Summary : Kurosaki Ichigo, pengusaha muda, sukses dan handal yang tak pernah mengenal cinta Ketika akhirnya seorang gadis mampu mencuri hatinya, dia akan berbuat apa saja untuk mendapatkannya. Rukia boleh saja diirikan oleh jutaan wanita karena menjadi seorang calon istri dari seorang pria tampan, kaya dan setia, namun tahukah mereka? Pertunangan yang dipaksakan tanpa cinta tetaplah menyakitkan.
Title : Prisoner of Love
Pair : Kurosaki Ichigo, Kuchiki Rukia dan Ulquiorra Schiffer
.
.
.
Sungguh, beberapa hari ini, saat dirinya dirawat di rumah sakit, Rukia merasa amat bahagia. Rasanya seperti melambung ke awang-awang. Diam-diam bertemu dan menghabiskan waktu dengan Ulquiorra, pria berwajah dingin namun memiliki hati yang sangat hangat.
Sengaja pemuda berdarah Eropa tersebut mengunjungi di jam-jam kantor yang memang berarti calon suaminya masih sibuk di perusahaan. Memang, Rukia akui perbuatannya sama sekali salah. Menjalin kasih dengan pria lain sementara dirinya sudah memiliki tunangan.
Tapi apa daya? Hatinya sudah terlanjur mengenal cinta kepada pemilik marga Schiffer ini.
Setelah seminggu, kesehatannya mulai berangsur membaik. Semata-mata karena stress yang dialaminya juga sudah tidak menjadi masalah. Menurut dokter, mungkin besok Rukia sudah bisa pulang.
Namun kabar ini justru membuat wanita bermata cantik tersebut sedih. Karena itu artinya dia dan Ulquiorra tidak bisa bertemu setiap hari seperti sekarang. Mungkin Rukia bisa mencuri-curi waktu saat pemeriksaan rutin atau jalan-jalan keluar, tapi tetap saja... jika dirinya yang lebih sering menghabiskan waktu di rumah tiba-tiba setiap hari pergi keluar bukankah akan membuat orang curiga?
Bagaimana ini?
"Rukia, bagaimana kondisimu hari ini?"
Ah, umur panjang. Baru dipikirkan orangnya langsung muncul.
"Em, baik-baik saja. Dokter bilang keadaanku terus membaik."
"Syukurlah kalau begitu," seraya berkata demikian, Ulquiorra duduk di kursi di samping ranjang rumah sakit.
"Anu, Ulqui..."
"Hm?"
Rukia meneguk ludahnya susah payah.
"Mungkin... aku akan keluar dari rumah sakit dalam waktu dekat. Jadi... kita tidak bisa .bertemu sesering ini lagi," bisik dara mungil itu menyuarakan kegelisahannya.
Sang pria membisu. Membenarkan ucapan wanita berparas manis ini.
"Tidak masalah. Asalkan kita saling percaya... hati kita akan selalu terikat. Bersama," lirih Ulquiorra pada akhirnya.
Usai berkata seperti itu, pemuda tampan bermata sayu tersebut mendekap Rukia lembut. Mengusap surai malam yang serupa miliknya.
Hati...
Yah, hubungan mereka dari awal memang mustahil untuk dipertahankan. Tahun depan Rukia akan menjadi nyonya Kurosaki. Dan hal itu tidak mungkin bisa dicegah.
Rukia sudah pasrah. Dia rela menjalin hubungan rahasia ini hanya sampai dirinya terikat sepenuhnya dan secara sah menjadi istri dari Kurosaki Ichigo.
Bagaimana dengan Ulquiorra sendiri? Meski tidak rela, dia mau mengerti keputusan yang telah diambil oleh Rukia. Maka dari itu, hari-hari singkat yang mereka jalani... akan mereka manfaatkan sebaiknya.
"Gedung ini dapat menampung hingga 5000 kursi. Dekorasinya tentu akan kami sesuaikan dengan keinginan Anda. Untuk menu makanannnya, kami juga telah menyewa chef dan pattisier terbaik dari Prancis. Bagaimana pendapat Anda, Kurosaki-sama?" jelas seorang pria gemuk berjas dengan rambut klimisnya menguar aroma minyak rambut. General Manager hotel terkenal di Tokyo ini betul-betul terkejut dengan kedatangan tamu seperti Kurosaki Ichigo. Apalagi ketika direktur sukses tersebut mengatakan sedang memilih tempat untuk resepsi pernikahannya.
Jika bisa mendapatkan kontrak ini, bonusnya pasti akan berlipat-lipat hasilnya!
Ichigo hanya memandang ballroom megah tersebut dengan tatapan datar. Beberapa hotel yang dikunjunginya seharian ini juga menawarkan hal yang itu-itu saja. Dalam hatinya, pria berusia 34 ini menginginkan pesta pernikahannya dengan Rukia semewah mungkin. Agar seluruh dunia tahu, bahwa pemilik iris ungu kelabu indah tersebut hanya miliknya seorang.
Yah... dan pria itu juga...
"Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Permisi."
Karena hotel ini adalah yang terakhir dari daftar gedung yang mungkin bisa disewa yang dibuat oleh asistennya, sekarang Ichigo akan mulai mencari cincin.
Untuk gaunnya, nanti butler di mansionnya akan mengurusnya setelah Rukia diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Setelah berkeliling ke berbagai toko perhiasan paling mahal di Jepang, Ichigo bertandang ke rumah sakit untuk menjenguk Rukianya. Yang pasti, setelah pemuda bermuka tembok tersebut pergi.
Yah, setelah kejadian waktu itu, Ichigo membayar salah satu dokter untuk selalu memata-matai kamar rawat tunangannya. Dia tahu bahwa klien bisnisnya yang berasal dari Jerman tersebut hanya berkunjung ketika jam kerja. Itu artinya mereka memang bermaksud merahasiakan pertemuan mereka supaya tidak ketahuan Ichigo.
Sekali lagi direktur muda ini harus menahan amarahnya pada si marga Schiffer tersebut jika tidak, Ichigo pasti sudah memburunya, membuatnya sekarat dan menghabisinya dengan cara yang paling keji.
Alasan pertama dia tidak melakukan semua hal itu adalah karena klien adalah uang. Bagaimana pun hubungan bisnis tidak bisa dicampuradukkan dengan masalah pribadi. Alasan kedua dan yang paling utama, Ichigo tidak ingin menyakiti Rukia. Jika memang calon istrinya tersebut jatuh cinta pada pria lain, maka jika terjadi kenapa-kenapa dengan laki-laki itu... sudah pasti Rukianya akan sedih.
Dan... Ichigo tidak sanggup melakukan hal tersebut. Semarah apapun dirinya.
Lagipula, berdasarkan dari hasil laporan yang diberikan oleh dokter suruhannya tersebut, sejauh ini pasangan yang menjalin kasih diam-diam itu tidak melakukan hal yang bukan-bukan.
Keduanya hanya sekedar menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang. Kadang mereka berpelukan sebelum berpisah (darah Ichigo memanas tiap kali mendengar si dokter menceritakan setiap kronologis kejadian dengan sangat deskriptif).
Hanya jika Rukia sudah menangis dan perasaannya mulai gelisah, barulah kadang pemuda keturunan Swiss tersebut menenangkannya dengan memberikan kecupan lembut (saat itu Ichigo sampai menghancurkan ponselnya karena diremas telalu kuat). Tapi itu pun terjadi hanya dua kali selama satu minggu ini.
Setelah sampai di depan pintu kamar ruang rawat VIP tersebut, Ichigo menarik nafas dalam terlebih dahulu untuk menyempurnakan topeng tenangnya. Dia selalu bersikap pura-pura tidak tahu mengenai hal yang dilakukan calon istrinya ini dibelakangnya, semata-mata karena pria bersurai mentari senja itu tidak ingin Rukia panik dan ketakutan.
"Rukia..." panggil Ichigo lembut segera menghampiri wanita mungil tersebut untuk memeluknya sebentar lalu memberikan kecupan di kening Rukia.
Tunangannya hanya tersenyum tipis menerima perlakukan seperti itu. Karena memang sudah terbiasa. Kalau Rukia tidak sakit pasti bibirnya yang menjadi sasaran cumbuan, bukan dahinya lagi.
"Dokter yang memeriksamu bilang kau sudah boleh pulang tiga hari lagi. Apa kau senang?" pancing Ichigo, dan lihat saja reaksi dara belia di depannya ini langung berwajah murung.
"Eh, yah... tentu saja aku senang."
Bohong. Ucapannya semua dusta. Pasti wanita tercintanya ini tengah memikirkan laki-laki itu. Tangan Ichigo sudah mengepal hingga buku-buku jarinya memutih namun senyumnya tetap mengembang seolah tidak terjadi apa-apa. Bagaimana pun, pada akhirnya Rukia akan tetap menjadi miliknya.
"Begitu? Oh, ya... setelah kau keluar dari rumah sakit, kau langsung memilih gaun, ya."
"Gaun?"
"Iya, gaun untuk pernikahan kita."
Seketika jantung Rukia seperti berhenti berdetak dan hilang ditelan lubang tak kasat mata. "P-p-pe-pernikahan?" bisiknya tak percaya.
"Ya, aku sudah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan kita secepatnya."
"Ta-tapi, bukankah kita akan menikah setelah aku berusia 20 tahun? M-masih ada setahun lagi, kan?" kalap Rukia yang kebingungan.
"Soal itu... karena sebenarnya kan kau tidak sedang melanjutkan studi atau apa. Setiap hari kau juga hanya di rumah. Apalagi... orang tuaku, yah... kau tahu? Mereka mulai ribut memintaku segera memberikan mereka cucu."
Sungguh, alasan yang luar biasa sekali, bukan? Jika sudah berurusan dengan calon mertuanya tersebut, Rukia memang tidak bisa berkutik lagi.
Lihat saja, rona wajah calon istrinya tersebut sudah sepucat itu.
Sudah terlanjur mengarang alasan. Saat ini yang bisa dilakukannya adalah membujuk Rukia untuk setuju dengan rencana mempercepat pernikahan mereka.
"Ibuku bilang usiaku sudah tidak muda lagi. Jadi beliau meminta agar persiapan pernikahannya segera dilaksanakan. Lebih cepat lebih baik..."
Lidah Rukia kelu. Ingin dirinya melontarkan penolakan mati-matian. Tapi apa daya, dirinya tidak punya kuasa untuk menolak permainan takdir. Yah, nasib yang memaksanya untuk menyerahkan diri pada pria yang memegang hidup ayahnnya.
Ayah tirinya yang baik hati. Sepeninggalan ibu kandungnya, bisa saja Jushirou menelantarkan Rukia yanga sakit-sakitan. Tapi pria tua tersebut malah dengan segenap jiwa mengorbankan segalanya untuk putri kecilnya ini.
Bisa dipastikan jika Otou-sannya itu tahu bahwa Rukia telah jatuh hati pada laki-laki lain yang bukan atasannya ini, tentu saja Ukitake akan menyerahkan diri. Hanya agar anak semata wayangnya tersebut tetap bahagia.
Ah, Rukia tidak perlu memilih lagi. Keputusan hatinya sudah teguh.
Antara Ulquiorra atau Jushirou...
Antara cintanya dengan ayahnya...
"Ya, aku akan segera memilih gaunnya," lirih wanita mungil itu sendu.
Tanpa diketahui oleh tunangannya, Ichigo tersenyum lebar karena rencananya untuk mempertahankan Rukia sukses besar.
Ulquiorra Schiffer hanya membisu kala jam dinding menonton pilu saat Rukia harus memutuskan ikatan cinta yang mereka miliki. Sebenarnya dara jelita itu benci harus jujur mengatakan bahwa dia lebih memilih ayahnya tetap menjalani hidup bebas daripada meneruskan hubungan keduanya yang hanya sejak awal mustahil.
Keduanya mengira satu tahun juga tidak mengapa. Asalkan hati mereka saling terhubung. Jalinan kasih yang tidak menuntut.
Tapi bukankah hal itu memang tidak mungkin. Saat mencintai seseorang, semakin perasaan bertumbuh, kita semakin ingin bertemu. Menghabiskan waktu bersama. Mengharapkan hal itu sementara statusnya bukan lagi wanita bebas. Rukia tidak percaya diri sanggup melakukannya.
Entah apa yang ditunggu Rukia dari bibir laki-laki di depanya ini. Makian? Hujatan? Dia juga tidak mengerti. Padahal dirinya yang memendam harapan agar ada seseorang yang mampu memahami isi hatinya. Tetapi saat orang tersebut betul-betul muncul, calon nyonya Kurosaki ini kemudian menyadari hatinya telah condong pada pemilik marga Schiffer tersebut. Hingga akhirnya malah ketakutan dan sengaja menghindarinya.
Saat akhirnya Ulquiorra muncul dihadapannya dan ternyata perasaan mereka berbalas, Rukia tidak bisa menahan perasaannya lagi dan menyandarkan diri pada pemuda bermata emerald tersebut.
Memutuskan untuk memadu kasih diam-diam selama satu tahun. Janji itu pun sekarang harus Rukia tarik kembali.
Betul-betul perempuan tak berpendirian.
"Aku mengerti. Kau bermaksud memutuskan hubungan kita karena pernikahanmu juga sudah dekat. Kau..."
Hening bergaung keras di antara keduanya sesaat.
"... lebih memilih menyelamatkan Otou-sanmu daripada mempertahankan hubungan kita."
Telak.
Lidah Rukia kelu kala ucapan menusuk bagai sembilu di ulu hati tersebut akhirnya terlontar dari bibir pemuda pucat ini.
Wajahnya kian ditundukkan. Berharap rambut sehitam malamnya mampu menutupi air mata yang menggenang di pelupuk mata. "Maaf..." lirihnya serak.
Dari mulut Ulquiorra, tidak terucap satu kata pun sebagai balasan. Diakibatkan rasa ngilu yang menyerang ulu hatinya. Belum sanggup dirinya berbohong dengan mengatakan 'tidak apa-apa'. Karena jujur saja, saat ini dia sama sekali tidak merasa 'tidak apa-apa'.
Beginikah rasanya patah hati?
Ingin dirinya merengkuh pundak kecil tersebut dan membawanya pergi. Jika dia memang lebih egois, hal itu sudah pasti dilakukannya dari dulu. Namun dara jelita ini telah memilih. Menetapkan hatinya demi sang ayah.
Rukia sudah memutuskan untuk menerima pinangan dari direktur Kurosaki.
"Satu hari saja..."
Pernyataan itu menarik perhatian wanita beriris violet tersebut untuk mengamati lekat-lekat si pria. Biji matanya yang basah masih setia menitikkan air mata.
"Satu hari saja... bisakah kau menjadi milikku hanya untuk satu hari?"
Yah, biarkanlah Ulquiorra egois. Toh, dia hanya meminta sehari.
Karena Rukia akan menjadi milik orang lain untuk selamanya.
Satu hari. 24 jam. 1440 menit. 86400 detik. Hanya itu yang diminta Ulquiorra Schiffer dari sisa waktu kekasih hatinya yang masih panjang. Dan Rukia pun menyanggupinya.
Pertama-tama adalah memikirkan cara untuk membawa kabur calon nyonya Kurosaki tersebut sehari sebelum dirinya dipulangkan dari rumah sakit. Karena mungkin hanya dalam selang waktu yang sempit itulah kesempatan mereka satu-satunya.
Perencanaan berikutnya lebih sulit lagi. Jika ketahuan bahwa tunangan dari direktur sebuah grup besar seantero Jepang menghilang, sudah bisa dipastikan bagaimana Kurosaki Ichigo akan menggalakkan pencarian besar-besaran hingga ke ujung negeri. Jadi Rukia dan Ulquiorra sebaiknya menyamar saja. Dan untuk amannya, pemuda keturunan Swiss ini telah menyewa mobil sederhana dengan nama samaran.
Persiapan yang dilakukan kurang dari 12 jam tersebut tentu tidak sesempurna yang diharapkan. Namun waktu tidak berpihak pada kedua insan yang saling mencinta ini. Jadi, yah... sederhananya, apa boleh buat.
Ulquiorra sengaja meninggalkan ponselnya kepada dara belia ini agar bisa menghubunginya. Rencana akan segera dilaksanakan saat malam yang biasanya adalah jam tidur bagi pasien. Setidaknya itu yang tertulis di pesan yang dikirim pria bermata sendu tersebut.
Mengetahui apa yang akan dilakukannya ini cukup gila bahkan terlampau nekad, Rukia berpikir untuk mengisi energi semaksimal mungkin. Kondisi tubuhnya cukup sehat dan semangat yang menggebu-gebu membantunya untuk menghabiskan porsi makan paginya. Bayangkan ekspersi terkejut si suster ketika wanita ringkih yang diopname karena kurang gizi dan stress tersebut meminta tambah! Lalu dia tidur untuk mengisi baterai. Makan siang dengan lahap dan beristirahat. Lalu setelah makan malam...
Inilah kesempatannya. Waktu yang dijanjikan. Dengan jemari yang gemetar, Rukia menyalakan ponsel pria yang sebentar lagi akan menjemputnya. Dan benar saja, tak lama kemudian ada sebuah pesan yang menyuruhnya untuk bersiap-siap.
Dua puluh menit dara manis ini menanti dengan cemas, lalu masuklah ke kamarnya sosok berseragam petugas kebersihan yang ternyata... itu adalah Ulquiorra!
"Ul—"
Belum selesai satu kata terucap dari bibi Rukia, pemuda di depannya segera meletakkan telunjuknya di bibir. Diam. Itu perintahnya.
Lalu pandangan matanya tertuju pada keranjang raksasa beroda dengan selimut dan sprei menumpuk di dalamnya. Rukia sudah dapat menebak bagaimana pemilik marga Schiffer ini akan menyelundupkan dirinya keluar.
Dan benar saja, Ulquiorra dengan tangkas membereskan kain-kain tersebut untuk menciptakan ruang bagi Rukia. Mengerti apa yang harus dilakukannya, wanita bertubuh kecil ini segera masuk ke dalam keranjang dan setelahnya ditutupi kembali oleh sang pria dengan selimut.
Perjalanan menuju ruang cuci berlangsung dengan perasaan tegang. Sesampainya di ruangan janitor, rupanya sudah ada baju ganti dan wig berwarna pirang untuk Rukia. Jadi mereka akan menyamar seperti ini?
Selanjutnya mereka menuju mobil yang terparkir di halaman rumah sakit. Rasanya betul-betul seperti bemain dalam film action. Mengendap-ngendap bahkan menyamar. Lihat saja penampilan Ulquiorra dengan jaket kulit dan wig coklat panjangnya.
Tak ayal Rukia beberapa kali menahan nafas ketika berjalan melewati seorang suster dan meja resepsionis. Berharap bahwa tidak ada orang yang mencurigai mereka. Hingga akhirnya mobil yang dikendarai oleh Ulquiorra melewati gerbang parkir dan melintasi jalan raya, barulah calon nyonya Kurosaki tersebut bisa bernafas lega.
"Ulquiorra..."
"Bagaimana kondisimu? Apa kau baik-baik saja?" kejar pemuda berkulit pucat tiba-tiba.
"Eh? Iya, aku baik-baik saja," lekas Rukia menjawab spontan.
"Baguslah kalau begitu."
Senyap. Rukia tidak tahu harus berkata apa lagi. Selain itu, Ulquiorra juga tipe orang yang irit bicara. Mungkin sebaiknya dibiarkan saja sunyi yang menemani perjalanan mereka entah ke mana ini.
Suara derum mobil kemudian menjadi lagu pengantar tidur wanita yang sedang dalam penyamaran itu hingga terlelap.
Rumah sakit Tokyo yang terletak di pusat kota merupakan salah satu rumah sakit bergengsi dan memiliki reputasi yang baik. Namun kejadian di pagi hari ini yang cukup membuat gempar seluruh staffnya bisa jadi titik balik yang memicu kebangkrutan rumah sakit tersebut.
Di salah satu kamar VIP yang seharusnya ditempati oleh calon istri Kurosaki Ichigo sekarang penghuninya raib seperti ditelan bumi. Entah bagaimana caranya tapi mereka harus menemukan pasien itu sebelum direktur muda yang luar biasa berkuasa tersebut melibas mereka yang bertanggung jawab habis tanpa sisa.
Sayang permohonan mereka belum bisa terkabulkan lantaran mata-mata pria tampan ini telah melaporkan hilangnya sang tunangan.
Bayangkan saja betapa ngerinya para dokter dan suster menghadapi calon suami wanita bermarga Ukitake tersebut yang berang. Alhasil kondisi rumah sakit kacau balau untuk menginvestigasi menghilangnya pasian VIP mereka.
Kondisi mereka layak diibaratkan seperti kapal pecah yang porak poranda atau medan perang yang sudah rata dengan tanah.
Penyelidikan berlangsung ricuh tapi kilat. Dari kamera CCTV yang terpasang di lorong rumah sakit terlihat seorang petugas kebersihan yang nampak mencurigakan. Lalu terlihat juga dua sosok tak lazim yang berjalan berdampingan keluar melalui lobbi padahal saat datang hanya ada satu orang.
Hasil analisis sementara adalah bahwa memang dara jelita tersebut nekat kabur dari rumah sakit. Tapi... untuk apa?
Kurosaki Ichigo tahu alasannya.
Dan rasa sakit yang yang menyerang tekak ke ulu hatinya. Dia juga tahu. Hatinya bancur berkeping-keping. Seolah jantungnya dicabik-cabik oleh kegelapan tak berujung. Lalu hanya meninggalkan kehampaan sebagai ganti perasaannya yang tak tertahankan pedihnya.
Bisakah keadaan ini menjadi lebih buruk?
Seperti mayat hidup, Ichigo menyerahkan seluruh usaha pencarian kepada yang berwenang. Dirinya bergerak secara otomatis untuk pulang ke rumah lalu mengunci diri di kamar sang tunangan. Berbaring dengan wajah menimbun selimut dan bantal, mencoba menyesap sisa-sisa aroma dewi pemilik hatinya.
Pria berkepala tiga tersebut meringis. Tangannya mencengkram erat selimut berwarna lavender itu. Aneh, padahal harusnya hatinya sudah mati rasa. Tapi kenapa masih terasa begitu menyesakkan?
'Kenapa? Kenapa begini?!' perkiknya dalam hati tidak terima. Dia begitu mencintai Rukia. Amat sangat mencintainya. Sejak pertama kali melihatnya melalui foto. Lalu saat akhirnya bisa berjumpa langsung dengannya. Bagi Ichigo, Rukia adalah bidadari yang diutus langit untuknya. Satu-satunya yang mampu membuatnya bertekuk lutut mengemis cinta laksana orang kehausan di padang gersang yang membutuhkan oasenya. Tak pernah lagi dia melirik wanita lain. Hanya Rukia. Rukia...
Tapi mengapa calon istrinya itu malah jatuh hati pada laki-laki lain?
Kenapa bukan dia? Kenapa bukan Kurosaki Ichigo yang berusaha sekuat tenaga selama dua tahun untuk membahagiakan wanita tercintanya tersebut?
Ini semua begitu tidak adil!
"Rukia..." bisiknya parau. Tenggorokannya bagai padang gersang yang sangat kering, tapi dipaksakannya juga mengucapkan permohonan pertamanya semenjak dia lahir ke dunia ini, karena jujur saja... sepanjang hidupnya, Kurosaki Ichigo tidak pernah memohon. Tapi kali ini... untuk kali ini...
"Rukia, kumohon... kembalilah. Kembalilah padaku... Kumohon..." isak tangis mulai menyambangi kata-katanya," Tuhan, kembalikan dia padaku. Tolonglah... Tuhan, Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpa Rukia. Tolonglah... ini pertama kalinya aku memohon padamu."
Air mata perlahan membasahi pipinya. Menodai bantal beraroma lavender tersebut.
"Rukia... Rukia..."
Nama sang kekasih hati berulang kali dipanggil seolah dengan demikian, wanita itu akan hadir di sisinya. 'Rukia... Rukia...' begitu terus.
Di hari itu, Direktur Kurosaki muda yang disebut-sebut sebagai pria lajang nomor satu di seluruh Jepang, terlelap dengan hati yang remuk redam.
.
.
.
TBC
.
.
.
Holaaa minna... sekian lama gak update hehehe chap depan adalah chap terakhir...
