Teruslah Mencintaiku
Ya ini dia, chapter terakhir! Selamat membaca.
Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.
Song: Lost in Space by Lighthouse family.
Normal POV.
Sai menurunkan kuasnya sesaat, mengamati lukisan yang belum selesai dan sempurna namun sudah meperlihatkan kenangan Sai sedikit. Terdapat empat orang yang saling tersenyum dan berpose seperti hendak ingin difoto. Ia menghela napas. Sebenarnya ia sangat suka Sasuke. Hampir bisa dibilang seandainya ia tidak mencintai istri Sasuke, keduanya bisa menjadi sahabat yang dekat, Sai tahu itu. Akan tetapi Sai selalu memastikan ada dinding di antara mereka karena ia tidak mampu menjadi sahabat Sasuke tanpa merasa cemburu.
Kenapa hidup bisa menjadi begitu rumit sih?
Sakura, dari dulu Sai mengagumi ketabahan hati Sakura sekaligus sisi lemah yang selalu ia berusaha untuk sembunyikan dari orang lain. Sakura tidak bisa dikatakan sebagai wanita yang cengeng walaupun ia sering menangis di atas bahu Sai kalau lagi butuh teman. Sai selalu mendapat impuls untuk melindungi Sakura. Mungkin ia mencintai Sakura karena ia merasa dibutuhkan?
Dibutuhkan. Sai jarang dicari, diperlukan, dan dibutuhkan kehadirannya oleh orang lain. Ia hanyalah seorang lelaki pendiam yang kebetulan memiliki bakat melukis. Ia berasal dari panti asuhan dan setelah kematian kakaknya dari panti asuhan yang sama, Sai memastikan untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain lagi. Ia takut kehilangan seseorang untuk yang kedua kalinya...
Tetapi dengan Sakura semuanya berbeda. Ia bisa membuka hatinya untuk Sakura karena Sakura jujur. Sakura tidak pernah menyembunyikan sisi buruknya. Setiap orang memiliki sisi buruk. Sakura tidak terlalu menunjukkannya, tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu menyakiti orang lain dengan sifat amarahnya.
Apa sisi burukku, Sai bertanya-tanya. Ia mengambil kuasnya lagi dan mencat warna rambut gadis yang ia gambar di samping Sakura dengan warna pirang. Sai tersenyum dan hatinya diselimuti sebuah kehangatan, membuatnya menurunkan kuasnya dan menyentuh pipi gadis itu. Tiba-tiba ia menarik tangannya, bagai disengat listrik.
Kenapa ia tersenyum melihat semua hal yang mengingatkan Ino kepadanya? Sejak kedatangan Ino seminggu yang lalu, Sai tidak bisa mengusir bayangan Ino dari kepalanya. Dengan bayangan Ino, hadir pula ribuan pertanyaan.
Sejak kapan ia menyukai Sai? Apa yang membuatnya menyukainya? Apakah Ino sungguh sudah nggak menyukainya lagi? Apakah...
Sai tiba-tiba sadar bahwa selama ini ia tidak tahu sama sekali soal perasaan Ino. Jadi selama ini ia mencurahkan isi hatinya kepada Ino tentang perasaannya terhadap seseorang, dan selama ini Ino tahu bahwa orang itu adalah Sakura? Bagaimana perasaannya setiap kali mendengar curhatnya? Sakit hatikah? Berat?
Sai mengingat senyum Ino dan tepukannya di punggungnya. "Jangan khawatir Sai. Walaupun perasaanmu nggak dibalas aku yakin akan datang saatnya dimana kamu menemukan jawabannya. Semoga kamu tahu yang terbaik untukmu." Lalu Ino akan minta permisi sebentar untuk pergi ke kamar mandi. Menangiskah ia setiap kali ia mendengar curhat Sai tentang cintanya terhadap Sakura?
Sekarang pula Sai ingat bahwa waktu kuliah, terkadang ia mendapati Ino memandangnya dari kejauhan. Saat mata bertemu, Ino akan tertawa grogi dan nyengir lebar, atau melambaikan tangan, atau berpura-pura melihat ke arah lain.
Kalau dibandingkan, bisa dibilang keadaan Ino mirip dengan keadaan Sai. Pelukis itu ingin sekali berbicara dengan Ino, ingin mendengar suaranya, ia ingin sekali tahu lebih banyak. Harus Sai akui bahwa sejak Ino tidak pernah ngirim kabar lagi, ia sangat merindukannya, ia terus membayangkan senyum Ino yang polos, matanya yang berbinar-binar saat melihat sesuatu yang lucu, atau rambut panjangnya yang diterbangkan angin.
Tapi bagaimana ia bisa berbicara dengan Ino kalau ia sendiri tidak bisa dihubungi sejak seminggu yang lalu? Ingin ia pergi ke rumahnya, tetapi Sai takut Ino akan marah-marah dan mengusirnya pergi. Mungkin kini saatnya ia tetap mencoba...
Ya ia harus coba, ia ingin ketemu! Sai bangkit lalu mengambil sebuah jaket yang tergantung di dekat pintunya. Setelah mengelus Mia, kucingnya, ia bergegas. Saat ia membuka pintu rumahnya ia mendapati Sasuke, basah kuyup karena hujan yang terhenti beberapa jam yang lalu. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetaran, entah karena air hujan yang dingin atau karena kemarahan yang terpancar dari kedua mata hitamnya.
"Dimana Sakura!" teriak Sasuke. Ia mendorong Sai dan masuk ke dalam rumah memanggil nama istrinya.
"Sakura?! Sakura?! Kamu ada di dalam?! Jawablah aku Sayang!"
"Sasuke tenang dulu!" Sai mencoba untuk mencegah Sasuke membuat kegaduhan di rumahnya sendiri, namun Sasuke menarik lengannya sekuat tenaga.
"Sakura!" Sasuke melihat ke dalam semua ruangan.
"Sasuke, Sakura nggak ada disini! Dia ada di tempatnya Ino, kebetulan aku mau kesana-"
"Ino nggak ada! Mobilnya nggak ada! Kata para tetangganya, dia sudah pindah keluar kota entah kemana! Aku nggak peduli dia ada dimana, aku mau ketemu istriku!" teriak Sasuke panik tak karuan.
Perkataan Sasuke membuat perut Sai terasa bagai diisi air dingin. "Ino telah pindah...?"
"Kalau nggak percaya, pergi saja ke tempatnya!" Sasuke mencengkram kepalanya. "Aku mau ketemu istriku..!"
"Sasuke, tenang dulu, mungkin semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman-"
"Semua barang Sakura telah hilang! Ia telah pergi membawa semuanya, semuanya! Ia telah pergi dari kehidupanku dan aku baru sadar sekarang bahwa aku nggak bisa hidup tanpa dia..." Sasuke menggeram.
Sai tidak mampu menghentikan dirinya untuk berkata, "penyesalan selalu datang belakangan Sasuke, aku sudah melihat semua ini datang. Tidak ada orang lain yang patut disalahkan kecuali dirimu sepenuhnya, dari dulu aku sudah berpikir bahwa kamu tidak pantas untuk Sakura."
Sasuke mengangkat kepalanya, sembari berlari ke arah Sai dan mencengkram bajunya. Kedua lelaki itu saling mengangkat tinju dan berkelahi di depan pintu. Sai dan Sasuke terjatuh, tetapi Sasuke masih mengeram dan melemparkan dirinya ke Sai, membantingnya ke bawah, Sai bagaimanapun, berhasil meninju wajah Sasuke.
"Beraninya kau! Seharusnya kau tidak menyentuh istriku!"
"Kamu seorang pecundang Sasuke! Sakura pantas mendapatkan yang lebih baik!"
"Aku tidak akan melepaskan Sakura! Tidak akan pernah!"
"Sudah terlambat untuk itu! Kau sudah terlalu menyakitinya!"
Perkelahian Sai dan Sasuke membuat beberapa tetangga melihat keluar jendela dan pintu rumah mereka dengan heran dan rasa ingin tahu, namun tidak ada yang menghentikan mereka. Akhirnya Sasuke dan Sai berhenti, mereka duduk, meraba bagian tubuh yang kesakitan, Sasuke meludahkan darah di dalam mulutnya keluar, dan Sai meggosok bibirnya yang pecah.
"Sudah kembali akal sehatmu?" tanya Sai sinis.
"Aku cuma menyembunyikannya sebentar untuk membuatmu babak belur," balas Sasuke dingin.
Sai tertawa, "terserah. Aku lagi sibuk, aku harus menemukan Ino dan Sakura..."
Sasuke kembali meledak, "bisakah kamu berhenti mengejar istriku?! Haruskah kumulai ronde kedua?"
"Agar kau tahu ya," Sai sekarang terlihat marah, "aku menyebut nama Ino duluan daripada nama Sakura! Dan tentu saja aku ingin menemukan Sakura juga, dia sahabatku, menikah denganmu atau tidak, lagipula dia lagi hamil, aku mengkhawatirkan keadaan-"
Sasuke memandang Sai dengan mata terbuka lebar dan untuk sesaat ia melupakan kemarahannya terhadap Sai. Bahkan tubuhnya mengabaikan rasa sakitnya.
"H-hamil...? Sakura?" bibir Sasuke bergetar.
Sai memandang Sasuke dengan ekspresi yang sama.
"Kami-sama, Sasuke! Kau tidak tahu?!"
"Bagaimana aku bisa tahu?" geram Sasuke frustasi, kedua matanya berkaca-kaca. "Tidak ada yang kasih tahu!"
"Oh ya bagaimana bisa? Aku dan Ino sudah mencoba menghubungimu untuk sebulan."
"Aku telah melemparkan ponselku ke laut... Aku akui untuk sebulan aku tidak mencoba untuk nelpon duluan, tetapi kemudian aku nitipkan nomerku yang baru di kantor. Seharusnya mereka Karin atau Orochimaru kasih tahu nomerku jika Ino atau Sakura nelpon."
"Percayalah padaku, Ino mencoba menghubungimu untuk dua bulan penuh, tetapi Orochimaru menolak untuk memintamu balik, ia bahkan sudah dikasih tahu kalau Sakura hamil. Sepertinya Orochimaru sama sekali tidak berkehendak untuk membuatmu menghentikan pekerjaan yang menyukseskan perusahaan..." ujar Sai kesal.
"Sialan..." Sasuke memukul tanah di sampingnya. "Aku akan keluar dari pekerjaanku hari ini juga. Sekarang aku hanya mau menemukan Sakura..."
Sai menghela napas, "begini Sasuke, aku tahu kamu tidak suka padaku dan aku juga tidak suka kamu. Namun aku pikir kita harus kerja sama untuk menemukan kedua wanita itu. Dan biar kubuat jelas disini, kebahagiaan Sakura adalah yang utama, aku tidak akan merebutnya darimu jika kamu benar-benar bisa membahagiakannya. Sakura adalah sahabatku, sudah dari dulu sampai sekarang. Aku akui, aku telah kelewatan akhir-akhir ini, tapi aku siap melakukan apapun, hanya agar kita semua berkumpul seperti dulu lagi... kita berempat. Dan kamu tidak bisa mencegahku untuk mencari mereka. Aku harus menemukan Ino."
Sasuke terdiam sesaat. Kata-kata Sai ada benarnya juga, prioritas sekarang adalah menemukan Sakura dan Ino dan untuk itu ia butuh bantuan. Lagipula jika masalah rumit tentang mencintai wanita yang sama itu tidak ada, ia tahu ia bisa berteman dengan Sai.
Sasuke bangkit, menepuk-nepuk celananya yang kotor, lalu ia mengulurkan tangannya kepada Sai. Pelukis itu mengangguk kemudian ia meraih tangan Sasuke dan dibantu bangun.
"Kita gencetan senjata... " ujar Sasuke tenang, tetapi kemudian ia tersenyum mengejek, "...untuk sekarang. Aku masih belum puas menghajarmu."
"Setuju, dan kita lihat saja," Sai berjabat tangan Sasuke memperlihatkan senyum ala dirinya yang khas.
"Pertama-tama kita tanya semua tetangga Ino, mungkin mereka punya petunjuk. Karena ini sudah malam kita nggak bisa nelpon Tsunade jadi kusarankan kita lakukan besok," saran Sai.
Sasuke geram, "aku nggak bisa nunggu sampai besok, siapa tahu istriku lagi dimana..."
Sai mengangkat tangannya, "aku bisa mengerti kamu cemas Sasuke, tetapi pergi mencari tak karuan tidak akan membuahkan hasil, lagipula aku yakin Ino ada bersama Sakura, ia akan menjaganya dengan baik-baik, itu bisa aku jamin."
Sasuke belum bisa tenang, namun ia setuju. Berdua mereka menuju ke tempat Ino untuk menanyakan tetangga sekitar. Mereka tidak mendapat banyak informasi, satu-satunya hal adalah bahwa Ino menyebut sesuatu tentang mengunjungi seorang saudara jauh.
Hari sudah terlalu malam dan Sai menawarkan Sasuke untuk menginap di tempatnya saat Sasuke bilang ia akan tidur di dalam mobil, ia tidak mampu pulang dan tidur di rumahnya yang kosong tanpa kehadiran Sakura disana. Sasuke menerima tawaran Sai dan tidur di sofa ditemani Mia. Sebelum menutup mata, Sasuke mengirim bosnya Orochimaru sebuah SMS pendek yang bertuliskan "aku keluar dari pekerjaanku." Lalu untuk kedua kalinya Sasuke membuang nomernya. Merasa lebih baik, ia menutup kedua matanya dan jatuh tidur, memimpikan seorang wanita dengan rambut pink, menunggunya entah dimana.
-O-O-O-O-O-
Sambil memainkan kunci mobilnya dan membawa belanjaan yang ia baru saja beli di supermarket terdekat, Ino bersenandung menuju ke rumah terakhir yang ada di ujung jalan. Ia sudah bisa mencium air laut dan mendengar ombak tidak jauh dari tempatnya, merasa heran kapan ia akan hidup lagi di tempat tanpa bau dan suara itu, tetapi Sakura dan Manami sepertinya merasa paling nyaman berada di dekat laut. Hampir setiap hari Sakura mengajak Manami main di pantai kalau ia lagi tidak kerja.
Ino masih bersenandung saat ia membuka pintu dan melepas sepatu hak tingginya. Setelah meletakkan belanjaanya di dapur ia mencari Sakura dan Manami. Ia menemukan keduanya tertidur di atas sofa, Manami di atas perut ibunya. Ino tersenyum dan menyelimuti mereka berdua. Keduanya begitu mirip dalam hal kepribadian walaupun Manami sekarang menunjukkan ciri-ciri wajah ayahnya selain rambutnya yang sehitam malam. Hanya matanya yang hijau, itu adalah ciri khas yang ia dapat dari ibunya. Ino tertawa geli saat membayangkan betapa cantiknya Manami akan jadi nanti, pasti ia dan Sakura akan menjadi wanita-wanita tua galak yang berusaha membendung para cowok yang akan mengejar Manami kemanapun ia pergi. Ino memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas saat Sakura datang dengan menguap.
"Hai Ino, kamu tadi belanja?" Sakura melihat ke dalam tas plastik.
"Yap, aku lagi kepingin makan pasta. Lihat, sekarang kita bisa masak pasta pomodoro, aglio olio, cabonara..." Ino nyengir saat memasukkan sayuran ke dalam kulkas.
"Sudah beli susu buat Manami?" tanya Sakura.
"Sudah dong, aku juga beli rok baru untuknya, lihat. Lucu nggak?" Ino tersenyum lebar memperlihat rok pink dengan motif kucing.
"Lucu sekali Ino," Sakura tersenyum mengambil rok itu. "Manami pasti akan suka, akan dia pakai saat kita pergi ke kebun binatang minggu depan, gimana?"
"Ide bagus," Ino menutup kulkas. "Oh ya lagi dua hari ada diskon besar di butikku, kamu mau datang? Sudah saatnya kamu beli baju baru Sakura, lemarimu terlalu kosong untuk seorang wanita! Aku tahu kamu masih mencurahkan semua perhatianmu ke Manami, tapi kapan kamu akan keluar dari rumah dan memperhatikan dirimu juga?" Ino membuka segel es krim vanilla dan memakannya setelah menawarkannya kepada Sakura yang menggelengkan kepalanya.
"Nanti Ino... aku belum siap untuk ketemu orang-orang baru... Tapi aku akan ke butikmu, janji deh," Sakura duduk di atas kursi kemudian dia menunjuk ke sebuah buket bunga di pojok dapur. "Tuh kamu dapat bunga dari Deidara lagi, dia tadi datang kesini mau mengajakmu makan malam tapi aku bilang kamu lagi nggak ada."
Ino menghela napas, "dia keras kepala juga ya?"
"Hayo, siapa tadi bilang kalau aku harus keluar dan ketemu orang baru. Kenapa nggak kencan sekali sama dia? Siapa tahu kamu..." Sakura tertawa terkekeh.
"Menurutmu aku harus mencobanya?" Ino memakan es krimnya sembari berpikir.
"Ayolah, kamu sudah lama sekali nggak kencan, kalau dipikir-pikir kamu nggak pernah kencan sejak kita pindah kesini," Sakura tambah semangat.
"Hm... ya sudah..." Ino tersenyum sedikit, ia mulai tambah semangat.
"Aku akan tidur sekarang, kamu kerja besok 'kan? Makan malam saja sama Deidara, aku dan Manami akan baik-baik saja, mungkin kami akan pergi berenang di pantai lagi besok."
"Kamu benar-benar nggak bisa hidup jauh dari laut sekarang ya?" tanya Ino.
"Nggak bisa, aku benar-benar bahagia disini, begitu juga Manami. Aku hampir bisa bersumpah, dia adalah reinkarnasi putri duyung!" Sakura tertawa.
Ino tertawa, "selamat tidur Sakura." Ia kemudian memasukkan sisa es krimnya ke dalam kulkas.
Sakura menguap, "selamat tidur."
Setelah itu Sakura menggendong putrinya yang berumur dua tahun ke atas. Manami tidur di kamar Sakura yang merupakan kamar terbesar di rumah ini. Setengah kamar Sakura penuh dengan mainan dan kebutuhan Manami, sedangkan kamar kedua adalah milik Ino yang masih 100% adalah kamar seorang wanita singel. Rumah ini bahkan memiliki teras yang menghadap ke laut. Sakura dan Ino telah mengumpulkan semua tabungan mereka dan Sakura bahkan dengan berat hati menjual rumah pantai kecil hadiah Sasuke agar mereka bisa beli rumah ini. Mereka bahkan terpaksa meminjam uang dari bank untuk bayar setengah harganya, tetapi Ino dan Sakura bekerja keras dan sedikit demi sedikit mereka bisa bayar hutang mereka. Ino menjadi penjual di sebuah butik pakaian di kota, terkadang ia bekerja malamnya di sebuah bar dan Sakura bekerja di sebuah apotik. Mereka bergantian menjaga Manami, Ino sudah menganggap Manami seperti putrinya sendiri, gadis kecil itu sungguh mampu mencuri hati setiap orang yang melihatnya.
Ingatan akan masa lalunya membuat Ino memikirkan nasib dua lelaki yang sudah lama ia coba lupakan. Ia bertanya-tanya apakah Sasuke sudah menjadi begitu sukses sampai ia tidak benar-benar mencari Sakura. Terkadang Ino berharap Sasuke muncul di depan pintu dan membawa Sakura dan Manami pulang, sahabatnya sungguh pantas memiliki keluarga yang utuh. Akan tetapi sampai tiga tahun terakhir ini tidak pernah ada kabar apapun, dan Sakura tidak berbicara sepatah katapun tentang Sasuke sejak perpisahan mereka. Hanya sekali, saat melahirkan Manami, sambil menggenggam tangan Ino yang terus mencoba menyemangati temannya, ia meneriaki nama Sasuke. Saat Sakura menggendong Manami untuk pertama kalinya ia menangis dan membisikkan nama Sasuke untuk terakhir kalinya. Sakura menamakan putrinya Manami, dengan kanji mana untuk kasih sayang dan mi kanji untuk laut.
Kalau untuk dirinya sendiri, Ino berharap orang yang muncul di depan pintu adalah...
Ino mengganti bajunya dan menggosok gigi. Saat memperhatikan wajahnya yang terlihat capek dan sedikit kesepian ia mulai setuju dengan Sakura bahwa ia harus mulai kencan lagi. Saatnya untuk melupakan orang berambut hitam yang suka melukis itu. Tidak ada untungnya mengharapkan cintanya terbalas.
Dengan senyum yang mengisyaratkan harapan, Ino tertidur pulas.
-O-O-O-O-O-
Sakura tersenyum melihat Manami memukul sekop plastik kecilnya ke pasir sambil mengguman "da da daa." Ia sungguh terlihat gemes dalam baju renang pink miliknya. Sakura hanya memakai baju kaos putih dan celana pendek. Di sekitar sini tidak banyak orang yang tinggal, dan jika ada yang melihat Sakura itu hanyalah tetangga dekat.
"Lihat Manami, kerang pink!" Sakura tersenyum lagi saat Manami berjalan ke arah Sakura untuk mengambil kerang. Manami tertawa lalu ia mencoba untuk mengunyah kerang itu.
"Manami jangan," Sakura mengambil kerangnya dan menaruh Manami di atas pangkuannya, mencium kepalanya.
"Yino, yino!" Manami meronta sedikit. Ia melihat sekeliling.
"Tante Ino lagi ada janji kencan, tunggu sampai dia pulang ya?" Sakura menaruh kerangnya di dalam ember plastik merah milik Manami.
"Kencyan?" tanya Manami heran.
Sakura tertawa dan mengangkat putrinya tinggi-tinggi, kemudian mencium perut Manami untuk menggelitiknya. Manami tertawa dan meronta sekaligus.
"Bobil," kata Manami, membuat Sakura berpaling ke rumahnya.
Sebuah mobil hitam berpakir di pakiran, Sakura menduga itu adalah Deidara lagi. Tapi bukankah seharusnya sekarang ia lagi makan malam dengan Ino?
Sakura bangkit sambil menggendong Manami. Ia mendengar bunyi pintu mobil yang dibuka lalu ditutup, mendengar bunyi bel pintunya. Sakura ingin sekali tahu siapa yang telah datang, tetapi entah kenapa ia tidak mampu menggerakkan kakinya.
Tiba-tiba Manami tertawa dan mengangkat kedua lengannya ke arah rumah seolah-olah ia ingin sekali dipeluk oleh orang yang menunggu di depan pintu.
"Da da da.. da dad dad dad!" ujar Manami ceria.
"Dad..?" tanya Sakura heran.
Kemudian sebuah bayangan muncul di samping teras yang menghadap ke laut.
-O-O-O-O-O-
Ino tersenyum menyentuh buket bunga mawar yang tertata rapi di meja tempat ia menunggu Deidara. Sudah lama ia tidak merasa antusias dan romantis begini. Deidara telah mengirimnya sebuah SMS memberitahu restoran dan nomer meja dimana ia akan makan malam bersamanya. Ia cukup terkejut mendapati meja itu memiliki bunga dengan kartu bertuliskan namanya.
Seorang pelayan menanyakan apa yang ingin ia minum, Ino merasa hari ini ia pantas minum sesuatu yang spesial.
"Champagne."
Pelayan itu mengangguk dan tidak lama kemudian ia membawa pesanan Ino. Ia membuka botol itu, menuangkan sedikit ke gelasnya Ino, membungkuk lalu pergi. Ino menghabiskan waktunya dengan berpikir soal beberapa rencananya untuk masa depan. Jika hutang mereka sudah lunas ia ingin membuka butiknya sendiri...
Gelasnya kosong, dan Ino hendak mengambil botolnya untuk menuangkan sedikit ke gelasnya, tetapi pelayannya lebih cepat. Ino tersenyum tanpa berpaling ke arahnya. Ia tiba-tiba sadar bahwa tangan pelayan itu ternyata lebih maskulin dan pucat daripada sebelumnya. Entah kenapa kedua pipinya Ino tersipu merah karena ia mendapat keinginan untuk dielus tangan itu.
"Merci," kata Ino malu-malu saat mengangkat wajahnya.
Senyum Ino langsung hilang. Ternyata yang berdiri di sampingnya bukanlah si pelayan atau Deidara.
Itu adalah Sai.
"S-Sai...?" kedua lutut Ino terasa lemah seketika.
Sai tersenyum padanya, sebuah senyum yang Ino belum pernah lihat sebelumnya. Itu adalah senyum seorang lelaki yang sudah dewasa, yang belajar dari kesalahannya, yang memaafkan semua kesalahan gadis yang ia cintai. Senyum seseorang yang telah menemukan apa yang ia cari selama ini.
"Ino," Sai mengangguk kemudian duduk di depannya.
"Apa yang kamu lakukan disini..?" Ino memperhatikan Sai dari atas ke bawah, ia akui bahwa Sai terlihat tampan dalam setelan jasnya.
"Makan malam dengan wanita yang kucintai," jawab Sai tanpa malu-malu.
Mulut Ino terbuka, tetapi ia menutupnya secepat kilat. Ia sungguh bingung, ada begitu banyak pertanyaan. Sai nampaknya tidak sebingung itu, ia bersikap seolah-olah gadis yang duduk di depannya bukanlah seseorang yang ia tidak lihat untuk tiga tahun terakhir ini. Ia dengan tenang memesan sebuah filet ikan dengan asparagus dan saos anggur putih.
"Sai jawab pertanyaanku, kenapa kamu bisa ada disini? Bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini? Aku... aku lagi nunggu seseorang!" Ino sekarang meledak marah karena ia tidak bisa percaya Sai mampu bersikap begitu tenang sementara ia merasa badai telah menggoyahkan kehidupan tenang yang ia bangun dengan susah payah.
"Kamu sudah memesan?" tanya Sai dan senyumnya yang karismatik kembali membuat Ino melupakan amarahnya.
"Belum..." jawab Ino malu-malu.
"Jangan khawatir, aku sudah memesan buatmu. Pasta seafood, kamu masih suka pasta 'kan?" sekarang Sai menyangga punggungnya dengan tenang.
"Sai... begini-"
"Temanmu Deidara tidak akan datang malam ini. Aku sudah pastikan agar ia tidak mengganggumu lagi," ujar Sai tenang tetapi suaranya terdengar tajam saat mengatakan kata temanmu.
"Apa..? Kenapa? Apa yang telah kamu lakukan?! Beraninya kamu ikut campur dalam kehidupan pribadiku!" sekarang Ino bangkit membuat banyak orang berpaling ke arahnya.
Sai menggenggam tangan Ino, membuat wanita itu kembali duduk dengan tenang. Mereka berdua terdiam sesaat, Sai mengelus punggung tangan Ino dengan lembut dan Ino tidak tahu harus mengatakan apa karena ia begitu menikmati sentuhan Sai...
Saat sang pelayan datang membawa pesanan mereka, Sai melepaskan tangan Ino. Mereka makan tanpa menyebut sepatah katapun. Akhirnya setelah mereka selesai makan, dan sang pelayan membawa pergi semua piring kotor, Sai kembali berbicara.
"Aku tahu kamu punya ribuan pertanyaan Ino. Akan kujawab semuanya."
Ino langsung bertanya, "sejak kapan kamu tahu keberadaanku?"
Sai melirik ke arah Ino sebentar, kedua matanya terlihat sedih untuk sesaat, ada pula sebuah kerinduan tercermin disana.
Ia menghela napas, "sebenarnya sudah sejak dua tahun lebih..."
Ino menatap Sai dengan tidak percaya, hanya mampu bilang "oh..."
Sai kembali meraih ke tangan Ino, tetapi kali ini ia menarik tangannya. Sai kembali menghela napas.
"Kami memliki alasan kenapa kami tidak menunjukkan diri dua tahun terakhir ini," ujar Sai tenang.
"Kami...? Jadi Sasuke...?" Ino tambah shok dari detik ke detik selanjutnya.
"Ya," jawab Sai. "Seperti yang kubilang kami memliki alasan."
Ino mengangguk, kemudian tiba-tiba ia bangkit dan meninggalkan Sai sendiri. Ia membiarkan Sai mengurus pembayarannya, ia sudah tidak peduli lagi, ia hanya ingin pergi jauh dari Sai.
"Dasar cowok, kamu menunggu dan berharap mereka datang dan mereka membiarkan kita menunggu bertahun-tahun..." Ino mengguman marah pada dirinya sendiri, sambil berjalan ke arah pantai yang ada di dekat.
Ia berhenti di depan ombak dan berbisik, "ternyata aku memang berharap selama ini bahwa ia akan datang menjemputku..."
Ino menitikkan air mata, ia sudah tidak bisa mengerti dunia ini lagi. Ia terkejut saat sepasang lengan kuat memeluknya dari belakang.
"Aku dan Sasuke mencari kalian seperti orang gila saat kalian pergi dari kehidupan kami. Tidak pernah ada satu haripun kami lewatkan tanpa mencari tahu keberadaan kalian. Sasuke langsung keluar dari pekerjaanya, aku menempatkan seseorang di galeriku untuk menggantikanku. Kami menananyakan setiap orang yang mengenal kalian. Akhirnya kami mencari keberadaan saudara jauh yang kamu sebut ke seorang tetanggamu. Kami menemukannya, namun ia bilang kamu sudah pergi lagi bersama dengan temanmu yang berambut pink. Kami frustasi karena itu adalah satu-satunya petunjuk yang kami miliki. Akhirnya Sasuke mendapat kabar bahwa rumah pantai kecil yang ia hadiahkan ke Sakura sedang dijual. Kami menempatkan seseorang untuk membeli rumah kecil itu... setelah orang itu membeli rumah pantainya dengan koneksi kami, kami mengikuti orang itu yang membutuhkan tanda tangan darimu. Setelah kami menemukanmu kami mengikutimu dan akhirnya tahu alamatmu dan Sakura..."
Ino membisu. Ia membiarkan Sai melanjutkan kata-katanya, air matanya terus mengalir.
"Saat kami melihatmu masuk rumah dan Sakura menggendong seorang bayi, kami sungguh ingin berlari ke arah kalian dan tidak membiarkan kalian pergi untuk yang kedua kalinya. Namun kalian terlihat begitu bahagia, begitu tentram. Kami mengawasi kalian dan kami sadar bahwa kalian telah membangun sebuah kehidupan nyaman dengan kekuatan kalian sendiri. Kami tidak ingin menghancurkannya dengan kembali hadir dalam kehidupan kalian. Kami juga sadar kalau kami harus membawakan bukti bahwa kali ini kami akan membahagiakan kalian seperti yang kalian pantas dapatkan."
Ino menundukkan kepalanya, begitu lamanya ia menginginkan Sai mengatakan semua ini. Apakah sampai saat ini ia ternyata masih mencintai Sai sepenuhnya...?
"Sasuke sudah keluar dari pekerjaanya, namun ia sadar ia harus kerja kalau ingin menafkahi Sakura dan si kecil. Tetapi kali ini ia tidak ingin larut dalam pekerjaanya sampai menelantarkan keluarganya lagi. Kami berdua, aku dan Sasuke, ingin bagaimanapun memberikan kehidupan dimana kamu dan Sakura tidak kekurangan apapun," sekarang Sai memeluk Ino lebih erat dan menghirup aroma rambut Ino.
"Sasuke memiliki sebuah ide untuk membangun sebuah hotel di dekat pantai. Kami berdua bekerja sama, hotelnya terbangun dalam setahun, Sasuke bekerja di bidang marketing aku di accounting. Hotelnya adalah proyek kerja sama kami yang sukses. Begitu sukses sampai kami membangun sebuah hotel yang lainnya. Hotel yang pertama kami namakan Sakura, hotel yang kedua Ino, kami berencana membangun hotel yang ketiga bernama Manami..."
Ino menangis terisak-isak membalikkan badannya untuk menatap Sai.
Sai mengelus pipinya, "aku dan Sasuke tidak henti-hentinya memikirkan kamu, Sakura dan si kecil Manami. Minggu yang lalu hotel kedua kami telah selesai dibangun. Kami merasa ini akhirnya adalah saatnya untuk menjemput kalian. Dan kali ini kami tidak akan membiarkan kalian pergi."
"Sai..." Ino menundukkan kepalanya sembari menangis.
"Aku mencintaimu Ino, hanya setelah kamu pergi dariku aku sadar betapa aku merindukan dan membutuhkan kehadiranmu dalam kehidupanku. Aku tidak bisa berhenti melukismu, hanya dengan begitu aku merasa kamu masih berada di sisiku. Namun kali ini aku ingin membawa Ino yang sebenarnya pergi bersamaku. Aku sadar selama ini aku telah bertindak kelewatan dengan menyakitimu dan tidak pernah memberikanmu kesempatan. Maukah kamu memaafkan pria bodoh ini dan pulang bersamaku?" tanya Sai dengan sepenuh hatinya.
Ino tambah menangis sebelum ia membuka kedua lengannya dan memeluk Sai erat-erat. Lelaki itu tertawa bahagia dan mengangkat Ino tinggi-tinggi. Kemudian ia mencium Ino dengan penuh cinta.
"Tidak akan kulepaskan lagi..." bisik Sai membuat Ino kembali tersipu merah.
Ino tiba-tiba terlihat serius, "bagaimana dengan Sasuke? Kapan ia akan menemui Sakura?"
Sai berpaling, kedua pipinya tersipu merah, membuat Ino heran sekali.
"Begini... Sasuke mengosongkan sebuah meja di restoran miliknya hari ini dan memerintahku untuk membuatmu sibuk agar aku pastikan kamu tidak mengganggu reuni-nya dengan Sakura malam ini..."
"Apa?!"
Sai tertawa dan kembali memeluk Ino.
-O-O-O-O-O-
"Dad! Dad!" Manami terus menunjuk ke arah pria yang melangkah ke tempat dimana Sakura dan Manami berdiri.
Sakura merasa dadanya sesak sekali, ingin ia lari, pergi jauh dari pria itu, tetapi ia ada di depannya dan laut ada di belakangnya. Ia memeluk Manami erat bagai hendak mencegah lelaki itu membawa putrinya kabur, atau ia hanya menggunakan Manami sebagai sebuah perisai untuk melindungi dirinya...?
Sekarang lelaki itu berdiri di depannya, dengan dua meter jarak yang memisahkan. Sakura tidak tahu harus bilang apa, ingin dengar apa. Matahari yang terbenam, suara ombak dan bau laut mengingatkan dirinya akan hari pernikahannya beberapa tahun yang lalu.
"Sampai kematian memisahkan kami."
"Halo Sakura," suara gelap itu membuat hati Sakura merasakan berbagai emosi.
"Halo Sasuke..." Sakura menyembunyikan wajahnya di belakang kepala Manami.
Saat Sakura akhirnya melirik ke Sasuke dengan hati-hati, ia melihat Sasuke tersenyum kepada Manami.
"Bolehkah aku menggendongnya?"
Sakura mengangguk, bingung apakah ia harus memberitahu Sasuke kalau itu adalah putrinya. Namun Sasuke mengambil Manami bagai itu adalah hal paling wajar di dunia ini. Ia mencium keningnya dan Sakura sadar bahwa Sasuke sudah tahu.
"Dad! Dad!" Manami menyentuh kedua pipi Sasuke.
"Halo Manami," kasih sayang yang amat dalam terpancar dari kedua matanya.
"Sasuke... anu..." Sakura menggosok lengannya dengan malu.
"Aku sudah tahu. Manami adalah anak kami, aku sudah tahu."
"Kamu sudah tahu...? Sejak kapan...?" tanya Sakura tidak percaya.
Sasuke mengembalikan Manami ke Sakura, mungkin karena Sakura terlihat membutuhkan suatu pegangan.
"Sudah sejak dua tahun lebih Sakura. Aku sudah tahu keberadaanmu dan Ino sejak dulu. Sejak kamu menjual rumah pantai hadiah yang kuberikan. Dan kamu juga harus tahu, aku orang sebenarnya yang membelinya. Rumah pantai itu masih menjadi milikmu."
"Dua tahun lebih...?" Sakura mundur.
"Saat aku menemukanmu aku tidak tahu harus bilang apa. Aku ingin berlutut di depanmu dan meminta maaf karena telah melupakanmu, mengabaikanmu, mencurigai, menuduh, membenci dan meninggalkanmu sendiri. Ribuan maaf tidak akan cukup untuk menghapus kesalahanku. Karena itu aku membangun sebuah tempat dimana aku bisa berada di sisimu dan pastikan bahwa aku bisa menafkahimu dan Manami agar kalian tidak kekurangan sedikitpun. Terlebih dari itu, kali ini aku ingin menjaga dan mencintaimu seutuhnya Sakura. Aku membutuhkanmu dalam kehidupanku... jangan pergi lagi..." Sasuke mengangkat tangannya dan mengelus pipi Sakura.
Sakura tidak sadar bahwa ia telah menitikkan air mata, ia berkata dengan suara serak, "kenapa... kenapa kamu tidak menghubungiku setelah menuduhku selingkuh?"
"Aku mendapat tugas dinas di luar negeri dari Orochimaru. Sebelumnya aku melemparkan ponselku ke laut setelah mabuk sembari mengingat masa lalu kita. Aku sakit hati dan marah aku mengambil tugas itu tanpa pikir panjang. Setelah sebulan berada di luar negeri aku sadar bahwa aku telah bertindak kelewatan. Dan bahkan jika seandainya kamu selingkuh dengan Sai, itu adalah kesalahanku karena telah menelantarkanmu walaupun aku suamimu. Yang harus disalahkan adalah aku sepenuhnya. Aku menitipkan nomerku yang baru ke Karin dan Orochimaru, namun ia tidak memberitahumu dan tidak memberitahuku kabar bahwa kamu hamil... Aku keluar dari pekerjaanku saat aku menyadari semua itu dan menghabiskan hari-hariku untuk mencarimu. Aku dan Sai telah bersahabat. Apakah kamu tahu bahwa ia sekarang mencintai Ino? Sulit dipercaya bahwa ia sadar hal itu sampai Ino telah pergi dari kehidupannya..." Sasuke menunjukkan senyum ala Uchihanya.
"Sasuke..." Sakura masih berpikir. Apakah ia sanggup untuk melupakan masa lalunya dan memaafkan Sasuke?
Sasuke tiba-tiba terlihat serius dan kemudian berlutut di depan Sakura bagai saat ia melamarnya.
"Sakura, walaupun ribuan maaf tidak bisa menghapus kesalahanku di masa lalu, walaupun aku telah menjadi orang paling tidak pantas yang bisa kamu dapatkan, walaupun aku tidak pantas mendapat kesempatan kedua, namun aku mohon. Maafkan kesalahanku dan kembalilah ke sisiku dengan Manami. Aku tidak bisa janji bisa menjadi suami terbaik di dunia ini dan kehidupan kita akan bebas dari masalah dan pertengkaran namun aku berjanji aku tidak akan menelantarkanmu lagi dan akan berusaha sekuat tenaga membuatmu menjadi istri paling bahagia di dunia ini. Maukah kamu memaafkan Uchiha idiot ini dan membuat kehidupannya kembali dipenuhi kebahagiaan?"
Perkataan dan sinar dalam kedua mata onyx-nya membuat pertahanan Sakura runtuh seketika. Ia menggenggam tangan Sasuke dan menangis, menyebut nama Sasuke dengan penuh rasa cinta. Sasuke langusng bangkit dan ia memeluk Sakura erat-erat kemudian menciumnya. Manami yang ada di anatara mereka, tertawa manis. Sasuke dan Sakura tersenyum dan mereka berdua mencium kedua pipi Manami di saat yang bersamaan.
"Aku mencintaimu Sasuke, dari dulu sampai kapanpun," bisik Sakura.
"Aku juga mencintaimu Sakura, bahkan setelah kematian akan memisahkan kita sekalipun," bisik Sasuke balik.
Pasangan itu masih memandang memeluk dan mencium sampai tiba-tiba sebuah klakson mobil terdengar diikuti jeritan panik seorang Ino yang memanggil nama Sakura.
"Sakuraaaa!" Ino berlari ke arah mereka dengan berlinang air mata.
"Cih..." Sasuke memeluk Sakura dan Manami lebih erat seolah ia takut Ino akan merebut keduanya dari pelukannya.
"Simpan kata-kata sinismu untuk dirimu sendiri Sasuke," ujar Ino jengkel, sepertinya ia masih belum memaafkan Sasuke. "Sakura kamu baik-baik saja? Dia nggak bertindak kelewatan kali ini 'kan?" tanya Ino cemas.
"Aku baik-baik saja," Sakura tertawa cerah untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir ini, membuat Ino yakin bahwa kali ini Sakura akan memiliki kehidupan yang bahagia.
Syukurlah Sakura... Ino tersenyum.
"Hoi Sai! Bukankah aku sudah memerintahkanmu untuk membuat Ino sibuk malam ini?!" seru Sasuke kepada Sai yang datang dengan kedua tangannya di saku celananya.
"Maaf, maaf, aku sudah mencoba, tetapi ia bersikeras untuk melihat keadaan Sakura. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana persahabatan cewek itu? Erat seperti lem..." Sai tertawa.
"Da da!" Manami menepuk kedua tangannya.
"Sepertinya Manami setuju denganku," Sai nyengir sembari menjabat tangan Manami.
"Seperti ibunya... kenapa mereka berdua bisa cepat sekali bertaman denganmu sih?" ujar Sasuke kesal.
"Jangan khawatir soalku, lagipula siapa tahu... jika aku dan Ino memiliki seorang putra dia akan jatuh cinta pada Manami dan melamarnya..." Sai tersenyum ala senyum miliknya.
"Aku nggak sudi!" Sasuke langsung bersikap posesif terhadap putrinya, membuat Ino dan Sakura tertawa.
"Sekarang bagaimana?" tanya Sakura.
"Sekarang kamu dan Manami pulang bersamaku," kata Sasuke lembut.
Sakura membalas senyumnya dan berdua mereka meninggalkan pantai dengan penuh keyakinan dan harapan akan masa depan mereka.
-O-O-O-O-O-
"Sudah siap?" tanya Sakura saat menatap wajah Manami yang gugup di depan cermin.
"Aku gugup sekali Bu..." Manami tarik napas dalam-dalam.
"Aku juga dulu begitu, gugup sekali. Ada kalanya aku tahu bahwa pernikahan itu bukanlah sebuah akhir, itu adalah sebuah awal. Dan jalan di depanku bersama orang yang kucintai tidak akan bebas dari berbagai masalah rumit. Namun jika kamu menyayangi suamimu dan juga dirimu sendiri, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah dan jangan pernah berpikir kamu sendirian di dunia ini. Ada beberapa orang yang akan berada di sisimu apapun yang akan terjadi..." Sakura merapikan cadar Manami.
"Terima kasih Bu," Manami menitikkan air mata.
"Hayo jangan menangis, ada seseorang yang sedang menunggumu di luar."
Manami mengambil buket bunganya, Ino masuk dengan napas tersengal-sengal. "Sudah siap? Oh Manami kamu kelihatannya cantik sekali!"
"Makasih Tante, dan terima kasih atas buket bunganya!"
"Sama-sama, tante juga harus berterima kasih bahwa kamu mau menikahi putra bodohku ini..." Ino nyengir.
Bertiga mereka berjalan ke arah pantai yang terletak di belakang hotel Manami. Sakura dan Ino berbisik di belakang Manami.
"Bagaimana keadaan Sasuke?"
"Masih berada di antara ingin menghajar Kaito karena telah mencuri putri tercintanya dan menangis tersedu-sedu karena Manami sudah tumbuh besar begitu cepat..."
"Manami sudah berumur 24 tahun, Sasuke seharusnya sudah sadar dia bukan lagi gadis kecil yang ia ajak renang di pantai..."
Sakura tertawa, "ah nanti juga ia akan tenang, tunggu saja sampai Sasuke menjadi kakek, dia akan kembali ceria lagi. Lagipula aku tahu ia nggak membenci Kaito, ia pernah bilang bahwa Kaito adalah satu-satunya lelaki di dunia ini yang pantas menikahi Manami."
"Kalau mengingat reaksinya saat Kaito melamar Manami, aku sulit percaya akan hal itu," ujar Ino sweatdrop.
Sakura duduk di samping Sasuke setelah ia mengiring Manami ke sisi Kaito. Seperti pernikahan ia dengan Sasuke, upacaranya diselenggarakan di pantai saat matahari terbenam. Sakura menyangga kepalanya di atas bahu Sasuke, mengikuti setiap perkataan Manami dan Kaito.
"Masih ingin menghajar Kaito?" tanya Sakura geli.
"Hm, kurasa aku akan mulai terbiasa dengan semua ini. Lagipula aku tidak bisa mencegah saatnya dimana putriku akan menjadi orang dewasa. Aku berharap mereka berdua akan hidup bahagia seperti kita," Sasuke menggenggam tangan Sakura dimana cincin kawinnya masih melingkari jarinya. "Aku masih punya kamu."
"Aku yakin mereka bisa melewati setiap rintangan," Sakura mengelus tangan Sasuke.
Keduanya saling memandang dengan senyum saat mendengar sumpah Kaito dan Manami. Tidak jauh dari mereka, Ino menangis di balik sebuah tisu karena terharu. Sai berusaha menenangkan Ino dengan membisikkan kata-kata lembut. Saat Kaito mencium Manami, Sasuke memeluk bahu Sakura dan berbisik ke telinganya, "sampai kapanpun aku juga akan terus mencintaimu."
Sakura tidak meragukan perkataan Sasuke dengan sepenuh hatinya.
Tamat
Akhirnya... akhirnya...! T.T sebuah fanfiction yang berhasil saya tulis sampai selesai! Waduh sebenarnya jalan ceritanya sedikit melenceng dari apa yang saya rencanakan awalnya, apalagi saya berencana menamatkannya setelah tiga chapter. Tidak nyangka kalau jadi panjang begini. Saya cukup puas dengan akhirnya, terlalu sayang kalau nggak ada happy ending.
Oh ya Kaito lahir adalah setahun lebih muda dari Manami namun ia bersikap lebih dewasa dari Manami. Rambutnya hitam dan kulitnya puca seperti Sai hanya matanya ia wariskan dari Ino.
Sampai jumpa di fanfic selanjutnya!
Omake spesial pendek : Kasihan Deidara!
"Lalala... hari ini aku akan bertemu bidadari cantikku," nanyi Deidara tak karuan saat menuju mobilnya dengan membawa sebuah buket bunga mawar. Tiba-tiba ada dua orang yang menyerangnya dan mengikatnya.
"He apa yang kalian lakukan -hmpf!" mulutnya tertutup plaster besar.
"Aku akan mengurusnya, cepat kirim SMS-nya," seorang lelaki berambut hitam dengan bentuk ala buntut bebek memberikan hape Deidara ke temannya yang juga berambut hitam.
Lelaki itu menekan beberapa tombol, kemudian memasukkan hapenya ke saku Deidara. Berdua mereka menaruh Deidara di bagasi mobil.
"Hmpf! HMPPPFFFFFF!" Deidara meronta-ronta seperti ulat, kemudian ia menghilang di belakang pintu bagasi yang tertutup.
"Good luck," lelaki yang pertama masuk ke dalam mobilnya yang hitam.
"Kau juga," ujar lelaki yang kedua.
Setelah mobilnya menghilang di balik awan asap, lelaki yang kedua mengangkat buket bunga yang dijatuhkan Deidara. Ia memberikan buket itu kepada seorang wanita tua yang kebetulan lewat, membuat wanita itu mengguman terima kasih dengan gugup. Setelah itu ia membeli sebuah buket bunga mawar yang baru. Dengan bersenandung dan mood yang bagus ia menuju restoran mewah yang ada di ujung jalan.
"Lalala... hari ini aku akan bertemu bidadari cantikku..."
