No Other
Pair : Kim Jongwoon (Yesung) x Kim Ryeowook (Wookie)
Genre : Romance/ Friendship
Disclaimer : Theirself
Warning : YAOI, Ide pasaran, typo(s), tidak sesuai EYD, alur ngebut dan panjaaaaaanng. Author yakin readers pasti bosan bacanya *pundung. So, Don't Like? Don't Flame! Just Read it :p
.
.
.
Beruntung, Siwon masih sadar kalau sosok manusia yang tengah duduk di depannya saat ini adalah seorang wanita. Dan karena itu—dia masih segan untuk melayangkan tinjunya di wajah cantik nan mulus wanita tersebut. Siwon hanya bisa menggeram kesal dalam hati, melihat senyuman Moon Geunyoung yang masih setia terlukis di wajah cantiknya.
"Kau gila, Moon." Gumam Siwon, "Kau tak segan-segan mencelakai Kibum hanya karena ucapanku kemarin padamu? Kau benar-benar yeoja gila!"
"Well, kau sendiri tahu kalau aku sudah gila, dan seharusnya kau bisa lebih berhati-hati dalam berbicara sehingga kejadian seperti ini tidak sampai terjadi 'kan?" balas Geunyoung cepat, seraya mengaduk-ngaduk minuman yang dipesannya tanpa berniat untuk meminumnya.
"Kau sudah mengenalku sejak lama, Siwonnie. Seharusnya kau tahu bagaimana sifatku—apa yang tidak kusuka dan apa yang kusuka. Atau—karena sudah lama kita tidak pernah bertemu kau menjadi lupa semua tentangku? Teman lamamu ini?" tanya Geunyoung lagi dengan memasang wajah pura-pura sedih.
Alih-alih merasa iba, Siwon malah semakin kesal melihatnya.
"Aku sungguh tidak ingat pernah memiliki teman segila kau, Moon.. Dan perlu kutekankan lagi—mencelakai Kibum seperti ini bukan lah jalan keluar dalam membalas perbuatanku padamu!" seru Siwon, amarah kini benar-benar sudah diambang batas. Terlebih lagi saat mengingat kecelakaan yang dialami Kibum kemarin, dimana namja manisnya itu kini berada di rumah sakit dan sepertinya harus dirawat disana dalam beberapa hari kedepan.
"Tenanglah, Siwonnie-sayang." Tegur Geunyoung lembut, "kau tidak ingat kita sedang berada dimana? Lihat, semua pengunjung di restoran ini jadi melihat kearah kita."
"Peduli setan, Moon." Siwon menanggapi dingin, membuat Geunyoung di depannya menghela napas panjang.
"Hah.. kau ini.. Cobalah untuk tenang sedikit. Iya 'kan, Sungie?"
Geunyoung menoleh kearah samping, dan mendapati Yesung tengah memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa dibilang lembut.
"Berhenti bicara yang tak penting. Aku tahu tindakanmu mencelakai Kibum-ah bukan hanya karena ucapan Siwon padamu kemarin 'kan?" tanya Yesung yang sedari tadi diam. Dia yakin kalau ada maksud lain dibalik tindakan tak berperikemanusiaan yang Geunyoung lakukan ini. Mengingat Geunyoung adalah yeoja tergila yang pernah ia temui. Dan inilah alasan mengapa Yesung dan yang lainnya segan terhadap yeoja yang satu ini.
Terlebih lagi saat mengingat kejadian satu tahun yang lalu...
Geunyoung tertawa pelan, sembari bertepuk tangan sekali.
"Ne, Yesungie-ku hebat! Kau memang selalu tahu tentang diriku, ne?" serunya girang. Siwon yang melihat tingkah aneh yeoja itupun hanya bisa menahan diri untuk tidak melemparnya dengan gelas.
"Selain karena aku sedikit tersinggung dengan perkataan Siwonnie yang mengatakan kalau
aku tidak bisa memilikimu kemarin—mencelakai Kim Kibum juga permulaan dari aksiku untuk mendapatimu, Sungie!" jawab Geunyoung. Dan dari nada bicaranya tak terselit sedikitpun rasa bersalah.
Yesung dan Siwon sukses terbelalak mendengarnya. Yeoja ini benar-benar sudah gila!
"A-apa maksudmu?"
...
"Kaki digips dan tangan dibalut perban seperti itu—bagaimana rasanya, Kibum-ah?" tanya Kangin dengan nada jail, membuat namja berkulit seputih salju di depannya menautkan alis heran.
"Kau ingin tahu rasanya, Kangin-hyung?" Kibum balik bertanya, "kalau begitu pergi lah ke jalan raya sana, tunggu ada mobil yang akan lewat dengan kecepatan penuh kearahmu dan—voilah! Dengan begitu kau akan tahu rasanya, Hyung." Jawab namja manis itu dengan nada datar.
Kangin yang mendengar jawaban Kibum itupun sontak menjadi pucat sendiri. Bedahal dengan Kibum yang kembali memasang wajah stoic-nya seperti biasa.
"Berhentilah menggoda Bummie, Youngwoon. Kulaporkan ke Teukie-hyung baru tahu rasa kau." Tegur Siwon, yang langsung disambut baik oleh Kibum. Namja manis itu langsung mengulurkan tangannya—yang bebas dari perban—undangan bagi Siwon untuk memeluknya.
Kali ini Kangin benar-benar diam. Mendengar nama kekasihnya disebut-sebut seperti tadi sukses membuatnya harus berpikir dua kali jika ingin menjahili Kibum lagi, karena Kangin tahu betul betapa posesifnya Leeteuk pada Dongsaeng-nya yang paling muda itu.
Kangin menghela napas. Tiba-tiba ia merasa bosan. Tidak ada Leeteuk yang bisa menemaninya karena namja berlesung pipi sebelah itu sedang kuliah sekarang. Sama seperti Shindong. Dan saat ini hanya ada dia, SiBum dan YeWook couple yang sedari tadi sibuk dengan dunia mereka sendiri di pojok kamar rumah sakit tempat Kibum dirawat saat ini.
Sebenarnya juga ada Eunhyuk dan Donghae disini, namun dua manusia beda sifat itu sedang berada di kantin untuk makan siang.
Tak mau menjadi obat nyamuk dari dua couple yang pastinya tengah mengumbar kemesraan, Kangin akhirnya memilih untuk keluar dari kamar. Namja berbadan besar namun tidak gendut itu berniat mencari udara segar saja di luar sana.
...
Ryeowook's POV
.
Setelah kecelakaan yang menimpa Kibum kemarin, akhirnya keadaan Dongsaeng-ku itu sudah bisa dikatakan membaik oleh Dokter. Sebelumnya aku dan yang lain sempat merasa takut juga cemas dengan keadaan Kibum yang parah. Namja itu sempat mengalami masa kritis karena banyaknya kehilangan darah. Namun, setelah di rawat secara intensif, akhirnya Kibum bisa melewati masa suramnya itu.
Dan karena kecelakaan itu juga Kibum harus menerima kenyataan kalau kaki kirinya kini patah dan pergelangan tangan kanannya mengalami keretakan tulang. Tidak terlalu parah, karena yang kudengar dari Dokter Song—dokter yang merawat Kibum—semua hal itu bisa sembuh dalam beberapa bulan kedepan jika Kibum nantinya rajin mengikuti terapi tulang.
Dan saat ini aku sedang bingung dengan masalah yang lain. Yaitu masalah tentang Yesung-hyung.
Entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan sifat Yesung-hyung kali ini. Sejak dia datang bersama Siwon-hyung beberapa jam lalu, dia sama sekali tidak berbicara apa-apa padaku. Yesung-hyung hanya menanyakan kabarku tadi, lalu setelah itu diam. Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Sampai sekarang ini. Yesung-hyung hanya duduk di sofa yang berada di sudut kamar rumah sakit Kibum dengan kedua tangannya yang erat memeluk pinggangku. Kepalanya juga dibenamkan perpotongan leherku.
Dan sekilas—dapat kurasakan kalau tangan Yesung-hyung di pinggangku bergetar pelan.
Waeyo? Apa yang sebenarnya terjadi?
Banyak pertanyaan besar di kepalaku saat ini. Mulai dari kecelakaan Kibum yang sedikit janggal bagiku dan sifat Yesung-hyung yang tiba-tiba aneh. Namun aku tidak bisa menanyakannya jika keadaan Yesung-hyung sendiri seperti ini.
"Sebenarnya ada apa sih, Hyung?" gumamku pelan, tapi aku yakin Yesung-hyung dapat mendengarnya.
Melihat Yesung-hyung yang tak kunjung merespon, aku hanya bisa menghela napas panjang. Aku mengeratkan pelukanku pada leher namja bermata sipit ini. Berharap bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Yesung-hyung sekarang.
.
End Ryeowook's POV
...
Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian yang menimpa Kim Kibum. Dan saat ini, Magnae di keluarga Kim itu sudah di perbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit oleh dokter. Dan kabar baik itu sangat disambut baik oleh Leeteuk. Karena menurut namja berlesung pipi itu, dia akan lebih mudah merawat Kibum jika di rumah saja dari pada di rumah sakit.
Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, Ryeowook juga di sibuk kan dengan tugas sekolahnya. Seperti saat ini, dimana dia harus membawa sekeranjang bola basket untuk dibawa ke lapangan.
"Ugh... si Setan, si Mochi dan si Ikan—mereka bertiga bukan lah teman yang baik! Tega-teganya mereka membiarkan ku membawa bola-bola berat ini sendiri? Aissh... jinjja!" gerutu Ryeowook sepanjang jalan.
Yah, saat ini adalah jam olahraga bagi kelas Ryeowook. Dan namja bertubuh mungil nan malang kita itu mendapat perintah dari guru Park untuk membawa bola-bola basket yang berada di gudang sekolah ke lapangan. Dan sialnya bagi Ryeowook, saat ia akan meminta bantuan dari ketiga sahabatnya—Kyuhyun, Henry serata Donghae, mereka sudah menghilang entah kemana.
"Emm, permisi..."
Suara yang tiba-tiba terdengar, kontak membuat Ryeowook menghentikan langkahnya—juga menghentikan gurutan tidak jelasnya—. Ryeowook menoleh ke sumber suara, dan langsung mendapati seorang namja yang mengenakan kemeja hitam dan celana jins tengah tersenyum ke arahnya.
"N-ne? Kau bicara padaku?" tanya Ryeowook bodoh, sembari menunjuk dirinya sendiri. Ya iyalah, namja itu bicaranya padanya. Siapa lagi? Karena sepanjang koridor ini sepi akan murid-murid lainnya.
Dengan masih tersenyum, namja bertubuh tegap yang juga terlihat sangat tampan itu menganggukkan kepalanya sekali, "Ne, tentu saja. Apa kau tahu ruang kelas murid kelas 3 dimana, Anak Kecil?" tanyanya.
"Kelas tiga ya? Eum! Aku tahu, kelasnya ada di lantai tiga di sekolah ini. Anda cukup menaiki tangga di ujung koridor itu untuk sampai ke sana." Jawab Ryeowook dengan tersenyum ramah. Tapi tunggu! Namja tampan itu tadi memanggilnya apa? Anak Kecil? What the—
"Ah, begitu ya? Kamsahamnida..." namja tampan itu sedikit menunduk ada Ryeowook yang
kini memansang wajah cemberut. Cemberut karena di panggil 'Anak Kecil'.
"Ne, ne, cheon." Balas namja manis itu seadanya.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu. Sekali lagi terima kasih informasinya. Dan emm—jika aku boleh memberimu saran... cepat pergi ke sekolah, Anak Kecil. Karena seingatku murid SMP masuk sejak setengah jam yang lalu."
Serius. Kali ini Ryeowook benar-benar memasang wajah bodoh. Cengo. Karena mendengar perkataan namja tampan tadi padanya. Dan urat simpang tiga pun kontan hinggap di dahi Ryeowook. Namja manis itu menghirup udara dalam sekali tarikkan, untuk kemudian berteriak...
"AKU BUKAN ANAK KECIL! Aku sudah SMA dan aku bersekolah di sini tahu!"
Namja tampan itu hanya tertawa kecil, sembari berjalan meninggalkan Ryewook yang tengah mencak-mencak sendiri di belakangnya.
"Kim Ryeowook... namja manis-mu itu sungguh menarik, Yesungie." Gumamnya, entah kepada siapa.
...
Berulang kali Yesung menghela napasnya. Merasa bosan dengan keadaan yang memang terlihat membosan(?) baginya.
Saat ini sudah jam istirahat. Dan dia bersama sahabatnya yang lain—Siwon, Kangin dan HanChul couple—tengah berada di kantin untuk makan siang, tentu saja..
Seharusnya saat-saat ini seperti tidak akan membosankan bagi Yesung. Walaupun dia harus menahan diri dengan aura kemesraan yang selalu diobral Hanchul couple serta kelakuan Kangin dan Siwon yang selalu ribut jika sudah berhubungan dengan makanan, namun setidaknya dia akan bertahan jika ada orang lain di sampingnya. Yah, orang lain yang di maksud itu tentu saja Kim Ryeowook-nya.
Dengan sekali gerakan, Yesung mengeluarkan iPhone hitamnya dari dalam saku. Dan kemudian menghubungi satu nama yang angkanya sudah ia hapal di luar kepala.
'Yoboseyo, Yesung-hyung?' setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sabungan telepon itu terjawab. Dari seberang sana, Yesung dapat mendengar suara merdu kekasihnya.
"Ne, Wookie-ah. Kau dimana, chagi?"
'Di kelas, Hyung. Aku baru saja selesai pelajaran olahraga. Waeyo?'
"Aniya, kau tidak ke kantin? Aku dan yang lainnya sedang berada di sini."
'Kantin? Oke, aku akan ke sana.'
'Tut,'
Panggilan terputus. Dan Yesung segera memasukkan kembali iPhone hitamnya ke dalam saku. Namja tampan itu menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi kantin, dengan seulas senyuman yang tak dapat ditahannya saat mengingat sebentar lagi dia akan bertemu dengan Ryeowook, kekasihnya. Yah, walaupun baru dua jam yang lalu ia bertemu dengan namja mungil-nya itu, namun Yesung tidak dapat memungkiri kalau saat ini dia sudah merasa rindu. Berlebihan? Tentu saja. Tapi ayolah, kalian ini seperti tidak pernah merasakan apa itu cinta saja... huh!
"Wookie my men!" seruan Heechul yang tiba-tiba terdengar, sontak membuyarkan Yesung yang sempat melamun. Namja bermata sipit itu menoleh dan tersenyum kecil begitu melihat Ryeowok yang baru datang langsung duduk di sampingnya.
Mata sipit Yesung semakin menyipit tatkala melihat namjachingu-nya tampak sedikit cemberut.
"Waeyo? Kenapa mukamu kusut begitu? Jelek tahu." Tanya Yesung heran, juga ada nada jahil pada kalimatnya barusan.
Mendengar ucapan Yesung, Ryeowook semakin merengut dan cemberut.
Namja manis itu menyilang kedua tangannya di depan dada. Melirik sekilas ke arah Yesung, kemudian menghela napas panjang.
"Ya! Apa-apaan ekspresimu itu, chagi? Tidak sopan.." tegur Yesung cepat, membuat Heechul dan yang lainnya tertawa geli.
"Kau sama saja seperti orang tadi, Yesung-hyung. Menyebalkan." Komentar Ryeowook singkat.
"Heh, orang tadi? Siapa maksudmu, Wookie-ah?"
"Orang yang kutemui di koridor sekolah tadi. Dia mengatai ku anak kecil. Dan juga mengira kalau aku masih SMP... apa orang itu buta? Sudah jelas tadi aku mengenakan seragam khas sekolah ini. Huh!" adu Ryeowook panjang lebar. Ternyata dia masih kesal dengan kejadian di koridor sekolah tadi pagi. Yah, namja tampan yang memanggilnya 'anak kecil' tadi itu lho...
Mendengar aduan Ryeowook, sifat posesif Yesung kembali muncul. Namja tampan itu menautkan alisnya heran. Dalam hati dia bertanya siapa yang berani mengganggu kekasihnya sampai Ryeowook merasa kesal seperti itu. Dan jika nanti Yesung tahu siapa dia, maka habislah orang itu ditangan namja yang sudah di cap preman sekolah.
"Siapa yang kau maksud, Wookie?" tanya Yesung dengan nada mengintrogasi.
"Entahlah, aku tidak pernah melihatnya—"
"Mian, membuat kalian menunggu." Ucap sebuah suara yang memotong ucapan Ryeowook. Orang itu mengambil duduk disamping Siwon yang sedari tadi memang kosong.
"Kau lama sekali, Yunho-hyung. Aku sudah terlanjur kenyang menunggumu tahu." Gerutu Heechul, dan namja yang di panggil 'Yunho' tadi hanya tertawa kecil.
"Antriannya panjang sekali, Hennim-yah. Lagi pula bagus kalau kau sudah kenyang... karena jatah makananmu berarti untuk ku, ne?"
"YAH!"
Yunho dan yang lainnya sontak tersentak kaget karena salah satu dari mereka ada yang tiba-tiba berteriak. Ani, itu bukan suara Heechul yang memprotes dengan ucapan Yunho barusan. Tapi suara Wookie, namja itu berdiri dari kursinya dan—dengan tidak sopan—menunjuk wajah Yunho dengan jari telunjuknya.
"K-kau... kau yang memanggilku 'anak kecil' tadi 'kan?" tanya Ryeowook dengan wajah horror. Tak peduli dengan tatapan heran Yesung dan yang lainnya.
"Ah—kau anak kecil yang kutemui di koridor tadi pagi 'kan?" Yunho balik bertanya, dan seperti sebelumnya, ia memandang Ryeowook dengan tersenyum manis.
"Sekali lagi terima kasih karena berkatmu aku bisa menemukan ruangan murid kelas tiga."
"Sama-sama..." Balas Ryeowook ketus, "dan berhentilah memanggilku anak kecil! Aku sudah SMA tahu! Aku kelas dua sekarang!"
"Ne, ne, arraseo... aku hanya bercanda tadi." Ucap Yunho ramah, sembari memakan kentang goreng yang baru di pesannya.
"Kau mengenalnya, Yunho-hyung?" tanya Heechul cepat pada Yunho.
"Kalian sudah saling mengenal?" kali ini yang bertanya Kangin.
"Hem?"—Hankyung.
"Wookie-ah, kau sudah pernah bertemu dengan Yunho-hyung sebelumnya?"—Siwon.
"Apa yang kau maksud dengan orang menyebalkan tadi adalah dia, Wookie-chagi? Jung
Yunho?"—Yesung.
Yunho dan Ryeowook memiringkan kepala mereka kompak. Merasa bingung dengan pertanyaan bertubi-tubi yang di lontarkan kelima orang itu.
"Aku baru saja bertemu dengannya tadi pagi. Saat itu aku tengah tersesat di sekolah ini saat akan mencari kelas kalian. Dan secara tidak sengaja aku bertemu dengannya. Dan ya—berhentilah menatapku seperti Yesungie!" seru Yunho sembari mengibaskan tangannya di depan wajah Yesung.
Yesung mendengus, lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Namja tampan itu juga menarik tubuh mungil Ryeowook untuk mendekat ke arahnya, dengan melingkar sebelah tangannya di pinggang ramping Ryeowook dengan penuh rasa posesif.
"Kau tadi sempat membuatnya kesal, Yun." Ucap Yesung datar.
"Yunho-hyung. Panggil aku Hyung, Yesung." Koreksi Yunho, "lagi pula aku 'kan hanya bercanda."
"Terserah aku mau memanggilmu apa, Jung Yunho. Kau tak berhak memerintahku lagi sejak kau meninggalkan aku dan Jongjin satu tahun yang lalu..." nada bicara Yesung kali ini terdengar serius. Matanya juga menyorot tajam ke arah Yunho.
Melihat aura gelap yang dikeluarkan Yesung—Heechul, Kangin dan Siwon menghela napas bersamaan. Disamping Heechul, Hankyung berdehem pelan.
"Yunho-hyung, bagaimana kabar Jaejoong-hyung sekarang?" tanya namja keturunan China itu, mencoba mencairkan suasana. Dan itu berhasil. Mendengar nama 'Jaejoong' disebut, aura hitam Yesung serta Yunho menghilang.
Yunho tersenyum lebar, sedangkan Yesung tampak tak peduli.
"Dia baik, Hannie-ah. Dan sekarang tengah hamil tiga bulan." Jawab Yunho dengan senyuman lebar yang masih setia berada di wajah tampannya.
"MWO!"
.
.
.
"Yesungie~!" pekikan centil yang tiba-tiba terdengar itu kontan menghilangkan senyuman manis Yunho. Namja tampan itu menghela napas pelan. Dan tanpa berkata apa-apa, Yunho segera beranjak pergi meninggalkan kantin.
Heechul yang melihat hal itu pun hanya bisa tersenyum simpul. Begitu pula dengan Hankyung, Kangin dan Swion. Sedangkan Yesung masih memasang wajah datar khasnya, dan si polos Wookie tampak terheran-heran.
"Yesungie-sayang~!" suara itu kembali terdengar, dan kali ini bersamaan dengan munculnya makhluk cantik—namun mengesalkan setengah mati—di depan Yesung.
"Kau meninggalkan aku, Sungie! Lagi!" gerutu Moon Geunyoung.
Yesung menghela napas panjang-panjang.
"Aigoo~" desahnya terkesan lelah. Dan tanpa peduli dengan Geunyoung di depannya, namja tampan itu membenamkan kepalanya di leher Ryeowook. Dengan tujuan untuk mencari ketenangan. Huft...
...
"Namja sialan!" umpat Geunyoung kesal, dengan kedua tangannya yang terkepal erat di atas meja. Saat ini ia tengah berada di salah satu cafe yang terletak di kota Seoul dan jam pulang sekolah sudah berakhir satu jam yang lalu.
Wajah manis Geunyoung terlihat luar biasa kesal. Pikirannya melayang saat beberapa jam lalu dimana Yesung menolaknya mentah-mentah saat ia minta ditemani belanja di sekolah tadi. Dan hanya satu alasan mengapa Yesung bisa menolaknya seperti tadi, yaitu Kim Ryeowook.
Kim Ryeowook lagi! Betapa bencinya Moon Genyoung dengan namja bertubuh mungil dan manis bak yeoja itu. Karena Ryeowook seoranglah yang merupakan rintangan terbesar bagi Geunyoung untuk mendapat Yesung.
"Cih, awas saja namja sialan itu! Akan kuberi dia pelajaran seperti yang kulakukan pada Dongsaeng-nya satu minggu yang lalu..."
"Sudah satu tahun tidak bertemu, tak kusangka sifat busukmu itu belum juga menghilang, Moon-ssi." Sahut sebuah suara. Dan Geunyoung sukses tersentak kaget mendengarnya.
Namja cantik itu mengangkat kepalanya yang sempat menunduk, dan kembali tersentak saat melihat siapa yang tengah duduk di depannya saat ini.
"Annyeong, Moon Geunyoung-ssi. Terkejut melihatku?" tanya orang itu, kalem.
Cukup lama Geunyoung terdiam, untuk menetralisir jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang. Hingga akhirnya dia tertawa pelan, lalu menatap sosok di depannya itu dengan senyuman manis.
"Ne, kau benar-benar mengejutkanku—"
"—annyeonghaseyo, Jaejoong-oppa."
.
.
.
TBC
.
.
.
Chap 7 updet... mian klo panjang dan ngebosenin. Konfliknya saya rasa juga rada gaje gimana gituu. Dan pasti readers banyak yang bingung. Hajiman, tenang saja chingu semua akan saya jelasin di chap depan...
Oke, saya mau ngucapin sesuatu dulu. Tapi sebelumnya tarik napas dalam-dalam dan—
Saeingil chukkahamnida CHO KYUHYUN!
Saeingil chukkahamnida KIM JAEJOONG!
Happy YUNJAE Day!
Dan Saeingil chukkahamnida JUNG YUNHO!
Saranghaeyo, oppadeul! *cipokbasah* Mianhaeyo baru ngucapin sekarang -_- Saya sibuk tapi saya senang lihat kalender dari tanggal 2-6 Febuari ini. Hihihi~ ulang tahun bias saya berjejer kayak kereta #apaansih?
Baiklah, saya minta saran serta kritiknya, ya? ^^
Always Keep The Faith and 13elieve With Their Prom15, because we are the Best. #lol
.
.
Sign,
Kim Woonkie
a.k.a
jooooo
[at Monday, 6th February 2012, 22.15 WIB]
