Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 7
Regret?
Sasuke terdiam memandangi hamparan cahaya di langit. Sesekali terdengar helaan nafasnya yang kian memberat. Diliriknya sebingkai foto bergambarkan dirinya dan sosok gadis pirang tengah tersenyum penuh kasih sembari saling merangkul mesra. Aneh, kenapa foto itu masih di tempatnya?
Tadinya ia berencana menemui gadis pirang itu usai menjalankan misi, namun sayangnya Ino sedang menjalankan misi ke luar kota.
Sasuke ingat betapa dulu ia mencintai gadis itu. Segala hal dalam hidupnya tlah diberikannya untuk bidadari cantik yang merenggut kebahagiaannya.
Tampak Sasuke beberapa kali membenturkan keningnya ke besi balkon kamarnya sembari bergumam tak jelas. Kegalauan tampak menguasai batinnya.
Dalam kegelisahannya, Sasuke dikejutkan getaran ponsel di sakunya. Ia kembali mendengus sebal saat mengetahui ternyata getaran itu menandakan adanya pesan masuk dari Sakura.
'Sedang apa? Aku merindukanmu... :p'
Sasuke terkekeh ringan menyadari isi pesan gadis menyebalkan itu. Menggodanya lagi eh?
'Kau dimana? Kakimu baik-baik saja?' jawab Sasuke akhirnya.
'Aku menunggumu di taman belakang :)' balas Sakura beberapa detik kemudian.
Sasuke setengah melirik ke taman belakang melalui balkon kamarnya. Terlihat Sakura melambaikan tangannya sembari tersenyum ceria seperti biasa. Sasuke kembali menghela nafas bosan sembari menggelengkan kepalanya frustasi. Kenapa rasanya sulit sekali menolak kehadiran gadis pink menyebalkan itu?
Dengan langkah gontai Sasuke keluar dari kamarnya menuju taman belakang. Sengaja ia memansang wajah muram di hadapan Sakura yang kini nyengir kuda padanya. Sungguh senyuman yang menyebalkan.
"Hn," gumam Sasuke sembari melipat tangan di dada sembari memandangi gadis yang kini dibalut piama serba panjang, membuat Sasuke sadar betapa tak seksinya tubuh gadis di hadapannya ini.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan," ujar Sakura riang.
"Kakimu baik-baik saja?"
Pertanyaan Sasuke dijawab anggukan cepat Sakura. "Sasori memberiku ramuan khusus tadi. Sekarang kakiku sudah sehat lagi. Aku bisa mendampingimu lagi mulai besok."
Sasuke sedikit mengerenyit risih mendengar kata 'mendampingi' dari mulut Sakura.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke ketus.
"Mengajakmu jalan-jalan," jawab Sakura mengulangi kalimatnya.
Sasuke menarik sebelah alisnya naik. "Malam-malam begini?"
"Sebentar saja, malam ini kan purnama, langit juga sedang cerah. Mau ya?" pinta Sakura setengah memanja.
" Aku tak sudi melewati malam denganmu," sahut Sasuke sebal sembari bersiap pergi.
"Aku bersedia menemanimu saat kau kalut. Aku hanya memintamu menemaniku malam ini. Apa sulitnya?" papar Sakura kesal.
Sasuke kembali menghela nafas lelah. Kenapa gadis ini selalu mengajaknya ribut sih? Kembali diliriknya gadis manis yang kini memandangnya sebal. Bibir manisnya mengerucut ditambah alisnya yang berkerut menambah anehnya wajah alien di hadapannya.
Sasuke memutuskan mengalah. Diturutinya gadis menyebalkan yang kini melonjak senang ketika Sasuke menggandengnya pergi. Sakura segera mengamit lengan Sasuke dan menyamakan langkahnya, yang diperlakukan demikian hanya pasrah dan menurut.
"Aku selalu membayangkan bisa berjalan seperti ini bersamamu," ucap Sakura ketika mereka tengah menikmati udara malam sembari melangkah pelan menapaki jalan bebatuan taman.
"Imajinasimu memang keterlaluan," sahut Sasuke enteng dengan nada jenakanya, membuat Sakura turut tertawa senang. Entah mengapa Sasuke tiba-tiba ingin menikmati suasana santai seperti ini bersama Sakura. 'Hanya malam ini' batin Sasuke.
"Sasuke..."
"Hn?"
"Kau...punya cita-cita?"
DEG!
Sasuke terdiam. Pertanyaan Sakura terlalu buru-buru baginya. Cita-cita, harapan, mimpi, kenapa hidup Sakura dipenuhi hal-hal yang tak pernah ia pikirkan?
"Kau punya?" tanya Sasuke melempar pertanyaan sembari berfikir.
"Tentu saja. Tapi melihat kehidupanku yang sekarang rasanya tak mungkin aku bisa meraihnya," terlihat nada kekecewaan dalam kalimatnya.
Sasuke mengeras. Entah mengapa ia merasa tak suka Sakura berucap dengan nada seperti itu. "Kau menginginkan kehidupanmu yang dulu?" tanya Sasuke beusaha mengendalikan nada bicaranya.
"Apa menurutmu aku bisa mendapatkanya kembali?" tanya Sakura balik.
"Entahlah...sepertinya kau harus berusaha menerima takdirmu," jawab Sasuke enteng.
Mereka kembali terdiam dan melangkah pelan. Sesekali Sakura nampak memandangi cahaya rembulan yang lebih terang dari biasanya.
"Aku dan Gaara pernah membuat sebuah janji saat masih kanak-kanak," tutur Sakura yang tanpa sadar merusak suasana hati Sasuke. "Jika salah satu dari kami hidup sebatang kara, kami akan hidup bersama sampai sama-sama bahagia," lanjutnya polos tanpa menyadari ekspresi tak suka Sasuke. "Hidup normal dan saling mengasihi seperti kedua orang tua kami."
"Hidup normal dan saling mengasihi,"gumam Sasuke pada dirinya sendiri.
Sasuke menghentikan langkahnya. Dipandangnya wajah semulus porselen yang kini menatapnya bingung.
"Apa aku salah bicara?" tanya Sakura bingung.
Sasuke menatapnya tajam. Seolah sepasang onyx itu dapat menerawang jauh kedalam sepasang emerald yang kini masih memandangnya bingung. "Jika kau tak pernah terjebak di sini bersamaku. Apa kau akan menyanggupinya?" tanya Sasuke dingin. "Melanjutkan hidupmu bersama bocah merah itu? Memiliki kehidupan normal layaknya remaja labil seusia kita?" jeda sejenak "Apa itu yang kau inginkan?"
Sakura terdiam. Apa ucapannya merusak suasana hati Sasuke?
Entah mengapa Sakura tak sanggup menjawab. Ia hanya menunduk sedih, tak berani memandang lawan bicaranya yang kini mendengus sebal. Kenapa Sasuke beranggapan seperti itu? Apa pemuda itu belum paham maksudnya selama ini? Apa Sasuke benar-benar tak sadar Sakura rela merelakan segala kenormalan dalam hidupnya demi berada di sisinya?
"Kau tersiksa berada di sisiku?" tanya Sasuke memecah keheningan yang sempat tercipta. Membuat Sakura semakin kesal.
"Ya," jawab Sakura mantap sembari menatap Sasuke. "Kau membuatku tersiksa lahir dan batin," lanjutnya tak kalah dingin.
Sasuke mengrenyit tak suka dengan cara Sakura berucap tanpa ekspresi padanya seperti itu. "Benarkah?" sahut Sasuke dengan nada menantang.
"Ya. kau membuatku memikirkanmu setiap waktu. Membuatku merasa hidupku akan berakhir bila nanti kau meninggalkanku dan memilih kembali pada mantan kekasihmu. Membuatku ketakutan karena takkan lagi ada seseorang yang menjadi pegangan hidupku bila kau bosan padaku nanti. Kau membuatku gila dengan segala hal dalam dirimu yang menjeratku Uhiha Sasuke!" cerocos Sakura tanpa henti. Membuatnya terengah frustasi diakhir kalimatnya.
Sementara itu Sasuke membelalakkan matanya heran. Betapa jujurnya gadis ini terhadap perasaannya. Ucapan Sakura entah mengapa menimbulkan rasa hangat di dadanya yang merambat naik menuju wajahnya. Buru-buru Sasuke membuang muka demi menjaga ekspresinya agar tetap terlihat datar.
Sakura terlihat kesal ketika mendapati bibir pemuda di hadapannya sedikit tersenyum meski hanya sepersekan detik. Terlebih Sasuke berusaha menutupi dan kembali memasang ekspresi datar. Berani taruhan, ia pasti sedang bersorak menang dalam hati.
"Kau memang berbahaya," ujar Sasuke yang hanya ditanggapi Sakura dengan sebelah alis yang terangkat heran. "Kau terlalu mudah mengutarakan perasaan dan segala hal yang ada di pikiranmu. Kau bisa saja dengan mudah membocorkan misi kita," gurau Sasuke, sukses membuat Sakura mendecih kesal.
"Aku menyesal menyatakan perasaanku padamu." Sasuke tergelak mendengar ucapan Sakura. "Aku akan melupakanmu mulai detik ini," gertak Sakura yang mulai kesal melihat Sasuke menganggap ucapannya main-main.
Sasuke terdiam dan memandangnya, masih dengan senyuman mengejeknya. "Kau takkan mampu melakukannya," sahutnya meremehkan.
"Aku yakin aku sanggup melakukannya," sahut Sakura penuh percaya diri, sembari memasang wajah angkuh dengan pose bertolak pinggang.
Sasuke kembali tertawa renyah kemudian mendekati gadis yang kini mengangkat dagunya tinggi-tingi sembari menatapnya sinis hingga jarak mereka tak sampai satu meter. Perlahan diselipkannya kedua tangan kokohnya melingkari pinggang gadis yang masih mempertahankan posenya meski kini jantungnya berdebar kencang.
"Kau memang menarik nona," bisik Sasuke tepat di telinga Sakura. "Harusnya kau lebih berhati-hati, aku bukan orang yang akan diam bila kau goda terus-menerus seperti ini," lanjutnya sembari mengeratkan tubuh Sakura padanya.
Sakura memindahkan kedua tangannya ke dada Sasuke dan mencoba membuat jarak. Ditatapnya sepasang onyx yang kini menatapnya menggoda serta bibir manis yang kini menyeringai jenaka. Benar-benar pemandangan langka dari seorang Uchiha Sasuke. "Maaf, tapi aku takkan membiarkanmu dengan mudah melupakanku. Kau sendiri yang datang padaku dan memaksaku memilikimu. Jadi jangan harap kau bisa kembali ke posisi awalmu. Apalagi berani bermimpi untuk lari ke pelukan bocah merah itu," terang Sasuke sembari menatap sepasang emerald yang kini penuh kekesalan tajam.
"Kau pikir aku takut padamu? Akan kubuktikan aku mampu melupakanmu," sahut Sakura tak mau kalah. Tatapannya tak sekalipun beralih dari sepasang onyx yang masih memandangnya tajam. Seolah menusuk matanya dengan pandangan menyudutkan itu.
Entah untuk alasan apa, sepasang onyx yang mulanya mengeras itu tiba-tiba melembut. Membuat Sakura tersentak, membangkitkan rasa menggelitik dalam dadanya, dan entah mengapa pandangan Sasuke yang sarat akan kasih sayang itu membuat perutnya terasa mulas. Terlebih saat ini Sasuke tengah tersenyum sembari mendekatkan bibirnya pada bibir Sakura. Ia tak langsung menciumnya buas seperti biasanya, kali ini ia hanya mendekatkan bibirnya.
Kedua mata mereka masih sama-sama terbuka dan saling memandang, Sasuke sengaja menjaga jarak bibirnya dan Sakura tak sampai menempel. Membuatnya dapat merasakan nafas gadis di hadapannya yang kian memburu. "Kalau begitu cobalah," ucapnya tanpa menjauhkan bibirnya. Membuat Sakura dapat merasakan gesekan antara bibirnya dan bibir Sasuke saat pemuda itu bicara.
Belum sempat Sakura menjawab, Sasuke sudah melepaskan pelukannya dan berlalu. Meninggalkan Sakura yang kini mati-matian mengatur nafasnya yang tanpa sadar ditahannya tadi. Ditatapnya punggung pemuda yang kini berjalan tenang dengan senyuman terkembang di bibirnya.
"Dasar manusia sakit jiwa!" gerutu Sakura sebal sembari berjalan ke arah yang berlawanan dengan Sasuke. Meninggalkan sesosok manusia yang kini tersenyum geli setelah melihat adegan sepasang remaja labil beberapa menit yang lalu.
###
Naruto mengintai dengan hati-hati. Dalam ruangan mewah di hadapannya nampak segerombolan manusia yang tengah berdiskusi serius. Samar-samar ia dapat melihat sesosok pria dewasa yang tak asing lagi. Pria yang menjadi targetnya malam ini.
Nampak pria itu tengah tertawa sembari sesekali menciumi wanita yang duduk di pangkuannya. Ada beberapa wanita lain yang juga duduk bersamanya. Mereka semua mengenakan pakaian yang sama sekali tak berhasil menutupi kemolekan tubuh mereka. Membuat pria normal manapun takkan bisa menahan diri.
Naruto baru saja bersiap membidik saat dirasakannya benda semacam logam yang terasa dingin menyentuh pelipisnya.
"Letakkan senjatamu!" ucap suara baritone itu tegas dan menusuk. Dengan hati-hati Naruto mengalihkan pandangannya pada pria bersenjata yang kini menodongnya. Tatapan dingin yang terasa tak asing itu...
"I..tachi?" Naruto tercekat. Sepasang mata semerah darah itu menatapnya lekat tanpa ekspresi.
"Hn," sahut Itachi sembari kembali menurunkan pistol dalam genggamannya dan beralih menarik Naruto yang masih melongo memandangnya. Dalam sekejap Itachi menyeret Naruto keluar gedung dan membawanya ke sudut gelap jalanan.
"Sebaiknya kau pergi jika masih ingin hidup."
"Kau tak ingin membunuhku?"
Itachi hanya terdiam sembari memandang Naruto dingin. Sedangkan bocah di hadapannya kini memandangnya penuh tanya.
"Itachi..."
"Pergilah sebelum ada yang melihatmu!" sela Itachi sembari bersiap kembali kedalam gedung.
"Kumohon kembalilah..." pinta Naruto memelas, membuat Itachi tersentak dan menghentikan langkahnya. "Apa kau tidak merindukan kehidupan kita yang dulu?"
Itachi mendengus meremehkan. "Kita ada di jalan yang berseberangan sekarang."
"Tak bisakah kita bersatu? Seperti dulu..."
"Perang besar menanti di depan kita. Bersikaplah profesional. Jangan sampai masa lalu membuatmu lemah," tutur Itachi dingin.
"Kenapa harus berperang? Apa yang sebenarnya kita cari? Bukankah kita sama-sama kotor?" sahut Naruto sedih.
Itachi tak menjawab dan nelangkah menjauhi Naruto yang masih menatapnya penuh harap. "Itachi..." gumam Naruto akhirnya. Entah mengapa ada rasa perih menyadari sosok di hadapannya ini bukan lagi sosok yang sama dengan yang ditemuinya belasan tahun yang lalu.
###
"Kita akan mulai pengintaian minggu ini. Hanya ada satu tim untuk kali ini, demi mengurangi kecurigaan. Sasuke, kau akan menjadi kaptennya," terang Kakashi dalam forum rapat.
Seluruh anggota berkumpul untuk persiapan misi selanjutnya. Bahkan Shikamaru juga hadir meski dengan tampang malas yang tak dibuat-buat.
Sasuke nampak merenung sembari mencoret-coret buku catatannya. "Berapa orang?" tanyanya kemudian.
"Hanya lima, sudah termasuk kau," sahut Kakashi. "Rekan satu timmu adalah Hinata, Sasori, Neji dan Sakura. Sementara anggota lain akan memantau dari jarak jauh sekaligus berjaga bila dibutuhkan tambahan anggota."
Sakura sedikit tersentak ketika namanya disebut. Terlebih ia nampak kurang konsentrasi sejak awal rapat.
"Keberatan!" potong Sasuke sebelum Kakashi melanjutkan.
"Maaf?"
"Aku tidak menerima anggota amatir untuk misi seperti ini. Akan sangat merepotkan," terang Sasuke yang hanya ditanggapi tatapan bingung Kakashi dan Sakumo yang duduk di ujung meja. "Maksudku Sakura," lanjut Sasuke blak-blakan menyadari ketidakpahaman anggota lain.
Yang disebut namanya hanya manyun dan mencibir ucapan Sasuke.
"Kau ingin menggantinya?"
"Masukkan Ino sebagai pengganti Sakura," jawab Sasuke enteng, membuat seluruh anggota tersentak dan melotot ke arahnya. Sebagian mengalihkan pandangannya pada Sakura yang tak kalah terkejutnya dengan anggota lain. Nampak kekecewaan terpancar jelas dari sepasang emeraldnya.
Kakashi mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian mengalihkan pandangannya pada Sakura dan Ino bergantian. Sakura nampak kesal sementara Ino memandangnya sungkan. Ia merasa tengah berada dalam drama anak remaja yang biasa ditonton Sakura di ruang keluarga saat waktu luang.
"Ehm..kalau begitu, Ino..apa kau menyanggupi?" tanya Kakashi masih dengan nada tak enak.
Ino mengangguk yakin meski sepasang matanya masih terlihat tak enak hati pada Sakura yang memandangnya marah.
Kakashi menghela nafas frustasi. Nampaknya akan terjadi perang intern setelah ini. Sementara itu Sasuke nampak cuek-cuek saja menanggapi atmosfir kurang menyenangkan di sekitarnya.
Setelah rapat usai Sakura segera bengkit dan buru-buru pergi ke kamarnya. Matanya terasa panas sejak tadi meski ditahan.
Jadi Sasuke lebih memilih Ino yang mendampinginya dalam misi ketimbang dirinya?
###
"Kau kejam sekali Sasuke," ucap Neji ketika mereka tengah duduk dalam perpustakaan. Diluar hujan lebat dan kini mereka berlima tengah menyusun strategi untuk misi mereka selanjutnya. "Aku rasa kemampuan Sakura cukup mumpuni."
"Ia tak cukup siap untuk misi seperti ini," sahut Sasuke, tanpa sadar terselip nada perhatian di dalamnya.
"Kau mencoba melindunginya eh?" goda Neji, sukses membuat Sasuke menghentikan kegiatannya menulis. Di seberangnya Ino memandangnya meneliti, mencoba menemukan arti dari ucapan Sasuke barusan.
"Aku hanya tak ingin kehilangan milikku untuk kedua kalinya," jawab Sasuke sembari memandang Ino yang masih menatapnya sendu.
"Milikmu?" tanya Neji tak mengerti, sementara Hinata memperhatikan kedua manusia yang kini saling melempar pandang dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kecerobohanku membuatku kehilangan hal terpenting dalam hidupku. Aku tak ingin mengulanginya," terang Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya yang menusuk. "Aku takkan pernah melepaskan apa yang ada di genggamanku...lagi," lanjutnya seolah menerangkan kepada wanita di hadapannya.
Entah mengapa Ino merasa tersindir, bahkan tertusuk hanya dengan ucapan sinis Sasuke. Terlebih pemuda itu kini mengalihkan pandangannya pada kertas penuh coretan di pangkuanna. Ino merasa...Sasuke ingin menegaskan padanya. Bahwa tak ada lagi jalan untuknya kembali pada pemuda itu.
###
Pagi rasanya begitu cepat menyambut. Dengan langkah gontai Sakura memasuki ruang makan sembari menyeret tas punggungnya sebal. Kegiatannya memancing perhatian seisi ruangan, tak terkecuali Sasuke yang mengenakan pakaian bebas, tak berseragam sekolah. Tentu saja, hari ini ia libur dan akan menjalankan misi bersama anggota timnya hingga beberapa minggu kedepan.
"Aku akan berangkat setelah ini," ucap Sasuke sembari masih sibuk mengiris roti bakar selai tomat di piringnya. "Berlatihlah dengan serius, meskipun tugasku kuserahkan pada Naruto, bukan berati kau boleh bersantai selama aku tak ada," cerocosnya tanpa menyadari Sakura tengah menahan tangis di sampingnya. Pembicaraan mereka tak didengar yang lain mengingat mereka tengah sibuk dengan perbincangan masing-masing.
Mati-matian Sakura berusaha menahan tangisnya sembari menggigit roti selai coklat di tangannya. Buru-buru dihapusnya air mata yang meleleh melalui sudut matanya.
"Aku takkan sudi memikirkanmu selama menjalankan misi. Jadi jangan repot-repot menghawatirkanku," tungkas Sasuke sembari menyudahi acara sarapannya. Ia enggan terlalu lama di sini, mengingat ia sadar Sakura mulai menangis.
Sasuke bangkit dan mulai menyampirkan tas punggungnya, bersiap keluar dari ruang makan. Sebelum keluar disentuhnya pucuk kepala Sakura sembari berucap "Sebaiknya jangan mencoba untuk mencari masalah selama aku tak ada. Berhentilah bersikap ceroboh untuk satu minggu ini saja." Diakhiri dengan mengacak rambut Sakura lembut, Sasuke melangkah keluar ruangan menuju mobilnya yang telah siap di depan rumah.
Sakura tak jadi menangis dan justru membanting alat makannya kesal. Ia segera berlari meninggalkan ruangan dan menyusul Sasuke diiringi tatapan geli belasan pasang mata.
Begitu menemukan punggung Sasuke, Sakura langsung memeluknya erat. Berusaha menyalurkan kegelisahannya pada pemuda yang sempat tersentak meski tahu bahwa Sakura akan memunculkan reaksi seperti ini. Kembali Sasuke menghela nafas lelah. Ia benci saat-saat emosional sepert ini.
"Sikapmu seolah-olah kau adalah seorang istri yang mengantarkan suaminya menuju medan perang," ucap Sasuke enteng sembari membalikkan tubuhnya memandang Sakura. Aneh, Sakura tak menangis. Sepasang emerald itu justru memandangnya sebal, terselip kekecewaan di sana.
"Aku akan selingkuh selama kau pergi."
"Begitukah?"
"Aku lelah setia padamu," ucapnya parau sembari menenggelamkan wajahnya kedalam dekapan Sasuke. "Aku akan berkencan dengan Gaara dan melupakanmu. Aku...takkan pernah merindukan apalagi menghawatirkanmu," lanjutnya sok teguh.
Sasuke hanya tersenyum sinis meski tak dapat dilihat Sakura. Ia tahu gadis dalam dkapannya ini hanya menggretak. Perlahan dilonggarkannya pelukan Sakura dan ditatapnya wajah muram yang entah mengapa membuat Sasuke geli. "Kalau begitu lakukanlah. Lagipula aku juga berniat melakukan hal yang sama selagi jauh darimu," sahutnya senang dengan nada meremehkan sembari menggoyangkan dagu Sakura.
Gadis itu nampak semakin kesal dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Sasuke meski ditahan siempunya tangan.
"Lakukanlah apapun yang kau inginkan selagi aku pergi. Dan katakan pada bocah merah itu, aku siap menggilingnya jika ia berani menyentuhmu," lanjut Sasuke masih dengan senyuman ramah yang dibuat-buat. "Tetaplah berlatih dan jangan malas, atau aku akan memberikan latihan tambahan sepulang misi. Paham?" ujar Sasuke tegas sembari menyentil jidat lebar Sakura.
Yang diperlakukan demikian hanya sanggup mengaduh dan mengusap jidatnya yang terasa panas. "Aish...sakit bodoh!"
"Hukuman untukmu karena sengaja meracuni pikiranku dengan hal-hal sepele yang menyebalkan," sahut Sasuke sembari mendorong tubuh Sakura menjauh.
Dari belakang Sakura muncul beberapa anggota tim yang siap untuk berangkat. Masing-masing mengucapkan salam kepada pasangannya –jika ada.
Neji mengecup kening Tenten penuh sayang, sementara Naruto nampak memeluk Hinata erat-erat dan membisikkan sesuatu yang entah mengapa membuat pipi kekasihnya merona merah.
Sasuke memperhatikan ekspresi Sakura yang nampak mencibir kelakuan saudara-saudaranya. Jelas saja, dia kan iri karena Sasuke tak memberinya perlakuan yang sama. Tanpa sadar Sasuke terkekeh geli memperhatikan kelakuan gadis pink yang entah mengapa mengusik pikirannya. Diam-diam terselip kekhawatiran jika gadis itu benar-benar menjalankan ancamannya. Tidak, Sakura tak boleh memikirkan pria lain selagi ia tak di sisinya.
Tanpa banyak berucap, Sasuke menarik tengkuk Sakura dan menempelkan bibirnya ke leher gadis itu. Sakura nampak berontak namun terdiam ketika menyadari apa yang dilakukan Sasuke padanya. Dengan sengaja Sasuke mencium kemudian menggigit lehernya dan menghisapnya lembut, membuat Sakura tak kuasa untuk menahan desah kecilnya. Setelah merasa cukup, Sasuke menjauhkan mulutnya dan mengusap hasil karnyanya, seringai puas terlihat jelas menghiasi bibirnya –membuat Sakura bergidik ngeri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura setengah berbisik sembari menahan malunya karena ditatap beberapa pasang mata yang tanpa sengaja menangkap kejadian barusan.
"Tidak ada...hanya menandai milikku," jawabnya enteng sembari tersenyum mengejek.
Dari kejauhan Naruto nampak memandang Sasuke takjub. "Sebenarnya apa yang ingin ia tunjukkan?" tanyanya kesal. Hinata yang ada dalam dekapannya tersenyum geli sebelum akhirnya mengecup pipi kekasihnya.
"Memangnya Sasuke tidak berhak mengucapkan salam pada kekasihnya?" sahut Hinata dengan nada jenakanya.
"Bukan begitu, aku hanya heran sejak kapan mereka sungguh-sungguh menjadi sepasang kekasih."
"Bukan urusanmu!" sahut suara baritone di belakang Naruto yang ternyata mencuri dengar. Menyadari itu Naruto hanya nyengir kuda sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jaga semua agar tetap terkendali selama kami pergi," pamit Sasuke sembari memberikan isyarat mata pada Naruto. Naruto yang tahu betul apa maksud dari ucapan mata sahabat karibnya itu hanya mengangkat sebelah alisnya heran.
"Menjaga semua ya?" gumam Naruto sembari memperhatikan kawan seperjuangannya satu persatu memasuki mobil, pandangannya kemudian teralihkan kepada gadis pink yang masih saja manyun di sampingnya. Tatapan datarnya berubah menjadi seringai nakal ketika menyadari 'tanda' yang dibuat sahabatnya itu di leher Sakura. Dasar pria mesum!
Sakura yang menyadari tatapan Naruto langsung menjitak kepala pemuda itu kesal. "Apa lihat-lihat?" sentaknya galak.
"Haah...kau dan Sasuke sama saja!" keluh Naruto sembari mengusap kepalanya.
###
Sakura melangkah tak bergairah di samping Naruto. Ia merasa tak bersemangat tanpa Sasuke di sampingnya. Beberapa kali ia nampak menghela nafas. Pertama, ia kesal karena harus berangkat ke sekolah bersama Naruto yang entah mengapa terasa lebih menyebalkan dibanding Sasuke. Kedua, ia mati-matian berusaha menutupi 'tanda merah' yang ditinggalkan Sasuke untuknya pagi ini. Ia tak tahu harus menjelaskan apa bila ada yang bertanya tentang bekas kemerahan yang tercetak jelas di lehernya. Mungkin akan terus bertahan di sana sampai beberapa hari kedepan.
"Kenapa tidak ditutup dengan plester saja?"
"Kau pikir ada plester yang seukuran ini?"
"Haah...kurasa Sasuke sengaja membuatmu menjalani hari-hari tanpanya dengan kegelisahan."
"Diamlah!" sahut Sakura akhirnya yang mulai kesal dengan sikap cerewet Naruto.
Dari arah berlawanan muncul pemuda merah yang nampak tersenyum sumringah.
"Gawat!" gumam Naruto menyadari Sakura juga tersenyum dan menghampiri bocah merah itu. 'Semoga Sasuke tak melihat ini,' doanya dalam hati.
Terlebih ketika Sakura merangkul lengan bocah merah itu dan melangkah bersama menuju kelas. Sepintas Naruto mendengar bisik-bisik siswa yang mengatakan bahwa Sakura berselingkuh di belakang Sasuke. Naruto hanya mendesah pasrah sembari mengikuti langkah Sakura menuju kelas.
###
Ino terdiam memperhatikan Sasuke yang nampak memandang keluar kaca mobil dengan tatapan berfikir. Apa yang membuatnya nampak khawatir? Beberapa kali Sasuke nampak memadang layar ponselnya kemudian memasukannya lembali ke dalam saku celananya. Tingkahnya itu...seperti remaja labil yang baru saja jatuh cinta.
"Ino," panggil Sasuke tiba-tiba. Menyadarkan lamunan Ino.
"Ya?"
"Mari kita lupakan masa lalu kita dan memulainya dari awal lagi," ucap Sasuke masih dengan memandang langit cerah diluar. Ino nampak tersenyum senang mendengar ucapan Sasuke, namun senyumannya menghilang begitu Sasuke melanjutkan. "Lupakan segalanya dan anggap kita tak pernah menjalani hubungan apapun."
Ino mendengus kesal. Ia pulang bukan untuk ini, dan tak ingin berakhir begini. Jauh di lubuk hatinya, ia masih berharap akan mendapat kesempatan untuk kembali ke dekapan Sasuke.
"Karena gadis itu?" tanyanya sinis. Ino sedikit terkejut dengan nada bicaranya sendiri. Kenapa ia terkesan seolah merasa dicampakkan? Atau memang itu yang kini ia rasakan?
"Apa aku melukai harga dirimu dengan memilih gadis yang kemampuannya jauh di bawahmu?" tanya Sasuke tepat menyentuh perasaan Ino.
"Aku tak mengerti maumu Sasuke," jawab Ino lirih. "Tapi aku tahu aku masih mencintaimu begitupun sebaliknya. Apa yang kau lakukan padanya hanya semata karena kau tak ingin kehilangan dia sebagai apa yang telah menjadi milikmu, bukan karena kau mencintainya," cerca Ino penuh keyakinan.
Sasuke mendengus senang. Tentu saja, Ino selalu berhasil menebak pikirannya meski tak pernah benar-benar memahami perasaannya. "Kau mengatakannya penuh keyakinan, padahal aku sendiri tak paham dengan perasaanku."
"Aku lebih mengenalmu dibandingkan dia."
Sasuke terdiam. Salah satu persamaan antara dua makhluk menyedihkan di sekitarnya ini adalah, sama-sama keras kepala.
"Bagaimana kalau ternyata aku benar-benar menyukainya?" tanya Sasuke dengan nada menantang. "Aku...begitu tergoda untuk mencicipinya. Segala yang melekat pada dirinya selalu membuat candu untukku. Seolah tanpa menyentuhnya dapat membuatku mati saat itu juga."
"Kau menyebut itu cinta? Bukankah yang seperti itu namanya nafsu?" Ino mulai geram dengan cara Sasuke menafsirkan perasaannya pada gadis yang menurutnya tak memiliki kelebihan apapun itu.
"Bukankah nafsu dan cinta begitu berdekatan? Aku memang belum memahami perasaan semacam apa yang kumiliki untuknya. Tapi kurasa aku tertarik padanya," ucap Sasuke dengan seringai di bibirnya.
Ino melongo memandang ekspresi janggal itu. Diam-diam ia teringat kejadian pagi tadi saat Sasuke mencuri perhatian semua orang dengan perlakuannya pada Sakura.
"Mungkin...mungkin sama sepertimu. Aku bisa saja meninggalkannya saat aku bosan nanti. Mungkin aku akan kembali mencarimu dan memohonmu kembali padaku saat aku jenuh dengannya. Bukankah akan sangat menyenangkan?"
Ino terdiam. Jadi Sasuke menganggapnya seperti itu?
"Kalau begitu akan kutunggu sampai kau bosan," sahut Ino mempertahankan egonya.
Ekspresi Sasuke berubah, seringai liciknya tiba-tiba menghilang digantikan tatapan datar. Sepasang onyxnya kemudian beralih kepada sepasang permata sebening lautan yang langsung menunduk sedih. Ah...ia tak pernah berhasil bertemu pandang dengan sepasang aquamarine itu lebih dari lima detik. Begitu berbeda dengan sepasang emerald milik gadis menyebalkan berambut pink itu yang selalu menantangnya untuk menjelajahinya lebih dalam.
"Kembalilah pada Sasori. Ia masih menunggumu," ucap Sasuke dengan suara yang sengaja agak dikeraskan. Mengingat sendari tadi Sasori dan Hinata yang duduk di depan mereka berdua memang sengaja mencuri dengar, dan Sasuke menyadarinya.
Sasori mendadak kaku mendengar Sasuke menyebut namanya. Ia takut bila balasan Ino akan melukai perasaanya. Di sampingnya, Hinata menggigit bibirnya cemas. Rasanya tak enak hati memang mencuri dengar pembicaraan seseorang, terlebih mengenai masalah pribadi yang sama sekali tak menyangkut dirinya.
"Jika kau kembali kepadaku. Yang bisa kuberikan hanyalah luka...sama seperti yang kuberikan padamu dulu," lanjut Sasuke datar tanpa berharap Ino akan menjawabnya. Hatinya sudah bulat, meski rasa cinta itu masih ada, ia tak ingin mengulangi kesalahannya. Biarlah masa lalunya dan Ino tersimpan hanya sebagai kenangan. Terlebih ia sadar, orang yang dibutuhkan Ino bukan dirinya, melainkan Sasori.
Hening, tak ada yang menyahut maupun menjawab. Apa yang dikatakan Sasuke barusan telah mengakhiri bahasan mereka tentang masa lalu. Menyebabkan berbagai emosi berkecamuk dalam hati setiap manusia dalam mobil itu. Kecuali Neji yang sendari tadi memilih menyumpal telinganya dengan earphone dan menyetel musi keras-keras –sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan mereka.
###
Gaara memperhatikan gadis pujaannya yang kini memejamkan mata sembari menghirup udara segar di taman kota dalam-dalam. Belum pernah ia melihat ekspresi lega dari seorang Haruno Sakura semenjak perpisahan mereka beberapa bulan yang lalu. Terlebih tanpa Sasuke di sampingnya. Tunggu dulu, kemana perginya pemuda sinis itu?
"Ehm...Sasuke kemana? Aku tak melihatnya pagi ini," tanya Gaara hati-hati. Lagi-lagi ekspresi itu, ekspresi terkejut dan kebingungan Sakura setiap ditanya tentang tunangannya.
"Ah...dia...ada urusan bisnis ke luar negri," jawab Sakura setelah memeras otaknya.
"Perusahaan Ayahnya?"
"Ya...begitulah. Aku juga tak paham," sahut Sakura sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Aneh, seingatnya Ayahnya pernah berkata bahwa seluruh klan Uchiha telah tewas. Apa ayah Sasuke masih hidup? Tapi itu mustahil. Yang tersisa hanya Itachi dan Sasuke. Dan sekarang Itachi buron!
"Sasuke punya kakak? Kudengar kakaknya tinggal di Konoha juga," tanya Gaara penuh selidik.
Sakura sadar kemana arah pembicaraan Gaara. Tenyata ia ingin menyelidiki siapa Sasuke sebenarnya. Untung saja ia sedikit tahu riwayat keluarga Sasuke.
Segera Sakura memasang wajah pura-pura sedih dan sok berpikir andalannya. "Sebenarnya aku tak ingin menceritakan ini...tapi karena kau bertanya, aku akan menceritakanya."
Gaara tertegun menanggapi ekspresi sedih Sakura.
"Sasuke sebatang kara. Ia diasuh salah satu keluarganya yang sangat sayang padanya. Aku yakin kau juga tahu tentang pembantaian terhadap klan Uchiha belasan tahun yang lalu. Kakaknya menghilang entah kemana," Sakura mencoba membuat nada bicaranya sedramatis mungkin. "Disaat ia sedang terpuruk itulah kami bertemu. Ayahku yang kenal dekat dengan Ayahnya mencoba menolong Sasuke untuk mengelola perusahaan. Karena sekarang Ayahku juga tak ada, jadilah Sasuke harus mengurus segalanya sendiri. Terlebih untuk masa depan kami..."
Sukses! Sakura sukses mengarang cerpen beberapa paragraf itu yang kisahnya dikutip dari sinetron kesayangannya. Terlebih sekarang Gaara turut memasang pose berfikir, seolah menyesal telah menyinggung masa lalu Sasuke. Ya..memang itulah yang dirasakan Gaara.
"Maaf, aku terkesan ikut campur."
"Tidak. Kau berhak mengetahui ini. Bagiku kau adalah seorang kakak yang wajib tahu tentang hidup yang kujalani saat ini. Aku paham akan kekhawatiranmu," ucap Sakura menenangkan sembari mengusap punggung Gaara. "Kami...saling mencintai," lanjutnya meyakinkan meski rasanya pahit di bibir setelah mengucapkan kata-kata menggelikan itu.
Gaara tersenyum sebelum memeluk hangat tubuh gadis yang amat dicintainya itu. Meski masih ada perasaan mengganjal dalam benaknya, ia berusaha percaya dengan ucapan Sakura. Mungkin benar, ia hanya terlalu menghawatirkan pujaan hatinya itu.
###
"Kita akan melakukan pengawalan. Agar tidak mencolok, hanya akan ada dua anggota yang turun ke lapangan, sementara anggota lain mengawasi dari jarak jauh," terang Konan tentang misi mereka kali ini.
"Kenapa harus ada pengawalan jarak jauh? Sepenting apa client kita kali ini?" tanya Itachi penasaran. Tidak biasanya akan ada dua area penjagaan seperti ini.
"Akhir-akhir ini ia merasa mendapat teror. Sebagai salah satu penyumbang dana terbesar dalam organisasi kita, kita harus melindunginya," terang Konan. "Dan bukan tidak mungkin kita akan berhadapan dengan Exterminator. Mengingat mereka tahu bahwa client kita merupakan penyumbang dana Akatsuki.:
Itachi tersentak. Exterminator? Berarti ia akan bertemu...
"Bersikap profesional sangat penting. Siapapun yang menjadi ancaman, harus dimusnahkan," pesan Pain mengingatkan, dari caranya bicara seolah pesan itu dikhususkan untuk Itachi yang kini memandangnya datar meski tangannya mengepal kuat.
Berhadapan dengan Exterminator? Sasuke...
###
Di sisi lain Sasuke dan timnya tengah menyusun rencana. Beberapa kali Sasuke nampak mencoret-coret papan putih sembari menerangkan dengan serius. Nampak anggota lain sesekali menanggapi sembari turut berfikir keras. Di saat seperti ini, secara otomatis mereka akan melupakan masalah pribadi dan menekan ego masing-masing. Sesekali Sasuke memandang langit dari jendela kamar tempat mereka menginap. Entah apa yang dipikirkannya, namun rasa terusik terlihat jelas dari sepasang onyx yang nampak menerawang cakrawala.
Sementara itu, di salah satu cafe di sudut Konoha, Sakura nampak bercanda ria bersama Gaara yang nampak sesekali melemparkan gurauan ringan. Sakura tersenyum sembari menyendok ice cream di hadapannya. Beberapa kali ia nampak memandang langit dari jendela cafe sembari memasang wajah khawatir. Terbesit rasa tak nyaman tanpa Sasuke di sisinya namun segera ditepis saat menyadari Gaara tengah menatapnya bingung. Sakura berusaha tersenyum dan membalas gurauan Gaara. Meski pikirannya entah kemana.
Di lain tempat Sakumo nampak memandangi langit yang sama dari jendela ruang kerjanya. Sesekali ia menghela nafas berat. Selalu begini setiap anak asuhnya menjalankan misi.
Jauh di dalam lubuk hatinya, ia takut. Takut bila kehilangan salah satu atau bahkan seluruh anggota tim yang menjalankan misi. Apapun yang terjadi, mereka adalah anak-anak yang dibesarkannya dengan kasih sayang. Satu yang selalu ia harapkan adalah, agar misi cepat selesai dan kembali memandang wajah anak-anaknya.
Di bawah langit yang sama, dalam garis takdir yang berbeda. Mereka dihubungkan dengan salah satu hukum alam yang paling kejam sekaligus adil dalam waktu yang bersamaan.
Takdir...
TBC
Author's place ::
Nah loe...makin runyem nih cerita... -.-
Huhuhu...
Ampuuuuun readeeeeers...! maafkan author bejad yang sering update telat or mengecewakan beberapa readers sekalian... *lagi2 cuma bisa minta maaf...
Cuma ini yang bisa kupersembahkan untuk kalian...
Saya akan sangat bersyukur bila kalian masih berkenan mengikuti cerita ini...atau sekedar memberi review...
Sebenernya di sini author maunya menunjukkan kalo perasaan Sasuke berangsur-angsur melunak...tapi kayaknya ngga berhasil dapet feel ya.? -.-
Ehm...bagi yang masih sayang aku...(emangnya ada?) ripiiiiuuu doonk!
Saran yang membangun yaa...
Makasiiih... -.-
Oh iya..sekalian, di sini ada yang baca fic saya yg Senseless ngga?
cuma mau minta pendapat, kira2 lebih baik fic itu dilanjutin apa di delete aja...?
jujur saya agak ragu waktu publish, tapi nekat juga akhirnya...
akan sangat berterimakasih bila ada yg berkenan menjawab...
Minta doa buat UTS yaa,,, : )
akhir kata..
ripiuu pliiis...
