Pair: AkaKuro, others

Warn: OC, OOC, yaoi, typos, possibly-mpreg, language, weird ideas, etc...

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi, i gain no profit from this fiction.

.

His mass is mountains

His trails are the endless of river

His aftersign is the bridge of rainbow

His faithful are buried in hills and reserves

.

Serpent 7: Awaken

.

.

Jaringan bisnis pariwisata milik Keluarga Akashi sangat beragam dan tersebar, jadi tidak mengherankan jika camp site ini adalah salah satu properti milik mereka juga. Pantas saja Izuki promosi, ketahuan sekali kalau ia tidak mau direpotkan oleh hal-hal krusial semisal mencari lokasi. Cukup memanfaatkan koneksinya dengan Seijuurou, dan semua beres hanya tinggal mengongkang kaki.

"Tetsuya-chan, aku cari tempat dulu!" Koganei berseru seraya menatap ke sekeliling kafetaria. Baki berisi mangkuk udon dan potongan tempura bergegas diangkat dari atas counter, meja kosong di dekat vending machine sudah menjadi target langkah-langkah kakinya. "Nanti susul saja, oke?"

Angguk kecil jadi jawaban, Tetsuya tinggal memesan menu utama setelah selesai memilih masing-masing sepotong tempura terung dan udang untuk topping udon miliknya. "One small hot ontama udon, please."

Keramaian di sudut kafetaria sedikit menarik perhatian. Di sana duduk Izuki, beberapa kakak tingkat, dan juga sosok Seijuurou. Meja mereka terlihat lively oleh celetukan tidak penting milik Izuki, atau karena para penghuninya sibuk bertanya ini-itu pada Seijuurou. Tentu saja pemuda bermarga Akashi tersebut adalah bintang utama untuk hari ini. Tidak ada yang menyangka jika Seijuurou adalah pemilik bumi perkemahan tempat klub jurnalis mengadakan kamp musim panas tahunan mereka. Walaupun ia berulang kali membantah bahwa Tsubame adalah usaha milik keluarga, namun hal itu tetap tidak mengurangi rasa kagum mereka.

Tetsuya belum berbicara lagi dengan Seijuurou, terhitung sejak penjelasan Izuki mengenai kemunculan mendadak pemuda berambut merah itu di sini. Setelah membongkar barang bawaan, ia segera mengabari orang rumah kalau perjalanan menuju Mukaiyama berjalan mulus tanpa kendala. Ia dan Koganei kebagian menempati bunk bed di kabin mereka, sementara Ryohei berkeras kalau ia saja yang menggunakan futon seorang diri. Tahun lalu si kakak tingkat pernah tidur di bunk bed juga, jadi untuk tahun ini ia membiarkan Koganei dan Tetsuya merasakan hal yang sama.

"Kurasa Akashi tidak tertarik pada satupun anggota klub kita. Wajahnya seakan mengatakan kalau dia 'tidak bersemangat' berada di tengah kerumunan..." Koganei bicara dengan ekor tempura udang terjepit di antara deretan gigi. "Ah, pengecualian untukmu tentu..." lalu seruputan udon miliknya terdengar riuh, disertai cipratan heboh kuah kaldu ke sana-sini.

Sumpit kayu dipisahkan, Tetsuya mengucap doa sejenak, sebelum mulai menjepit sehelai mi tebal kenyal dari dalam mangkuk. "Dia baik terhadap semua orang. Kau tidak bisa menyangkal itu, Koganei-kun. Hanya saja, stigma tentang Seijuurou-kun sudah keburu terbentuk tanpa ada kepastian fakta." Ia beralih untuk menampung kuah gurih dalam sendok, lalu menyesap kaldu bercampur rempah tadi dengan wajah bahagia.

"Yeah, mungkin kau benar. Dia baik pada setiap orang. Tapi tidakkah kau berpikir, kalau sikap semacam itu malah merugikan? Bisa saja para mantan pacarnya mendekati Akashi Seijuurou hanya karena tumpukan harta dan nama besar miliknya, benar?" Koganei berbisik rendah, lumayan waspada, takut kalau-kalau ada 'penguping' di sekitar mereka. "Mungkin saja Akashi menyadari tujuan mereka, dan langsung memutuskan hubungan secara sepihak, yaah semacam itu..."

Tetsuya nyaris tersedak kunyahan tempura dalam mulut, akibat 'hipotesa' gila lain milik Koganei mengenai Seijuurou.

(Cepat berganti pasangan memang jadi salah satu pemicu namanya seringkali digunjingkan. Entah apa penyebab dari sikap tersebut, Tetsuya tidak mau terlalu dalam mencampuri kehidupan pribadi Seijuurou. Selalu ada alasan di balik setiap perbuatan. Lagipula, setelah mengenal lebih dekat seorang Akashi Seijuurou, Tetsuya rasa pemuda itu memiliki satu alasan kuat sebagai dasar perbuatannya.)

"Tenanglah, Tetsuya-chan, aku bukan menuduhmu..." kekeh geli diberi, Koganei mengacungkan ibu jari sebagai tanda kalau ia malah mendukung kedekatannya dengan Seijuurou. "Kau mungkin bisa menjadi tambatan terakhir untuk Akashi. Kalian sangat cocok, ibaratnya lubang gembok dengan anak kunci begitu, hahaha..."

Mau tak mau sebelah alis Tetsuya terangkat sewaktu analogi absurd tadi meluncur dari mulut Koganei. Ia tetap bersikeras menepis kalau hubungan mereka hanya sekedar berteman, tidak lebih dari itu.

Dan aksi saling lempar argumen mereka ternyata diam-diam diperhatikan dari jarak jauh oleh pemuda yang bersangkutan.

.

.

"Penduduk di sini mengandalkan hasil bercocok tanam dan ternak sebagai mata pencarian utama. Kebanyakan yang menetap adalah orang tua, karena anak-anak mereka lebih senang mengadu nasib di pusat kota." Jelas Miyuki saat rombongan melintasi jalanan lengang beraspal di sekitar area perkemahan. Beberapa rumah kayu sederhana berdiri berjauhan pada tepi jalan, dengan tanah kosong sebagai lahan berkebun organik atau memelihara ternak. Suasana sangat sepi dari kehadiran warga lokal, padahal ini baru saja lewat jam makan siang.

"Coba katakan lagi padaku, kita akan ke mana?" Koganei memeriksa peta digital dalam ponsel, kemudian menatap sebentar pada langit di atas kepala. Untung topi jerami lebar turut dibawa serta, sehingga ia bisa menghindari cuaca panas yang menyapa kulit mereka.

"Kuil Hachiman, Izuki-senpai bilang jaraknya cukup dekat. Bisa ditempuh dengan berjalan santai."

Mereka berhenti sejenak sewaktu melewati jembatan beton yang membentang kokoh di atas sungai. Kamera ponsel segera saja dimanfaatkan untuk mengabadikan beberapa moment dengan berbagai sudut pemandangan berbeda.

Tetsuya menatap pada aliran jernih di bawah jembatan, lalu tersenyum maklum mendapati para rekan dalam rombongan mereka berpose menggunakan gaya aneh dan unik. Ah, andai Seijuurou ikut dalam perjalanan, mungkin dia bisa berbagi cerita mengenai daerah sekitar sini. Entahlah, Tetsuya hanya merasa nyaman saat berbincang tentang apapun dengan si pemuda bermarga Akashi.

"Hei, kau tahu kenapa empat penjuru mata angin Kyoto dikelilingi gunung dan sungai?"

Wajah tersenyum Izuki langsung menyambut begitu fokus Tetsuya teralih dari arus jernih yang mengaliri sela-sela bebatuan besar. Sang ketua klub menunjuk pada bukit menghijau di sekeliling Mukaiyama—kebanyakan ditumbuhi tanaman dari keluarga konifer sebangsa pinus dan cemara. Saat tatap mata Tetsuya menyirat ketidaktahuan, Izuki melanjutkan percakapan sepihaknya.

"Kyoto adalah kota yang pernah ditetapkan oleh Kaisar Kammu sebagai ibukota negara." Tubuh ramping Izuki bersandar pada pagar pembatas jembatan, bola mata eboni itu memandang jauh ke depan. "Kota ini dibangun dengan mematuhi prinsip feng-shui layaknya kota-kota di Cina. Mereka mencari tempat yang keempat penjurunya dikelilingi gunung dan sungai, kau tahu kenapa?"

(Lihat saja Sungai Kamo, Sungai Katsura, Gunung Higashiyama dan Arashiyama. Relief-relief alam itu menaungi Kyoto dalam sebuah harmoni.)

Sebenarnya Tetsuya kurang paham akan maksud Izuki mengajaknya berbincang mengenai hal ini. Kisah mengenai asal-usul tempat dan mitos yang mengitari mereka merupakan kelemahan Tetsuya. Dan demi mendapat satu cerita menarik, maka ia akan berusaha menjadi seorang pendengar yang baik.

Seulas senyum penuh misteri terukir, dan Izuki melanjutkan bicara. "Karena di tempat-tempat semacam itulah, mereka tinggal."

"Mereka?" Ada jeda beberapa detik, sebelum mulut Tetsuya membeo ucapan Izuki.

Angguk ringan jadi jawaban. "Ya, mereka. Para penjaga—sang penyeimbang. Mereka yang kuil-kuilnya tersebar di berbagai sudut kota. Termasuk kuil yang akan kita datangi kali ini."

Ah, sekali waktu ia pernah mendengar cerita mengenai empat penjuru mata angin Kyoto. Juga tentang makhluk-makhluk mitologi penjaga kota. Kenapa Tetsuya bisa sampai lupa?

"Dahulu, kebanyakan dari mereka memang tinggal di sana." Mulut Izuki lancar menjelaskan tanpa diminta. "Namun, seiring berkembangnya teknologi dan kemajuan zaman, kehadiran mereka mungkin sudah menyebar di seluruh kota sekarang. Membaur di tengah-tengah masyarakat."

Ia positif menduga kalau dari Seijuurou-lah, Izuki mengetahui ketertarikannya pada kisah-kisah semacam ini.

"Kadang mereka melintasi Sungai Katsura, berdiam melingkari Gunung Higashiyama, duduk manis di atap Kiyomizudera, atau bersemayam di salah satu sudut Mukaiyama, siapa tahu 'kan?" Kepala Izuki meneleng untuk menatap Tetsuya, dua mata menyipit saat senyum lain mampir di bibir ranum sewarna persik. "Atau mungkin saja mereka pernah berbagi bus dan berbelanja di minimarket yang sama denganmu..."

Pandangan Tetsuya tertuju pada perbukitan hijau, lalu pada arus tenang Sungai Katsura di bawah kaki. "Mereka dapat berubah jadi manusia?" Mau tak mau, paragraf mengenai hebi tempo lalu, kembali lewat dalam ingatan.

(Tidak, Tetsuya tidak sedang menyambung-nyambungkan hal ini dengan berbagai mimpi kadaluarsa miliknya. Ia hanya murni penasaran belaka.)

Tawa Izuki menggema, tiba-tiba ia senang bukan kepalang sewaktu melihat antusiasme berkobar di mata Tetsuya. "Bisa saja mereka adalah manusia, namun tergolong istimewa," ujarnya lambat. "Bisa jadi mereka memang manusia, namun mengemban takdir itu secara turun temurun dalam keluarga..."

"Apa yang membedakan mereka dari manusia biasa?"

Bahu terangkat adalah jawaban Izuki sekarang. Tetsuya sudah terlalu larut mendalami kisah yang diceritakan oleh pemuda berambut hitam itu, hingga secara tak sadar ia mulai mengorek informasi lain.

"Dan apa yang terjadi, seandainya... mereka tiada?" Entah bagaimana, pertanyaan tadi keluar tanpa sengaja. "Ah, maksudku..."

"Izuki-kun! Sampai kapan kau mau membual pada Mayuzumi-kun, huh?!"

Jerit bosan Miyuki membahana di udara. Gadis berambut sebahu itu berdiri seraya berkacak pinggang tak jauh dari mereka. Tuduhan tadi otomatis membuat bibir Izuki mengerucut tidak suka.

"Aku tidak sedang membual, Miyuki-chan..." Wajah-wajah menghakimi jadi balasan, Izuki hanya bisa angkat tangan pasrah. "Kalian memang sungguh kejam..."

"Ayo lanjutkan perjalanan, kalau tidak, nanti jadwal kita bisa berantakan!"

Dan setelah debat tidak penting di antara keduanya, rombongan mereka kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda.

Meninggalkan Tetsuya dengan segudang tanya lain bermunculan dalam kepala.

.

Koganei menjerit histeris saat ia kehilangan pijakan dari batu-batu kerikil berlumut di dasar sungai. Gelombang 'tsunami' mini langsung tercipta, begitu tubuhnya bertumbukkan keras dengan permukaan air.

Tawa kecil Tetsuya dan orang di sekitar mereka terdengar sedetik kemudian. Jaring di tangan Koganei terlempar sembarang arah, sementara ikan-ikan buruan mereka malah melarikan diri entah ke mana.

"Koganei-kun, cepat bangun dari sana, nanti kau bisa kena flu." Iba, Tetsuya hati-hati berjalan melawan arus sungai, menuju posisi di mana Koganei tenggelam. Kedalaman sungai hampir mencapai lutut, dan jilatan air mulai merembes melalui ujung bawah celana pendek denim yang ia kenakan.

Di luar dugaan, Koganei malah tertawa keras-keras sembari terbatuk pelan karena tersedak air. "Aku tidak apa-apa Tetsuya-chan! Tapi yang tadi itu membuat bokongku sedikit nyeri!" Ia tertawa lagi, lalu bangkit—dengan pakaian basah kuyup—berkat bantuan Tetsuya.

Setelah perjalanan mengunjungi kuil, mereka memutuskan menghabiskan sore dengan berburu ikan di perairan dangkal Sungai Katsura. Beberapa kelompok kecil pengunjung Tsubame, sudah bersiap di sepanjang tepi sungai berbekal kail dan jaring, juga tumpukan kayu bakar untuk memanggang hasil buruan. Cuaca diprediksi bakalan cerah sampai malam beranjak, dan semangat mereka untuk berburu, begitu tinggi menggebu-gebu.

"Whoa, lihat Akashi-kun!" Seseorang berseru penuh semangat, saat si pemuda berambut merah mengangkat jaringnya secepat kilat dari air.

Gerombolan ayu bersisik perak sibuk menggelepar dalam jaring. Dengan cekatan, Seijuurou bergegas membawa hasil tangkapan besarnya ke tepi sungai. Ia menyerahkan ikan-ikan air tawar itu kepada kelompok 'pemasak' yang kebagian tugas mengolah mereka sebagai menu makan malam.

Tetsuya nyaris bertepuk tangan girang seperti anak kecil ketika menyaksikan hal tadi. Tapi ia buru-buru menguasai diri, dan segera mengulum senyum bangga, entah untuk alasan apa. Julukan si tuan serba bisa memang pantas melekat pada diri Seijuurou. Pemuda itu seakan dapat melakukan apapun tanpa kendala.

(Tapi sesempurna apapun manusia, bukankah mereka selalu memiliki sebuah titik lemah?)

"Aku tidak tahu kalau ternyata Seijuurou-kun pandai menangkap ikan juga." Tidak ada sarkasme dalam nada bicara Tetsuya, karena sungguh, ia hanya tulus ingin memuji.

Bibir Seijuurou mengulas senyum begitu mendengar kalimat Tetsuya. Ia mengikis jarak hingga kini mereka berdiri bersisian di tepi sungai. "Musim panas masa kecilku dihabiskan untuk melakukan kegiatan semacam ini. Kau tahu, seperti berkemah bersama kerabat, menjelajah hutan sekaligus foraging. Ah, mungkin kemampuanku sedikit terasah berkat hal itu..." Seijuurou tersenyum lagi. Kelebatan ingatan membawanya kembali mengarungi kebahagiaan masa lalu yang terpendam jauh dalam dasar memori.

Tetsuya menjatuhkan pandangan pada kawan-kawannya yang masih asyik bermain-main di arus jernih sungai. "Yang tadi itu terdengar seru sekali, maksudku, pengalaman Seijuurou-kun..."

Seijuurou tiba-tiba saja membiarkan tubuh tegapnya menghadapi postur mungil Tetsuya. Dua mata bak batu rubi itu berkilat penuh semangat. "Hei, katakan... apa Tetsuya tertarik untuk melakukan foraging besok? Aku bisa mengantarmu ke beberapa tempat untuk sekedar mencari sayuran liar atau jamur."

Telinga Tetsuya langsung bergerak imajiner bagai kelinci disuguhi wortel, saat tawaran Seijuurou diutarakan. Wajah berseri dan debar jantung tak beraturan cukup menjadi saksi kalau ia sungguh senang dengan ide milik si lawan bicara. Tanpa berpikir dua kali, Tetsuya buru-buru menyetujui ajakan Seijuurou barusan. "Kalau itu tidak merepotkan, tentu saja aku mau!"

Mereka masih saling melempar senyum, namun terpaksa berhenti, sewaktu Koganei memanggil lantang nama Tetsuya dari arah sungai.

Meski begitu, Tetsuya merasa sangat bahagia karena ada satu janji lain yang akan berusaha mereka penuhi bersama.

.

"Kalau Akashi-kun tidak ikut bergabung, mungkin kita tidak akan bisa merasakan keseruan membakar ikan hasil tangkapan sendiri!" Ujaran menohok milik Miyuki malah disambut tawa tanpa dosa dari Izuki. (Well, karena para pejantan dalam klub mereka, sama sekali tidak dapat diandalkan. Skill mereka benar-benar nihil jika harus berhadapan dengan alam terbuka. Taruhan, kalau ini adalah film mengenai kisah survivor selamat dari bencana, mereka mungkin jadi karakter yang tereliminasi paling pertama.)

Di barat sana, matahari perlahan kembali tidur. Malam-pun semakin turun bersama kelip perak bintang di jauh angkasa. Bumbung asap beraroma sedap hasil bakaran ikan, pekat tercium di udara sekitar. Riuh sembarang petik dawai gitar mengiringi koor sumbang dari muda-mudi yang duduk mengitari nyala api besar di tengah kerumunan.

Satu, dua cerita horor dikisahkan demi membuat bulu kuduk meremang. Beberapa dari mereka memang sukses terkena efek seram, tapi kebanyakan lebih memilih untuk bersikap skeptis dan pasang wajah datar.

"Huwa! Lihat di sana!?"

Jerit terkejut milik Miyuki mengalihkan perhatian mereka dari cita rasa ikan bakar yang menghampiri syaraf pengecap. Koganei nyaris saja melompat dari duduk saking kagetnya dia.

"Miyuki-senpai, jangan menjerit sembarangan, ah! Kau membuat jantungku nyaris keluar dari rongga dada, tahu!" Protes Koganei hanya dianggap angin lalu, saat semua mata tertuju pada satu tempat dimana telunjuk Miyuki mengarah.

Titik-titik cahaya redup terlihat berkelip di antara helai ilalang yang tumbuh meliar di tepi sungai. Mereka bagaikan sinyal lampu kapal pada gelap malam, atau serupa ornamen mungil pada dahan-dahan pohon terang.

Cantik, sekaligus penuh misteri.

"Whoaaa! Kunang-kunang!"

Bukan masalah bersikap sedikit norak, karena pemandangan semacam ini memang tidak pernah mereka jumpai di keseharian kota.

"Kunang-kunang?" Tetsuya baru saja menghabiskan potongan ikan bakar kedua, ketika seruan heboh para anggota klub membuat ia berhenti meneguk air mineral dalam pegangan tangan.

"Mereka memang kadang muncul di musim panas," sambar Izuki santai sambil meringis. "Tahun lalu juga ada, dan reaksi mereka benar-benar sama! Kagum boleh, norak jangan, ah!" Si pemuda berambut eboni berkata penuh sindir begitu, pasti karena dia tidak ikut berlari heboh demi melihat kumpulan serangga menyala. Meski dicap absurd dan abnormal, namun Izuki tetap punya sejumput wibawa tersisa.

"Tapi... sudah pasti mustahil mendapati kehadiran mereka di pusat kota, kan?" Mata biru muda memandang tanpa kedip pada kelip serupa bola api mungil yang timbul-tenggelam tak jauh dari lokasi duduknya. Seruan-seruan kagum masih membahana, berlatar gemericik arus sungai dan lidah api menjilati potongan kayu. "Mereka terlihat... magis."

"Mereka menghindari polusi cahaya dan pencemaran udara. Pusat kota terlalu gemerlap bagi kunang-kunang saat malam tiba." Seijuurou bisa melihat ketertarikan pada dua mata Tetsuya. "Hotaru adalah jelmaan jiwa prajurit yang gugur dalam perang. Mereka pertanda baik. Kalau kau menjumpai mereka, maka hal-hal baik akan menghampirimu."

"Dan kalau kau membunuh mereka..., maka bersiaplah menerima hal sebaliknya..." timpal Izuki penuh kesungguhan.

Tetsuya memberi satu angguk mengerti.

"Walau harus kuakui, terkadang aku ingin sekali menangkap seekor dan mengurung mereka dalam stoples kaca. Huh, bukankah itu bakalan instagenik sekali? Hahaha..."

Izuki terlambat menyadari raut menghakimi milik Tetsuya ataupun Seijuurou. Ia malah bertanya penuh keheranan saat keduanya beranjak dari duduk, dan lebih memilih untuk bergabung bersama para anggota klub yang masih bertingkah imbisil akibat kehadiran serangga-serangga bercahaya.

"Hei, kalian mau ke mana?"

Tetsuya menoleh sejenak untuk melayangkan satu komentar lumayan pedas. "Maaf, tapi aku tidak mau ikutan terkena hal buruk akibat niat jelekmu tadi, Izuki-senpai. Kalau mau sial, sial saja sendirian sana..."

Melihat tampang tertohok milik Izuki, tawa kecil Seijuurou malah terbit.

Kau ini memang benar-benar sesuatu, hmm, Tetsuya?

.

.

Mata Ryohei separuh membuka. Aroma dinding kayu mengembalikan ingatannya, kalau sekarang ini ia tengah berbaring dalam salah satu kabin di Mukaiyama. Seraya menguap, ia berusaha mengumpulkan kesadaran untuk menatap angka digital pada terang layar ponsel. Lima lewat lima belas pagi—dan apa yang dilakukan Tetsuya dengan pakaian rapi begitu, huh?

"Tetsuya? Ohayou, kau sudah bangun? Memang kita ada kegiatan apa sepagi ini?" Suaranya serak akibat kegiatan api unggun kemarin, dan itu cukup membuat kaget si pemuda berambut biru.

"Ah, ohayou senpai." Tetsuya sudah selesai mandi, dan kini sedang berusaha mengenakan hoodie abu-abu di balik kaus tipis bergaris. "Kita tidak ada kegiatan pagi ini." Tangannya segera merapikan anak-anak rambut yang mencuat setelah ia berhasil berpakaian lengkap. "Aku hanya memenuhi ajakan Seijuurou-kun untuk berjalan-jalan di sekitar sini."

Mulut Ryohei langsung membulat dengan seruan 'ooh' pelan. Ia menatap Koganei yang masih pulas terlelap—bonus dengkuran keras—di tingkat bawah bunk-bed. "Kalau begitu hati-hati, sarapan dulu kalau sempat. Naa, sepertinya ada bungkusan biskuit di tasku, kau bisa bawa itu jika mau... hoahmm..."

Tetsuya tersenyum mendapati kebaikan hati Ryohei di pagi hari. "Terima kasih. Aku pasti akan sarapan nanti." Setelah ransel ia gendong di punggung, penutup hoodie terpasang untuk melindungi kepala. "Aku berangkat dulu."

Selimut tipis ditarik lagi sampai dagu, Ryohei membiarkan tubuhnya nyaman melesaki empuk futon. "Ya, selamat bersenang-senang..."

.

Mereka janji bertemu di dekat gerbang utama Tsubame pukul setengah enam. Sosok Seijuurou ternyata sudah berdiri di sana, lengkap dengan ransel dan topi baseball yang menutupi helai-helai rambut. Langit di atas kepala masih kelabu, garis-garis emas cahaya baru mau mulai menyoroti bumi dari balik perbukitan. Tetsuya merasakan silau dan hangat ketika kaki-kakinya melangkah mendekati Seijuurou.

"Maaf, apa aku terlambat dari janji?"

Gelengan Seijuurou membuat Tetsuya sedikit lega. "Ini belum masuk waktu yang kita janjikan." Senyum pemuda itu membuatnya, entah kenapa, merasakan nyaman tak terkira. "Kau sudah sarapan?"

Ia gantian menggeleng lambat. "Tapi aku punya biskuit gandum dan air mineral di ransel."

"Ambil ini." Di tangan Seijuurou terdapat dua kemasan plastik, salah satu disodorkan ke arah Tetsuya. Ada masing-masing dua tangkup roti isi pada tiap kemasan. "Obaasan—juru masak kafetaria berbaik hati membuatkan kita sarapan sederhana, sewaktu beliau berpapasan denganku tadi."

Para staff tengah sibuk mengurusi kiriman bahan pangan dari petani lokal, saat mereka bertemu Seijuurou dekat bangunan utama. Setelah mengetahui tujuan sang tuan muda bangun sepagi ini, salah satu staff kafetaria menawarkan untuk membuatkannya sarapan sebelum berangkat 'berpetualang'. Seijuurou sempat menolak, namun terus didesak. Dan alhasil ia berakhir dengan dua kemasan bekal berisi sandwich telur sebagai menu sarapan mendadak.

"Terima kasih. Sepertinya lezat."

"Juru masak kami adalah yang terbaik di seantero bumi." Seijuurou berkata setengah bercanda, dan bergegas masuk mode pemandu untuk menelusuri lahan natural Tsubame di luar area berkemah. Ia berhenti sejenak, lalu menatap si teman seperjalanan. "Apa kau sudah siap untuk menyatu dengan alam?"

Hanya determinasi yang berhasil Seijuurou tangkap dari pantulan jernih dua bola mata biru milik Tetsuya. "Ya!" Angguk mantap menjadi penanda kalau petualangan satu hari menjelajahi perbukitan Mukaiyama, bakalan membekas terus dalam ingatan mereka.

.

"Sansaitori(1) sebenarnya biasa dilakukan begitu musim semi tiba, karena tunas-tunas mulai bermunculan setelah musim dingin berakhir." Kalimat Seijuurou mengalun bersama langkah kaki menapaki tanah berumput di bawah kaki. "Pucuk pakis, rebung, atau asparagus liar akan bertumbuh subur di antara semak dan tanah gembur hutan. Kurasa beberapa tanaman masih akan ada sampai sekarang, tapi mungkin tidak terlalu banyak jenisnya."

Penjelasan barusan terdengar sangat menarik. Tetsuya sudah tidak sabar membayangkan keseruan menemukan bermacam jamur dan sayuran liar dengan tangan sendiri. Mungkin akan serupa permainan mencari telur paskah yang disembunyikan para orang dewasa, sewaktu ia duduk di taman kanak-kanak dulu.

Ada satu kepuasan batin terpenuhi saat kau berhasil menemukan apa yang telah susah-susah kau cari.

"Kita tidak akan masuk hutan terlalu jauh, tidak apa-apa 'kan kalau hanya sebatas menyusuri area yang sudah kuhapal rutenya?"

"Itu lebih dari cukup."

Satu rimbun semak menarik perhatian. Di bawah teduh kanopi hutan dan sejuk udara bebas polusi, mereka menemukan batang-batang mugwort(2) tumbuh subur membentuk koloni.

"Ini dapat dikonsumsi?" Jemari Tetsuya segera membelai helai-helai daun hijau yang masih basah terkena tetesan embun pagi.

"Ya, ini mugwort." Posisi berjongkok Tetsuya segera ditiru, Seijuurou melakukan analisis lebih lanjut mengenai tanaman di hadapan keduanya. "Kau bisa menggoreng mereka untuk dijadikan tempura, atau mengambil ekstraknya sebagai bahan pewarna hijau alami dari kusa mochi." Beberapa tangkai dipetik, lalu segera mendekam manis dalam tas kain yang Seijuurou bawa serta.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak jenis sayuran liar mereka temukan. Seijuurou dengan sabar menanggapi setiap pertanyaan Tetsuya, sekaligus memberikan sedikit info tentang apa saja sayuran liar yang layak konsumsi.

"Lihat, apa itu hiratake(3)? Atau spesies jamur beracun?" Tetsuya baru saja memetik pucuk-pucuk pakis raksasa, sebelum perhatiannya terfokus pada batang pohon roboh tak jauh dari tempat mereka berada. Sekumpulan jamur tumbuh membentuk klaster di antara lekuk kulit pohon yang perlahan mengalami dekomposisi.

"Ini bukan jamur beracun." Seijuurou melangkah mendekati batang rebah pohon mati tersebut. "Memang mirip, tapi payung mereka lebih lebar dan berwarna lebih gelap. Ini maitake." Ia memetik sekelompok besar jamur tadi, lalu menggabungkannya dengan hasil foraging mereka yang lain. "Nah, kudengar dari Izuki, nanti malam kalian masih akan menggelar pesta api unggun. Kau bisa memanggang mereka di atas bara sebagai teman makan malam."

Tetsuya ikut memetik segenggam penuh jamur. "Umh, padahal tadinya aku berharap akan menemukan matsutake di sini..."

Tawa pelan Seijuurou menjadi jawaban. "Matsutake tumbuh subur saat musim gugur. Lagipula, tidak semua hutan pinus memilikinya. Sebagai jamur, spesies mereka memang tergolong sangat pemilih~"

Gaduh gemeresak dedaunan membuat keduanya memalingkan kepala bersamaan. Ranting-ranting pohon di arah timur bergoyang hebat seolah baru saja terkena badai. Tapi anehnya, sama sekali tidak ada angin yang bertiup barusan.

Belum sempat bersuara, ia keburu dibuat heran oleh gelagat aneh Seijuurou. Pemuda itu tiba-tiba secepat kilat berdiri di hadapannya dengan posisi siap melindungi. Sebelah tangan terjulur untuk mencegah Tetsuya melangkah maju. Jadi, Tetsuya hanya bisa diam dan menuruti keinginan tersirat dari Seijuurou.

Yang barusan itu, apa?

Tetsuya berpikir kalau hal tadi adalah perbuatan binatang. Mungkin burung-burung liar menjadi penyebabnya. Mereka bisa saja terbang rendah menabraki ranting hingga menimbulkan keributan.

"Maafkan aku, Tetsuya." Suara Seijuurou terdengar rendah di telinga, rahangnya mengeras seakan menahan emosi. Ia menoleh sejenak, dan Tetsuya mendapati kalau tatapan sang Akashi muda terasa sangat berbeda. Tengkuknya meremang oleh sergapan rasa dingin tak kasat mata. Pupil sewarna emas itu meruncing di bawah minimalis penerangan yang terpayungi rimbun kanopi dedaunan. "Kegiatan kita sepertinya harus berhenti sampai sini dulu." Senyum memang mengulas di bibir Seijuurou, namun terkesan tidak biasa. Tetsuya nyaris tidak mengenali siapa pemuda yang sejak tadi terus ada bersamanya ini.

Dia memang Akashi Seijuurou, tapi seperti bukan.

A-apa ini? Kenapa mendadak ia merasa takut dan 'excited' di saat bersamaan? Seakan-akan mimpi aneh Tetsuya kembali terulang, diiringi derasnya adrenalin mengaliri pembuluh darah.

Jemari Tetsuya mengepal erat, seribu satu tanya berebutan menggenangi kepala. Ia masih tetap diam saat sebelah pergelangan tangannya diraih Seijuurou, bahkan ketika ia 'diseret' secara halus menjauh dari sana.

Apakah itu gurat kesal dan marah yang terlukis di wajah Seijuurou? Semacam perasaan tidak suka oleh sesuatu? Seijuurou terlihat seperti ingin menghabisi nyawa seseorang dengan aura hitam bak dewa kematian.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Tetsuya menoleh ke belakang. Ranting-ranting di sana masih saja bergerak perlahan, seolah-olah mereka hidup dan mengucapkan salam perpisahan.

.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut dari Seijuurou mengenai kejadian aneh tadi. Mereka berpisah di depan pintu kabin Tetsuya, setelah hampir dua jam berkeliling. Tetsuya juga tidak mau banyak bertanya, meski rasa penasaran terus saja membayangi. Sewaktu ucapan terima kasih terlontar dari mulut Tetsuya, sebuah usap ringan di kepala menjadi balasan.

'Istirahatlah.'

Kata itu menjadi penanda akhir kebersamaan mereka. Dan celotehan Koganei yang menanyakan kealpaan dirinya sejak pagi, membuat Tetsuya melupakan sejenak masalah di hutan tadi.

Kegiatan klub berjalan sesuai jadwal. Mereka mengunjungi salah satu perkebunan buah milik petani lokal, dan menjadi asisten amatir sehari untuk memanen ladang penuh semangka siap petik. Sekembalinya mereka ke bumi perkemahan, pesta api unggun digelar lagi menjelang malam. Tak disangka, Seijuurou datang sembari membawa tumpukan kotak berisi potongan rib eye dan daging has dalam.

Tetsuya tidak sempat berbincang empat mata dengan Seijuurou, karena anggota klub lain langsung menyerbu dan memuja namanya bagaikan dewa.

Pemuda itu masih berhutang satu penjelasan padanya.

.

Bunyi keretak bilah kayu termakan bara, mengiringi harum kerat-kerat daging matang terpanggang. Derai tawa dan canda menggema pada satu sudut bumi perkemahan yang jauh dari lokasi berkemah pengunjung lain. Pinggiran sungai dipilih sebagai titik temu untuk mengadakan pesta sederhana sebelum mereka kembali ke kota keesokan hari.

Botol-botol kola dan teh hijau dingin menjadi pendamping bertusuk-tusuk daging, jamur, dan bermacam sayur 'hasil berpetualang' di atas pemanggang. Malam masih sangatlah muda, karena bulan bulat baru mau menggantung di angkasa. Setelah perut terisi, mereka berencana untuk berendam di kolam air panas, atau ofuro kamar mandi saja kalau keadaan tidak memungkinkan.

Namun sepertinya keinginan itu terpaksa ditelan bulat-bulat, karena Izuki—sang ketua klub berkehendak lain.

"Kalian harus membubuhi stempel berbeda pola, pada tiga kotak kosong dalam selebaran yang kami beri." Satu contoh dibentangkan di hadapan para anggota klub. "Ada tiga lokasi tempat kami meletakkan stempel-stempel tersebut, tidak terlalu jauh. Kalian tinggal mengikuti petunjuk yang tertera di sana, misalkan di batang pohon, ataupun semak-semak di pinggir jalan. Ini sangat mudah, tapi ingat! Jangan keluar dari jalur jalanan beraspal, karena wilayah selain itu belum sempat kami susuri."

Seseorang mengangkat tangan untuk bertanya. "Apa kami bakal aman dari binatang buas?"

Para kakak tingkat menahan tawa. Izuki berpaling ke arah Seijuurou untuk meminta penjelasan. Pemuda yang ditanya malah asyik memperhatikan Tetsuya yang sedang bersusah payah melahap batang-batang asparagus berbumbu dari tusukan bambu.

"Area Tsubame aman dari binatang buas. Aku menjamin itu."

Para peserta mengeluarkan desah lega.

"Tapi tidak tahu juga, apa kalian akan aman dari gangguan supranatural semacam hantu atau makhluk-makhluk astral lain," lanjutnya kemudian dengan nada setengah bercanda.

Dan kalimat Seijuurou tadi tiba-tiba saja membuat mereka menahan hasrat untuk tidak membalik badan dan mengaku kalah di hadapan Izuki.

"Yang menyerah sebelum berusaha, akan dikenakan sanksi. Apa sanksinya? Kalau kalian ingin tahu, ba-ba-bam! Dia diharuskan membayar seluruh biaya bahan makanan yang baru saja kita lahap!" Yang benar saja! Daging sapi kualitas super ini berapa harganya!? Dua tanduk lancip muncul di antara rambut Izuki, tinggal tambahkan tombak mata tiga, dan voila, ini dia setan dari neraka! "Tapi kalau kalian berhasil, maka sanksi itu akan ditangguhkan. Setuju?"

Keluh kesah yjadi sambutan, namun mereka sudah tidak dapat menolak keputusan. Beruntung, saat melakukan misi demi mendapatkan stempel, mereka dinyatakan boleh berpasangan.

"Ingat sekali lagi, jangan keluar dari jalur beraspal, dan kabari kami lewat walkie-talkie jika kalian mengalami sesuatu—"

"—yang mengerikan."

Izuki meringis tanpa dosa setelah kalimat Miyuki ia potong dengan semena-mena. Pelototan sadis sang gadis hanya dianggap angin lalu, karena itu sudah menjadi menu sehari-hari baginya.

Sebuah senter dan walkie-talkie dibagikan pada dua peserta 'uji nyali' pertama. Kali ini berlaku larangan membawa ponsel. Izuki berkata kalau mereka tidak memasang jebakan untuk menakut-nakuti para adik tingkat. Cukup membubuhi stempel, lalu kembali kemari. Lima belas menit adalah estimasi waktu untuk melakukan semua itu.

.

"Duh, kenapa ini lebih seram dari yang kukira..."

Pantulan senter mencipta bulatan cahaya pada jalanan hitam beraspal di bawah langkah-langkah kaki. Pekat malam dan simfoni hutan benar-benar membuat ciut nyali Koganei yang cuma seujung jari. Di sebelahnya, Tetsuya menggenggam walkie-talkie seraya menatap berkeliling pada barisan pohon gelap dan rimbunan semak. Ia berusaha menemukan petunjuk demi menyelesaikan misi secepat mungkin. Seharian beraktivitas membuat tubuh Tetsuya letih, ia sangat butuh empuk kasur untuk sekedar merebahkan diri.

"Bukankah Koganei-kun bilang sendiri, kalau uji keberanian semacam ini sangatlah menyenangkan?"

"Ta-tapi aku hanya membayangkan, bukan menjalaninya dalam realita begini!" Siulan samar burung hantu membuat Koganei berjengit kaget. Telapak tangan yang berkeringat, menggenggam senter semakin erat. Berbagai pemikiran seperti 'bagaimana kalau senter ini mati akibat kehabisan daya baterai?' atau 'bagaimana kalau kita dikerjai oleh makhluk halus, lalu tak bisa kembali?' terus saja mengganggu fokus Koganei.

"Oh, kukira kau suka hal-hal semacam ini."

"Demi Tuhan, Tetsuya-chan... ayo kita selesaikan ini secepat mungkin! Aku sudah tidak tahan!"

Tak lama setelahnya, Koganei nyaris menjerit bahagia saat tanpa sengaja, cahaya senter (yang bergerak tak tentu arah) malah berhasil menyorot lokasi di mana stempel pertama berada. Sebuah poster dari karton jadi penanda, dan stempel bertinta merah milik klub diletakkan di bawah sebatang pohon cemara besar.

"Dapat satu!"

Tetsuya tersenyum tipis begitu desis bersemangat Koganei terlontar ke udara. "Masih ada dua lagi, ayo cepat kita cari..."

Perjalanan berlanjut dalam hening. Tidak ada obrolan, karena mulut Koganei terlalu sibuk berkomat-kamit merapal doa. Semakin jauh mereka masuk, suasana seakan sangat berbeda dengan keadaan di awal. Pepohonan terlihat semakin rapat, dan entah bagaimana, batang-batang kaku di sekitar mereka seolah mewujud jadi ratusan sosok tinggi besar berwajah seram. Dahan-dahan menjulur bak lengan super panjang berkuku tajam, sementara berisik daun bergesek terdengar bagai kikik jahat di telinga.

(Kadang, saat manusia dilanda cemas, otak malah merefleksi segala bentuk rasa takut itu untuk menjadi nyata. Baik secara visual maupun pendengaran.)

"Sebentar, hei..., kau dengar itu, Koganei-kun?" Langkah Tetsuya terhenti. Ia menatap ke belakang tanpa aba-aba. Kedua mata coba memindai pada kegelapan yang menyelubungi.

Tidak ada apapun di belakang mereka, kecuali warna hitam dan dengung samar tonggeret di kejauhan.

"De-dengar apa, huh?! Aku tidak mendengar apapun..."

Awan tipis berarak lambat menjauhi bulan bundar, sinar keperakannya sedikit memperluas radius pandang.

Tapi tetap saja nihil. Tidak ada yang aneh di sekeliling mereka.

"Kukira aku mendengar bunyi seperti... 'lompatan' di belakang kita..." Tetsuya tahu kalau ia sudah salah bicara, jika melihat raut Koganei sekarang. "Uhm, mungkin tadi itu hanya perasaanku."

Paras temannya mendadak pias. Bulir-bulir besar keringat berlomba menuruni sisi-sisi wajah tanpa terkendali. "Kau ini bicara apa, Tetsuya-chan?! Jangan bercanda untuk menakut-nakuti diriku, ah!" Dia bicara begitu, namun tubuh gemetar buru-buru menempel lekat di sebelah pemuda berambut biru.

Pura-pura tegar terkadang ada batasnya juga.

"Iya, mungkin aku salah dengar. Koganei-kun tidak perlu khawatir..." senyum menenangkan Tetsuya tetap tidak bisa mengembalikan kewarasan Koganei. Dia sudah terlanjur ketakutan setengah mati. "Ayo, umh, kita bergegas..."

Mereka melangkah seiring hampir tanpa jarak. Sebelah lengan Tetsuya digamit erat oleh Koganei, masih dengan tubuh gemetar dan bisikan doa terbata.

Tapi sungguh. Tetsuya benar-benar mendengar sesuatu tadi, tidak bohong. Tak masalah kalau hal tadi perbuatan hantu atau makhluk sejenisnya. Ia bisa mengatasi masalah semacam itu. Yang Tetsuya khawatirkan, bagaimana kalau suara barusan adalah ulah hewan liar? Atau manusia dengan niat jahat? Mereka tidak akan sanggup melawan dua pilihan terakhir.

Dan Tetsuya tetap percaya pada ucapan Seijuurou yang mengatakan kalau tempat ini bebas dari binatang buas. Ia percaya pada ucapan 'semua akan baik-baik saja' yang tadi dibisikkan Seijuurou sebelum ia pergi bersama Koganei memasuki area hutan.

"Tetsuya-chan, a-apa kita, uhh... kembali saja ya?" Tersendat, Koganei coba memberi usul, namun terdengar tidak begitu yakin. "Ta-tapi, aku tidak mau membayar tagihan makan malam kita! Duh, bagaimana ini?!"

"Kita bisa kembali sekarang, kalau Koganei-kun tidak sanggup lagi meneruskan. Aku akan bicara pada Izuki-senpai agar mereka memberikan keringanan hukuman untuk kita..."

Kedua mata Koganei nyaris basah karena terharu mendengar keputusan Tetsuya, dan pada akhirnya ia memberi angguk setuju untuk segera mengakhiri perjalanan.

Itu memang rencana semula.

Sampai sesuatu menghentikan mereka.

Angin kencang mendadak berembus di sekitar. Kali ini lebih intens, sampai-sampai penglihatan mereka terganggu. Tetsuya tidak sempat bersuara, bahkan ketika tubuhnya hampir terjungkal ke belakang.

"Koganei-kun!"

"Ya, Tuhan! Badai musim panas macam apa ini?! A-ayo cepat pergi dari sini, Tetsuya-chaaan!"

Di tengah kekacauan, jerit panik Koganei perlahan hilang dari pendengaran. Saat angin kencang tadi reda, mata Tetsuya langsung terbuka hanya untuk mendapati sosok Koganei lenyap tanpa jejak, meninggalkan ia sendirian di tengah kegelapan.

"Koganei-kun?!" Seruannya memantul pada sepi, dan Tetsuya terpaksa mengaku kalau kini ia diserang kecemasan tingkat tinggi. Pikirannya terbagi dua: ia cemas pada Koganei yang mendadak lenyap tanpa alat komunikasi, dan pada keadaannya sendiri yang tanpa penerangan apa-apa.

Oke, tenang dulu. Jangan panik, Tetsuya. Kau harus tenang.

Walkie talkie diguncang, ia bicara pelan seraya mengawasi keadaan sekitar. "Halo... Izuki-senpai...?" Hening, tidak ada balasan. Ah, kenapa mendadak alat ini jadi tidak berfungsi di saat-saat genting? Tetsuya berulangkali mengetuk atau mengguncang alat komunikasi tersebut, namun sama sekali tidak membuahkan hasil.

Bunyi gemerasak di antara semak tak jauh dari tempatnya berdiri, menyalakan alarm waspada di kepala. Mendadak ia merasakan ada sesuatu tengah mengawasi. Entah apa, Tetsuya tidak bisa menerka. Instingnya berseru agar ia segera lari menyelamatkan diri.

Satu-satunya cara adalah dengan kembali menelusuri jalan semula yang ia lalui, meski dengan satu resiko: Tetsuya bakal tersasar karena ia tidak memiliki sedikitpun sumber cahaya.

Ikuti saja alur jalan beraspal, dengan begitu mungkin ia akan menemukan rute pulang menuju tempat mereka berkumpul tadi. Ayolah, kau pasti bisa melakukan ini!

Dan dengan satu keputusan bulat, ia mulai berjalan memutar arah. Tetsuya harus segera meminta bantuan demi mencari keberadaan Koganei. Lebih beruntung lagi kalau pemuda itu ternyata sudah kembali terlebih dahulu bersama yang lain. Ia sungguh berharap demikian.

Sekelebat bayangan besar di hadapan, menghentikan langkah-langkah terburu. Suara rendah mirip geraman, membuat jantungnya nyaris melompati kurungan iga. Tetsuya memasang sikap siaga—ia siap menjadikan walkie-talkie di tangan sebagai senjata jika keadaan mendesaknya. Ia siap melawan, jika nyawanya memang terancam oleh bahaya.

Kedua mata biru Tetsuya membuka lebar, ia akui kalau dirinya kini benar-benar ketakutan, namun rasa penasaran yang tinggi ikut menikam di saat bersamaan.

Suara lompatan aneh yang tadi didengarnya kembali bergema. Ranting-ranting pohon di atas kepala mendadak beguncang keras, sebagian berjatuhan nyaris menimpanya. Tetsuya benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Ia segera berlari menuju sembarang arah ketika 'sesuatu, apapun itu' mulai melakukan agresi pertama.

Sial sekali, Tetsuya berpikir kalau ia bisa kembali tanpa gangguan, tapi ternyata tidak. Di sela napas terengah dan tungkai-tungkai yang tergores semak belukar, hanya ada satu nama melintasi pikiran.

Ia bahkan tidak sadar kalau langkahnya kini sudah tidak lagi menjejaki aspal.

Apakah ia akan mati di sini?

Tiba-tiba saja terdengar debam keras seperti sesuatu yang besar jatuh ke tanah dibarengi suara mirip auman hewan terluka. Samar, namun Tetsuya jelas-jelas mendengarnya. Ah, tidak ada waktu untuk peduli! Saat ini yang terpenting adalah pergi demi mengamankan diri...

Ia melihat celah besar di ujung hutan bagai pintu keluar. Semacam ketika kau berlari di lorong lalu menemukan cahaya di ujungnya. Tidak ada pepohonan di sana, hanya rimbunan semak, karena mungkin saja itu tanah lapang. Hatinya bersorak penuh suka cita. Semoga ia bisa bertemu orang lain dan segera meminta bantuan.

Tetsuya terus berlari tanpa melihat ke belakang lagi. Ia hampir mencapai akhir, ketika tiba-tiba saja sesuatu meremat erat bahu kanannya.

"Aaa!"

"Tetsuya! Tetsuya, ini aku!"

Eh, suara ini...

Begitu membalikkan tubuh, mata Tetsuya seolah kembali dihadapkan pada ilusi. Di depannya, Akashi Seijuurou sudah berdiri dengan tampang cemas dan napas terengah.

"Haahh, syukurlah kau baik-baik saja..."

Tetsuya mundur selangkah. "Sei, Seijuurou-kun?! Ba-bagaimana bisa~aakh..."

Belum sempat kalimat tadi terangkai sempurna, tubuh Tetsuya mendadak hilang keseimbangan lalu terhuyung ke belakang. Pijakan kakinya seolah lepas dari bumi bersamaan dengan runtuhan kerikil yang berjatuhan. Ia pasrah sewaktu gravitasi menariknya melewati rimbunan semak di tepian jurang.

Hanya langit hitam dan bulan perak yang tertangkap penglihatan, ketika ringan ia rasakan. Juga teriakan lantang Seijuurou menyerukan nama Tetsuya di antara sakit akibat benturan.

Apakah ia benar-benar akan mati kali ini?

TBC~

.

.

1. Sansaitori: Foraging, atau kegiatan mencari bahan makanan (semacam sayuran, buah, atau jamur liar.)

2. Mugwort: tanaman yang memiliki banyak manfaat (penjelasan yang tidak berfaedah -_-)

3. Hiratake: jamur tiram (maitake dan matsutake juga jenis jamur). Semuanya layak konsumsi kok...

.

A/N: Hola! Lagi-lagi hanya maaf yang bisa terucap atas ngaretnya fic satu ini (ada yang masih mau baca? Semoga masih ada...) Huhuhu, karena kemarin-kemarin lagi liburan, jadi nulisnya lancar... Semoga chapter-chapter depan makin cepat publish-nya *finger crossed* Saya nggak janji, tapi semoga saja... ^_^ Hasta lavista en ciao!