Tsukimori Family Production
Dissclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Angst/Romance/Drama/Fantasy/Hurt/Comfort
Main Chara : Sai, Sakura Haruno, Sasuke Uchiha, Akasuna no Sasori.
Warning : AU, OOC, Gaje, Garing, Abal, Mary-sue, ngebosenin. Sai diberi marga Uchiha disini. Don't like, don't read.
A/N : Gomennasai yang chapter kemarin saya bikin nangis *lirik seseorang*
aaaaaaaah maaf alurnya jadi hancur, apapun lah, saya minta maaf atas keterlambatan updatenya. yos, lanjut!
"Blablabla" = bicara
'Blablabla' = membatin
"Blablabla" = iblis/Malaikat bicara.
.
.
Presenting : Who's the Devil?
.
Chapter 7 : Falling Down
.
Cahaya bulan menyusup melalui celah-celah gorden—kalau masih bisa disebut gorden—yang sudah bolong dan robek sana-sini, mencoba mencari tahu isi ruangan yang kini didominasi oleh kegelapan. Sementara kini dapat dilihat ruangan yang isinya sudah tidak karuan, di penuhi barang-barang yang berantakan, dan kertas serta kain yang berceceran di seluruh ruangan. Sofa yang sudah rusak dengan per yang sudah menyembul keluar dari celah-celah robekan kainnya, meja yang kini malah nongkrong seenaknya di atas sofa, ceceran kertas robek yang ditulisi dengan tinta merah, serta sampah yang sudah menggunung di sana-sini. Ruangan ini benar-benar lebih parah keadannya dari kapal pecah.
Seseorang duduk di atas sofa rusak itu, tepat berada di sisi kanan meja yang sudah berada di tempat yang tidak seharusnya, rambut hitamnya basah, wajahnya pucat, sementara sorot mata onyxnya yang sendu, sementara kedua sayap putih di belakang punggungnya nampak sedikit berantakan. Terlihat seperti kehilangan jiwanya. Kedua kakinya naik di atas sofa, sementara dengan setia kedua tangannya memeluk erat kakinya. Kemeja dan celana panjang putihnya lusuh, basah. Sementara dapat terdengar gemeretuk giginya yang beradu, gemetar, kedinginan.
Dibawah matanya terdapat kantung mata yang dapat menjelaskan kejadian sebelumnya, walau tidak spesifik. Nafasnya berembun, pemuda tampan satu ini rupanya sangat kedinginan. Sementara kini bola matanya berputar, menatap berkeliling, merasa ada seseorang yang menyusup masuk ke dalam 'rumahnya' ini.
Tiba-tiba jendela beserta gorden lusuh tadi disingkap dari luar dengan cepat. Bola mata onyx pemuda berambut klimis ini sesaat mengecil, terkejut akan perubahan cahaya. Kini mata onyxnya beradu dengan mata jadeit sosok yang baru datang itu. Segera saja si rambut merah itu berlari ke arah kawannya. "Sai, apa-apaan kau?"
Sai—pemuda yang basah kuyup ini, mendongak, menatap sosok Sabaku no Gaara di hadapannya. "Hn?"
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Sai. Sementara sosok pemuda di hadapannya tampak marah, lebih tepatnya kecewa. "Apa yang kamu pikirkan?"
Perlahan tangan kiri Sai meraih pipinya yang mulai memerah. Merasa perih. Dengan polosnya Sai menggeleng, memberi jawaban pada Gaara. Gaara mengepalkan kedua tangannya, bersiap menonjok—menyadarkan, sobatnya. "Apa yang kamu lakukan? Berikan jawabanmu! Jangan hanya diam saja seperti malaikat bodoh! Kamu ini malaikat murni, seharusnya kau lebih pintar dariku!"
Sai lagi-lagi hanya diam, menatap iris jadeit Gaara dengan tatapan kosong. "Aku tidak—"
"Kamu tau!" Gaara memotong dengan emosi meluap-luap. Lalu pemuda beriris jadeit ini menarik nafasnya, dan kembali hendak menyemprot Sai. "Kamu tahu! Kamu tau alasannya! Semuanya karena di otakmu hanya ada Sakura! Kamu tak pernah memikirkan dirimu sendiri! Hanya Sakura, Sakura, dan Sakura!"
Sai masih terdiam, sementara kini tangan kanan Gaara terulur ke arah kerah kemeja Sai, menariknya hingga tubuh Sai ikut terangkat. Membuat jarak antara wajah Sai dan Gaara hanya sekitar dua puluh centimeter. "Kamu bodoh! Malaikat terbodoh yang pernah aku temui!"
Sai masih terdiam, matanya menatap kosong. Kesal, Gaara mengangkat lengan kirinya, mengambil ancang-ancang untuk menyadarkan pemuda di hadapannya. "Jawab aku bodoh!"
Sai hanya terdiam. Bibirnya seakan dijait hingga tak terucap sepatah kata pun dari sana. Baik untuk membela diri, membalas, atau pun bertahan dari seranngan Gaara. Merasa sudah habis kesabaran, segera saja bocah berkepala merah ini melesatkan kepalan tangannya di wajah mulus Sai, hingga pemuda itu kini terjungkang jauh ke belakang, menubruk deretan kertas-kertas, dan mendarat di lemari kecil tempat menyimpan buku.
Sekejap, mata onyx Sai menutup, lalu terbuka lagi. Kini sorot matanya berbeda, memandang sosok Gaara dengan tatapan yang tak bisa di temui pada malaikat mana pun. "Apa yang kau lakukan brengsek!"
Belum sempat Gaara menjawab, kini Sai sudah menerjang Gaara dengan kepalan tangannya, membuat Gaara terpental menabrak jendela bergorden di belakangnya, membuatnya pecah menjadi berkeping-keping. Beruntung, pecahan kaca itu tidak langsung menghujam Gaara karena gorden yang terjatuh dan melindungi Gaara.
Gaara baru akan berdiri lagi saat Sai beralih ke atasnya, mengunci tubuhnya. "Kau tanya apa yang aku pikirkan?"
Gaara terdiam, terlalu terkejut dengan perubahan sikap Sai. Sai tersenyum bengis. "Yang aku pikirkan adalah bagaimana cara membuatmu menghilang, Gaara!"
Satu pukulan telak berhasil bersarang di pipi kiri Gaara. Sementara iris jadeit Gaara melotot, terkejut akan perlakuan sobat yang sudah ia anggap saudara sendiri. Sai merenggut t-shirt Gaara, menariknya ke atas hingga tubuh Gaara yang melemas terangkat. "Aku tidak marah tahu kau juga menyukai Sakura.."
Gaara menelan ludah, bersiap untuk kalimat selanjutnya yang pasti tidak akan berakhir bagus untuknya. Sai merenggut, wajahnya memelas. "Tapi, kenapa kau harus menusukku dari belakang seperti ini! Kau kira enak? Aku lebih senang kalau kau mengatakannya lebih dulu padaku, bukan dengan cara mencuri start seperti itu, brengsek!"
"Kau tahu apa sih? Memangnya kau tahu aku benar menyukai Sakura apa tidak?" Gaara mencoba membela diri, disela usahanya membersihkan sudut bibirnya yang robek karena pukulan dari Sai.
"Maksudmu?" kini nada suara Sai turun beberapa oktaf dari sebelumnya, sementara kedua alisnya bertaut. Tangannya yang semula ada di posisi siap memukul pun turun.
"Apa kamu bodoh?" Gaara kini menepis kasar tangan Sai yang seenaknya menarik t-shirtnya. Lalu pemuda ini mencoba berdiri, menyingkir dari posisi barusan. "Apa kamu nggak pernah berpikir, sejak kapan aku mulai menyukai Sakura? Bahkan kamu yang mencuci otak gadis itu supaya aku dapat masuk ke kehidupannya sebagai teman masa kecilnya!"
Sai terdiam. Sementara bola mata onyxnya sesaat membesar. Kenapa tak pernah terpikirkan olehnya?
"Yang ada di otakmu itu hanya Sakura! Kau jadi melupakan hal-hal kecil, bahkan kau tidak menanyakan dahulu padaku, untuk memastikan semuanya! Dasar bodoh!" Gaara menyalak hebat, sebal dijadikan kambing hitam.
"Jadi?" Sai mendehem pelan, memutar bola matanya, lalu kembali menatap lurus ke dalam iris jadeit Gaara. "Sudah bela dirinya? Kau bodoh? Kau kan tau aku tidak akan mudah percaya—"
"Aku di tugaskan oleh dewan!" Gaara menyela, sementara suaranya sepertinya sudah siap untuk memecahkan gelas Kristal berjarak lima sentimeter dari mulutnya.
"Dewan?" Sai menaikkan sebelah alisnya. "Tugas apa?"
Gaara bersiap memuntahkan semua yang ada di dalam otaknya, yang selama ini menjadi beban kepalanya. Meneguk ludahnya pahit, menarik nafas, bersiap atas konsekuensi yang ia terima bila tugas rahasianya bocor. "Tugas untuk menjauhkanmu dari Sakura!"
Sai tersentak. "Menjauhkan.. ku?"
"Iya baka! Dewan masih menginginkanmu menjadi penerus mereka, jadinya mereka menganak emaskan dirimu!" Gaara terengah-engah, sesaat kehilangan tenaga dari emosinya yang meluap.
"Kenapa?"
Gaara terdiam. Perlahan ditatapnya sosok pemuda basah kuyup yang tadi dipukul olehnya. Sorot mata onyx itu sendu, sorot mata tersiksa. Gaara hanya bisa menatap Sai, tanpa bisa melakukan apa pun. Baru kali ini dia lihat sobatnya sehancur itu. Seperti kaca pecah.
"Kalau dewan memang menganak emaskan aku.." suara Sai parau, sorot matanya tersiksa, sementara tangan kanannya terulur meraih kemeja bagian dadanya, merenggutnya, "Kenapa tidak memikirkan perasaanku?"
"Peraturan."
Sai menoleh perlahan, menatap sosok berambut hitam yang berdiri di atas pembatas balkon kamarnya. "Peraturan malaikat, huh? Dilarang mencintai manusia?"
Sai menatap sosok pendatang itu dari atas ke bawah. Sayap hitam, rambut raven, mata onyx berkilat, dengan pakaian serba hitam. Bisa menebaknya?
Sai menunduk, menarik nafas berat. Sesaat terlihat kilat mata tidak senang di matanya akan kedatangan Sasuke. "Kamu menang Sasuke."
"Menang?" Sasuke—sosok pendatang itu, kini terbang, dan berpijak tepat di sebelah Gaara.
Sai mendehem pelan, tetap enggan menatap sosok iblis di depannya. "Ya, kamu sudah menang. Aku akan menyerah atas Sakura."
"Haha.." Sasuke terkekeh kecil. "Justru aku ke sini untuk menitipkan Sakura padamu."
"Sakura padaku?" Sai mengulangi, tanpa sadar kini ia mendongakkan wajahnya untuk mencari jawaban dari pertanyaannya barusan.
Sasuke mengangguk pasti, sesaat membuat Gaara menatapnya tak berkedip. Jadi, Sasuke dan Sai damai? Sasuke tersenyum tipis, memberikan jawaban yang ia rasa paling baik dari semua jawaban yang pernah ia lontarkan. "Ya."
Sai sudah akan melompat ke girangan kalau saja ia tidak ingat akan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Gaara. Maka Sai pun mengalihkan tatapan mata onyxnya ke arah Gaara, mencoba mencari jawaban dari mata jadeit temannya. Gaara mengedikkan bahunya. Sementara mata jadeitnya mendelik, enggan dibacain lebih jauh oleh Sai. Sai menggeleng keras. "Tidak. Aku malah.."
"Malah apa?" tanya Sasuke tak sabar. "Bukannya isi otakmu itu hanya Sakura ya?"
Sai terdiam, terlalu terkejut dibacain begitu oleh Sasuke. Sai mengerutkan dahinya, memutar bola matanya cepat, mencari jawaban. "Ka-kata siapa? Kau kan tidak tahu apa-apa tentangku!"
"Baka!" Gaara menyela. "Kamu memilih dewan atau mati sih? Sudah di anak emaskan masih saja memilih jalan yang salah! Kau bahkan lebih bodoh dari keledai!"
"Anak emas dewan?"
Baik Gaara maupun Sai tersentak, lalu segera menoleh ke arah si pemuda bersayap hitam. Alisnya naik sebelah, sementara mulutnya seakan tak kuasa terkatup. "Anak emas dewan, kau bilang?" Sasuke terkekeh pelan. "Wah rupanya memang sejak awal aku sudah kalah. Ya sudah lah, aku tidak akan mengganggu siapapun lagi, termasuk Sai dan Sakura. Salam dariku ya untuk Cherry Blossom.."
"Memangnya kau mau kemana?" Sai terkejut, buru-buru ia mempercepat langkahnya ke arah Sasuke.
"Aku?" Sasuke memutar bola matanya. "Aku kan sudah menyelesaikan semua keperluanku di sini. Jadi untuk apa aku masih kelayapan?"
"Memangnya apa keperluanmu?" Sai menarik t-shirt hitam Sasuke, agar si iblis mendekat ke arahnya.
Sasuke terkejut dengan perubahan sikap Sai. Namun kemudian ia tersenyum menyeringai, "Membuat Haruno Sakura tersenyum." Sang iblis berdecak pelan, "Dan sepertinya tugasku sudah digantikan olehmu."
"Pengecut!" tiba-tiba Gaara menyela. "Hanya pengecut yang menyerah pada lawannya!"
"Aku bukan seorang pengecut!" Sasuke membantah keras, lalu dengan cepat di tepisnya tangan Sai yang masih seenaknya nongkrong di t-shirtnya. "Tapi aku rela jadi pengecut, kalau demi Sakura!"
Sai terdiam. Kenapa tak sedikitpun ia memikirkan hal yang sama dengan Sasuke? Kenapa, selama ini dia hanya memikirkan egonya? Kenapa dia hanya memikirkan perasaannya terhadap Sakura? Sedikitpun ia tak mengerti. Sasuke memegang kedua bahu Sai, mencoba membuyarkan khayalan si malaikat. "Dengar."
"Tidak mau!" Sai menggeleng keras, menunduk. Mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke padanya.
"Dengarkan aku!" bentak Sasuke, dan Sai kembali tersentak. "Dengan kepergianku, aku harap aku bisa menitipkan Sakura padamu. Jangan sampai air matanya jatuh lagi."
"Kenapa?" Sai menyela. Perlahan pemuda ini mendongak, menatap sobatnya. "Kenapa aku? Kenapa bukan kau sendiri?"
Sasuke menarik nafas panjang. "Karena aku sudah membuat gadis itu jatuh ke dalam keterpurukan."
Sai menatap lurus ke dalam bola mata onyx Sasuke. "Lalu kenapa harus aku?"
"Karena hanya kamu yang bisa membuatnya bangkit ketika ia jatuh," Sasuke tersenyum tipis. "Karena hanya kau yang akan mengulurkan tangan dengan tulus ke arahnya, saat ia jatuh."
Sai terhenyak. Merasa sedikit diledek oleh Sasuke. "Apa maksudmu? Jangan-jangan—"
"Ya, aku mengenalkanmu ke Sakura agar kau bisa menggantikan tugasku," Sasuke menyela, menahan nafas. Siap dengan konsekuensi dari pengakuannya.
BUGHT!
Sedetik kemudian, pipi Sasuke terasa dihantam batu, hingga membuat kepalanya terasa pening. Sudut bibirnya tanpa sadar sudah mengeluarkan cairan kental kemerahan. Tubuhnya menjadi agak limbung ke belakang. Sai terengah-engah, sementara di wajahnya yang pucat terlihat kemerahan. "Kamu pikir semudah itu? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Sakura?"
Sasuke mengusap darah yang mengalir perlahan di sudut bibirnya. "Justru aku begini karena memikirkan perasaannya! Kalau aku egois mungkin sampai sekarang aku masih bertarung denganmu!"
Sai serasa dipukul oleh tongkat raksasa, membuat seluruh tubuhnya terasa ngilu, juga semua organ dalam tubuhnya. Sampai organ kasat mata seperti 'hati' pun terasa paling ngilu diantara seluruh organ tubuhnya. Kenapa sedikit pun Sai tidak pernah memikirkan hal yang baru saja Sasuke ucapkan? Kenapa?
Gaara mengambil batas diantara kedua sosok malaikat dan iblis ini, melerai. "Hentikan kebodohan kalian!"
"Jangan ikut campur Gaara! Lebih baik kau pergi dari sini!" hardik Sai, entah apa yang merasukinya.
"Oke! Lagian untuk apa aku ada di sini!" Gaara mendelik tajam ke arah Sai, benci di hardik. Gaara menghentakan kakinya, segera melesat pergi melalui jendela, meninggalkan dua sosok yang membuatnya hampir sama saja dengan iblis.
Sai masih saja menatap sepasang mata onyx di hadapannya dengan tatapan tajam. "Katamu kau sangat mencintainya."
"Katamu kau sangat menginginkannya." Sasuke menautkan kedua alisnya. "Semua ini tak seperti yang kau bayangkan. Semua ini lebih rumit. Aku pergi, untuk mempermudah, bukan untuk membuat ini semakin rumit."
"Kamu kira ini akan mudah kalau kau pergi?" Sai masih emosi, mendekat ke arah Sasuke.
"Ya! Dan kamu tidak usah pusing memikirkan bagaimana cara untuk memiliki Sakura! Apalagi kau punya hak istimewa! Apa yang kurang? Kau sudah bisa menang jauh dariku!" Sasuke malah ikutan emosi, mendorong bahu Sai menjauh darinya.
"Kamu bodoh!" Sai mencela, balas mendorong Sasuke. "Kamu seperti tidak tahu saja Sakura sangat menyayangimu!"
"Aku tau dan aku tak ingin membuatnya terluka lebih jauh dari ini, baka!" Sasuke mendorong Sai jauh lebih keras dari sebelumnya. "Aku yakin hanya kamu yang bisa membuatnya tersenyum!"
"Kamu ini!" Sai kesal, ditonjoknya pemuda yang secara tidak langsung menjadi mak comblangnya ini. "Kenapa kamu tidak yakin atas dirimu sendiri?"
"Karena selama ini aku sudah melihat semua tangisan air mata jatuh karena aku!" Sasuke membentak Sai sejadi-jadinya, nada suaranya meninggi. "Kau pikir aku senang menyiksanya? Melihatnya tersiksa? Jangan bodoh! Aku sudah berkali-kali berpikir, dan hanya ini jalan yang terbaik!"
"Terserah kau! Aku sudah tak perduli!" Sai akhirnya menyerah, menghentakan kakinya keras-keras, membalik badannya, enggan berhadapan dengan sosok yang ia pikir sangat pengecut. Sayapnya mulai mengeras, kesal.
"Baik!" Sasuke menghela nafas panjang, membalik badannya, memperlihatkan sayap hitam yang mengembang. "Yang pasti aku hanya ingin menitipkan Sakura padamu, bukan kepada yang lain!"
"Kenapa aku?" bisik Sai lirih.
Sasuke menghela nafas, melirik sedikit kea rah Sai. "Karena hanya kamu, sahabat yang aku rasa paling pantas mendampinginya, dibanding diriku sendiri."
Sesak. Bola mata Sai serasa ingin keluar dari tempatnya. Segera saja pemuda bermarga Uchiha ini membalik badannya, berniat mencegah keprgian sobatnya. Nihil, yang tersisa kini hanya helaian sayap hitam yang terjatuh begitu saja di atas lantai. Dada Sai serasa di sesaki sesuatu, sementara tangannya kini terulur menggapai sayap hitam yang tercecer di lantai itu. "Sahabat."
.
O.O
.
"Pagi Sakura!"
Gadis berambut merah muda itu menoleh, menatap sosok yang baru datang itu dengan iris mata emeraldnya. "Pagi juga Sai.."
Sakura duduk menyimpan tasnya, lalu duduk di bangkunya. Sementara Sai segera menghampiri gadis ini, berniat mencari obrolan pagi sebelum semua murid sekelas datang. Sakura mendehem pelan, menyaringkan suara. Sai kini duduk di kursi di depan meja Sakura. "Kemarin aku dengar keributan dari arah apartemenmu."
"Oh ya?" Sai tertegun. "Kau mengigau kali.."
"Iya mungkin.." Sakura mengucek-ucek matanya, terlihat seperti kurang tidur. "Eh mana Sasuke? Tumben belum datang.."
"Sasuke?" Sai terhenyak. Teringat akan kejadian tadi malam. "Siapa?"
Perubahan drastis tampak di wajah Sakura. Sakura menarik lengan Sai, mencari perhatian pada sorot mata Sai. "Sepupumu itu. Lupa ya?"
Sai mengedikkan bahu. Buru-buru Sakura bangkit dari tempat duduknya, menghampiri sosok gadis berkuncir empat yang kini sedang berdiri di depan kelas, menghapus papan tulis. "Temari!"
"Yo?" Gadis pirang itu menoleh, membalikkan badannya, menatap Sakura. "Kenapa?"
"Sasuke kemana?" tanya Sakura cepat, menatap Temari serius.
"Sasuke?" Temari memutar kedua bola mata jadeitnya. "Siapa dia?"
Serasa dihantam batu besar, Sakura mematung di tempat. Wajahnya memucat. Sontak Sakura berlari keluar kelas, mencari seseorang yang mungkin mengenal Sasuke. Temari terhenyak. Terlalu terkejut, lalu menatap Sai yang masih diam mematung di tempat. "Sasuke? Siapa sih?"
Sai mengedikkan bahu. Mengikuti alur buatan Sasuke. "Entah."
Sakura berlari sekuat tenaga, mencari sosok yang ia rasa pernah tertangkap basah sedang mengobrol dengan Sasuke. Tanpa Sakura sadari, gadis ini sudah menuruni tangga menuju lantai satu, daerah anak kelas satu. Lalu mata emeraldnya dengan cepat mencari sosok berambut merah berkacamata. Bingo! Sakura segera menemukan rambut merah mencolok di antara kawanan gadis yang sedang berdiri di depan kelas, mengobrol. "Ka-Karin!"
Gadis berkacamata itu menoleh, menatap sosok Sakura dengan tatapan kaget. "A-ada apa Senpai?"
"Kau lihat Sasuke?" tanya Sakura cepat.
Karin menoleh kepada dua temannya. Si gadis bercepol dua menggeleng, menatap Sakura aneh. "Bukannya Sasuke sudah meninggal ya?"
Tau rasanya dijatuhkan dari gedung tingkat tinggi? Atau malah, tenggelam di dasar laut. Tau bagaimana rasanya?
Sekarang gadis beriris emerald itu merasa ditenggelamkan ke dasar laut, menyesakkan, sementara rongga paru-parunya menyempit, membuatnya kesulitan bernafas, membuatnya pening, membuatnya merasa lebih baik mati dari pada harus merasakan hal ini.
"Sakura!"
Serentak gadis ini menoleh, mendapati sosokk berambut hitam berlari kearahnya. Buru-buru gadis itu menubruk pemuda tersebut, memeluknya. "Kumohon Sai beritahu aku.."
"Apa sih? Kamu bicara apa?" Sai tetap menyembunyikan rasa bersalahnya, tapi tak juga melepaskan pelukan Sakura. Sementara tiga gadis anak kelas satu itu hanya memperhatikan keduanya dengan tatapan bingung. Tapi satu di antara mereka hanya terdiam, merasa sesuatu menyesaki pikiran dan perasaannya. "Lepaskan aku, Sakura."
"Sai, kamu tau kalau Sasuke sangat berarti bagiku.." Sakura memelas, matanya berkaca-kaca. "Tolong aku.."
"Lepaskan aku!" salak Sai garang, sementara kini dia tangannya tanpa sadar mendorong bahu gadis itu menjauh darinya.
Sakura tersentak, namun segera saja ia sadar kembali. "Sai, aku mohon—"
"Pernahkah kamu memikirkan perasaanku?" bisik Sai lirih. Sementara Sakura terhenyak, tak berkutik sedikitpun. Kedua matanya terpaku pada iris onyx Sai, tenggelam di dalamnya. "Sedikitpun kamu tidak sadar kalau aku ada, kalau bukan hanya ada Uchiha Sasuke, kalau di sini ada Uchiha Sai.. Kau tidak pernah sadar.."
Sakura masih terdiam. Dalam sekejap, matanya yang semula hanya menyorot pada Sasuke, kini terbuka. "Kamu..—"
"Bagaimana kau mau sadar?" Sai terkekeh pelan, entah apa yang merasukinya, "isi otakmu kan hanya Sasuke, Hyosuke, Sasuke, dan Hyosuke! Bahkan kamu tidak sadar kalau kata-katamu itu membuatku merasa sakit!"
Sakura menggeleng. "Sai—"
"Diam." Sai menyentuh ujung bibir Sakura, menggeleng perlahan. Menatap mata emerald di hadapannya, menghipnotisnya sesaat. "Jangan bicara lagi. Kata-katamu membuatku mau muntah."
PLAK!
Pipi kiri Sai memanas, perih. Serasa waktu telah berhenti. Baik Karin, Tenten, maupun Ino, ketiganya bengong. Sai menoleh perlahan. Menatap sosok gadis di hadapannya. Cairan bening menganak sungai perlahan di pipi merona Sakura. "Saku—"
"Hentikan!" Sakura menyalak keras. "Hentikan sikap kekanak-kanakan mu itu!"
Sai terhenyak. Ditatapnya benar-benar gadis di hadapannya. "Maaf aku—"
"Baka!" Sakura mendorong Sai menjauh darinya, membalik badannya. Berlari meninggalkan Sai seorang diri.
Sai mematung di tempat, merasa sangat hancur. Lebih hancur dari cermin pecah. Tatapan matanya kosong, sementara kedua tangannya mengepal erat. Kemudian Sai membalik badannya, menuju tangga, hendak kembali ke lantai dua. Tak disadarinya, sepasang mata soft blue memperhatikan Sai dengan tatapan sendu. Ia berbisik lembut. "Apa bila kata-kata Sai-senpai kepada Sakura di balikkan, apa Senpai bisa mengelak?"
"Ino kau menangis!"
Sekejap mata gadis itu membuka matanya, menatap dua sahabatnya. Pandangannya buram, sementara kemejanya basah di tetesi sesuatu. Gadis berambut pirang itu menangis. Tenten dan Karin memeluknya. "Ya ampun kau kenapa Ino?"
Ino tak menjawab, memilih meluapkan tangisannya. Memeluk erat dua sahabatnya, berharap keduanya tak akan membuatnya kecewa seperti Sai.
.
To Be Continued?
.
Gomenneee DX
Telat update!
Aaaaaa
Hn. Saya bingung. Saya sampe nunda dua hari untuk publish. Saya nyari feelnya, dan ga dapet. Gomennasai, saya ngga bisa kasih feel dalam chapter ini. Saya down gara-gara nilai ulangan kimia saya jelek -_-
terimakasih untuk : LuthMelody, Naru-mania, Amakusa Natsumi, aya-na rifa'i, Rei-chan, Kiro yoiD, Michiru No Akasuna, Nanairo Zoacha, Miyuki Izumi, Haruchi Nigiyama, Ninja-edit, Witte Lelie, dan Harayosaki Ochi :)
aaa saya ngga bisa bales nonlogin. :( soalnya saya gamau banyak nyampah di A/N.
yos, gomen banyak typo eror.
wanna leave some feedback/review?
.
.
sign,
Tsukimori Raisa.
