Chapter 7 : Jealous?
.
.
.
.
Proudly present
Can The Hatred Change?
-PurpleLittleMoon-
.
.
.
.
Don't like don't read!
.
Haruno Misaki menatap pemuda yang baru saja turun dari tangga megah dihadapannya. Kenapa anak bungsunya mengomentari gaya pakaian Sasuke dengan reaksi begitu? Lihatlah, rambut raven yang keren seperti biasanya, kemeja hitam berlengan panjang formal dan… celana… legging yang sangat ketat. *bayangin sendiri ya, ketat-ketat nempel di paha eksotis gimana gitu*
"Sasuke kau pikir kau akan kemana?" teriak Mikoto tertahan. Apa-apaan putra bungsu jenius yang selalu ia banggakan sebagai lelaki keren yang akan menarik hati seluruh kaum hawa ini? Celana legging? Hei tunggu, itu pasti celana miliknya!
"Celanaku… habis." Ucap Sasuke datar. Wajahnya memerah menahan malu yang akan membunuhnya. Bahkan sampai ia mati, rasa malu itu akan mengejarnya ke alam baka. Celana legging hitam berwajah jahat di bagian bokong dan dia terbang! Benda mengerikan itu akan mengejar Sasuke kemanapun ia pergi.
"Sasu-"
"Keren!"
"Apa?" ucap semua mahkluk hidup yang berada disana. Semua mata tertuju pada Haruno Misaki. "Aku suka anak lelaki dengan celana legging terlihat lebih macho." Lanjutnya tanpa dosa.
Haruno Yachiru menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya
Haruno Takumi mengurut pangkal hidungnya
Haruno Natsu memperhatikan maid seksi yang kebetulan lewat. Tunggu, ini tidak nyambung sama sekali. Terserah, Natsu adalah pria muda yang mesum.
Sedangkan Haruno Sakura? Menyeringai lebar penuh kemenangan walau diwajahnya nampak ekspresi jijik yang teramat sangat saat memandang si pencetus era lelaki bercelana legging itu.
"Iya benar! Lelaki dengan celana jeans sudah terlalu mainstream. Dan saat ini adalah era lelaki bercelana legging." Sahut Itachi membenarkan. Bukan. Dia tidak membenarkan. Ia ingin melihat adiknya semakin…tersiksa.
"Sasuke ganti celanamu." Ucap Fugaku mencairkan suasana.
"Tidak mau!"
"Ganti di kamarmu sekarang atau kuganti disini. Di depan Sakura dan semuanya. Pilih yang mana?" death glare mematikan itu, suara lembut mencekam dan tangan yang bersiap mencengkramnya itu… Mikoto sudah bukan Mikoto lagi. Dan detik itu juga Sasuke berlari sekencangnya untuk mengganti celana legging 'kesayangannya'.
.
.
.
.
Keluarga Uchiha dan Haruno menikmati makan malam mereka dengan obrolan ringan. Kecuali si bungsu Uchiha. Ia hanya berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi. 'Tak akan ada yang tau.' Ucapnya untuk menenangkan dirinya sendiri. Matanya tiba-tiba tertuju pada paha yang tadi dililit benda ketat hitam memalukan. 'Aku akan mati. Detik ini. Kami-sama ambil nyawaku.'
"Ehm… Sasuke dan Sakura bagaimama? Apa kalian sudah akrab satu sama lain?" Tanya Uchiha Mikoto setelah meletakan garpu dan sendoknya di piring dalam keadaan tengkurap.
"Sebenarnya kami -"
"Sudah sangat akrab malahan. Iya kan, Sakura-chan?" sela Sasuke sebelum Sakura menghancurkan segalanya malam ini. Lagipula, menggoda gadis itu memang sangat menyenangkan baginya.
"Ah, iya." Jawab Sakura dengan senyum tipis di wajahnya.
'Sialan kau Sasuke! Sialan! Sialan! Sialan! Mati saja kau! Manusia legging menjijikan dengan rambut sok keren padahal seperti anak punk di jalanan. Pergi kau pergi! Kami-sama kurelakan kau ambil nyawanya sekarang. Ambilah ambil! Kuberi diskon! Tidak. Kuberi gratis untukmu, maka ambilah sekarang!' batin Sakura mengamuk tanpa ada seorang pun yang dapat menghentikannya.
"Baguslah, aku juga berharap kalian cepat akrab. Sakura-chan, bagaimana kau di sekolah? Kau kan cantik, manis dan jenius pula, apa kau sering dikejar-kejar lelaki? Apa mereka melakukan sesuatu padamu?" Mikoto bertanya dengan nada yang sangat antusias.
"Tidak, sampai saat ini tidak ada lelaki yang mengejarku." Sakura berdusta. Sekali lagi berdusta. Dia benar-benar berdusta. Terlalu banyak lelaki yang mengejarnya, hanya saja mungkin bocah ini tidak peka dan tidak mau peka atau bahkan peduli dengan fans-fans nya.
Suasana menjadi hening.
"Ehm… Sasuke, bisa kau bawa Sakura ke taman belakang? Bulan saat ini pasti sangat bagus." Mikoto menyarankan. Tidak. Dia memaksa secara halus.
"Malas." Ucap Sasuke –sok- berani.
"Malas? Ahaha, cepatlah Sa su ke." Death glare itu lagi, senyum mengerikan itu lagi. Tamatlah riwayat Sasuske jika membantah Mikoto lagi.
"Ayo, Sakura."
.
.
.
.
Sakura P.O.V
Inikah yang namanya taman belakang itu? Ini sangat keren! Lihatlah, bunga berwarna-warni, sungai buatan yang indah, jembatan kecil, gazebo, ayunan sofa yang nyaman, kolam ikan, dan rumah pohon? Jangan-jangan Sasuke si bodoh suka main di rumah pohon saat kecil? Pasti sangat manis. Tidak-tidak! Menjijikan.
"Sampai kapan mau berdiri disana, Haruno?" goda Sasuke lagi. Si tolol dengan wajah mesum yang bodoh itu memang menyebalkan.
"Hei dengar aku tidak? Ayo duduk disini." Sasuke menepuk sisi kosong ayunan sofa berwarna abu-abu itu, pasti sangat empuk dan nyaman. Sial, aku tergoda untuk duduk disana.
WAH EMPUK SEKALI! Terlalu nyaman.
"Bagaimana usahaku tadi?" ucap Sasuke malu-malu. Aku tau pasti dia sangat malu. Aku juga jelas akan malu jika jadi dia. atau bahkan aku akan terjun daari jurang saat itu juga. Sayangnya di kediaman Uchiha tidak ada jurang. Dan untungnya bukan aku yang harus berlaku tolol itu.
"Lumayan. Kau tau? Kau terlihat sangat bodoh. Celanamu menjijikan. Darimana kau mendapatkannya? Atau jangan-jangan selama ini kau…"
"Apa? Kau mau bilang aku banci? Bodoh. Itu punya kaa-san. Lagipula, aku sudah memutuskan urat malu-ku demi malam ini. Kau tau? Nanti malam setelah keluargamu pulang aku pasti akan 'disidang'." Ucap Sasuke panjang lebar. Bukan Sasuke yang kukenal sama sekali berbicara panjang yang pastinya akan menghabiskan nafasnya.
"Tapi sialnya, ini tidak berhasil. Ibuku menyukaimu dan celna leggingmu, Uchiha." Aku tersenyum kecut sambil memandang bulan yang bulat sempurna. Sangat cantik. Ini pertama kalinya aku melihat bulan sebulat dan sebesar ini.
"Kau malah tidak melakukan apapun! Ini idemu kan?!" Sasuke kelihatan marah. Tidak, aku tidak takut sama sekali dengan nada bicaranya tadi. Siapa yang akan takut dengan banci dengan celana leggingnya.
"Aku tidak tau harus apa. Apa aku harus memakai celana legging?" ledeku sengaja dan aku yakin itu tepat sasaran karena wajahnnya merah lagi, rasakan itu Uchiha bodoh!
"Bisa tidak berhenti menyinggung masalah celana legging? Aku benci!" Protes Sasuke. Wajah bodohnya terlihat lucu. Dia bahkan sangat sensitive setiap aku mengatakan legging. Aku membayangkan jika dia menciptakan phobia baru. Dan para ilmuwan menamakannya leggingphobia. Well, itu ngga keren!
"aku tidak peduli." Jawabku asal.
"Cih! Kalau begini terus, kau akan menjadi tunanganku yang sebenarnya, Haruno." TIDAK MAU! POKOKNYA TIDAK MAU TUNANGAN DENGAN SI BODOH INI! LEBIH BAIK AKU BERTUNANGAN DENGAN POHON! MAKSUDNYA, POHON LEBIH BAIK DARINYA. POHON TIDAK MESUM DAN POHON TIDAK MENYEBALKAN.
"Tidak akan terjadi, bodoh. Kau pikir aku sudi bertunangan denganmu? Jika kau pikir ya, maka bermimpilah!" Ucapku berusaha menahan emosiku yang nyaris mencapai ubun-ubun jika aku tidak mengingat perkataan kaa-san " -jadilah anak yang baik!"
"Baiklah. Aku akan bermimpi kalau kita sudah bertunangan, lalu kita saling menyukai," Sasuke melihat wajahku sebentar sebelum melanjutkannya, "lalu akhirnya kita menikah," menikah? Apa? "lalu kita akan bulan madu, lalu akan mengambil segalanya darimu, lalu kau-"
"BERHENTI! DASAR CELANA LEGGING MESUM!" aku yakin wajahku memerah. Dia tidak boleh melihatnya!
"Tenanglah, kau pikir berapa umurmu?"
Aku terdiam. Berusaha menurunkan darah yang berkumpul di wajahku. Pipiku tepatnya. Aku tidak tersipu. Bodoh. Untuk apa aku tersipu. Aku marah.
"Ehm… kenapa kau tidak menerima saja perjodohan ini? Apa aku seburuk itu?"
"Kau bahkan lebih buruk dari segalanya." Ucapku asal.
"Aku serius!"
"Aku juga." Ucapku sambil memejamkan mata.
"Kau menyukai lelaki lain." Ucap Sasuke yang langsung membuat mataku melotot. Darimana si bodoh ini tau? Tunggu. Jangan bilang dia menyekap Tenten dan memaksa sepupuku yang malang itu mengatakan segalanya. Jika Tenten menolak maka Sasuke akan menggoreskan pisau tajam ke leher Tenten. Aaaa! Uchiha kurang ajar. Tidak tidak. Kendalikan pikiranmu Sakura Tenten itu jago karate. Jadi dia tidak mungkin disekap dengan mudah.
"Tidak. Aku hanya tidak ingin bertunangan denganmu. Tidak akan pernah." Dustaku. Rasanya ingin sekali aku menjawab " ya, aku menyukai Sasori-senpai. Apa masalahmu?"
"Benarkah? Suatu saat nanti, tapi pasti kau akan menyukaiku. Aku yakin." Cih dia percaya diri sekali. Memangnya dia pikir dia sangat tampan apa? Tampang pas-pasan, kelakuan amit-amit, dia itu Cuma seperti kotoran manusia berjalan. Tidak lebih. Sumpah. Err~ setidaknya itu untuk sekarang.
"Aku tak yakin." Ucapanku melantur. Aku mengantuk. Sofa ini mengayun dan aku sangat mengantuk.
"Tapi aku yakin… suatu saat nanti."
.
.
.
.
Normal P.O.V
Sinar matahari dengan nakal menyelinap melalui gorden kamarnya. Haruno Sakura dengan terpaksa membuka mata. Masih jam setengah tujuh, dan ini hari minggu. Tak ada yang lebih baik selain melanjutkan tidur. Sakura baru saja akan menenggelamkan wajahnya diatas bantal lagi sebelum lagu My Dearest – Supercell mengalun dari ponselnya.
"Siapa orang bodoh yang menelfon di minggu pagi ini sih?"
Dia meraih ponselnya lalu memencetnya asal-asalan, "Halo."
"Sakura, sudah bangun?"
"Tidak. Belum." Ucapnya asal. Dia sangat tau suara ini, suara orang bodoh. Jadi pasti Sasuke.
"Benarkah? Kalau begitu aku bicara dengan orang yang tertidur sekarang."
"Ya kau benar. Maka orang ini ingin tidur lagi dan tidak ingin diganggu hingga jam duabelas. Selamat tinggal." Sambungan telpon diputuskan sepihak.
"Tidak jelas. Sudah tau aku ngantuk gara-gara semalam." Lalu Sakura kembali bergelut dalam bedcovernya, sebelum… ia menyadari sesuatu
Haruno Sakura langsung terperanjat dan mendadak matanya tidak merasa mengantuk sama sekali. Seperti disiram air es oleh dewa api. Entahlah lupakan.
"Tunggu, semalam? Bukannya semalam aku di rumahnya Sasuke?" ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. "Ada yang tidak beres."
Ia segera menyambar ponselnya dan menelfon sebuah kontak bertuliskan 'Cowok Gila'
"Lama sekali sih. Cepatlah angkat bodoh…" Sakura mulai tidak sabaran.
"Halo?"
"Apa yang terjadi semalam?!"
"Ho, sudah sadar rupanya."
"Katakan yang jelas, bodoh!"
"Di café biasa kita bertemu. Jam sepuluh. Jangan telat." Lalu jaringan diputuskan secara sepihak. Oke, ini adil.
"AAAAAAAA SASUKE GILA COWOK GILA!" teriak Sakura di pagi hari yang tenang damai dan… ya sangat tenang.
.
.
.
.
.
Sakura dengan marah duduk di bangku café. Sasuke bilang jam sepuluh. Ini sudah jam setengah sebelas. Dia bilang jangan telat. Dan dia yang telat. Entah terbuat dari apa otaknya.
Sakura dengan balutan kaos putih dan cardigan hitam serta celana jeans panjang masih menatap keluar jendela sambil merutuki dan menyumpahi Uchiha Sasuke yang selalu datang terlambat.
'Sasuke autis. Kenapa dia sangat autis dan bodoh dan tolol dan gila dan sinting dan tidak berguna. Kenapa dia kurang ajar dan tidak bisa menepati janjinya. Dia bahkan lebih buruk dari kotoran manusia berjalan. Saat ia menampakan batang hidungnya, kupastikan dia akan menye-'
"Haruno Sakura?" seseorang menyadarkannya dari lamunannya (baca : umpatannya). Suara lelaki. Ia kenal suara ini. Walau tidak familiar.
"S-Sasori-senpai. Kenapa disini?" ucap Sakura kikuk. Mimpi apa dia semalam. Kenapa dewi fortuna memihaknya. Bertemu Sasori-senpai dan disapa Sasori-senpai. Ini hari terhebat!
"Ini hari minggu. Aku hanya ingin refreshing dan tidak menyangka bertemu denganmu disini. Boleh aku duduk disini?" Sasori menunjuk bangku yang tepat berada di seberang Sakura. Bangku yang seharusnya tempat Sasuke kini akan ditempati Sasori. Bukan salahnya.
"Ah, iya silakan." Kini Sakura setengah sadar. Ya dia masih mengira ini mimpi atau bagian dari khayalan tingkat dewa miliknya. Tapi sayangnya (atau mungkin untungnya) ini nyata.
"Kenapa kau disini? Menunggu seseorang?" Tanya Sasori pada Sakura yang dengan bodohnya masih mengira ini mimpi. Ayolah, disapa oleh orang yang kau sukai yang kau sangka tidak mengenalmu itu rasanya… bayangkan sendiri.
"T-tidak, eh iya mungkin. Bagaimana senpai bisa mengenalku?"
"Berhasil masuk KJHS dengan nilai tes terbaik dan naik ke atas podium, juara satu lomba story telling, juara satu lomba sains, juara dua lomba matematika, sangat sering menerima piala atau piagam didepan seluruh siswa KJHS. Siapa yang tidak mengenalmu?" jawab Sasori panjang lebar. Hei, siapa yang tidak mengenal Sakura? Buktinya Sasuke tidak mengenal anak ini. Mungkin karena sifatnya yang masa bodo dengan dunia luar. Ya, seperti anak autis.
"Haha, tidak juga. Banyak yang tidak mengenalku." Ia tertawa garing. Sangat garing. Sampai-sampai sang author bisa mendengar bunyinya.
"Kau bagaimana tau namaku?" Sasori balik bertanya.
Habislah riwayatmu Haruno Sakura.
Apa yang harus kau katakan.
"Karena aku menyukaimu senpai" tidak mungkin kau mengatakannya kan?
"Aku melihatmu saat main basket. Ada nama dipunggungmu. Ya. Dari situ. Haha" lagi lagi tawa garing yang cukup mengerikan
"Wow kau memperhatikanku ya ternyata." Dia tersenyum, senyum yang sanggup membuat Sakura terbang hingga langit ke tujuh.
"Tidak juga."
Mereka terlarut dalam percakapan yang menurut Sasori menarik tapi tetap canggung menurut Sakura. Terkadang mereka tertawa tapi terkadang Sakura hanya tersenyum malu.
Terlalu larut dalam percakapan mereka, sehingga tidak menyadari seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan tidak percaya, bingung, marah, kesal, dan… cemburu.
.
.
.
.
.
Sasuke P.O.V
Apa yang ada di kepalaku sih. Siapa pria berambut merah tadi? Itu mirip Gaara. Tapi kata dobe Gaara mengincar Matsuri. Tapi tidak mustahil dia mengincar Sakura juga, secara Sakura sangat cantik.
Eh
Tunggu
Sakura sangat cantik?
Maaf kutarik kata-kataku. Dia tidak cantik, dia sangar.
Kenapa lagi ini.
Kenapa aku marah ketika melihat dia bersama mahkluk berkepala merah yang tidak jelas siapa itu. Sebenarnya apa mauku. Argh!
Jangan katakan aku mulai menyukainya. Tidak. Tidak akan. Dia tidak menyukaiku, tidak akan pernah. Dia membenciku, membenciku lebih dari apapun. Aku bukan siapa-siapanya. Aku Cuma orang yang tidak ia harapkan hadir dalam hidupnya.
Iya kan?
Lagi pula dia sudah menyukai…
Sasori-senpai?
Jangan bilang orang tadi Sasori.
"Halo? Dobe, ke rumahku sekarang juga."
Perasaan bodoh macam apa ini?
Apakah ini yang dikatakan Aniki?
Apa aku…
Cemburu?
.
.
.
.
.
TBC
.
A/N : MAAF MINNA-SAN UPDATE TELAT BANGET! Udah mau ujian dan tes masuk sekolah jadi agak mustahil ngelanjutin cerita ini. Tapi pas ngeliat review banyak yang minta cepet update jadi Kei semangatin diri lagi untuk nulis TAPI
Ada anonymous yang bilang cerita Kei niru sinetron RCTI
Well, pertama, Kei sangat ga suka nonton sinteron. Jadi Kei sama sekali ga tau sinetron RCTI apa yang dia maksud dan ide ini MURNI hasil kerja keras otak Kei yang didasari beberapa pengalaman pribadi di beberapa scene
Kedua, mungkin tema perjodohan yang memaksa itu emang banyak. Tapi Kei bakal bikin yang beda.
Ketiga, hayo kalau mau kritik di off anon nya biar ga kelihatan kaya loser yang ngehide indentitasnya^^
Untuk readers lain Kei bener-bener ngehrgain kalian nunggu cerita ini. Terima kasih juga udah ngereview.
Beruhubung chapter 7 udah update, silakan di review lagi ya ceritanya
Salam sayang peluk cium
-PurpleLittleMoon-
