Angin malam berhembus kencang dilantai puncak gedung. Sepasang manusia terlihat berada diatas atap gedung tersebut. Bunyi letupan pistol terdengar nyaring ditelinga Lucy, salah satu orang diatas atap itu, yang sontak langsung membuatya memalingkan pandangannya kearah sumber suara.

"Na-nat-tsu?" Mata Lucy terbelalak melihat Natsu yang tengkurap dan memegang sebuah sniper disampingnya. Mata Lucy benar-benar terbuka lebar

"ada apa? Lucy Heartfillia?"

Queue de Fée

© Fairy Tail milik Hiro Mashima. Saya hanya meminjam beberapa Karakternya.

Warning: OoC, AU, Typo(s), Newbie Author

~ Goyukkuri ~

| Chapter 7 – Natsu (bagian 1) |

Hati-hati yaa.. chap ini mengandung unsur dewasa (tersirat) dan kekerasan.. yang sekiranya merasa tidak enak membaca konten tersebut, saya persilahkan skip chapter ini :v

Angin malam terasa mencengkam bagi Lucy Heartfillia. Kini hatinya berdegup ngeri melihat pria yang baru saja mengeksekusi mati seseorang. Pria itu beranjak dari posisi tengkurapnya, meninggalkan snipernya lalu berjalan mendekati Lucy. Lucy merasakan hawa yang sangat menakutkan dari pria didepannya itu yang membuat kakinya memundurkan langkah

"ada apa Luce? Kenapa kau menjauh?" tanya Natsu yang sedikit menunduk membuat poninya menutupi mata obsidian miliknya

"Na-natsu.. a-apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Lucy ketakutan

"barusan? Bukankah sudah jelas. Aku menembaknya" kata Natsu santai, "Luce.. berhenti bergerak" perintah Natsu yang langsung membuat Lucy membeku. Lucy ingin menjauh, tapi otot kakinya serasa mengeras tak dapat digerakkan, sedangkan Natsu semakin mendekat kearah Lucy

"bagus, jika kau bergerak.. aku tak segan segan untuk melubangi kepalamu" kata Natsu dingin. Natsu sudah berdiri tepat dihadapan Lucy, ia mendekatkan kepalanya hingga bibirnya tepat berada disebelah telinga kanan Lucy

"jawab pertanyaanku" suara Natsu terdengar mengerikan bagi Lucy, "aku tahu kau anjing CIA, dan aku tahu apa tujuanmu kesini. Aku hanya ingin tahu, siapa bosmu" tanya Natsu

"a-aku tidak tahu" jawab Lucy ketakutan, jantungnya serasa ingin lepas dari tubuhnya, keringat dingin mengalir didahinya

"hhmmm.. apa kau begitu bodoh bekerja untuk seseorang yang tidak kau ketahui" Natsu mengambil sebuah pistol dari belakang bajunya, lalu menempelkan mulut pistol kearah perut Lucy. Lucy merasakan hal itu, ia semakin bergetar ketakutan, "sekarang aku tanya sekali lagi, siapa bosmu" tanya Natsu sekali lagi dengan mendorong pistolnya kearah perut Lucy

"a-aku benar-benar tidak tahu, sungguh Natsu" kata Lucy, air matanya terkumpul disudut matanya dan dapat jatuh kapanpun

"jadi kau ingin mati disini?" ancam Natsu

"sungguh Natsu, a-aku tidak tahu. Percayalah padaku" air mata Lucy tak dapat dibendung lagi. Air mata itu mulai mengalir dipipinya. Natsu menarik pistolnya dari perut Lucy dan mengembalikannya, ia memundurkan satu langkahnya, dan menatap mata caramel Lucy yang basah akan air mata dalam-dalam. Lalu ia maju satu langkah, dipegang dagu Lucy dengan jarinya hingga Lucy sedikit mendongak kearah Natsu dan cup…

Bibir Natsu menempel tepat dibibir Lucy yang langsung membuat mata Lucy membulat sempurna. Ia tak tahu apa yang pria ini pikirkan. Tingkahnya berubah 180 derajat, dia aneh. Perasaan aneh menjalar ditubuh Lucy. Ciuman itu tak kunjung selesai. Jantung Lucy berdetak kencang, namun berbeda dengan tadi, kali ini detakan jantungnya terasa hangat. Tubuhnya yang ketakutan menjadi sedikit tenang, mata Lucy terpejam menikmati setiap perasaan hangat yang menjalar ditubuhnya. Tak lama bibir mereka terlepas, Natsu menempelkan dahinya kearah dahi Lucy yang membuat Lucy semakin tenang

"maafkan aku Luce" kata Natsu lirih. Perkataan itu terasa hangat ditelinga Lucy, "aku terpaksa melakukannya untuk mengetahui orang yang menyuruhmu" lanjut Natsu. Lucy hanya terdiam, ia menikmati setiap kehangatan yang ada ditubuhnya. Natsu melebarkan jarak diwajah mereka. Lucy membuka mata karamelnya, air matanya masih berlinang dimatanya. Dengan lembut jari Natsu mengusap mata Lucy

"gomenne" kata Natsu dengan grins yang hangat, Lucy hanya mengangguk mengiyakannya

Lucy merasakan kehangatan saat berada bersamanya, tidak hanya sekedar kehangatan, tapi juga rasa nyaman. Entah kenapa walaupun tadi ia merasa pria didepannya sangat menyeramkan, tapi ia tidak dapat menghilangkan sosok lain pria dihadapannya itu 'aku menyukainya' batin Lucy, 'tidak, aku mencintainya, aku menyayangi Natsu'

.

.

Natsu dan Lucy berada didalam mobil yang melaju pelan menuju kediaman Heartfillia. Mereka saling diam. Wajah Lucy terlihat memerah sedari tadi.

"Luce, bicaralah sesuatu. Apa kau masih takut denganku? Marah?" tanya Natsu yang menoleh kearah Lucy, yang dijawab gelengan oleh Lucy

"aku hanya tidak tahu harus berbicara apa" kata Lucy pelan, 'siapa Natsu sebenarnya?' pikiran itu terlintas dikepalanya

"yaa kau bisa berkata apapun" kata Natsu

"ada yang ingin aku tanyakan" kata Lucy. Natsu lalu mendengarkan pertanyaan Lucy secara seksama, "aku ingin mengetahui latar belakangmu, masa lalumu, tujuanmu, pekerjaanmu, semua tentangmu" lanjut Lucy dengan segudang pertanyaan

"eh? Untuk apa?" tanya Natsu heran

"aku hanya ingin tahu, dame?" kata Lucy dengan wajah yang…

'kawaii' batin Natsu, "a-aku tahu aku tahu. Tapi…" perkataan Natsu tergantung

"hm?" Lucy menanti lanjutannya

"ceritaku bukanlah cerita yang bahagia. Masalaluku sangatlah kelam. Kau masih ingin mendengarnya?" kata Natsu

"aku tidak peduli. Aku hanya ingin tahu semua tentangmu" jawab Lucy. Natsu hanya tersenyum mendengar itu.

"baiklah kalau begitu" jawab Natsu. pandangannya kembali tertuju kearah jalanan yang diterangi oleh lampu mobilnya dan juga lampu penerangan dijalan, "aku akan mengawalinya saat aku lahir disebuah keluarga kecil yang dulunya harmonis"…

.

.

#Flashback (author: Mulai sini akan diceritakan masa lalu Natsu yang sangat menyenangkan XD)

Osaka belasan tahun yang lalu

Angin malam berhembus begitu dingin. Disebuah rumah dengan cat merah, hidup sebuah keluarga yang harmonis. Seorang wanita dan 3 orang pria terlihat ceria malam itu. Merekalah keluarga Dragneel

"ma.. tadi kakak hebat sekali loh. Dia dapat nilai 100 saat ulangan dikelasnya" kata anak kecil berambut salmon, Natsu kecil yang berbicara dengan mulut penuh makanan

"Natsu, telan dulu makananmu" kata sang wanita berambut hitam, ibu mereka, dengan nada sabar

"kau juga hebat Natsu, aku tadi melihatmu memenangkan lomba sprint dengan teman sekelasmu" puji sang kakak, anak kecil dengan rambut senada ibunya, Zeref

"hahaha.. begitulah anak-anakku, kalian memang hebat. Walaupun kalian bertolak satu sama lain" puji sang kepala keluarga, Igneel Dragneel, dengan tertawanya yang keras

Keluarga itu terasa harmonis, hingga suatu malam, kejadian buruk menimpa keluarga itu.

.

Saat itu Igneel sedang ada tugas khusus yang mengharuskannya tidak pulang untuk beberapa hari. Hari sudah sangat larut, jam menunjukkan pukul 12 malam. Rumah kediaman Dragneel sudah nampak sepi. Semua lampu nampak dalam keadaan mati. Natsu dan Zeref sudah tertidur terlebih dahulu. Sedangkan sang ibu masih berada didalam kamar dengan sebuah lampu baca untuk membaca sebuah buku. Diluar terdapat 5 orang berpakaian serba hitam dengan sebuah pistol ditangan mereka. Mereka mencari jalan masuk kedalam rumah Dragneel. Mereka bekerja secara professional hingga tak ada yang menyadari bahwa rumah mereka terbobol. Kelima orang itu menggeledah tiap ruangan. Istri dari Igneel mendengar suara dari lantai bawah, ia mengendap-endap keluar kamar dan menengok lantai bawah dari tangga. Ia terkejut melihat beberapa orang berkeliaran dilantai bawah. Ia segera berjalan menuju kamar kedua anaknya

"ada apa bu?" tanya sang kakak, Zeref yang juga mendengar suara dibawah

"sstt" bisik sang ibu, ia beranjak kearah Natsu dan menggendongnya, "bersembunyilah didalam sini" kata sang ibu sambil menuju almari, Zeref mematuhi ibunya dan masuk kedalam almari. "sembunyilah disini, dan ingat, apapun yang terjadi kalian berdua jangan keluar. Jagalah adikmu Zeref" kata wanita itu sambil mengelus kepala Zeref. Ia mengambil sebuah jas dan menutupi tubuh mereka. Ia mengunci almari itu dan membuang kuncinya keluar. Ia berencana untuk keluar dari jendela namun itu terlambat

"eemmmphh.." istri Dragneel tersebut tak dapat berteriak karena dibungkam oleh tangan besar pria dibelakangnya. Kelima orang asing itu masuk kedalam kamar dimana ia berada

"kerja bagus" kata pimpinan mereka

"jadi kita apakan dia bos?" tanya orang yang sedang membungkam istri Dragneel itu

"hhmmm.. malam masih panjang, bagaimana kalau kita bersenang-senang terlebih dahulu.. tentunya dengan tubuh wanita ini" senyuman jahat terpahat diwajah kelima orang itu. Istri Dragneel meronta-ronta, tapi tetap saja, kekuatan wanitanya tidak mampu mengalahkan pria yang memegang erat dirinya. Ia dilempar kekasur dan langsung dipegangi oleh empat orang lain

"baiklah.. pesta dimulai" kata pimpinan mereka

.

Selama berjam-jam wanita malang itu digagahi oleh kelima pria asing tadi. Rintihan terdengar jelas dikamar itu, Zeref yang berada didalam almari hanya membungkam mulutnya melihat ibunya diperlakukan semacam itu oleh lima orang iblis keparat itu. Natsu yang tertidur tiba-tiba terbangun, Zeref tidak menyadarinya

"onii-chan?" kata Natsu kecil, Natsu mendengar suara suara aneh dari luar almari, ia mengintip keluar, "ma-"

"hm?" salah satu orang itu mendengar suara Natsu, 'mungkin hanya imajinasiku' batinnya dan kembali keaktifitasnya

"diamlah Natsu" bisik Zeref kepada adiknya yang ia bungkam dan sudah menangis. Malam itu merupakan malam yang sangat terkutuk bagi mereka berdua

.

Pagi berawan, terhampar deretan nama orang-orang yang terpahat dibatu. Begitupula dengan ukiran batu yang baru bermarga Dragneel. Beberapa orang berbaju gelap mengelilingi pemakaman istri Igneel yang tewas dengan belasan peluru diperutnya. Nampak Igneel berdiri didepan nisan sang istri. Zeref berdiri disamping ayahnya dan menggandeng Natsu kecil. Air mata Natsu mengalir dipipinya yang masih tembem. Berbeda dengan Natsu, Zeref nampak tenang, ia seperti sudah mengetahui apa itu kematian. Pemakaman begitu hening dan diiringi beberapa isak tangis kerabat dekat. Dan sejak saat itu, kelakuan Igneel berubah drastis

.

Beberapa bulan berlalu sejak kematian istrinya. Igneel menjadi pemurung, ia keluar dari pekerjaannya dan focus mencari siapa pembunuh istrinya. Zeref dan Natsu mulai berhenti sekolah karena suruhan sang ayah

Disuatu hari, Igneel kedatangan seorang tamu yang katanya tahu siapa pembunuh istrinya.

"benarkah anda mengetahui siapa pembunuh itu?" kata Igneel

"aku tahu. Tapi aku akan memberitahumu jika kau melakukan beberapa pekerjaan untukku" kata orang itu

"akan aku lakukan, apapun itu. Asal kau beritahu siapa pembunuh istriku" katanya

"baiklah kalau begitu. Aku ingin kau menjadi seorang pembunuh bayaran yang bekerja dibawah perintahku. Aku akan memberitahumu jika aku merasa kerjamu bagus. Bagaimana?" tawar orang itu. Dan tanpa pikir panjang, Igneel yang dibutakan oleh dendam menerima tawaran itu. Tak sadar sang anak, Zeref mendengar percakapan mereka. Dan sejak saat itu, Igneel menjadi pembunuh bayaran yang cukup diburu oleh polisi karena kecerdikannya. Namun para polisi tak tahu bahwa Igneel pembunuhnya karena Igneel selalu melakukan pekerjaannya dengan bersih.

.

Nampak anak kecil berambut salmon bergetar melihat sesuatu dihadapannya

"cepat bunuh dia Natsu!" perintah seorang pria dewasa dengan rambut merah dan sebuah luka dimatanya

"ti-tidak, aku tidak bisa otou-san" jawab Natsu kecil yang ketakutan melihat 3 orang sekarat didepannya

*PLAAK!

Sebuah tamparan dari ayahnya sendiri melayang kearah Natsu membuat Natsu kecil terhempas jatuh.

"kau anak bodoh!" bentak pria itu, "Zeref, bunuh salah satu dari mereka" katanya kepada satu anak lagi. Anak berambut hitam itu berjalan mendekat dengan sebuah pisau ditangannya. Ia mengangkatnya dan

*JLEB

Pisau itu menancap diperut salah satu orang sekarat itu yang langsung membuatnya kehilangan nyawa. Darah terciprat kewajah anak itu, dan tiba-tiba seringai kejam terukir diwajah Zeref. Ia mencabut pisaunya dan langsung menghunuskan pada orang dipinggirnya. Kembali ia cabut pisaunya dan ia arahkan kekorban ketiganya namun sebuah tendangan mengarah keperutnya yang membuatnya terpental

"aku bilang bunuh satu bodoh!" bentak pria berambut merah tadi, "kenapa aku punya anak yang bodoh-bodoh seperti ini" lanjutnya. Ia memandang Natsu yang terdiam melihati kakaknya tadi membunuh, "Natsu, cepat kau bunuh dia. Atau kau yang akan kubunuh!" katanya dengan nada yang menyeramkan

Natsu kecil berdiri, ia mengambil pisau dan berjalan dengan gemetar kearah orang yang akan ia bunuh. Ia mengangkat tangannya yang nampak gemetar, dan ia turunkan tangannya dengan kencang "gomenasai" katanya

*JLEEB!

Pisau itu sukses menerobos daging orang itu. Darah segar terciprat kewajah Natsu. Air mata Natsu mengucur kepipinya yang masih lucu. Dan sekali lagi ia ditampar oleh ayahnya

*PLAK

"jangan menangis bodoh. Para pembunuh tidak menangis saat membunuh!" kata pria itu. Mata obsidian Natsu menatap tajam kepada ayahnya, tatapan seperti orang ingin membunuh, "hhmmm.. tatapan yang bagus. Tapi terlalu dini untukmu melemparkan tatapan seperti itu kepada ayahmu" *DUAK.. Sebuah tendangan keperut Natsu sukses membuat Natsu terbatuk-batuk.

.

Pagi cerah menyinari Osaka. Natsu dan Zeref berada dirumah mereka, sedangkan Igneel pergi entah kemana.

"kakak. Apa yang kita lakukan ini benar? Apa membunuh itu benar?" tanya Natsu kecil

"tentu saja tidak Natsu. kita melakukan ini karena terpaksa. Apa kau tidak ingin melakukannya?" jawab Zeref

"aku tidak ingin melakukan ini" Natsu menunduk, poninya menutupi matanya yang dibanjiri air mata, "aku tidak ingin membunuh" kata Natsu mulai menangis

"aku tahu, aku juga tidak ingin membunuh. Untuk saat ini kita turuti ayah, aku akan merencanakan sesuatu untuk jalan keluarnya" kata Zeref yang lalu memeluk adiknya. Natsu hanya mengangguk dalam pelukan Zeref. Namun Zeref tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai dibalik Natsu

.

.

Bertahun-tahun berlalu, dan selama itu mereka bertiga tetap membunuh. Dan selama itupula, kepribadian Natsu sebagai pembunuh terbentuk. Ia sudah tak ingat berapakali ia menusukkan pisau kejantung orang. Tatapan matanya juga sudah sangat tajam, mata obsidian itu seperti haus akan darah.

"Natsu! Zeref! Kemarilah!" perintah sang ayah. Natsu yang seumuran anak SMP berjalan gontai dengan sebuah kaos oblong dan celana pendek. Begitupula dengan Zeref yang saat itu sudah seumuran anak SMA

"ada apa ayah?" tanya Natsu

"nanti malam aku ada janji. Bisakah kalian bekerja menggantikanku?" kata Igneel

"tentu saja" jawab Zeref dengan santai

"baguslah, aku akan mengirim detailnya ke-email kalian" kata Igneel lalu pergi entah kemana

"hei kakak.. mau bertaruh siapa yang lebih banyak membunuh?" tanya sang adik. Sang kakak hanya tersenyum kecil

"kau sudah berubah Natsu" kata Zeref, "dulu saja kau bilang kau tidak ingin membunuh" lanjutnya

"apa boleh buat bukan? Aku sudah bukan manusia lagi. Tanganku sudah sekotor tangan iblis" kata Natsu dengan seringai kecil, yang hanya dibalas pandangan oleh kakaknya

.

.

Hari sudah berubah menjadi malam. Angin berhembus kencang malam ini. Natsu dan Zeref berjalan menuju rumah target mereka

"bagaimana kak? Apa kau menerima taruhanku?" tanya Natsu

"tentu saja. Jadi apa hadiahnya?" balas Zeref

"tentu saja uang jajan" kata Natsu dengan senyuman polos. Dan dibalas senyuman pula oleh Zeref

Mereka berjalan belasan menit dan sampai disebuah rumah yang cukup besar. Mereka mengamati beberapa saat

"Natsu, didepan ada 2 penjaga dan diekat pintu utama ada 2 lagi. Sepertinya dibagian belakang rumah ada 4 penjaga juga. Kau ambil depan atau belakang?" tanya Zeref

"tentu saja depan" jawab Natsu mantap

"baiklah, kalau begitu bunuh mereka secara diam-diam" kata Zeref dan Natsu mengangguk tanda mengerti. Dan mereka beraksi.

Zeref langsung berlari menuju bagian belakang rumah dengan memutari gang. Sedangkan Natsu melompat pagar dan berjalan mengendap ke-pos dimana satu penjaga duduk didalam situ. Dan dengan satu tusukan pisau tepat ditenggorokannya sukses membuat orang itu langsung kehilangan nyawanya. Ia berjalan kearah penjaga yang berada didekat pohon. Dengan cepat Natsu menariknya kebalik pohon dan sekali lagi ia menghempaskan pisaunya, kali ini tepat dijantungnya. Darah sudah membanjiri kaos Natsu dan kedua tangannya

"tinggal 2 penjaga" kata Natsu dengan seringai kecil.

Kali ini Natsu langsung berlari menuju dua penjaga yang berdekatan itu

"siapa-kkhh" gorokan penjaga tersebut tertusuk pisau dan langsung dicabut hingga darahnya keluar begitu banyak. Natsu langsung melemparkan pisau itu tepat kekepala penjaga yang terakhir. Penjaga itu langsung tergeletak, tak tanggung-tanggung Natsu menancapkan pisaunya lebih dalam kekepalanya hingga orang tersebut tak bergerak lagi lalu dicabut pisau itu oleh Natsu.

"kau sudah selesai?" tanya sang kakak yang berjalan menuju Natsu

"tentu saja" balas Natsu dengan senyum polos

"seperti biasa, kau selalu berlumuran darah" kata Zeref

"hehe.. aku tidak bisa bermain indah sepertimu kak" kata Natsu kepada Zeref yang tak terkena darah setetes pun

"baiklah, ayo kita masuk. Menurut info didalam tidak ada penjaga lain, tinggal 2 orang tua dan 1 anak kecil" kata Zeref

"yosha, 4 sama. Dan sekarang kita harus bekerja sendiri oke" kata Natsu yang langsung mengendap masuk. Zeref hanya memandanginya dengan senyuman

Natsu mengendap, membuka tiap kamar pelan-pelan mencari mangsanya. Dia sampai disebuah kamar dengan pintu yang cukup besar

"ketemu" kata Natsu pelan. Ia buka secara perlahan pintu itu dan nampak seorang pria yang sudah berdiri dengan sebuah senapan berburu ditangannya, "sial.." umpat Natsu

*DOR

Beruntung Natsu dapat menghindari peluru itu. Jika terkena badannya sudah pasti berlubang. Ia langsung bergerak masuk kedalam kamar dan mendekati pria itu. Pria itu nampak gugup saat memasang peluru selanjutnya

"lamban!" Natsu langsung melemparkan pisau ketangan pria itu yang langsung membuat senjatanya terjatuh

"akh! Sialan! Apa maumu bocah!" kata orang itu, yang tak lain adalah pemilik rumah ini, target Natsu dan Zeref

"hee.. jadi hanya ada satu. Aku kira istrimu disini juga" kata Natsu, "kalau begitu akan aku selesaikan dengan cepat" Natsu langsung berlari dan menendang orang itu hingga tersungkur kelantai

"akh! Sialan! Bocah tengik" kata pria itu

"bocah katamu?" Natsu tersenyum licik. Ia mengeluarkan pisau dari wadah yang ia taruh disabuknya. Ia berlari keorang itu dan menancapkan pisaunya ketangan pria itu hingga menembus lantai

"AAKKKH!" orang itu berteriak kesakitan

"apa itu sakit?" tanya Natsu yang selanjutnya menusukkan lagi satu pisau dipaha pemilik rumah

"AAKKKHHH! SIALAN KAU BOCAH!" pria itu berhasil menendang Natsu hingga mundur beberapa langkah

"sialan kau pak tua" Natsu melirik kearah senapan yang tadi digunakan mangsanya. Natsu mengambilnya, "sepertinya peluru ini akan cocok jika menembus mulutmu" kata Natsu

"apa kau bilang!" pria itu tak dapat berdiri. Natsu mengambil pisau terakhirnya disakunya. Ia berlari dan melompat kearah orang itu dan menancapkan pisau itu pada perut pemilik rumah.

"AAAKKH-" perkataan pria itu terhenti saat sebuah moncong pistol masuk kedalam mulutnya

"haha.. kenapa kau diam begitu" Natsu tertawa. Ia menodongkan pistol itu kedalam mulut pemilik rumah, "haah~ aku harus cepat. Oke, sampai jumpa pak tua"

*DOR

Darah dan serpihan otak tercecer dilantai. Kepala korban hancur dengan satu tembakan saja

"wow, senapan yang keren" kata Natsu

"papa?" seorang anak kecil gadis masuk kedalam kamar penuh darah itu

"hm? Ada apa gadis kecil?" kata Natsu dengan senyuman lembut dan berjalan kearah gadis itu

"kau penuh darah. Apa kau terluka nii-chan?" tanya gadis itu sambil memegang kaos Natsu yang penuh darah, dan darah itu adalah darah ayahnya

"aku tidak terluka, kau tenang saja" kata Natsu, 'aku hanya harus membunuhnya saja kan' batin natsu, tangan kanannya yang sedari tadi ada dipunggungnya memegang pisau yang siap mencabik gadis kecil dihadapannya

"syukurlah" kata gadis itu dengan senyuman tulus. Mata Natsu terbelalak, tiba-tiba dadanya jadi sesak

'sial! Apa ini?' batinnya, ia merasakan sesuatu hal aneh yang menjalar dalam tubuhnya. Namun perasaan ini rasanya tidak asing

"apa kakak ti-" perkataan gadis itu terpotong. Natsu melihat wajah gadis itu. Mulutnya mengeluarkan darah segar dan langsung saja tubuh gadis itu tersungkur kedepan. Mata Natsu mendapati sebuah pisau menancap dileher belakang gadis itu

"aku menang, Natsu" kata Zeref dari seberang pintu. Natsu hanya terdiam melihat darah segar mengalir keluar dari leher gadis itu. Zeref berjalan mendekat dan mencabut pisau miliknya, "kau tidak apa-apa kan?" tanyanya

"tidak" balas Natsu singkat

"baguslah, ayo kita kembali. Tugas kita selesai" Zeref pun berjalan pergi. Natsu memandangi mayat gadis itu sekali lagi dan beranjak pergi

.

.

Beberapa hari berlalu sejak pembunuhan terakhir mereka. Kediaman Dragneel nampak tenang dimalam hari. Lampu ruang keluarga menyala terang. Dari luar dapat dilihat sepasang silluet yang berdiri didalamnya

"ada apa Zeref?" kata Igneel yang segera duduk dikursi

"ayah. Aku ingin berhenti membunuh" kata Zeref mantap

"ha?" balas sang ayah meyakinkan pendengarannya

"aku akan mengurus Natsu dengan caraku. Aku sudah muak untuk mengotori tanganku" kata Zeref dengan mata sangat yakin. Igneel hanya terdiam lalu berdiri dihadapan Zeref. Tubuhnya yang kekar membuat Zeref terlihat kecil. Igneel mencengkram kepala Zeref dan mengangkatnya keudara

"hei anak bodoh! kau itu anakku. Turuti saja kemauanku sialan!" bentak pria bersurai merah api itu. Zeref hanya memejamkan sebelah matanya menahan sakitnya cengkraman sang ayah

"aku sudah menuruti semua kemauanku. Tapi aku tidak ingin Natsu menjadi pembunuh sepertimu ayah" kata Zeref

"anak sialan!" Igneel melempar Zeref hingga terpental beberapa meter. Zeref tergeletak dilantai, kepalanya terhantam lantai hingga darah segar mengucur didahinya. Ia bangkit berdiri dan memegangi kepalanya

"kumohon ayah" Zeref memohon pada sang ayah dengan tulus

"tidak" kata Igneel, "jika kau ingin pergi…." Igneel mengambil sebuah pisau dimeja dan melemparkannya kearah Zeref, "bunuh aku" lanjutnya. Sekejap mata Zeref membulat, tak pernah ia berfikir bahwa ia harus membunuh ayahnya

"tidak. Aku tidak mungkin membunuh ayah" balas Zeref

"kalau begitu…." Igneel mengambil satu lagi pisau, "aku yang akan membunuhmu. Anak sialan!" lanjut Igneel sambil berlari menuju Zeref.

Mata pisau yang tajam siap merobek daging Zeref. Tapi Zeref dapat menghindari itu dan mengambil pisau dilantai untuk melindungi dirinya

"kumohon ayah. Aku hanya ingin hidup biasa dengan Natsu" kata Zeref dengan pisau ditangannya. Ia memasang kuda-kuda dan pertahanan seperti yang ayahnya ajarkan

"hyaaa!" Igneel tak mendengarkan, ia terus saja membabi buta menyerang Zeref. Zeref hanya menghindari serangan bertubi-tubi ayahnya itu. Zeref sangat lihai menghindar hingga sang ayah mengayunkan kakinya dan mengenai bahu Zeref membuatnya hilang keseimbangan dan sayatan pisau mengenai lenganya

"akh.. sial" keluh Zeref yang memegangi lengannya yang sudah berwarna merah darah

"ada apa? Mana perlawananmu?" tantang Igneel

"baiklah jika itu yang kau minta ayah" Zeref memasang kuda-kudanya dan siap menyerang. Ia berlari menuju ayahnya. Igneel tak ingin bertahan dan dia mengayunkan pisau ditangannya. Zeref menangkis pisau itu dengan pisaunya hingga terdengar bunyi gesekan kedua pisau itu. Zeref memundurkan langkah dan langsung maju secara cepat. Ia mengayunkan pisaunya dan berhasil mengenai samping perut Igneel

"sialan!" kata Igneel menahan sakit diperutnya. Darah segar mewarnai kaos putih yang ia kenakan, "mati kau anak sialan!" teriak Igneel

Pertarungan itu begitu sengit hingga suara gaduh pun tak terhindarkan. Natsu terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara dari ruang keluarga. Ia berjalan keluar kamarnya dan menuju sumber kegaduhan itu. Ia menuruni tangga satu persatu dan mendengar suara erangan samar-samar

"ngghhkk" suara itu terdengar lebih jelas, suara Zeref yang mengerang. Natsu berjalan keruang keluarga, dan melihat keadaan. Matanya langsung membulat sempurna, ia melihat anggota keluarganya sedang berkelahi

"otou-san… nii-san" kata Natsu terkejut melihat sang ayah mencengkram leher kakaknya dan melayangkan diudara. Tangan Zeref berusaha melepaskan cengkraman Igneel dari lehernya. Wajahnya terihat sangat kesakitan dengan darah keluar dari pelipis dan hidungnya, "apa yang kalian lakukan"

"kau sudah bangun Natsu?" tanya sang ayah tak mempedulikan Zeref yang merasa sesak, "kakakmu sudah berani melawan ayahmu. Dan ini adalah hukuman untuknya, kematian!" kata sang ayah dengan mata yang sangat tajam. Memandang mata ayahnya Natsu langsung terdiam membeku

"la-kh ri.. Nat- su" kata Zeref terbata karena lehernya yang dicengkram semakin erat. Natsu dapat mendengar itu, tapi dia merasa tak dapat bergerak. Rasa takutnya memaku kakinya untuk tidak bergerak. Tubuhnya mulai bergetar hebat

"tenang saja Zeref. Kau sudah menjadi kakak yang baik. Sekarang serahkan urusan Natsu padaku, dan tenanglah dialam sana!" Igneel mengacungkan pisau ditangannya dan menghujamkan kearah perut Zeref

"jangaan.. ayah jangaaaaan!" Natsu berteriak agar sang ayah menghentikan hal itu. Namun sang ayah sudah terasuki oleh iblis

*JLEB

Pisau itu menancap diperut Zeref yang masih melayang diudara. Zeref terliat semakin lemas, tangannya yang sedari tadi meronta sekarang sudah mulai kehilangan tenaga. Darah segar mengalir melalui perutnya. Igneel melepaskan cengkramannya membuat Zeref terjatuh kelantai dengan keras. Zeref mendongakkan kepalanya kearah Natsu, dan mengatakan sesuatu

"larilah Natsu, maaf tidak bisa melindungimu" perkataan itu hanya terisarat dari pergerakan mulut Zeref. Ia sudah tak punya tenaga untuk mengeluarkan suaranya. Tak puas Igneel dengan tusukan pisau diperut Zeref, ia menendang kepala Zeref hingga ia tak bergerak sama sekali

"tidak.. bohong.. nii-san… nii-saaan!" Natsu menangis sejadi jadinya. Ia menunduk sebentar, membiarkan matanya tertutupi poni salmonnya. Lalu tangan kecilnya mengusap air mata yang mengalir dipipinya. Lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap tajam kearah ayahnya. Tatapan yang sangat tajam hingga dapat membuat sang ayah terkejut

"apa yang kau inginkan bocah!" balas Igneel dengan tatapan yang sama. Natsu langsung berlari keluar ruangan, "hoy! Kemana kau bocah!" Igneel berjalan mengikutinya

*JLEB

Baru saja ia sampai dipintu ruang keluarga, ia merasakan sesuatu yang dingin menancap diperutnya

"bocah sialan!" kata Igneel melihat Natsu menusuknya dengan pisau yang baru saja ia ambil dari dapur. Pisau itu menancap dengan posisi bagian yang tajam menghadap keatas. Dan pisau itu menancap tepat diperut bagian bawah

"gomenne.. otou-san" Natsu langsung mengangkat pisau itu hingga merobek perut ayahnya hingga terhenti ditulang rusuk ayahnya. Darah segar muncrat kewajah Natsu

"akhk!" hanya kata-kata itu yang ayahnya sampaikan hingga ia terjatuh tewas

Nafas Natsu tak teratur hingga tubuhnya bergetar. Ia tak kuat menahan tubuhnya dan terduduk didepan mayat ayahnya yang sudah tergenangi oleh darah. Air matanya mengalir kembali, mengalir dengan deras. Ia mencengkram wajahnya, mengutuk semua hal yang terjadi barusan

#flashback end

Air mata Lucy mengalir lembut dipipinya mendengar cerita Natsu. Ia merasa kasihan terhadap Natsu. Kehilangan keluarganya sendiri, dan semua itu sangat tragis dan itu terjadi didepan dirinya sendiri

"o-oy.. kenapa kau menangis. Jangan menangis" kata Natsu

"tapi…" kata Lucy serak

"sudahlah. Itu sudah masa lalu" kata Natsu

"lalu? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Lucy dengan mengelap air matanya

"aku menyelesaikan beberapa urusan dan pergi ke Tokyo" balas Natsu

"lalu kau bisa menjadi seperti sekarang?" tanya Lucy

"haha.. tentu tak semudah itu. Kehidupanku di Tokyo tak jauh berbeda dengan saat aku di Osaka. Aku tetap membunuh orang untuk bertahan hidup. Sampai aku bertemu orang itu" kata Natsu

"orang itu? Siapa?" tanya Lucy

"seorang agen FBI yang datang ke Jepang" kata Natsu dengan focus mengemudi, mendengar itu Lucy sedikit terkejut, "Jude Heartfillia… ayahmu" perkataan Natsu sukses membuat Lucy membulatkan matanya

~Bersambung…~

Yooo~ Kuro desu… chap 7 updated. Gimana nih chap 7? Maafkan atas keterlambatan update, karena walaupun libur, Kuro masih ada tanggungan yang harus dikerjakan XD

Oke, chap ini menceritakan tentang kehidupan Natsu yang masih imut nih. Gimana menurut kalian? Ingin mencoba jadi seperti Natsu? :v hehe, oke saya akan balas review

Stayawake123: udah lanjut nih stayawake-san.. stay di fanfic ini ya… XD

Naomi Koala: hehe.. sama, aku juga :v eh emang ngerasa kaku ya? Aku juga kurang tahu, soalnya yang chap 6 aku nulisnya dihari yang pisah-pisah, jadi mungkin ada yang kaku :3 ini dia kelanjutannya.. XD

Fic of Delusion: ini dia chap 7 Fic-san.. semoga suka XD

Aoi Shiki: hehe.. itu tuh Natsu yang sebenarnya, saya ceritain di chap ini dan akan diceritakan lagi chap 8. Hahaha kayanya seneng banget nih kalo liat Natsu depresi :v santai, nanti juga Wendy akan diambil

Nafikaze: hahaha.. Kasih gih :v makasih XD semoga suka chap ini

Aimi Uchiha Dragneel: hehe, don't mind. Selamat bergabung :v btw bergabung apaan? #abaikan.. ini dia chap selanjutnya, sedikit berdarah, semoga suka yaa Aimi-san

Oke, sekian balasan review saya. Oh ya, saya mohon maaf jika cerita agak gore dan… yaa begitulah. Untuk chap 8 mungkin akan update 1 minggu lagi dan akan menceritakan awal kehidupan Natsu di Tokyo..

Oke, sekian dari Kuro, tetep baca dan review yaa.. karena review anda adalah penyemangat author :v hehe.. See you next chap..

Jaa ne~

~RnR~