AFFAIR
MASASHI KISHIMOTO
Pair : NaruHina
Genre : Romantic/Drama
Rated : T
SELAMAT MEMBACA
Chapter 7
"Aku akan mengambilnya minggu depan, hubungi aku jika. . . aaaww, tuan kau. . ."
"Kushina."
"Hiashi. Kau kah itu?"
Dalam sebuah caffe, kini dua orang yang saling mengenal, hanya terdiam dan tak percaya saling memandang dan mengamati satu sama lain, hingga suara itu mengejutkan yang satunya, "kau, aku tidak percaya ini, kau ada disini, didepan mataku dan. . . ya ampun, aku sangat merindukan mu Hiashi, rupanya kau masih sehat yah."
"Hey hey hey, kau ingin aku sakit, kenapa dari dulu kau tidak pernah berubah."
"Aaah, kau berlebihan Hiashi, tentu saja aku berubah, aku sudah punya suami dan anak, kau . . ."
"Kau tidak pernah memberi kabar."
"Karena kejadian itu, aku pergi dan. . . dan semuanya, aku sangat menyesal Hiashi, aku minta maaf."
"Sebaiknya kau meminta maaf berkali-kali, kau sudah punya suami dan anak, dimana suami, dan anakmu?"
"Suami ku koma."
"Ya Tuhan." Gumam Hiashi
"Dia mengalami kecelakaan dan sampai saat ini masih belum terbangun. Aku sangat sedih dengan hidupku Hiashi, tapi kesedihan ku berkurang sedikit karena aku mempunyai seorang putera yang baik, dia putera ku satu-satunya."
"Tapi kenapa hanya berkurang sedikit?"
"Karena kesedihan ku bertambah saat puteri mu pergi meninggalkan ku."
"Puteri ku, Hinata? Kau mengenal Hinata?"
"Bagaimana mungkin aku tidak mengenalnya, dia mirip sekali dengan istrimu dan dirimu, terutama mata yang tidak bisa menipu ku."
"Tapi kenapa puteri ku tidak pernah memberitahuku, kalau dia bertemu dengan mu?"
"Entahlah, dia juga mengatakan kalau dia belum memberitahu dirimu mengenai perjodohannya dengan putera ku."
"Perjodohan?"
"Hiashi tenanglah. Aku menawarkan perjodohan pada Hinata dan dia menyetujuinya, tapi saat dia bilang akan pergi jauh dia malah membatalkan perjodohannya dengan putera ku. Mungkin karena aku belum mengenalkan putera ku padanya, dia jadi berubah pikiran, tapi apapun alasan yang sebenarnya aku pun tidak tahu."
"Siapa nama putera mu?"
"Uzumaki Naruto."
"Apa kau bilang, Naruto? Ya Tuhan, dia teman sekelas Hinata," Kushina terkejut mendengar hal itu, bagaimana mungkin, baik Hinata maupun Naruto dua-duanya tidak pernah bercerita, ini sulit dipercaya, batin Kushina. "aku mengenal putera mu Kushina, jadi Naruto itu anak mu, ya Tuhan, ternyata dunia ini sempit sekali, dia sama sekali tidak mirip dengan mu, jadi aku tidak mengenalnya sama sekali."
"Dia mirip dengan suamiku. Seharusnya Hinata tahu ketika dia melihat Minato, tapi dia tidak berkata apa-apa. Hiashi, aku benar-benar tidak menyangka, jadi selama ini mereka saling mengenal, aku. . . aku seharusnya tahu dari awal, mengapa semua ini. . . ya Tuhan."
"Mungkin ini sudah takdir Kushina, dan kita akan menjadikan takdir ini sebagai alat untuk menyatukan mereka, kau setuju?"
"Sangat, Hiashi, sangat!"
~~~~~~~~~~####~~~~~~~~~~
Hari itu Naruto tengah membeli minuman hangat karena suhu udara sangat dingin, dia ingat saat musim dingin datang dia dan Hinata. . . Kenapa dia selalu mengingat nama itu, dan selalu teringat walau moment momen kecil yang pernah ia lakukan dengannya, walau sangat kecil. Naruto tidak tahu bahwa didepan jalan yang tengah ia tapaki ada seorang gadis yang tengah melintas, tanpa mereka sadari sedikit pun, dengan keberadaan mereka masing-masing, kini hal tersebut menjadi sumber masalah.
"Aaaww, kau . . ."
"M-maaf, aku. . ."
"Tidak, tidak, aku yang minta maaf, maafkan aku!"
"Aku yang bersalah, aku minta maaf."
Dua-duanya sama-sama minta maaf, dan saling merasa bersalah. Kira-kira siapa gadis itu, yang bertabrakan dengan Naruto, "aku menumpahkan minuman mu, kau boleh mengambil punyaku!" tawar gadis itu pada Naruto. Tapi Naruto menolaknya, "aku tidak minum minuman bersoda." Kata Naruto. "oooh begitu, aneh sekali, pria seperti mu tidak menyukai soda, kalau begitu kau juga tidak suka alkohol yah?" kata gadis itu.
"Aku mencoba untuk berhenti minum."
"Itu bagus. Oh iyah, perkenalkan, nama ku Shion."
Gadis itu memperkenalkan dirinya, dan Naruto menjabat tangan itu. Mungkin tak ada rasa yang begitu mendalam, hanya sebuah perkenalan, dan mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi entahlah, hanya takdir yang bisa menebaknya.
Beberapa tahun kemudian. . .
Setelah hari itu dan seterusnya kini Naruto menjalankan perusahaan ayahnya. Dari tahun ke tahun Naruto belajar bisnis dan kini dia menjadi direktur utama, dan berita yang paling membahagiakan adalah bahwa ayahnya kini sudah terbangun dari komanya. Sungguh hal yang paling membahagiakan bagi Kushina dan Naruto, tapi dua-duanya mengingat satu orang yang kini belum datang, "Hiashi, ini suamiku, Minato."
"Apa kabar teman, kau sudah baikan bukan?"
"Yah, aku sungguh beruntung bisa membuka mataku kembali, dan melihat teman istriku yang selalu ia ceritakan padaku, sebelum aku mengalami masa sulit ini.
"Kau begitu beruntung mendapatkan Kushina, dia adalah teman baikku, istriku pun di surga pasti setuju dengan ku."
"Tolong jangan bicarakan istrimu Hiashi, aku jadi ingin menangis mengingatnya."
"Sudahlah, kau ini terlalu berlebihan."
~~~~~~############~~~~~~~
Satu minggu kemudian
"Ayah, aku sudah di bandara, ayah tidak usah menjemputku. Aku yang akan kesana. Ayah dimana sekarang?"
"Ayah sedang membicarakan bisnis dengan seseorang, kau boleh kesini, ayah akan mengenalkan mu padanya!"
"Baiklah."
Hiashi menutup teleopn dan memasuki ruangan itu, tertulis di meja, Uzumaki Naruto, direktur utama. "paman, cepat sekali paman datang, padahal jadwalnya. . ."
"Tidak perlu jadwal, aku kesini lebih awal karena aku ingin menunjukan sesuatu pada mu, sebuah kejutan."
"Apa?"
Hinata tidak mengerti mengapa ayahnya ingin dia datang ke kantor ini, padahal mereka akan membicarakan bisnis, tapi ayahnya juga ingin mengenalkan dia pada seseorang, siapa kira-kira, batin Hinata. Seorang wanita karir tengah memandangi wajahnya di depan cermin yang dia bawa dan sambil mengelus lembut pipinya, "kau belum juga memberitahu pada tuan Naruto mengenai wanita itu?" wanita itu menoleh dan menjawab pertanyaan temannya, "untuk apa aku memberitahu tuan Naruto, dia pasti akan tahu sendiri bagaimana kelakuan wanita itu pada semua karyawannya, dia pasti. . . . cantik sekali."
"Apa? Mana mungkin gadis seperti dia itu cantik, cantik apanya coba?"
"Bukan dia. . . .tapi dia, lihat!"
"Woooow, siapa dia?"
Hinata berjalan melintasi loby dan bertanya pada recepcionist, "permisi, apa kalian tahu tuan Hiashi ada di gedung ini?" dua wanita itu terdiam dan hanya memandangi, "hello, nona-nona!" panggil Hinata lembut, mereka berdua tersadar dari lamunan, "o-oh, iyah nona, tuan Hiashi ada dilantai teratas, apa boleh saya antar?"
"Kau baik sekali, tapi bagaimana mungkin kau meninggalkan pekerjaan mu dan teman mu sendirian."
"Ah iyah, kalau begitu anda bisa ke lantai paling atas nona, tuan Hiashi ada disana."
"Baiklah, terima kasih." Kata Hinata, lalu pergi meninggalkan loby
Hinata mencapai lantai atas dan seseorang menunjukan ruangan dimana ayahnya berada, Hinata masuk ke dalam setelah orang itu menutupkan pintunya. Hinata menatap sekitar dan menemukan ayahnya, "ayah." Ujarnya lembut. Ayahnya berbalik, begitu juga orang yang Hiashi tutupi hingga Hinata tak dapat melihatnya, mereka berdua menoleh ke sumber suara, dan ketika itu juga ayahnya menyambutnya dengan hangat. "Hinata, sayang."
Ketika mendengar nama itu, Naruto sangat terkejut, Hiashi kini menyingkir dan memperlihatkan Naruto, hingga Hinata pun bahkan keduanya kini saling berpandangan. Mereka berdua terpaku, tak tahu apa yang harus dilakukan. Hiashi memeluk Hinata, dan mata Hinata masih menatap tajam Naruto, begitu juga sang empunya.
Hiashi melepaskan pelukannya dan menatap anak kesayangannya, "kau tidak senang bertemu ayah, kenapa wajah mu seperti itu?" kata Hiashi. Hinata tersenyum lembut, "tidak ayah, bukan seperti itu, tentu saja aku senang bertemu dengan ayah."
"Yah, kalau begitu, kau juga pasti senang bertemu dengan Naruto, kalian berteman kan. Kenapa tidak saling menyapa?"
Hinata agak sedikit kaku untuk melangkah ke hadapan Naruto. dia masih ragu, senangkah dia, ataukah sedih, ataukah marah, atau bertanya-tanya. Yah, Hinata bertanya-tanya, kenapa Naruto sangat berubah, dia agak lebih tinggi dan badannya sedikit berotot dan. . . kenapa kau berpikiran sejauh itu Hinata, dasar mesum. Hinata tidak bicara, melainkan Naruto lah yang berbicara terlebih dahulu, "aku senang kau kembali, bagaimana kabar mu?" kata Naruto.
Hinata tampak bingung dan menjawab, "aku baik-baik saja, bagaimana dengan mu?" apakah kau masih sendiri, ataukah mempunyai seseorang." Ingin dia menambahkan kalimat itu, tapi tidak, tidak secepat ini. "aku juga baik." Hanya itu yang dikatakan Naruto saat pertama kali mereka bertemu. Waktu itu dia ingin sekali memeluknya. Secepat itukah Naruto, kau tidak berpikir kalau Hinata sudah ada yang punya? Entahlah, tapi dia yakin Hinata masih sendiri.
Hari itu mengapa ayahnya menyuruh Hinata datang ke kantor Naruto, apa yang maksud ayahnya tersebut, Hinata jadi penasaran. Dia juga harus bertemu seseorang, dan harus hari ini, karena kemarin dia langsung pulang setelah dari kantor Naruto. Hinata tiba-tiba menerima panggilan, dan itu nomor tak dikenal, "hallo?" panggil Hinata. "hallo." Kata suara itu, dan Hinata mengenalnya, "kau, ada apa kau menelpon ku, dan dari mana kau tahu nomorku?"
"Tanya satu-satu saja, aku tidak mau jawaban ku salah."
"Jangan bercanda, aku sudah mengira kau tidak berubah dalam hal ini."
"Hal apa?"
"Aku tidak mau berbicara di telepon."
"Ooh aku tahu, kau tidak sabar bertemu lagi dengan ku kan, jadi itu alasan mengapa kau tidak mau bicara di telepon."
"Jangan bercanda lagi, aku tutup!"
"H-hey. Dasar, dia tidak pernah berubah."
Saat Hinata menutup telepon, setelah beberapa menit Naruto mengirim sms dan memberitahu dimana mereka akan bertemu, di caffe mawar jam 2 siang. "kalau begitu, aku harus menemui bibi Kushina terlebih dahulu!" tak butuh waktu lama Hinata pun sampai di rumah Kushina, dia mengetuk pintu dan yang membuka adalah, "ooh maaf, anda siapa?" kata Hinata. "dengan nona Hinata?" tanya orang itu. Kenapa dia tahu namaku, batin Hinata.
"Dari mana. . ."
"Dari nyonya Kushina tentunya, beliau selalu menceritakan tentang anda nona. Ayo silahkan masuk, nyonya sedang ada didalam kamar, mari saya antar!"
Di jam seperti ini tidak biasanya bibi Kushina berada di kamar, apa yang terjadi? Dan yang terjadi adalah. . . "bibi!" panggil Hinata. Dua orang itu menoleh, Kushina terkejut melihat Hinata, dan tiba-tiba wajahnya berubah dari senang, sedih hingga bahagia. Kushina berlari menghampiri Hinata dan memeluknya, "kau dari mana saja hah, aku sangat merindukan mu, kenapa kau jahat pada bibi, kenapa?" kata Kushina.
"Bibi, aku belajar, dan aku sudah kembali sekarang."
"Iyah, dan jangan pergi lagi. Janji?"
"Aku janji bibi. Dan. . ." Hinata menatap ke tempat tidur dan melihat Minato, "paman." Kata Hinata. Minato tersenyum senang, "Hinata. Paman akhirnya bisa melihat mu, kemarilah!" Hinata menghampiri Minato dan memeluknya, "syukurlah paman!" kata Hinata sambil meneteskan air mata. Mereka bertiga seperti keluarga, dan terlihat harmonis, akan lebih harmonis lagi jika Naruto bergabung dengan mereka.
Sudah hampir jam 2, Hinata terlalu asyik dengan suasana yang baru ini, dia sangat senang dan bahagia. Tapi saat-saat ini akan segera berakhir, "kita bisa menghabiskan waktu seperti ini lagi kan bi?" kata Hinata.
"Tentu saja sayang, pergilah dan temui orang itu!"
"Bibi!" Hinata mengingatkan. "dia hanya teman, aku sudah lama tidak bertemu dengannya, jadi dia ingin kami bertemu."
"Baiklah, tapi kau harus hati-hati yah!"
^^Bersambung. . .^^
