~My Lovely Guardian.~
Chapter VII
Disclaimers = Naruto © Masashi Kishimoto
My Lovely Guardian © Viviankiba
Pairings KibaHina
Warning: OOC, OC Typos, Gaje
Genre: Friendship, Hurt/comfort, Romance, Family
Rate: T
Please R&R
"Aku sudah menelpon Hiashi dan mengatakan bahwa putri kebanggaannya ada di kita. Dan kita akan segera mengabisinya. Jika ia tidak segera membayar hutangnya. Dan 10 menit lagi mereka sampai kesini"
"Bagus"
'Apa? Jadi ini semua Karena uang?' Batin ku.
. . .
Normal POV
Kiba mencari jalan untuk masuk gudang itu. Akhirnya ia menemukan pintu dari kayu . Ia menggintip dari celah pintu tersebut.
"Hime, sebentar lagi keluargamu datang membawa uang yang dia pinjam dari Tobi-sama. Jika uangnya kurang maka kau akan jadi miliknya. Hahahaha." Kata Deidara.
Mata lavender Hinata hanya bisa menatap sayu ketiga pemuda dihadapannya.
Hinata POV
Mengapa ini semua terjadi. Kenapa? Kenapa aku tak bisa bahagia dengannya. Bahkan sekarang dia tak ada disini. Dan kurasa dia tak akan datang kesini.
Kiba-kun, kau dimana?
End Hinata POV
"Wah kau cantik juga, Wajar kalau Tobi-sama sangat menyukaimu." Kata Pein sambil menyibakan rambut Hinata yang menutupi wajahnya. Kini tangannya mengelus pipi Hinata yang putih. Hinata mengelengkan kepalanya berusaha memberontak. Namun usakanya sia sia, kini kedua tangan Pein menahan wajah Hinata.
DUUAAARRRR
"Hei!" Seseorang mendobrak pintu.
'Ki-kiba-Kun?' Batin Hinata.
"Lepaskan gadis itu!" bentak Kiba.
"Wah, wah wah, sok jadi pahlawan rupanya." Kata sasori.
"Cerewet! Ayo maju saja kalau berani!"
Melihat Tanda di pipi Kiba, Deidara mengerti "Kiba-senpai,?"
"Apa kau bilang?" Tanya Pein.
"Dia Kiba-senpai. Juara kendo dan taekwondo serta beladiri internasional. Dia nomor satu."
"Omong Kosong! Ayo serang dia!"
Pertarungan pun terjadi satu lawan tiga. Mereka bertiga menyerang bersamaan namun, kiba tak kalah tangkasnya. Ditariknya Deidara kearahnya. Dan ditendang perutnya hingga dia terlempar ke tumpukan kayu dan tak sadarkan diri.
"Satu pengacau selesai." Kiba menunjukan senyum masam.
Kini kedua musuh yang dilawannya menggunakan pisau. Namun hal itu tidak menciutkan nyali kiba.
"Hinata-chan!" sebuah suara yang ia kenal memanggilnya.
'naruto-kun, kaa-san, tou-san, nii-san, Hanabi-chan. Mereka ada disini tolonglah Kiba.' Batin Hinata.
"Kiba-chan ada disini!" Hikari menunjuk kearah Kiba.
"Kiba? Yang bertato taring itu?" Tanya Naruto.
"Hm" Jawab Neji sambil berlari kearah pertarungan.
Kini seimbang dua lawan dua.
"Neji-san, hati-hati mereka bersenjata."
"Hn"
Mereka bertarung dengan seimbang.
"Neji-san kau hebat." Kata Kiba.
"Terima kasih. Cepat bereskan ini"
"Hn"
Hinata POV
Kami-sama, Lindungilah Kiba-kun dan Nii-san. Tou-san dan yang lainnya mendekat kearahku.
"Hinata-chan, Kau tak apa?" Tanya pemuda berambut kuning yang kukenal, Naruto.
Dia melepaskan ikatan ditanganku dan melepas lakban yang sejak tadi membungkam mulutku.
"Kau tak apa nee-san?"Tanya hanabi kepadaku.
Aku hanya bisa menggangguk pelan. Dan kini Naruto sudah menarikku dalam pelukannya. Aku tak tahu harus berbuat apa.
End Hinata POV
Kiba POV
'Apa? Orang itu juga ada disini' aku memperhatikan pemuda yang bernama Naruto itu. Betapa terkejutnya setelah kulihat apa yang ada di dekapannya.
CRAAAASHSH.
Pisau yang digunakan pein menusukku.
'Ahhhkkkh,'
'Hinata-chan,… Aku tidak boleh kalah. Dia tak boleh mengalahkanku.'
"Kemari kau!"
End Kiba POV
NORMAL POV
Hinata terperanjat ketika mendengar teriakan Kiba.
"Kiba-kun,… Bisik Hinata" namun bisikannya masih terengan di telingga Naruto.
"Hinata-Chan, menggenalnya?"
Hinata hanya bisa mengangguk.
'tentu, aku mengenalnya ,ia adalah Kiba-kun. Seseorang yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Bahkan saat aku tak membutuhkannya ia selalu ada di hatiku. Karena dia my lovely guardian angel.' Batin Hinata.
Kiba mendapatkan kekuatannya kembali. Dihantamnya rahang Pein hingga ia tersungkur. Kiba mendekat kearahnya, di pukulnya wajah Pein sekuat tenaga.
"Ini untuk balasan karena kau sudah menculik Hinata."
Kkklek
Sekarang Kiba mematahkan tangan kanan Pein.
"Tangan inikan? Yang kau gunakan untuk memegang Hinata."
Kkklek
"Yang ini juga kan? Itu balasan atas kelancanganmu."
Seketika itu juga Pein tidak sadarkan diri.
"Akhirnya ini berakhir juga, heh heh heh" Kata Kiba terengah engah.
"sebentar lagi polisi datang. Aku sudah menelpon mereka" Kata Neji
"Kiba-kun!" teriak Hinata-chan sambil berlari ke arah Kiba.
"Hinata-chan," Kiba tersenyum.
"Ki-kiba-kun" Hinata langsung menghambur ke pelukan Kiba yang sedang duduk.
"A-ari-arigato Kiba-kun" Hinata terisak.
"Hei-hei ini- ini semua sudah berakhir jangan menangis lagi." Suara Kiba semakin serak dan pelan.
"hiks-hiks" Hinata semakin mengeratkan pelukannya.
"Aw" Kiba kesakitan.
" Hah,Kiba-kun, kau terluka?"
"Tidak apa-apa ini cuma luka kecil. Tak akan apa apa. Kau jangan khawatir " Kata kiba sambil menyandarkan kepalanya di bahu Hinata.
"Kiba-kun"
Kiba POV
Aku bisa merasakan kelembutan Hinata, aku bisa mencium aroma Hinata. Halusnya rambut Hinata, Hangatnya pelukannya yang tak ingin ku lepaskan. Aku sangat mencintainya. Aku terus merasakan kenyamanan ini hingga aku tak tersadar.
.
.
.
Aku terbanggun. Dan aku tau kalau itu di rumah sakit. Ku melihat sekeliling tapi sosok yang kucari tak ada disana.
'Hinata-chan kau dimana?' Kulihat jam di Hp ku yang tergeletak di samping ranjang.
'Apa tanggal 23 April'
'Ini hari pertunangan Hinata-chan, wajar kalau dia tak ada disini,'
"Kau pasti sibuk."
"Siapa yang sibuk?" suara yang kukenal membuyarkan lamunan ku..
"Maaf aku terlambat, tadi aku kerumah dulu, menjemput Akamaru." Lanjutnya.
"auk,auk" akamaru yang ada dipelukannya menggonggong.
"Hm,"Aku hanya bisa mengangguk.
"Kiba-kun, Kau kenapa?"
"Kau tak pergi"
"Kemana?"
"Ini kan tanggal 23 April"
Dia bersedih, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya.
"Kalau, itu yang Kiba-kun mau."
"Hinata-chan…"
End Kiba POV
Hinata POV
Aku keluar dari Ruangan tempat Kiba di rawat. 'Aku kesini ingin menjengguknya, sudah semalaman aku menjaganya saat ia tak sadarkan diri, Aku ingin selalu di sampingnya tapi kenapa? Kenapa kau mengusir ku? Apa yang harus aku lakukan…'
Aku menutup mataku, sudah ku coba menahannya tapi air mata ini tetap saja mengalir
"Hiks, hiks, hiks"
"Mo nakanaide" suara yang ku kenal ku dengarkan.
Dia telah berada dibelakangku.
"Hinata-chan, daisuki desu"
Sekarang dia memelukku.
"Jangan menangis lagi" BIsiknya.
…To be Continued…
