Sebelum itu kita HARUS sepakat dari sini, kalau aku akan menggunakan OC, suka tidak suka aku akan menggunakan OC.
Declaimer : Yuuri On Ice Not Mine
Sebagai sesama manusia kita harus saling memaaf-kan, jadi maafkan lah diriku yang suka typo di chapter sebelum, sekarang dan ke-depan. Akan aku perbaiki secepatnya (kalau niat). Maafkan juga atas keterlambattan Update-nya.
Still Yuuri's POV
o0o
Chapter 06
o0o
Gift from God
Pusing, mual, sakit kepala dan telingaku berdengung hebat "Bersabarlah Yuuri, sebentar lagi kita sampai di hotel" di sebelahku –Minako-sensei sedang mengecek handphone-nya, mungkin sedang mengecek scadule –entahlah, aku tidak peduli dengan hal itu, yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana aku bisa menghilangkan penyakit yang menjadi rutinitas baru di dalam tubuhku yang sekarang.
Taxi yang kami kendarai berhenti di depan sebuah hotel yang terlihat sangat mewah "Uhk…" dengan cepat aku membuka pintu taxi dan keluar dari ruang sempit yang membuatku kaku hampir 2 jam penuh. Dengan sedikit peregangan kecil, aku menatap Minako-sensei yang sudah menarik 2 koper di tangannya.
"Ayo kita check in dulu" aku mengangguk dan mengekor Minako-sensei masuk kedalam bangunnan –hotel, interior di dalam-nya tidak kalah mewah dengan tampilan luarnya, bahkan ada chandelier yang menggantung di tengah lobby.
Otakku kembali memutar balikkan kemenanganku di kejuaraan National, kemenangan yang aku dapatkan kurang lebih sama dengan point di tingkat daerah, hanya beda 2 point. Setelah meminta passport dan izin dari keluagaku, tanpa ragu aku langsung mendaftarkan diri di JSF –Japan Skater Figure, asosiasi untuk mendukung atlit Figure Skating di jepang, dengan perwakilan Minako-sensei sebagai coach. Lalu sekarang, aku menginjakkan kakiku di Canada, tempat di mana kompetisi Four Continents tahun ini "Hhaahhh…!" aku menghela nafas panjang –bukan karena lelah.
"Kenapa Yuuri?" Minako-sensei menatapku dengan tatapan bingung, dia membukakan pintu hotel untukku, membiarkan aku dan karyawan hotel yang membawa tas kami kedalam.
"Thank you, sir" ucapku, tersenyum dan memberikan tips pada sang karyawan –yang entah kenapa pipinya memerah "Sir?" tangannya tidak mau lepas dari tanganku.
"Hhemn!" suara Minako-sensei laki-laki di hadapanku kaget dan langsung melepaskan tanganku.
Sebelum dia pergi, dia menyelipkan sesuatu di tanganku "Oh! Ah! Please call me if you need help or something!" secarik kertas yang bertuliskan nama dan nomor pribadi.
Tunggu –APA?!
"Wao! Yuuri, kamu baru saja membuat laki-laki dewasa melakukan sebuah tindakan criminal secara tidak langsung pada anak kecil di bawah umur!" aku memberikan kertas tadi ke Minako-sensei dengan tangan yang bergetar hebat.
"Aku tidak mengerti dengan apa maksudmu…" rasa mual di dalam diriku semakin naik saat memikirkan wajah karyawan tadi 'aku harus benar-benar menjauhkan EROS dari diriku untuk sementara' dengan gerakan cepat, aku membuka koperku dan mengambil baju ganti dari dalamnya "Aku mau mandi, setelah itu tidur"
"Bagaimana dengan makannannya?" Tanya Minako-sensei sebelum aku menutup pintu kamar mandi sepenuhnya.
"Room service" jawabku lemas, dan kemudian menghilang di balik daun pintu kamar mandi. Kamar mandi yang simple dan semuanya serba putih. Bathtub, Shower, Washtovel, dan toilet, tidak lupa dengan tambahan bath robe, sabun, shampoo, sikat dan pasta gigi. Dengan malas aku membuka semua bajuku dan menaruhnya di keranjang dekat pintu, lalu memutar keran untuk mengisi bathtub dengan air hangat, dan membersihkan tubuhku dengan shower, tekannan air hangat yang mengenai kulitku benar-benar membuat rasa mualku yang tadi hilang seketika, aroma terapi dari sabun dan shampoo yang aku pakai membuat stressku terangkat sempurna "Mmnnhh…" lenguhan nikmat tidak sengaja keluar dari mulutku saat aku merendam tubuhku di dalam air hangat 'Setelah kompetisi ini, kalau aku di pilih, aku bisa mengikuti 3 minggu lagi kompetisi world… setelah itu tahun depan, aku bisa ikut grand prix junior…' tapi sebelum grand prix junior tahun depan, aku harus bertemu Viktor di world junior.
"Yuuri! Jangan terlalu lama! Nanti kamu bisa pusing!"
"Iya…" dengan lambat aku keluar dari bathtub dan mengenakan baju gantiku –setelah sebelumnya mengeringkan tubuhku dengan handuk yang aku kalungkan di leher. Mataku menatap Minako-sensei yang sudah ganti baju dan berdandan dengan rapi "…Ke-bar?" tanyaku sambil menjatuhkan diri di atas kasur yang menerimaku dengan teksturnya yang sangat lembut di tubuhku.
Dari arah kananku, aku mendengar Minako-sensei tertawa pelan "Kau tau saja Yuuri…" aku melambaikan tanganku pada Minako-sensei.
'…Tentu saja aku tau'
"Aku pikir room service-mu akan datang sebentar lagi"
"…Rendah kalori?"
"Tentu saja! Aku tidak mau kamu menjadi gendut sebelum kompetisi besok lusa" aku tertawa datar, mataku mulai berat karena lelah dan kantuk.
"Hati-hati…" ucapku pelan sebelum pada akhirnya menutup mataku 'Tidak ada salahnya kan? Kalau aku tidur sebentar saja…' dari kejauhan, aku hanya bisa mendengar Minako-sensei yang mengatakan sesuatu tentang pintu kamar, tapi entah lah, aku tidak tau dengan apa yang di katakannya setelah itu.
.
Apa ini…? Ada yang menyentuh tubuhku, tangannya begitu besar dan kasar '…Vitya…?' bukan! Tangan Viktor lebih lembut dan sangat hangat, ini bukan tangan Viktor!
Aku membuka mataku, dan kaget saat melihat laki-laki yang tadi sedang menyentuh tubuhku, bajuku sudah entah pergi kamana, menyisakan celana yang sudah hampir mau di lepasnya "Sssh! I just want make us fill good together…"
'Fill good mbah-mu!' aku mengangkat kakiku, dan menandang permata penerus masa depan milik sang laki-laki. Aku teringat pada perkataan Minako-sensei lagi, sesuatu tentang pintu kamar 'Guru ballet sialan! Dia membiarkan pintunya tidak terkunci!'
Bhugk!
"UUUGH!" tidak pernah aku merasakan sangat bersyukur karena telah melatih otot kakiku.
'Aku tidak percaya kalau hasil latihanku berguna untuk hal semacam ini…' Tidak peduli dengan tubuhku yang hanya memakai celana hitam selutut, aku menyambar smart phone-ku dan lari sekuat tenaga, keluar dari kamar, tidak peduli dengan sekitar yang menatapku heran, untuk sekarang aku hanya butuh tempat untuk bersembunyi.
Blam!
Aku menutup pintu pada kabin toilet yang ada di lantai 1 dekat lobby, pelan aku mendudukkan diri di atas toilet, memeluk tubuhku erat 'Aku tidak mau ini… sentuhan dari laki-laki tadi masih terasa di kulitku… jijik… kotor… Viktor… aku tidak peduli kamu ada di mana, tapi aku mohon tolong aku, Viktor, Vitya…' bulir air mata jatuh dari sela jariku yang masih memegang smartphone.
Smartphone…? Benar juga… kenapa aku tidak terpikirkan selama ini? Aku bisa mencari Viktor di mana dia sekarang. Dengan jari yang masih bergetar aku membuka play store dan men-download aplikasi instagram, menunggunya dengan sabar, tidak perlu menunggu beberapa menit, aplikasi tersebut terinstal automatic di phonsel-ku, aku sempat bingung dengan handle name apa yang harus aku pakai.
Y-Katsuki
Nama asliku, dan menggunakan foto makannan favorite-ku, katsudon, sebagai foto profile. Jemariku mengetik,
V-Nikiforov
'Kumohon ada… kumohon ada!' jantungku berdebar sangat kencang saat search engine dari instagram telah menemukan apa yang aku cari "…Viktor…" masih sama, mata celurian blue, rambut platinum blond yang panjang, semuanya, masih sama dengan ingatanku tentang Viktor di umurnya yang sekarang –sekitar hampir 17 tahun.
Air mata dan rasa rinduku terus mengalir, tapi kemudian jariku terhenti pada status utamanya, text yang ditulis dalam bahasa inggris –dan sangat tidak sesuai dengan ingatanku tentang Viktor, di kehidupan sebelumnya. Di sana tertulis dengan sangat jelas, deretan kata-kata yang hanya aku dan Viktor saja yang tau –sebuah kode rahasia sebelum aku bisa menguasai Eros, dan membuat Viktor tergoda sepenuhnya.
I'm searching and waiting for my beautiful pork cutlet bowl, to dance and seduce me.
"Uuhk…" air mataku mengalir dengan sangat deras, aku bahkan bisa mendengar detak jantungku. Pelan, aku memaksakan jariku –yang bergetar hebat, untuk menekan tombol follow, dan kemudian mengetikkan pesan –kode rahasia yang hanya kami berdua yang mengerti 'Kumohon! Tuhan! Biarkan aku tau kalau dia adalah Viktor dari sebelum aku kembali ke umur 5 tahun' tubuhku terasa sangat lemas saat menekan tombol send. Aku tidak peduli dengan perbedaan waktu antara Canada dan Russia, yang aku perlukan sekarang hanya sebuah kepastian untuk menghilangkan rasa rinduku. Aku mengecek kembali pesan yang aku kirim, berharap kalau dia telah membacanya.
Then you don't have to say anything, just, stammi vicnino.
Aku merasa sangat bodoh saat mengetikkan kalimat terakhir menggunakan bahasa Italia, setelah merasakan rasa takut dan getarran di tubuhku mereda, tanganku bermaksud meraih knob pada kabin toilet untuk keluar dari tempat persembunyianku.
Vrrrrrrrr!
Aku kaget dan hampir menjatukan ponsel yang bergetar hebat di genggamanku "Siapa… –hh!" sebuah permintaan video call. Aku kembali mendudukkan diriku dan menekan yes.
Di sana, di sebrang sana, sosok yang menatapku dengan tatapan penuh ke-tidak percayaan, dan ekspresi yang sangat terkejut. Mata itu, aku tau betul dengan mata yang menatapku sekarang. Sebenarnya, ini bukanlah cara yang aku harapkan untuk bertemu denganya, tapi sosok itu, dia, mengenal aku yang sebenarnya. Di sela hisak tangisku, aku memaksakan bibirku untuk tersenyum "…Vitya…"
Dia tersenyum dengan lembut dan menatapku dengan penuh kasih sayang "…Yuuri"
.
Tuhan, aku tidak tau harus berterima kasih padamu dengan cara seperti apa, tapi, terima kasih telah memberikan sosok yang aku cintai, kembali bersamaku.
