Hallo semua.

Maaf sudah lama gak update ini FF. Saya sempetin diri untuk update FF ini. Jujur saja ke sini –sini feel FF ini sudah agak kurang, karena menurut ku FF ini terlalu sad dan baper sangat. Tapi aku juga kagak mau ini FF gantung tidak ada lanjutan. Jadi tetap lanjut, walau sepertinya akan sedikit melenceng dari cerita yang dulu aku konsepkan. Semoga reader menyukainya.

Sebagai saran saya harap reader untuk mendengar lagu yang judulnya Jì Shì Běn by Kelly Chen. Lagu mandarin ini sangat cocok dengan apa yang ada di chapter ini dan beberapa chapter nanti. Saya baru dapat lagu ini juga baru (walau sebenarnya ini masih lagu lama), dan pas aku dapat artinya. Ngena banget di hati. Lalu tiba-tiba ide liar ini muncul (jujur gak ada maksud akan ada scene ini). Jadi bisa dibilang scene ini adalah scene yang tiba-tiba muncul.

Banyak dari reader berharap NH bakal balik lagi, jujur ini semua masih pertimbangan soalnya gaya penulisan ku sekarang terasa agak beda, dan kadang kepikiran untuk pertimbangan yang lain endingnya kaya apa. (Lagi pula saya gak mungkin kasih tahu end nya kaya apa dong).

Geu Saram

Chapter 7

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OOC, AU, Dramatis, maybe crack pair, typoo, EYD kurang baik, dll.

Pairing: NaruHina, NaruShion, SasuHina, YahikoKonan, MinaKushi, dll.

OoO

"Maafkan aku yang tidak menepati janji padamu. Aku tahu, aku salah. Tetapi, inilah yang harus aku lakukan tak peduli seperti apa kau akan menatapku. Bagiku inilah yang terbaik untukmu

.

.

.

Naruto-kun"

OoO

"Hentikan ini semua," kata Shion lirih. Dia sudah tak tahan dengan apa yang dia lihat saat ini. Kedua orang tua Naruto yang berlutut padanya. Meminta Shion untuk menceritakan masa lalu anak mereka sampai seperti ini.

"Paman, Bibi," panggil Shion pada kedua orang tua itu. "Kumohon berdirilah."

Minato dan Kushina menatap Shion. Hati mereka bergejolak, apa Shion akan memberitahukan kenyataan tentang anak mereka.

"Aku akan beritahu semuanya yang ingin paman dan bibi tahu. Tapi kumohon duduk lah. Jangan lakukan ini"

OoO

Kedua suami istri Namikaze itu sudah duduk kembali ke tempat sofa yang sempat mereka duduki. Sedangkan Shion sendiri, menyiapkan hatinya untuk menceritakannya. Kejadian di masa lalu yang belum tentu diketahui oleh kedua orang tua itu.

"Sebelumnya paman dan bibi harus berjanji padaku agar tak memberitahukan hal ini pada Naruto. Karena Naruto tidak ingin menceritakan pada kalian. Jika dia tahu, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan," jelas Shion.

"Kami paham Shion. Apa yang akan kau sampaikan ini tak akan kami sampaikan pada dia ataupun orang lain," balas Minato.

Menghela nafas sejenak, Shion menerawang ke atas mengingat masa lalu yang jujur saja dia tidak ingin mengingatnya lagi.

"Pertama kali aku bertemu dengan Naruto, saat penerimaan mahasiswa baru. Pada awalnya aku tidak terlalu mengenalnya, yang kutahu saat itu dia hanya pembuat onar di kelas. Tetapi setelah kejadian itu, saat kami berkemah di hutan itu. Naruto menyelamatkanku dari kebodohonku. Saat itu aku ingin bunuh diri, Naruto menyelamatkanku dan memberikan aku pengharapan baru. Sampai sekarang pengharapan itu masih ada"

"Apa yang kulihat darinya, yang awalnya kupikir dia pembuat onar, seorang berandal, seorang yang berisik, dan menyusahkan. Berubah setelah kejadian dia menyelamatkanku. Kupikir dia seperti pahlawan bagiku. Dia adalah orang yang baik. Sangat baik menurutku. Berada di dekatnya membuatku sangat nyaman"

"Tetapi...," Shion terdiam sejenak. Mengingat kejadian itu. Mengingat wanita itu membuat dia sangat marah. Tangannya terkepal sangat kuat.

"Tetapi ada apa Shion?" Tanya Kushina.

"Hyuuga itu menghancurkan semuanya..."

.

.

.

Flashback

"Apa yang kamu lakukan Shion?"

"Eh...!" Shion yang sedari tadi sedang menulis di buku catatannya, terganggu dengan kedatangan dia. "Naruto! Kau ini suka bikin kaget. Kau sendiri kenapa ke perpustakaan, hah?"

Menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal Naruto menjawab, "Aku bosan ttebayou. Semuanya sedang sibuk untuk ujian semester. Aku bingung mau melakukan apa. Tak ada yang bisa diajak main. Bahkan kekasihku sedang tidak mau diganggu. Akhir-akhir ini aku merasa dia jadi agak aneh."

"Aneh bagaimana? Ku lihat kau yang paling aneh dibanding Hinata dan yang terpenting paling bodoh," ejek Shion. Walau sebenarnya apa yang dia katakan hanya sebuah lelucon.

Dengan lemas Naruto mendudukan dirinya di depan Shion. "Kau ini selalu saja bermulut tajam. Tak henti-hentinya kamu meledek ku. Ini serius, akhir-akhir ini Hinata-hime selalu menghindar dariku. Seperti ada yang dia sembunyikan dariku."

"Sembunyikan bagaimana? Bukankah kamu dan dia selalu terbuka dalam hubungan kalian selama ini," Shion sebenarnya tidak tertarik saat Naruto membicarakan gadis lain. Apalagi itu adalah Hinata, kekasih dia. Rasanya sedih dan ingin menangis dikala orang yang kamu sukai mencurahkan isi hatinya tentang pacarnya. Dan kau hanya seperti orang ketiga di antara mereka. Sekarang posisimu seperti sebagai orang yang berpura-pura baik, tetapi di dalam hatimu menjerit menangisi dirimu sendiri. Menyedihkan.

"Dia sudah agak tertutup. Bahkan saat aku mengajaknya kencan. Dia tidak mau dengan banyak alasan yang membuat aku tak bisa memaksanya. Terkadang aku melihat dia seperti ingin menangis. Dan saat aku bertanya kenapa, dia bilang tidak apa-apa. Aku merasa jadi pria yang tidak berguna. Hari ini aku berencana mengajaknya bergabung untuk duet bersamaku di pentas kesenian bulan depan. Tapi, sekarang Hinata sulit dihubungi. Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung dia membenciku atau apa. Aku bingung ttebayou..." curahatan Naruto yang sangat panjang membuat tiap mata yang ada di perpustakaan menatap mereka. Wajar saja, suara Naruto yang sangat keras bercerita tadi membuat semua orang melihatnya.

"Naruto...," bisik Shion.

"Dan kau tahu Shion. Tadi pagi aku bertemu dengan Hinata saat akan ke Cafetaria. Dia hanya melewatiku. Aku tak habis pikir. Hime ku yang manis bisa menghindar dariku," terang Naruto lagi tak peduli dengan bisikan Shion memanggil namanya. Rasa sedih dan kecewa sudah memuncak dalam hatinya.

"Naruto jangan berisik...!" bisik Shion agak keras.

"Apa sih yang kamu katakan? Aku tidak bisa mendengar. Kau ini kalau orang lain curhat harus didengarkan Shion. Apalagi ini curahan dari sahabatmu," jelas Naruto.

'Dasar tidak tahu situasi' batin Shion.

"Ehem, sudah selesai curhatannya Naruto-san," suara mengerikan terdengar jelas di telinga Naruto.

"I-ibiki-sensei...," tanpa menengok pun Naruto sudah tahu siapa pemilik suara itu. Dialah orang nomor 2 yang paling ditakuti di Universitas. Morino Ibiki si penjaga perpustakaan.

"Kau tahukan apa yang harus kamu lakukan Naruto?" tanya Ibiki dengan suaranya yang tegas.

'Yah, dia kena lagi,' batin Shion sambil menepuk pelipisnya. 'Kenapa aku bisa mencintai orang sebodoh dan tidak pekah seperti dia.'

"B-baik sensei, ayo Shion kita keluar," dengam secepat kilat Naruto menarik tangan Shion tiba-tiba untuk kabur dari situasi.

"NARUTOOO...!"

"Maaf sensei, tapi lain kali saja yah hukumannya. Aku ada urusan penting."

OoO

"Kenapa aku jadi ikut andil dalam hal ini? Padahal kau sendiri yang membuat Ibiki-sensei marah besar," kesal Shion pada Naruto. "Pergelangan tangan ku jadi sakit saat kau tarik."

"Gomene Shion. Kalau tidak langsung kabur seperti itu, kita bisa jadi abu di perpustakaan. Membereskan buku yang banyak itu sesuai urutannya," Naruto reflek langsung memegang pergelangan tangan Shion yang dia tarik tadi. Sekarang mereka berada di Caffe yang dekat dengan Universitas mereka. "Sini biar aku pijitkan!"

Pijitan halus terasa di pergelangan tangan Shion. Terasa nyaman baginya. Tangan Naruto terasa hangat di pergelangannya. Memijit dengan hati-hati.

"Sudah cukup aku tidak apa-apa."

"Baiklah sebagai permintaan maaf, tadi aku memesan Hot Choco dan Donat. Aku yang traktir."

Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa pesanan yang diminta Naruto dan menaruhnya di atas meja mereka berdua. Bagi Shion rasanya seperti kencan dengan Naruto, walau Naruto tak beranggapan begitu.

Dengan cepat Shion mengambil buku catatannya dan mulai menulis. Ntah apa yang ditulis Shion.

"Kenapa kamu menulis di buku itu? Memangnya ada tugas penting dari dosen kita?"

"Tidak ada sih, aku hanya ingin mencatat apa saja yang aku lakukan hari ini," ujar Shion.

"Berarti itu buku harian yah. Boleh aku lihat?"

"Tidak boleh. Ini buku berhargaku. Semua hal yang ku alami ada di buku ini," ketus Shion. Dia pun menaruh bukunya kembali kedalam tasnya.

"Pelit," dengan kesal Naruto memanyunkan bibirnya. Sudah mahasiswa pun Naruto masih suka merajuk.

Dengan tersenyum Shion pun berujar, "Tidak peduli, wekkk...". Dengan wajah meledek, dia arahkan kepada Naruto.

"Kau ini mau dihukum yah!?" Dengan cekatan Naruto mencubit tangan Shion.

"Auww. Sakit Baka."

"Itu hukuman untukmu ttebayou."

Hening menyelimuti mereka selama beberapa menit. Hari ini terasa lucu sekali. Hampir terkena hukuman Ibiki-sensei dan sekarang mereka bercanda selayaknya sahabat karib atau lebih seperti pertengkaran kecil sepasang kekasih.

"Hahaha...," suara Naruto memecahkan keheningan mereka berdua.

Shion heran melihat sikap Naruto. Sangat jarang baginya Naruto tertawa sebahagia ini. Dia bisa melihat dia tertawa sambil mengeluarkan air mata. Naruto terlihat sangat senang sekali.

"Kau kenapa tertawa sampai seperti itu?" tanya Shion.

Suara tertawa Naruto bisa teredam sedikit walaupun Naruto masih menahan gelak tawanya itu dengan tangannya. "Hahaha..., rasanya sudah lama sekali aku tidak berbuat onar dan juga bercanda seperti ini. Rasanya rindu sekali. Biasanya aku akan melakukan ini bersama Hinata dan teman-teman, tapi sekarang mereka sangat sulit dihubungi dan diajak berkumpul dan bercanda lepas seperti ini. Apalagi Hinata, sekedar makan, ngobrol, kencan rasanya sangat sulit. Seperti ada sekat di antara kami berdua."

"Naruto," sedih Shion. Tak tahu kenapa, tanpa sadar air mata keluar dari pelupuk matanya.

"Padahal aku ingin melakukan banyak hal dengan Hinata. Kadang aku berpikir tentang hal buruk yang akan terjadi antara kami. Kemungkinan buruk selalu menghantui ku. Membuat ku tak bisa tidur nyenyak dan berpikir jernih. Bagiku Hinata, dia adalah segalanya bagiku. Hinata mengakui keberadaan ku. Dia berteman bahkan menjadi kekasih di saat aku bukan siapa-siapa. Saat aku dihina, dia yang menyemangatiku. Saat aku dikucilkan oleh semua orang karna status yatim piatu, dialah teman yang selalu di sampingku. Jadi apa aku jika dia tidak ada? Bahkan impian ku ingin menjadi penyanyi terkenal agar aku bisa melihat dia bahagia. Selama ini aku selalu gagal, aku ingin bisa berhasil. Tapi jika dia menjauhi ku seperti ini, aku...aku...," reflek tangan putih milik Shion bertautan dengan tangan kecoklatan Naruto. Mengusapnya sedikit memberikan semangat melalui tautan tangan itu.

"Aku percaya. Pasti ada alasan dibalik itu semua. Kau jangan berpikir negatif. Hinata adalah gadis yang baik. Mungkin dia perlu waktu sendiri. Kamu harus percaya pada dia. Dia kan pacarmu," nasihat Shion membuat wajah Naruto yang suram, berangsur ceria.

"Lagipula kamu tidak sendiri. Aku juga di sini. Bukankah kita sudah berjanji sedih dan senang akan kita bagi bersama. Semangatlah. Naruto telpon Hinata saat sore saja. Mungkin dia baru ada waktu pada saat itu. Kalau ada apa-apa kabari saja. Kalau Hinata menolak biar kau serahkan padaku, aku akan coba membujuknya," jelas Shion.

Naruto tersenyum lembut. Dia membalas usapan tangan Shion dengan genggaman tangan yang halus pada telapak tangan Shion. "Yah aku harus semangat. Untung saja kau ada Shion. Kau memang baik."

"Sudahlah. Jangan sedih terus. Aku sudah lapar ayo kita minum hot choco dan makan donat ini. Hot choconya pasti sudah dingin.

"Yah," mereka pun makan dan minum di Caffe itu. Tidak peduli dengan sekitar. Mereka berbicara selayaknya dunia milik mereka. Masing-masing mencurahkan isi hati mereka. Walau Shion masih memendam rasa lain. Perasaan yang tak bisa diungkapkan sekarang.

OoO

Di sebuah apartemen kecil di kota Konoha. Gadis berambut pirang dengan santai sedang menulis di buku hariannya. Tiap tulisannya membuat dia tersenyum. Apa yang dia alami dengan Naruto, rasanya seperti mimpi. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang kencan.

'Tapi itu hanya pemikiranku saja,' batin Shion.

Wajahnya mulai menyenduh, dia balik setiap lembaran halaman di buku hariannya. Apa yang dia tulis berisi hal-hal yang ia lakukan bersama Naruto. Semua hanya tentang Naruto. Rasanya seperti menipu diri sendiri. Dia tahu, Naruto tidak mencintainya. Tapi, setiap tulisannya seperti kebalikannya.

"Hiks...hiks...hiks..., N-Naruto-kun..." air mata mengalir pada pelupuk matanya. Menetes terus tak henti. Membasahi tulisannya di buku harian itu.

'Aku tak pernah berharap banyak padamu. Berada di dekat mu rasanya seperti anugrah. Tapi cinta ini begitu sakit, melukai hatiku, sakit sampai menangis, setiap saat aku mengingatmu seperti ini. Hatiku menangis hingga lelah. Apakah ini kebahagian? Kenapa cinta yang kurasakan terasa menyakitkan? Egoku mengatakan aku harus berjuang. Tetapi, melihatmu mencintai Hinata. Jika dibanding dengan cinta ku yang sekarang, rasanya tidak sebanding. Apa lebih baik aku menyerah dan membiarkanmu bersamanya? Menutup mataku seolah aku tak melihat apapun? Dan membakar buku harian ini? Melupakan setiap kenangan yang ada?'

"Nar-Naruto-k-kun, a-aku mencintaimu..sangat. Tetapi, a-apa aku harus menyerah dan membakar semua kenangan ini?"

ài de tòng le

爱 的 痛 了

sakitnya luka cinta

tòng de kū le

痛 的 哭 了

sakit hingga menangis

kū de lèi le

哭 的 累 了

menangis sampai lelah

máodùn xīnli zǒngshì qiǎngqiú

矛盾 心里 总是 强求

namun hati tetap meminta

quàn zìjǐ yāo fàngshǒu

劝 自己 要 放手

sarankan diriku menyerah

bì shàng yǎnjing ràng nǐ zǒu

闭 上 眼睛 让 你 走

menutup mata membiarkan kau pergi

shāo diào rìjì chóngxīn lái guo

烧 掉 日记 重新 来 过

membakar buku harian mulai baru dari awal

(Kutipan lirik dari lagu berjudul

jì shì běn - Kelly Chen

Buku Catatan - Kelly Chen)

Bersambung...

Yups selesai. Makasih sudah stay di sini dan selalu menanti update an nya. Saat saya mengetik ini saya dengerin terus lagu Ji Shi Ben - Kelly Chen. Saran ini lagu bagus buat baper *eaaa

Saya juga ucapkan Happy NHDD ke-6 2016.

Apa itu NHDD (NaruHina Dark Day)?

Salah satu dari event yang dipelopori oleh para NHL, yang biasanya dimulai dari 1 Oktober-31 Oktober. Bertema kan tentang FF mystery, supsense, tragedy, pembunuhan, psikopat, dll. Juga untuk memperingati hari Hallowen Karya yang ada tidak harus berupa FF, bisa FanArt dan Fanvideo loh. Tidak terbatas juga disitus FFN, bisa juga di wattpad, blog pribadi, tumblr, facebook, deavianart, youtube, dll. Sertakan juga #NHDD6, #NHDD2016, #NaruHinaDarkDay2016.

Note: jadilah fans yang bijak setiap event yang ada kita usahakan jangan sampai punah, karena NH sudah canon kita maunya senang-senangnya saja seperti cuma mau rayain NHFD sedangkan event lain seperti NHTD dan NHDD dilupakan. Kalian tahu kenapa dulu ada event ini?

NHFD : awalnya seperti peringatan untuk membuat FF yang temanya manis jikalau NH canon.

NHTD: untuk memperingati atau mengingatkan kita jikalau NH tidak canon (pada saat itu)

Maka dari itu kita berbeda dari fans yang lain saat dulu. Kebanyakan dari kita sadar diri, jika belum tentu NH bakal canon semua tergantung dari MK. Makanya kita ada motto Keep stay cool!. Di saat NH Canon atau paling terburuk tidak canon. Tetaplah kita sabar. NHL yang sekarang angkatan baru, janganlah besar kepala karena kita canon. Tetap yang utamakan rendah diri. Banyak dari author lama yang sudah tidak betah di fandom ini karena dari beberapa orang baru atau yang agak radikal, berbuat yang tidak baik. Segala event yang ada dinikmati saja, itulah warna dari sebuah karya.

For author baru atau lama: Janganlah berkecil hati dikala kalian dapat gunjingan dari banyak reader, karya yang semakin bagus pasti banyak orang yang sirik atau iri. Belajar dan terus belajar. Di sini kita belajar bersama bagaimana cara pengetikan dan cara menulis yang baik. Anggap itu salah satu kesenangan kalian. Jangan sampai hobi kita dihambat, apalagi karena masukan negatif orang lain.

Akhir kata maaf kalau saya lagi mode cerewet. Di satu sisi, saya merasa kasihan untuk author yang kadang down. Dan miris melihat reader sekarang yang maaf kurang terkendali.

Terima kasih yang sudah membaca dan salam kenal.

Akhir kata Saran, pendapat, dan kritik saya terima.

God Bless You...