GARA-GARAYUI
.
.
.
Yoshhh...chapter 7 update XP kukuku...
Yaaa... saya sadar.. fic saya "GAK SESUAI" ama EYED bahasa indonesia yang benar hahaha... so emang saya gak memperhatikan hal itu :p
Saya Cuma hobby nulis dan bikin fic sesuka hati saya.. nuangin apapun yang saya mau kedalam fic aku.. soo... jangan singung masalah EYED ya.. hahaha
Karena saya gak perduli... kalau gak suka dengan hal ini.. silakan baca fic yang lain :D
#gak bermaksud menyinggung hanya saja lebih baik hal ini saya ungkapin dari pada saya males ngelajutin fic ini dan ngecewakin mereka yang mau baca ...
.
.
.
Balasan Review :D
lulu-chan: Okey ni da lanjut XP
ika: okeyy
Theresa Lau : hehehe.. makasih reviewnya :D
KK LOVERS : Makasih :D hehehe... okey
Yang lain udah saya balas lewat PM Inbox :D
.
.
.
YOSHHH... MAKASIH YANG UDAH REVIEW :D
.
.
.
"GARA-GARA YUI CHAPTER 7"
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Story By Bebek L Dark Evil
Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc =_="
Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.
.
.
.
BAD DREAM
.
.
.
Kazune menaiki tangga, mulutnya komat kamit berharap sang pacar tak menangis dibuatnya, tak salah paham dengan apa yang di lihatnya.
"Karin, boleh aku masuk?" terdengar suara dari balik pintu.
Hiks ... hiks... isak tangis terdengar parau di telinga Kazune.
"Gomen, aku akan menjelaskan semuanya..." ia menundukkan kepalanya.
"Jadi tolong buka pintunya." Lanjutnya.
"Pergiii..."ia berteriak sangat keras.
Gadis manis pemilik kamar duduk di pojok tempat tidurnya. Kedua lututnya saling bertemu. Matanya memerah, bagaimana tidak sedari tadi ia menangis. Air asin itu menetes di kedua lututnya. Wajah manisnya ia tengelamkan di antar kedua lulut kembarnya.
"Baiklah, akan aku dobrak!" ia tak sabar dan ingin menjelaskan semuanya.
"1,2 dan.." ia mulai menghitung, bahunya di pakai perisai untuk membuka pintu kamar sang gadis.
Pada hitungan ketiga ia berhasil membukanya, melihat sekeliling ruangan kecil itu, apa yang ia cari sedari tadi akhirnya ketemu. Ia mendekatinya, sosok yang menangis terisak-isak itu.
Di belainya rambut coklat sang pacar. Mata sang gadis menatap matanya. Ia pun membalasnya.
"Jangan sentuh aku." Ia mengeser tubuhnya ke belakang. Tetesan kristal bening masih terselip di pelupuk matanya.
Kazune sontak terkejut. Tak pernah ia lihat Karin semarah ini.
"Gomen, tapi bisakah kau dengar penjelasanku dulu." Pintanya.
"Aku tak mau mendengarnya." Ia tak menatap Kazune sama sekali. Matanya sibuk menitikan air alami saat setiap manusia bersedih.
"Karin aku tahu kau marah dan aku tahu aku salah, tapi kalau kita membicarakan ini semuanya tak akan selesai."
"..."
"Karin...!"
Brakk... Kazune mendekati karin. Menjahukan tangan Karin dari kedua lututnya. Matanya reflek menatap Kazune. Mereka begitu dekat.
"Ka-Kazune..." ucapnya lirih.
Cowok itu tak meresponnya, ia menjatuhkan Karin. Kini Kazune berada di atas badan Karin. Kedua mata Karin membulat sempurna, Kazune mendekatkan wajahnya kearah Karin.
"Aku ingin kau mengapusnya."
"Ehhh... apa maksudmu Karin?"
"Aku ingin kau menghapus ciuman gadis itu, aku tak suka kau di cium olehnya." Mata keduanya saling bertatapan.
Karin mengalihkan pandangannya. Kedua tangan Karin bersatu di atas kepalanya. Tangan Kazune menghalanginya utuk membuat gerakan yang di anggap 'Tak Perlu'.
Kazune mulai mendekat. Jantung keduanya berdetak tak normal, mereka berdetak dengan tempo yang cepat tak seperti biasanya.
Sedikit lagi jarak mereka akan hilang.
"Kazune." Ia merasakan nafas hangat dari cowok di atasnya. Tangannya berusaha untuk melawan tapi tangan yang menahannya semakin menguatkan pertahanannya.
Lama-lama ia pasrah, tangannya tak berusaha melawan lagi, ia mengendorkan pertahanannya.
Tangan kanan Kazune yang bebas kini mulai beraksi, di pegangnya lembut sebelah pipi sang pacar. Karin menutup matanya, ia seakan pasrah dan merelakan semuanya untuk cowok ini. Kazune semakin mendekatinya.
Tok tok tok... terdengar suara ketokan pintu.
"Karin, Kazune. Waktunya makan malam."
Kazune menghentikan aksinya dan beranjak dari posisinya.
"Apa aku sudah di maafkan?" senyum jailnya nampak jelas.
"Heeemmm..." dia membuang muka.
"Hehehehe..."
Kazune mendekati pintu dan memutar knop pintu secara perlahan.
"Akan aku jelaskan nanti." Ia tersenyum sebelum seluruh pintu memisahkan keduannya.
.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx x
.
.
.
1 jam sudah mereka telah selesai makan malam. Lagi-lagi terdengar suara pintu di ketuk.
Himeka berjalan meninggalkan aktifitasnya membaca buku, Karin dan Kazune sedang asyik menonton TV, sedangkan Kazusa sedari tadi bermain-main dengan kucing peliharaan Karin.
Himeka membuka pintu dan mempersilakan orang yang dikenalnya masuk.
"Dia didalam, kondisinya juga membaik." Gadis lembut itu menjelaskan sesuatu.
Samar-samar telinga Kazune menangkap pembicaraan mereka. Tapi ia mengabaikannya dan fokus pada acara TV komedi di depannya.
"Kazusa, Jin mencarimu."
"Heehh..." tatapan matanya terlihat sangat terkejut dan lama kelamaan senyum sempurnanya terlihat.
Semua orang yang ada di ruangan itu ikut tersenyum.
"Yoohh.."sapanya sok akrab.
"Konbanwa Jin-kun." Balasnya.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan." Senyum sang idola terukir di wajahnya.
"Emm... aku mau siap-siap dulu."
"Baiklah."
Setelah mendapat jawaban singkatnya ia mempercepat langkahnya menaiki tangga. Dibukanya pintu kamarnya yang sederhana itu.
Matanya menatap sebuah vas bunga, bunga yang berada di sana memang layu tapi ia tak mau mengantinya, lebih tepatnya tak bisa di ganti.
Ia memasuki kamar mandi dan menetapkan baju mana yang akan ia pakai.
15 menit kemudian ia terlihat anggun, wajahnya terlihat freesh dengan gaun berwarna kuning cerah sebahu dan rok dibawah lutut berwarna pink menutupi sebagian kakinya.
Rambut kuningnya dibiarkan terherai, ia bergegas menuruni tangga berharap orang yang menunggunya tak merasa bosan.
4 anak seusianya menatap kagum pada sang gadis. Pelan tapi pasti ia menuruni setiap anak tangga.
"Jin-kun ayo berangkat." Seyum dari bibir berwarna pink itu membuat orang yang di ajak hanya bisa terpaku.
"Eh-iya.." wajah memerah tak sangup ia tangkis.
Jin berjalan menuju pintu dan menenagkan jantungnya yang berdetak tak karuan. Kazusa berpamitan dengan Karin, Kazune dan Himeka.
Ia berlari kecil untuk menyamai langkah orang yang mengajaknya keluar.
Mereka melewati pintu dan langkahnya terhenti saat makhluk hidup yang ada di dalam rumah itu berteriak.
"Hati-hati."kedua tangannya berada di samping kedua pipinya.
"Jangan malam-malam pulangnya." Karin tersenyum.
"Jaga Kazusa." Senyum tipis terukir di wajahnya.
Mereka berdua hanya tersenyum dan menutup pintu itu rapat-rapat. Jin melepas jaketnya yang hangat, di letakkannya jaket itu di badan Kazusa.
"Kau bisa sakit kalau berpakaian seperti itu."
"..." wajahnya memerah.
.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx x
.
.
.
Langit penuh dengan perahu bintang yang menjelajahi atmosfir bumi, meneranginya dengan sedikit cahaya remang-remang. Usikan angin malam tak dapat menghentikan langkah dua remaja ini menjelajahi malam. Langkah kecil para peri, petualangan malam yang kedua kalinya mereka pergi bersama.
Sesekali senyum keduanya saling bertemu, membuat malam yang dingin pelan-pelan mencair. Malam yang sepi untuk perasaan yang tak akan dilupakan. Langkah kaki kecil tapi pasti telah membawa mereka memasuki gang kota yang ramai.
Derap kaki mengalun lembut, sesekali terdengar teriakan orang yang berlalu lalang, gadis berambut pirang itu terkagum-kagum. Wajahnya yang natural terlihat semakin menawan saat deretan lampu jalan mengenai wajahnya.
Cowok populer di samping sang gadis tak bergeming sedikit pun.
"Aku teringat saat itu!"
"Emm... hehehe aku juga."
"Kita mau kemana?"
"Entah.. aku tak memikirkannya."
"Ehh..." ia terkejut.
"Kita beli makanan aja yuk.." ajak penyanyi terkenal itu.
"Tentu."
Keduanya berjalan menuju sebuah toko siap saji. Mereka memesan dua bungkus popcorn. Kazusa duduk di sebuah bangku yang sudah disiapkan pemilik toko. Jin menunggu popkorn pesanannya jadi. Beberapa gadis remaja membicarakan pelangan tampan itu.
Tapi idola bermata kucing itu diam tak meresponnya.
"Ini silakan." Pelayan toko itu memberikan pesanannya.
"Arigatou." Ia meletakkan beberapa uang di meja kasir itu.
Sepatu model terbaru yang ia kenakan terlihat pantas di kaki proporsionalnya. Ia tersenyum menjahu kasir, dilihatnya rambut panjang sang gadis yang terherai panjang. Ia tersenyum simpul.
Beberapa langkah tlah ia ambil, melewati sebuah pintu transparan dan di berikannya Popcorn hangat itu.
"Arigatou."
Jin mulai bercerita kembali saat-saat ia baru bertemu dengan Kazusa. Sesekali keduany tersenyum bersama, tak lupa popcorn yang mereka pesan di masukkannya kedalam mulut.
Tak terasa 2 jam telah berlalu. Wakru berjalan begitu cepat saat kau bersama orang yang membuatmu tenang.
Jam kecil di hendphone Kazusa menunjukkan pukul 09.30 malam. Mereka melihat orang berlalu lalang. Pandangan mata Kazusa sedari tadi tak berpaling dari sudut jalan di dekat lampu merah.
Jin memainkan Heandphonya tanpa memperhatikan gadis di sampingnya. Ekspresi wajah Kazusa berubah-ubah tapi lebih dominan ke arah kepanikan.
Seorang gadis di pojok jalan itu di ganggu oleh 3 preman yang berlaku kasar padanya. Kedua tangan sang gadis di pegangi sangat erat, mulutnya di bungkam dan orang-orang yang melihat hal itu hanya acuh dan tak perduli.
Gadis itu menendang bagian fatal laki-laki di depannya. Karena terkejut dengan perlawanan mangsanya kedua pria yang memegangi tangan dan membungkam mulut gadis itu terlepas. Ia berlari sekuat tenaga dan saat ia mau menyebrangi ia melihat kebelakang.
Dilihatnya sosok yang mengangunya tadi berlari dengan cepat kearahnya.
Tanpa pikir panjang ia berlari dan menyebrang, saat ia sampai di tengah jalan sebuah truk melaju dengan kecepatan penuh. Kazusa yang melihat truk itu berlari meninggalkan tempat duduknya dan mendorong gadis yang tak di kenalnya itu kepingir jalan.
Gadis itu terbelalak saat orang yang menolongnya tergeletak dengan banyak darah di sekitarnya. Jin yang baru sadar ada kecelakaan cepat-cepat berlari mendekati tempat kejadian.
Dilihatnya sosok cantik berambut kuning itu tergeletak tak bergerak. Kepalanya mengeluarkan banyak darah
Cepat-cepat ia rangkul sang gadis. Badannya gemetaran, ia mencoba meraih ponselnya yang berada tak jahu darinya. Gadis yang ia selamatkan dengan sigap menekan beberapa tombol di ponselnya. Beberapa menit kemudian mobil ambulance datang.
Jin masih berusaha menghubungi seseorang dari ponselnya. Ambulance mengangkat tubuh yang penuh darah itu. Di jalankannya mobil penyelata itu dengan kecepatan penuh.
Sebuah panggilan di ponsel Jin terjawab. Seorang gadis menjawab "MOSHI-MOSHI" dari sebrang sana.
"Karin. Kazusa kecelakaan. Kami sedang menuju kerumah sakit sekarang. Cepat datang... tutt...tuuuttt..." ia heran kenapa telfonnya tiba-tiba terputus.
"Karin ada apa ? " Kazune terkejut saat pacarnya menjatuhkan ponselnya.
"Ka-Ka-Kazusa kecelakaan." Ia mulai menangis.
Kazune meletakkan buku yang ia baca. Ia terdiam beberapa saat dan menghampiri Karin yang terduduk lemas di lantai.
"Sebaiknya kita cepat kesana. "
"He'em" ia mengangguk dan berdiri.
.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx x
.
.
.
Mereka berdua berlari menuju pintu keluar. Kazune mengambil sepeda gunungnya. Karin duduk di belakang. Ia mengayun sepedanya sekuat tenaga.
Karena jarak rumah umum kota tak terlalu jahu dari rumah Kazune dan Karin mereka bisa sampai dengan kepat. Di parkirnya sepeda goes miliknya dan satu-satunya. Orang-orang berlalu lalang di seditar daerah rumah sakit.
Tapi... dua remaja ini tak begitu memperdulikannya. Mereka menerobos orang-orang itu. Tempat yang pertama ia tujuh adalah Reseptionis.
"Kazusa Kujyo. Ia berada di ruang 77 ruang paling ujung lantai dua."
Kazune mengagguk dan bersama sang pacar berlari menuju ruang yang di maksud. Mereka telah sampai. Dilihatnya seorang gadis duduk meringkuk di dekat pintu, sedangkan Jin hanya berdiri dan menundukkan wajahnya.
"Bagaimana keadaannya?" Kazune meghampiri Jin, Jin sontak terkejut dan hanya bisa mengelengkan kepalanya.
Karin yang melihat percakapan serius 2dua cowok populer di sekolahnya itu kini menangis tak karuan. Air matanya tak sangup ia tahan lagi.
"KAMI-sama selamatkan Kazusa."
Kazune menenangkan Karin, ia menghapirinya dan memeluknya.
"Kazusa akan baik-baik saja." Ia memaksakan senyumnya.
Gadis yang tadinya meringkuk di dekat pintu kini mulai ikut menangis.
"Karin... tenanglah." Tangan lembut Kazune membelai rambut Karin yang terikat dua.
"Gomen. Gara-gara aku Kazusa berada disini." Ia berdiri. Matanya sembab dan tatanan rambutnya berantakan.
"Kaauuu..." Kazune mengarahkan jari telunjuknya kearahnya.
Karin terperangah dengan gadis yang berdiri dekat pintu itu.
"Kalian mengenalnya?" Jin menanyakan hal yang tak perlu.
"Apa maksudmu?.Apa kau yang menyebabkan Kazusa kecelakaan?" nada bicara Karin tak seperti biasanya. Ia terlihat sangat marah.
"Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" pinta Kazune.
"Sebenarnya..." Jin ingin menceritakan semuanya.
"Tutup mulutmu Jin aku tak butuh penjelasanmu...!" Kazune terlihat sangat marah.
"Baiklah."
"Eto.. siapa namamu?" lagi-lagi pertanyaan tak penting keluar dari mulut penyanyi populer itu.
"Haruna Aoi. Aku akan mulai menjelaskannya. Malam itu..."
.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx x
.
.
.
FLASH BACK
.
.
.
Aku lanjutkan next chapter flash backnya dan mungkin itu chapter terakhir O,O/
Byeeee... hehehe...
.
.
.
R
E
V
I
E
W
.
.
.
