Ch7

SNATCHER LOVE STORY

By : Han Kang Woo

Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Exo Member, BTS Member, etc

Main Cast : HunHan

Genre : Romance, Friendship

Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja

Rated : M

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

o

o

o

Sehun menembak Luhan, sambil tetap merangkul mesra namja itu.

"Ap.. Apa?" lidah Luhan kelu seketika.

"Aku mencintaimu... Dengan segenap hatiku." Sehun mengulangi kalimat cintanya, lembut.

"Ja.. Jangan bercanda..." tukas Luhan, berusaha melepaskan diri dalam dekapan Sehun.

"Aku tidak bercanda. Aku serius..." Sehun menahan Luhan yang ingin lepas darinya.

"Aku tidak akan percaya..." ketus Luhan, kemudian meronta keras, Hingga akhirnya dia terlepas dari dekapan Sehun.

Namja china itu berdiri, menjauh dari Sehun, dia menyandarkan dirinya di jendela. Sambil menggeleng tidak percaya.

"Tolong percayalah. Aku tidak main main. Sejak pertama aku melihatmu... Aku sudah merasakan rasa itu... Sejak melihatmu disini, dikamarku." ungkap Sehun, jujur dari hati terdalamnya.

Luhan menggeleng lagi.

"Semudah itukah kau jatuh cinta dengan orang asing yang baru kau temui? Hah..." tanya Luhan.

"Aku tidak mudah jatuh cinta... Asal kau tahu saja, sudah banyak yeoja yang ingin menjadi pacarku disekolah. Namun aku selalu menolaknya. Karena hatiku belum bergetar... Tapi denganmu, itu beda. Aku merasakan getaran disini..." ucap Sehun, memegang dadanya. Posisinya kini berdiri.

Luhan diam mendengar pengakuan Sehun itu, mencerna semua kalimat yang didengarnya.

"Apa kau ingin tahu sebab aku pingsan tadi..." Sehun melanjutkan kalimatnya, dia akan jujur dan buka bukaan sekarang. Semua sudah kepalang tanggung.

Luhan mematung, memberikan kesempatan bagi Sehun untuk mengatakan isi hatinya.

"Aku pingsan karena sebenarnya aku... Aku phobia seks. Aku sudah pernah mencoba akan melakukan seks dengan orang lain. Tapi aku tidak bisa... Aku tidak bisa terangsang. Maka dari itu aku hanya bisa melakukannya dengan tanganku sendiri. Tapi, saat denganmu... Aku merasakan hal lain, aku... Aku begitu sangat terangsang dan bergairah. Aku sangat menikmati seks denganmu. Spermaku keluar dua kali. Aku terlalu senang, walau hal itu harus kubayar dengan pingsan setelahnya. Kau pasti mengerti apa yang aku katakan bukan?" Sehun menjelaskan dan mengungkapkan semuanya.

Sehun memang menderita phobia seks, dia takut dan sulit melakukan seks. Ketakutannya itu sudah berlangsung lama, Namun pengalamannya bersama Luhan mengubah segalanya. Dia bisa menikmati seks perdananya itu.

"Dan aku sudah berjanji kepada diriku bahwa orang yang pertama kali melakukan seks denganku adalah orang yang akan menjadi kekasihku... Dan itu adalah kau... Kau Luhan."

Deg.

Luhan tidak tahu harus menimpali apa. Namja itu meremas tangannya sendiri, galau tingkat dewa. Tapi dalam hati kecilnya ada sesuatu rasa yang membuncah.

"Kau terlalu egois Oh Sehun... Kau hanya memikirkan perasaanmu, kau tidak memikirkan perasaanku." akhirnya Luhan mengeluarkan suaranya.

"Aku tahu perasanmu... Kau juga mencintaiku... Iyakan..." Sehun menimpali dengan kalimat yang ditekankan.

"Dimana kau tahu.. Cih..." Luhan mendecih.

"Dari bahasa tubuhmu selama ini, dari seks yang kita lakukan... Semuanya. Aku bisa merasakannya." sahut Sehun, dia yakin bahwa Luhan juga menyukainya.

Luhan mendesah dan menggeleng.

"Simpan saja perasaanmu itu. Aku bukanlah orang yang tepat untukmu. Kau pantas mendapatkan orang yang lebih baik." Luhan secara tidak langsung menolak cinta Sehun.

"Ja.. Jadi kau tidak membalas cintaku?"

" menolakmu."

Jdeer... Dunia Sehun langsung runtuh, luluh lantah.

"Tapi... Selama ini..."

"Sudahlah Sehun... Kau sudah membuang banyak waktuku."

Luhan ingin langsung pergi, naik keatas jendela. Namun niatnya dihentikan oleh Sehun. Namja cadel itu sekarang sudah memegang pisau lipat kepunyaan Luhan. Pisau itu diambilnya dibawah ranjang.

Sehun mengarahkan pisau lipat itu ke urat nadinya,

"Kalau kau pergi, aku akan bunuh diri. Kau akan menemukan mayatku sebentar lagi..." seru Sehun, bukan sekedar ancaman.

"Se.. Sehun.. Apa yang kau lakukan. Letakkan pisau itu..." Luhan mengarahkan kedua tangannya, menyuruh Sehun meletakkan pisau miliknya.

"Tidak, aku lebih baik mati..." teriak Sehun.

"Jangan nekat Sehun... Tolonglah..." tubuh Luhan bergetar, takut jika Sehun benar benar memutus urat nadinya sendiri.

Sehun gelap mata, namja itu menggerakkan pisau lipat ditangannya, tepat saat itu, Luhan menerjangnya, hingga mereka berdua terjengkang. Pisau ditangan Sehun terlepas, terlempar kembali ke bawah ranjang.

Bughh...

Luhan menimpa Sehun, sangat keras.

"Jangan berbuat nekat Sehun... Baiklah.. Aku.. aku tidak akan pulang." gagap Luhan, wajahnya hanya beberapa centi dari wajah tampan Sehun.

"Terima kasih... Terima kasih..." timpal Sehun, keringat membasahi dahinya, dia juga sebetulnya sangat takut dengan tingkahnya sendiri.

Hening sesaat.

Untuk beberapa menit, baik Sehun maupun Luhan tidak ada yang berkata apa apa, hanya deru nafas mereka saja yang terdengar.

"Kenapa kau begitu labil... Hah..." Luhan mencairkan suasana yang hening. Matanya beradu tatap dengan mata Sehun.

"Itu karena kau... Kalau bukan dengan cara itu kau pasti sudah pergi." kata Sehun, tersenyum sambil melap keringat didahinya.

"Tapi tadi itu sangat berbahaya... Kau jangan melakukan hal seperti itu lagi. Kau harus janji padaku... Berjanjilah..."

"Ya, aku berjanji. Tapi kau juga berjanji tidak akan meninggalkanku... Walau kau tidak menerima cintaku. Tapi jangan tinggalkan aku..."

"Aku sudah mengatakan tidak akan pergi. Tapi... Tapi ada satu hal yang perlu kau tahu..." Luhan menghentikan sejenak kalimatnya, dia nampak berpikir keras.

"Apa itu?"

"Aku akan menceritakannya... Tapi tidak dalam keadaan seperti ini." kata Luhan, lalu menggeser posisinya, sehingga dia sudah tidak saling menindih lagi dengan Sehun.

Luhan berdiri dan duduk disisi ranjang, sedangkan Sehun duduk disisi lainnya. Wajah tegang mereka berdua sudah hilang.

"Selesaikan kalimatmu yang tadi. Aku akan menjadi pendengar yang baik." sahut Sehun, lembut dan pelan.

Luhan menatap langit langit kamar, sedikit galau. Dan memutuskan akan bercerita dengan Sehun, sekarang juga.

"Adikku kabur dan aku harus mencarinya. Dia adik yang sangat kusayang." ungkap Luhan, mulai bercerita.

"Adik. Kau punya adik?"

"Ya."

"Tapi kenapa bukan orangtuamu yang mencarinya...?"

"Ak... Aku... Aku sudah tidak mempunyai orangtua lagi. Yang kupunyai sekarang hanyalah seorang adik." jawab Luhan, matanya berkaca kaca. Dia menunduk sedih.

Sehun yang mendengar curahan hati Luhan, perlahan mendekatkan dirinya kepada namja itu, dia mengusap bahu luhan lembut.

"Kau tenang saja. Aku akan membantumu mencari adikmu itu. Kita bersama." Sehun menawarkan bantuannya, dengan tulus.

"Tapi..."

"Jangan menolak... Kita temankan? Aku tidak akan membiarkanmu mencari sendiri. Lagipula aku tidak ingin berpisah denganmu. Kita akan mencari bersama sama." potong Sehun,

Luhan sejenak berpikir dengan penawaran Sehun,

"Baiklah, aku setuju. Kita akan mencari adikku bersama sama." kata Luhan, akhirnya menyetujui bantuan dari Sehun.

Sehun tersenyum mendengar kesanggupan Luhan, dia sedikit melupakan penolakan Luhan padanya, penolakan cinta.

"Kalau begitu jangan buang waktu lagi... Ayo..." Sehun bersemangat, karena sebentar lagi akan jalan berdua dengan Luhan, memakai mobil.

Luhan mengangguk pelan, setuju.

o

o

o

15 menit kemudian Luhan dan Sehun sudah berada dilantai dasar. Penampilan Sehun sangat rapi dan keren. Berbeda dengan Luhan yang lusuh, baju itu itu saja. Sehun memaksa Luhan untuk mengganti baju, tapi Luhan menolak mentah mentah. Namja itu nyaman dengan penampilan apa adanya.

"Ayo berangkat..." sahut Sehun, seraya menarik pelan tangan Luhan, menuntunnya ke pintu depan. Luhan tidak menolak dipegang.

Namun tiba tiba, pintu depan terbuka, menampilkan sosok namja. Namja itu berpapasan dengan Luhan dan Sehun.

"Oh.."

"Ah, Jin hyung... Aku kira hyung tidak pulang..." kata Sehun, tersenyum.

Namja yang baru datang itu adalah Jin, namja teman 'sepermainan' Luhan, Baekhyun dan Kyungsoo.

Jin kaget, begitu juga dengan Luhan. Tidak menyangka akan bertemu diwaktu yang salah, Luhan benar, Jin memang merupakan anggota keluarga Sehun.

"Oh, aku melupakan kunci mobil diatas... Sebentar..." kata Sehun, baru sadar, setelah merogoh saku celananya yang kosong. tanpa membuang waktu, namja lekas naik ke lantai atas. Meninggalkan Luhan dan Jin berdua.

Hening.

Jin mengamati penampakan Sehun yang menghilang diatas. Setelah itu mendekati Luhan.

"Oh, jadi sekarang korbanmu adalah adikku..." tukas Jin, bernada ketus.

Luhan mendelik,

"Jadi benar kau bersaudara dengan Sehun?" Luhan mengajukan pertanyaan dan tidak memperdulikan statement awal Jin yang bernada memojokkan.

"Tentu saja, Sehun adalah adikku." jawab Jin.

"Sudah kuduga."

Pembicaraan dan nada bicara kedua namja itu kini sangat berbeda dengan saat bersama sama dalam komunitas.

"Setahuku bagian dan targetmu adalah pria pria tua berduit... Tapi kenapa sekarang kau mengincar namja muda. Dan namja itu adalah adikku... Apa kau sudah memperoleh uang banyak darinya? Hah..." ucap Jin, mengintimidasi.

"Aku sama sekali tidak mendapatkan uang sepeserpun dari Sehun."

"Lalu?"

"Aku tidak sengaja terdampar dirumahmu... Dan mengenal adikmu." jelas Luhan.

"Bagaimana aku bisa percaya... seharusnya kau bisa pergi. Aku sangat tahu bahwa kau pandai kabur, berlari dan sebagainya. Kau menyalahi kesepakatan Luhan... Sehun memegang tanganmu tadi, wajahnya sangat gembira. Itu berarti kalian sudah menjalin hubungan yang serius." Jin terus mengemukakan hipotesanya.

"Kau salah sangka Jin. Aku hanya berada ditempat dan waktu yang salah. Kau harus paham dengan posisiku." Luhan menjelaskan lagi. Sesekali matanya tertuju dilantai dua, takut Sehun muncul dan mendengarkan percakapannya.

"Aku tahu kau namja yang baik Luhan... Tapi tolong jangan jadikan Sehun sebagai target. Aku tidak ingin adikku itu kecewa...Aku tidak ingin Sehun jatuh cinta kepada orang yang hanya mengincar hartanya saja."

Luhan menggeleng mendengar kalimat dari Jin itu, serasa menusuknya.

"Asal kau tahu, aku tidak mengincar harta adikmu. Aku... Aku..." Luhan tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia sangat sedih. jin sudah salah paham padanya.

Jin perlahan mengubah ekspresinya. kemudian memegang bahu Luhan, menepuknya.

"Maafkan kata kataku yang tadi... Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku mengatakan itu karena aku tahu bahwa Sehun sudah jatuh cinta padamu..." "Ba.. bagaimana kau bisa tahu...?"

"Aku saudara Sehun, aku tentu saja tahu. Hanya melihat tingkahnya saja tadi. Aku bisa menebak, ternyata benar... Apa jawabanmu?"

"Ah.. Eh..."

"Jawab saja."

"Aku menolaknya."

Jin tersenyum mendengar jawaban Luhan itu, dia mengamati sorot mata Luhan sesaat.

"Tapi sepertinya dalam hatimu berkata lain..." kata Jin.

"Maksudmu?"

"Kau pasti paham maksudku."

Luhan menundukkan wajahnya, tangan Jin masih bertengger dibahunya. Dia sempat takut Sehun melihat itu dan salah paham.

Jin mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan, intens.

"Kalau kau punya perasaan yang sama dengan adikku itu, jujurlah... Dan jangan kecewakan dia." gumam Jin, pelan.

"Sehun susah jatuh cinta. Dan sekali dia jatuh cinta, maka dia akan memperjuangkan cintanya. Apapun akan dia lakukan... Sampai hal nekat sekalipun... Itulah Sehun." Jin melanjutkan kalimatnya, seraya tersenyum tampan. Dia melepaskan tangannya dari bahu Luhan.

Luhan mematung.

"Kalian pasangan yang cocok."

Setelah kalimat terakhir itu, Sehun muncul, berjalan dengan tergesa gesa, yang otomatis menghentikan percakapan antara Luhan dan Jin.

"Uuff... Kunci mobilku terselip dibawah lemari..." kata Sehun, ngos ngosan. Namja itu memandang Jin dan Sehun bergantian.

"Baiklah, aku masuk kamar dulu. Senang berkenalan denganmu Luhan..." ucap Jin, membungkuk pada Luhan, dengan mengedipkan sebelah matanya.

"Sa..sama sama" balas Luhan, juga membungkuk. Mereka berdua berakting baru pertama kali berkenalan.

Jin tersenyum, menepuk singkat bahu Sehun, kemudian berlalu kedalam, masuk kedalam kamarnya sendiri.

Sepeninggal Jin, Sehun lekas menarik pelan tangan Luhan.

"Ayo... Kita sudah membuang banyak waktu..."

"Y... Ya.."

o

o

o

o

O...O...O...O

Jungkook duduk manis didalam sebuah ruangan. Namja itu nampak tertunduk dengan mata sesekali melirik namja yang lain, yang bersamanya.

"Maaf kalau aku merepotkan hyung..." gumam Jungkook, pelan.

"Kau sama sekali tidak merepotkanku." timpal namja yang lain, dia Taehyung.

Yaps, beberapa jam yang lalu, Jungkook mengejar Taehyung. Dan meminta untuk bisa ikut dengannya. Awalnya Taehyung menolak dan meminta Jungkook pulang kerumah, namun setelah melihat air mata Jungkook yang menetes, dia jadi tidak tega. Jadi disinilah mereka sekarang. Dikamar pribadi milik Taehyung, hanya berdua saja.

"Apa tidak sebaiknya kau pulang. Kakakmu pasti khawatir." kata Taehyung, sambil mengambil kotak obat P3K dilemari.

"Hyung mengusirku, begitu." balas Jungkook.

"Tentu saja tidak. Jangan salah paham." kata Taehyung cepat. Tidak ingin Jungkook mengira dia menolak kehadirannya.

Namja itu mengoleskan obat antiseptik disebuah kapas, ingin mengobati lukanya sendiri, tapi Jungkook menginterupsinya.

"Biar aku yang obati hyung..." ucap Jungkook, lalu bergerak mendekati Taehyung. Dia mengambil alih obat obatan itu.

Taehyung membiarkan, Lukanya diobati oleh Jungkook. Sesekali dia meringis karena pedih.

"Maafkan kakakku. Gara gara dia mulut hyung berdarah." gumam Jungkook, pelan. Dia tidak bisa menyembunyikan roman wajahnya yang berubah merah. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Taehyung.

Taehyung menimpali dengan senyuman, mata tidak lepas menatap mata Jungkook.

"Aish..ah... Sakit.."

"Tahan... Hyung seperti anak playgrup saja." kata Jungkook, tertawa kecil.

Dua anak sekolah yang masih muda itu saling tatap, tanpa berkedip. Suasana hening dan sepi menyelimuti mereka. Ada rasa dan sesuatu yang ingin terlontar, namun belum ada keberanian mengatakannya.

"Hm.. Aku juga minta maaf. Kalau bukan karena aku menciummu... Kejadian ini tidak akan terjadi. Maafkan aku..." sahut Taehyung, memecah kebisuan.

"Aku juga minta maaf hyung... Aku sempat memegang 'punya' hyung. Aku... Hm.. Aku..."

"Sudahlah... Yang penting..."

Percakapan indah dan syahdu antara Taehyung dan Jungkook terhenti, karena tiba tiba saja pintu menjeblak terbuka.

Braakk.

Seorang yeoja cantik muncul dibalik pintu, kemunculannya yang seperti jelangkung membuat Taehyung dan Jungkook memisahkan diri, dengan terpaksa.

"Ah oppa... Oppa apa kabar. Pesta nanti malam jadi kan?" cerocos yeoja itu, tidak sopan. Langsung masuk kamar dan tidak mengetuk pintu.

"Seulgi. Siapa yang membukakanmu pintu?" tanya Taehyung, kaget dan heran. Kerena ibunya tidur dikamar, sedangkan ayahnya masih dikantor.

"Pintu depan tidak terkunci. Jadi aku langsung masuk saja... Ah.." jawab yeoja yang bernama Seulgi itu. Kalimatnya terhenti karena melihat namja lain dikamar, Jungkook.

Jungkook tersenyum singkat dan membungkukkan tubuhnya pelan, memberikan sapaan ala Korea. Taehyung beralih menatap Jungkook, tidak enak dengan kehadiran yeoja itu.

Seulgi tanpa sungkan langsung duduk disamping Taehyung, yang membuat Jungkook dan Taehyung berpisah, dia tengah tengah. Yeoja itu memegang tangan Taehyung dengan berani, meremasnya.

"Pesta nanti malam bagaimana oppa.." ucap Seulgi, bernada manja.

"Maaf, aku tidak jadi pergi." jawab Taehyung, singkat dan padat.

"Kenapa oppa?"

"Tidak kenapa kenapa. Hanya malas saja."

"Oppa ahhhh..."

Jungkook mendelik kesal mendengar nada namja dan desahan centil si yeoja. Sorot matanya menyiratkan ketidaksukaan, terlebih posisi yeoja itu yang intim dengan Taehyung.

Jungkook mengambil jus buah yang disediakan oleh Taehyung untuknya tadi. Dia meminumnya sedikit, kemudian dengan sengaja dia menumpahkahkan jus itu ke pangkuan Seulgi.

Byuur.

"Maaf, aku tidak sengaja..." kata Jungkook, setelah melakukan aksinya dengan mulus.

"Arsh... Ah.. Kau... Rokku jadi kotor..." seru Seulgi, berdiri dan melancarkan kalimat makian.

"Sebaiknya kau pulang. Dirumah ini tidak ada baju ganti untuk yeoja. Pulanglah..." ucap Taehyung, tersenyum sedikit, sadar bahwa Jungkook sengaja menumpahkan jus ke bawahan Seulgi.

"Tapi oppa..."

"Pulanglah... Kau harus ganti pakaian."

Seulgi menghentakkan kakinya kesal, dia melirik Jungkook dengan pandangan marah. Kemudian tanpa berkata kata , yeoja itu keluar kamar. Meninggalkan Jungkook dan Taehyung berdua. Dia pulang.

Hening.

Taehyung tersenyum pada Taehyung, senyuman manis.

"Aku tahu... Kau pasti cemburukan..." kata Taehyung, menggoda Jungkook.

"Hy.. Hyung bilang apa. Aku tidak mengerti."

"Kau cemburu... Karena yeoja itu dekat denganku." jelas Taehyung, masih dengan tersenyum.

Wajah imut Jungkook memerah, dia malu dengan pernyataan Taehyung tersebut. Apa benar dia cemburu? Apa benar dia tidak suka kalau Taehyung didekati oleh orang lain?

Hening lagi.

"Kookie ah. Aku ingin tahu.. Apa benar kau menyukai Sehun sunbae?" tanya Taehyung, serius. Dia ingin memastikan, karena selama ini Jungkook tidak pernah mau bercerita.

Jungkook terdiam, tidak memberikan jawaban apa apa.

"Jujurlah... Dalami hatimu, apa kau betul betul menyukai Sehun sunbae... Atau kau hanya sekedar kagum dengannya, hanya sebatas itu."

"Ap.. Apa maksud hyung..."

"Maksudku bisa saja perasaan yang kau rasakan itu bukan cinta. Namun hanya kagum saja. Seperti penggemar Kpop kepada idola dan biasnya. Kau bukan mencintainya..." terang Taehyung.

Jungkook lagi lagi tidak bisa memberikan jawabannya. Namja muda itu berpikir dan mencerna kalimat Taehyung. Apa benar dia hanya sekedar kagum saja? Sekedar fans.

Dan yang lebih mengusiknya adalah rasa cemburu pada orang yang mendekati Taehyung. Ya, dia harus jujur bahwa dia cemburu. Adegan ciuman yang hampir mengarah pada seks menjadi bukti bahwa dia mempunyai perasaan pada Taehyung. Dia menikmati ciuman itu. Ciuman yang membuat jiwa polosnya hilang.

"Hei... Kau melamun..." Taehyung mengagetkan Jungkook, dia menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah imut Jungkook.

"Ah tidak..." Jungkook tersadar. Lalu menggaruk kepalanya, kaku.

Taehyung berdiri dari duduknya, sembari mendesah. Dia menatap jam dinding dikamarnya. Dan berbalik memandang Jungkook.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengusirmu... Tapi, kakakmu pasti khawatir denganmu. Kau harus pulang." gumam Taehyung, sangat menyesalkan keputusan Jungkook yang meninggalkan rumah, dan pergi bersamanya.

Jungkook tidak menimpali kata kata Taehyung, dia menunduk, menggesekkan kakinya ke lantai.

"Kakakmu sangat menyayangimu. Aku bisa merasakan itu. Coba kau ingat lagi pengorbanannya. Kau pernah bercerita bahwa kalian hanya tinggal berdua saja... Kakakmu sudah berbuat banyak untukmu. Dan aku tidak ingin hubungan saudara kalian putus hanya karena aku. Aku akan sangat bersalah..." lanjut Taehyung, mendesah.

"Bukan hanya karena kakakku memukul hyung... Tapi dia juga sudah meninggalkanku. Hyungku itu sudah tidak peduli denganku..." Jungkook akhirnya bersuara. Matanya berkaca kaca.

Taehyung tersenyum, lalu duduk disamping Jungkook, dia memegang lembut tangan adik kelasnya itu.

"Kakakmu tentu saja menyayangimu... Dia pulang, melihat kita berciuman, lalu dia memukulku, itu karena dia khawatir denganmu. Dia tidak ingin kau kenapa kenapa. Kau adiknya satu satunya... Kau pasti mengertikan." Taehyung memberikan pengertian pada Jungkook. Agar namja itu mau kembali kerumah.

Jungkook menundukkan wajahnya, dia membiarkan tangannya dipegang Taehyung. Dia bersyukur mempunyai kakak kelas sebaik Taehyung. Selama ini Taehyung lah yang menjadi temannya, sementara teman temannya yang lain disekolah sudah punya geng sendiri sendiri. Yang diisi oleh siswa dan siswi kaya.

"Aku akan mengantarmu pulang... Kau mau kan?"

"Baiklah hyung. Aku akan pulang." akhirnya Jungkook setuju untuk kembali kerumahnya.

Taehyung tersenyum lega mendengar kalimat Jungkook. Dia senang hati akan mengantar namja itu pulang, namun hanya sampai pinggir jalan saja. Dia tidak ingin kehadirannya disana memperkeruh lagi suasana. Dia menginginkan hubungan kakak dan adik antara Luhan dan Jungkook kembali harmonis.

"Tapi sebelum kau pulang, aku ingin kau tahu sesuatu..." kata Taehyung, wajahnya mendadak serius.

"Apa itu hyung?"

"Bahwa selain kakakmu itu, ada seseorang lagi yang begitu menyayangimu. Bahkan lebih dari kata sayang. Dia menyayangi sekaligus mencintaimu." Taehyung bertutur syahdu.

"Siapa?" Jungkook ingin tahu, dengan wajah polos.

"Dia sangat dekat denganmu sekarang."

"Siapa hyung."

Taehyung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merutuki Jungkook yang tidak sensitif. Padahal jawabannya sudah sangat jelas.

"Siapa hyung?" ulang Jungkook,

"Ah, lupakanlah... Ayo, aku akan mengantarmu pulang."

Taehyung mendesah kasar, lalu memegang lengan Jungkook. Dia akan membahas hal itu lain kali saja, saat Jungkook tidak polos lagi.

Dan akhirnya, dua namja tersebut keluar kamar, beriringan dan bersama sama. Jungkook menyimpan sejuta tanya dalam benaknya, dia masih tidak mengerti dengan ucapan kakak kelasnya itu.

Ah, waktu yang akan menjawabnya.

o

o

o

o

O...O...O...O

Sehun mengendarai mobil mewahnya dengan laju sedang. Disampingnya, Luhan duduk manis. Mereka berdua membelah jalan kota Seoul yang tidak pernah sepi. Tujuan mereka tentu saja adalah mencari adik Luhan yang kabur.

Luhan sesekali mendesah disamping Sehun, matanya tidak luput dari pinggir jalan yang mereka lewati, mencari sosok Jungkook. Namun konsentrasinya bercabang, dia teringat kata kata dari Jin.

"Hei, kau tidak melamunkan?" Sehun berkata, ketika memperhatikan Luhan disampingnya.

"Ah, ti.. Tidak." Luhan membalikkan wajah dan tersenyum, senyuman yang kaku.

Sehun balas tersenyum.

"Bukan karena aku kan... Aku minta maaf, lupakan saja kalimat cintaku tadi. Aku tahu itu terlalu cepat... Sekarang aku ingin kita berteman... Teman yang selalu bersama." ucap Sehun, menekankan kata 'bersama' dengan jelas. Bersama alias tidak terpisahkan.

Luhan tidak menimpali apa apa. Namja itu hanya memasang senyum yang sulit diartikan.

"Oh ah, aku lupa.. Siapa nama adikmu itu?" tanya Sehun, sekaligus mengganti topik.

"Namanya Jungkook." jawab Luhan.

"Oh, jadi... Namja yang kau bicarakan dikamarku itu adalah adikmu?"

"Ya, dia adikku. Aku baru tahu kalau kalian satu sekolah." Luhan menghela nafasnya.

Sehun terus menyetir mobil, namun dengan mata yang tiap beberapa detik memandang Luhan.

"Apa adikmu itu tidak punya ponsel?" Sehun bertanya lagi.

"Dia tidak punya."

"Sayang sekali... Kalau teman dekat? Yang sering kerumahmu."

"Aku kurang memperhatikan."

"Kita tidak punya petunjuk kalau begitu. Pencarian kita sama sekali buta." gumam Sehun.

"Ya, kau benar Sehun. Kita tidak punya petunjuk." Luhan senada dengan kata kata Sehun. Dia berpikir lagi.

Dan

Tunggu.

"Ah, kita kerumahku Sehun ah."

"Kerumahmu?"

"Ya, kerumahku. Sekarang."

"Baiklah kalau begitu."

Sehun memutar mobilnya, sesuai instruksi dari Luhan. Karena arah rumah Luhan berbeda dengan arah mereka sekarang. Dengan cepat mobil milik Sehun melaju dengan kencang.

o

o

o

o

Sehun dan Luhan tiba beberapa menit kemudian di rumah Luhan. Sehun memarkirkan mobilnya agak jauh. Seperti biasa, perlu berjalan kaki beberapa meter agar sampai ke kediaman Luhan.

"Masuklah... Tunggu aku disini, aku akan segera kembali." kata Luhan pada Sehun. Dia menunjuk kursi kayu satu satunya disana, menyuruh Sehun duduk.

"Baiklah." timpal Sehun, tersenyum cerah.

Luhan tanpa buang waktu langsung menuju kamar Jungkook. Namja itu berjalan dengan tergesa gesa.

Kamar Jungkook kosong, si empunya kamar belum pulang.

Luhan mendesah, padahal dia berharap adiknya itu sudah pulang dan menyambutnya dengan senyuman.

Dia cepat menuju laci meja belajar Jungkook. Meja reot yang seharusnya diganti dengan baru. Namja itu mengambil dan mengeluarkan buku kecil dari laci.

"Kalau tidak salah namanya... Eh.. Tae.. Taecyeon, ahh.. Bukan... Taehyung. Ya... Namanya Taehyung..." Luhan menggumam, berusaha mengingat nama namja yang berciuman dengan adiknya. Nama itu didengarnya tidak sengaja sesaat setelah insiden pemukulan yang dilakukannya.

Luhan membuka cepat buku kecil itu, untuk mencari alamat rumah Taehyung. Dia sangat tahu bahwa Jungkook sering mencatat alamat, maupun nomor telefon orang terdekatnya.

"Ah, dapat... Syukurlah." girang Luhan, setelah menemukan nama Taehyung dan alamat namja itu dibuku. Sayangnya tidak ada nomor ponsel tertulis, tapi itu bukan masalah.

Luhan ingin merobek kertas yang ada alamatnya itu, namun niatnya dihentikan oleh penampakan sesuatu yang menyembul dari salah satu sisi buku.

Sebuah foto. Lagi lagi sebuah foto.

Jantung Luhan berdegup lagi, dia merasakan firasat lain. Dia menarik foto itu, untuk memperjelas gambarnya.

Dan

Luhan merosot, foto itu adalah foto Sehun, lagi. Foto kedua yang ditemukannya. Kali ini dengan pose beda. Di foto itu terlihat Sehun sedang didalam kelas, memakai headset ditelinganya, tersenyum. Sangat tampan.

"Kenapa harus Sehun..."

Luhan membalik foto itu, dan kali ini semua prasangka dan ketakutannya terjawab sudah. Dia membaca tulisan tangan Jungkook disana :

'Namanya Oh Sehun. Siswa tahun ketiga. Seniorku yang tampan. Ahh, aku tidak tahu rasa apa ini. Tapi, Aku suka padanya. Dia adalah cinta pertamaku.'

Setelah membaca pengakuan Jungkook itu, air mata Luhan menetes, tetesannya membasahi foto Sehun. Hatinya perih dan sakit. Dia semakin merosot, terkulai lemas, terisak isak.

"Kenapa... Kenapa... Kenapa..." isakan Luhan semakin keras.

Lalu tiba tiba, Sehun muncul dikamar Jungkook. Namja itu penasaran karena Luhan belum juga muncul menemuinya di ruang depan.

"Luhan, kau kenapa lama se... Ah, kau menangis? Ada apa... Kau kenapa?" Sehun lekas mendekati Luhan, memeriksa keadaan namja itu.

Luhan tidak menjawab, dia kaget dan cepat menghapus air matanya.

"Kau kenapa. Kenapa menangis... Dan ini... Bukannya ini fotoku? Ini fotoku kan..." Sehun tidak sengaja melihat fotonya ditangan Luhan, foto yang sudah basah karena air mata.

"Kau pulang saja Sehun... Aku.. Aku.. akan mencari adikku sendiri." gagap Luhan, suaranya hampir hilang. Serak.

"Tapi kenapa.. Kenapa.." Sehun semakin tidak mengerti. Pertanyaan mengenai fotonya belum dijawab dan Luhan malah menyuruhnya pulang.

"Tolong pulahlah..."

"Kenapa, jelaskan padaku... Jelaskan..."

"Aku... Aku.. Aku tidak ingin Jungkook melihatku bersamamu. Tolong pulang... Sekarang.." Luhan jadi emosional. Isakannya tambah keras.

"Apa alasannya... Apa.." Sehun memaksa.

Air mata Luhan semakin deras saja, dia mengumpulkan keberaniannya.

"Karena adikku menyukaimu... Dan masalah lainnya, aku... Aku juga mencintaimu." jujur Luhan, dia tidak akan menutupi lagi.

Deg.

"Ka.. Kau.. Kau juga mencintaiku...?" Sehun memperjelas pendengarannya. Hatinya menghangat mendengar pengakuan Luhan.

"Benarkah demikian... Kau juga mencintaiku. Katakan lagi... Katakan.." ucap Sehun cepat, lalu meraih wajah Luhan, menghapus air mata di pipi namja itu. Lembut dan penuh perasaan.

Wajah Sehun dan Luhan face to face, intim. Deru nafas mereka saling bertemu.

Dan Tiba tiba...

"Hyung..."

Deg.

Jungkook muncul dibalik pintu, dan melihat secara langsung Luhan dan Sehun di kamarnya. Namja itu mematung, matanya kosong.

Oh God.

o

o

o

o

o

o

o

TBC

O...O...O...O...O...O...O

Chapter 7 selesai. Udah lumayan panjangkan?

Chapter ini khusus untuk pembaca yang tidak pernah lelah dan bosan memberikan Reviewnya, review yang menunjukkan bahwa ff ini masih ditunggu... Terima kasih semua. Walau aku yakin pasti ada juga pembaca yang tidak nyaman dgn adegan di ff ini, maaf ya.

Aku sebenarnya ingin memunculkan banyak cast yeoja (dari girls band) tapi, takut kena bash.. Hehehe... Berkaca pada pengalaman ff yang lalu lalu. Dan scene Kyungsoo dan Baekhyun hanya lewat saja, hehee.. Maklum mereka bukan main cast di ff ini, mudah mudahan pembaca mengerti.

Reviewnya masih dinantikan, aku update chap ini lebih awal dari jam biasa... Semoga masih disukai.

Salam Love

Han Kang Woo