Chapter 7

Reza Point of view

One of my bigest event in my life will happen very soon. Gue tidak pernah membayangkan akan jadi salah satu sosok pemuda inspiratif dan harus speech di depan banyak orang about how i started my business and also the tips about being young succesful leader. I feel a little bit nervous, gue harus sadar kalo ini bukan speech didepan client atau staf di perusahaan gue atau bukan juga bicara untuk presentasi didepan kelas seperti jaman gue kuliah di Harvard. Tonight is different, selain menjadi pembicara untuk menginspirasi semua orang, malam ini juga i am Reza Abhirama Putra Rahadi akan mendapatkan kesempatan emas juga untuk sharing tentang bisnis gue yang dimana bisa gue jadiin media promosi. Menurut salah satu ahli marketing, saat memulai bisnis baru maka hanya ada dua kemungkinan, gagal atau berhasil Semua tergantung pada "how you promote your product".

Huufffttt i hope everything will be fine tonight.

1 jam sebelum acara, gue siap-siap dikamar hotel tempat gue menginap. Malam ini gue memakai kemeja yang sudah disiapkan Mbak Ghea asisten rumah tangga gue di Jakarta. Fyi, gue gak pernah packing sendiri, gue percayakan semuanya pada si Mbak untuk mengurus semua perlengkapan gue.

Gue mengambil dasi yang si Mbak siapkan didalam koper gue.

"What! Gold? Gila nih si Mbak. Udah gue bilang dasinya jangan yang warnanya mencolok, arggghh" gue menggerutu menahan kekesalan sambil berdiri di depan kaca, memperhatikan dan membayangkan jika dasi ini terpasang di leher gue. Ok. Its fine. Gold is fine. Gue kira masalah gue udah selesai, but Man Si mbak lupa untuk mengikat dasi tersebut, ya dia packing dasi dalam keadaan masih belum terbentuk. Mati lah gue! Gue gak bisa masang ini dasi! Silakan tertawa. Yap gue, lulusan Harvard, tapi gue akui gue gak bisa masang dasi manual.

Gue pun segera menelepon si mbak, namun sialnya ia tak kunjung mengangkat telepon. Gue hubungi Mama dan Chelsea mereka juga not available, pastilah sedang sibuk shopping atau apalah itu gue ga ngerti para wanita.

Gue telepon Arya, also not available karena dia sedang cuti. Gue telepon Firman, of course he is also not available, lagi siap2 mau manggung juga. And the last Deva, gue berharap dia angkat telepon gue.. tapi sesuai ekspektasi, percuma telepon dia.. dia pasti sibuk dengan cewe-cewek nya itu. Gue panik, Gue gak mungkin datang ke acara penting ini tanpa dasi. Beli baru yang bentuk butterfly juga nggak sempat. Aaaahhh what should i do?

"Ini gimana dong! Aaargghhhh... Ah!" gue melirik jam dinding , gue punya sisa waktu 30 menit lagi dan Gue masih dsini dengan masalah dasi? Damn!

Gue mencoba meng obrak abrik lagi koper gue berharap ada alternatif lain yg bisa gue pake selain dasi tadi. And then gue menemukan kain ikat, dari salah satu product lokal favorit gue, yaitu "sejauh mata memandang" ini lebih oke karena makenya ga seribet make dasi manual

my problem is solved. Di depan kaca Gue berdiri untuk melihat final look gue. "Hmmmm... Is not that bad reza"

Kalo inget kejadian seperti ini, gue jd berfikir coba aja gue dengerin orang tua gue untuk cpet punya istri, ya pasti urusannya gak akan ribet seperti sekarang. Dan tiap ada acara gini bukan si Mbak lagi yang pilihin baju, tapi orang yang spesial. Orang yang akan gue sebut istri. mamanya anak anak gue. But, marriage is something very important for me, gue ngga bisa asal menikah karena ingin ada yang mengurus. Gue bakal menikah sama wanita pilihan hati gue, yang ketika melihatnya hati gue langsung berkata she is the One, urusan nanti dia mengurusi keperluan gue, itu bonusnya hhaaa.

Setibanya di tempat acara, gue segera menuju backstage, sekali lagi gue datang dengan terburu-buru. Kemudian tiba-tiba...

"BRUKKKKK!"

Gue lagi lagi bertabrakan. dan lagi lagi dengan seseorang wanita. Wanita yang menabrak gue tubuhnya limbung dan gue dengan refleks menahan tubuhnya yang hampir terjatuh.

"Owww sorry" kata-kata pertama yang kudengar dari mulutnya, dia sedikit mundur lalu merapikan bajunya, Gue bisa melihat wajahnya walaupun dia sedang menunduk, berlahan dia mulai menegakan wajahnya, mata kita seketika bertemu.. oh GOD she is so beutiful, i can't stop starring at her face. The most beautiful girl i ever seen. Her body is soft but strong, and fitted in my arm imedietly.

Seketika "My Muse" langsung buru-buru dan berlari menuju ke belakang panggung acara.

"Its oke. I am sorry too" teriak gue dari jauh.

Gue masih melihat dia sampai dia tak terlihat dari pandangan gue, and i made a mental note! I will find her as soon as this party end.

Finally masuk ke acara inti dan skrg gue menunggu dipanggil oleh MC, honestly i am so nervous, gue merasa setelah malam ini beban dan tanggung jawab gue semakin besar, gue harus lebih baik lagi dalam karir gue kedepannya dan terus menjadi contoh yang baik bagi generasi muda.

Then here it is, they call my name "Reza Abhirama Putra Rahadi", lalu gue berjalan ke atas panggung dengan adrenalin yang memuncak karena nervous. Gue coba meyakinkan dalam hati, "oke Rez you can do it, of course you can do it! oke Skrng lu tenang, take a breath, inhale... exhale"

Alhamdulillah semua yang gue takutin tidak terjadi, speech gue kelar dan lancar,.. Gue merasa bersyukur banget karena semua orang disana bertepuk tangan dan kagum serta yang paling penting mereka tertarik dengan apa yg gue paparkan. Thanks god

Kemudian tiba2 gue teringat dengan wanita tadi, My Muse. Ternyata dia adalah salah satu pengisi acara di pentas teater. Aku menyaksikan penampilannya di awal acara, she is So excellent, and very talented artis, i am amazed.

Gue mulai mencari sosok yang menghantui pikiran gue selama acara ini berlangsung, And there she is

Tanpa pikir panjang gue langsung berjalan menghampirinya, namun tiba-tiba seorang pria dengan sebuket bunga menghampirinya terlebih dahulu.

"Of course she have a boy friend"

I don't know, i am so jealous melihat lelaki itu memberikan bunga kepada gadis impian gue, melihat dia tersipu malu sambil mencium bunga yang kini ada ditangannya. Not my lucky day, Poor me. Gue harap gue masih punya kesempatan untuk mengenal dia dilain waktu, because i swear, i can't forget her beautiful face, my Muse...

Ponsel gue kemudian bergetar, ada satu pesan dari Deva

[Whatsapp] Deva : "Bro kenapa? Sorry nih gue lgi brg cewe gue biasalah, Btw gue tdi gak sengaja ketemu Tara. She looks good. Salam katanya buat lo"

Gue menghela nafas membaca nama Tara, Entah mengapa gue merasa pesan si Deva biasa saja.

Gue malah masih asik melirik ke arah wanita impian gue gue yang asik ngobrol dengan pria turunan Bule di pojok panggung sana.

(Ada pesan masuk lagi.)

[Whatsapp] Deva : "Bro, tadi kata Tara jaga kesehatan, dan katanya kalo lo udah di Jakarta nanti dia mau ketemu, soalnya lo ngga pernah angkat telpon dia"

What? Tara what you do you want from me? Selalu bertingkah seolah-olah dia masih mengharapkan gue, dan pada akhirnya, who knows?