Chapter 7
Seminggu setelah kejadian Aoki dan Yui, suasana kembali tenang seperti biasa. Bekas luka Taichi dan Aoki pun sudah sembuh walaupun mereka harus meliburkan diri selama 2 hari, akhirnya tidak ada masalah lagi. Tapi, fenomena ini masih akan terus berlangsung sampai saat waktunya berakhir.. saatnya? Tapi kapan?
"hah.." Shino menghela nafas, tanpa disadar dia dihampiri oleh seseorang.
"kenapa kau Shino? Daritadi kerjaanmu menghela nafas saja.. daripada kau tidak ada kerjaan, lebih baik kau membantuku menyelesaikan tugas jurnalku"
"heeehh.. aku juga sibuk karena tugas clubku dan sekarang aku sedang memikirkan apa topic yang tepat, jadi aku tidak bisa membantumu"
"souka.. akhir – akhir ini kau terlihat tidak semangat, apa terjadi sesuatu?"
"tidak.. tidak ada apa – apa"
Sebenarnya pikiranku selalu saja tertuju ke fenomena itu, aku juga tidak bisa konsentrasi. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya tapi kalau aku lakukan pasti tiba – tiba aku mendengar suara di kepalaku layaknya kalau fenomena itu memperingatkanku untuk tidak melupakannya.
"haaahhh.."
"kau menghela nafas lagi Enjouji" Chihiro datang menghampiriku dan menanyakan keadaanku.
"aku tidak apa – apa, melainkan aku senang karena kemarin akhirnya Yui-senpai dan Aoki-senpai bisa kembali bersama"
"hem.. aku juga terkejut mereka bisa melakukannya. Kalau aku, pasti aku langsung menyerah dan melakukan hal yang sama seperti Aoki-san"
"Chihiro-kun?"
"ah tidak.. aku tidak berpikiran untuk keluar dari CRC, cuma saja aku sangat kagum dengan para senpai di CRC mereka bisa melalui semua ini"
"mungkin itu karena fenomena yang mereka alami selama ini. Mereka juga mempunyai hubungan pertemanan yang sangat kuat"
"benar juga. Ngomong – ngomong apa kau masih ingat pendengaran masa depan yang diberitahu Aoki-san?" Tanyanya.
"iya aku ingat"
FLASHBACK
lusa kemarin setelah perkelahian Aoki dengan Taichi, Inaba langsung meminta Aoki untuk menjelaskan semuanya tanpa melihat keadaan Taichi dan Aoki yang sudah babak belur, oleh karena itu mereka berbicara di UKS sambil mengobati luka mereka berdua.
"sejak aku melakukan hal "itu" pada Yui, besoknya aku langsung didatangi oleh Fuuzen Kazura, dia berkata untuk tidak bersembunyi apalagi melarikan diri, dan dia mengatakan hal itu juga.."
~flashback antara Aoki dan Fuuzen Kazura~
"Aoki-san.. jangan terus mengurung diri di kamar, jika kau seperti ini.. itu akan mengurangi ketertarikanku padamu" ujar Fuuzen Kazura.
"mengurangi ketertarikanmu? Heh.. malahan aku senang jika kau tidak menggangguku lagi. Lagipula kenapa aku harus menuruti perkataanmu?"
"aahh~ kenapa yah? Mungkin karena Aoki-san salah satu dari anggota CRC"
"apa maksudmu? Jika aku ada di CRC, aku harus menuruti perkataanmu? Siapa kau? Kau tidak perlu menentukan dimana aku harus berada!"
"ara~ baru kali ini aku mendengar Aoki-san berteriak seperti itu.. apa terjadi sesuatu? Tumben sekali kau memperlihatkan emosimu itu. Ahh.. Jika kuingat kembali, kau melakukan sesuatu kepada Kiriyama-san dan itu membuat perasaanmu menjolak tinggi, ya kan?" Aoki menggertakan giginya dan terus mengepal tangannya.
"kalau iya, kenapa?"
"Aoki-san.. apa kau mau pergi dari semua fenomena ini?" bisiknya.
"apa?" Aoki tidak terlalu mendengarnya.
"sekali lagi kutanya.. apa kau ingin sekali pergi dari fenomena ini?"
"kalau kau tanya seperti itu.. tentu saja aku ingin fenomenamu itu hilang dari kehidupanku"
"bukan itu.. yang kumaksud adalah hanya kau saja yang tidak akan menerima fenomena ini, bagaimana? Hanya ada satu cara" tawar Fuuzen Kazura.
"hanya aku saja.. ah! Jangan – jangan satu cara yang kau maksud itu aku harus keluar dari CRC?" Fuuzen Kazura tersenyum tipis.
"itu betul sekali~~ hebat kau bisa menanggapinya dengan cepat Aoki-san.. jadi apa kau mau melakukannya?" Aoki berdiam untuk sesaat dan kemudian hanya 2 kalimat yang dia lontarkan.
"tidak mau.." Fuuzen Kazura sedikit terkejut.
"bisa kau jelaskan kenapa kau tidak mau melakukannya?"
"aku tidak mau hanya aku seorang.. itu hanya membuatku seperti seorang pengecut dan ingin melarikan diri dari semua ini.. aku ingin semuanya bisa bebas dari fenomenamu!"
"kalau itu pasti ada caranya.." Aoki membulatkan matanya.
"ada caranya? Apa yang harus aku lakukan?" Aoki menelan ludah dan bersiap mendengarnya.
"caranya adalah melupakan semua kenangan yang kau alami selama semua fenomena ini terjadi dan tidak ikut campur dengan masalah CRC. Tentu saja, kau harus tetap keluar dari CRC"
"melupakan semuanya! Tidak mungkin bisa! Aku bukan robot yang bisa mengatur ulang ingatan seperti di manga!"
"tapi itu salah satu cara untuk menolong temanmu bebas dari fenomenaku. Aah~~ sepertinya waktuku sudah habis.. aku permisi pergi dulu, aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya, itu adalah keinginanmu bukan keinginanku. Kalau kau melakukannya, maka aku hanya pasrah dan membiarkan kalian bebas dari fenomenaku untuk selama – selamanya" Fuuzen Kazura berjalan ke arah pintu tapi terhenti dengan panggilan dari Aoki.
"apa itu benar? Apa kau akan memegang janjimu? Jika aku melakukannya?"
"tentu saja" akhirnya Fuuzen Kazura pergi meninggalkan Aoki sendiri di kamar, setelah Fuuzen Kazura telah pergi dari rumahnya Aoki terjatuh duduk dan menutup mukanya karena menahan tangis dan marah.
"tidak mungkin bisa.. karena di sana ada seseorang yang sangat berharga bagiku, aku tidak mungkin dengan gampang melupakannya. Apa yang harus aku lakukan, Yui? aku ingin melindungimu, aku ingin melindungi semuanya tapi cara ini terlalu menyakitkan, aku sangat takut untuk melupakannya.. aku.. aku.. aku.. aku.." setelah lama sekali Aoki terus berdiam disitu tanpa bergerak akhirnya Aoki membuka matanya yang sudah penuh dengan air mata.
"aku akan melakukannya"
~End of Flashback Aoki & Fuuzen Kazura~
Mereka semua menjadi hening mendengar cerita dari Aoki, sedangkan Yui menyenderkan dahinya di bahu Aoki.
"maafkan aku karena sudah melakukan ini semua tanpa memikirkan perasaan kalian" Aoki menunduk lesu.
"aku juga minta maaf karena sudah mengambil keputusan tanpa tahu apa tujuanmu" balas Taichi sembari diolesi alcohol oleh Inaba, spontan Taichi langsung menjerit kesakitan "ouch!".
"kami sudah salah sangka denganmu Aoki, maafkan kami" ujar Inaba.
"tidak perlu meminta maaf, sudah seharusnya kalian bersikap seperti itu"
"Aoki-senpai hebat, kau rela kehilangan seseorang yang beharga demi menghilangkan semua fenomenanya" ujar Shino.
"yang pasti aku sudah tau seluk beluk masalahnya.. sudah kuduga, semuanya berasal dari dia" ujar Inaba.
"hem.. bagaimana kalau kita akhiri pembicaraan kita disini? Aku merasa tidak enak dengan Taichi dan Aoki, mereka pasti merasa kesakitan sambil menunggu pembicaraan kita selesai, ya kan?" tanya Iori sambil mengedipkan mata.
"eh tapi aku tidak-" balas Taichi sampai dihentikan oleh Inaba.
"biarkan saja.. lagipula.. yang membawa – bawa perkelahian ini adalah kau Taichi!" seru Inaba dengan kesalnya, Taichi hanya menunduk.
"ah.. sudah waktunya aku untuk pergi.." ujar Chihiro melihat jam tangannya.
"apa kau ada keperluan di rumah?" tanya Iori.
"tidak, hari ini aku ada rencana untuk membeli peralatan karate dan beberapa handuk bersama para senpai.." ujar Chihiro.
"eh? Aku baru tahu.. bukannya itu pekerjaan manager yang mengurusnya, kenapa kau yang disuruh? Dan aku juga baru tau akan hal ini" pikir Yui.
"rencana ini mendadak tadi pagi, jadi hanya aku dan 2 senpai yang punya waktu luang untuk membelinya.. ah sudah yah, aku duluan pergi.. jaa ne" Chihiro langsung bergegas pergi meninggalkan mereka.
"sepertinya kita hentikan saja pembicaraannya, kita lanjutkan saja ketika kita semua lengkap, dan kalian berdua sepertinya harus meliburkan diri dari sekolah, kami berdua yang akan memberitahu para guru" Inaba dan Yui mengedipkan mata mereka dan Taichi serta Aoki hanya mengangguk setuju.
"hari ini mengejutkan sekali.. aku baru melihat Taichi-senpai semarah itu, rasanya berbeda sekali dengan sifatnya yang tenang, dan juga Chihiro.." Shino terpikir dengan jawaban Chihiro tadi
Aku bisa menghentikan mereka dengan karateku.. tapi aku tidak mau aku terlibat dengan perkelahian mereka
"apa maksudnya tidak mau terlibat? Dia selalu saja seperti itu" Shino mengembungkan pipinya seketika dia mendengar suara teriakan dari arah gang.
"HAH! KAU MENOLAK MENGUNDURKAN DIRI! MEMANG SIAPA KAU!? KAU HANYA DISURUH MELAKUKANNYA SAJA!" salah satu dari 2 pria tersebut meneriaki laki – laki di depan mereka, Shino menghampiri arah suara tersebut dan mengintip mereka dan seketika membulatkan matanya melihat laki – laki yang diteriakinya merupakan orang yang dikenalnya.
"Chihiro-kun?"
"karena aku disuruh makanya aku akan melakukan apa yang mereka perintahkan, aku tidak mungkin dengan gampang mengundurkan diri setelah semua latihan yang sudah aku tempuh.." Chihiro dengan tenang menolak perintah mereka.
"kau..! jangan sombong dulu" pria tersebut mengangkat kerahnya.
"Chi-Chihiro-kun!" Shino memanggilnya dengan tidak sadar.
"Enjouji.."
"cih! Kali ini kau lepas, tapi lain kali tidak akan aku maafkan, ayo!" pria itu mengajak temannya untuk pergi dari tempat itu dan melewati Shino sambil memperlihatkan tatapan dingin, setelah mereka pergi Shino langsung menghampiri Chihiro.
"Chihiro-kun.." Chihiro hanya diam kemudian dia memperlihatkan senyumannya pada Shino.
Di waktu yang sama Shino dan Chihiro duduk di bangku taman dekat sekolah, Chihiro menceritakan semuanya pada Shino.
"jadi kesimpulannya, kau ditipu oleh senpaimu untuk mencari perlengkapan karate, sebenarnya tujuannya untuk memaksamu mengundurkan diri dari olimpiade karate tingkat kota, kenapa mereka melakukannya? Itu terlalu jahat" seru Shino.
"aku juga tidak tau apa tujuan mereka membuatku mengundurkan diri dari olimpiade tapi yang aku ingat ketua memberikan kesempatan ini padaku karena ketua sudah kelas 3 dan tidak ada waktu untuk melakukan hal tersebut dan akhirnya diberikan padaku, sepertinya ada senpai yang tidak suka dengan perlakuan ketua, sehingga senpai ingin membuatku mengundurkan diri dan membuat dirinya menggantikanku pada olimpiade bulan depan" jelas Chihiro.
"hebat! Bulan depan yah.. pasti latihannya keras sekali yah hehehe" seru Shino.
"ya mulai minggu depan aku akan terus dilatih oleh para senpai.. jadi mungkin aku tidak akan sempat untuk kumpul CRC jadi sebisa mungkin aku akan membuat surat cuti selama pelatihan karateku pada Nagase-san"
"pasti Iori-senpai mengerti.. lagipula kau kan ketuanya, jadi kau tidak perlu memberikan surat padanya"
"iya juga yah haha" Shino sedikit tercengang melihat Chihiro tertawa dengan bebas, jarang sekali melihat senyumannya seperti itu.
"hah.. aku sangat kagum denganmu"
"denganku? Apanya?"
"kau bisa melakukan apa saja tanpa ada rasa bimbang dan juga rasa takut akan para senpaimu, aku saja.. melihat kau diteriaki tadi saja sudah membuatku takut dan gemetar, sedangkan kau.. kau terlihat tenang – tenang saja, itu yang aku sangat kagumi darimu" Shino tersenyum padanya, Chihiro hanya diam dan membalas senyumannya.
"sudah saatnya pulang, aku duluan yah Chihiro.." ujar Shino dan mendapat jawaban ya dari Chihiro lalu Shino langsung berlari ke arah halte bus. Sementara itu, di Chihiro, dia masih duduk dan memikirkan sesuatu, setelah beberapa menit dia langsung beranjak pergi dari tempat itu.
Keesokan paginya, sekitar jam 6 pagi Chihiro sudah berpakaian olahraga dan berlari memutari lapangan dan ini sudah kelima putaran dia lalui. Setelah selesai beberapa putaran dia berhenti dan tidak disangka seseorang menghampirinya dan mengadahkan minuman olahraga padanya.
"sepertinya kau berusaha keras yah?" tanya orang itu.
"Kiriyama-san.." ujarnya kepada Yui yang tersenyum padanya. Chihiro meminum minuman dari Yui dan kembali diam.
"kudengar kau mengikuti olimpiade karate antar kota bulan depan yah? Aku mendengarnya dari ketuamu"
"ah iya, Kiriyama-san? Sedang apa kau disini pagi – pagi sekali, kau latihan juga?" tanya Chihiro.
"iya, tujuanku aku ingin berlari sendiri disini sampai bel masuk tapi melihatmu sedang berlari lama sekali, aku jadi membeli minuman untukmu hehe" Chihiro tersenyum padanya.
"bagaimana perasaanmu? Sudah kembali seperti biasa?" tanya Chihiro menanyai hubungannya dengan Aoki.
"hem.. iya.. sudah kembali.. ahh.. aku jadi malu.." ujar Yui sedikit memerah.
"malu kenapa?"
"tentu saja malu! Aku melakukan hal yang tidak biasa, itu seperti bukan diriku sendiri!" seru Yui memegang pipinya yang mulai panas.
"ciuman?"
"hyaa! Jangan bertanya hal itu dengan muka seperti itu! Dan hentikan menggunakan ekspresi datarmu ketika mengatakan ciuman! Hyaa!" Yui tidak sadar meneriakinya, sontak menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan melirik kanan kiri jika ada orang yang mendengar teriakannya.
"hahh.. aku tidak suka kau melakukannya hal itu.. itu seperti kau mengejekku secara tidak langsung tau" ujar Yui mengembungkan pipinya, Chihiro hanya terkekeh kecil, dan dia kembali diam dan menghadapkan mukanya pada Yui.
"Kiriyama-san" panggilnya.
"hem? Apa?" tanya Yui sambil tersenyum padanya, Chihiro sontak memerah pipinya dan mengalihkan pandangannya.
"apa kau sangat menyukai Aoki-san?"
"ke-kenapa tiba – tiba kau bertanya seperti itu!? Kau mau meledekku lagi ya!?" seru Yui.
"tidak! Aku tidak meledekmu.. aku hanya penasaran saja" Chihiro memperlihatkan tatapan penasarannya kepada Yui. Yui menjadi diam dan dia kembali duduk dan melihat lurus ke depan.
"a-aku menyukainya" ujarnya sedikit memerah.
"seberapa banyak?"
"kenapa aku harus memberitahu sejauh itu!? Yang pasti aku sangat menyukainya.. jika tidak.. tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu kemarin" Chihiro menundukkan kepalanya dan terlihat sangat sedih sekali, Yui hanya mengerjapkan matanya berpikir apa yang sedang terjadi dengan Chihiro lalu Yui melihat ke jam tangannya.
"sebentar lagi masuk.. lebih baik kau segera mengganti bajumu kalau kau tidak mau terlambat" ujar Yui membangunkan dirinya lalu mengangkat Chihiro juga.
"sudah yah.." ketika Yui beranjak ingin pergi dari sana, Chihiro memanggilnya.
"aku sangat mengagumimu Kiriyama-san!" Yui menolehkan kepalanya dan terkejut.
"aku sangat mengagumimu, jadi.. bisa.. bisa.. kau melatihku setelah pulang sekolah!?" seru Chihiro dengan suara lantang sangat menutup matanya. Yui tersenyum padanya.
"tentu saja! Kita lihat saja nanti.." lalu Yui kembali meninggalkan Chihiro sendirian. Disana, Chihiro tersenyum dengan lega, tanpa sadar ada seseorang yang melihatnya.
Sepulang sekolah di ruang CRC mereka semua sudah berkumpul seperti biasa kecuali Chihiro.
"hah? dia tidak akan datang sampai olimpiade selesai?" tanya Inaba.
"hem.. jadwal di dojonya penuh dan dia banyak sekali latihan praktek bersama senpainya jadi dia tidak bisa menolaknya" ujar Shino, sementara itu Yui sedang membereskan tasnya dan memasukkan sesuatu ke dalamnya, Aoki hanya melihatnya saja.
"yosh! Aku izin pergi dulu yah semuanya"
"ka-kau mau kemana Yui? apa kau juga ada keperluan?" tanya Iori bingung.
"begitulah, tanpa disangka Chihiro memintaku untuk menemaninya berlatih untuk hari ini, dia memaksaku jadi aku juga tidak bisa mengecewakannya"
"Chihiro memaksamu? Kerasukan apa dia?" ujar Inaba sengaja meledeknya.
"aku ikut denganmu.. jika terjadi apa – apa, aku bisa membantumu melakukan sesuatu" pinta Aoki.
"aku hanya melatihnya karate, tidak ada hubungannya dengan Mirai Koe" ujar Yui menolaknya dengan pelan.
"tapi setidaknya aku ingin melihatmu Yui, aku tidak mau terjadi apa – apa denganmu!"
"sudah kubilang tidak apa – apa! Jangan – jangan kau takut aku digoda oleh para laki –laki di dojo?" ledek Yui dengan menyipitkan matanya.
"a-aku tidak bilang seperti itu, hanya saja-"
"AKHH! Berisik! Kalau seperti itu terus bisa – bisa kalian bertengkar lagi, aku juga ikut.." seru Inaba sambil menghentakkan jarinya di meja.
"kenapa kau juga ikut Inaba!?" seru Yui tidak percaya.
"lagian jika kalian berdua pergi hanya aku dan Iori yang disini. Lagipula, daritadi aku melihat Shino sedikit diam dan aku yakin sebentar lagi dia akan berkata 'a-aku juga ikut!', seperti itu.." ujar Inaba melihat Shino yang tidak bisa diam.
"aku tidak mengatakan itu Inaba-senpai!" seru Shino.
"yosh! Kalau begitu aku juga ikut! Aku ingin melihat Yui dan Chihi-kun berkarate di dojo!" seru Iori mengangkat tangannya ke atas.
"sudah diputuskan kita semua ikut kau ke dojo, tidak ada masalah kan?" tanya Inaba.
"haahh, terserah kalian saja.." ujar Yui menghela nafas panjang, tidak disadari Aoki menatap Inaba dan mengangkat jari jempol dan berbisik 'Good Job Inaba-chan!'. Telah diputuskan semuanya mengikuti Yui ke dojo. Tanpa disadari mereka melupakan seseorang yang belum datang ke ruang Klub.
"maaf aku terlambat, aku sedang melakukan tugas piket kelas, jadi.. are? Kenapa tidak ada siapa – siapa?" mereka telah melupakan Yaegashi Taichi yang daritadi tidak tersadari kehadirannya di ruang klub, dia hanya memiringkan kepalanya dan bertanya – tanya pada dirinya. Di saat itu juga di dalam dojo Chihiro sedang duduk terdiam sambil mengejamkan matanya dengan tenang, di saat keheningan terjadi dia mendengar suara yang dia kurang mengenalinya, tidak ada siapa – siapa disana jadi dia menyadari bahwa itu adalah Mirai Koe, setelah beberapa menit dia mendengar suara itu seketika mukanya sedikit terlihat pucat.
Apa yang telah dia dengar dari suara tersebut.
Apa itu kebaikan? Ataukah keburukan?
TO BE CONTINUE
