Sebenarnya, Orivia berubah jadi apa? Setelah semua jenis kucing dan burung hantu dia coba, akhirnya dia berubah menjadi kucing dengan bulu kecoklatan dan warna mata emerald.
"Dad!" Hara berlari menghampiri Severus.
"Kau memilih kucing untuk kau bawa?" tanya Severus.
Hara mengangguk, "Tentu saja, apa ada masalah?"
Severus menggeleng, "Tidak, hanya saja ... kenapa kucing itu mirip sekali denganmu?"
Nah, itu dia yang membuat Hara heran. Kenapa juga Orivia memilih kucing dengan bulu yang sama dengan warna rambutnya dan memilik mata emerald sepertinya?
"Err ... hanya kebetulan saja, ku rasa."
Severus mengangguk paham, melihat Hara tersenyum itu sudah cukup baginya. Merekapun meninggalkan Diagon Alley.
Lost Sister
Chapter 6 : Peron Sembilan Tiga Perempat
A Harry Potter Fanfiction
Harry Potter J.K Rowling
Story by ChocholateCaramel
Warning : OOC(s), OC(s), Twin Harry, Typo(s)
Happy Reading
"Kau yakin?"
Hara mengangguk dengan yakin, mencoba mengusir kecemasan pria di hadapannya ini. Walaupun Hara mengatakan dirinya baik-baik saja, Severus tetap akan khawatir. Hara menghela napas, "Aku akan baik-baik saja, dad. Kau bisa menungguku di Hogwarts."
Akhirnya Severus mengalah, mengangguk dan berpesan, "Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Kau tahu cara masuk ke peronnya bukan?"
"Iya dad, aku masih mengingatnya dengan jelas." Mendengar jawaban Hara, Severus kembali menghela napas dan akhirnya berjalan meninggalkan Hara.
Hara tersenyum, melambaikan tangan pada Severus yang berjalan menjauh, walaupun dirinya masih sesekali menoleh ke arah Hara. Setelah Severus tidak terlihat lagi, Hara membalikkan badannya. Dia bergumam, "Peron Sembilan Tiga Perempat."
Saat Hara kebingungan dengan letak peron Sembilan Tiga Perempat, dia mendengar suara seorang wanita yang bicara dengan anak-anak.
"... penuh dengan muggle, tentu saja."
Hara langsung membalik. Yang bersuara seorang wanita gemuk, bicara kepada empat anak laki-laki, semua dengan rambut merah manyala. Masing-masing mendorong koper seperti milik Hara di depan mereka dan mereka punya burung hantu.
Dengan jantung berdegup keras Hara mendorong trolinya mengikuti mereka, berharap keberuntungan di pihaknya. Mereka berhenti, dia ikut berhenti, cukup dekat untuk mendengar apa yang mereka katakan.
"Peron berapa?" tanya ibu anak-anak itu.
"Sembilan tiga perempat!" Terdengar suara nyaring anak perempuan, juga berambut
merah, yang menggandeng tangannya. Hara menduga gadis itu lebih muda darinya.
"Mum, apakah aku tidak boleh ..." Nada bicaranya terdengar merengek.
"Kau belum cukup umur, Ginny sekarang diam dulu. Baiklah, Percy, kau duluan yang masuk."
Anak yang kelihatannya paling tua berjalan menuju peron sembilan dan sepuluh. Hara mengawasi, bertahan tidak berkedip, takut kalau-kalau ada sesuatu yang tidak dilihatnya tetapi pas ketika anak itu tiba di pembatas antara peron, serombongan besar turis lewat di depannya dan ketika ransel terakhir sudah menyingkir, si anak sudah lenyap.Hara kesal karenanya.
Dia memang mengetahui cara masuk ke peron, hanya saja dia belum pernah melihatnya secara langsung.
"Fred, kau berikutnya," si wanita gemuk berkata.
"Aku bukan Fred, aku George," kata si anak. "Astaga, Mum! Katanya ibu kami, masa tidak bisa membedakan bahwa aku George?"
"Sori, George."
"Cuma bergurau, aku Fred," kata si anak, lalu langsung pergi.
Kembarannya berteriak agar dia bergegas, dan pastilah dia bergegas, karena sedetik
kemudian dia sudah lenyap. Sekarang saudara ketiga berjalan cepat menuju ke palang rintangan tiket, dia nyaris
sampai dan mendadak, dia lenyap.
"Maaf," ucap Hara kepada si wanita gemuk.
"Halo, Nak," katanya. "Baru pertama kali ke Hogwarts, ya?
Ron juga baru." Dia menunjuk anak laki-lakinya yang terakhir dan termuda. Dia kurus dan jangkung, dengan bintik-bintik di mukanya, kaki tangan besar, dan hidung panjang. Hara tersenyum pada anak laki-laki itu.
"Ya," kata Hara. "Masalahnya, saya tidak tahu di mana ..."
"Di mana peronnya?" tanyanya ramah, dan Hara mengangguk.
"Jangan khawatir," katanya. "Peronnya ada di sana. Yang harus kau lakukan hanyalah berjalan saja, menembus palang rintangan antara peron sembilan dan sepuluh. Jangan berhenti dan jangan takut kau akan menabraknya, ini yang paling penting. Paling baik melakukannya setengah berlari, kalau kau cemas. Ayo, masuklah sekarang, sebelum Ron."
"Er, baiklah," kata Hara. Hara memutar trolinya dan memandang palang rintangan. Kelihatannya kuat sekali. Dia mulai berjalan ke arah palang. Berkali-kali dia tersenggol orang-orang yang berjalan ke peron sembilan dan sepuluh.
Hara berjalan semakin cepat. Har membungkuk di atas trolinya, dia berlari. Palang semakin lama semakin dekat, dia tak akan bisa berhenti. Troli sudah di luar kendali, tinggal tiga puluh senti lagi, dia memejamkan mata, menunggu.
Dia tidak merasakan menabrak apa-apa, masih terus berlari dan kemudian dia membuka matanya.
Kereta api berwarna merah menunggu di sebelah peron yang penuh orang. Tulisan di atasnya berbunyi Hogwarts Express, pukul 11.00. Hara menoleh ke belakang dan melihat gerbang
melengkung di tempat yang tadinya tempat boks tiket, dengan tulisan Peron Sembilan Tiga Perempat. Dia telah berhasil, tentu saja itu membuatnya senang.
Orivia yang tadi tertidur, kini terbangun dan menggerutu. "Apa yang kamu lakukan sih? Itu membuatku terbangun!"
Hara tertawa kecil, "Gomen, Ori."
Ori yang dalam bentuk seekor kucing sedang berdiri di atas troli dan memandang sekeliling. Ori bertanya, "Kita berada di Peron Sembilan Tiga Perempat?"
Hara mengangguk dengan antusias. Pandangannya kini memperhatikan sekelilingnya.
Asap lokomotif melayang di atas kepala orang-orang yang ramai mengobrol, sementara kucing-kucing dalam berbagai warna menyusup-nyusup di antara kaki mereka. Burung-burung hantu saling bersahutan, ditingkahi suara obrolan dan derit koper-koper berat yang diseret.
Rangkaian beberapa gerbong yang di depan sudah penuh dengan anak-anak. Beberapa di antaranya menjulurkan tubuh ke luar jendela untuk mengobrol dengan keluarga mereka, yang lain berebut tempat duduk. Hara mendorong trolinya sepanjang peron, mencari tempat duduk yang masih kosong.
Dia melewati anak lakilaki berwajah bulat yang sedang berkata, "Nek, katakku hilang lagi."
"Oh, Neville." Didengarnya perempuan tua itu menghela napas. Seorang anak laki-laki berambut keriting dikerumuni serombongan anak.
"Coba kami lihat, Lee, ayo dong."
Anak itu mengangkat tutup kotak yang dipeluknya dan anak-anak yang merubungnya langsung menjerit dan berteriak-teriak ketika ada kaki panjang berbulu keluar dari kotak itu.
Hara melewati orang-orang itu, namun langkahnya terhenti. Jauh dari tempatnya berdiri saat ini, dia melihat orang-orang yang tidak asing baginya. Ori yang heran dengan berhentinya Hara kini bertanya, "Kenapa berhenti, Hara?"
Pandangan Ori mengikuti arah pandangan Hara. Di seberang sana, dia dapat melihat empat orang. Mereka keluarga Hara, keluarga kandung Hara. Seorang pria dan seorang wanita yang sedang mengantar kedua anaknya. Juga seorang anak perempuan seumuran Hara dan seorang anak laki-laki yang juga seumuran Hara.
Tiba-tiba, Ori merasa khawatir dengan Hara. "Kau baik-baik saja?"
Hara tersenyum dan mengangguk, "Mereka terlihat bahagia. Benar 'kan?"
Mereka bahagia tanpa diriku.
"Hara ..." Ori memandang sedih pada Hara yang kini kembali melangkah.
Hara melewati orang-orang yang berdesakan sampai dia tiba di gerbong kosong hampir di ujung kereta. Mula-mula dinaikkannya Ori, kemudian dia mulai mengangkat dan mendorong kopernya lewat pintu kereta. Dicobanya mengangkatnya melewati undakan, tetapi dia nyaris tak bisa mengangkat salah satu ujungnya dan dua kali koper itu menjatuhi kakinya. Sakit sekali.
"Perlu bantuan?"
"Ya, tolong dong," jawab Hara terengah. Dia tidak menyadari siapa orang yang hendak menolongnya. Dengan bantuan orang itu, koper Hara akhirnya berhasil di tempatkan di sudut gerbong.
"Terimakasih," ucap Hara tulus. Tapi, dirinya merasa beku setelah melihat siapa yang menolongnya. Tanpa sadar, dia berkata, "Draco Malfoy."
Draco tersenyum mendengar orang di hadapannya menyebut namanya. "Kita bertemu lagi ya, Kobayashi Hara."
Hara tersenyum canggung, dia bingung harus menanggapi bagaimana. Draco bertanya, "Kau sudah dapat tempat duduk?"
Hara menggeleng, "Belum."
"Bagaimana-" Ucapan Draco terhenti saat ada yang memanggil Hara.
"Hara!"
Mendengar namanya dipanggil, Hara menoleh. Tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri, seorang gadis sedang melambaikan tangan kepadanya. Hara balas melambaikan tangan, gadis itu menghampiri Hara.
"Hara, kau dari mana saja? Yang lain sudah menunggu!" ucap gadis itu, mengabaikan keberadaan Draco saat ini. Hara mengangguk, mengikuti langkah gadis itu. Tapi langkahnya terhenti, dia menoleh ke belakang.
"Aku duluan," ucapnya sambil tersenyum.
••
"Kira-kira nanti masuk asrama mana?"
Natsuki dan Hara mengalihkan pandangannya pada Natsumi yang bertanya. Natsuki balik bertanya, "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Hanya penasaran saja sih. Natsuki ingin masuk ke asrama mana?" Natsuki tampak berpikir sebentar lalu menjawab, "Mungkin Gryffindor."
Natsumi mengangguk lalu beralih menatap Hara, "Bagaimana dengan Hara?"
"Aku?" Hara bertanya memastikan, Natsumi mengangguk. Hara menghela napas, "Yang mana saja boleh, asal ada orang terdekatku yang berada di sana. Jadi aku tidak akan seperti anak hilang di asrama itu."
"Begitu ya? Kalau aku, aku ingin masuk asrama yang sama dengan Hara. Jadi dia tidak akan merasa sendirian."
"He? Bagaimana denganku?" protes Natsuki. Natsumi memandangnya dengan pandangan tidak mengerti, "Memangnya ada apa denganmu?"
"Masa nanti aku sendirian!" protes Natsuki. Natsumi membalas, "Yang lain masih ada 'kan."
Hara tersenyum kecil dan bergumam, "Terserah kalian saja. Lebih baik kita pakai jubahnya sekarang!"
Setelah mereka bertiga selesai memakai jubah, terdengar pengumuman yang dikumandangkan di seluruh kereta. "Kita akan tiba di Hogwarts lima menit lagi. Silakan meninggalkan barang-barang anda di kereta. Barang-barang tersebut akan dibawa ke sekolah secara terpisah."
Kereta semakin melambat dan akhirnya berhenti. Anak-anak berdesakan ke pintu dan keluar ke peron kecil gelap. Hara bergidik dalam udara malam yang dingin. Kemudian muncul lampu yang bergoyang-goyang di atas kepala anak-anak dan Harry mendengar suara. "Kelas satu!"
Wajahnya yang besar berewokan tersenyum di atas lautan kepala anak-anak. "Ayo, ikuti aku, masih ada lagi kelas satu? Hati hati melangkah. Kelas satu ikut aku!"
"Eh, dia tinggi sekali." Natsumi yang berada di sampingnya berbisik. "Kapan aku bisa setinggi itu?"
"Dalam mimpimu!" Bukan Hara yang bicara, melainkan Natsuki.
Terpeleset dan terhuyung, mereka mengikuti pria tinggi itu menyusuri jalan sempit curam. Di kanan-kiri mereka gelap sekali, sehingga Hara menduga pepohonan di situ pastilah lebat. Tak ada yang banyak bicara. Neville, si anak yang kehilangan katak, terisak satu dua kali.
"Sedetik lagi kalian akan melihat Hogwarts untuk pertama kali," pria itu yang ternyata bernama Hagrid berseru seraya menoleh, "sesudah belokan ini."
Terdengar seruan "Oooooh!" keras.
Jalan sempit itu mendadak membuka ke tepi danau besar gelap. Di atas gunung tinggi di seberang danau, jendela-jendelanya berkilau terang di bawah langit penuh bintang, bertengger kastil besar dengan banyak menara besar dan kecil.
"Satu perahu tak boleh lebih dari empat anak!" seru Hagrid, seraya menunjuk armada perahu kecil-kecil yang siap menunggu di dekat tepi danau.
"Aku ikut kalian ya?" Salah satu teman mereka, namanya Sae.
Hara, Natsumi, Sae, dan Natsuki menuju ke perahu
mereka.
"Semua sudah naik perahu?" teriak Hagrid, yang sendirian di atas satu perahu. "Baik kalau begitu ... BERANGKAT!"
Lost Sister
*TBC*
A/N
Chapter 6!!
Maaf lama, aku habis sakit. Gomen.
Hara masuk asrama mana hayoo
Wattpad @ChocholateCaramel
Love
ChocholateCaramel
