Chapter 7: Pergi (lagi)
Kagura masih memasang wajah tak percaya sambil menatap Soyo. Tangisnya seketika berhenti. "Kau yakin?"
"Aku yakin. Aku bahkan memotret mereka." Soyo mengeluarkan beberapa foto dari saku kimononya dan memperlihatkan foto itu pada Kagura.
"Astaga..."
Kagura melihat foto itu berkali-kali. Mata Kagura seakan berkunang-kunang, Kagura mengucek matanya dan melihat foto itu. Soyo menggendong Souchirou dan mengajaknya bermain.
"Aku benar-benar berdosa." lirih Kagura
"Apakah kau akan tetap pergi?"
"Aku akan pergi, membawa Souchirou-kun dan menjadi Alien Hunter seperti Papi."
"Jika demikian, kuharap aku bisa membantu."
"Kurasa aku akan pergi bersama Abuto, memaksa Kamui agar membawaku pergi."
"Jika yang lain mengetahui Souchirou-kun bagaimana? Lebih baik kau pergi bersamaku."
"Aku tidak bisa, jika kita pergi bersama pasti akan ada yang tahu. Lebih baik aku pergi sendiri saat tengah malam nanti."
"Benar juga. Aku akan menyewa pesawat yang akan membawamu pergi."
"Terimakasih Soyo-chan. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu."
"Sama-sama Kagura-chan, bukankah gunanya sahabat untuk membantu satu sama lain?"
Kagura memeluk Soyo sambil membersihkan air matanya. Rencana kepergiannya telah bulat, malam ini ia akan pergi dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya.
Gintoki merapatkan jaketnya. Udara dingin malam itu membuat Gintoki agak kesal, begitu pula Shinpachi. Si jones akut (:v) mengomel terus-menerus semenjak mereka kembali dari pabrik sabun. Ketika mereka sampai di Yorozuya Gin-chan, mereka dikagetkan oleh kemunculan Kagura yang sedang menggendong seorang bayi.
"Kagura-chan!" seru Shinpachi kaget. Gintoki hanya melihat Souchirou dengan mata ikan matinya.
"Gin-chan, perkenalkan, ini cucumu. Souchirou-kun."
Kagura berusaha untuk tersenyum, dan gagal karena air matanya tumpah. Gintoki mengambil Souchirou dari gendongan Kagura.
"Maafkan aku Gin-chan." Kagura menangis sambil berlutut. Shinpachi ikut sedih melihat keadaan Kagura.
"Ternyata si bego itu bisa juga membuat anak yang tampan. Jangan menangis Kagura, aku tidak marah."
Gintoki mengelus punggung Kagura yang masih menangis. Souchirou tersenyum pada Gintoki, membuat si kakek ikut tersenyum. Gintoki tidak marah pada Kagura, hanya saja ia sebenarnya merasa kecewa karena Kagura tidak pernah memberitahu tentang Souchirou.
Shinpachi menyeduhkan teh hangat untuk kedua orang yang sedang berbicara di ruang tamu itu. Gintoki masih menggendong Souchirou dan bertanya pada Kagura. Shinpachi membawa teh hangat buatannya ke ruang tamu dan duduk di samping Gintoki.
"Lucunya!" kata Shinpachi, di elusnya pipi Souchirou.
"Kagura saja sudah punya anak, kau kapan menyusul Shinpachi? Apakah kau akan terus-menerus menjomblo?"
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu kakek! Kapan kau akan melamar Tsukky?!"
Souchirou menangis, membuat Gintoki dan Shinpachi kaget. Kagura segera mengambil Souchirou dan membawanya menuju kamar.
"Jangan ribut! kalau tidak aku akan membunuh kalian!" desis Kagura penuh ancaman sebelum masuk ke kamarnya dan menyusui Souchirou.
Gintoki meminum teh hangat buatan Shinpachi. Teringat akan tatapan Kagura padanya. Kagura tersenyum tetapi matanya tidak. Tatapan itu persis dengan tatapan Kagura dulu, saat Kagura akan kabur.
"Apakah kau akan pulang malam ini Pattsan?"
"Tidak. Besok adalah jadwal Aneue untuk memasak."
Gintoki mengendikkan bahunya, mungkin malam ini Shinpachi bisa berguna.
Jam menunjukkan pukul 1 malam. Kagura menggeser pintu kamarnya dengan hati-hati sambil melihat ke sekeliling ruangan. Sepi dan gelap, persis seperti pikirannya. Kagura melangkah dengan hati-hati menuju meja kerja Gintoki dan menaruh sebuah surat. Kagura terdiam ketika melihat Gintoki dan Shinpachi yang tertidur di sofa. Mereka tahu Kagura akan pergi dan berusaha mencegahnya. Kagura mengusap air matanya, memantapkan hatinya dan melangkah keluar dari Yorozuya Gin-chan.
Soyo merasa Déjà vu, melihat Kagura turun perlahan dari tangga itu. Dulu, Kagura hanya membawa tas. Sekarang, Kagura menggendong seorang bayi. Langkah Kagura begitu teguh, tidak bisa di hentikan. Soyo membuka pintu mobilnya dan menyambut Kagura.
"Kau siap? Apakah kau tidak akan menyesal?"
"Aku siap, apapun risikonya akan tetap kulakukan."
Mata biru itu begitu jernih, penuh dengan ambisi. Soyo tahu, bahkan ia sekalipun tidak akan bisa menghentikan Kagura.
Sougo membuka kedua matanya. Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi malam ini. Mengambil mantelnya, Sougo berjalan keluar dari rumah itu dan pergi kemana kakinya menuntun. Yorozuya Gin-chan.
Shinpachi segera berteriak membangunkan Gintoki. Ia baru saja membaca surat dari Kagura dan sangat panik. Gintoki bangun dan membaca surat dari Kagura.
Kepada Gin-chan dan Shinpachi,
Maaf karena selama ini aku mengganggu kalian, membuat kalian kerepotan. Saat kalian membaca ini, mungkin aku sudah berada dalam pesawat dan menuju hidup baru. Sampaikan salam perpisahanku untuk semua orang. Dan jangan beritahu siapapun tentang Souchirou-kun, kalau tidak aku akan langsung datang dan menendang bokong kalian hingga keluar angkasa. Terakhir, jangan cari aku.
Kagura (yang selalu menyanyangi kalian)
PS: Gin-chan aku membawa uang tabunganmu dan figuran Ketsuno Ana milikmu. Mungkin bisa kujual.
Gintoki menjerit membaca surat Kagura, diambilnya kunci vespa dan mantel lalu keluar. Ia berpapasan dengan Sougo.
"Lho? Okita-san? Sedang apa?" tanya Shinpachi.
"Bocah, kalian berdua cepat bantu aku mencari Kagura."
"China? Ada apa dengannya?"
"Dia kabur. Sekarang cepat bantu aku mencarinya. Mungkin ia dalam perjalanan ke Edo Tower."
Pergilah ketiga orang itu menggunakan vespa Gintoki. Untung malam sepi, jadi Gintoki bisa kebut-kebutan, jika tidak maka akan terjadi banyak kecelakaan, walaupun Sougo pasti akan menutup mata tentang hal itu.
Sougo berlari ke Edo Tower dan melihat Soyo yang merenung sambil melihat keluar jendela. Perasaan Sougo berubah tidak enak.
"Hime-sama, dimana China?!" seru Sougo, Soyo hanya menggeleng.
"Dia sudah pergi. Relakan dia Okita-san." jantung Sougo terasa ditusuk ribuan pedang. Matanya menatap kosong.
Kagura menutup mulutnya, menangis dalam diam. Ia melihat Sougo yang terduduk dan tampak terpukul. Souchirou menggeliat tidak tenang di pelukan Kagura, seperti tahu bahwa ibu dan ayahnya tengah bersedih. Kagura menenangkan Souchirou dan mencari pesawat yang telah disewa oleh Soyo.
'Selamat tinggal semua. Mami, aku akan kembali. Tunggu aku.' batin Kagura.
Author's Note: akhirnya, tinggal 1 chapter lagi! *tepuk tangan*. Sorry banget kalo selama ini Author jarang update, maklum penyakit writer's block datang mulu. See you~
