat misimu.. misimu! Sosok yang jauh di sana tengah menunggumu dengan… aura kekesalan yang takkan bisa kau bayangkan!
.
.
.
Kriuk~
Suara perut yang berbunyi itu terdengar nyaring memecahkan keheningan diantara koridor sekolah. Dengan lemas Dino memegang perutnya yang kelaparan. Matanya masih menatap sekeliling koridor. Tetap berharap dan tidak pantang menyerah mencari makanan—atau bagusnya bekal yang tertinggal dan tentu saja di dalamnya masih utuh—di dalam salah satu kelas.
Tap. Tap. Tap.
Dino melangkahkan kakinya ke tangga menuju atas. Ia tidak menemukan makanan di lantai bawah, tetapi siapa tahu ada makanan di lantai atas bukan? Dengan berlahan namun pasti matanya menelusuri koridor sepi ini. Alisnya terpaut menyadari suasana sekolah yang begitu sepi. Sungguh suasana yang sangat janggal bila melihat di luar sana matahari masih terlihat menantang dengan cahayanya yang menyengat kulit namun udara sejuk justru menyusup masuk melalui jendela.
Dino merinding. Keheningan sekolah ditambah dengan suara langkah kakinya yang memecahkan keheningan benar-benar menciptakan suasana magis yang membuatnya merasa ngeri. Walaupun hari masih terang tetap saja suasana di sekitarnya terasa menyeramkan. Tidak ada yang bisa menjamin setan ataupun hantu tidak akan keluar di siang hari bukan?
"Dino-san…"
Deg!
Jantung Dino langsung berdetak lebih cepat saat suara seorang perempuan memanggilnya tepat dari belakang tubuhnya. Bahunya menegang dan seluruh tubuhnya mendadak terasa panas dingin. Oh tidak… apakah ini karma karena berniat mencuri makanan di sekolah ini sehingga penghuni sekolah ini sekarang mengamuk?
Puk.
Sebuah tangan mungil berwarna putih menyentuh bahu Dino. Sukses membuat pemuda itu mendadak merasa lemas namun juga—
"GYAAAAAAA!"
—memiliki tenaga untuk langsung berlari melesat menjauhi sosok gadis mungil yang terdiam menatap kepergian orang yang dikenalnya. Dengan bingung gadis bertubuh mungil dengan sepasang mata indigo itu menatap kepergian Dino. Gadis itu mengenakan seragam berwarna hijau lumut—entah angin apa yang membuat gadis mungil itu berani menginjakkan kaki di lingkungan SMP Nami-chu, padahal jelas-jelas ia bukan murid di sana bukan?
"Kenapa Dino-san pergi?" gumam gadis mungil itu bingung. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke jendela. Menatap ke luar jendela walaupun pikirannya justru mengelana jauh. Setelah beberapa detik menatap ke luar, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah depan. Menatap seorang pemuda yang terlihat tergesa-gesa berlari menghampirinya.
"Bossu," gumam gadis itu tepat saat pemuda berambut coklat berlari melewatinya. Tsuna langsung menoleh ke arah gadis asing yang belum pernah ia lihat itu. Coklat dan Ungu bertemu. Perasaan familiar dengan wajah itu hinggab di dada Tsuna, namun beberapa detik kemudian ia langsung memutuskan kontak mata dengan gadis asing itu. Tidak mau terlalu memikirkan tentang gadis itu karena saat ini nyawanya tengah berada di ujung tanduk.
"Mukuro-nii, aku menemukannya," gumam gadis mungil itu lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan dari Tsuna.
.
.
.
Brak!
"K, Kyoya-kun! Go, gomena—"
Prang!
"HHIIEEEE!?"
Sebuah pot bunga melayang nyaris mengenai Tsuna—sukses membuat pemuda itu memekik kaget. Dengan perasaan horror Tsuna menatap pemandangan yang ada di hadapannya. Sosok Hibari Kyoya yang tengah menyerang seorang pemuda berambut blonde yang terihat berlari-lari menghindari serangannya. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan kantor Hibari saat ini. Hancur bagaikan kapal pecah.
"A, apa yang…." Tsuna tidak mampu mengutarakan apa yang dipikirkannya. Dialah yang akan membersihkan kekacauan itu, ya, sudah pasti. Sungguh, rasanya Tsuna benar-benar ingin menangis melihat ruangan yang sudah susah payah ia bersihkan ini sekarang. Sudah dipastikan bahwa memakan waktu yang sangat lama untuk membersihkan ruangan yang sudah tidak berbentuk ini.
"Gyaaaaaa! Gomenasai! Gomenasai!" teriak pemuda blonde itu seraya berlari menghindari amukan dari pemuda asing yang telah ia buat marah. Lalu sepasang safire itu menatap Tsuna. Tanpa ba bi bu lagi, Dino langsung berlari ke arah Tsuna dan bersembunyi di balik punggung pemuda yang bertubuh lebih kecil darinya itu. "Tolong aku! Onegai…" pintanya ngeri.
Langkah Hibari langsung terhenti begitu melihat pelayannya sudah kembali dan terlebih, makhluk yang sudah membuatnya marah itu bersembunyi di belakang sang pelayan. Seringai langsung merekah di bibir Hibari. "Akhirnya kau kembali Tsunayoshi."
"E, etto… Go, gomenasai lama Kyoya-kun," lirih Tsuna. Ia melirik ke arah belakangnya—menatap bingung sosok pemuda yang tadi ditolongnya. Kenapa pemuda ini bisa di dalam ruangannya Hibari? Terlebih tadi Hibari menyerangnya. Eh? Tunggu! Menyer—"HIE!?"
Wush!
Tsuna refleks langsung menunduk begitu sebuah benda silver mencoba mengenainya. Naas, pemuda yang berdiri di belakang Tsunalah yang malah menjadi korban sang tonfa. Sukses membuat pemuda itu jatuh tersungkur di atas lantai dan pingsan dalam seketika. Tsuna meringis begitu melihatnya. Dapat ia bayangkan rasa sakit terkena tonfa yang menjadi makanan sehari-harinya.
"Kyoya-kun, kenapa kau—"
"Makananku," sela Hibari seraya menyimpan kembali tonfanya.
"Ah, I, iya," Tsuna langsung melangkah mengambil mangkuk untuk menampung cemilan Hibari dan mulai membuatkan pemuda dingin itu segelas teh. Yah… beruntung perlengkapan set teh Hibari tidak terkena dampak amukan itu, jadi Tsuna tidak perlu repot-repot membuatnya di kantin.
Tsuna menelan liur paksa. Dapat ia rasakan atmosfer tidak mengenakkan dari sang senpai. Jelas pemuda sadis itu memang tengah sangat bad mood. Entah apa yang dilakukan pemuda blonde itu sampai membuat sang prefect Nami-chu marah, namun pemuda itu masih terbilang beruntung. Ya, beruntung karena ia hanya mendapat satu pukulan dan dibiarkan hidup.
"Ky, Kyoya-kun, sebenarnya apa yang dilakakun Oniisan itu?" tanya Tsuna saat ia menaruh cemilan dan teh Hibari di atas meja kerjanya. Ia langsung membereskan meja itu dan menatap Hibari yang tengah duduk di sofa yang baru saja ia benarkan posisinya. "Hie!?" Tsuna mendadak menjerit saat mendapatkan hadiah deathglare dari sang Tuan. Ah, jelas Hibari sedang tidak ingin membahasnya. Dengan segera Tsuna memunguti kertas-kertas pekerjaan Hibari yang berserakan di lantai. Ia tidak berani lagi bersuara setelah mendapatkan deathglare itu. Yah… situasi sekarang benar-benar terasa seperti berada di ladang ranjau. Lengah sedikit maka kau akan mati.
"Tsunayoshi," panggil Hibari tiba-tiba saat Tsuna baru selesai membereskan mejanya.
"Y, ya?"
"Bereskan dia."
"Eh?" refleks Tsuna langsung menatap pemuda yang masih tidak sadarkan diri di dalam ruangan itu. Ia menelan liur paksa saat sadar apa yang ia harus lakukan. "Aku akan menelfon—"
"Sekarang."
Tsuna membatu. Ia langsung menatap Hibari dengan pandangan tidak percaya. Oh ayolah! Bukankah ia harus membersihkan ruangan ini? Akan memakan banyak tenang untuk menggotongnya keluar dari Nami-chu! Terlebih sebelumnya ia sudah cukup kehabisan tenang membawa pemuda itu memasuki wilayah sekolahnya dan berlarian membeli pesanan yang Tuan Hibari inginkan! Ah, jangan lupakan bahwa ia mati-matian mencegah Gokudera yang tidak sengaja ia temui dijalan tadi untuk mengikutinya! Ah, sudahlah. Tentu saja Tsuna tidak akan berani mengatakannya. Well, tidak di saat mood Hibari yang sedang sangat buruk ini. Tsuna menghela nafas.
"Hai' Kyoya-kun," lirih Tsuna pasrah seraya berjalan mendekati pemuda blonde yang tidak dikenalnya. Ia menatap pemuda asing itu miris—merasa agak kasihan karena harus berhadapan dengan Hibari hingga berakhir seperti ini. Tidak mau membuang banyak waktu—mengingat ia memiliki tugas yang lumayan berat untuk membersihkan kekacauan di ruangan Hibari—Tsuna langsung menyeret pemuda blonde itu untuk keluar dari ruangan Komite Kedisiplinan. Yah… terlalu berat untuk mengangkatnya seorang diri, jadi ia tidak punya pilihan lain selain menyeretnya. Poor Tsuna, ini kali ke duamu menyeret pemuda asing itu.
.
.
.
TBC
Cahpt 7 hadir setelah sekian lama~ 'o'/
Hountouni gomenasai... saya terlalu lama hiatsu gara" sedikit teralihkan dengan dunia novelu(?) dan benar-benar berterimakasih untuk semua yang sudah menunggu chapt ini hadir, semoga tidak mengecewakan kalian semua
m(_ _)m
tapi tenang aja, semoga aja saya bisa namatin fic ini sesudah lebaran, soalnya pas lebaran kemungkina besar hiatsu '_'a
ne, tentang chapt ini... Dino muncul, walau gk jelas bnget kenapa bisa dia nyasar sampe nyusahin tsu-chan, sayapun gk thu kenapa *loh?* tapi yang jelas ke sialan Tsu-chan meningkat(pasti) '_'a
okay, saatnya balas riviews :3
shinobu millieur: gomenasai karna udah dibuat nunggu lama... _ _"
tpi tetep bakal mau riview n bc fic ini kn? :3
KHR Vida reale 1827: Hai jug Rani, yoroshiku :D
mo request apa emk? selama requestnya bisa saya kabulin, akan saya kabulin :3
wookie: Da, dari mana thu klo itu Ken!? *shock ehehehehe... klo d cium entar tsu-chan jadi makin blushing dong~ :3
ah, tuk kemunculan mereka di tunggu aj, nanti jug muncul sendiri(?) kok :D
Darck Yellow: Yellow... dirimu orang padang kah? dak perlu nak banyak nien pitinyo :p
hohohoho~ semakin sulit bersatu itu, cinta akan semakin kuat~ ah, tpi di chapt ini ak buat tsu-chan menderita sangat amat gara-gara ketemu ma kembaran(?) berbeda tubuh sama kesialan(?)nya '_'a
Tsuna27: Ehehehe... tunangan di zaman dulu menikahnya sekarang(?) X3
hai'! arigatou semangatnya! _
Saory Athena Namikaze: yoroshiku saory (jd keinget ma nama saos O.o)
ah, selamat bergabung di fundom ini, semoga dirimu nyaman d sini :3 nih, udah update chapt 7nya :D
dan~ Special thanks tuk yang udah ngefav dan ngefollow fic ini~ :3
Ariefyana Fuji Lestari, Drack Yellow, Estrella Namikaze, Hibari Misaki Cavallone, KHR Vida Reale18, Kn Fujoshi, N The Yaoi Loverz, Natsume Aoi, Rangga Sengak, Saory Athena Namikaze, Shiro-chan1827, Xxfressa-TanXx, Yuna Kusanagi no Purinsesu, elixi, mamitsu27, prof. creau, sherry dark jewel, Mutsumi Ayano, Rikka-Tan, Yuuki Rikko, finalia. lestari, shinobu millieur.
okay, sampe jumpa di chapt selanjutany 'o'/
